Anda di halaman 1dari 7

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Penyakit jantung koroner (PJK) adalah penyakit jantung yang terutama

disebabkan karena penyempitan arteri koronaria akibat proses aterosklerosis atau spasme atau kombinasi keduanya. Hal ini sering ditandai dengan keluhan nyeri dada (Setyani, 2009). PJK merupakan penyakit yang masih menjadi masalah baik di negara maju maupun negara berkembang. Diperkirakan pada tahun 2030, hampir 23,6 jiwa meninggal akibat penyakit kardiovaskular yang didominasi oleh PJK dan stroke (WHO,2012). Beberapa faktor penyebab dari PJK antara lain dislipidemia, merokok, usia lanjut, obesitas, diabetes mellitus, riwayat keluarga, hipertensi sistemik, hiperhomosistein (Setyani, 2009; Bahri, 2005; Bonow, 2012). Merokok merupakan faktor risiko mayor untuk terjadinya penyakit jantung, termasuk serangan jantung dan stroke, dan juga memiliki hubungan kuat untuk terjadinya PJK sehingga dengan berhenti merokok akan mengurangi risiko terjadinya serangan jantung (Darmawan, 2010). Berdasarkan hasil survei Global Adults Tobacco Survey (GATS) 2011, 67,4 persen laki-laki dan 4,5 persen perempuan atau total sebanyak 36,1 persen orang berusia diatas 15 tahun di Indonesia menggunakan tembakau, baik dengan rokok atau cara lain seperti dikunyah. Sebanyak 67 persen laki-laki dan 2,7 persen wanita atau 34,8 persen penduduk (sekitar 59,9 juta orang) merupakan perokok aktif dengan 29,2 persen merokok setiap hari (GATS, 2011). Merokok satu bungkus atau lebih per hari selama beberapa tahun dapat meningkatkan risiko kematian akibat PJK sampai 200% (Robbins, 2007). Nikotin pada rokok menyebabkan peningkatan denyut jantung, padahal di satu sisi menebalkan dan mengkontraksikan arteri sehingga menyebabkan peningkatan 1

tekanan darah sistemik. Selain itu nikotin mengakibatkan peningkatan metabolisme lemak sehingga menaikkan kadar kolesterol dalam darah khususnya LDL (Aula, 2010). Karbon Monoksida (CO) pada rokok menyebabkan peningkatan level fibrinogen dalam darah. Peningkatan ini menyebabkan peningkatan viskositas darah dan dan meningkatkan aktivasi platelet sehingga mempercepat terjadinya proses aterogenesis. Gas Oksidatif dalam rokok menyebabkan penurunan Nitric Oxide (NO) release yang kemudian menyebabkan disfungsi endotel. Akibat akumulasi dari zat-zat ini mempercepat terjadinya proses aterosklerosis yang menyebabkan terjadinya PJK (Bullen, 2008). Risiko Usia berpengaruh pada resiko terkena penyakit kardiovaskuler karena usia menyebabkan perubahan di dalam jantung dan pembuluh darah (Soeharto,2004). Risiko absolut untuk terjadinya PJK meningkat seiring penuaan pada pria maupun wanita dewasa berumur 71-75 tahun akibat dari akumulasi progresif dari aterosklerosis pada arteri koronaria seiring penuaan (Grundy, 1998). Pada sistem kardiovaskuler, proses menua menyebabkan: basal heart rate menurun, respon terhadap stress menurun, LV compliance menurun: karena terjadi hipertrofi, senile amloidosis, pada katup terjadi sklerosis dan kalsifikasi yang menyebabkan disfungsi katup, AV node dan sistem konduksi fibrosis, komplains pembuluh darah perifer menurun, sehingga afterload meningkat, dan terjadi proses aterosklerotik (IPDL, 2007). Penelitian case control yang dilakukan oleh J Ismail, dkk tahun 2003 pada laki-laki dan wanita umur 15-45 tahun di kawasan Asia Selatan menyebutkan bahwa perokok aktif mempunyai risiko 3,82 kali lebih besar untuk menderita myocard infarc (OR=3,82, 95% CI 1,47-9,94) dibandingkan dengan kelompok kontrol, sedangkan pada kenaikan serum kolesterol mempunyai risiko 1,67 kali lebih besar untuk menderita myocard infarct dibandingkan dengan kelompok kontrol (OR=1,67, 95% CI 1,14-2,45 untuk setiap kenaikan 1,0 mmol) (J Ismail dkk, 2004). Pada tahun 2010 jumlah total penderita PJK sebanyak 574 orang (Dinkes-Sumsel, 2010). Di Poli Penyakit Dalam Rumah Sakit Moehammad

Hoesin (RSMH) Palembang sampai bulan Oktober 2012 terhitung 8.921 orang menderita penyakit kardiovaskular dan 2135 orang diantaranya menderita PJK. Berdasarkan data tersebut peneliti ingin mengetahui apakah tingginya insiden PJK di Poli Penyaki Dalam RSMH Palembang adalah akibat dari usia lanjut dan merokok. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut mengenai hubungan usia lanjut dan merokok di poli penyakit dalam RSMH Palembang.

1.2.

Rumusan Masalah Apakah terdapat hubungan antara usia lanjut dan merokok dengan PJK di

poli penyakit dalam RSMH Palembang tahun 2012

1.3.

Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum Mengetahui hubungan antara usia lanjut dan merokok dengan PJK di poli penyakit dalam RSMH Palembang tahun 2012. 1.3.2. Tujuan Khusus 1. Menganalisa hubungan antara usia lanjut dengan kejadian PJK di poli penyakit dalam RSMH Palembang tahun 2012. 2. Menganalisa hubungan antara merokok dengan kejadian PJK di poli penyakit dalam RSMH Palembang tahun 2012. 3. Menganalisa hubungan antara usia pertama merokok dengan kejadian PJK di poli penyakit dalam RSMH Palembang tahun 2012. 4. Menganalisa hubungan antara lama merokok dengan kejadian PJK di poli penyakit dalam RSMH Palembang tahun 2012. 5. Menganalisa hubungan antara jenis rokok dengan kejadian PJK di poli penyakit dalam RSMH Palembang tahun 2012.

6. Menganalisa hubungan antara jumlah batang rokok dengan kejadian PJK di poli penyakit dalam RSMH Palembang tahun 2012. 7. Menganalisa hubungan antara kontinuitas merokok dengan kejadian PJK di poli penyakit dalam RSMH Palembang tahun 2012. 8. Menganalisa hubungan antara usia lanjut dan merokok dengan kejadian PJK di poli penyaki dalam RSMH Palembang tahun 2012.

1.4.

Manfaat Penelitian 1.4.1. 1. Manfaat Teoritis Penelitian Diperoleh pengetahuan mengenai ada tidaknya hubungan antara usia lanjut dan merokok dengan PJK di poli penyakit dalam RSMH Palembang. 2. Merupakan pengalaman berharga bagi peneliti dalam rangka menambah wawasan dan pengalaman khususnya dalam bidang penelitian. 3. Memberikan bukti-bukti empiris tentang faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi kejadian PJK. 4. Memberikan informasi awal dan sebagai acuan bagi penelitian selanjutnya. 1.4.2. 1. Manfaat Praktis Penelitian Memberikan informasi dan bahan masukan bagi petugas kesehatan dalam pemantauan kejadian PJK. 2. Memberikan informasi kepada pembuat kebijakan pemerintah tentang peran merokok terhadap kejadian PJK.

3.

Sumber informasi bagi penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan usia lanjur dan merokok dengan PJK sebagai sarana pengembangan diri bagi peneliti dalam bidang riset.

1.5.

Keaslian Penelitian

Tabel 1. . Penelitian Sebelumnya tentang Penyakit Jantung Koroner Peneliti, Judul Penelitian tahun publikasi, dan tempat penelitian Jason H. Long-term follow-up Cole dkk USA MD, coronary artery disease 2003, presenting adults (age < 45 years) in Variabel yang Diteliti Desain Penelitian Hasil

Active

tobacco - A prior MI. Heart failure. - Coronary angioplasty . - Coronary artery

Case control study

- Active tobacco use HR: 1,59, 95% CI:1,1 2,21 - A prior MI HR:1,32, 95% CI:1,00-1,73 - Heart failure HR:1,75 95% CI:1,03-2,97 - Coronary angioplasty HR:0,51, 95% CI:0,320,81. - Coronary artery bypass graft HR:0,68, 95% CI:0,50-1,94. Kelompok perokok wanita (saat

young use.

Pitsavos dkk, Greece

Association

bypass graft. between - Paparan Case to terhadap and the sekitar Status control

2002, exposure smoke

bukan

environmental tobacco asap rokok study development of acute

ini)dan terpapar dengan asap rokok : OR=1,47, 95% CI, 1,26 - 1,80. Kelompok wanita

coronary syndromes : merokok

the CARDIO 2000 case control study.

perokok terpapar

aktif asap

dan rokok,

OR=2,83, 95 % CI, Rivai 1994 Yogyakarta SM Faktor risiko utama infark myokard akut pada penderita yang dirawat di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta Hiperlipide mia - Hiprtensi - Merokok - Diabates mellitus Case control study 2,07 3,31 Pada kelompok wanita : - Hipertensi: OR=2,27,95% CI, 1,473,51. - HDL-C > 35 mg%: OR=1,88, 95% CI, 1,22- 2,88. Rasio kolesterol total dengan HDL-C < 5 : OR=2,27, 95 % CI, Tatsanavivat Prevalence of coronary dkk, 1998, hearth disease and major cardiovascular risk factors in Thailand Thailand - Merokok - Diabates - Obesitas Hipercolest Wahyudin R. 2012, Palembang Hubungan antara penyakit jantung koroner dalam Rumah Sakit Pertamina Plaju Palembang periode Januari - Februari 2012 erolemia - Merokok merokok Jumlah rokok yang dihisap Jenis rokok Case study Cross study 1,47- 3,51. - Prevalensi PJK= 9,9/1000 (pria 9,2/1000, wanita 10,7/1000) - PRR untuk semua faktor risiko mempunyai nilai p > 0,05. Merokok : P = 0,029, OR = 3,37 Lama merokok : P = 0,009, OR = 4,0 Jumlah dihisap : P = 0,048, OR = 7,3 Jenis rokok : P = 0,061 rokok yang

- Hipertensi sectional

Sensi, riwayat merokok dan

Lama control

Rayka, Ivan, Gambaran klinis dan 2012, Palembang pola EKG pada pasien penyakit jantung koroner di Rumah Sakit PT. PUSRI Palembang periode Januari 2011Desember 2011

Jenis Deskriptif

Jenia kelamin penderita PJK : Laki-laki sebanyak 38 orang dan perempuan sebanyak 22 orang Usia : Kejadian PJK paling banyak pada tahun 2011 terjadi pada kelompok usia 40-60 tahun yaitu sebanyak 42 kasus (70,1%) Gambaran Gambaran penderita Elevasi EKG : EKG terbayak sebanyak 19

kelamin penderita PJK PJK - Gambaran klinis penderita PJK - Gambaran EKG penderita Usia penderita

tahun 2011 adalah ST orang (31,7%)