Anda di halaman 1dari 20

PUCAT

BLOK HEMATOLOGI
KELOMPOK : A-13

KETUA : Firda Jusela SEKRETARIS : Fitri Rahmawati ANGGOTA : Airlangga Putra H L Isnan Wahyudi Adhi Pratama Fally Usman Arif Ganis Agistie Rossyanita Irene Ratnasari Lisa Chairunnisa

(1102010102) (1102010104) (1102008012) (1102009145) (1102010004) (1102010092) (1102010110) (1102010131) (1102010153)

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI


2011/2012
1

SKENARIO 2

PUCAT

Seorang anak perempuan berusia 5 tahun dibawa ibunya ke RS YARSI dengan keluhan pucat sejak 3 bulan yang lalu. Keluhan disertai dengan perut yang terlihat membuncit, pertumbuhan badan lambat dan nafsu makan menurun. Pasien sudah beberapa kali dibawa berobat ke Puskesmas tapi belum ada perbaikan. Pada pemeriksaan fisik terdapat facies Cooley, konjungtiva pucat, sklera ikterik. Pada pemeriksaan abdomen: hepar teraba 3 cm di bawah arkus costarum dan 4 cm di bawah prosessus xipoideus, limpa Schuffner II. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan Hb 7 g/dl, hematokrit 23 vol%, sediaan apus darah tepi mikrositosis hipokromik, anisopoikilositosis dan adanya sel target. Pada hasil analisis Hb, anak tersebut didiagnosis menderita thalassemia , orangtua disarankan untuk melakukan pemeriksaan darah dan konsultasi genetik.

Maltari 1102011152 SASARAN BELAJAR LI 1. Memahami dan Menjelaskan Thalassemia LO 1.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Thalassemia LO 1.2 Memahami dan Menjelaskan Etiologi Thalassemia LO 1.3 Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi Thalassemia 1.3.1 Berdasarkan Gejala Klinis 1.3.2 Berdasarkan Rantai Globin LO 1.4 Memahami dan Menjelaskan Patofisiologi Thalassemia 1.4.1 Secara Molekuler 1.4.2 Secara Seluler LO 1.5 Memahami dan Menjelaskan Manifestasi Klinis Thalassemia LO 1.6 Memahami dan Menjelaskan pemeriksaan fisik LO 1.7 Memahami dan Menjelaskan pemeriksaan penunjamg LO 1.8 Memahami dan Menjelaskan Diagnosis dan Diagnosis Banding Thalassemia LO 1.9 Memahami dan Menjelaskan komplikasi Thalassemia LO 1.10Memahami dan Menjelaskan Prognosis Thalassemia LO 1.11Memahami dan Menjelaskan Pencegahan Thalassemia LO 1.12Memahami dan Menjelaskan penurunan secara genetic thalassemia LI 2. Memahami dan menjelaskan penatalaksanaan thalassemia -transfusi - Khelasi -splenektomi LI 3. Memahami dan menjelaskan tranfusi dan tranplanstasi dari segi agama

LI 1. Memahami dan Menjelaskan Thalassemia LO 1.1 Memahami dan Menjelaskan Definisi Thalassemia Secara bahasa: thalassa adalah laut, emia adalah darah, dikarenakan thalassemia merupakan penyakit dengan epidemiologi di daerah Mediteranea. Thalassemia adalah penyakit gen resesif autosom yang dapat diturunkan. Pada defek genetis thalassemia terjadi mutasi atau delesi pada kromosom, yang menyebabkan penurunan atau tidak terjadinya sintesis salah satu rantai globin yang menjadi bahan pembentuk hemoglobin, dan mengakibatkan pembentukan formasi abnormal dari molekul hemoglobin. Thalassemia mempengaruhi salah satu atau kombinasi dari 2 rantai , , , dan , tetapi tidak dapat mempengaruhi rantai dan bersamaan. Hilangnya rantai menyebabkan thalassemia-, hilangnya rantai menyebabkan thalassemia-, dan hilangnya rantai menyebabkan thalassemia-. Hilangnya rantai asam amino dapat tunggal (minor atau heterozigot) ataupun ganda (mayor atau homozigot). Minor adalah orang orang yang sehat, namun memiliki potensi sebagai carrier. Mayor adalah orang yang memiliki penyakit thalassemia yang diturunkan dan bersifat serius, penderitanya tidak dapat membentuk hemoglobin yang cukup untuk darah sehingga oksigen yang disalurkan dalam tubuh tidak cukup dan dapat menyebabkan asfiksi jaringan, edema, gagal jantung kongestif, hingga kematian jaringan.

LO 1.2 Memahami dan Menjelaskan Etiologi Thalassemia Thalassemia adalah hemoglobinopati yang disebabkan mutasi di gen globin. Dua gen mengkode pembentukan globin- dimana keduanya terletak di kromosom 16. Dengan demikian, sel diploid normal punya 4 salinan globin , hanya 1 gen yang mengkode gen globin . Mutasi yang menyebabkannya telah diteliti. Mutasi gen globin- terjadi dalam regio promotor dan tempat cap, dalam ekson-intron, dan di taut penyambungan yang terdapat di batas ekson-intron. Mutasi juga ditemukan di tempat poloadenilasi dan delesi besar pernah dijumpai di region 5 dan 3 pada gen.

LO 1.3 Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi Thalassemia 1.3.3 Berdasarkan Gejala Klinis Tatanama Klinis 1. Thalassemia Thalassemia Mayor Genotipe - Thalassemia Homozigot (/ ) - Thalassemia Homozigot ( / Penyakit Genetika Molekular

Parah, perlu Delesi gen jarang transfusi secara pada / . Defek berkala pada proses transkripsi atau translasi RNA globin. Asimtomatik dengan anemia ringan atau tanpa anemia. Ada kelainan SDM.

Thalassemia Minor

/ /

2. Thalassemia Silent Carrier

-/

Asimtomatik Mengutamakan tanpa kelainan delesi gen. SDM. Asimtomatik seperti Thalassemia Minor Anemia berat, tetramer globin terbentuk di SDM. Letal in utero

Sifat Thalassemia

--/ (Asia) -/- (Afrika)

HbH Disease

-/

Hidrops Fetalis

-/-

1.3.1

Berdasarkan Rantai Globin

Berdasarkan gangguan pada rantai globin yang terbentuk, thalassemia dibagi menjadi :
5

1. Thalassemia alpha Thalassemia alpha disebabkan karena adanya mutasi dari salah satu atau seluruh globin rantai alpha yang ada. Thalassemia alpha dibagi menjadi : Silent Carrier State (gangguan pada 1 rantai globin alpha) Pada keadaan ini mungkin tidak timbul gejala sama sekali pada penderita, atau hanya terjadi sedikit kelainan berupa sel darah merah yang tampak lebih pucat (hipokrom). Alpha Thalassemia Trait (gangguan pada 2 rantai globin alpha) Penderita mungkin hanya mengalami anemia kronis yang ringan dengan sel darah merah yang tampak pucat (hipokrom) dan lebih kecil dari normal (mikrositer). Hb H Disease (gangguan pada 3 rantai globin alpha) Gambaran klinis penderita dapat bervariasi dari tidak ada gejala sama sekali, hingga anemia yang berat yang disertai dengan perbesaran limpa (splenomegali). Alpha Thalassemia Major (gangguan pada 4 rantai globin aplha) Thalassemia tipe ini merupakan kondisi yang paling berbahaya pada thalassemia tipe alpha. Pada kondisi ini tidak ada rantai globin yang dibentuk sehingga tidak ada HbA atau HbF yang diproduksi. Biasanya fetus yang menderita alpha talasemia mayor mengalami anemia pada awal kehamilan, membengkak karena kelebihan cairan (hydrops fetalis), perbesaran hati dan limpa. Fetus yang menderita kelainan ini biasanya mangalami keguguran atau meninggal tidak lama setelah dilahirkan. 2. 2. Thalassemia Beta Thalassemia beta terjadi jika terdapat mutasi pada satu atau dua rantai globin yang ada. Talasemia beta dibagi menjadi: Beta Thalassemia trait Pada jenis ini penderita memiliki satu gen normal dan satu gen yang bermutasi. Penderita mungkin mengalami anemia ringan yang ditandai dengan sel darah merah yang mengecil (mikrositer). Thalassemia Intermedia

Pada kondisi ini kedua gen mengalami mutasi tetapi masih bisa memproduksi sedikit rantai beta globin. Penderita biasanya mengalami anemia yang derajatnya tergantung dari derajat mutasi gen yang terjadi. Thalassemia Major (Cooleys Anemia) Pada kondisi ini kedua gen mengalami mutasi sehingga tidak dapat memproduksi rantai beta globin. Biasanya gejala muncul pada bayi ketika berumur 3 bulan berupa anemia yang berat. Thalassemia dikelompokkan menurut jenis rantai globin yang tidak ada atau yang ada namun jumlahnya lebih sedikit. Masing masing thalasemia terjadi dalam bentuk heterozigot atau homozigot. Seseorang yang kekurangan produksi rantai protein globin alpha dikatakan sebagai penderita thalassemia alpha. Rantai globin alpha terdiri dari 4 gen yang dapat ditemukan pada kromosom 16. Individu yang memiliki satu gen alpha yang abnormal disebut sebagai thalassemia alpha atau silent carier. Kondisi ini terjadi karena satu dari keempat gen alpha hilang atau mengalami defek. Secara umum tidak terdapat gangguan kesehatan karena kehilangan alpha globin protein yang kecil sehingga tidak terjadi anemia. Penderita ini disebut silent carier karena kesulitan untuk mendeteksi kelainannya. Biasanya penderita ini terdiagnosa setelah sepasang individu normal memiliki seorang anak dengan penyakit HbH atau thalassemia alpha minor. Diagnosa juga dapat ditegakkan dengan melakukan tes DNA khusus. Seorang individu dengan dua gen alpha yang abnormal disebut sebagai penderita thalassemia alpha trait. Kedua gen abnormal bisa terdapat pada satu kromosom atau pada masing-masing kromosom yang berpasangan terdapat satu gen yang abnormal. Pada keadaan ini dapat terjadi anemia ringan. Bila seorang individu kehilangan 3 gen alpha atau terdapat 3 gen yang abnormal dapat menyebabkan terjadinya anemia mikrositik hipokrom yang cukup berat. Pada individu yang kehilangan keempat gen alpha akan menekan sintesi rantai alpha seluruhnya, dimana rantai alpha merupakan sesuatu yang esensial dalam hemoglobin fetus dan dewasa, akibatnya terjadi kematian dalam kandungan yang disebut sebagai hidrops fetalis. Seseorang dikatakan sebagai penderita thalassemia apabila tidak ada rantai atau sedikit rantai yang disintesis. Rasio sintesis berbanding yang normal adalah 1 : 1, rasio ini menurun pada thalassemia dan meningkat pada thalassemia . Pada thalassemia mayor rantai alpha yang berlebih berpresipitasi dalam eritroblas dan eritrosit matur, menyebabkan
7

eritropoiesis inefektif dan hemolisis berat yang khas untuk penyakit ini. Makin banyak kelebihan rantai alpha, maka makin berat anemia yang terjadi. Produksi rantai membantu membersihkan rantai alpha yang berlebih dan memperbaiki keadaan tersebut. Berbeda dengan thalassemia-, mayoritas lesi genetik pada thalassemia beta adalah mutasi titik dan bukan delesi gen. Mutasi ini dapat terjadi dalam kompleks gen itu sendiri atau pada regio promotor atau penyakit. Mutasi tertentu terutama sering terdapat pada beberapa komunitas dan ini dapat mempermudah penegakan diagnosis antenatal yang bertujuan untuk mendeteksi adanya mutasi pada DNA janin. Thalassemia mayor sering kali merupakan akibat diturunkannya dua mutasi yang berbeda, masing-masing mengenai sintesis globin- (heterozigot campuran). Pada beberapa kasus terjadi delesi gen atau bahkan gen , , dan . Pada kasus lain, crossing over yang tidak seimbang menghasilkan gen fusi (disebut sindrom Lepore yang dinamakan menurut keluarga pertama yang terdiagnosis menderita penyakit ini). Pada thalassemia- (minor), biasanya tanpa gejala seperti pada thalassemia- yang ditandai oleh gambaran darah mikrositik hipokrom (MCV dan MCH yanag sangat rendah) tetapi jumlah eritrosit tinggi (>5.5x1012/1) dan anemia ringan (hemoglobin 10-15 g/dl). Kelainan ini biasanya lebih berat dari kelainan pada thalasemia . Pemeriksaan kadar Hb 2 yang tinggi (>3.5%) dapat membantu memastikan diagnosis. Salah satu indikasi terpenting untuk menegakkan diagnosis adalah karena diagnosis memungkinkan dilakukannya konseling pranatal pada pasien dengan seorang pasangan yang juga mempunyai kelainan hemoglobin yang nyata. Jika keduanya membawa sifat thalassemia sebanyak 25% anaknya beresiko untuk menderita thalassemia mayor.

LO 1.4 Memahami dan Menjelaskan Patofisiologi Thalassemia 1.4.1 Secara Molekuler Lebih dari 150 mutasi telah diketahui tentang talasemia B, sebagian besar disebabkan karena perubahan pada satu basa, delesi atau insersi 1-2 basa pada bagian yang sangat berpengaruh. Hal ini bisa terjadi pada intron, ekson, atau diluar gen pengkode. Satu substitusi disebut mutasi non-sense menyebabkan perubahan satu basa ekson yang mengkode kodon stop pada mRNA. Hal ini menyebabkan terminasi sintesis rantai globin menjadi lebih pendek dan tidak tahan lama Satu mutasi lain yang disebut frameshift menyebabkan 1-2 basa tidak dibaca sehingga menghasilkan kodon stop baru. Mutasi pada intron, ekson atau perbatasannya, mengganggu
8

pelepsan ekson dari precursor mRNA. Misalnya pada GT atau AG pada intron-ekson junction mengganggu pemisahan beberapa mutasi pada bagian ini menyebabkan penurunan produksi B globin. Hemoglobin yang dihasilkan adalah Hb Maly, HbE dan Knossos yang memberikan fenotip talasemia B minor. 1.4.1 Secara Seluler Karena produksi rantai alfa yang berlebih tanpa diimbangi oleh produksi rantai beta, maka timbullah presipitasi rantai alfa pada eritrosit yang menyebabkan terjadinya proses hemolisis sehingga menimbulkan gejala anemia. Disamping itu terjadi juga presipitasi rantai alfa intramedular yang menyebabkan pembentukan eritropoeisis menjadi inefektif dan menyebabkan absorpsi besi meningkat. Absorpsi besi yang meningkat akan menyebabkan deposit besi dalam jaringan meningkat (hemokromatosis). Hal ini menyebabkan kegagalan jantung, kegagalan endokrin dan kegagalan hati. Namun tubuh tetap melakukan kompensasi dengan cara meningkatkan produksi rantai gamma. Sehingga terbentuklah kadar HbF dalam kadar peningkatan. Afinitas Oksigen meningkat menyebabkan terjadinya Hipoksi Jaringan dan produksi ertripoetin meningkat. Peningkatan kadar produksi eritropoetin akan menyebabkan deformitas pada tulang, hiperkatabolik, gout, defisiensi asam folat, splenomegali dan hipersplenisme. LO 1.5 Memahami dan Menjelaskan Manifestasi Klinis Thalassemia Tanda dan gejala dari penyakit thalassemia disebabkan oleh kekurangan oksigen di dalam aliran darah. Hal ini terjadi karena tubuh tidak cukup membuat sel-sel darah merah dan hemoglobin. Keparahan gejala tergantung pada keparahan dari gangguan yang terjadi. Tidak Gejala Alpha Thalassemia silent carrier umumnya tidak memiliki tanda-tanda atau gejala. Hal ini terjadi karena kekurangan protein globin alfa sangat kecil sehingga hemoglobin dalam darah masih dapat bekerja normal. Anemia ringan

Orang yang telah menderita thalassemia alfa atau beta dapat mengalami anemia ringan. Namun, banyak orang dengan jenis talasemia tidak memiliki tanda-tanda atau gejala yang spesifik. Anemia ringan dapat membuat penderita merasa lelah dan hal ini sering disalahartikan menjadi anemia yang kekurangan zat besi. Anemia ringan sampai sedang dan tanda serta gejala lainnya Orang dengan beta thalassemia intermedia dapat mengalami anemia ringan sampai

sedang. Mereka juga mungkin memiliki masalah kesehatan lainnya, seperti:


a)

Memperlambat pertumbuhan dan pubertas. Anemia dapat memperlambat pertumbuhan anak dan perkembangannya.

b)

Masalah tulang, thalassemia dapat membuat sumsum tulang (materi spons dalam tulang yang membuat sel-sel darah) tidak berkembang. Hal ini menyebabkan tulang lebih luas daripada biasanya. Tulang juga dapat menjadi rapuh dan mudah patah.

c)

Pembesaran limpa. Limpa adalah organ yang membantu tubuh melawan infeksi dan menghapus materi yang tidak diinginkan. Ketika seseorang menderita thalassemia, limpa harus bekerja sangat keras. Akibatnya, limpa menjadi lebih besar dari biasanya. Hal ini membuat penderita mengalami anemia parah. Jika limpa menjadi terlalu besar maka limpa tersebut harus disingkirkan.

Anemia berat dan tanda serta gejala lainnya

Orang dengan penyakit hemoglobin H atau thalassemia beta mayor (disebut juga Cooley's anemia) akan mengalami thalassemia berat. Tanda dan gejala-gejala muncul dalam 2 tahun pertama kehidupannya. Mereka mungkin akan mengalami anemia parah dan masalah kesehatan serius lainnya, seperti:
a) b) c) d)

Pucat dan penampilan lesu Nafsu makan menurun Urin akan menjadi lebih pekat Memperlambat pertumbuhan dan pubertas
10

e) f) g)

Kulit berwarna kekuningan Pembesaran limpa dan hati Masalah tulang (terutama tulang di wajah) Komplikasi Thalassemia

Perawatan yang ada sekarang yaitu hanya dengan membantu penderita thalassemia berat untuk hidup lebih lama lagi. Akibatnya, orang-orang ini harus menghadapi komplikasi dari gangguan yang terjadi dari waktu ke waktu.

Jantung dan Liver Disease Transfusi darah adalah perawatan standar untuk penderita thalassemia. Sebagai hasilnya,

kandungan zat besi meningkat di dalam darah. Hal ini dapat merusak organ dan jaringan, terutama jantung dan hati. Penyakit jantung yang disebabkan oleh zat besi yang berlebihan adalah penyebab utama kematian pada orang penderita thalassemia. Penyakit jantung termasuk gagal jantung, aritmis denyut jantung, dan terlebih lagi serangan jantung.

Infeksi Di antara orang-orang penderita thalassemia, infeksi adalah penyebab utama penyakit dan

kedua paling umum penyebab kematian. Orang-orang yang limpanya telah diangkat berada pada risiko yang lebih tinggi, karena mereka tidak lagi memiliki organ yang memerangi infeksi.

Osteoporosis Banyak penderita thalassemia memiliki tulang yang bermasalah, termasuk

osteoporosis. Ini adalah suatu kondisi di mana tulang menjadi sangat lemah, rapuh dan mudah patah.

11

LO 1.6 Memahami dan Menjelaskan pemeriksaan fisik thalassemia Pucat, lemah, lesu Splenomegaly Deformitas skeletal , pigmentasi

LO 1.7 Memahami dan Menjelaskan pemeriksaan penunjang Thalassemia 1. Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan laboratorium darah

- Hb : Kadar Hb 3 9 g% - Pewarnaan SDM


: Anisositosis, poikilositosis, hipokromia berat,target cell, tear drop cell.

Gambaran sumsum tulang eritripoesis hiperaktif Elektroforesis Hb :

-Thalasemia alfa : ditemukan Hb Barts dan Hb H - Thalasemia beta : kadar Hb F bervariasi antara 10 90 % ( N : <= 1 % ) Evaluasi pemeriksaan laboratorium hematologi dasar dan khusus: a. Kadar Hb, Ht, retikulosit, SADT, MCV, MCH, MCHC, LED, jumlah leukosit, trombosit. b. Pemeriksaan khusus: SI, TIBC, Feritin, G6PD tes, dll c. Pemeriksaan sumsum tulang

12

a. Diagnosis diferensial

Normal 80 90 fl 27 31 pg 50 150 g/dL 240 360 g/dL 30 35% Positif 15 18 g/dL

ADB

MCV MCH Besi serum TIBC Saturasi transferin Besi sumsum tulang FEP

Menurun <70 fl Menurun Menurun <50 g/dL Meningkat >360 g/dL Menurun < 15% Negatif

Anemia penyakit kronik Menurun/N Menurun/N Menurun Menurun Menurun/N 10-20% Positif

Thalasemia

Menurun Menurun Normal Normal/ Meningkat Meningkat >20% Positif kuat

Feritin 20 250 g/dL serum Elektrofoesis Normal Hb

Meningkat >100 g/dL Menurun <20 g/dL Normal

Meningkat Normal

Normal Meningkat >50 g/dL Hb A2 meningkat

LO 1.8 Memahami dan Menjelaskan Diagnosis dan Diagnosis Banding Thalassemia Untuk Thalassemia di diagnosis berdasarkan : 1. Gejala Klinis a. Thalassemia major ~ Anemia berat ~ Anemia Cooley > Mulai umur 3-6 bulan : pucat, anemis, kurus, hepatosplenomegali, ikterus ringan > Tulang : Thalassemia face, Tengkorak : hair on hend appearance > Gangguan pertumbuhan (kerdil) > Gejala "iron oveload" : pigmentasi kulit, Diabetes Melitus, sirosis hati, gonadal failure b. Thalassemia intenmedia ~ Mirip Thalassemia major + deformitas tulang ~ Hepatosplenomegali ~ Gejala "iron overload" (saat dewasa) c. Thalassemia minor (trait) ~ Anemia ringan mikrositosis d. Penyakit HbH (HbH disease) ~ Pengecatan supravital (brilliant cressyl blue) : multiple inclusion bodies (eritrosit mudah hancur)
13

~ Anemia sedang, mikrositik hipokrom, basophylic stippling, retikulositosis e. Hb Barts Hydrops Fetalis Syndrome ~ Sangat hipoksik (penyebab mati) ~ Hydrops fetalis : inkomptabilitas hipoksik, edema anasarka, hepatosplenomegali, ikterus berat, janin anemis ~ Janin mati intrauterin minggu 36 -40 2. Asal Etnis 3. Riwayat Keluarga 4. Pemeriksaan Laboratorium : MCV, Hb, Elektroforesis Hb (-HbF, HbA), studi "globin chain synthesis" a. Thalassemia major ~ HbF naik : 10 - 98 % ~ HbA : tidak ada atau ada ~ HbA : rendah? / normal? / tinggi? ~ Hb : 3 - 9 gr/dl b. Thalassemia intermedia ~ Hb : 7 - 10 gr/dl c. Thalassemia minor (trait) ~ HbH naik ~ MCV 60 - 75 fl d. Penyakit HbH (HbH disease) ~ Hb : 8 - 10 gr/dl e. Hb Barts Hydrops Fetalis Syndrome ~ Hb 6 gr/dl ~ Elektroforesis Hb 80 - 90% ~ HbH turun, tidak ada HbA dan HbF ~ MCV 60 - 70 fl

Diagnosis Banding

14

Mikrositik Hipokrom

Fe Serum

Menurun

Meningkat

Meningkat / Normal

Feritin naik

Feritin turun

Ring Sideroblast pada sumsum tulang

HbA naik

TIBC turun

TIBC naik

Anemia Sideroblastik

HbF naik

Hemosiderin ada

Hemosiderin tidak ada

Thalassemia -

Anemia Penyakit Kronik

Anemia Defisiensi Besi

LO 1.9 Memahami dan Menjelaskan komplikasi Thalassemia

LO 1.10Memahami dan Menjelaskan Prognosis Thalassemia Tanpa terapi penderita akan meninggal pada dekade pertama kehidupan, pada umur, 2-6 tahun, dan selama hidupnya mengalami kondisi kesehatan buruk. Dengan tranfusi saja
15

penderita dapat mencapai dekade ke dua, sekitar 17 tahun, tetapi akan meninggal karena hemosiderosis, sedangkan dengan tranfusi dan iron chelating agent penderita dapat mencapai usia dewasa meskipun kematangan fungsi reproduksi tetap terlambat. (Sunarto, 2000) Pasien yang tidak memperoleh transfusi darah adekuat, akan sangat buruk. Tanpa transfusi sama sekali mereka akan meninggal pada usia 2 tahun, bila dipertahankan pada Hb rendah selama masih kecil. Mereka bisa meninggal dengan infeksi berulang-ulang bila berhasil mencapai pubertas mereka akan mengalami komplikasi akibat penimbunan besi, sama dengan pasien yang cukup mendapat transfusi tapi kurang mendapat terapi khelasi. LO 1.11Memahami dan Menjelaskan Pencegahan Thalassemia Pecegahan thalassemia dilakukan dengan: A. Penapisan pembawa sifat thalassemia dan diagnosis prenatal B. Penapisan pembawa thalassemia beta lebih berguna jika dikerjakan dengan indeks SDM, MCV dan MCH turun dinilai konsentrasi HbA2nya. Masalah timbul pada penapisan individu dengan pembawa sifat thalassemia alfa bersamaan dengan thalassemia alfa C. Di Indondesia, pencegahan Thalassemia beta mayor dikaji oleh Departemen Kesehatan melalui program Health Technology Assesesment beberapa butir rekomendasi, sebagai hasil kajian diusulkan dalam prevalensi thalassemia (termasuk uji saring, teknik, strategi pelaksanaan dan aspek medikolegal, psikososial dan agama). Karena penyakit ini belum ada obatnya, maka pencegahan dini menjadi hal yang lebih penting dibanding pengobatan. Program pencegahan thalassemia terdiri dari beberapa strategi, yakni (1) Penapisan (skrining) pembawa sifat thalassemia, Skrining pembawa sifat dapat dilakukan secara prospektif dan retrospektif. Secara prospektif berarti mencari secara aktif pembawa sifat thalassemia langsung dari populasi diberbagai wilayah, sedangkan secara retrospektif ialah menemukan pembawa sifat melalui penelusuran keluarga penderita thalassemia (family study). Kepada pembawa sifat ini diberikan informasi dan nasehat-nasehat tentang keadaannya dan masa depannya. Suatu program pencegahan yang baik untuk thalassemia seharusnya mencakup kedua pendekatan tersebut. Program yang optimal tidak selalu dapat dilaksanakan dengan baik terutama di negara-negara sedang berkembang, karena pendekatan prospektif memerlukan biaya yang tinggi. Atas dasar itu harus dibedakan antara usaha program pencegahan di negara berkembang dengan negara maju. Program pencegahan retrospektif akan lebih mudah dilaksanakan di negara berkembang daripada program prospektif. (2) Konsultasi genetik (genetic counseling),
16

Konsultasi genetik meliputi skrining pasangan yang akan kawin atau sudah kawin tetapi belum hamil. Pada pasangan yang berisiko tinggi diberikan informasi dan nasehat tentang keadaannya dan kemungkinan bila mempunyai anak (3) diagnosis prenatal Diagnosis prenatal meliputi pendekatan retrospektif dan prospektif. Pendekatan retrospektif, berarti melakukan diagnosis prenatal pada pasangan yang telah mempunyai anak thalssemia, dan sekarang sementara hamil. Pendekatan prospektif ditujukan kepada pasangan yang berisiko tinggi yaitu mereka keduanya pembawa sifat dan sementara baru hamil. Diagnosis prenatal ini dilakukan pada masa kehamilan 8-10 minggu, dengan mengambil sampel darah dari villi khorialis (jaringan ari-ari) untuk keperluan analisis DNA.

Dalam rangka pencegahan penyakit thalassemia, ada beberapa masalah pokok yang harus disampaikan kepada masyarakat, ialah: (1) bahwa pembawa sifat thalassemia itu tidak merupakan masalah baginya; (2) bentuk thalassemia mayor mempunyai dampak mediko-sosial yang besar, penanganannya sangat mahal dan sering diakhiri kematian; (3) kelahiran bayi thalassemia dapat dihindarkan. Karena penyakit ini menurun, maka kemungkinan penderitanya akan terus bertambah dari tahun ke tahunnya. Oleh karena itu, pemeriksaan kesehatan sebelum menikah sangat penting dilakukan untuk mencegah bertambahnya penderita thalassemia ini. Sebaiknya semua orang Indonesia dalam masa usia subur diperiksa kemungkinan membawa sifat thalassemia. Pemeriksaaan akan sangat dianjurkan bila terdapat riwayat : (1) ada saudara sedarah yang menderita thalassemia, (2) kadar hemoglobin relatif rendah antara 10-12 g/dl walaupun sudah minum obat penambah darah seperti zat besi, (3) ukuran sel darah merah lebih kecil dari normal walaupun keadaan Hb normal. Jadi cegahlah thalassemia dengan pemeriksaan kesehatan pranikah

17

LI 2. Memahami dan Menjelaskan Tatalaksana Thalassemia -transfusi - Khelasi -splenektomi Pengobatan thalassemia bergantung pada jenis dan tingkat keparahan dari gangguan. Seseorang pembawa atau yang memiliki sifat alfa atau beta thalassemia cenderung ringan atau tanpa gejala dan hanya membutuhkan sedikit atau tanpa pengobatan. Terdapat 3 (standar) perawatan umum untuk thalassemia tingkat menengah atau berat, yaitu transfusi darah, terapi besi dan chelation, serta menggunakan suplemen asam folat. Selain itu, terdapat perawatan lainnya adalah dengan transplantasi sumsum tulang belakang, pendonoran darah tali pusat dan HLA (Human Leukocyte Antigens). Transfusi darah Transfusi yang dilakukan adalah transfusi sel darah merah. Terapi ini merupakan terapi utama bagi orang-orang yang menderita thalassemia sedang atau berat. Transfusi darah dilakukan melalui pembuluh vena dan memberikan sel darah merah dengan hemoglobin normal. Untuk mempertahankan keadaan tersebut, transfusi darah harus dilakukan secara rutin karena dalam waktu 120 hari sel darah merah akan mati. Khusus untuk penderita beta thalassemia intermedia, transfusi darah hanya dilakukan sesekali saja, tidak secara rutin. Sedangkan untuk beta thalassemia mayor (Cooleys Anemia) harus dilakukan secara teratur (2 atau 4 minggu sekali) Terapi Khelasi Besi (Iron Chelation) Hemoglobin dalam sel darah merah adalah zat besi yang kaya protein. Apabila melakukan transfusi darah secara teratur dapat mengakibatkan penumpukan zat besi dalam darah. Kondisi ini dapat merusak hati, jantung, dan organ-organ lainnya. Untuk mencegah kerusakan ini, terapi khelasi besi diperlukan untuk membuang kelebihan zat besi dari tubuh. Terdapat dua obat-obatan yang digunakan dalam terapi khelasi besi, yaitu: a) Deferoxamine Deferoxamine adalah obat cair yang diberikan melalui bawah kulit secara perlahan-lahan dan biasanya dengan bantuan pompa kecil yang digunakan dalam kurun waktu semalam. Terapi ini memakan waktu lama dan sedikit memberikan rasa sakit. Efek samping dari pengobatan ini dapat menyebabkan kehilangan penglihatan dan pendengaran. b) Deferasirox Deferasirox adalah pil yang dikonsumsi sekali sehari. Efek sampingnya adalah sakit kepala, mual, muntah, diare, sakit sendi, dan kelelahan (kelelahan). Suplemen Asam Folat

Asam folat adalah vitamin B yang dapat membantu pembangunan sel-sel darah merah yang sehat. Suplemen ini harus tetap diminum di samping melakukan transfusi darah ataupun terapi khelasi besi.

18

Transplantasi sumsum tulang belakang (Bone Marrow Transplantation_(BMT) sejak tahun 1900 telah dilakukan. Darah dan sumsum transplantasi sel induk normal akan menggantikan sel-sel induk yang rusak. Sel-sel induk adalah sel-sel di dalam sumsum tulang yang membuat sel-sel darah merah. Transplantasi sel induk adalah satu-satunya pengobatan yang dapat menyembuhkan thalassemia. Namun, memiliki kendala karena hanya sejumlah kecil orang yang dapat menemukan pasangan yang baik antara donor dan resipiennya.

Pendonoran darah tali pusat (Cord Blood ) Cord blood adalah darah yang ada di dalam tali pusat dan plasenta. Seperti tulang sumsum, itu adalah sumber kaya sel induk, bangunan blok dari sistem kekebalan tubuh manusia. Dibandingkan dengan pendonoran sumsum tulang, darah tali pusat non-invasif, tidak nyeri, lebih murah dan relatif sederhana. HLA (Human Leukocyte Antigens) Human Leukocyte Antigens (HLA) adalah protein yang terdapat pada sel di permukaan tubuh. Sistem kekebalan tubuh kita mengenali sel kita sendiri sebagai 'diri,'dan sel asing' sebagai lawan didasarkan pada protein HLA ditampilkan pada permukaan sel kita. Pada transplantasi sumsum tulang, HLA ini dapat mencegah terjadinya penolakan dari tubuh serta Graft versus Host Disease (GVHD). HLA yang terbaik untuk mencegah penolakan adalah melakukan donor secara genetik berhubungan dengan resipen (penerima). Selain itu, pengobatan lain yang sering diaplikasikan pada pasien dengan masalah thalassemia adalah: Antibiotik: untuk melawan mikroorganisme pada infeksi. Untuk menentukan jenis antibiotik yang digunakan perlu dilakukan anamnesis lebih lanjut pada pasien. Pemberian antibiotik disebabkan berlakunya hepatosplenomegali dan anemia, yang akan menyebabkan pasien akan lebih rentan untuk terdedah pada infeksi Vitamin B12 dan asam folat : untuk meningkatkan efektivitas fungsional Eritropoesis Vitamin C: untuk meningkatkan ekskresi besi. Dosis 100-250 mg/hari selama pemberian kelasi besi Vitamin E : untuk memperpanjang masa hidup eritrosit.Dosis 200-400 IU setiap hari. Imunisasi : untuk mencegah infeksi oleh mikroorganisme. Imunisasi pada penderita ini dengan vaksin hepatitis B, vaksin H. influenza tipe B, dan vaksin polisakarida pneumokokus diharapkan, dan terapi profolaksis penisilin juga dianjurkan. Splenektomi : limpa yang terlalu besar, sehingga membatasi gerak penderita,menimbulkan peningkatan tekanan intraabdominal dan bahaya terjadinya ruptur. Jika disetujui pasien hal ini sebaiknya dilakukan setelah anak berumur di atas 5 tahun sehingga tidak terjadi penurunan drastis imunitas tubuh akibat splenektomi. Indikiasi terpenting untuk splenoktomi adalah meningkatkan kebutuhan transfusi yang menunjukan unsur hipersplenisme. Kebutuhan transfuse melebihi 240 ml/kg PRC/ tahun biasanya merupakan bukti hipersplenisme dan merupakan indikasi untuk mempertimbangkan splenektomi.
19

20