Anda di halaman 1dari 8

31 Juli 2009

Edisi II, tahun 2009


WASH-NTT NEWS diterbitkan unicefKupang Field Office untuk berbagi informasi perkembangan kegiatan Water Sanitation and Hygiene (WASH) di Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT)

WASHNTT NEWS
MEMBALUT PESAN CUCI TANGAN PAKAI SABUN MELALUI PANTUN

Daftar Isi :
> Membalut Pesan Cuci Tangan Pakai Sabun Melalui Pantun (1) > BONET Dari Ajang Mencari Jodoh, Hingga Media Promosi PHBS (4)
> Pulau Ende yang Luar Biasa! (6)

emas Tafuli menghentakhentakkan kakinya kebawah mengikuti irama pantun yang dilagukan. Suara giring (gelang berlonceng yang terbuat dari kuningan) dari pergelangan kakinya bergemerincing seirama dengan bait-bait pantun yang dilantukan, PHBS lo lais Palo Let, Pa Lole Neum Hai To Ok Oke, Na Fena Kit Het Moin Alekot, Moin Ta Na Leok, Pahe Nao Mat.

Catatan Redaksi: Setelah satu tahun sejak terbitnya Newsletter edisi pertama, maka pada Awal Bulan Agustus ini, Newsletter edisi kedua akhirnya dapat diterbitkan. Pada edisi kedua kali ini, redaksi mengangkat isu PHBS yang dibungkus dalam kesenian budaya lokal dan dikemas dengan sangat kreatif sebagai tema utamanya. Lihat saja bagaimana pesan PHBS disampaikan melalui Bonet di Kabupaten TTS atau aksi kreatif masyarakat di Pulau Ende yang menyampaikan pesan PHBS yang ditorehkan pada dinding tugu ditepian pantai.

Timor Tengah Selatan. Syair pantun dalam Bahasa Timor Amanatun itu dialunkan oleh, Demas bersama dengan Yoseph Mafeo, Agustinus Asbanu, Sulce Benu, Veronika Tafuli dan 20 orang kawan-kawannya sambil menari dalam bentuk lingkaran. Syair tersebut memiliki makna ajakan kepada masyarakat untuk membudayakan hidup bersih dan sehat karena dengan perilaku hidup bersih dan sehat dapat mengatasi gizi buruk, kemiskinan, dan mengurangi angka kematian ibu dan bayi. Demas, murid kelas IV, Sekolah Dasar Negeri Bimate, Desa Snok, Kecamatan Amanatun Utara, Kabupaten Timor Tengah (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur itu sedang memimpin kawan-kawannya berbalas berpantun dengan cara bersenandung mengikuti ritme irama dan pola gerakan tertentu. Masyarakat Timor menyebutnya sebagai Bonet, sebuah seni tradisional yang walaupun populer ditingkat masyarakat, kini mulai jarang dipentaskan dihadapan umum.

Halaman 2

Kabupaten TTS yang luas dan jumlah sekolah dasar yang begitu banyak, maka panitia penyelenggara membatasi jumlah peserta ini hanya 20 Sekolah Dasar saja. Selain karena keterbatasan biaya, kami ingin membina rasa kebersamaan melalui kolaborasi dengan berbagai organisasi dan proyek dalam jejaring Air Minum dan Penyehatan Lingkungan yang beroperasi di Kabupaten TTS, lanjut Cornelis bersemangat.

Berbalas Pantun Demas dan kawan-kawannya dari SD Negeri Bimate merupakan salah satu dari 20 Sekolah Dasar yang diundang untuk mengikuti kompetisi Promosi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat melalui media seni tradisional Bonet, yang dilaksanakan oleh POKJA AMPL Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) pada tanggal 18 dan 19 Mei 2009 di Lapangan Puspemnas, Kota Soe. Cornelis Metta, selaku Ketua Panitia Pelaksana menambahkan bahwa kompetisi ini bertujuan untuk dapat meningkatkan kesadaran masyarakat utamanya anak-anak agar dapat memperbaiki pola perilakunya menjadi lebih bersih dan sehat. Bonet dipilih sebagai media untuk menyampaikan pesan PHBS karena selain menggunakan bahasa lokal, seni tradisi ini sangat populer di masyarakat Kabupaten TTS, terang Cornelis yang juga Kepala Bidang Penyehatan Lingkungan pada Dinas Kesehatan Kabupaten TTS. Bonet merupakan seni berbalas pantun, yang biasa terdapat di belahan tengah Pulau Timor, salah satu pulau utama di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Seni tradisional yang umurnya ratusan tahun ini banyak ditemui pada sub-suku Dawan seperti Amanatun, Amanuban dan Mollo yang mendiami wilayah yang terbentang luas dari daerah Mollo di ujung barat hingga Boking diwilayah timur. Mengingat wilayah

Kami ingin membina rasa kebersamaan melalui kolaborasi dengan berbagai organisasi dan proyek dalam jejaring AMPL,
Kolaborasi POKJA AMPL Kegiatan yang rencananya akan dilakukan secara rutin tiap tahun ini, dilaksanakan oleh Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (POKJA AMPL) Kabupaten TTS dibawah koordinasi Dinas Kesehatan Kabupaten TTS. Salah satu hal yang patut dibanggakan dari kegiatan ini adalah dukungan jejaring AMPL yang beroperasi di Kabupaten TTS. Jejaring AMPL itu antara lain adalah GTZ-ProAir, UNICEF, ACF, Plan International, CARE International, Church World Service (CWS), dan PAMSIMAS. Setiap anggota jejaring pendukung kegiatan festival PHBS ini berbagi tugas dengan memberikan dukungan teknis dan fasilitas pada sekolah-sekolah yang berada dilokasi dampingan. GTZ-ProAir misalnya, memfasiltasi SDN Kolon dan SDG Pili yang berada diwilayah Desa sasaran ProAir di Kabupaten TTS. Begitu juga dengan PLAN International yang memberikan dukungan pada 4 Seko-

lah Dasar, yaitu, SDN Oekiu, SDI Siso, SDG Kokoi, dan SDI Nenonaheun. Sedangkan ACF dan PAMSIMAS masing masing mendukung dua sekolah, berturut-turut yaitu; SDI Boking, SDN Bimate, SDG ofu, dan SDI Oeupun. Adapun SDI Klofo, SDI Oehala, dan SDG Biloto berada dalam wilayah pendampingan CWS. Sementara itu CARE memberikan dukungan pada SDG Kolbano dan sisanya difasilitasi oleh UNICEF, antara lain, Fatukoto, SDN Oeusapi, SDI Oenali, SDI Kobelete, SDN Kesetnana dan SDI Sekip. Kalau ingin Buang Hajat, Masuklah kedalam Jamban Berdasarkan pemantauan Timatius Benu, salah seorang juri kompetisi ini, isi pantun yang dibawakan oleh setiap sekolah cukup menarik dan unik. SDI Boking misalnya, lirik pantun mereka menekankan penggunaan jamban keluarga, Kalu Teka Na Men, Tama Neuwa Kakus, Kakus So Ma Obe Kakus So Tao Oe. Syair pantun tersebut memiliki makna, Kalau ingin Buang Hajat Besar, Masuklah kedalam Jamban, Jamban harus ditutup, Jamban harus tersedia air, jelas Timatius yang juga bekerja dilingkungan Dinas Kesehatan Kabupaten TTS ini. Tema kompetisi Bonet kali ini sangat jelas, yaitu tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Namun penekanan syair Bonet dari setiap sekolah berbedabeda. Ada yang menekankan syair pantun pada penggunaan jamban yang sehat, ada pula yang menyarankan untuk selalu mencuci tangan pakai sabun. Seperti Bonet dari SDN Fatukoto yang menghimbau masyarakat untuk terbiasa mencuci tangan dengan sabun. Secara umum, semua tampilan bonet dari berbagai peserta sangat menarik, baik dari makna syairnya, cara pelantunannya dan gerak tariannya, Timatius menambahkan. Setelah melalui perundingan dewan juri yang cukup alot, maka SDI Boking terpilih sebagai juara pertama kompetisi Promosi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat melalui media seni tradisional Bonet ini. Menurut dewan juri yang terdiri dari unsur Dinas Kesehatan, unsur Dinas Pariwisata dan pemilik sanggar atau praktisi budaya, SDI Boking memiliki angka diatas rata-rata untuk semua kriteria penilaian yang telah ditetapkan oleh panitia penyelenggara. Pemenang kedua hingga ketiga kompetisi ini adalah SDG Ofu dan SDI Kobelete. Sedangkan pemenang harapan satu hingga tiga berturut turut adalah SDI Oehala, SDN Bimate dan SDI Klofo.

Halaman 3

Setiap dollar yang diinvestasikan dalam air dan sanitasi akan menghasilkan keuntungan atas kegiatan produktif senilai kira-kira tujuh dollar -UN Secretary-General, Ban Ki-moon World Water Day, 2008

Halaman 4

BONET

Dari Ajang Mencari Jodoh Hingga Media Promosi PHBS


onet dipercaya sebagai salah satu khazanah budaya sastra lisan Suku Dawan, selain heta, tonis dan nuu. Suku Dawan sendiri merupakan suku besar yang penduduknya tersebar Pulau Timor bagian barat, terutama di wilayah administrasi Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan, dan Timor Tengah Utara. Seperti pada umumnya tarian daerah di Provinsi Nusa Tenggara Timur semacam lego-lego di Alor atau Tari Gawi di Ende Pulau Flores, bonet juga ditarikan dengan membentuk lingkaran, dimana satu dengan lainnya saling bergandengan tangan dan berputar sambil melantunkan pantun dengan syair syair yang biasanya memiliki rima mengulang. Bentuk lingkaran dengan bergandengan tangan dipercaya oleh masyarakat Suku Dawan melambangkan persatuan dan kesatuan antara sub-suku Dawan, yaitu Amanatun, Amanuban, dan Mollo. Dahulu Bonet dijadikan ajang mencari jodoh bagi muda-mudi di wilayah Amanatun, Amanuban dan Mollo ini. Kini kami mencoba untuk memodifikasi pantun dalam Bonet agar dapat dijadikan media untuk menyampaikan pesan-pesan perubahan perilaku hidup bersih dan sehat, Jelas Cornelis Metta, Ketua Panitia pelaksana Kompetisi Promosi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat melalui media seni tradisional Bonet disela-sela kegiatan yang dilaksanakan di Lapangan Puspemnas, Kota Soe, dari tanggal 18 hingga19 Mei 2009. Cornelis menambahkan bahwa biasanya Bonet dipentaskan untuk memeriahkan berbagai acara kekeluargaan, acara resmi dibidang pemerintahan maupun keagamaan. Bonet merupakan tari persatuan yang dilakukan baik oleh anak-anak, pemuda/pemudi, orang tua, laki-laki maupun perempuan. Tidak salah apabila puluhan tahun yang lalu, sebelum radio, televisi, parabola, VCD dan MP3 menjangkau masyarakat secara luas, pementasan bonet merupakan acara yang ditunggu tunggu. Lebih jauh Cornelis menceritakan bahwa dahulu orang rela berjalan kaki puluhan kilometer demi menyaksikan dan terlibat dalam bonet. Kharisma Bonet masih terasa hingga saat ini, bahkan pada saat kompetisi Bonet dilapangan Puspemnas, terlihat antusiasme yang besar dari masyarakat umum yang membanjiri lokasi.

Para peserta Bonet

Halaman 5

turut, sejak tanggal 10 hingga 16 Mei 2009, ungkap Rosalina E Lobo, Kepala Sekolah SD Negeri Kesetnana yang menjadi salah satu peserta lomba bonet. Sementara itu, Theofilus Tafuli, Kepala SD Negeri Bimate menyampaikan bahwa sekolahnya mampu memiliki peralatan yang lengkap karena pernah mendapatkan bantuan dana hibah dari luar negeri untuk sekolahnya. Tidak heran apabila SDN Bimate memiliki alat perkusi semacam likurai yang tentunya menjadikan nilai tambah dalam penilaian.
Dalam melakukan pementasan Bonet ini, para siswa pria memakai Mau, sedangkan perempuan menggunakan Tais. Mau dan Tais adalah kain adat khas Timor yang bermotif warna cerah, seperti putih, kuning dan merah. Selain memakai Mau, siswa pria juga memakai destar yang disebut Pilu, sejenis tutup kepala khas masyarakat Suku Dawan. Para siswa putra dan putri ini juga membawa Alu Mama, sebuah kantung sirih pinang yang diselempangkan di bahu. Sirih pinang dan kapur ini melambangkan keakraban dan persahabatan dengan cara saling bertukar satu dengan lainnya

Pantun dalam bonet merupakan bahasa kiasan yang mengandung makna-makna tertentu, ungkap Amos Nope, salah seorang juri yang juga pengasuh sanggar seni. Lebih jauh, dia menyatakan bahwa isi pantun dapat digubah sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan. Maka kemampuan para guru pembimbing bonet disetiap sekolah untuk menggubah syair sehingga memiliki makna yang tepat adalah kunci keberhasilan. Keindahan syair dan kesesuaian makna dengan tema kompetisi bonet ini adalah salah satu kriteria penilaiannya, kata Amos, kini, tergantung kreativitas dari setiap sekolah untuk meramu kata dan kalimat dalam pantun tersebut.

Terobosan yang dilakukan oleh Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (POKJA AMPL) Kabupaten TTS ini patut diacungi jempol. Melalui Dinas Kesehatan sebagai pelaksana kegiatannya, mampu melihat peluang potensi sumber daya kearifan lokal yang ada, yaitu budaya sastra lisan bonet Untuk menghadapi kompetisi ini, persiapan yang yang diolah sebagai media penyampaian pesandilakukan pihak sekolah berbeda, beda. Kami me- pesan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

lakukan latihan intensif selama 6 hari berturut-

Halaman 6

Pulau Ende yang Luar Biasa!


Lomba Media Promosi PHBS di Kecamatan Pulau Ende, Kabupaten Ende

Rangkaian tulisan dan gambar dengan warna-warna terang yang kontras terlihat dengan jelas dari atas perahu motor yang melaju dipelipir pantai Pulau Ende. Tulisan dan gambar itu ditoreh diatas dinding batu yang diplester halus dan diberikan warna warna bernuansa eye catching, sehingga menggoda setiap orang untuk melihat dan membacanya. Ari Kae Mae Tai Re Mau Aurat Kita Ata Tei Miu Iwa Mea? Salah satu tulisan dipantai Dusun Paribajo, Desa Redodori itu artinya, Saudara-saudari, jangan buang tinja di pantai, aurat kita dilihat orang. Tidak Malukah, anda?

Halaman 7
Sementara itu di Dusun Tanjung, Desa Rendoraterua terdapat pesan yang mengutip Al Quran atau hadist Nabi. Misalnya, hadis yang menyatakan bahwa, kebersihan itu adalah sebagian dari iman. Pesan tambahan pada tugu pengumuman itu adalah, Jagalah Kebersihan Lingkungan Dengan Tidak Membuang Hajat dan Sampah Di Sepanjang Pantai. Luar biasa! Ya, luar biasa adalah kata yang tepat untuk menggambarkan upaya masyarakat 7 desa di Pulau untuk merubah perilakunya. Masyarakat di Desa Aejeti, Rorurangga, Puutara, Padarape, Rendoraterua, Ndoriwoi, dan Redodori di Kecamatan Pulau Ende kini selangkah lebih maju dari tahun-tahun sebelumnya. Sepanjang bulan Februari hingga Maret 2009, masyarakat di 7 Desa di Pulau Ende ini menyelenggarakan perlombaan Media Promosi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Media Promosi PHBS dipilih karena dianggap bisa menjadikan alat untuk menyampaikan pesan-pesan yang menggugah masyarakat untuk peduli dan mau merubah perilakunya, demikian disampaikan oleh Petrus H. Djata, penanggung jawab operasional kegiatan Dinas Kesehatan untuk program Air Minum dan Penyehatan Lingkungan kerjasama Pemerintah Kabupaten Ende dengan UNICEF Menurut Piet, panggilan akrab Petrus H. Djata, isi pesan dan tulisan digali dari permasalahan kesehatan lingkungan yang ada disetiap dusunnya. Sehingga isi dan tulisan promosi PHBS disetiap dusun berbeda dengan dusun lainnya. Isi pesan dalam Media Promosi PHBS pada dusun yang masyarakatnya masih banyak melakukan praktik buang air besar sembarangan, pasti berbeda dengan dusun yang masyarakatnya sudah banyak memiliki dan menggunakan jamban, terang Piet dengan bersemangat. Pria yang biasa dipanggil dengan sebagai, Pua Haji Djata oleh masyarakat Pulau Ende ini berupaya agar Pulau Ende bisa menjadi Serambi Mekah di Indonesia setelah Aceh. Disebut sebagai Serambi Mekah, bukan hanya karena 100% masyarakat Pulau Ende adalah pemeluk agama Islam, namun juga karena lingkungannya yang bersih dan sehat. Kegiatan lomba media PHBS ini merupakan rangkaian dari berbagai-kegiatan lain yang khusus ditujukan untuk merubah perilaku masyarakat di Pulau Ende agar bisa mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat yang lebih baik, demikian disampaikan Dahlan, Camat Pulau Ende dengan antusias. Dahlan kemudian menceritakan beberapa kegiatan lain yang sudah dilakukan, antara lain pelatihan promosi PHBS pada tokoh agama, mubaligh dan ustad, penyusunan peraturan desa mengenai air minum dan penyehatan lingkungan, hingga arisan jamban. Kegiatan perlombaan media ini, semakin meyakinkan kami masayrakat Pulau Ende untuk terus dan semakin meningkatkan pola hidup bersih dan sehat serta menjaga pelestarian dan sanitasi lingkungan di wilayah kecamatan ini, tambahnya. Ayub, salah seorang dari 4 fasilitator pemberdayaan masyarakat di Pulau Ende menjelaskan bahwa perlombaan promosi melalui media dilaksanakan dengan metode partisipatif. Masyarakat pada satu dusun, diajak duduk bersama untuk mengidentifikasikan persoalan berkaitan kesehatan lingkungan yang dialaminya. Masyarakat terlibat aktif mulai dari perencanaan, pembangunan media promosi hingga pengawasan paska pembangunan, terang Ayub. Pengawasan dimaksudkan untuk melihat seberapa efektif media PHBS tersebut mempersuasi masyarakat untuk berubah dan menjadi lebih baik. Berdasarkan penilaian Tim Juri Lomba Media Promosi PHBS ini, dari 19 dusun yang tersebar di 7 Desa wilayah Kecamatan Pulau Ende, yang mengikuti perlombaan, semua media promosinya dibuat dengan cukup menarik. Ada larangan Buang Air Besar sembarangan yang menggunakan bahasa setempat disertai gambar, ada yang menggunakan bahasa arab, juga larangan dimaksud dikaitkan dengan pesan-pesan Al-Quran, ungkap Piet, yang juga anggota tim juri ini. Dia menambahkan bahwa, media-media ini dibangun diberbagai lokasi. Ada yang dipinggir pantai, ada yang dipintu masuk dusun dan ada juga ditengah kampung. Hasil penilaian juri lomba media PHBS menyatakan bahwa Juara pertama diraih oleh Dusun Ekoreko, Desa Rorurangga. Sementara juara kedua adalah Dusun Tanjung, Desa Rendoraterua dan juara ketiga Dusun Paribajo, Desa Redodori.

KANTOR UNICEF PERWAKILAN KUPANG Jl. Perintis Kemerdekaan No. 17 Kelapa LimaKupang

Bekerja sama dengan


POKJA AMPL Provinsi Nusa Tenggara Timur POKJA AMPL Kota Kupang POKJA AMPL Kabupaten Alor POKJA AMPL Kabupaten Belu POKJA AMPL Kabupaten Rote Ndao POKJA AMPL Kabupaten Sumba Timur POKJA AMPL Kabupaten Timor Tengah Selatan POKJA AMPL Kabupaten Ende POKJA AMPL Kabupaten Sikka

Anda mungkin juga menyukai