Anda di halaman 1dari 8

1

Adinda Dwi Agustya 071145007

Wal-Mart Global Strategy : Adaptation, Agregation, Arbitration


Wal-Mart's success strategies and tactics are easy to understand yet hard to duplicate - Michael Bergdahl, an American Author Pada dasarnya, keberhasilan suatu perusahaan di era globalisasi dipengaruhi oleh kemampuannya mengembangkan tata kelola yang lebih unggul untuk mengatasi perbedaan perbedaan yang ada. Sejalan dengan pernyataan tersebut, Wheelen & Hunger (2005) menyatakan bahwa apapun jenis usaha yang dilakukan di era Globalisasi ini, tidak bisa hanya mengandalkan cara-cara tradisional untuk memastikan keberlangsungannya. Globalisasi, internasionalisasi pasar dan korporasi merubah total cara perusahaan modern melakukan bisnis. Untuk mencapai tujuan , perusahaan harus kompetitif dengan datang bersama gagasan "pasar global", bukan lagi pasar nasional. Disamping itu, teknologi, informasi, dan komunikasi menjadi sangat berpengaruh terhadap posisi perusahaan untuk jangka panjang serta keuntungan kompetitif yang diperoleh. Thomas Friedman dalam bukunya, The World is Flat (2007) beranggapan bahwa banyak pebisnis, akademisi, aktivis, politisi, maupun jurnalis sudah menyadari bahwa telah ada perubahan dalam tatanan di dunia ini menjadi tanpa batas, bahwa pasar, dunia bisnis, dan sistem produksi sudah mengglobal sehingga keberadaan perusahaan global yang terintegrasi dengan dunia menjadi semacam cara pandang yang baru di masa ini. Namun, pola integrasi yang terjadi antarnegara di dalam globalisasi juga mengalami perdebatan. Seperti pendapat dari Ghemawat Pankaj (2007) yang membantah bahwa dunia mengalami globalisasi, integrasi, dan masa depan yang sama. Menurutnya, budaya dan negara memiliki perbedaan yang cukup signifikan dan sulit untuk di integrasikan dalam globalisasi, sehingga Ghemawat menyebut kondisi saat ini sebagai kondisi semiglobalisasi. Tesis yang disebutkan oleh Ghemawatt tersebut mengakibatkan perbedaan antara kemampuan penerimaan budaya dan penetrasi oleh suatu negara menjadi terlihat, sehingga dibutuhkan strategi untuk memenangkan persaingan dalam rangka membuat perbedaan yang ada menjadi bukan suatu masalah. Strategi yang diungkapakan oleh Ghemawat berdasar pada tiga hal, yaitu (1) adaptasi, yang dimaksudkan untuk menyesuaikan diri dengan perbedaan, (2) agregasi, untuk mengatasi perbedaan, dan (3) arbitrasi, untuk memanfaatkan perbedaan. Yang akan menjadi menarik dari tulisan ini adalah analisa mengenai bagaimana cara sebuah perusahaan global

mengimplementasikan strategi AAA yang dikemukakan oleh Ghemawatt ini dalam rangka memenangkan persaingan global? Walmart : Sebuah Perusahaan Global Pendapat umum menyebutkan bahwa perusahaan global adalah perusahaan yang berada di hampir seluruh belahan dunia. Hal tersebut mungkin benar, akan tetapi Gupta, Govindarajan, dan Wang (2008) menjelaskan dengan lebih spesifik mengenai karakteristik perusahaan global yang dapat dicirikan berdasarkan empat faktor, yaitu (1) keberadaan pasarnya, yang merupakan keberadaan konsumen yang cukup besar di luar negara asal (2) persediaan barang, dimana perusahaan global dapat memperoleh barang di negara lain, dan memiliki beberapa anak perusahaan di negara lain yang dapat digunakan untuk memenuhi permintaan, (3) modal, dimana perusahaan global memiliki sistem keuangan serta keuntungan yang baik untuk bisa menumbuhkembangkan perusahannya dan (4) cara pandang perusahaan, yaitu cara pandang perusahaan global yang memiliki kemampuan untuk beradaptasi dengan perbedaan budaya. Berdasarkan ciri-ciri tersebut, Wal-Mart memiliki kemampuan unuk menjadi perusahaan global. Pertama, Wal-Mart memiliki pasar di hampir seluruh dunia, seperti di Jepang, Meksiko, Kanada, Inggris, Brazil, China, Amerika Tengah, dan India (Walmart International: 2011 Update, dalam exportsolutions.com). Kedua, dari segi persediaan barang, hanya 8% dari barang yang dijual yang diproduksi sendiri oleh Wal-Mart, untuk sisanya, Wal-Mart menggandeng supplier lokal untuk memastikan ketersediaan barang (Rinella Putri, Strategi Wal-Mart: Perbaikan Citra dan Ekspansi Internasional, 13 Juni 2008 dalam managementfile.com). Ketiga, Wal-Mart berhasil mendapatkan 22% keuntungan dari toko yang berada di luar Amerika (Rinella, 2008) sehingga mampu menunjukkan pencapaian signifikan dalam menghasilkan pendapatan di dunia global. Keempat, meskipun Wal-Mart mengalami kegagalan untuk bertahan di beberapa wilayah, namun Wal-Mart mampu melakukan penyesuaian terhadap budaya yang ada di banyak wilayah negara lainnya. Wal-Mart merupakan perusahaan ritel terbesar di Amerika dan seringkali berada di peringkat 3 besar dalam indeks Fortune 500. Saat ini, Wal-Mart memiliki lebih dari 1.600 toko ritel yang tersebar di banyak wilayah di dunia. Inti bisnis ritelnya dibagi menjadi 4 divisi : Wal-Mart Stores, Super Centers, Sams Club Warehouse, dan Neighborhood Markets. WalMart Stores dan Super Centers menyediakan one stop family shoping, produk-produk kebutuhan rumah tanggga, dan produk-produk umum lainnya. Sams Club adalah sebuah warehouse club khusus untuk anggota. Neighborhood Markets menawarkan pengalaman

berbelanja yang menarik untuk produk-produk rumah tangga, obat-obatan (farmasi), dan barang-barang umum lainnya. Sejarah bisnis Wal-Mart Inc tidak lepas dari kejeniusan Sam Walton. Sebab, di tangan alumnus Universitas Missouri, Columbia, inilah gurita ritel global betul-betul

meraksasa.Didirikan pertama kali oeh Sam Walton dan toko pertamanya berada di Roger, Arkansas tahun 1962. 7 Tahun kemudian pendapatan dari penjualan mencapai $ 1 billion. Di akhir bulan Januari 2002, Toko Wal-Mart menjadi toko retail terbesar dengan penjualan $218 billion ( Joan Maggreta:2002) Selain menyediakan barang-barang kebutuhan pokok konsumen,Wal-Mart juga telah melakukan berbagai inovasi penyediaan produk- produk kebutuhan pokok konsumen. Pada 1978 misalnya, Wal-Mart membidik pasar penjualan obat-obatan, pusat layanan mobil, dan barang-barang perhiasan. Inovasi ini terus berlanjut ketika Wal-Mart juga untuk pertama kalinya memperkenalkan konsep Wal-Mart Supercenter di Washington, Missouri. Konsep ini memadukan antara layanan belanja berdiskon, pusat penjualan bahan bakar minyak, pusat optik, studio lukis, pemotretan, layanan perbankan, telepon seluler, salon perawatan rambut dan kuku, penyewaan video film, bahkan layanan gerai makanan ringan. Pertumbuhan Wal-Mart makin hari makin luar biasa. Pada 1989, Wal-Mart telah cukup mendominasi pasar penjualan kebutuhan konsumen di hampir 26 negara bagian AS, termasuk Michigan, West Virginia, dan Wyoming. Bahkan menginjak 1990, Wal-Mart juga merangsek pasar California, Nevada, North Dakota, Pennsylvania, South Dakota, dan Utah. Pasar luar negeri juga dibidik Wal-Mart. Dimulai dengan dimasukinya pasar Mexico dengan membuka pertokoan Wal-Mart di kawasan Mexico City pada 1991. Hal ini terus berlanjut dengan dibukanya pertokoan Wal-Mart di Hong Kong dan Kanada pada 1994. Bahkan, untuk mengukuhkan jejaring bisnisnya, Wal-Mart mengakuisisi 122 pertokoan Woolco dan PACE yang memiliki 91 gudang penyimpanan barang dari Kmart di Kanada. Ekspansi bisnis ke luar negeri semakin intensif dilakukan Wal-Mart. Pada 1995, Wal-Mart kembali membuka jaring pertokoannya di negara Argentina dan Brasil. Begitu juga di Asia dengan membentuk perusahaan patungan dengan perusahaan ritel lokal pada 1998, setelah dua tahun sebelumnya Wal-Mart gagal memasuki pasar ritel Korea akibat ketatnya persaingan sesama perusahaan ritel. Bahkan ketika memasuki Inggris pada 1999,Wal-Mart cukup luar biasa untuk segera menguasai pasar dengan mengakuisisi ASDA Group Plc yang memiliki 229 pusat perbelanjaan. Pelan tapi pasti, dengan kinerja bisnis yang luar biasa, Wal-Mart terus merangkak menjadi perusahaan yang benar-benar menggurita.

Pada tahun 2001, majalah Fortune menyebut Wal-Mart sebagai perusahaan ketiga yang paling mengagumkan di Amerika, dan Financial Times dan Pricewaterhouse Coopers menempatkannya pada peringkat delapan sebagai perusahaan yang paling mengagumkan di dunia. Pada tahun berikutnya, Walmart disebut sebagai nomor satu pada daftar Fortune 500 dan disajikan dengan Ron Brown Award for Corporate Leadership, suatu penghargaan presiden yang mengakui perusahaan-perusahaan atas pencapaian dalam hubungan masyarakat dan karyawan Seorang pemimpin dalam kesinambungan, filantropi perusahaan dan kesempatan kerja. Pengakuan atas dominasinya terus mengalir dari berbagai institusi, bahkan para kompetitornya sendiri. Pada tahun 2005 misalnya, majalah pemeringkat Fortune menempatkan Wal-Mart dalam posisi kelima dari seluruh perusahaan terkemuka global. Bahkan pada 2003-2004, berturutturut Wal-Mart menempati posisi teratas dari seluruh perusahaan di AS yang ratarata memiliki pasar luas di seluruh dunia. Wal-Mart adalah salah satu perusahaan terbesar di dunia dan jelas peritel terbesar di dunia. Pada tahun 2007, mereka tercatat memiliki 1,9 juta Tenaga Pegawai di Seluruh Dunia, menjadikannya sebagai salah satu perusahaan terbesar di dunia. Penjualan Wal-Mart dalam 1 (satu) hari melebihi PDB (pendapatan domestik bruto) dari 36 negara. Wal-Mart menjual apa saja, dari makanan, bahan makanan, dvd, tv, eletronik, komputer, gadget, dari peralatan rumah tangga hingga senjata api. Keputusan Wal-Mart untuk masuk kepasar Internasional pada tahun 1991 adalah karena menyadari bahwa populasi US hanya 4% dari total populasi dunia, sehingga Wal-Mart memutuskan untuk ekspansi perusahaannya secara Internasional. Pada awalnya, Wal-Mart mulai ekspansi dan berkonsentrasi di Meksiko dan Kanada dengan alasan kesamaan budaya, kebiasaan masyarakat dan lingkungan bisnis. WalMart juga ekspansi ke Argentina & Brazil karena pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Amerika Latin, serta adanya kemudahan yang dimiliki perusahaan Amerika untuk masuk ke pasar Amerika karena tergabung dalam NAFTA (NAFTA = North American Free Trade Agreement yang ditandatangani tahun 1993 yang menghilangkan halangan perdagangan dan investasi antara Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko). Selain itu, Wal-Mart pun mencoba untuk melakukan ekspansi ke Jerman karena Jerman merupakan salah satu pangsa bisnis retail terbesar di Eropa. GNP & Populasi Jerman Barat sekitar USD 80 Juta. Beberapa hal tersebut yang kemudian melatar belakangi keputusan Wal-Mart untuk melakukan ekspansi, karena jika Wal-Mart hanya fokus di pasar lokal, Wal-Mart akan kehilangan peluang untuk mengembangkan pasar internasional.

Strategi AAA Wal-Mart : Redefining Global Strategy. CEO Wal-Mart, Lee Scott menyatakan keyakinannya bahwa pasar luar negeri untuk Wal-Mart sangat prospektif, dan hal tersebut terbukti dimana pasar luar negeri yang menghasilkan profit lebih besar dibanding yang lain adalah di Kanada, Meksiko, dan Inggris, dimana kondisi budaya, administratif, dan geografis paling dekat dengan Amerika Serikat. Strategi yang dilakukan Wal-Mart kemudian adalah untuk mengurangi resiko namun tetap melakukan ekspansi ke pasar luar negeri yang terletak jauh dari kantor pusatnya. Lebih luas lagi, strategi yang digunakan Wal-Mart saat ini menggambarkan tiga cara yang secara luas diperuntukkan menyiasati jarak, dengan penyesuaian (Adaptasi), mengatasinya (Agregasi), dan memanfaatkannya (Arbitrase). Strategi yang dilakukan oleh Wal-Mart merupakan elaborasi dari strategi AAA yang mampu mewakili apa yang disebut Redefining Global Strategy. Grafik 1

Sumber : Emerald, Journal of Management Development http://www.emeraldinsight.com/journals.htm?articleid=1713844&show=html

Ghemawat menyusun idenya mengenai strategi global ke dalam tiga konsep yang saling melengkapi untuk membantu perusahaan memperoleh keuntungan ketika perusahaan tersebut menjadi perusahaan global, yaitu adaptasi, agregasi, dan arbitrasi. Adaptasi, menyesuaikan diri dengan perbedaan Pada kondisi semiglobalisasi, perusahaan global dapat dilokalisir maupun di standardisasi sepenuhnya. Bagaimanapun kondisinya, mereka akan mampu beradaptasi di berbagai negara dengan melakukan salah satu dari beberapa aktivitas berikut: (1) Sebuah perusahaan dapat memilih untuk menawarkan produk yang berbeda di tiap negara yang memiliki cabangnya, (2) sebuah perusahaan dapat memfokuskan pada kondisi geografis

tertentu, seperti produk yang sama di beberapa wilayah yang berdekatan secara georafis, (3) sebuah perusahaan dapat mengejar kerjasama yang strategis dengan partner lokal ketika memasuki pasar baru, (4) perusahaan dapat melakukan inovasi di setiap cabang di negara lain, karena mungkin sekali tiap negara memiliki kondisi pasar yang unik. (Sanne, 2007) Yang dilakukan oleh Wal-Mart mengenai penyesuaian perbedaan ini dapat dilihat pada pembukaan pasar baru di India. India yang dengan peraturan ketatnya tidak memperbolehkan adanya investasi secara langsung di bidang retail, akhirnya Wal-Mart melakukan poin ketiga dari beberapa poin yang disarankan di atas. Wal-Mart bekerjasama dengan partner lokal melalui joint-venture dengan mitra retail lokal di India, Bharti, yang akan mengoperasikan toko sementara Wal-Mart tetap berperan untuk mem back up bisnis dalam skala besar, sehingga meminimalkan resiko yang ditanggung oleh Wal-Mart. Selain itu, strategi penyesuaian ini juga dijalankan dalam perubahan kebijakan merchandising dan perputaran peranan yang terbangun dengan sistematis antara beberapa manajer puncak yang menjalankan kendali operasional di kantor pusat dan di cabang-cabang di beberapa negara . Agregasi, Mengatasi Perbedaan Perbedaan yang ada di tiap tiap negara dapat diatasi dengan mengelompokkan negara negara berdasarkan karakteristik tertentu. Biasanya dilakukan dengan membagi negara negara tersebut berdasarkan letak regionalnya, yang kemudian diperlakukan dengan berbeda satu sama lainnya. Pada dasarnya, ide ini merupakan hal yangs ensitif, karena Ghemawat sendiri telah membuktikan bahwa perdagangan intrategional lebih memiliki pengaruh di dalam perdagangan global jika dibandingkan interregional, yang semakin memperkuat pentingnya berpikir dalam konteks regional, bukan negara. Wal-Mart juga mencoba mengatasi batas-batas antar negara dengan program teknologi informasi yang mutakir dan tim manajemen regional yang dibentuk sejak tahun 2004 untuk mengelola pengembangan merk secara global serta untuk mengawasi hubungan antara pemerintah dan masyarakat di suatu negara. Secara singkat, John Menzer, wakil direktur Wal-Mart menyebutkan bahwa Wal-Mart sedang bermain catur 3 dimensi ; global, regional, dan lokal) (Martha, 2007) Arbitrasi, Memanfaatkan Perbedaan Strategi lain yang sudah terbukti efektivitasnya dalam menciptakan nilai dalam perbedaan antarbatas adalah memanfaatkan perbedaan yang ada. Dengan menggunakan sudut pandang bahwa perbedaan yang ada di tiap tiap negara sebagai sebuah kesempatan emas yang tidak membatasi, sangatlah mungkin untuk membuat perbedaan itu bekerja untuk keuntungan perusahaan. Dari masa ke masa, cara tersebut telah menjadi intisari dari

perdagangan, dengan membeli bahan baku di tempat yang menjualnya dengan harga murah, lalu menjualnya di tempat yang memiliki kemampuan membayar yang tinggi. Meskipun cara ini telah digunakan cukup lama, Ghemawat menekankan bahwa hal ini tidak memperoleh perhatian sebagaimana yang diharapkan. Dalam hal ini, yang dilakukan oleh Wal-Mart adalah dengan menggunakan strategi offshoring, dimana Wal-Mart membeli barang dari China dengan harga murah untuk kemudian dijual kembali di Amerika Serikat dengan harga jual yang tinggi. Hal tersebut mendatangkan keuntungan yang besar karena menghemat biaya operasional toko untuk memproduksi barang. Strategi arbitrasi ini merupakan strategi utama yang dilakukan oleh Wal-Mart untuk mempertahankan slogannya Lowest Price Every Day. Kesimpulan Wal-Mart sebagai raksasa ritel di Amerika Serikat seiring perubahan tata kelola dunia, bertransformasi menjadi perusahaan yang bervisi global. Dengan beberapa karakteristik yang telah dibangun sejak didirikan, Wal-Mart berhasil memenuhi kriteria sebagai prasyarat perusahaan global sesuai tesis dari Gupta, Govindarajan, dan Wang (2008). Dalam rangka mempertahankan bisnisnya sebagai perusahaan yang bervisi global dengan memiliki diferensiasi dan menghasilkan keuntungan yang tinggi, Wal-Mart menerapkan strategi AAA yang dinyatakan oleh Ghemawat sebagai Adaptasi, Agregasi, dan Arbitrasi. Sinergi dari ketiga strategi tersebut yang mampu membawa Wal-Mart menjadi perusahaan ritel besar dengan cabang yang ada di hampir seluruh dunia dan tingkat keuntungan tinggi yang mampu dipertahankan selama periode waktu yang cukup panjang.

DAFTAR PUSTAKA

Boyle, Matthew, 2009, Wal-Mart's Painful Lessons, dalam http://csumba.org/mba602/2010Spr/Walmart%27s%20Global%20Strategy.pdf Gupta, Anil K, et al., 2008, The Quest for Global Dominance: Transforming Global Presence into Global Competitive Advantage, John Wiley & Sons, Inc Hayden, Patrick, et al., 2002, Wal-Mart: Staying on Top of the Fortune 500 A Case Study on Wal-Mart Stores Inc, Washington DC : George Washington University dalam http://mikepereira.com/subpage/docs/Wal-Mart-CaseStudy.pdf Hunger, J. David dan Wheelen Thomas L, 1997, Essentials of strategic management: Online Version, Addison-Wesley : Reading Mass. Magretta, Joan, What Management Is: How it works and why its everyones business, 2002 Pankaj, Ghemawat, 2007, Playing The Difference., dalam Redefining Global Strategy : Crossing Border ina World Where Difference Still Matter, Boston : Harvard Business School Press Sanne, Sebastian, 2007, Semiglobalization and Strategy, University of Alberta School of Business Strategy Walton, Sam, 1992, Sam Walton, Made In America: My Story, The FreePress.