Anda di halaman 1dari 44

PANDUAN PERTEMUAN ORIENTASI DAN PELATIHAN ASaH DI SEKOLAH

Program Kerjasama Pemerintah Indonesia dan UNICEF Jakarta 2010

2
KATA PENGANTAR
Pembangunan sumberdaya manusia (SDM) memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan manusia Indonesia yang maju dan mandiri agar mempunyai daya saing dalam era globalisasi. Sejalan dengan kondisi tersebut, pemerintah RI dan UNICEF melakukan kerjasama di bidang air minum dan penyehatan lingkungan di 6 provinsi, 26 kabupaten dan 5 kota di wilayah Indonesia Timur. Beberapa hal yang melatarbelakangi program kerjasama RI-UNICEF dalam bidang ini antara lain, masih besarnya jumlah penduduk Indonesia yang masih belum memiliki akses yang baik terhadap fasilitas air minum dan sanitasi. Dampak buruk terbesar dialami oleh wanita dan anka-anak, hal ini terbukti dari kondisi air minum dan sanitasi buruk merupakan penyebab kedua terbesar kematian balita di Indonesia.

UNICEF berupaya meningkatkan martabat dan kesejahteraan anak di bidang kesehatan, pendidikan, perlindungan anak dan keadilan. Salah satu program yang mendukung tujuan di atas adalah program Water and Environmental Sanitation (WES). Selain membantu masyarakat di perdesaan dan perkotaan, program WES juga membantu penyediaan air minum, sanitasi dan pendidikan hygiene di sekolah. Tujuan program WES komponen sekolah adalah untuk melayani akses air dan sanitasi yang baik bagi 100.000 murid SD dan 2.000 guru di 500 sekolah dasar. Untuk mencapai tujuan dalam pelaksanaan program WES, komponen WES di sekolah yang selanjutnya disebut Program Air, Sanitasi dan Higiene (ASaH) di Sekolah perlu dilengkapi dengan buku Panduan Pertemuan Orientasi dan Pelatihan Air, Sanitasi dan Higiene di Sekolah. Dalam pertemuan ini akan dibahas program ASaH di Sekolah, pendidikan higiene dan manajemen sekolah yang berkelanjutan. Secara detail akan dibahas petunjuk teknis tahapan-tahapan pelaksanan program atara lain penyusunan rencana kerja sekolah, peran dan tanggung jawab pelaksanan program ditingkat sekolah, pembangunan fasilitas, opersional dan perawatan sarana air dan sanitasi serta pedoman menjadikan sekolah sebagai pusat informasi terkait dengan air, sanitasi dan pendidikan higiene. Besar harapan buku Panduan Pertemuan Orientasi dan Pelatihan ASaH di Sekolah, sebagai panduan dalam perencanaan dan pelaksanaan program. Saran, kritik dan masukan sangat membantu dalam perbaikan dan penyempurnaan petunjuk teknis

Jakarta, Januari 2010

Francois Brikke Chief WES Section UNICEF Indonesia

DAFTAR SINGKATAN ASaH BOS CLCC CTPS DAK MBS PAKEM PHBS RKS SD SDM UKS UNICEF WASH WES Air, Sanitasi dan Higiene Bantuan Operasi Sekolah Creating, Learning Communities for Children Cuci Tangan Pakai Sabun Dana Alokasi Khusus Manajemen Berbasis Sekolah Pnedidikan Actif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Rencana Kerja Sekolah Sekolah Dasar Sumber Daya Manuasia Usaha Kesehatan Sekolah United Nation Children Funds Water, Sanitation and Hygiene Water and Environmental Sanitation

I.

PENDAHULUAN Kerja sama RI-UNICEF dalam pembangunan di sektor air minum dan penyehatan lingkungan (WES) sudah berlangsung sejak lama namun pada tahun 1999 pelaksanaan program WES di hentikan. Sejak terjadi bencana tsunami tahun 2004 di Nangroe Aceh Darussalam program ini diaktifkan kembali. Pelaksanaan program WES berlokasi di 6 propinsi di wilayah Indonesia bagian Timur dengan pembiayaan dari beberapa negara donor antara lain dari pemerintah Belanda dan Swedia. Pendekatan yang digunakaan dalam program WES adalah berbasis partisipasi sejak tahap perencanaan, pelaksanaan dan paska pelaksanaan, di mana keterlibatan pemerintah daerah, sekolah dan masyarakat sangat terkait antara satu dan lainnya. Beberapa komponen terdapat dalam program WES sebagai target pelayanan program dalam mendapatkan akses yang lebih baik. Komponen tersebut adalah komponen pedesaan, perkotaan dan sekolah.

Pelaksanaan program WES UNICEF komponen sekolah selanjutnya disebut Program Air, Sanitasi dan Higiene (ASaH) di Sekolah dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan akses penyediaan air dan sanitasi yang baik bagi 100.000 siswa dan 2.000 guru di 500 SD. Pelaksanaan program WES di samping membantu menyediakan fasilitas fisik sarana air dan sanitasi dan peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat, juga meningkatkan kapasitas bagi seluruh pihak yang terkait dalam pelaksanaan air, sanitasi dan higiene di sekolah. Pelaksanaan pelatihan, orientasi, workshop dan penguatan kapasitas lainya akan diberikan bagi pelaksana program.

Untuk menunjang kegiatan penguatan dan peningkatan kapasitas bagi pihak pelaksana program, dibutuhkan sebuah buku panduan. Untuk itu dissusun sebuah buku Panduan Pertemuan Orientasi dan Pelatihan ASaH di Sekolah. Buku panduan ini nantinya yang akan dijadikan panduan kegiatan penguatan kapasitas pelaksanaan program ASaH di sekolah. Buku Panduan Pertemuan Orientasi dan Pelatihan ASaH di Sekolah berisi tentang modul dan materi yang akan diajarkan dalam kegiatan pelatihan air, sanitasi dan penyehatan lingkungan. Buku panduan ini berisi beberapa bagian antara lain: 1. 2. 3. Bagian I, Program ASaH di Sekolah. Bagian II, Pendidikan higiene. Bagian III, Managemen berkelanjutan.

Materi buku pedoman Pertemuan Orientasi dan Pelatihan ASaH di Sekolah akan diajarkan dalam pelatihan di tingkat kabupaten yang akan dihadiri oleh semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan sanitasi dan penyehatan lingkungan di sekolah, antara lain; lintas sektor SKPD pemerintah daerah kabupaten/kota, Tim Pembina UKS Kabupaten/Kota, kepala sekolah, dan

5
komite sekolah yang selanjutnya disampaikan kepada guru dan murid. Pelaksanaan pelatihan ini dijadwalkan kurang lebih berlangsung selama 2 hari penuh. Tujuan : 1. 2. Memberikan pemahaman terhadap pelaksanaan program ASaH di sekolah secara menyeluruh. Memberikan pemahaman tentang tugas dan peran masing-masing stakeholder dalam pelaksanaan program AsaH di Sekolah. 3. 4. Meningkatkan kapasitas dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi serta monitoring paska pelaksanaan bagi semua pihak yang terkait program ASaH di sekolah. Menyusun rencana kerja bagi tiap tahapan kegiatan program ASaH di sekolah.

Hasil yang Diharapkan : 1. 2. Pemahaman bersama terhadap pelaksanaan program ASaH di sekolah secara menyeluruh bagi semua pihak yag terkait. Pemahaman bersama tentang tugas dan peran masing-masing stakeholder dalam pelaksanaan program ASaH di sekolah. 3. Meningkatnya kapasitas semua pihak yang terkait dalam pelaksanaan program ASaH di sekolah dalam aspek perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi dan monitoring paska program. 4. Kemampuan menyusun rencana kerja bagi tiap tahapan kegiatan program ASaH di sekolah.

Metodologi Metodologi yang digunakan adalah metode pelatihan workshop, di mana peserta mendapatkan proses pembelajaran sekaligus penerapan dalam materi yang diterima dalam setiap proses pelatihan. Selain metode pelatihan workshop, metodologi yang digunakan dalam pelatihan ini adalah pembelajaran aktif (active learning) dan partisipasi. Peserta pelatihan mendapatkan proses pembelajaran aktif meliputi contoh kegiatan dan simulasi sebagai bagian dari proses internalisasi materi yang dilatihkan. Metode pembelajaran aktif ini dikemas dalam bentuk kegiatan antara lain, permainan, presentasi kelompok, diskusi kelompok, menyanyi, role playing praktek kampanye higiene. atau bermain peran, Focus Group Discusion (FGD) atau Diskusi Kelompok Terfokus, menulis dan

II.

Batasan Modul

2.1. Sasaran Modul Buku panduan Pertemuan Orientasi dan Pelatihan ASaH di Sekolah diperuntukkan bagi semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan program WES, bahkan lebih luas lagi bagi semua pihak yang terlbat dalam pelaksanaan dan peduli pada penyediaan air, sanitasi dan pendidikan higiene di sekolah, seperti:

6
1. Dinas Pendidikan, Kesehatan dan dinas terkait dari Pemerintah Daerah, Tim Pembina UKS adalah unit-unit di pemerintah daerah yang membawahi pelaksanaan kegiatan sanitasi dan kesehatan sekolah. 2. Kepala Sekolah, adalah pejabat yang bertanggung jawab dalam pelaksanaan kegiatan di sekolah di mana sekolahnya mendapat interfensi program AsaH. 3. Komite Sekolah, komite sekolah adalah perwakilan orang tua siswa yang berpartisipasi dalam pelaksanaan program sanitasi dan kesehatan lingkungan sekolah.

Buku pedoman ini dapat diimplementasikan bagi program penyediaan air, sanitasi dan kesehatan di sekolah secara luas, dan mungkin dikembangkan sesuai dengan target dan sasaran, berdasarkan budaya dan bahasa setempat.

2.2. Fasilitator Fasilitator dalam pelatihan ini dan sekaligus sebagai nara sumber adalah pejabat dari dinas terkait (Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, Tim Pembina UKS, anggota pokja AMPL) atau fasilitator masyarakat yang sudah terpilih dan sudah mendapatkan pelatihan tentang sanitasi dan kesehatan lingkungan sekolah. 2.3. Materi Bagian I, Program ASaH di Sekolah a. b. c. d. e. f. g. Komponen ASaH di Sekolah. Tugas dan peran. Data awal dan akhir serta pemetaan. Pembangunan fasilitas air dan sanitasi . Pelatihan teknik. Monitoring dan evaluasi. Pengembangan kontrol sosial dan aturan di sekolah.

Bagian II, Pendidikan Kesehatan a. b. c. d. Pelatihan partisipasi bagi guru. Pendidikan higiene untuk siswa. Sekolah Sebagai Pusat Informasi ASaH. Penggunaan dan perawatan fasilitas air dan sanitasi.

Bagian III, Managemen Berkelanjutan a. b. Dukungan pemerintah daerah terhadap ASaH di Sekolah. Rencana kerja sekolah.

2.4. Peserta a. Pelatihan berlangsung di kabupaten/kota Lokasi Program WES UNICEF.

7
b. Peserta pelatihan antara lain dari dinas kesehatan, pendidinak dan dinas terkait (anggota Pokja AMPL kabupaten/kota), Tim Pembina UKS Kabupaten/Kota, Kepala Sekolah, dan Komite Sekolah, Pimpinan Puskesmas, Camat, unsur pendidikan kecamatan.

Daftar Isi
Halaman
Kata Pengantar Pendahuluan Batasan Modul Agenda Bagian 1 Sesi I Sesi II Sesi III Sesi IV Sesi V Sesi VI Sesi VII Bagian 2 Sesi VIII Sesi IX Sesi X Sesi XI Bagian 3 Sesi XII Sesi XIII Program ASaH di Sekolah Komponen ASaH di Sekolah Tugas dan Peran Data Awal dan Akhir dan Pemetaan ASaH di Sekolah Pembangunan Fasilitas Air dan Sanitasi Pelatihan Teknik Monitoring dan Evaluasi Pengembangan Kontrol Sosial dan Aturan di Sekolah Pendidikan Higiene Pelatihan Partisipasi bagi Guru Pendidikan Higiene untuk Siswa Sekolah Sebagai Pusat Informasi ASaH Penggunaan dan Perawatan Fasilitas Air dan Sanitasi Manajemen Berkelanjutan Dukungan Peperintah Daerah terhadap ASaH di Sekolah Rencana Kerja Sekolah 2 4 5 9 10 10 14 17 20 22 24 26 28 28 30 32 36 38 38 40

Agenda
No Hari 1 Kegiatan Regristasi Pembukaan Perkenalan/Pencairan Suasana Komponen ASaH di Sekolah Istirahat teh/kopi Tugas dan Peran Istirahat makan siang Data Awal dan Akhir Pembangunan Fasilitas Air dan Sanitasi Istirahat teh/kopi Pelatihan Teknik Monitoring dan Evaluasi Pengembangan Kontrol Sosial dan Aturan di Sekolah Istirahat Pelatihan Partisipasi bagi Guru Pembelajaran Partisipasi Berkelompok bagi Siwa Istirahat teh/kopi Sekolah Sebagai Pusat Informasi ASaH Penggunaan dan Perawatan Fasilitas Air dan Sanitasi Istirahat makan siang Dukungan Penerintah Daerah terhadap ASaH di Sekolah Rencana Kerja Sekolah Istirahat teh/kopi Penutupan Istirahat dan kembali ke tempat tugas Waktu 07.30 08.00 08.00 08.30 08.30 09.00 09.00 10.00 10.00 10.30 10.30 12.30 12.30 - 13.30 13.30 14.30 13.30 14.30 14.30 15.30 14.30 15.30 15.30 16.30 16.30 17.30 08.00 09.00 09.00 - 10.00 10.00 10.30 10.30 11.30 11.30 12.30 12.30 13.30 13.30 14.30 14.30 16.30 15.30 16.30 16.30 17.30

Sesi I Sesi II Sesi III Sesi IV Sesi V Sesi VI Sesi VII Hari 2 Sesi VIII Sesi IX Sesi X Sesi XI Sesi XII Sesi XIII

10

Bagian Satu: Program ASaH di Sekolah SESI I Komponen ASaH di Sekolah Tujuan:
1. Peserta memahami latar belakang dan tujuan program komponen ASaH di Sekolah. 2. Peserta memahami tentang pentingnya pendidikan higiene bagi siswa di sekolah. 3. Peserta memahami konsep MBS/CLCC dan hubungan dengan ASaH di Sekolah.

Metode:
presentasi dan diskusi kelompok.

Waktu:
60 menit

Alat dan Bahan:


kain dengan perekat pena/spidol kertas ukuran kecil kertas ukuran besar/ Koran gunting lem/perekat LCD OHP

Aktifitas:
1. 2. 3. 4. Menjelaskan secara garis besar tujuan sesi ini. Presentasi oleh fasilitator. Diskusi kelompok, peserta dibagi dalam empat kelompok kecil terdiri 5 8 orang.. Dalam kelompok peserta diminta berdiskusi tentang: 1) Program ASaH di Sekolah, 2) Penyelenggaraan ASaH di Sekolah secara transparans, 3) Program ASaH di Sekolah dalam CLCC/MBS, 4) Pendidikan higiene di sekolah. Masing-masing kelompok diminta mempresentasikan hasil diskusi dalam sidang pleno, dilanjutkan diskusi.

5.

Kompetensi:
1. 2. Pemahaman latar belakang dan tujuan program komponen ASaH di Sekolah. Pemahaman konsep MBS/CLCC dan hubungan ASaH di Sekolah.

11

Catatan pembelajaran/Butir kunci pembelajaran:


Program WES UNICEF Masih besarnya jumlah penduduk Indonesia tanpa akses terhadap fasilitas air minum dan sanitasi yang diperkirakan sebanyak 50 100 juta. Dampak buruk dari fakta di atas pertama kali akan dialami oleh wanita dan anak-anak. Kondisi air minum dan sanitasi yang buruk adalah penyebab kedua terbesar kematian balita di Indonesia yang memerlukan penanganan lintas sektor untuk menekan kondisi tersebut. UNICEF yang memiliki perhatian terhadap kesejahteraan anak dan ibu, bersama Pemerintah Indonesia mengembangkan suatu program yang bertujuan untuk meningkatkan akses air bersih dan sanitasi yang baik serta peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat melalui Program WES di wilayah perdesaan, perkotaan dan sekolah. Pelaksanaan program WES menitikberatkan melalui peningkatan kapasitas para pelaku program dan pembangunan sarana konstruksi fisik terkait dengan air minum dan sarana sanitasi serta kampanye perubahan perilaku hidup bersih dan sehat.

Program WES UNICEF Komponen Sekolah Tujuan : - mengembangkan model untuk selanjutnya direplikasi oleh Pemerintah - memperbaiki perilaku hygiene dan akses terhadap sarana air minum dan sanitasi di sekolah. Sasaran : 100.000 anak, 2000 guru di 500 SD di 6 provinsi di Indonesi Timur, mendapatkan layanan air minum dan sanitasi yang baik. Lokasi : Provinsi NTB, NTT, Papua, Papua Barat, Maluku dan Sulawesi Selatan. Pendanaan : Dana Hibah dari Pemerintah Swedia dan Belanda. Kendala : Kurangnya keterlibatan dan rasa memiliki dari pemerintah daerah dan masyarakat. PROGRAM MENCIPTAKAN MASYARAKAT PEDULI PENDIDIKAN ANAK/CLCC (CREATING LEARNING COMMUNITIES FOR CHILDREN) DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL Pelaksanaan program sanitasi di sekolah tidak terlepas dari metode pengajaran yang dilakukan agar pesan yang disampaikan efektif dan mudah dipahami oleh siswa maupun guru serta masyarakat sekolah pada umumnya. Untuk itu penggunaan pendekatan pengajaran yang efektif merupakan hal penting dalam penyampaian pesan sanitasi sekolah untuk mencapai tujuan peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat dikalangan masyarakat sekolah. Departemen Pendidikan Nasional sebagai penanggungjawab pelaksanaan kegiatan pengajaran di sekolah, telah mengembangkan konsep pengajaran yang barbasis pada tiga hal antara lain: 1. Management berbasis sekolah (MBS). 2. Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM). 3. Penggalangan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan pendidikan di sekolah. Konsep CLCC ini sudah menjadi program nasional dari Departemen Pendidikan Nasional dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan bagi siswa. Apa Management Berbasis Sekolah (MBS)? Manajemen berbasis sekolah adalah desentralisasi yang sistematis pada otoritas dan tanggung jawab

12
tingkat sekolah untuk membuat keputusan atas masalah signifikan terkait penyelenggaraan sekolah dalam kerangka kerja yang ditetapkan oleh pusat terkait tujuan, kebijakan, kurikulum, standar, dan akuntabilitas. 1. Sekolah dapat mengalokasikan sumberdayanya untuk pendidikan dan kebutuhannya sendiri. 2. Sekolah lebih bertanggung jawab terhadap perawatan terkait fasilitas dan keperluan dalam proses belajar mengajar. 3. Sekolah menyusun rencana kerja berdasarkan inisiatif sendiri untuk meningkatkan kualitasnya, serta melibatkan masyarakat dalam prosesnya 4. Kepala sekolah dan guru lebih professional dalam menyampaikan materi pendidikan . Bagaimana Masyarakat Berperan di Sekolah? 1. Masyarakat termasuk orang tua murid berkerjasama dengan kepala sekolah dan guru untuk merencanakan pembangunan sekolah, serta memonitor penggunaan sumberdaya sekolah. 2. Orangtua membantu sekolah dalam penyampaian informasi dan kegiatan belajar siswa. 3. Masyarakat membuat jam belajar pada waktu sore untuk menekankan siswa agar belajar di rumah. 4. Kader masyarakat membantu sekolah dalam pelaksanaan perbaikan sekolah. 5. Kontribusi dana dari orang tua siswa dalam menunjang kegiatan sekolah. Apa PAKEM? 1. Siswa terlibat dalam berbagai kegiatan yang mengembangkan pemahaman dan kemampuan mereka dengan penekanan pada belajar melalui berbuat. 2. Guru menggunakan berbagai alat bantu dan berbagai cara dalam membangkitkan semangat, termasuk menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk menjadikan pembelajaran menarik, menyenangkan, dan cocok bagi siswa. 3. Guru mengatur kelas dengan memajang buku-buku dan bahan belajar yang lebih menarik dan menyediakan pojok baca. 4. Guru menerapkan cara mengajar yang lebih kooperatif dan interaktif, termasuk cara belajar kelompok. Guru mendorong siswa untuk menemukan caranya sendiri dalam pemecahan suatu masalah, untuk mengungkapkan gagasannya, dan melibatkan siswa dalam menciptakan lingkungan sekolahnya.

PENDIDIKAN PHBS DI SEKOLAH Penerapan PHBS di sekolah merupakan kebutuhan mutlak seiring munculnya berbagai penyakit yang sering menyerang anak usia sekolah (6 10 tahun), yang ternyata umumnya berkaitan dengan PHBS. PHBS di sekolah merupakan sekumpulan perilaku yang dipraktikkan oleh peserta didik, guru, dan masyarakat lingkungan sekolah atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, sehingga secara mandiri mampu mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya, serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sehat. Penerapan PHBS ini dapat dilakukan melalui pendekatan Usaha Kesehatan Sekolah. Manfaat PHBS di sekolah di antaranya : 1. Terciptanya sekolah yang bersih dan sehat sehingga peserta didik, guru, dan masyarakat lingkungan sekolah terlindungi dari berbagai gangguan dan ancaman penyakit. 2. Meningkatnya semangat proses belajar-mengajar yang berdampak pada prestasi belajar peserta didik. 3. Mtra sekolah sebagai institusi pendidikan semakin meningkat sehingga mampu menarik minat orang tua (masyarakat). 4. Meningkatnya citra pemerintah daerah di bidang pendidikan. 5. Menjadi percontohan sekolah sehat bagi daerah lain. Syarat-syarat sekolah ber-PHBS yaitu antara lain: 1. Mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan sabun.

13
2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Jajan di kantin sekolah yang sehat. Membuang sampah pada tempatnya. Mengikuti kegiatan olah raga di sekolah. Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap bulan. Tidak merokok di sekolah. Memberantas jentik nyamuk di sekolah secara rutin. Buang air besar dan buang air kecil di jamban sekolah.

Akuntabilitas dan Transparansi Pelaksanaan Program WES UNICEF 1. Setiap rencana kerja dan anggaran belanja yang disusun di ketahui oleh semua pihak (Komiten Sekolah, Kepala Sekolah, Guru dan Masyarakat). 2. Pelaksanaan program dilakukan bersama-sama dengan keterlibatan semua pihak.

14

Bagian Satu: Program ASaH di Sekolah SESI II Tugas dan Peran Tujuan:
Peserta bisa memberikan penjelasan dan gambaran tentang tugas, peran dan tanggung jawab masingmasing stake holder dalam pelaksanaan program ASaH di Sekolah

Metode:
presentasi bermain peran.

Waktu:
120 menit

Alat dan Bahan:


kain dengan perekat pena/spidol kertas ukuran kecil kertas ukuran besar/ Koran gunting lem/perekat LCD OHP

Aktifitas:
1. 2. 3. 4. Menjelaskan secara garis besar tujuan sesi ini. Presentasi oleh fasilitator. Peserta dibagi dalam dua kelompok terdiri 10 15 orang. Dalam kelompok peserta diminta berdiskusi tentang skenario suatu drama pendek. Kelompok menetapkan sendiri thema ceritera drama yang akan dimainkan, dengan pelaku semua pemangku kepentingan dalam program ASaH di Sekolah. Para pemangku kepentingan meliputi: Unsur Dinas Pendidikan kabupaten/kecamatan, Kesehatan. Puskesmas, Kepala Sekolah, Guru, Komite sekolah, Panitya kerja sekolah. Masing-masing kelompok diminta memperagakan drama, dilanjutkan diskusi.

5.

Kompetensi:
Tanggung jawab dan peran masing-masing stake holder dalam pelaksanaan program ASaH di Sekolah.

15

Catatan pembelajaran/Butir kunci pembelajaran:


Tugas dan Peran masing-masing Pemangku kepentingan Program AsaH di Sekolah
Tugas dan Peran Kepala Sekolah 1. Sebagai mediator, fasilitator dan dinamisator serta motivator dalam mendukung kegiatan WES UNICEF di sekolah. 2. Mengadakan pemeriksaan rutin kebersihan dan kesehatan pribadi secara terkoordinasi di sekolah. 3. Meningkatkan peran UKS dengan membina dokter kecil, melakukan kerja sama dengan Puskesmas untuk pemeriksaan rutin dan kegiatan UKS. 4. Bekerjasama dengan masyarakat/komite sekolah/panitia kerja sekolah dalam mengalokasikan anggaran sekolah untuk kegiatan kesehatan sekolah. 5. Melegalisasi segala dokumen yang berkaitan dengan pelaksanaan program. Tugas dan Peran Guru 1. Memfasilitasi program pendidikan dan kampanye hygienitas di sekolah untuk anak didik bersama guru di lingkungan sekolah. 2. Menyelenggarakan koordinasi dengan guru di dalam gugusnya (KKG) untuk menyelenggarakan kampanye kesehatan. 3. Mengadakan pemeriksaan rutin kebersihan dan kesehatan pribadi bersama tim piket sekolah dan dokter kecil/duta sehat. 4. Menyusun rencana kerja sekolah. 5. Mendukung kegiatan WES dengan melaksanakan rencana tindak lanjut. Tugas dan Peran Komite Sekolah 1. Sebagai mitra sekolah dalam merencanakan kegiatan belajar, khususnya bagaimana meningkatkan kesehatan anak sekolah. 2. Bersama pihak sekolah mengalokasikan anggaran sekolah, misal BOSS dan DAK serta kontribusi masyarakat untuk kegiatan UKS. 3. Sebagai fasilitator dan mediator masyarakat dengan sekolah. 4. Ikut memonitoring kegiatan belajar dan kegiatan promosi kesehatan. Peran Panitia Kerja Sekolah 1. Bersama pihak sekolah mengalokasikan anggaran sekolah, misal BOSS dan DAK untuk kegiatan pembangunan fasilitas sanitasi di sekolah. 2. Melakukan pengawasan terhadap kegiatan pembangunan fasilitas sanitasi di sekolah. Peran Stake Holder ( Dinas Tingkat Kecamatan) 1. Melakukan pengawasan dan monitoring penyelenggaraan kampanye kesehatan di sekolahsekolah di lingkungan kerjanya. 2. Memediasi dan memfasilitasi kesenjangan pelaksanaan sanitasi sekolah dan pendidikan kesehatan di sekolah. 3. Menjalin kerjasama dengan pihak sekolah dan Tim Pembina UKS ditingkat kecamatan. Tugas dan Peran Stake Holder ( Dinas Tingkat Kabupaten/Kota) 1. Melakukan pengawasan dan monitoring penyelenggaraan kampanye kesehatan di sekolah-sekolah di lingkungan kerjanya. 2. Memediasi dan memfasilitasi kesenjangan pelaksanaan sanitasi sekolah dan pendidikan kesehatan di sekolah. 3. Menjalin kerjasama dengan pihak sekolah dan Tim Pembina UKS ditingkat kabupaten/kota. 4. Memeriksa Rencana Kerja Sekolah yang dihasilkan. Kontribusi Masyarakat 1. Asas kontribus masyarakat/komite sekolah tidak mengikat atau bebas. Masyarakat bisa berkontribusi dengan bantuan material maupun non material dalam pelaksanaan kegiatan WES di sekolah. 2. Pelaporan kontribusi masyarakat dilakukan dengan mengumumkan jumlah dan jenis kontribusi yang diberikan dalam pelaksanaan program wes di sekolah.

16
3. Segala bentuk pelaporan tentang kontribusi masyarakat di legalisasi oleh komite sekolah dan kepala sekolah.

17

Bagian Satu: Program ASaH di Sekolah SESI III Data Awal dan Data Akhir serta Pemetaan Tujuan:
Peserta mengetahui situasi kondisi awal terkait dengan perilaku higiene dan kondisi fasilitas sanitasi dan kondisi sesudah pelaksanaan program ASaH di Sekolah.

Metode:
presentasi diskusi .

Waktu:
90 menit

Alat dan Bahan:


kain dengan perekat pena/spidol kertas ukuran kecil kertas ukuran besar/ Koran gunting lem/perekat LCD OHP

Aktifitas:
1. 2. 3. 4. 5. 6. Fasilitator menjelaskan secara garis besar tujuan sesi ini. Presentasi oleh fasilitator. Peserta dibagi dalam dua kelompok terdiri 10 15 orang. Dalam kelompok peserta diminta berdiskusi tentang pengumpulan data ASaH disekolah, meliputi apa, siapa, bagaimana, di mana, kapan dilaksanakan. Dalam kelompok peserta diminta membuat peta umum ASaH di Sekolah meliputi: bangunan sekolah, fasilitas air dan sanitasi serta perilaku higiene yang ada. Masing-masing kelompok diminta mempresentasikan dalam pleno, dilanjutkan diskusi.

Kompetensi:
Pemahaman tentang situasi kondisi awal terkait dengan perilaku higiene dan kondisi fasilitas sanitasi dan kondisi sesudah pelaksanaan program ASaH di Sekolah.

18

Catatan pembelajaran/Butir kunci pembelajaran:


PENGUMPULAN DATA AKHIR (ENDLINE DATA)
1. Mengetahui kondisi sekolah setelah intervensi program 2. Mengetahui sejauh mana kondisi PHBS dan fasilitas sanitasi di sekolah, khususnya pemahaman anak tentang PHBS 3. Sebagai alat untuk mengevaluasi seberapa jauh keberhasilan pelaksanaan kegiatan PHBS dan sanitasi sekolah 4. Data yang di kumpulkan meliputi, kondisi faslitas air dan sanitasi Sekolah , perilaku higiene murid, masyarakat sekolah dan
umum di sekitar sekolah .

Tabel Isian Data Awal AsaH di Sekolah Indikator Pertanyaan Lingkungan Sekolah Apakah halaman sekolah, lingkungan dan ruangan kelas bersih? Apakah tersedia perlengkapan penunjang kegiatan PHBS seperti sabun, dana perbaikan sarana sanitasi sekolah dan materi pendidikan kesehatan? Apakah siswa dilatih untuk menanam dan memelihara tanaman di sekolah? Ketersediaan Air Apakah sumber air mencukupi melayani sekolah dalam setahun? Bagaimana kualitas air dari sumber air terjaga? Apakah air terlindungi dengan baik? Apakah ada gayung untuk digunakan untuk mengambil air dari bak penampungan? Apakah tersedia tempat cuci tangan? Apakah tempatnya bersih dan kering? Apakah tersedia sabun untuk cuci tangan? Apakah murid dan guru melakukan CTPS setelah menggunakan toilet? dan sebelum makan? Toilet dan Jamban Apakah jamban tersedia untuk lingkungan sekolah? Bagaimana rasio perbandingan untuk siswa wanita dan pria persatu toilet? Apakah sudah mencukupi? Apakah toilet bersih? Apakah bak air untuk membersihkan setelah BAB mudah terjangkau oleh siswa? Apakah guru mempunyai toilet yang terpisah dengan siswa? Apakah toilet sekolah digunakan oleh siswa baik pria dan wanita? Apakah siswa membantu membersihkan sekolah termasuk toiletnya? Apakah ada jadwal piket untuk memebersihkan toilet bagi siswa? Sampah Apakah terdapat tempat sampah disekolah? Apakah tempat sampah dibedakan berdasarkan jenis sampahnya? Apakah murid sudah mengetahui arti sampah, manfaat dan dampak yang diakibatkan oleh sampah? Apakah murid sudah mengetahui tentang jenis sampah?

Jawaban

19
Apakah murid sudah dilatih dalam membuang sampah sesuai dengan jenisnya? Apakah murid sudah diajarkan tentang pengolahan sampah? Apakah disekolah tersedia sarana pengolahan sampah? Makanan Sehat Apakah disekolah tersedia tempat penjualan makanan yang sehat dan bersih? Apakah siswa sudah mengerti tentang cici-ciri makanan sehat? Apakah guru dan petugas dari puskesmas memeriksa kondisi tempat penjual makanan secara berkala? Apakah makanan yang dijual oleh penjual makanan bersih dan terlindungi dari lalat dan debu? Guru Apakah guru melatih tentang sanitasi sekolah dan pendidikan kesehatan? Apakah guru mengajarkan tentang semua yang berkaitan dengan kesehatan? Apakah sekolah mempunya buku, poster dan alat bantu untuk belajar berkaitan dengan sanitasi dan penyehatan lingkungan di sekolah? Diare dan Kecacingan Apakah ada siswa yang terserang Diare dan Kecacingan selama 3 buan terakhir? Apakah ada layanan kesehatan dari Puskesmas terdekat untuk siswa secara rutin?

Peta Sekolah

20

Bagian Satu: Program ASaH di Sekolah SESI IV Pembangunan Fasilitas Air dan Sanitasi Tujuan:
Peserta bisa memberikan gambaran mengenai pembangunan fasilitas air dan sanitasi di sekolah dari tahap perencanaan awal sampai akhir pelaksanaan pembangunan.

Metode:
presentasi diskusi .

Waktu:
60 menit

Alat dan Bahan:


kain dengan perekat pena/spidol kertas ukuran kecil kertas ukuran besar/ Koran gunting lem/perekat LCD OHP

Aktifitas:
1. 2. 3. 4. Menjelaskan secara garis besar tujuan sesi ini. Presentasi oleh fasilitator. Peserta dibagi dalam dua kelompok terdiri 10 15 orang. Dalam kelompok peserta diminta berdiskusi tentang tentang pembangunan fasilitas sanitasi sekolah, meliputi: jenis kegiatan, jadwal pelaksanaan, pembiayaan, penanggung jawab dan pengawasan/monitoring. Masing-masing kelompok diminta mempresentasikan hasil kelompok, dilanjutkan diskusi.

5.

Kompetensi:
Pemahaman mengenai pembangunan fasilitas air dan sanitasi di sekolah dari tahap perencanaan awal sampai akhir pelaksanaan program ASaH di Sekolah

21

Catatan pembelajaran/Butir kunci pembelajaran:


Pembangunan fasilitas air dan sanitasi sekolah Kegiatan management pembangunan fasilitas meliputi: 1. Penjadwalan proyek, dalam bagian ini dilaksanakan penyusunan rencana penjadwalan terkait pelaksanaan proyek, kapan akan dimulai dan selesai kegiatannya. 2. Pengadaan barang, dalam bagian ini direncanakan terkait dengan ketersediaan material dan tenaga terlatih dalam pengerjaan pembangunan fisik. . 3. Pembiayaan, dalam bagian ini berisikan tentang sumber pembiayaan dan besarnya biaya yang dibutuhkan alam kegatan pembangunan fisik.( Pencairan dana pembangunan fasilitas Program WES, melalui Bappeda Kota/kabupaten, melalui pengajuan rencana anggaran belanja yang telah disusun oleh sekolah) 4. Kontribusi masyarakat, dalam bagian ini berisikan tentang kontribusi masyarakat, baik jenis maupun besarannya dalam kegiatan pembangunan fisik.. 5. Monitoring pelaksanaan, kegiatan untuk memonitor pelaksanaan kegiatan pembangunan fisik dari tahap awal sampai akhir, untuk menghindari kesalahan dalam pelaksanaanya. 6. Setiap dokumen pelaksanaan proyek harus ditanda tangani oleh kepala sekolah dan komite sekolah dan bisa diakses oleh umum Selanjutnya: Pembangunan fasilitas sanitasi sekolah merupakan kegiatan perencanaan dalam pelaksanaan kegiatan fisik disekolah dari awal sampai akhir pelaksanaan pembangunan, yang meliputi: 1. Penjadwalan proyek, dalam bagian ini dilaksanakan penyusunan rencana penjadwalan terkait pelaksanaan proyek, kapan akan dimulai dan selesai kegiatannya. 2. Pengadaan barang, dalam bagian ini direncanakan terkait dengan ketersediaan material dan tenaga terlatih dalam pengerjaan pembangunan fisik. 3. Pembiayaan, dalam bagian ini berisikan tentang sumber pembiayaan dan besarnya biaya yang dibutuhkan dalam kegiatan pembangunan fisik. 4. Kontribusi masyarakat, dalam bagian ini berisikan tentang kontribusi masyarakat, baik jenis maupun besarannya dalam kegiatan pembangunan fisik. 5. Monitoring pelaksanaan, kegiatan untuk memonitor pelaksanaan kegiatan pembangunan fisik dari tahap awal sampai akhir, untuk menghindari kesalahan dalam pelaksanaanya. Setiap dokumen perencanaan harus disusun secara formal dan dilegalisasi oleh kepala sekolah dan komite sekolah. Fasilitator memberikan contoh tentang format rencana kerja pembangunan fasilitas sanitasi sekolah.

22

Bagian Satu: Program ASaH di Sekolah SESI V Pelatihan Teknik Tujuan:


Peserta bisa memberikan gambaran mengenai kegiatan pelatihan teknik dan kriteria konstruksi fasilitas air dan sanitasi di sekolah.

Metode:
presentasi diskusi

Waktu:
60 menit

Alat dan Bahan:


kain dengan perekat pena/spidol kertas ukuran kecil kertas ukuran besar/ Koran gunting lem/perekat LCD OHP

Aktifitas:
1. 2. 3. 4. Menjelaskan secara garis besar tujuan sesi ini. Presentasi oleh fasilitator tentang konstruksi sarana yang akan dibangun. Peserta dibagi dalam dua kelompok terdiri 10 15 orang. Dalam kelompok peserta diminta berdiskusi tentang tentang pelatihan teknik untuk pembangunan fasilitas air dan sanitasi sekolah meliputi, jenis pelatihan, materi, waktu, dan peserta. 5. Masing-masing kelompok diminta mempresentasikan hasil kelompok, dilanjutkan diskusi.

Kompetensi:
Pemahaman mengenai pelatihan teknik dan kriteria konstruksi fasilitas air dan sanitasi di sekolah.

Catatan pembelajaran/Butir kunci pembelajaran:

23

Pelatihan Teknik 1. Fasilitas yang akan dibangun meliputi: a. Sarana cuci tangan pakai sabun b. Sarana toilet c. Sarana penyedia air minum d. Sarana pembuangan sampah 2. Rasio untuk fasilitas jamban adalah, 1 toilet untuk 25 siswa perempuan dan 1 Toilet untuk 40 siswa laki-laki 3. Konstruksi fasilitas sanitasi sekolah harus ramah anak 4. Konstruksi fasilitas sanitasi tidak perlu mewah tetapi sesuai dengan stadart kesehatan yang ditentukan 5. Sekolah program yang memiliki fasilitas sanitasi tidak harus membangun baru fasilitas, apabila fasilitas rusak disarankan diperbaiki
Pelatihan Teknik
1. Fasilitas yang akan dibangun meliputi: a. Sarana cuci tangan pakai sabun b. Sarana toilet c. Sarana penyedia air minum d. Sarana pembuangan sampah 2. Rasio untuk fasilitas jamban adalah: 1 Toilt untuk 25 siswa perempuan dan 1 Toilet untuk 40 siswa lakilaki 3. Konstruksi fasilitas sanitasi sekolah harus ramah anak 4. Konstruksi fasilitas sanitasi tidak perlu mewah tetapi sesuai dengan stadart kesehatan yang ditentukan 5. Sekolah program yang memiliki fasilitas sanitasi tidak harus membangun baru fasilitas, apabila fasilitas rusak disarankan diperbaiki

24

Bagian Satu: Program ASaH di Sekolah SESI VI Monitoring dan Evaluasi Tujuan:
Peserta bisa memberikan gambaran mengenai pelaksanaan monitoring dan evaluasi pelaksanaan program AsaH di Sekolah

Metode:
presentasi diskusi

Waktu:
60 menit

Alat dan Bahan:


kain dengan perekat pena/spidol kertas ukuran kecil kertas ukuran besar/ Koran gunting lem/perekat LCD OHP

Aktifitas:
1. Menjelaskan secara garis besar tujuan sesi ini. 2. Presentasi oleh fasilitator tentang pelaksanaan kegiatan monitoring dan evaluasi program WES. 3. Peserta dibagi dalam dua kelompok terdiri 10 15 orang. 4. Dalam kelompok peserta diminta berdiskusi tentang pelaksanaan monitoring dan evaluasi pelaksanaan program ASaH di Sekolah meliputi: komponen di monitor, waktu, penanggung jawab dan form monitoring. 5. Masing-masing kelompok diminta mempresentasikan hasil kelompok, dilanjutkan diskusi.

Kompetensi:
Pemahaman mengenai monitoring dan evaluasi pelaksanaan program ASaH di Sekolah.

25

Catatan pembelajaran/Butir kunci pembelajaran:


Monitoring dan Evaluasi Program WES 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Monitoring dan evaluasi dilaksanakan untuk mengetahui proses pelaksanaan program serta mengetahui isu dan permasalahan dan ditindak lanjuti rencana kerja. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi program dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan dan paska pelaksanaan. Monitoring dan evaluasi program dilaksanakan oleh angota Pokja AMPL, kepala sekolah, guru, komite sekolah, dinas terkait dan UNICEF. Monitoring dan evaluasi dilaksanakan secara berkala. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi meliputi kunjungan lapangan, pertemuan berkala dan pelaporan. Kegiatan yang dimonitoring dan dievaluasi tidak hanya mengenai konstruksi fisik juga pelaksanaan pendidikan kesehatan. Hasil monitoring dan evaluasi didokumentasikan sebagai bentuk pelaporan. Temuan dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi program ditindak lanjuti dengan penyusunan rencana kerja.
Monitoring dan Evaluasi Program WES
1. Monitoring dan evaluasi dilaksanakan untuk mengetahui proses pelaksanaan program serta mengetahui isu dan permasalahan dan ditindak lanjuti rencana kerja 2. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi program dilaksanakan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan dan paska pelaksanaan 3. Monitoring dan evaluasi program dilaksanakan oleh angota Pokja AMPL, kepala sekolah, guru, komite sekolah, dinas terkait dan UNICEF 4. Monitoring dan evaluasi dilaksanakan secara berkala 5. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi meliputi kunjungan lapangan, pertemuan berkala dan pelaporan 6. Kegiatan yang dimonitoring dan dievaluasi tidak hanya mengenai konstruksi fisik juga pelaksanaan pendidikan kesehatan 7. Hasil monitoring dan evaluasi didokumentasikan sebagai bentuk pelaporan 8. Temuan dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi program ditindak lanjuti dengan penyusunan rencana kerja.

26

Bagian Satu: Program ASaH di Sekolah SESI VII Pengembangan Kontrol Sosial dan Aturan di Sekolah Tujuan:
Peserta bisa memberikan gambaran mengenai peran sekolah dalam kontrol sosial dan aturan yang perlu dikembangkan disekolah dalam perilaku higiene.

Metode:
presentasi diskusi .

Waktu:
60 menit

Alat dan Bahan:


kain dengan perekat pena/spidol kertas ukuran kecil kertas ukuran besar/ Koran gunting lem/perekat LCD OHP

Aktifitas:
1. 2. 3. 4. 5. Menjelaskan secara garis besar tujuan sesi ini. Presentasi oleh fasilitator tentang peran sekolah sebagai kontrol sosial perilaku higiene di masyarakat. Peserta dibagi dalam dua kelompok terdiri 10 15 orang. Dalam kelompok peserta diminta berdiskusi tentang pelaksanaan sekolah dalam melaksanakan peran kontrol sosial perilaku higiene. Dalam kelompok peserta diminta juga mendiskusikan pengembangan peraturan sekolah berkaitan dengan perilaku higiene, minimal apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat di sekolah. Masing-masing kelompok diminta mempresentasikan hasil kelompok, dilanjutkan diskusi.

6.

Kompetensi:

27

Pemahaman mengenai sekolah sebagai pengemban fungsi kontrol sosial perilaku higiene dan aturan perilaku higiene di Sekolah.

Catatan pembelajaran/Butir kunci pembelajaran:


Kontrol Sosial Kata kontrol sosial berasal dari kata social control. Social control atau sistem pengendalian sosial dalam percakapan sehari-hari diartikan sebagai pengawasan oleh masyarakat terhadap jalannya pemerintahan, khususnya pemerintah beserta aparatnya. Kontrol sosial bisa diartikan merupakan suatu mekanisme untuk mencegah penyimpangan sosial serta mengajak dan mengarahkan masyarakat untuk berperilaku dan bersikap sesuai norma dan nilai yang berlaku. Dengan adanya kontrol sosial yang baik diharapkan mampu meluruskan anggota masyarakat yang berperilaku menyimpang/membangkang atau melakukan pelanggaran. Adapun toleransi pelaksana-pelaksana kontrol sosial terhadap pelanggaran-pelanggaran yang terjadi umumnya tergantung pada faktor-faktor sebagai berikut: ekstrim-tidaknya pelanggaran norma itu; keadaan situasi sosial pada ketika pelanggaran norma itu terjadi; status dan reputasi individu yang ternyata melakukan pelanggaran; dan asasi-tidaknya nilai moral-yang terkandung di dalam norma-yang terlanggar. Kontrol sosial disini dimaksudkan untuk mengawasi proses yang bersifat mendidik, mengajak atau bahkan memaksa warga masyarakat agar mematuhi kaidah-kaidah dan nilai sosial yang berkaitan dengan perilaku higiene. Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa kontrol sosial adalah suatu tindakan seseorang/kelompok yang dilakukan melalui proses terencana maupun tidak dengan tujuan untuk mendidik, mengajak (paksaan/tidak) untuk mematuhi kaidah dan nilai sosial tertentu yang dianggap benar. Selain itu perlu diketahui pula bahwa tindakan kontrol sosial dapat dilakukan antara (1) individu siswa terhadap individu lain, (2) individu terhadap kelompok organisasi siswa, (3) kelompok organisasi siswa terhadap kelompok lain, dan (4) atau kelompok terhadap individu. Kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan lingkungan masih kurang. Untuk itu, masyarakat sekolah termasuk siswa sebagai unsur masyarakat perlu menerapkan sistem kontrol sosial. Masyarakat kita masih sering membuang sampah sembarangan, BAB tidak di jamban, mempergunakan air tidak terlindung, minum air tercemar, membiarkan makanan dihinggapi lalat dan banyak lagi perilaku yang tidak mencerminkan kesehatan. Sering kali kontrol sosial tidak dapat terlaksana secara penuh dan konsekuen, bukan kondisi-kondisi obyektif yang tidak memungkinkan, melainkan karena sikap toleran (menenggang) agen-agen kontrol sosial terhadap pelanggaran-pelanggaran yang terjadi. Mengambil sikap toleran, pelaksana kontrol sosial itu sering membiarkan begitu saja sementara pelanggar norma lepas dari sanksiyang seharusnya dijatuhkan.

Pengembangan Kontrol Sosial


K ontrol sosial bisa diartikan merupakan suatu mekanisme untuk mencegah penyimpangan sosial serta mengajak dan mengarahkan masyarakat untuk berperilaku dan bersikap sesuai norma dan nilai yang berlaku Kontrol sosial dimaksudkan untuk mengawasi proses yang bersifat mendidik, mengajak atau bahkan memaksa warga masyarakat agar mematuhi kaidah-kaidah dan nilai sosial yang berkaitan dengan perilaku higiene Kontrol sosial dapat dilakukan antara (1) individu siswa terhadap individu lain, (2) individu terhadap kelompok organisasi siswa , (3) kelompok organisasi siswa terhadap kelompok lain, dan (4) atau kelompok terhadap individu Sering kali kontrol sosial tidak dapat terlaksana secara penuh dan konsekuen, bukan kondisi-kondisi obyektif yang tidak memungkinkan, melainkan karena sikap toleran (menenggang) agen-agen kontrol sosial terhadap pelanggaran -pelanggaran yang terjadi

28

Bagian Dua: Pendidikan Higiene SESI VIII Pelatihan Partisipasi bagi Guru Tujuan:
Peserta bisa menjelaskan manfaat kegiatan pelatihan bagi guru tentang pembelajaran partisipasi berkelompok ASaH di Sekolah.

Metode:
presentasi diskusi

Waktu:
60 menit

Alat dan Bahan:


kain dengan perekat pena/spidol kertas ukuran kecil kertas ukuran besar/Koran gunting lem/perekat LCD OHP Pedoman Pelatihan dan workshop ASaH di Sekolah bagi Guru.

Aktifitas:
1. 2. 3. 4. 5. Menjelaskan secara garis besar tujuan sesi ini. Presentasi oleh fasilitator tentang workshop dan pelatihan pendidikan hygiene bagi guru program ASaH di Sekolah. Peserta dibagi dalam dua kelompok terdiri 10 15 orang. Dalam kelompok peserta diminta berdiskusi tentang tujuan, materi, peserta, fasilitator dan agenda pelatihan partisipasi bagi guru. Masing-masing kelompok diminta mempresentasikan hasil kelompok, dilanjutkan diskusi.

Kompetensi:
Pemahaman mengenai manfaat kegiatan pelatihan partisipasi bagi guru tentang pembelajaran partisipasi berkelompok ASaH di Sekolah.

29

Catatan pembelajaran/Butir kunci pembelajaran:


Pelatihan Partisipasi bagi Guru Tujuan palatihan partisipasi bagi guru adalah meningkatan pengetahuan dan ketrampilan guru dalam pembelajaran higiene secara partisipatif, kreatif dan efektif aspek higiene di sekolah. Pendidikan dilakukan selama tiga hari penuh di kantor pemda kabupaten/kota. Pokok bahasan yang terdapat dalam buku pedoman, meliputi: Modul satu: Umum, meliputi: 1. Pencairan suasana 2. Harapan dan kekhawatiran 3. Agenda dan tatatertib 4. Tujuan pelatihan 5. Organisasi siswa aktif Modul dua: metode pembelajaran, meliputi: 1. Pembelajaran partisipasi berkelompok 2. Pembelajaran dari anak untuk anak 3. Pendidikkan mikro Modul tiga: Materi pendidikan hygiene, meliputi: 1. Perilaku higiene baik dan buruk 2. Jalur penularan penyakit dan cara menghambat 3. Cuci Tangan Pakai Sabun 4. Kebersihan lingkungan sekolah 5. Fasilitas penyediaan air dan sanitasi 6. Kontaminasi Makanan Jajanan 7. Kesetaraan gender 8. Sekolah sebagai pusat informasi ASaH 9. Monitoring secara partisipasi Modul empat: Rencana aksi 1. Rencana aksi sekolah

Pelatihan Partisipasi bagi Guru


Tujuan palatihan partisipasi bagi guru adalah m eningkatan pengetahuan dan ketrampilan guru dalam pembelajaran secara partisipatif, kreatif dan efektif aspek higiene di sekolah Pokok bahasan yang terdapat dalam buku pedoman terbagi dalam empat modul, Pendidikan perisipasi dilakukan selama tiga hari penuh di kantor pemda kabupaten/ kota.

Modul satu: Umum, meliputi


1.Pencairan suasana 2.Harapan dan kekhawatiran 3.Agenda dan tatatertib 4.Tujuan pelatihan 5.Organisasi siswa aktif
1.

Modul Dua: metode pembelajaran


Pembelajaran partisipasi berkelompok Pembelajaran dari anak untuk anak Pendidikkan mikro

2. 3.

Modul tiga: Pendidikkan higiene


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Perilaku higiene baik dan buruk Jalur penularan penyakit dan cara menghambat Cuci Tangan Pakai Sabun Kebersihan lingkungan sekolah Fasilitas penyediaan air dan sanitasi Kontaminasi Makanan Jajanan Kesetaraan gender Sekolah sebagai pusat informasi ASaH Monitoring secara partisipasi

Modul empat: Rencana aksi


1.

Rencana aksi sekolah

30

Bagian Dua: Pendidikan Higiene SESI IX Pendidikan Higiene bagi Siswa Tujuan:
Peserta bisa menjelaskan tujuan dan materi pendidikan higiene bagi siswa dalam program ASaH di Sekolah.

Metode:
presentasi diskusi

Waktu:
60 menit

Alat dan Bahan:


kain dengan perekat pena/spidol kertas ukuran kecil kertas ukuran besar/Koran gunting lem/perekat LCD OHP Pedoman Pembelajaran Partisipasi Berkelompok Air, Sanitasi dan Higiene di Sekolah.

Aktifitas:
1. 2. 3. 4. 5. 6. Menjelaskan secara garis besar tujuan sesi ini. Presentasi oleh fasilitator tentang tujuan dan isi pendidikan hygiene bagi siswa dalam program ASaH di Sekolah. Peserta dibagi dalam dua kelompok terdiri 10 15 orang. Dalam kelompok peserta diminta berdiskusi tentang materi yang akan diberikan dalam pendidikan higiene bagi siswa. Dalam kelompok peserta diminta juga mendiskusikan metode partisipasi dan mekanisme yang dipergunakan dalam pendidikan higiene. Masing-masing kelompok diminta mempresentasikan hasil kelompok, dilanjutkan diskusi.

Kompetensi:

31
Pemahaman tujuan dan materi pendidikan higiene bagi siswa dalam program ASaH di Sekolah.

Catatan Pembelajaran/Butir Kunci Pembelajaran:


Buku Pedoman Pembelajaran Partisipatori Berkelompok Air, Sanitasi dan Hygiene bagi Siswa Buku ini mempunyai tujuan meningkatan pengetahuan, dan sikap siswa dalam berperilaku hidup bersih dan sehat melalui kegiatan pembelajaran di kelas dan di luar kelas. Mempunyai lima bab, yaitu: BAB 1. Pendahuluan, BAB 2. Tujuan, BAB 3. Menjelaskan tentang bagaimana menggunakan buku pedoman, BAB 4. Menjelaskan pelaksanaan kegiatan dalam pembelajaran, dan BAB 5. Berisi pokok-pokok bahasan. Pokok bahasan panduan pembelajaran partisipasi berkelompok bagi siswa terdiri dari 21, yang meliputi (1) Perilaku Baik dan Buruk (2) Diare (3) Jalur Penularan Penyakit Diare dan Menghambatnya (4) Mencuci Tangan Pakai Sabun: Mengapa, Kapan dan Bagaimana (5) Air Sehat untuk Diminum (6) Menyimpan Air yang Aman (7) Mengangkut Air yang Aman (8) Memilih Sumber Air yang Aman (9) Mengolah Air di Rumah (10) Saringan Pasir-bio dan Keramik (11) Kontaminasi Makanan Jajanan (12) Menjaga Makanan Tetap Sehat (13) Kantin Sekolah Sehat (14) Sampah Berserakan (15) Mimilah Sampah di Sumbernya (16) Mengkompos sampah (17) Sumber dan Karakter Air Limbah Rumah tangga (18) Fasilitas Jamban (19) Menjaga Kebersihan Jamban (20) Kesetaraan Jender (21) Monitoring Perilaku Higiene Dalam setiap pokok bahasan dicantumkan perkiraan waktu yang dibutuhkan, tetapi bersifat fleksible, disesuaikan dengan waktu belajar di sekolah. Jika siswa kelihatan merasa lelah, bosan, kurang semangat guru dapat menyediakan waktu istirahat atau pertemuan ditunda pada waktu berikutnya. Diskusi pokok bahasan bisa dilakukan secara terpisah waktunya. Jika antar satu sesi dalam satu pokok bahasan dipisahkan oleh masa istirahat yang panjang, sebaiknya dilakukan lintas ulang kegiatan sesi sebelumnya. Kegiatan ini sekaligus untuk mengecek apakah siswa mengerti dan masih sepakat dengan keputusan yang mereka buat pada pertemuan sebelumnya.
Tujuan umum Meningkatan pengetahuan, sikap dan perilaku siswa dalam hidup bersih dan sehat melalui kegiatan pembelajaran di kelas dan di luar kelas. Tujuan khusus : 1. Siswa dapat memahami arti kebersihan dan mengidentifikasi perilaku hidup bersih dan sehat dalam hidup sehari-hari. 2. Siswa memahami dan dapat melindungi serta mengolah air minum agar tetap aman untuk diminum 3. Siswa memahami dan dapat melindungi makanan agar tidak terkontaminasi 4. Siswa memahami dampak buruk sampah dan dapat memilah sampah 5. Siswa memahami berbagai sumber dan karakter air limbah 6. Siswa memahami kegunaan dan cara menjaga kebersihan jamban 7. Siswa memahami kesetaraan jender 8. Siswa memahami kegunaan dan dapat melakukan monitoring secara partisipasi

Pokok bahasan panduan ini terdiri dari 21


1. Perilaku Baik dan Buruk 2. Diare 3. Jalur Penularan Penyakit Diare dan Menghambatnya 4. Mencuci Tangan Pakai Sabun : Mengapa, Kapan dan Bagaimana 5. Air Sehat untuk Diminum 6. Menyimpan Air yang Aman 7. Mengangkut Air yang Aman 8. Memilih Sumber Air yang Aman 9. Mengolah Air di Rumah 10.Saringan Pasir -bio dan Keramik 11.Kontaminasi Makanan Jajanan

Pokok bahasan panduan (lanjt...):


12. Menjaga Makanan Tetap Sehat 13. Kantin Sekolah Sehat 14. Sampah Berserakan 15. Mimilah Sampah di Sumbernya 16. Mengkompos sampah 17. Sumber dan Karakter Air Limbah Rumah tangga 18. Fasilitas Jamban 19. Menjaga Kebersihan Jamban 20. Kesetaraan Jender 21. Monitoring Perilaku Higiene

32

Bagian Dua: Pendidikan Higiene SESI X Sekolah Sebagai Pusat Informasi ASaH Tujuan:
Peserta bisa menjelaskan konsep sekolah sebagai pusat informasi ASaH.

Metode:
presentasi diskusi

Waktu:
60 menit

Alat dan Bahan:


kain dengan perekat pena/spidol kertas ukuran kecil kertas ukuran besar/Koran gunting lem/perekat LCD OHP

Aktifitas:
1. 2. 3. 4. 5. Menjelaskan secara garis besar tujuan sesi ini. Presentasi oleh fasilitator tentang konsep sekolah sebagai pusat informasi dalam program ASaH di Sekolah Peserta dibagi dalam dua kelompok terdiri 10 15 orang. Dalam kelompok peserta diminta berdiskusi tentang sekolah sebagai pusat informasi ASaH. Masing-masing kelompok diminta mempresentasikan hasil kelompok, dilanjutkan diskusi.

Kompetensi:
Pemahaman konsep sekolah sebagai pusat inform asi ASaH

33

Catatan pembelajaran/Butir kunci pembelajaran:

Sekolah Sebagai Pusat Informasi ASaH (Air, Sanitasi dan Higiene) Pendahuluan Air, sanitasi dan pendidikan higiene di sekolah selanjutnya disebut ASaH di Sekolah merupakan suatu pendekatan yang bermaksud untuk mengembangkan perilaku hidup bersih dan sehat disamping menyediakan fasilitas air dan sanitasi. Pendekatan ini diyakini dapat meningkatkan status kehidupan anak-anak dan keluarga serta merupakan jalan memperbaiki kesehatan generasi yang akan dating. ASaH di Sekolah nyata menurunkan angka kejadian penyakit berkaitan dengan higiene, meningkatkan kehadiran anak di kelas, dan pencapaian proses pembelajaran serta martabat dan kesetaraan jender. UNICEF menyatakan setiap tahun anak-anak kehilangan 272 juta hari belajar karena penyakit diare, diperkirakan 400 juta anak usia sekolah menderita infeksi penyakit kecacingan. ASaH di sekolah secara bermakna menurunkan kejadian penyakit berkaitan dengan higiene, meningkatkan kehadiran anak di sekolah dan meningkatkan hasil pembelajaran, juga meningkatkan martabat dan kesetaraan jender. Disamping kurangnya pengetahuan, lebih dari separuh dari jumlah SD dan MI di negara berkembang tidak mempunyai fasilitas penyediaan air memadai dan hampir dua per tiga sekolah tidak mempunyai fasilitas sanitasi. Kalaupun ada fasiltas tersebut biasanya dalam kondisi yang tidak memadai. Diskriminasi terhadap anak perempuan juga terjadi di sekolah. Di banyak situasi, diskriminasi ini berkaitan dengan budaya dan tradisi yang disebabkan kurangnya kesadaran masyarakat terhadap masalah tersebut. Tidak tersedia fasilitas air dan sanitasi di sekolah, banyak anak-anak perempuan kehilangan waktu untuk masuk ke sekolah; membuat anak-anak lebih rentan terhadap pelecehan; anak-anak terganggu dalam memperoleh pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang diperlukan dalam berperilaku hidup bersih dan sehat (PHBS): Anak gadis yang sudah menginjak usia puber yang sedang menstruasi membutuhkan privasi. Tidak tersedia fasiltas sanitasi yang memberikan rasa privasi di sekolah mengindikasikan angka ketidak hadiran anak ke sekolah meningkat 10 20 persen. Pelecehan dan pemerkosaan terhadap gadis remaja di sekolah adalah problem umum. Suatu survai di Afrika Selatan menunjukkan lebih dari 30 persen anak gadis sekolah mengalami pelecehan, kebanyakan dilakukan di toilet yang letaknya jauh dari kelas di sekolah. Anak gadis memerlukan lebih banyak air untuk sanitasi daripada anak laki-laki. Perilaku hidup bersih dan sehat merupakan hasil dari proses pendidikan yang berorientasi pada praktek berperilaku di samping memperbaiki pengetahuan dan membangun sikap. Anak-anak umumnya lebih respek dalam menerima ide baru dari pada orang dewasa. Di sekolah dasar mereka dapat dirangsang berbudaya dan berperilaku hidup bersih dan sehat. Promosi higiene perseorangan dan sanitasi lingkungan di sekolah dapat membentuk perilaku sehat. Saat ini 40 persen atau sekitar 2,5 milyar - penduduk dunia tidak mempunyai akses sarana sanitasi dan 884 juta tidak mempunyai akses air yang aman. Lebih dari 4.000 anak meninggal karena diare setiap hari di dunia, melalui ASaH di Sekolah dapat membantu mengatasi krisis air dan sanitasi secara global ini: Dibandingkan dengan orang dewasa, anak dapat lebih mudah merubah perilaku atau membangun perilaku baru jangka panjang sebagai hasil dari bertambahnya pengetahuan dan fasilitas yang ada. Anak juga merupakan model peran. Mereka belajar di sekolah dengan mudah dan akan meneruskan kepada orang yang dicintai atau anaknya ketika mereka menjadi orang tua kelak.

34
Guru juga mempunyai pengaruh kuat. Bila disuport oleh sekolah, guru mempunyai peran yang penting dalam pengembangan anak menjadikan diri anak sebagai model peran di masyarakat. ASaH melalui sekolah adalah salah satu jalur terbaik untuk menjangkau seluruh masyarakat, karena anak mempunyai potensi melakukan perubahan, pedidikan perilaku PHBS bisa menghubungkan anak, keluarga dan masyarakat. Sekolah sebagai pusat informasi ASaH diharapkan menjadi agen pembaruan bidang air, sanitasi dan perilaku PHBS di masyarakat, dengan demikian dihapakan: Untuk menjadi sekolah sebagai pusat informasi, sekolah perlu mempunyai kondisi fisik dan non-fisik sebagai berikut: Kondisi fisik sekolah: Mempunyai fasilitas penyediaan air dan sanitasi (jamban, urinoir, tempat sampah, cuci tangan) yang terawat. Lingkungan sekolah bersih dan asrsi, termasuk saluran drainase. Ruang UKS yang bermanfaat untuk promosi air, sanitasi dan higiene (poster, leaflet, maket/sarana ukuran mini). Kondisi non fisik sekolah: Pendidikan PHBS berjalan terus menerus Secara berkala siswa melakukan monitoring perilaku PHBS di sekitar tempat tinggal dan membahas secara bersama di sekolah kemudian diteruskan menyebar luaskan perilaku PHBS kepada masyarakat. Sekolah menjadi rujukan ASaH bagi sekolah lain dalam gusus. Dialog ASaH antar sekolah anggota gugus secara berkala Duta ASah menggerakkan organisasi siswa Komite Sekolah dan Organisasi orang tua siswa yang aktif Pengembangan Sekolah Sebagai Pusat Informasi ASaH ASaH di Sekolah merupakan komponen dari program WES UNICEF, yang mempunyai 5 pilar kegiatan utama yaitu: 1) Pengelolaan Proyek 2) Perubahan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat 3) Penyediaan Fasilitas Air dan Sanitasi 4) Sekolah Sebagai Pusat Informasi Sanitasi 5) Peningkatan Dukungan Pemerintah kepada Sekolah Tujuan Umum: Menjadikan sekolah sebagai agen perubahan perilaku higiene. Tujuan Khusus: 1. 2. 3. Masyarakat sekolah (kepala sekolah, guru, komite sekolah, pengurus organisasi orangtua siswa dan siswa) mengetahui konsep sekolah sebagai pusat informasi ASaH. Sekolah melaksanakan promosi PHBS kepada masyarakat sekitar sekolah. Membantu Sekolah Inti dan Sekolah Imbas dalam melaksanakan program ASaH.

Kegiatan Persiapan: 1. Melakukan workshop/sosialisasi konsep sekolah sebagai pusat informasi ASaH bagi kepala sekolah, komite sekolah, guru, orang tua siswa dan siswa 2. Melakukan pelatihan perencanaan dan pelaksanaan ASaH melalui Sekolah kepada guru 3. Melakukan pelatihan perencanaan dan pelaksanaan ASaH melalui Sekolah kepada siswa. 4. Melakukan pemilihan dan pelatihan Duta ASaH, kepada siswa terpilih dari SD Inti dan SD Imbas di setiap gugus sekolah Kegiatan berkala

35
5. 6. 7. 8. 9. Memantapkan program ASaH di forum PKG Melakukan diskusi ASaH di furum KKG Melakukan diskusi ASaH di forum KKKS Guru mengajar ASaH ekstra kurikuler kepada siswa, dibantu Duta Terlatih ASaH Siswa/guru melakukan diskusi perilaku PHBS dengan masyarakat, sebagai kelanjutan monitoring partisipasi. 10. Melakukan pengawasan ASaH di Sekolah oleh Pengawas Kecamatan 11. Jambore duta ASaH Kegiatan lain 12. Pertemuan ASaH guru/siswa dengan orang tua, sewaktu penerimaan rapor. 13. Mengoptimalkan momentum kunjungan dokter/tim kesehatan/puskesmas ke sekolah, dengan mengajak orang tua murid diskusi dan meninjau sarana air, santasi kebersihan sekolah dan fasilitas lain.
Tujuan Khusus

Kegiatan Persiapan

Sekolah sebagai Pusat Informasi ASaH


Tujuan Umum Menjadikan sekolah sebagai agen perubahan perilaku higiene

Masyarakat sekolah (kepala sekolah , guru, komite sekolah, pengurus organisasi orangtua siswa dan siswa) mengetahui konsep sekolah sebagai pusat informasi ASaH. Sekolah melaksanakan promosi PHBS kepada masyarakat sekitar sekolah . Sekolah membantu Sekolah Inti dan Imbas dalam melaksanakan program ASaH.

Melakukan workshop/ sosialisasi konsep sekolah sebagai pusat informasi ASaH bagi kepala sekolah, komite sekolah , guru, orang tua siswa dan siswa Melakukan pelatihan perencanaan dan pelaksanaan ASaH melalui Sekolah kepada guru Melakukan pelatihan perencanaan dan pelaksanaan ASaH melalui Sekolah kepada siswa . Melakukan pemilihan dan pelatihan Duta ASaH, kepada siswa terpilih dari SD Inti dan SD Imbas di setiap gugus sekolah

Kegiatan Berkala

Kegiatan Lain

Memantapkan program ASaH di forum PKG Melakukan diskusi ASaH di furum KKG Melakukan diskusi ASaH di forum KKKS Guru mengajar ASaH ekstra kurikuler kepada siswa, dibantu Duta Terlatih ASaH Siswa/guru melakukan diskusi perilaku PHBS dengan masyarakat, sebagai kelanjutan monitoring partisipasi Melakukan pengawasan ASaH di Sekolah oleh Pengawas Kecamatan Jambore duta ASaH

Pertemuan ASaH guru/siswa dengan orang tua, sewaktu penerimaan rapor. Mengoptimalkan momentum kunjungan dokter/tim kesehatan /puskesmas ke sekolah , dengan mengajak orang tua murid diskusi dan meninjau sarana air, santasi kebersihan sekolah dan fasilitas lain.

36

Bagian Dua: Pendidikan Higiene SESI XI Penggunaan dan Perawatan Fasilitas Air dan Sanitasi Tujuan:
Peserta bisa menjelaskan mekanisme penggunaan dan perawatan fasilitas air dan sanitasi di Sekolah

Metode:
presentasi diskusi

Waktu:
60 menit

Alat dan Bahan:


kain dengan perekat pena/spidol kertas ukuran kecil kertas ukuran besar/Koran gunting lem/perekat LCD OHP

Aktifitas:
1. 2. 3. 4. Menjelaskan secara garis besar tujuan sesi ini. Presentasi oleh fasilitator tentang penggunaan dan perawatan fasilitas air dan sanitasi di sekolah. Peserta dibagi dalam dua kelompok terdiri 10 15 orang. Dalam kelompok peserta diminta berdiskusi tentang mekanisme penggunaan dan perawatan fasilitas air dan sanitasi di Sekolah, meliputi apa, bagaimana, siapa bertanggung jawab. Masing-masing kelompok diminta mempresentasikan hasil kelompok, dilanjutkan diskusi.

5.

Kompetensi:

37
Pemahaman penggunaan dan perawatan fasilitas air dan sanitasi di Sekolah.

Catatan pembelajaran/Butir kunci pembelajaran:


Penggunaan dan perawatan fasilitas air dan sanitasi sekolah 1. Fasilitas air dan sanitasi yang di bangun bertujuan untuk meningkatkan perilaku PHBS masyarakat sekolah. 2. Setiap anggota masyarakat sekolah mampu mengoperasikan fasilitas air dan sanitasi dengan baik sesuai dengan fungsinya (siswa perlu dilatih dalam menggunakan sarana air dan sanitasi sekolah, terutama siswa yang masih tidak memiliki sarana air dan sanitasi di rumah). 3. Masyarakat sekolah mampu merawat fasilitas air dan sanitasi yang dibangun. 4. Masyarakat sekolah mengetahui apabila terjadi kerusakan, langkah perbaikan bisa direncanakan. 5. Masyarakat sekolah mengetahui kebutuhan untuk menunjang berfungsinya fasilitas sanitasi sekolah (ketersediaan fasiitas penunjang seperti sabun untuk cuci tangan, gayung, air, sikat pembersih dll). 6. Tersedia tata cara perawatan fasilitas air dan sanitasi di sekolah (penanggung jawab, pelaksana perawatan (piket murid, penjaga sekolah), waktu perawatan dilakukan dll. 7. Memastikan tersedianya anggaran sekolah untuk perawatan fasilitas air dan sanitasi.

38

Bagian Tiga: Manajemen berkelanjutan SESI XII Dukungan Pemerintah Daerah terhadap ASaH di Sekolah Tujuan:
Peserta bisa menjelaskan tujuan dan pentingnya dukungan pemerintah daerah terhadap program ASaH di Sekolah.

Metode:
presentasi diskusi

Waktu:
60 menit

Alat dan Bahan:


kain dengan perekat pena/spidol kertas ukuran kecil kertas ukuran besar/Koran gunting lem/perekat LCD OHP

Aktifitas:
1. 2. 3. 4. 5. Menjelaskan secara garis besar tujuan sesi ini. Presentasi oleh fasilitator tentang tujuan dan pentingnya dukungan Pemerintah Daerah terhadap program ASaH di Sekolah. Peserta dibagi dalam dua kelompok terdiri 10 15 orang. Dalam kelompok peserta diminta berdiskusi tentang tujuan, penting dan bentuk dukungan Pemerintah Daerah terhadap program ASaH di Sekolah, meliputi kebijakan, strategi dan bentuk dukungan. Masing-masing kelompok diminta mempresent asikan hasil kelompok, dilanjutkan diskusi.

Kompetensi:

39
Pemahaman tujuan dan pentingnya dukungan Pemerintah Daerah terhadap program ASaH di Sekolah

Catatan pembelajaran/Butir kunci pembelajaran:


Dukungan Pemerintah Daerah kepada program ASaH di Sekolah Pemerintah harus memberi dukungan kepada program ASaH di Sekolah, kondisi fasilitas penyediaan air, sanitasi dan perilaku hygiene di sekolah masih belum menggembirakan. Banyak sekolah yang tidak mempunyai fasilitas penyediaan air dan sanitasi. Dukungan yang diperlukan meliputi: 1. Politik 2. Kebijakan 3. Anggaran Dukungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk penyediaan air, sanitasi dan pendidikan hygiene belum memadai, sehingga perilaku hygiene masih jauh dari harapan. Sejauh ini pemerintah pusat belum memberikan dukungan APBN dalam jumlah yang mencukupi untuk program ASaH di Sekolah. Karena itu, program ASaH di Sekolah harus terkoordinasi agar dukungan APBN tersedia setiap tahun anggaran.

Dukungan Pemerintah Daerah kepada program ASaH di Sekolah

Banyak sekolah yang tidak mempunyai fasilitas penyediaan air dan sanitasi . Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk penyediaan air, sanitasi dan pendidikan hygiene belum memadai, sehingga perilaku hygiene masih jauh dari harapan Pemerintah Pusat dan Daerah harus memberi dukungan kepada program ASaH di Sekolah, Dukungan yang diperlukan meliputi : (a) Politik , (b) Kebijakan dan (c) Anggaran.

40

Bagian Tiga: Manajemen berkelanjutan SESI XIII Rencana Kerja Sekolah Tujuan:
Peserta bisa menjelaskan Rencana Kerja Sekolah dan bagaimana menyusunnya program ASaH di Sekolah.

Metode:
presentasi diskusi

Waktu:
60 menit

Alat dan Bahan:


kain dengan perekat pena/spidol kertas ukuran kecil kertas ukuran besar/Koran gunting lem/perekat LCD OHP

Aktifitas:
1. 2. 3. 4. 5. Menjelaskan secara garis besar tujuan sesi ini. Presentasi oleh fasilitator tentang tujuan dan isi rencana kerja ASaH di Sekolah. Peserta dibagi dalam dua kelompok terdiri 10 15 orang. Dalam kelompok peserta diminta berdiskusi tentang Rencana Kerja Sekolah. Masing-masing kelompok diminta mempresentasikan hasil kelompok, dilanjutkan diskusi.

Kompetensi:
Pemahaman rencana kerja ASaH di Sekolah

41

Catatan pembelajaran/Butir kunci pembelajaran:


Rencana Kerja Sekolah Pendahuluan Perilaku hidup bersih dan sehat memerlukan sarana penyediaan air dan sanitasi bagi siswa dan guru. Perilaku hidup bersih dan sehat juga sebagai hasil dari proses pendidikan yang berorientasi pada perilaku di samping pengetahuan dan membangun sikap. Anak-anak umumnya lebih respek dari pada orang dewasa dalam menerima ide baru. Di sekolah mereka dapat dirangsang berbudaya dan berperilaku hidup bersih dan sehat. Promosi hygiene perseorangan dan sanitasi lingkungan di sekolah dapat membentuk perilaku baik. Sejumlah konsep penting dalam pendidikan untuk anak adalah: a. Pembelajaran yang efektip: Siswa menunjukan perilaku yang lebih baik dalam hal kebersihan dan kesehatan lingkungan . b. Mengurangi angka infeksi penyakit dan kecacingan: Bilamana fasilitas air dan sanitasi tidak ada atau tidak dipeliharan dengan baik, sekolah akan menjadi sumber penyakit. Siswa akan kencing dan BAB sembarangan di sekitar sekolah atau di ruang terbuka lain. Ini merupakan perilaku jelek, bisa menularkan penyakit, disamping menyebarluaskan sinyal negatip kepada anak-anak lain dan masyarakat bahwa perilaku tersebut adalah wajar. c. Kehadiran siswa perempuan di sekolah: Tidak tersedianya fasilitas air dan sanitasi sering menyebabkan orang tua melarang anak perempuanya masuk sekolah. Hal ini yang menyebabkan tingginya absensi dan terjadinya putus sekolah pada remaja putri. Remaja putri yang sedang tumbuh merasa kesulitan hadir ke sekolah karena tidak ada fasilitas air dan sanitasi, atau kalaupun ada tidak dirawat dengan baik. d. Kebersihan lingkungan: Keberadaan dan penggunaan secara benar fasilitas penyediaan air dan sanitasi mencegah pencemaran lingkungan dan mengurangi sumber penyakit bagi masyarakat secara luas. e. Melaksanakan hak azasi anak: Anak mempunyai hak azasi atas kesehatan dan kebahagiaan semaksimal mungkin di lingkungannya. Tersedianya fasilitas air dan sanitasi yang baik dan perilaku sehat mengurangi kontribusi tertular penyakit dan memperbaiki kesehatan dan gizi. Masing-masing sekolah dan masyarakat mempunyai tahapan yang berbeda untuk memulainya. Kegiatan dan tujuannya ditentukan sendiri oleh sekolah dan masyarakat di sekitarnya. Menciptakan kondisi lingkungan sekolah dan masyarakat yang kondusip Suatu lingkungan perlu diciptakan untuk mendukung terselenggaranya program penyediaan air, sanitasi dan pendidikan hygiene. Hal ini tentu membutuhkan pembiayaan, tim guru yang siap dan tim ASaH (Air, Sanitasi dan Hygiene) yang mampu berkomunikasi dengan organisasi masyarakat sehingga sekolah menjadi lebih aktip dan berarti. Melakukan kajian kondisi sekolah dan masyarakat saat ini Sebelum menyusun tujuan dan rencana kerja sekolah bidang air, sanitasi dan hygiene perlu melakukan suatu kajian lingkungan sekolah secara partisipasi. Kajian meliputi: kondisi kesehatan, siswa laki, siswa perempuan, perilaku hygiene, sarana yang ada, kurikulum yang digunakan, kualifikasi guru, perlengkapan belajar mengajar dan pembiayaan. Menyusun rencana kerja sekolah Rencana kerja sekolah meliputi penetapan tujuan, penetapan hasil yang diharapkan dan rencana kegiatan. Sangat perlu diperhatikan bahwa penyusunan tahapan pengembangan ASaH dilakukan secara partisipasi pula. a. Penetapan tujuan dan pembuatan rencana kegiatan. b. Pemilihan teknologi yang cocok untuk sekolah. Melaksanakan perbaikan: sekolah sebagai pelaku Berbagai komponen di masyarakat bisa dimobilisasi guna mensukseskan ASaH di sekolah. Para pemangku kepentingan dapat saling bekerjasama sesuai dengan kepentingannya. Bilamana ada komponen masyarakat yang ingin menyumbangkan bantuan untuk pembangunan, koordinasi dan kerjasama sangat penting untuk mencegah duplikasi. Komponen masyarakat yang kemungkinan bisa bekerjasama adalah:

42
a. b. c. d. e. Komite Sekolah. Masyarakat dan orang tua. Sekolah dan petugas kesehatan. Guru dan kepala sekolah. LSM dan organisasi masyarakat lainnya.

Mengembangkan alat peraga dan metode pendidikan Umumnya sekolah memperoleh alat bantu belajar yang dikembangkan secara nasional. Sering dijumpai perbedaan besar karena kondisi geografi, sosial, dan budaya dari satu lokasi dengan lokasi lain. Oleh karena itu perlu upaya untuk mengadaptasi metode dan alat bantu pembelajaran sesuai kondisi setempat. Pengalaman menunjukkan bahwa untuk melakukan perubahan perilaku sehat dengan cara pembelajaran di kelas tidak selalu efektif, oleh karena itu perlu dicari cara lain. Membangun dan memelihara fasilitas air dan sanitasi sekolah Pemilihan fasilitas yang paling tepat, pelaksanaan pembangunan dan pemeliharaan yang akan dilaksanakan perlu dilakukan bersama dengan fihak luar sekolah. Hal ini penting ketika akan merumuskan pembiayaan yang harus dibebankan kepada fihak siswa, guru, orang tua, dan masyarakat, baik untuk konstruksi maupun pemeliharaan. Apapun pilihan yang ditetapkan, keterlibatan masyarakat sekolah akan menjadi penting ketika sarana nanti dimanfaatkan. Sekolah merupakan pusat informasi air, sanitasi dan higiene di masyarakat Sekolah bisa menjadi pintu masuk program penyediaan air, sanitasi dan hygiene bagi masyarakat sekitar, sebab: a. Anak sekolah dapat membawa pesan-pesan ke rumah bagi keluarga mereka. b. Anak sekolah biasanya lebih tinggi motivasinya untuk memperbaiki kondisi dan perilaku di rumah dan di masyarakat sehingga bisa menjadi perantara perubahan perilaku yang baik. c. Sekolah dan guru menyediakan perangkat sehingga pesan bisa sampai ke orang tua dan masyarakat d. Sarana sanitasi sekolah yang terpelihara merupakan percontohan yang baik untuk ditunjukkan kepada masyarakt . e. Guru sekolah akan menjadi panutan, masyarakat desa dan orang tua bisa menyampaikan pertanyan kepadanya. Memonotoring pelaksanaan dan perubahan Waktu mengembangkan dan melaksanakan program ASaH perlu diketahui apakah pesan-pesan yang benar dan kegiatan yang bermanfaat telah ada di dalam program, misalnya apakah sesuai dengan kebutuhan dan memperhatikan pembelajaran yang diperoleh dari proyek sebelumnya. Monitoring perlu dilakukan untuk mengetahui pula dampak dari program, apakah telah terjadi perubahan perilaku sehat pada siswa dan masyarakat serta apakah kondisi lingkungan telah menjadi baik. Monitoring memerlukan suatu indikator dan ketepatan, siapa yang mengumpulkan dan bagaimana memanfaatkan. Pemilihan indikator tergantung dari tujuan dan kegiatan yang telah ditetapkan dalam mencapai tujuan. Secara umum perlu diingat bahwa monitoring merupakan kegiatan positip yang dapat bermanfaat untuk memperbaiki program. Selanjutnya, perlu diketahui bahwa: Rencana kerja sekolah terkait dengan sanitasi sekolah merupakan bagian dari rencana kerja sekolah secara keseluruhan. Rencana kerja sekolah terkait air, sanitasi dan higiene di sekolah memuat rencana yang akan dilakukan. Penyusunan rencana kerja sekolah dilakukan oleh seluruh anggota masyarakat sekolah Rencana kerja sekolah harus terdokumentasikan dengan baik. Rencana kerja sekolah ditanda tangani oleh kepala sekolah dan komite sekolah. Rencana kerja sekolah mempunyai waktu perencanaan selama 6 bulan. Dokumen rencana kerja sekolah bisa diakses oleh semua pihak yang terkait.

43

Rencana Kerja Sekolah

Praktek Penyusunan Rencana Kerja Sekolah


1. Rencana kerja sekolah terkait dengan sanitasi sekolah merupakan bagian dari rencana kerja sekolah secara keseluruhan 2. Rencana kerja sekolah terkait sanitasi sekolah memuat rencana ya ng akan dilakukan 3. Penyususnan rencana kerja sekolah dilakukan oleh seluruh anggota masyarakat sekolah 4. Rencana kerja sekolah harus terdokumentasikan dengan baik 5. Renacana kerja sekolah ditanda tangani oleh kepala sekolah dan komite sekolah 6. Rencana kerja sekolah mempunyai waktu perencanaan selama 6 bulan 7. Dokumen rencana kerja sekolah bisa diakses oleh semua pihak

Peserta menyiapkan rencana kerja air, sanitasi pendidikan kesehatan (hygiene education) untuk masing -masing sekolah yang meliputi : 1. Promosi hygiene di sekolah 2. Keterlibatan komite dan wali murid dalam kegiatan hygiene sekola h 3. Kegiatan monitoring partisipatori PHBS 4. Menjaga kebersihan dan kesehatan sekolah 5. Penyusunan dan pelaporan anggaran belanja sekolah 6. Cara pengajaran PHBS kepada murid

Praktek Penyusunan Rencana Kerja Sekolah Peserta menyiapkan rencana kerja air, sanitasi dan higiene untuk masing-masing sekolah yang meliputi : 1. Promosi hygiene di sekolah. 2. Keterlibatan komite dan wali siswa dalam kegiatan hygiene sekolah. 3. Menjaga kebersihan dan kesehatan sekolah. 4. Penyusunan dan pelaporan anggaran belanja sekolah. 5. Cara pengajaran PHBS kepada siswa. 6. Kegiatan monitoring partisipasi PHBS. Dalam memfalitasi diskusi perlu menekankan: 1. Isu atau masalah air dan sanitasi serta perilaku PHBS yang harus diperbaiki, antara lain: a. Masalah ketersediaan air bersih. b. Perilaku siswa dalam kegiatan CTPS. c. Ketersediaan sarana tempat sampah. d. Perilaku murid dalam membuang sampah. e. Kondisi kebersihan lingkungan sekolah. f. Ketersediaan dan kondisi toilet sekolah. g. Perilaku siswa dalam BAB. h. Kondisi makanan sekolah. i. Perilaku siswa dalam mengkonsumsi makanan yang sehat dan bersih. 2. Merencanakan pengembangan atau perbaikan fasilitas yang menunjang PHBS a. Mengidentifikasi kondisi fasilitas air bersih sekolah. b. Mengidentifikasi kondisi fasilitas toilet sekolah. c. Mengidentifikasi kondisi fasilitas tempat sampah sekolah d. Mengidentifikasi kondisi fasilitas tempat berjualan sekolah. 3. Keterlibatan Komite Sekolah dan Wali Murid dalam kegiatan PHBS di sekolah a. Mengidentifikasi partisipasi komite sekolah dan wali murid terhadap pembangunan atau perbaikan fasilitas sekolah. b. Mengidentifikasi partisipasi komite sekolah dan wali murid terhadap kegiatan kampanye PHBS di sekolah dan di rumah. 4. Mengidentifikasi kegiatan monitoring dan evaluasi kegiatan PHBS di sekolah a. Menyususn format laporan monitoring PHBS oleh siswa. b. Menyusun buku jurnal monitoring dan evaluasi kegiatan PHBS untuk guru. 5. Merencanakan kegiatan apa yang akan dilakukan untuk memperbaiki dan menjaga kondisi kesehatan dan kebersihan serta PHBS di sekolah. 6. Penyusunan dan pelaporan anggaran belanja sekolah. a. Membuat format penyusunan dan pelaporan anggaran belanja sekolah yang transparan dan bertanggung jawab. b. Melibatkan komite sekolah serta wali murid dalam penyusunan anggaran belanja sekolah. 7. Mengidentifikasi cara pembelajaran untuk melakukan pengajaran tentang PHBS kepada murid melalui kegiatan belajar mengajar sehari-hari. 8. Merencanakan kegiatan apa yang akan dilakukan untuk memperbaiki masalah kondisi diatas. 9. Matrik rencana kerja meliputi, masalah, macam kegiatan, penyelesaian masalah, siapa yang melaksanakan, waktu dan siapa yang akan mengawasi. 10. Fasilitator mengajak peserta untuk mendiskusikan perlunya membentuk organisasi hygiene murid menjadi wadah semua kegiatan murid berkaitan dengan PHBS di sekolah.

44
11. Peserta diminta menyusun rencana kerja sekolah terkait aspek sanitasi dan kesehatan lingkungan. 12. Fasilitator meminta peserta mengumpulkan rencanakerja sekolah yang sudah disusun. 13. Bersama-sama membahas rencana kerja sekolah yang sudah disusun. 14. Fasilitator menanyakan kesulitan peserta dalam menyusun rencana kerja sekolah.