Anda di halaman 1dari 63

Motor bakar bensin

Kelompok 12 1


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Motor bakar bensin merupakan sebuah mesin yang banyak di jumpai
dalam kehidupan sehari-hari, pada umumnya semua masyarakat bergantung pada
mesin ini seperti pada sarana trasnportasi dengan menggunakan sepeda motor dan
mobil. Sepeda motor dan mobil merupakan contoh penggunaan motor bakar
bensin dalam kehidupan sehari-hari.
Seorang sarjana teknik mesin sangat membutuhkan aplikasi berbagai
macam teori tentang ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan di bangku
perkuliahan, agar nantinya saat di dunia kerja ia mempunyai bekal dalam
menghadapi berbagai masalah yang nantinya mereka temui di lapangan nantinya.
Dan motor bakar menjadi salah satu alat yang menerapkan ilmu pengetahuan-ilmu
pengetahuan dasar teknik mesin mulai dari Thermodinamika, Material Teknik,
Proses Produksi serta masih banyak lagi ilmu pengetahuan teknik mesin yang
terintegrasi dalam satu buah motor bakar bensin ini. Sehingga menjadi suatu hal
yang sangat penting untuk mengikuti praktikum motor bakar bensin ini, dan
mahasiswa sekaligus mengamati berbagai fenomena-fenomena yang terjadi yang
akan menjadi bekal saat mahasiswa tersebut di hadapkan pada persoalan yang
serupa saat di dunia kerja nantinya.
1.2 Tujuan Percobaan
1. Mengetahui dan memahami proses yang terjadi pada motor bakar
bensin.
2. Mempelajari dan memahami karakteristik dan parameter prestasi
motor bensin.
1.3 Manfaat
1. Mahasiswa dapat mengetahui fenomena yang terjadi pada motor bakar
bensin.
2. Mahasiswa dapat melihat aplikasi dari berbagai mata kuliah yang menjadi
proses dasar dari motor bakar.

Motor bakar bensin
Kelompok 12 2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Teori Dasar
2.1.1 Pengertian Engine dan Heat Engine
Engine didefinisikan sebagai suatu alat yang berfungsi merubah suatu
energi dari satu bentuk ke bentuk lain. Heat engine atau mesin kalor adalah suatu
mesin yang merubah energi kimia menjadi energi termal dan selanjutnya dirubah
menjadi energi mekanik dimanfaatkan untuk melakukan kerja. Mesin (machine)
adalah suatu alat yang berfungsi memudahkan dalam melakukan pekerjaan.

2.1.2 Klasifikasi Heat engine dan Gambarnya
Heat engine dapat diklasifikasikan seperti pada gambar 2.1.















Gambar 2.1 Bagan klasifikasi Heat Engine



Heat Engine
Eksternal Combustion Engine
Rotary
Reciprocating
Close Cycle Gas Turbine
Steam Turbine
Stirling Engine
Steam Engine
Internal Combustion Engine
Reciprocating
Rotary Winkel Engine
Open Cycle Gas Turbine
Gasoline Engine
Diesel Engine

Motor bakar bensin
Kelompok 12 3

Berikut ini dapat dilihat gambar-gambar dari pembagian heat engine diatas :
1. Wankel Engine
Prinsip kerja wankel engine ini menggunakan piston yang bergerak
rotasi. Cara kerjanya adalah campuran bahan bakar dan udara masuk
melalui saluran masuk kemudian dikompresikan sehingga tekanan menajdi
naik. Selanjutnya dipercikan bunga api dari busi dan terjadi pembakaran di
ruang bakar. Setelah itu terjadi ekspansi dan karena putaran dari
crankshaft gas buang keluar melalui saluran buang. Sistem tenaga pada
wankel engine dapat dilihat pada turbin gas yang ditunjukkan oleh gambar
2.2.

Gambar 2.2 Turbin gas yang terdapat di Berlin
(sumber : www.google.com/prelovac.com)
2. Open Cycle Gas Turbine
Sistem tenaga pada Open Cycle Gas Turbine ditunjukkan oleh
gambar 2.3.


Gambar 2.3 Open Cycle Gas Turbin
(sumber : www.google.com/prelovac.com)

Motor bakar bensin
Kelompok 12 4

Prinsip kerjanya adalah udara dari lingkungan masuk ke kompresor
kemudian tekanan menjadi naik. Pada combustion chamber bahan bakar
dimasukkan sehingga udara bertekanan tinggi bercampur dengan bahan
bakar dan setelah itu terjadi pembakaran. Gas hasil pembakaran ini
dimanfaatkan untuk memutar turbin. Pada turbin dihasilkan kerja yang
menyebabkan poros berputar. Poros dari turbin ini dihubungkan ke
kompresor sehingga kerja yang dihasilkan turbin bisa dimanfaatkan untuk
memutar kompresor.
3. Gasoline Engine
Sistem tenaga dari Gasoline Engine biasa ditemukan pada motor
bakar bensin. Sistem pengapian yang digunakan adalah spark ignition.
Pada sistem ini bensin difungsikan sebagai bahan bakarnya, konstruksi
mesinnya dapat dilihat pada gambar 2.4.

Gambar 2.4 Motor Bakar Bensin (Mesin Toyota)
(sumber : www.google.co.id/chestofbooks.com)
4. Diesel Engine
Sistem tenaga dari Diesel Engine biasa ditemukan pada motor
bakar diesel. Sistem pengapian yang digunakan adalah compression
ignition. Pada sistem ini solar atau minyak diesel difungsikan sebagai
bahan bakarnya, konstruksi mesinnya dapat dilihat pada gambar 2.5
berikut ini :


Motor bakar bensin
Kelompok 12 5


Gambar 2.5 Motor Bakar Diesel
(sumber : www.google.com/automotivesservise.blogspot.com)
5. Close Cycle Gas Turbine
Sistem tenaga pada Close Cycle Gas Turbine ditunjukkan oleh
gambar 2.6. Prinsip kerja dari jenis heat engine ini yaitu udara masuk ke
kompresor kemudian tekanan menjadi naik. Pada heat exhanger panas
dimasukkan selanjutnya diteruskan ke turbin dan menghasilkan kerja
berupa putaran poros. Poros dari turbin ini dihubungkan ke kompresor
sehingga kerja yang dihasilkan turbin bisa dimanfaatkan untuk memutar
kompresor. Setelah keluar dari turbin, udara tersebut masuk ke heat
exhanger. Pada heat exhanger ini panas dikeluarkan dan selanjutnya
masuk kembali ke kompresor.

Gambar 2.6 Close Cycle Gas Turbine
(sumber : www.google.com/prelovac.com)

6. Steam Turbine

Motor bakar bensin
Kelompok 12 6

Sistem tenaga pada Steam Turbin memanfaatkan tenaga uap dalam
operasinya. Uap tersebut dapat berasal dari pembakaran batu bara atau
pemanasan air. Uap ini dimanfaatkan untuk memutar turbin kemudian
memutar generator yang dapat menghasilkan listrik. Konstruksinya dapat
dilihat pada gambar 2.7 berikut ini.


Gambar 2.7 Steam Turbin pada Nuremberg Plant, Jerman
(sumber : www.google.com/ana.info.blogspot.com)
7. Stirling Engine
Prinsip kerja stirling engine ini adalah mengunakan dua torak yang
dihubungkan ke satu poros engkol. Udara dari ruang silinder bawah berupa
udara panas akibat adanya pemanas di dinding silinder. Kemudian udara
panas tersebut masuk ke ruang silinder atas sehingga mendorong torak
bergerak ke bawah dan memutar poros engkol. Pada bagian dinding
silinder atas terdapat pendingin sehingga udara menjadi dingin dan torak
kembali bergerak ke atas.

Motor bakar bensin
Kelompok 12 7



Gambar 2.8 Stirling Engine
(sumber : www.google.com/surnews.co.cc)
8. Steam Engine
Sistem tenaga pada Steam Engine termasuk salah satu sistem
tenaga tertua di dunia. Pada sistem tenaga ini memanfaatkan tenaga uap
dalam kinerjanya. Prinsip kerjanya adalah air dipanaskan sehingga
menjadi uap. Kemudian uap panas tersebut dialirkan melalui pipa-pipa
menuju ruang silinder sehingga torak bergerak secara translasi.


Gambar 2.9 Lokomotif Uap
(sumber : www.google.com/surnews.co.cc)

2.1.3 Motor Bakar dan Klasifikasinya
Motor bakar merupakan salah satu jenis dari mesin termal atau mesin
kalor. Pada motor bakar, proses konversi energi yang terjadi di dalam silinder,
dimana energi kimia dikonversi menjadi energi termal dan selanjutnya dikonversi
lagi menjadi energi mekanik (energi termal menyebabkan gerak translasi torak
menjadi rotasi poros engkol).
Motor bakar dapat diklasifikasikan menjadi :

Motor bakar bensin
Kelompok 12 8

a. Berdasarkan pada jumlah langkah
2 langkah
Motor bakar dua langkah dapat dilihat pada gambar 2.10.

Gambar 2.10 Motor bakar 2 langkah pada Vespa
(sumber : www.google.com/automotivesservice.blogspot.com)
4 langkah
Motor bakar empat langkah dapat dilihat pada gambar 2.11.

Gambar 2.11 Motor bakar 4 langkah
(sumber : www.google.com/automotivesservice.blogspot.com)
b. Berdasarkan sistem pengapian
Spark Ignition Engine (percikan nyala api)
Compression Ignition Engine (penyalaan dengan kompresi)
c. Berdasarkan jumlah silinder
Jumlah silinder pada motor bakar lebih diidentikkan dengan jumlah piston
yang digunakan. Pembagiannya adalah :



Piston Tunggal

Motor bakar bensin
Kelompok 12 9

Motor bakar ini menggunakan satu piston. Motor bakar dengan
piston tunggal biasanya terdapat pada sepeda motor, contohnya
dapat dilihat pada gambar 2.12.

Gambar 2.12 Piston tunggal pada sepeda motor
(sumber : www.google.com/cantonschool.org)
Piston Ganda
Motor bakar ini menggunakan dua piston. Pada motor bakar piston
ganda pergerakan piston serentak. Motor bakar dengan piston
ganda sudah dimiliki oleh mesin kapasitas besar seperti motor
Harley Davidson, contohnya dapat dilihat pada gambar 2.13.

Gambar 2.13 Piston ganda pada motor Harley Davidson
(sumber : www.google.com/automotivesservice.blogspot.com)
Multi Piston
Motor bakar ini menggunakan banyak piston. Pada motor bakar
multi piston, pergerakkan piston tidak serentak. Motor bakar
dengan multi piston dimiliki oleh mobil, contohnya dapat dilihat
pada gambar 2.14.

Motor bakar bensin
Kelompok 12 10



Gambar 2.14 Multi Piston mobil Pigeout
(sumber : www.google.com/automotivesservice.blogspot.com)
d. Berdasarkan letak katup
Kepala
Model katup piston di bagian kepala piston dapat dilihat
pada gambar 2.15.

Gambar 2.15 Letak katup di bagian kepala Piston
(www.google.com/aqplus.dsl.pipex.com)
Samping
Model katup piston di bagian samping piston ditunjukkan
oleh gambar 2.16.

Motor bakar bensin
Kelompok 12 11


Gambar 2.16 Letak katup di bagian samping Piston
(www.google.com/aqplus.dsl.pipex.com)

Bawah
Model katup piston di bagian bawah piston ditunjukkan
oleh gambar 2.17

Gambar 2.17 Letak katup di bagian bawah Piston
(www.google.com/aqplus.dsl.pipex.com)
e. Berdasarkan pergerakan piston
Translasi
Pergerakan piston secara translasi dimiliki oleh piston torak, dan
itu dapat dilihat pada gambar 2.18.

Motor bakar bensin
Kelompok 12 12


Gambar 2.18 Piston Torak
(sumber : www.google.com./prelovac.com)
Rotasi
Pergerakan piston secara radial (rotasi) ditunjukkan oleh gambar
2.19.




Gambar 2.19 Piston Radial
(sumber : www.google.com/aqplus.dsl.pipex.com)
f. Berdasarkan bahan bakar
Bensin
Motor bakar bensin umumnya memakai sistem pembakaran
menggunakan jenis spark ignition, dan itu dapat dilihat pada
gambar 2.20.
rotary-piston-filler-2
Rotary Piston Filler
Model RVS-18


Motor bakar bensin
Kelompok 12 13


Gambar 2.20 Motor Bakar Bensin
(sumber : www.google.com/automotivesservice.blogspot.com)

Solar
Motor bakar diesel umumnya memakai sistem pembakaran
menggunakan jenis compression ignition, dan itu dapat dilihat pada
gambar 2.21.

Gambar 2.21 Motor Bakar Diesel
(sumber : www.google.com/automotivesservice.blogspot.com)
g. Berdasarkan susunan silinder
Inline engine
Mesin inline merupakan mesin dengan susunan silinder lurus, seperti yang
terlihat pada gambar 2.22
V engine

Motor bakar bensin
Kelompok 12 14

Pada mesin V, susunan silinder terpasang pada 2 buah ruang bakar yang
tersusun dengan sudut tertentu sehingga membentuk sperti huruf V,seperti
yang terlihat pada gambar 2.22
Opposed cylinder engine
Opposite cylinder enggine tersusun dimana piston berakhir pada ujung
silinder dan tidak ada kepala silinder. Seperti yang terlihat pada gambar
2.22.
Opposed piston engine
Pada opposite piston engine,silinder ganda berakhir dengan piston pada
langkah akhir dan tidak ada kepala silinder, sperti yang terlihat pada
gambar 2.22.
Radial engine
Radial engine tersusun dumana piston bergerak keluar dari titik pusat
poros engkol, seperti yang terlihat pada gambar 2.22
X type engine
X tipe engine engine tersusun atas 2 buah blok mesin V yang
bertentangan satu sama lain. Seperti yang terlihat pada gambar 2.22.
H type engine
H type engine terdiri dengan 2 buah silinder ganda yang tersusun
menyerupai huruf H, seperti yangterlihat pada gambar 2.22.
U type
U type tersusun atas 2 buah mesin lurus dengan 2 cranksaft yang terpisah,
seperti yang terlihat pada gambar 2.22.
Delta type engine
Delta type terdiri atas 3 buah opposite piston yang tersusun membentuk
segitiga, serti yang terlihat pada gamba 2.22.
Pada gambar 2.22 berikut dapat dilihat beberapa bentuk susunan silinder
dari motor bakar.

Motor bakar bensin
Kelompok 12 15


Gambar 2.22 Jenis-jenis susunan silinder
(sumber : www.google.com/cylindertpye.blogspot.com)
2.1.4 Perbedaan Internal Combustion Engine dengan External Combustion
Engine
Sistem pembakaran pada mesin termal terbagi atas dua, yaitu :
1. Internal Combustion Engine (ICE)
Internal combustion engine atau pembakaran dalam merupakan suatu
sistem pembakaran bahan bakar dan udara yang terjadi di dalam ruang
bakar atau silinder sehingga gas pembakaran yang terjadi sekaligus
berfungsi sebagai fluida kerja.
1. External Combustion Engine (ECE)
Pada mesin pembakaran luar, proses pembakaran terjadi di luar sistem,
dimana energi termal dari gas hasil pembakaran dipindahkan ke fluida
kerja mesin, melalui beberapa dinding pemisah.
Untuk lebih jelasnya, perbedaan dari kedua sistem pembakaran tersebut dapat
dilihat pada gambar 2.23.


Motor bakar bensin
Kelompok 12 16
















Gambar 2.23 Perbedaan ECE dengan ICE
2.1.5 Perbedaan Spark Ignition dengan Compression Ignition
Sistem pengapian pada mesin termal terbagi menjadi dua jenis, yaitu :
1. Spark Ignition (SI)
Spark Ignition merupakan suatu sistem pengapian pada mesin
termal dengan memanfaatkan percikan api dari busi. Pengapian dari busi
terjadi karena adanya sumber energi listrik untuk menghasilkan energi
aktivasi yang digunakan untuk membakar campuran udara dan bahan
bakar sehingga menghasilkan tenaga. Campuran bahan bakar dan udara
masuk ke ruang bakar melalui katup isap. Kemudian campuran bahan
bakar dan udara dikompresikan sehingga tekanannya menjadi naik. Pada
saat tekanan tinggi dan piston mencapai titik mati atas selanjutnya timbul
loncatan bunga api dari busi sehingga terjadi pembakaran. Sistem
pengapian dengan Spark Ignition dapat dilihat pada gambar 2.24 berikut
ini.

Motor bakar bensin
Kelompok 12 17


Gambar 2.24 Proses pembakaran dengan Busi.
(sumber : www.google.com/automotivesservice.blogspot.com)

2. Compression Ignition (CI)
Compression Ignition merupakan sistem pengapian pada mesin
termal yang hanya memanfaat tekanan dalam pembakaran bahan bakar.
Proses pembakaran terjadi jika tekanan dan temperatur ruang bakar setelah
dikompresikan sudah mencapai titik nyala dari bahan bakar atau campuran
bahan bakar dan udara yang terdapat di dalam ruang bakar tersebut. Sistem
pengapian ini sering ditemui pada mesin diesel. Sistem pengapian dengan
Spark Ignition dapat dilihat pada gambar 2.25 berikut ini.

Gambar 2.25 Proses pembakaran dengan cara kompresi
(sumber : www.google.com/automotivesservice.blogspot.com)



Motor bakar bensin
Kelompok 12 18

2.1.6 Prinsip Kerja Motor Bakar
Pada prinsipnya motor bakar bekerja dengan memanfaatkan energi dari
campuran bahan bakar dan udara dalam bentuk panas (temperatur dan tekanan
tinggi) di dalam ruangan yang disebut silinder, sehingga dapat melakukan kerja
mekanik. Pada proses kerja tersebut motor bakar dapat digunakan satu atau lebih
silinder. Di dalam silinder tersebut terdapat torak yang bergerak secara translasi
(bolak-balik) dan di dalam silinder itu juga terjadi pembakaran antara bahan bakar
dengan oksigen. Gas pembakaran yang dihasilkan oleh proses tersebut mampu
menggerakkan torak yang oleh batang penghubung (crankshaft) dihubungkan
dengan poros engkol. Gerak translasi dari torak menyebabkan gerak rotasi pada
poros engkol.
2.1.7 Parameter Mesin Motor Bakar
Parameter mesin merupakan kelengkapan dari suatu mesin. Dimana
parameter inilah yang digunakan untuk menentukan prestasi dari suatu mesin.
Parameter mesin tersebut dapat dilihat pada gambar 2.26.














Gambar 2.26 Parameter mesin motor bakar
(sumber : www.google.com/machineparameter.blogspot.com)
Square Engine b = s
Under Square s > b
Over square s < b


Motor bakar bensin
Kelompok 12 19

Keterangan :
- TDC (Top Dead Center) adalah posisi teratas dari pergerakan piston.
- BDC (Bottom Dead Center) adalah posisi paling bawah dari pergerakan
piston.
- Vc (Volume Clearence) adalah volume yang tersisa pada saat piston
mencapai TMA.
- B (bore) adalah diameter dari piston.
- S (Swept) adalah panjang langkah dari piston atau jarak dari TMA ke
TMB.
- Vd (Volume Displacement) adalah Volume dari perpindahan piston yaitu
Dari TMA sampai TMB.
- r adalah panjang connecting rod.
- a adalah diameter dari poros engkol.
- adalah sudut kemiringan poros engkol dengan connecting rod.
2.1.8 Prinsip Kerja Motor Bakar Bensin
Motor bensin termasuk ke dalam jenis motor bakar torak. Proses
pembakaran bahan bakar dan udara di dalam silinder (internal combustion
engine). Motor bakar bensin dilengkapi dengan busi dan karburator yang
membedakanya dengan motor diesel. Motor bakar bensin bekerja dengan sitem
pembakaran dalam, dimana proses pembakaran terjadi di dalam ruang bakar yang
disebut dengan silinder. Silinder dilengkapi satu torak atau piston dan dua katup
(katup masuk dan katup keluar). Pembakaran di ruang bakar di dalam silinder
pada motor bensin dapat berlangsung apabila ketiga syarat pembakaran terpenuhi,
yaitu: bahan bakar (bensin), udara (oksigen), dan suhu yang cukup tinggi untuk
memulai pembakaran. Suhu yang cukup tinggi untuk memulai pembakaran pada
motor bensin diperoleh dari percikan atau loncatan bunga api listrik (spark) pada
busi (spark plug). Bunga api listrik dihasilkan oleh sistem penyalaan listrik
(ignition system) berupa unit alat penyala listrik (ignition unit), yaitu busi.
Busi berfungsi untuk membakar campuran udara-bensin yang telah
dimampatkan dengan jalan memberi loncatan api listrik diantara kedua
elektrodanya. Karena itu motor bensin dinamai dengan spark ignitions.

Motor bakar bensin
Kelompok 12 20

Sedangkan karburator adalah tempat bercampurnya udara dan bensin. Campuran
tersebut kemudian masuk ke dalam silinder yang dinyalakan oleh loncatan bunga
api listrik dari busi menjelang akhir langkah kompresi. Pembakaran bahan bakar-
udara ini menyebabkan mesin menghabiskan daya.
Pada gambar 2.27 dapat kita lihat konstrusi mesin toyota yang
menggunakan sistem kerja berupa sistem motor bakar bensin.

Gambar 2.27 Mesin Toyota Corolla FX 16 tahun 1987
(sumber : www.google.com/automotivesservice.blogspot.com)
Seperti yang telah disebutkan di atas bahwa sistem pengapian dari motor bakar
bensin dilakukan oleh busi. Bentuk konstruksi dari busi tersebut dapat dilihat
pada gambar 2.28.

Gambar 2.28 Konstruksi penampang sebuah busi
(sumber : www.google.com/prinsipbusi,blogspot.com)



Motor bakar bensin
Kelompok 12 21

2.1.9 Siklus Otto
Sistem pembakaran pada motor bakar bensin dinamakan dengan siklus
Otto. Sistem pembakaran tersebut dengan memasukkan panas pada volume
konstan. Selengkapnya proses termal yang terjadi pada siklus daya motor bensin
dapat dilihat pada diagram P-v dan T-s yang tergabung dalam gambar 2.29
tentang siklus Otto.









Diagram P-v Diagram T-s
Gambar 2.29 Gambar Siklus Otto
(sumber : www.wikipedia.com/ottocycle.blogspot.org)

Dimana :
0-1 Langkah hisap (katup hisap terbuka)
1-2 Langkah kompresi (katup hisap dan katup buang tertutup)
2-3 Pembakaran bahan bakar udara
3-4 Langkah usaha (katup hisap dan katup buang tertutup)
4-5 Langkah pendinginan
5-0 Langkah buang

Secara sepintas prinsip dasar dari motor bakar ini agak mirip dengan
sistem propulsi yang terdapat pada mesin jet pesawat, namun punya perbedaan.
Yang menjadi perbedaan adalah kalau Sistem Propulsi daya dorong yang
dihasilkan oleh ledakan bahan bakar langsung mendorong benda atau gas buang
yang menghasilkan daya dorong serta gerakan yang dihasilkan berupa gerakan

Motor bakar bensin
Kelompok 12 22

translasi, sedangkan kalau Motor Bakar ledakan bahan bakar menghasilkan kerja
mesin serta gerakan yang dihasilkan berupa gerakan rotasi.


Daya Poros
Daya poros didefinisikan sebagai momen putar dikalikan dengan
kecepatan putar poros engkol. Besarnya daya poros adalah :
N
e
= N
i
( N
g
+ N
a
)
Daya poros diketahui dari pengukuran, dinamometer-brake digunakan
untuk mengukur momen putar dan tachometer untuk mengukur putaran poros
engkol. Daya poros dihitung dengan persamaan :
N
a
= T |
.
|

\
| t
60
2
n J/s
Tekanan Efektif Rata Rata
Tekanan efektif rata rata didefinisikan sebagai tekanan efektif dari fluida
kerja terhadap torak sepanjang langkahnya untuk menghasilkan kerja persiklus.
P
e
=
ker ja persiklus
volume langkah torak

P
a
=
n . z . a . V
N
L
e
kPa
Efisiensi Termal
Efisiensi termal menyatakan perbandingan antara daya yang dihasilkan
terhadap jumlah bahan bakar yang diperlukan untuk jangka waktu tertentu.
Efisiensi termal dihitung dengan menggunakan persamaan :

t
q =
LHV . m
N
f
e

Efisiensi volumetrik
Efisiensi volumetrik didefinisikan sebagai perbandingan antara laju aliran
udara sebenarnya terhadap laju aliran ideal.

Motor bakar bensin
Kelompok 12 23


v
q =
ideal udara aliran
sebenarnya udara aliran
laju
laju


v
q = 100 x
m
m
ln
a

Pemakaian bahan bakar dinyatakan dalam kg/jam, misalkan pemakaian
50cc bahan bakar setiap detik maka jumlah bahan bakar yang dipakai dalam
kg/jam adalah :
m
f
=
t
50
. Spgr bahan bakar .
1000
3600
kg/jam
Pemakaian bahan bakar spesifik
Pemakaian bahan bakar spesifik didefinisikan sebagai banyaknya bahan
bakar yang terpakai perjam untuk menghasilkan setiap kW daya motor.
B
e
=
e
f
N
m
kg/kWh
Perbandingan Bahan Bakar-Udara
Untuk menentukan perbandingan perbandingan bahan bakar-udara
digunakan persamaan :

a
f
m
m

A
F
=
Laju Air Pendingin
Alat ukur ini digunakan untuk mengukur volume aliran air yang masuk
radiator, maka debit aliran air dapat ditentukan :
Q
a
=
t
V
a

Maka laju massa aliran air :
m
a
=
a a
Q . (kg/s)
dimana :
m
a
= laju massa air pendingin

a
= massa jenis air, kg/m
3

Q
a
= debit aliran air, m
3
/s


Motor bakar bensin
Kelompok 12 24

Prinsip keseimbangan energi digunakan untuk mengetahui energi dalam bentuk
panas yang digunakan secara efektif pada suatu sistem. Skema keseimbangan
energi seperti gambar 2.30 dibawah ini :








Gambar 2.30 Skema keseimbangan energi

a). Energi Masuk
+ Energi bahan bakar masuk ( H
f
)
H
f
= m
f
. LHV ( kW )
+ Energi udara masuk (H
u
)
H
u
= m
u
. c
pu
. T
1
(kW)

b). Energi Keluar
+ Energi gas buang (H
gb
)
+ H
gb
= (m
u
+ m
f
) . c
pgb
. T
gb
(kW)
+ Asumsi : c
pgb
= 950 + (0,25 . T
gb
) (J/kg
o
K)
+ Energi poros efektif dalam bentuk panas
+ H
Ne
= N
e
(kW)
+ Energi keluar air pendingin (H
ap
)
+ H
ap
= m
ap
. c
pap
. (T
k
- T
m
) (kW)

c). Energi Yang Hilang (Q
loss
)
Q
loss
= (H
u
+ H
f
) (H
Ne
+ H
ap
+ H
gb
) (kW)

Q
loss

H
f

H
u

H
Ne

H
sp

H
gb


Motor bakar bensin
Kelompok 12 25

Persentase keseimbangan energi menjadi :
1 =
f u
loss
f u
gb
f u
ap
f
H H
H

H H
H

H H
H

H +
+
+
+
+
+
+
u
Ne
H
H

atau
BH
Ne
=
H
f
+
u
Ne
H
H
x 100%
BH
ap
=
f
H +
u
ap
H
H
x 100%
BH
gb
=
f u
gb
H H
H
+
x 100%
BH
loss
=
f
H +
u
loss
H
H
x 100%
2.1.10 Motor Bakar Bensin 4 langkah dan 2 langkah.
Motor bakar bensin juga terbagi menjadi dua jenis sistem kerja, yaitu :
1. Motor Bakar Bensin 2 langkah
Motor dua langkah mengkombinasikan empat langkah proses yang dibutuhkan
pada motor empat langkah hanya dalam dua langkah saja. Langkah isap,
kompresi, kerja, dan langkah buang terjadi dalam dua langkah torak berturut-turut
atau dalam satu kali putaran poros engkol.Motor bensin dua langkah (2-tak)
merupakan motor bakar yang mengalami dua proses dalam setiap langkahnya.
Langkah pertama, terjadi proses isap dan kompresi, dimana pada langkah
ini torak bergerak dari TMB (titik mati bawah) ke TMA (titik mati atas). Pada
keadaan ini lubang pemasukan dan pembuangan terbuka, gas baru masuk ke
dalam silinder dan mendorong sisa-sisa pembakaran keluar. Kemudian torak
bergerak dan menutup lubang pemasukan dan pembuangan sehingga gas baru
dipadatkan (kompresi).
Langkah kedua, terjadi proses kerja dan buang, dimana pada saat ini torak
bergerak dari TMA menuju TMB. Pada saat torak berada pada TMA terjadi
pembakaran sehingga tekanan gas naik dan mendorong torak menuju TMB,
menghasilkan kerja (ekspansi). Kemudian lubang pembuangan terbuka, maka gas

Motor bakar bensin
Kelompok 12 26

buang keluar. Setelah itu lubang pemasukan terbuka dan gas baru yang bertekanan
lebih besar masuk, demikian proses ini berulang secara terus-menerus.









Gambar 2.31 Prinsip Kerja Motor Bensin 2 Langkah
(sumber : www.google.com/automotivesservice.blogspot.com)
Motor dua langkah bekerja dengan siklus dua kali lebih cepat dari jumlah
siklus motor empat langkah, sehingga dapat menghasilkan daya dua kali lebih
besar dari daya empat langkah dengan tekanan efektif rata-rata yang sama pada
putaran poros dan ukuran serta jumlah silinder yang sama.
2. Motor Bakar Bensin 4 langkah
Mesin empat yang langkah (four stroke engine) ditemukan oleh Nikolaus
Otto di 1876, oleh karena karenanya mesin ini disebut mesin Otto (Otto cycle).
Motor 4 langkah merupakan suatu mesin yang dalam satu siklus kerjanya terdiri
dari langkah hisap,langkah kompresi, langkah kerja, langkah buang. Dimana saat
pada langkah hisap katup hisap terbuka,sehingga udara dan bahan bakar masuk ke
ruang bakar. Serta selanjutnya di lakukan langkah kompresi oleh poros, dan saat
tekanan ruang bakar menjadi sangat tinggi diberi loncatan bunga api yang
menyebabkan terjadinya ledakan bahan bakar sehingga terjadi langkah kerja. Saat
piston mencapai titik mati bawah setelah melakukan langkah kerja, maka katup

Motor bakar bensin
Kelompok 12 27

buang terbuka dan terjadi langkah buang, di mana gas buang di keluarkan dari
ruang bakar. Secara lebih jelasnya dapat diamati dari gambar 2.31 di bawah ini :



Gambar 2.32 Prinsip kerja motor 4 tak
(sumber : www.google.com/automotivesservice.blogspot.com)

Proses kerja motor bakar bensin 4 langkah adalah sebagai berikut :
a. Langkah isap


2. Langkah kompresi
Langkah ini diawali dengan pergerakan
piston dari titik mati atas (TMA) menuju
titik mati bawah (TMB), katup isap
terbuka dan katup buang tertutup.
Melalui katup isap, campuran bahan
bakar bensin-udara masuk ke dalam
ruang bakar. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada gambar 2.33.

Gambar 2.33 Proses langkah hisap
(sumber : www.indonetwork.co.id)

Motor bakar bensin
Kelompok 12 28

Poros engkol berputar menggerakan
torak ke TMA setelah mencapai TMB.
Katup masuk dan katup buang tertutup.
Campuran udara bahan-bakar
dikompresikan, tekanan dan temperatur
di dalam silinder meningkat, sehingga
campuran ini mudah terbakar. Proses
pemampatan ini di sebut juga langkah
tekan, yaitu ketika torak bergerak dari
TMB menuju TMA dan kedua katup
tertutup. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada gambar 2.34.

Gambar 2.34 Proses langkah kompresi
(sumber : www. indonetwork.co.id)

3. Langkah kerja
Dikala berlangsungnya langkah kerja
ini, kedua katup tertutup. Pada waktu
torak mencapai TMA, timbullah
loncatan bunga api listrik dari busi dan
membakar campuran udara-bahan bakar
yang bertekanan dan bertemperatur
tinggi sehingga timbul ledakan,
akibatnya torak terdorong menuju TMB
sekaligus menggerakkan poros engkol
sehingga diperoleh kerja mekanik.
Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
gambar 2.35.

Gambar 2.35 Proses langkah kerja
(sumber : www.indonetwork.co.id)




4. Langkah buang

Motor bakar bensin
Kelompok 12 29

Setelah mencapai TMB poros engkol
menggerakkan torak ke TMA, volume
silinder mengecil. Pada saat langkah
buang katub masuk tertutup dan katu
buang terbuka. Torak menekan gas sisa
pembakaran ke luar silinder. Beberapa
saat sebelum torak mencapai TMA,
katup isap mulai terbuka dan beberapa
saat setelah bergerak ke bawah, katup
buang sudah menutup. Gerakan ke
bawah ini menyebabkan campuran
udara-bahan bakar masuk ke dalam
silinder, sehingga siklus tersebut terjadi
secara berulang. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat pada gambar 2.36.

Gambar 2.36 Proses langkah buang
(sumber : www.indonetwork.co.id)

Pada tabel 2.1 dapat dilihat perbedaan motor bakar bensin 4 langkah dan 2
langkah.
Tabel 2.1 Perbedaan Motor Bensin Empat Langkah dengan Dua Langkah
Deskripsi Mesin 4-tak Mesin 2-tak
Siklus termodinamik 4 gerakan piston 2 gerakan piston
Momen putar Kurang seragam Lebih seragam
Daya yang dihasilkan Lebih kecil Lebih besar
Pendinginan dan
pelumasan
Pendinginan
air/udara,sedikit
pelumasan
Pendinginan
gabungan,lebih
banyak pelumasan
Katup 2 katup satu katup
Biaya pembuatan Lebih mahal Lebih murah
Efisiensi volumetrik Lebih baik Lebih rendah
Efisiensi termal Lebih tinggi Lebih rendah
Aplikasi Alat-alat berat Alat-alat ringan
Konstruksi Lebih sederhana Lebih rumit

Motor bakar bensin
Kelompok 12 30

2.1.11 Beda Motor Bakar Diesel Dan Bensin
Tabel 2.2 Perbedaan Diesel Dan Bensin
No. Deskripsi Mesin Bensin Mesin Diesel
1
Siklus
dasar
Bekerja pada siklus otto atau
pemasukan panas pada
volume konstan
Bekerja pada siklus diesel
atau siklus pemasukan panas
pada volume konstan
2
Bahan
bakar
Bensin, temperatur
pengapian tinggi
Minyak diesel, temperatur
pengapian rendah


3
Pemasukan
Bahan
bakar
Campuran udara-bahan
bakar dimasukkan selama
tahap isap
Bahan bakar diinjeksi secara
langsung ke ruang bakar
pada tekanan tinggi
pada akhir tahap kompresi

4 Kontrol
Katup mengatur jumlah
bahan bakar dan udara yang
masuk dan keluar
Jumlah bahan bakar diatur,
udara tidak diatur
5 Pengapian
Membutuhkan system
pengapian dgn busi diruang
bakar. Tegangan awal
diberikan oleh Aki atau
magnet
Pembakaran terjadi karena
adanya temperatur tinggi,
karena adanya kompresi
tinggi
6
Rasio
6 sampai 10 16 sampai 20
kompresi
7 Kecepatan
Mesin kecepatan tinggi
karena adanya
pembakaran homogen
Mesin kecepatan rendah
karena
pembakaran tidak homogen
8
Efisiensi
Rendah Tinggi
termal
9
Berat Lebih ringan Lebih Berat


2.1.12 Sistem Electric Fuel Injection dan VVTI
Pada motor bakar bensin telah dikembangkan jenis teknologi yang dapat
mengatur sistem distribusi bahan bakar kedalam ruang bakar. Teknologi tersebut
adalah :
1. Teknologi EFI (Electric Fuel Injection)
Teknologi EFI sebetulnya erat kaitannya dengan sistem manajemen engine
(SME). Engine di sini bukan dalam arti mesin, terjemahan dari kata machinery,

Motor bakar bensin
Kelompok 12 31

melainkan motor bakar. Di sinilah bahan bakar minyak (BBM) dicampur dengan
udara untukmenghasilkan gaya gerak yang membuat mobil bisa melaju.
SME muncul seiring dengan menipisnya persediaan bahan bakar minyak sehingga
menuntut engine yang semakin efisien tanpa kehilangan kinerja yang
dihasilkannya.
Engine yang ideal membakar jumlah bahan bakar sesuai dengan kebutuhan
serta menyalakan busi pada saat yang tepat sesuai dengan kondisi operasi. Dari
sini didapatkan efisiensi pemakaian bahan bakar yang optimal pada setiap kondisi
operasi dari engine. Kondisi ini akan menghasilkan emisi gas buang lebih baik.
Begitupun dengan sistem pengapian, arus listrik dari ignition coil
disalurkan ke masing-masing busi melalui distributor. Di sini terdapat mekanisme
untuk memajukan atau memundurkan waktu pengapian agar sesuai dengan
kondisi engine, yang merupakan gabungan dari vacuum advancer dan centrifugal
advancer. Namun, sebagaimana karburator, sistem distributor konvensional ini
juga punya keterbatasan, karena hanya optimum pada daerah operasi yang terbatas
sesuai dengan karakteristik engine. Salah satu contoh penggunaan teknologi EFI
dapat dilihat pada gambar 2.37.


Gambar 2.37 Teknologi EFI pada mesin
(sumber : www.google.com/wiringdiagram21.com)
2. Teknologi VVT-i
Tinjauan dasar VVT-i adalah mengoptimalkan torsi mesin pada setiap
kecepatan dan kondisi pengemudian yang menghasilkan konsumsi BBM yang

Motor bakar bensin
Kelompok 12 32

efisien dan tingkat emisi bahan bakar yang sangat rendah. Teknologi VVT-i
merupakan teknologi yang mengatur sistem kerja katup pemasukan bahan bakar
(intake) secara elektronik baik dalam hal waktu maupun tutup katup sesuai dengan
besar putaran mesin sehingga menghasilkan tenaga yang optimal, hemat bahan
bakar dan ramah lingkungan. Konstruksi penggunaan teknologi VVT-i pada
mesin toyota dapat dilihat pada gambar 2.38.


Gambar 2.38 Konstruksi VVT-i pada mesin Toyota.
(sumber : www.google.com/wiringdiagram21.com)
Itulah sebabnya kendaraan bermesin teknologi VVT-i sanggup
menghasilkan tenaga yang besar sekalipun kapasitas cc slinder mesin kecil.
Cara kerjanya cukup sederhana. Untuk menghitung waktu buka tutup
katup (valve timing) yang optimal, ECU (Electronic Control Unit) menyesuaikan
dengan kecepatan mesin, volume udara masuk, posisi throttle (akselerator) dan
temperatur air. Agar target valve timing selalu tercapai, sensor posisi chamshaft
atau crankshaft memberikan sinyal sebagai respon koreksi.
Mudahnya sistem VVT-i akan terus mengoreksi valve timing atau jalur
keluar masuk bahan bakar dan udara. Disesuaikan dengan pijakan pedal gas dan
beban yang ditanggung demi menghasilkan torsi optimal di setiap putaran dan
menghemat konsumsi BBM. Bentuk penggunaan VVT-i pada mesin toyota dapat
dilihat pada gambar 2.40 beriku ini.

Motor bakar bensin
Kelompok 12 33


Gambar 2.39 Penggunaan VVT-i pada mesin toyota
(sumber : www.google.com/wiringdiagram21.com)
3. Teknologi i-VTEC
VTEC (Variable valve Timing and lift Electronic Control) adalah
teknologi yang menggabungkan elektronika dan mekanisme untuk mengatur
waktu buka katup masuk (intake) sehingga kecepatan masuk campuran antara
bahan bakar dan udara tetap terjaga dalam setiap rentang putaran mesin. Mesin ini
dirancang untuk dapat meningkatkan performa dibandingkan efisiensi yang
mampu mencapai torsi puncak pada rpm tinggi. Tapi, masih tetap menawarkan
kombinasi yang bagus baik untuk performa maupun hemat bahan bakar.

Gambar 2.40 Penggunaan VTEC pada mesin Honda Jazz
(Sumber : http://www.situsotomotif.com/short-circuit/general-topic/perbedaan-
mesin-vtec-dan-i-dsi)
2.1.13 Sistem Pendingin Pada Motor Bakar

Motor bakar bensin
Kelompok 12 34

Pada motor bakar torak, energi kimia yang tersimpan dalam bahan bakar
diubah menjadi energi thermal pada saat pembakaran. Energi termal ini
selanjutnya diubah menjadi energi mekanik berupa gerak translasi torak dan gerak
rotasi poros engkol. Adanya pendinginan akan menyebabkan pengurangan besar
energi termal sehingga pendinginan akan menurunkan efisiensi panas.
Pendinginan harus ada karena dengan tidak adanya pendinginan akan
menyebabkan silinder dan torak menjadi terlalu panas sehingga dapat
mengakibatkan :
1. Campuran bahan bakar dan udara yang dihisap oleh torak pada motor
bensin dapat terbakar sendiri pada saat langkah kompresi (preignition),
2. Pelumasan akan terganggu karena minyak pelumas dapat ikut terbakar
sehingga torak macet yang dapat menimbulkan kerusakan pada silinder
dan torak.
Dengan demikian, meskipun sebetulnya pendinginan itu merugikan
(mengurangi efisiensi panas) pada motor bakar torak harus ada pendinginan.
Sistem pendinginan (cooling system) motor bakar torak (motor bensin dan motor
diesel) didesain terutama untuk:
1. Mengatur suhu operasi,
2. Mencegah panas berlebihan (overheating).
Dengan adanya pengaturan suhu operasi dalam sistem pendinginan maka:
1. Operasi engine akan terjaga pada tingkat panas terbaik,
2. Engine akan terlindungi dari operasi terlampau dingin yang dapat
mengakibatkan keausan dan pemborosan konsumsi bahan bakar, dan
3. Engine terlindung dari preignition, detonasi (peletusan), ketukan (knock),
dan kerusakan pada torak, katup-katup, dan pelumasan.
Bahan pendingin yang umum digunakan pada motor bakar torak adalah udara
dan air. Pendinginan dengan udara disebut juga pendinginan langsung karena
udara langsung mendinginkan bagian yang didinginkan. Pendinginan dengan air
disebut pendinginan tidak langsung karena air mendinginkan bagian yang
didinginkan, sedangkan air itu sendiri didinginkan oleh udara.
Pendinginan motor bakar torak dengan media udara terdiri atas:
1. Pendingin udara stasioner

Motor bakar bensin
Kelompok 12 35

Proses pendinginan pada pendingin udara stasioner ditempuh dengan cara
menghadirkan udara melalui hembusan kipas (fan, atau blower) untuk
mendinginkan sirip-sirip pendingin di sekeliling dinding silinder. Bentuk
konstruksi sistem pendingin ini dapat dilihat pada gambar 2.40.

Gambar 2. 41 Konstruksi pendingin udara stasioner
(sumber : www.google.com/alimijoireng.blogspot.com)
2. Pendingin udara dinamis.
Proses pendinginan pada pendingin udara dinamis ditempuh
dengan cara menghadirkan udara melalui gerakan dinamis dari engine
pada saat dijalankan dengan kecepatan yang cukup tinggi, sehingga pada
saat berhenti atau diam di tempat tidak akan terjadi pendinginan. Bentuk
konstruksi sistem pendingin ini dapat dilihat pada gambar 2.41.

Gambar 2.42 Konstruksi pendingin udara dinamis
(sumber : www.google.com/automotivesservice.blogspot.com)

Pendinginan motor bakar torak dengan media air ditempuh dengan cara:
1. Penguapan,
Pendinginan penguapan (tipe hopper) merupakan cara pendinginan
dengan air yang paling sederhana. Dinding silinder yang akan didinginkan
berada di dalam bak (hopper) yang dapat diisi dengan air dan terbuka

Motor bakar bensin
Kelompok 12 36

bagian atasnya. Bentuk konstruksi sistem pendingin ini dapat dilihat pada
gambar 2.42.

Gambar 2.43 Konstruksi pendingin tipe hopper
(sumber : www.google.com/transkonigt.blogspot.com)
2. Kondensasi
Pendinginan secara kondensasi (tipe kondensor) mendinginkan
silinder dengan cara mendinginkan uap air yang bergerak ke atas masuk ke
dalam pipa-pipa kondensor. Bentuk konstruksi sistem pendingin ini dapat
dilihat pada gambar 2.43.

Gambar 2.44 Konstruksi pendingin tipe kondensor
(sumber : www.google.com/transkonigt.blogspot.com)
3. Peredaran alami
Pendinginan yang terjadi secara alami dimana air mengalir dari temapt
tinggi ke tempat yang rendah.

4. Peredaran paksa (radiator)
Pendinginan dengan peredaran paksa (tipe radiator) mendinginkan silinder
dengan cara mendinginkan air panas yang mengalir secara paksa oleh

Motor bakar bensin
Kelompok 12 37

pompa air. Sepintas konstruksi pendingin tipe radiator ini hampir sama
dengan tipe thermosiphon, perbedaannya terletak pada ada dan tidaknya
pompa air, sebagaimana ditunjukkan dalam gambar 2.44.

Gambar 2.45 Konstruksi pendingin tipe radiator
(sumber : www.google.com/transkonigt.blogspot.com)
2.1.14 Sistem Karburasi.
Pada dasarnya karburator bekerja menggunakan Prinsip Bernoulli:
semakin cepat udara bergerak maka semakin kecil tekanan statisnya namun makin
tinggi tekanan dinamisnya. Pedal gas pada mobil sebenarnya tidak secara
langsung mengendalikan besarnya aliran bahan bakar yang masuk kedalam ruang
bakar. Pedal gas sebenarnya mengendalikan katup dalam karburator untuk
menentukan besarnya aliran udara yang dapat masuk kedalam ruang bakar. Udara
bergerak dalam karburator inilah yang memiliki tekanan untuk menarik serta
bahan bakar masuk kedalam ruang bakar.
Kebanyakan mesin berkarburator hanya memiliki satu buah karburator,
namun ada pula yang menggunakan satu karburator untuk tiap silinder yang
dimiliki. Bahkan sempat menjadi trend modifikasi sepeda motor di Indonesia
penggunaan multi-carbu (banyak karburator) namun biasanya hal ini hanya
digunakan sebagai hiasan saja tanpa ada fungsi teknisnya. Mesin-mesin generasi
awal menggunakan karburator aliran keatas (updraft), dimana udara masuk
melalui bagian bawah karburator lalu keluar melalui bagian atas. Keuntungan
desain ini adalah dapat menghindari terjadinya mesin banjir, karena kelebihan

Motor bakar bensin
Kelompok 12 38

bahan bakar cair akan langsung tumpah keluar karburator dan tidak sampai masuk
kedalam intake mainfold; keuntungan lainnya adalah bagian bawah karburator
dapat disambungkan dengan saluran oli supaya ada sedikit oli yang ikut kedalam
aliran udara dan digunakan untuk membasuh filter udara; namun dengan
menggunakan filter udara berbahan kertas pembasuhan menggunakan oli ini
sudah tidak diperlukan lagi sekarang ini. Konstruksi karburator pada sistem
karburasi dapat dilihat pada gambar 2.45.


Gambar 2.46 Konstruksi karburator
(sumber : www.google.com/carburatorsystem.blogspot.com)
2.1.15 Sistem Supercharger dan Turbocharger
Supercharger adalah sebuah kompresor yang digunakan dalam mesin
pembakaran dalam untuk meningkatkan keluaran tenaga mesin dengan
meningkatkan massa oksigen yang memasuki mesin. Energi untuk memutar sudu
kompresor berasal dari putaran mesin. Adapun tipe-tipe dari supercharger ini
adalah sebagai berikut:

Positive Displacement Compressor
Supercharging jenis ini mengkompres udara secara sedikit demi
sedikit secara terus menerus melalui screw, yang kemudian dialirkan ke
ruang bakar, arah masuk dan keluarnya udara adalah searah. Untuk lebih
jelasnya dapat dilihat pada gambar 2.46.

Motor bakar bensin
Kelompok 12 39


Gambar 2.47 Positive Displacement Compressor
(sumber : www.google.com/machinesystem.com)
Dynamic Compressor
Supercharger jenis ini mengkompres udara dengan menggunakan
impeller, arah masuknya dan keluaran udara tegak lurus. Konstruksi dari
Dynamic Compressor dapat dilihat pada gambar 2.47.

Gambar 2.48 Dynamic Compressor
(sumber : www.google.com/machinesystem.com)
Dynamic Compressor terbagi atas tiga, yaitu :
Centrifugal Type Supercharger
Tipe supercharger sentrifugal adalah mesin yang
digerakkan oleh kompresor digunakan untuk meningkatkan output
daya dari mesin pembakaran internal dengan meningkatkan jumlah
yang tersedia oksigen melalui udara kompresi yang masuk
engine. Jenis supercharger ini secara praktis identik dalam operasi
dengan turbocharger , dengan pengecualian bahwa untuk
mendorong gas buang kompresor melalui turbin , kompresor
digerakkan dari poros engkol dengan roda gigi, sabuk atau drive
rantai. Supercharger jenis sentrifugal sering dijumpai aplikasinya

Motor bakar bensin
Kelompok 12 40

pada mesin mobil atau kendaraan dalam tenaga skala cukup besar.
Konstruksinya dapat dilihat pada gambar 2.48 berikut ini.





Gambar 2.49 Centrifugal type supercharger dan aplikasinya
(sumber : www.google.com/machinesystem.com)
Roots Type Supercharger
Roots-type supercharger sederhana dan banyak digunakan. Hal ini
juga bisa lebih efektif daripada supercharger alternatif untuk
mengembangkan intake manifold tekanan positif (yaitu, di atas
tekanan atmosfer) pada kecepatan mesin rendah, menjadikannya
pilihan populer untuk digunakan. Puncak torsi dapat dicapai sekitar
2000 rpm. Konstruksi supercharger jenis Roots ini dapat dilihat
pada gambar 2.49.





Gambar 2.50 Roots type supercharger
(sumber : www.google.com/machinesystem.com)
Vane Type Supercharger
Vane type supercharger sangat jarang digunakan pada mobil,
namun desain ini muncul di aplikasi lain. Supercharger tipe ini
jauh lebih rumit dari paada jenis super charger lain. Kompleksitas
membuat tipe ini sulit untuk diservis. Supercharger ini memiliki
Roots supercharger
Rotor
Inlet
Outlet
Diffuser
Impeler
Air Inlet
Outlet
Volute casing
Centrifugal Type of Supercharger

Motor bakar bensin
Kelompok 12 41

efisiensi adibatik sangat tinggi, namun memiliki beberapa
kekurangan seperti adanya gesekan. Konstruksi supercharger jenis
Vane ini dapat dilihat pada gambar 2.50.






Gambar 2.51 Vane type supercharger
(sumber : www.google.com/machinesystem.com)
Perbandingan antara ketiga dynamic superchargers
Centryfugal type cocok digunakan hanya untuk mesin yang berkecepatan
rendah
Roots type simpel pada konstruksinya,minimum dalam perawatan,dan
umur yang panjang
Vane type memiliki masalah khusus sesuai dengan pemakaiannya dengan
waktu
Pada gambar 2.51 dapat dilihat bentuk diagram P-v dari mesin yang telah
menggunakan supercharger dalam konstruksinya.







Inlet
Outlet
Body
Vanes
D
ru
m
Vane type supercharger
Negative (supercharger work)
Positive (gas exchange work)
P
r
e
s
s
u
r
e
Volume
1
4 3
2
5
6
7
8
10
11 12
9
Vs Vc

Motor bakar bensin
Kelompok 12 42




Gambar 2.52 Diagram P v pada mesin yang menggunakan supercharger

Kerja yang dihasilkan dalam siklus mesin supercharger
W
sc
= Engine work output
(+ve)
+ Gas exchange work
(+ve)
Supercharger
work
(-ve)

Daya tersebut dapat disuplai dari :
Pengendali tersendiri dengan motor atau prime over lainnya untuk
supercharger
Koneksi Supercharger ke poros keluaran mesin
Gas buang yang mengendalikan turbin disebut turbocharging
Turbosupercharger atau turbocharger mempunyai fungsi sama dengan
supercharger. Bedanya terletak pada pemutar kompresor yang diputar dengan
mengggunakan turbin. Turbin tersebut diputar dengan memanfaatkan energi dari
gas buang atau gas hasil pembakaran. Pada gambar 2.52 dapat dilihat bentuk
konstruksi dari turbosupercharger atau turbocharger.


Motor bakar bensin
Kelompok 12 43


Gambar 2.53 Turbosupercharger atau Turbocharger
(sumber : www.google.com/charger-superturbo.blogspot.com)

Pada gambar 2.53 dapat dilihat skema dari pemasangan (instalasi)
turbosupercharger pada motor torak.

Gambar 2.54 Skema Instalasi Motor Torak Dengan Turbosupercharger
(sumber : www.google.com/charger-superturbo.blogspot.com)

Keuntungan dari Supercharger & Turbocharger
1. Meningkatkan tenaga mesin
2. Mengurangi biaya bahan bakar karena:

Motor bakar bensin
Kelompok 12 44

a. Tekanan udara yang masuk silinder sudah tinggi melebihi tekanan
atmosfer sehingga proses pencampuran bahan bakar dan udara lebih
mudah. Mengurangi berat pada suatu daya tertentu.
b. Kecepatan udara masuk ruang bakar begitu tinggi sehingga terjadi
aliran turbulen dalam ruang bakar yang memudahkan pencampuran
bahan bakar dan udara.
3. Sangat bermanfaat pada mesin diesel karena tekanan dalam silinder akan
tetap tinggi.
4. Menghemat energi karena energi yang terkandung dalam gas buang masih
dapat dimanfaatkan melalui turbocharger.
5. Induksinya tinggi terhadap massa besar.
6. Dapat mengontrol pemakaian bahan bakar.
7. Baik dalam mencampurkan bahan bakar.
8. Memiliki tenaga output yang besar
9. Mudah ditemukan di pasaran.
10. Dapat menahan torsi lebih pada putaran tertentu.
11. Cepat menaikkan percepatan kendaraan.
12. Pembakarannya halus.
13. Operasi mesin bagus dan dapat mereduksi diesel knocking.
14. Meningkatkan ledakan pada ruang bakar motor bensin.
15. Meningkatkan proses pendinginan.
16. Mengurangi gas buang
17. Meningkatkan pengeluaran panas dan turbulensi
18. Meningkatkan muatan gas
19. Meningkatkan pendinginan pada piston dan katup.








Motor bakar bensin
Kelompok 12 45

Aplikasinya:









Gambar 2.55 Aplikasi supercharger
(sumber : www.google.com/charger-superturbo.blogspot.com)

2.1.16 Fenomena Knocking
Knocking merupakan fenomena yang cenderung dihindari pada tahap
perancangan maupun operasional dari mesin. Kondisi knocking dapat
menyebabkan terjadinya kerusakan pada beberapa komponen mesin seperti :
1. Piston berlubang
2. Ring piston rusak
3. Gasket pada silinder aus
Kendala ini menjadi hal yang membatasi terhadap pencapaian daya output
mesin yang optimal. Salah satu contoh dapat kita lihat kerusakan piston akibat
knocking pada gambar 2.55 berikut ini.

Gambar 2.56 Kerusakan piston akibat knocking
(sumber : google.com/knockcause.blogspot.co.id)

Motor bakar bensin
Kelompok 12 46

Adapun variabel-variabel yang menyebabkan terjadinya knocking ada
beberapa faktor penyebabnya yaitu :
1. Spark Angle atau sudut pengapian,
2. Beban. Beban yang terlalu besar dapat menyebabkan bahan bakar terbakar
sebelum waktunya atau sebelum mencapai titik nyala bahan bakar.
3. Laju bahan bakar tidak merata.
4. Tekanan pada inlet manifold. Perbandingan kompresi yang tinggi, tekanan
kompresi, suhu pemanasan campuran dan suhu silinder yang tinggi.
Dengan megetahui pola knocking, mesin bisa dioperasikan nantinya mendekati
batas gar's knocking sehingga akan diperoleh efisiensi dan daya output yang lebih
besar.
Cara mengatasi knocking:
1. Untuk mesin keluaran terbaru, coba mengganti atau bahan bakar
premium dengan pertamax
2. Memajukan tingkat pengapian
3. Memindahkan transmisi ke transmasi yang lebih rendah
4. Pada mesin yang talah mencapai waktu pemakaian 150.000 km,
lakukan pembersihan karbon yang ada pada silinder
5. Memperbaiki desain bentuk ruang pembakaran.
6. Memperbaiki sistem injeksi bahan bakar.



Motor bakar bensin
Kelompok 12 47

2.2 Teori Dasar ALat Ukur
Pada praktikum motor baker bensin ini, ada beberapa alat ukur yang digunakan,
seperti :
1. Tachometer
Tachometer digunakan untuk mengukur kecepatan putaran suatu poros /
benda. Tachometer terbagi atas dua jenis, yaitu :
a. Tachometer mekanik, digunakan dengan menempelkan ujung
sensor tachometer pada permukaan poros yang akan diukur.
b. Tachometer dengan sensor infra merah, sinar infra merah tadi
diarahkan ke poros yang berputar dan diperoleh pembacaan berupa
angka pada layar tachometer
Kedua alat ini dapat dilihat pada gambar.

Tachometer Mekanik Tachometer Digital
Gambar 2.57 Tachometer
(sumber : www.wikipedia.com/tachometerfuntion)
Sedangkan tachometer yang digunakan dalam praktikum motor bakar
bensin ini adalah tachometer digital.

2. Termometer
Termometer berfungsi untuk mengukur temperatur. Termometer
juga terbagi atas dua. Yaitu termometer digital dan termometer cairan.
Kedua termometer ni dapat dilihat pada gambar.

Motor bakar bensin
Kelompok 12 48


Termometer Digital Termometer Cairan (Raksa)
Gambar 2.58 Termometer
(sumber : www.wikipedia.com/termometerfunction)
Pada praktikum motor bakar bensin termometer digunakan untuk
mengetahui temperatur udara masuk karburator, temperatur gas buang,
temperatur air masuk radiator dan temperatur air keluar radiator.
Termometer yang difungsikan adalah termometer digital.
3. Manometer
Manometer merupakan alat ukur tekanan yang konstruksinya
terdiri dari dua buah pipa yang berisi cairan berupa air atau air raksa. Pada
sisi bagian dalam tampilan manometer dilengkapi dengan skala yang telah
dikalibrasi dengan tekanan yang diberikan oleh cairan raksa. Manometer
raksa ini dapat dilihat pada gambar 2.58.







Gambar 2.59 Manometer Raksa
(sumber : www.wikipedia.com/funtionofmanometer)
4. Volumetrik
Alat ukur ini digunakan untuk mengetahui seberapa banyak
volume fluida yang keluar dari sistem pendingin sehingga dapat diketahui
debit fluida tersebut. Volumetrik yang umum digunakan dapat dilihat pada
gambar 2.59 di bawah ini.

Motor bakar bensin
Kelompok 12 49








Gambar 2.60 Volumetrik
(sumber : www.wikipedia.com/volumetricfunction)
5. Stopwatch
Stopwatch digunakan untuk mengukur waktu. stopwatch terbagi atas dua
jenis, yaitu :
a. Stopwatch digital yang merupakan salah satu alat elektronik dan
pembacaan skalanya dapat dilihat pada layar.
b. Stopwatch mekanik yang memanfaatkan putaran roda gigi untuk
memutar jarum penunjukskalanya.
Kedua jenis stopwatch tersebut dapat dilihat pada gambar 2.60

Stopwatch Digital Stopwatch Mekanik
Gambar 2.61 Stopwatch
(sumber : www.wikipedia.com/stopwatchguna.blogspot)
Pada praktikum motor bakar bensin ini stopwatch digunakan untuk
mengukur waktu yang diperlukan pada setiap cc pemakaian bahan bakar
dalam detik dan itu menggunakan stopwatch digital.

Motor bakar bensin
Kelompok 12 50

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
3.1 Gambar Peralatan


Gambar 3.1 Skema Alat Pengujian

3.2 Alat Ukur
a. Tachometer
b. Stop Watch
c. Termometer digital
d. Dinamometer Brake

3.3 Asumsi-asumsi.
1. Siklus otto ideal.
2. Tekanan pada silinder diatas tekanan atmosfer.
3. Temperatur lingkungan konstan



Motor bakar bensin
Kelompok 12 51

3.4 Prosedur percobaan
Sebelum melakukan pengujian, perlu dilakukan beberapa tahap pengerjaan
sebagai berikut :
1. Periksa tangki bahan bakar, apakah telah diisi. Dan periksa air pendingin
pada radiator serta minyak pelumas motor.
2. Hidupkan blower pendingin rem.
3. Buka katup bahan bakar dan katup bahan bakar ke karburator.
4. Sebelum mesin dijalankan periksa sekali lagi kondisi motor dan komponen
lainnya agar pengujian dapat dilakukan dengan lancar.

Pengujian Motor Bensin
1. Hidupkan motor dengan menekan tombol ON pada panel instrumen.
2. Buka katup gas secukupnya. (Prosedur menghidupkan dan mematikan
motor harus dilakukan dengan baik agar tidak terjadi kerusakan dan
kesalahan pada komponen alat uji)
3. Selanjutnya pengujian dapat dilakukan pada berbagai kondisi seperti
berikut :

a. Katup gas berubah, beban konstan.
b. Beban berubah, katup gas konstan.
c. Beban dan katup gas berubah, putaran konstan.
4. Pada setiap operasi, dilakukan pengamatan terhadap :
a. Momen puntir
b. Putaran poros
c. Pemakaian bahan bakar
d. Perbedaan tekanan pada manometer
e. Temperatur gas buang
f. Temperatur kamar (konstan)
g. Temperatur air masuk radiator
h. Temperatur air keluar radiator
i. Debit aliran air masuk radiator

Motor bakar bensin
Kelompok 12 52

Teknik pengujian dan pengukuran
Setelah motor dijalankan, pengujian dapat dilakukan dengan membuka
katup gas pada posisi yang diingini. Pada bukaan katup gas konstan prosedur
pengukuran prestasi mesin adalah :
1. Atur katup gas pada posisi tertentu maka putaran poros akan naik.
2. Motor mulai dibebani dengan mengatur beban pada dinamometer-brake
sampai pada putaran tertentu
3. Setelah keadaan alat uji dalam keadaan stabil, dilakukan pengamatan
terhadap parameter parameter sebagai berikut :
a. Putaran poros, n (rpm)
b. Pembebanan pada rem, F (kgf)
c. Ah manometer tabung-U (mm)
d. Waktu pemakaian bahan bakar (second)
e. Temperatur gas buang (C)
f. Temperatur air masuk radiator (C)
g. Temperatur air keluar radiator (C)
h. Volume aliran air masuk radiator setiap waktu 10 detik (liter)
4. Selanjutnya putaran motore dapat dinaikkan dengan mengurangi beban
pada Dinamometer-brake.
5. Data dapat diambil pada putaran motor yang berbeda-beda. Posisi katup
konstan.
6. Untuk posisi katup gas berubah, cara pengujian dan pengukuran sama
dengan diatas.
7. Setelah pengujian selesai. Catat tekanan dan temperatur udara sekeliling.
8. Matikan motor dengan menekan tombol OFF pada panel instrumen.



Motor bakar bensin
Kelompok 12 53

BAB IV
DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Data Percobaan
Putaran Beban P udara
(rpm) (kg) Vol (ml) t (s) (mm) T in (
o
C) T out (
o
C) t Vol (m
3
)
1 1400 1.5 10 22 1 54 51 22 0.015 86
2 1600 1.5 10 16.84 2 56 54 16.84 0.009 96
3 1800 1 10 14.22 3 63 58 14.22 0.005 103
4 2000 1 10 12.19 4 70 67 12.19 0.003 143
5 2200 0.9 10 12 5 72 69 12 0.002 154
6 2400 0.8 10 10.5 6 75 68 10.5 0.001 158
No.
Bahan Bakar
T gb (
o
C)
Air Pendingin




Padang, Januari 2012


(Asisten)


Motor bakar bensin
Kelompok 12 54

4.2 Contoh Perhitungan.
Data ke-1
Data perhitungan :
n = 1400rpm
m = 1.5 kg
Volume bahan bakar = 10 ml
Waktu (t) = 22 s
T
in air


= 54 C = 327 K
T
out air


= 51 C = 324 K
t
gas buang
= 86 C = 359 K

A. Torsi Mesin ( T )

Nm m s m Kg T
l g m L F T
575 , 2 175 , 0 . / 81 , 9 . 5 . 1
. . .
2
= =
= =


B. Daya poros efektif (Ne)

KW rpm
s
x
Nm Ne
xnx T Ne
378 , 0 10 . 1400 .
60
14 . 3 2
575 , 2
10
60
2
3
3
= =
=

t

C. Tekanan efektif rata-rata.

kPa
rpmx x x
s kJ
Pe
a n z V
Ne
Pe
cm mm Vc
mm s
mm D
794 , 21 10 . 60 .
5 . 0 1400 4 35 . 371
/ 986 . 0
10 . 60 .
. . .
35 , 371 371350 73 . ) 5 , 80 ( 785 , 0
73
5 , 80
6
6
1
3 3 2
= =
=
= = =
=
=

D. Pemakaian bahan bakar.

jam kg jam kg x m kg x x
s
ml
m
jam kg x x
t
V
m
f
bb bb
/ 199 , 1 /
1000
3600
/ 9 . 732 10
22
10
/
1000
3600
3 3
= =
=




E. Laju aliran masa udara (mu)
m x mm x
m kg
m kg
h h
terbaca
oli
u 6
3
3
10 93 . 2 002 , 0
/ 45 . 813
/ 182 . 1
.

= = A = A



Motor bakar bensin
Kelompok 12 55


h m x x x
u
oli
h g V
u
/ 605 . 712 3600 . 1
19 . 1
45 . 813
. 10 93 . 2 . 81 . 9 2 3600 . 1 . . . 2
6
=
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|
A =



h kg
h
m
x
m
kg
Q m
h m h m x m V A Q
m
x d
A
u u u
u u
/ 666 . 1 4 . 1 182 . 1 .
/ 4 . 1 / 605 . 712 002 . 0 .
002 . 0
4
) 05 . 0 ( 14 . 3
4
3
3
3 2
2
2 2
= = =
= = =
= = =

t


G. Perbandingan bahan bakar udara

udara bb
u
bb
kg kg
h kg
h kg
m
m
A
F
/ 72 . 0
/ 666 . 1
/ 199 . 1
= = =
H. Efesiensi volumetrik (
v
)

% 244 . 2 % 100
/ 24 . 74
/ 666 . 1
% 100 .
/ 24 . 74
10 . 60 . . . . .
6
1
= = =
=
=
x
h kg
h kg
m
m
h kg m
a n z V m
ui
u
v
ui
ui ui
q


I. Efesiensi termal.

% 668 . 2
% 100 .
/ 42500
3600
/ 199 . 1
/ 985 . 0
% 100 .
.
3600
=
|
.
|

\
|
=
|
.
|

\
|
=
th
bb
th
kg kJ
h kg
s kJ
LHV
m
Ne
q
q


J. Kesetimbangan energy
a. Energi masuk
- Energi bahan bakar

kW
kg kJ hx kg
H
xLHV m H
f
f f
158 . 14
3600
/ 42500 / 199 . 1
3600 /
= =
=

- Energi Udara Masuk

( )
kW
K kgKx kJ hx kg
xT xC m
Hu
pu u
152 , 0
3600
327 / 005 . 1 / 666 . 1
3600
1
= = =



Motor bakar bensin
Kelompok 12 56

b. Energi Keluar
- Energi gas buang

( )
kW
K kgK kJ h kg h kg
H
T C m m
H
gb
gb pgb f u
gb
29 . 0
3600
359 / 0508 . 1 ) / 199 . 1 / 666 . 1 (
3600
. .
=
+
=
+
=

- Energi Poros Efektif

kW H
Ne H
Ne
Ne
378 . 0 =
=


- Energi Air pendingin.
h kg s m x m kg Q M
ap ap ap
/ 182 . 2420 ) 22 / 005 . 0 ( / 986 .
3 3
= = =
kW x x h kg T C m H
pa ap ap
30320 ) 324 237 ( 1876 . 4 . / 2420 . . = = A =
( ) ) (
gb ap Ne f u loss
H H H H H Q + + + =
kW KW KW Q
loss
395 . 30306 ) 290 . 0 038 . 30320 378 . 0 ( ) 158 . 14 152 . 0 ( = + + + =








Motor bakar bensin
Kelompok 12 57

4.3 Tabel Hasil Perhitungan
Putaran Beban P udara
(rpm) (kg) Vol (ml) t (s) (mm) T in (
o
C) T out (
o
C) t Vol (m
3
)
1 1400 1.5 10 22 1 54 51 22 0.015 86
2 1600 1.5 10 16.84 2 56 54 16.84 0.009 96
3 1800 1 10 14.22 5 63 58 14.22 0.005 103
4 2000 1 10 12.19 2 70 67 12.19 0.003 143
5 2200 0.9 10 12 3 72 69 12 0.002 154
6 2400 0.8 10 10.5 2 75 68 10.5 0.001 158
No.
Bahan Bakar
T gb (
o
C)
Air Pendingin
ma
n (rpm)


14.715 2.575 0.378 21.794 1.199 3.175 2.93E-06 712.605 0.002 1.400 1.666 0.720 74.240 2.244 2.668 14.158 0.152 0.290 0.378 2420.182 30320.038 -30306.395
14.715 2.575 0.432 21.794 1.567 3.630 2.93E-06 712.605 0.002 1.400 1.666 0.941 84.846 1.963 2.334 18.497 0.153 0.337 0.432 1897.055 15844.200 -15826.319
9.81 1.717 0.324 14.529 1.855 5.731 2.93E-06 712.605 0.002 1.400 1.666 1.114 95.452 1.745 1.478 21.905 0.156 0.374 0.324 1248.101 26060.354 -26038.991
9.81 1.717 0.360 14.529 2.164 6.017 2.93E-06 712.605 0.002 1.400 1.666 1.299 106.058 1.571 1.408 25.552 0.159 0.450 0.360 873.568 10944.066 -10919.164
8.829 1.545 0.356 13.076 2.199 6.174 2.93E-06 712.605 0.002 1.400 1.666 1.320 116.664 1.428 1.372 25.957 0.160 0.466 0.356 591.600 7411.565 -7386.269
7.848 1.373 0.345 11.624 2.513 7.277 2.93E-06 712.605 0.002 1.400 1.666 1.509 127.269 1.309 1.164 29.665 0.162 0.508 0.345 338.057 9882.086 -9853.113
T (Nm) F (N) Hap (KW) Q loss (KW) Hu (KW) Hgb (KW) Hne (KW) map mui v th Hf (KW) A Qu mu F/A mbb Sfc h Vu Ne (KW) Pe
mw
n (rpm)
n (rpm)



Motor bakar bensin
Kelompok 12 58


4.4 Grafik






Motor bakar bensin
Kelompok 12 59







Motor bakar bensin
Kelompok 12 60

















Motor bakar bensin
Kelompok 12 61

4.5 Analisa dan Pembahasan
Berdasarkan data yang diperoleh pada praktikum kemudian dilakukan
perhitungan dan diperoleh grafik maka dapat dianalisa sebagai berikut :
1. Daya poros vs putaran
Untuk putaran poros tida dapat dilihat pengaruhnya terhadap daya poros
karena hasil yang didapatkan tidak menunjukkan hubungan. Seharusnya
putaran motor yang besar akan menghasilkan gerakan bolak balik piston
yang cepat dan akibatnya putaran poros engkol juga semakin besar.
Putaran dari poros engkol ini akan ditransmisikan menjadi torsi dan
anantinya akan menghasilkan daya. Torsi yang besar akan menghasilkan
daya yang besar juga. Hasil dari praktikum ini tidak sesuai dengan teori
bisa disebabkan kesalahan dalam praktikum.
2. Daya poros vs laju pemakaian bahan bakar
Semakin besar daya poros maka laju pemakaian bahan bakar makin besar
dapat dilihat dari perhitungan dan grafik. Untuk menghasilkan satu
putaran, motor harus melakukan satu kali pembakaran bahan bakar dan
udara, jika putaran semakin banyak maka proses pembakaran juga
semakin cepat terjadi. Sehingga laju aliran masa bahan bakar yang
dibutuhkan untuk proses pembakaran juga semakin besar.
3. Daya poros vs efisiensi
Hubungan antara daya poros dan efisiensi termal adalah berbanding lurus
karena sesuai dengan rumus yang ada yaitu
% 100 .
.
3600
LHV
m
Ne
f
th
|
|
.
|

\
|
= q

Untuk mendapatkan efisiensi yang tinggi maka butuh daya yang besar dan
butuh putaran tinggi untuk mencapainya. Semakin besar daya poros maka
efisiensi termal motor juga makin besar. Tetapi dari data praktikum hasil
yang didapatkan berfluktasi bisa disebabkan oleh kesalahan praktikum





Motor bakar bensin
Kelompok 12 62

4. Putaran vs pemakaian bahan bakar
Laju aliran massa bahan bakar yang besar menghasilkan putaran motor
yang besar dan daya poros yang besar juga. Dapat dilihat dari hasil
perhitungan dan grafik
5. Putaran vs efisiensi termal
Seiring naiknya putaran maka efisiensi juga semakin naik. Hal ini terjadi
karena efisiensi termal merupakan fungsi daya dibagi konsumsi bahan
bakar. Sedangkan daya merupakan fungsi dari putaran dan torsi.



Motor bakar bensin
Kelompok 12 63

BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari percobaan dan perhitungan yang dilakukan dapat ditarik kesimpulan:
1. Semakin besar harga Ne maka energi yang hilang semakin kecil
sehingga efisiensi makin besar.
2. Semakin besar putaran motor maka bukaan katup makin besar
sehingga konsumsi bahan bakar semakin banyak.

5.2 Saran
Saran untuk praktikum selanjutnya agar dapat berjalan dengan baik maka
perlu diperhatikan yaitu alat yang digunakan saat percobaan benar-benar
dalam kondisi baik dan dapat digunakan sehingga bisa dilkaukan pengambilan
data dan mengerti kerja dari motor bakar bensin.