Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN Bioteknologi merupakan suatu penerapan ilmu dan rekayasa dalam mengelola bahan organic atau anorganik

dengan menggunakan jasa makhluk hidup seperti hewan, tumbuhan, maupun mikroba seperti jamur dan bakteri. Teknik bioteknologi dengan memanfaatkan makhluk hidup telah digunakan oleh nenek moyang kita, yakni pemanfaatan mikroba sebagai bahan pembuatan berbagai macam makanan seperti roti dan proses fermentasi pada alcohol. Dalam bioteknologi, peran mikroba sangat penting karena mampu mengubah bahan pangan menjadi bentuk lain. Selain mampu mengubah dalam bentuk lain, mikroba juga mampu menghasilkan obat-obatan sebagai vaksin ataupun berperan dalam bidang lain yang bermanfaat. (Zakrinal dan Purnama,2009) Seiring dengan berkembangnya zaman, para ilmuwan berusaha mengembangkan bioteknologi menjadi lebih modern. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi adalah sebuah fenomena dan fakta yang jelas dan pasti terjadi sebagai sebuah proses yang berlangsung secara terus-menerus bagi kehidupan global. Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan, menjadi semakin sulit untuk menentukan apa yang berguna dan apa yang berbahaya bagi masyarakat. Inilah mengapa bioteknologi termasuk rekayasa genetika telah menjadi focus begitu banyak perdebatan. (Mukarami,2004) Perkembangan ilmu bioteknologi telah memberikan kita kemudahan dalam merekayasa genetika tanaman baik untuk keperluan peningkatan produksi, keindahan/estetika maupun untuk menciptakan tanaman tesisten terhaadap penyakit. (Hartono,2011). teknologi rekayasa genetika yang telah diciptakan dalam dunia pertanian. Dalam makalah ini akan dibahas mengenai peranan teknologi rekayasa genetika dan berbagai macam

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Rekayasa Genetika Secara umum, rekayasa genetika adalah istilah dalam ilmu biologi yang artinya adalah usaha manusia dalam memanipulasi (rekayasa) sel atau gen yang terdapat pada suatu organisme tertentu dengan tujuan menghasilkan organisme jenis baru yang identic secara genetika.(Zmroni,2007) tidakan rekayasa genetika adalah tindakan sengaja untuk memodifikasi DNA (substansi kimiawi dalam kromosom yang bertanggung jawab atas pewarisan sifat). Teknik rekayasa genetika adalah suatu cara mengganti atau menambah DNA dari organisme lain ke susunan DNA asli dalam suatu sel dari suatu organisme. Pengembangan aplikasi bioteknologi pada tanaman sudah dimulai sejak sebelum tahun 1950-an dari mulai yang sederhana yakni proses perkawinan silang dan penyambungan tanaman untuk meningkatkan produksi dan peningkatan ketahanan terhadap penyakit tertentu. Sejak ditemukannya bahwa DNA merupakan material genetic suatu makhluk hidup tahun 1954, perkembangan aplikasi bioteknologi dibidang pertanian terus berkembang mulai dari tanaman hibrida yang mampu menghasilkan produksi maksimum dan tahan terhadap hama atau penyakit tertentu hingga berkembangnya teknologi kultur jaringan yang merupakan salah satu metode perbanyakan vegetatif tanaman yang memberikan efisiensi waktu dan juga menghasilkan bibit tanaman dalam jumlah yang besar. Keberhasilan rekayasa genetic tanaman dimulai dengan penciptaan tanaman transgenic. Tanaman ini disisipi dengan gen-gen ketahanan terhadap penyakit yang menjadi inang dan juga gen-gen peningkatan produksi dan kualitas produksi. 2.2 Aplikasi Teknik Rekayasa Genetika Dalam Pertanian 2.2.1 Teknik rekayasa genetika terhadap ketahanan tanaman Aplikasi teknik rekayasa genetic memiliki peluang besar untuk perbaikan sifat tanaman, khususnya ketahanan terhadap serangan hama dan penyakit tanaman. Melalui rekayasa genetika telah dihasilkan tanaman produk rekayasa genetic yang memiliki sifat baru seperti ketahanan terhadap serangga hama dan penyakit atau toleran

herbisida. Tanaman PGR (Produk Rekayasa Genetik) telah dikoersialkan luas pada tahun 1996 seluas 1,7 juta ha dan meningkat pesat menjadi 134 juta ha pada tahun 2009. Tanaman PGR yang dikomersialkan terdiri atas 4 kategori sifat, yakni tahan serangan hama (TSH), toleran herbisida (TH) gabungan sifat TSH dan TH (stacked genes), serta tahan virus pathogen. (herman,2008; James,2009; Herman,2010 ) Teknik rekayasa genetika telah berhasil diaplikasikan dengan baik dalam penelitian dan pengembangan diIndonesia, baik yang dilakukan oleh lembaga penelitian dan perguruan tinggi maupun badan usaha milik Negara dan perusahaan swasta. Perakitan tanaman PGR tahan cekaman biotik telah dilakukan oleh Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan (LIPI), Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB-Biogen), Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia. Institut Pertanian Bogor, Universitas Udayana, dan Universitas Brawijaya (Herman,2010). Di Indonesia, penelitian rekaya genetic untuk ketahanan hama atau penyakit terutama diarahkan pada tanaman padi, kentang dan tomat dengan status yang berbeda,ada yang baru taraf rumah kaca FUT da nada pula yang sudah di LUT (heran,2010). Penelitian perakitan padi PGR tahan hama penggerek batang dilakukan oleh BB-Biogen dan Puslit Bioteknologi LIPI. Prakitan padi PRG tahan PBP putih (Scirpophaga innotata) dan PBP kuning (S.incertulas) dimulai pada tahun 1997. Biogen menggunakan gen cry1A(b) dalam perakitan padi PRG untuk ketahanan terhadap hama penggerak batang. Selain menggunakan gen cry1A(b), tim peneliti juga menggunakan gen fusi cry1B- cry1A(a) dan gen cry1B dengan promoter gen terinduksi pelukaan. Hasil bioasai padi Bt yang positif menggandung gen cry1B- cry1A(a) dan gen cry1B terhadap hama PBP yang menunjukkan bahwa padi Bt mendapat serangan yang lebih rendah dibandingkan dengan padi non-Bt varietas Rojolele. Penelitian perakitan kentang PRG tahan penyakit hawar daun yang disebabkan oleh cendawan pathogen Phytophthora infestans dimulai pada tahun 2006. BB-Biogen telah menerima materi genetic yang berupa konstruksi gen RB dan kentang PRG varietas Katahdin event SP904 dan SP951 untuk penelitian lanjutan. Terdapat dua pendekatan yang ditempuh yakni,persilangan dan transformasi. Hasil studi sosial ekonomi (ex ante) Adiyoga (2009) dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran menunjukkan

bahwa untuk mengendalikan P.infestans, petani menggunakan fungisida sebanyak 20-30 kali per musim tanam. Apabila menggunakan varietas kentang tahan P.infestans, petani dapat menghemat biaya penyemprotan fungsida antara Rp. 4.097.625 (50%) sampai Rp.6.556.200 (80%) per musim tanam. 2.2.2 Teknik rekayasa genetika terhadap pemasakan buah Aplikasi bioteknologi dan teknologi DNA rekombinan dalam bidang pertanian telah menghasilkan banyak produk misalnya menghasilkan jenis yang unggul/varietas baru tanaman yang tahan serangan hama dan penyakit atau onfeksi pathogen, meningkatkan daya tahan atau resistensi jenis-jenis tanaman tertentu terhadap cekaman lingkungan (berupa kekeringan atau kelebihan air, perbedaan suhu, salinitas, pH, dll), menghasilkan produk yang tidak mudah busuk atau memperlambat pematangan buah untuk kepentingan komersial, dan masih banyak lagi produk-produk lain yang merupakan hasil dari teknologi rekayasa genetic dalam bidang teknologi pertanian. Buah yang pertama kali direkayasa secara genetic untuk konsumsi manusia adalah tomat yang direkayasa dengan gen antisens untuk memperlambat pembusukan. Buah tomat setelah dipanen akan meningkat tingkat kemasakannya dan bertambah dengan seiring perubahan biokimia dan fisiologi yang berlangsung dalam buah serta factor lingkungan juga berpengaruh. Melalui rekayasa gen antisens, maka pembusukan dapat diperlambaat atau ditunda sehingga buah dapat bertahan untuk jangka waktu yang lama, setidaknya sebelum buah dipasarkan. Jadi para petani tidak mengalami kerugian atas dasar karena pembusukan buah. Dengan adanya metode DNA rekombinan, sintesis gen (DNA) yan mengkode molekul RNA antisens dapat diintroduksi ke jenis-jenis organisme tertentu. Penerapan teknik antisense juga telah dilakukan pada tanaman tomat. Tomat-tomat yang diimpor ke Amerika Serikat, cepat sekali membusuk jika dipanen setelah matang. Padahal jika dipanen sebelum matnag rasanya kurang enak.. ternyata enzim pembusuk dihasilkan oleh tomat itu sendiri. Yang dilakukan oleh para ahliadalah menonaktifakan mRNA-nya dengan teknik antisens sehingga proses translasi tidak berlangsung. Dengan demikian, tentu saja protein (enzim) pembusuk tidak akan dibuat sehingga tomat pun dapat disimpan lebih lambat. Ini dilakukan dengan cara mengklon gen tomat yang

mengkode enzim yang bertanggung jawab atas pematangan. Setelah itu, suatu gen yang untai cetakannya memiliki urut-urutan basa yang komplementer dengan gen normal. Ketika disambung ke DNA tumbuhan tomat, gen antisense ditranskripsi menjadi RNA yang komplementer dengan gen pematangan mRNA. RNA antisense terikat dengan mRNA normal yang menghalangi sintesis enzim yang berfungsi dalam sintesis etilen. Suatu mekanisme lain dapat menunjukkan penggunaan gen antisens dan suatu mekanisme yang memungkinkan mRNA antisense menghambat ekspresi gen normal, misalnya gen yang mengkode pembentukan enzim yangmemacu sintesis etilen. Dengan terhambatnya sintesis etilen, maka pemasakan buah tentu saja akan terhambat sehingga memungkinkan buah-buah tersebut dapat bertahan dalam jangka waktu tertentu sebelum dipasarkan atau sebelum sampai ke konsumen. 2.3 Pengembangan Tanaman Transgenik Sampai saat ini sekitar seratus varietas tanaman disetujui untuk diuji cobakan atau ditanam. transgenik yang telah Tanaman tersebut dirancang untuk

mendapatkan serangkaian sifat yang lebih unggul daripada tanaman konvensional. Beberapa sifat tanaman transgenik yang penting adalah: a) Meningkatkan toleransi terhadap zat kimia tahan terhadap herbisida. tahan secara terhadap efektif. herbisida Tanaman herbisida dengan menggunakan tanaman yang Tanaman transgenik yang paling populer adalah yang Budidaya memungkinkan petani untuk mengendalikan gulma Monsanto, yaitu varietas b) kedelai

transgenik yang paling banyak ditanam adalah kedelai Roundup Ready produk yang tahan terhadap dengan merek Roundup (CSU, 2004). Meningkatkan ketahanan terhadap hama beberapa keuntungan antara Tanaman transgenik yang tahan hama menawarkan lain adalah: - Kebutuhan akan insektisida, tenaga kerja dan peralatan berkurang karena jaringan tanaman tersebut kebal terhadap hama. - Seluruh tanaman - Serangga terlindungi, termasuk bagian bagian tanaman seperti akar hama terkena dampak tetapi serangga yang yang tidak tersentuh semprotan pestisida. yang merupakan

menguntungkan tidak mati. - Pestisida berada di dalam tanaman, sehingga mencegah pencemaran membutuhkan insektisida tanah dan air tanah oleh herbisida. Kentang transgenik New Leaf produksi Monsanto yang tahan terhadap serangga dilaporkan 40 % lebih rendah, begitu pula dengan jagung transgenik produksi Novartis

menjadi tahan terhadap penggerek jagung Eropa berkat penyisipan gen-gen toksik dari bakteri Bacillus thuringiensis (Bt) (Consumers International, 2005). Transfer gen Bt juga melindungi tomat dari ulat, tembakau dari cacing, kapas dari cacing bol, dan kacang polong dari kumbang. c) Memperlambat pematangan 2004). Keunggulan dari tomat ini selain lambat pematangannya juga Tanaman yang berhasil ditunda proses pematangan buahnya adalah tomat FlavrSavr (CSU, proses pengolahannya menjadi pasta tomat lebih sederhana sehingga dapat mengurangi limbah dan penggunaan energi. d) Meningkatkan nilai gizi pangan yang vitamin A, yang menghasilkan Beberapa tanaman yang nilai gizinya dapat ditingkatkan adalah padi dimanipulasi untuk memproduksi beta karoten

kedelai dengan kadar asam lemak tak jenuh yang lebih rendah, buah strawberi yang lebih manis, dan meningkatkan zat tepung dalam kentang serta jagung agar lebih baik kualitasnya untuk dibuat keripik e) Beberapa tanaman seperti (CSU, 2004). Mengambil nitrogen dari udara kedelai, alfalfa dan jenis kacang-kacangan lainnya

memiliki kemampuan untuk memfiksasi nitrogen langsung dari udara dengan bantuan bakteri Rhizobium yang terdapat dalam bintil akar tanaman (Hurtado, 2005). Para ilmuwan menggunakan teknik DNA rekombinan untuk memi.ndahkan gen yang mempunyai kemampuan untuk memfiksasi nitrogen ke spesies tanaman yang tidak memiliki kemampuan tersebut. Teknik DNA rekombinan juga digunakan untuk merekayasa mikroba tanah agar dapat memfiksasi nitrogen. f) Menyesuaikan tanaman terhadap lingkungan buruk Bakteri Psedomonas telah berhasil digunakan untuk melindungi tanaman dari cuaca dingin, begitu pula dengan beberapa jenis tanaman seperti padi, melon, tomat dan

jewawut juga berhasil direkayasa untuk menyesuaikan diri terhadap kadar garam tinggi dengan menggunaka gen dari ragi (Hurtado, 2005). g) Mendiagnosis dan mengobati penyakit telah mengembangkan penyelidikan gen yang sangat khusus untuk Ilmuwan

mendeteksi virus, bakteri dan jamur yang menyerang tanaman. Metode tersebut juga digunakan untuk menyeleksi tanaman yang bebas penyakit untuk keperluaan pemuliaan tanaman. Beberapa vaksin transgenic untuk mengatasi penyakit hewan sudah beredar di pasaran seperti vaksin untuk mencegah diare pada babi, penyakit kuku dan mulut pada ternak, leukimia pada kucing dan vaksin untuk burung (Hurtado, 2005). h) Meningkatkan kualitas bahan untuk pangan olahan transgenik telah digunakan pada sejumlah besar produk seperti keju, Penggunaan Chymosin transgenik lebih Enzim

minuman, sereal, roti dan lainnya. Chymosin merupakan enzim transgenik yang digunakan untuk menghasilkan keju. menguntungkan bagi produsen keju sehingga enzim tersebut banyak digunakan oleh produsen keju keras di Inggris (Hurtado, 2005). 2.4 Tanaman Transgenik dan produk yang dihasilkan Beberapa produk yang dihasilkan dari tanaman dari Genetically transgenic yang berasal Modified Organism (GMO) atau Organisme yang telah

direkayasa, dimanipulasi atau dimodifikasi yang diproduksi oleh beberapa perusahaan bioteknologi telah dikonsultasikan dengan FDA (Food and Drug Administration, badan pengawas obat dan pangan Amerika Serikat). Daftar GMO dan produk yang dihasilkan dapat dilihat pada Tabel 1. Table 1.
GMO Plant (Producers)

Transgenic plant and and its produce (Hurtado, 2005)


Produce Processed produce Literature

New Characteristics

Corn (Northrup King Compny)

Corn, Zea mays, Bacillus thuringiensis var. kurstaki (Btk), Cry1A(b), lepidopteran toxicity, Btk protein, Ostrinia nubilalis, European Corn Borer (ECB), Streptomyces viridochromogenes, glufosinate ammonium tolerant, herbicide tolerant, pat, phosphinothricin acetyltransferase (PAT), ampicillin resistance, AMPr Glyphosate (N-phosphonomethylglycine), 5- enolpyruvylshikimate3-phosphate synthase (EPSPS), CP4 EPSPS gene, Agrobacterium sp. CP4 strain, Herbicide-Tolerant, Glyphosate- Tolerant Barnase gene, Ribonuclease (RNase), Male Sterility, bar gene, Phosphinothricin acetyltransferase gene, PAT gene, Herbicide- Tolerant, GlufosinateTolerant, Bacillus amyloliquefaciens New Characteristics

Maizena, Modified corn strarch, corn oil

Biscuite, cake brand, corn oil

Bunning (1996)

Corn (Monsanto)

Maizena, Modified corn strarch, corn oil

Biscuite, cake brand, corn oil

Alrefai (2000)

Corn (Aventis CropScienc e)

Maizena, Modified corn strarch, corn oil

Biscuite, cake brand, corn oil

Alrefai (2000)

GMO Plant (Producers)

Produce

Processed produce

Literature

Rice (Aventis CropScience )

Glufosinate ammonium herbicide tolerant rice produced by inserting a modified phosphinothricin acetyltransferase (PAT) encoding gene from the soil bacterium Streptomyces hygroscopicus Glufosinate ammonium herbicide tolerant soybean produced by inserting a modified phosphinothricin acetyltransferase (PAT) encoding gene from the soil bacterium Streptomyces viridochromogenes Insect resistant (Colorado Potato Beetle), virus resistant (Potato Leafroll Virus), kanamycin resistance (NPTII), Bacillus thuringiensis subsp. tenebrionis (BTT), 5-enolpyruvylshikimate-3phosphate synthase (CP4 EPSPS), herbicide resistance

Rice brand

Rice noodle

AGBIOS (2004)

Soybean (Bayer CropScience )

Isolate Soy Protein, Lechitin, soybean brand

Soy milk, low lactose milk, powder milk, biscuite

AGBIOS (2004)

Potato (Monsanto)

Potato starch, modified starch, snack food

Biscuite, noodle

Bunning (1996)

Tomato (Calgene)

Slow softening, Enzym antisense Poligalakturanase (PG)

Tomato pasta

Tomato pasta

Giovannoni dan Mullet (1998)

Wheat (BASF)

Imidazolinone herbicide tolerance, specifically Cyanamid AC299 263 (imazamox, active ingredient). Chemically induced seed mutagenesis

Wheat brand

Bread, biscuite

AGBIOS (2004)

BAB III KESIMPULAN


Rekayasa genetika adalah istilah dalam ilmu biologi yang artinya adalah usaha manusia dalam memanipulasi (rekayasa) sel atau gen yang terdapat pada suatu organisme tertentu dengan tujuan menghasilkan organisme jenis baru yang identic secara genetika. Teknik rekayasa genetika adalah suatu cara mengganti atau menambah DNA dari organisme lain ke susunan DNA asli dalam suatu sel dari suatu organisme. Teknik rekayasa genetika telah berhasil diaplikasikan dengan baik dalam penelitian dan pengembangan diIndonesia, baik yang dilakukan oleh lembaga penelitian dan perguruan tinggi maupun badan usaha milik Negara dan perusahaan swasta. Perakitan tanaman PGR tahan cekaman biotik telah dilakukan oleh Pusat Penelitian Bioteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan (LIPI), Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BBBiogen), Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia. Institut Pertanian Bogor, Universitas Udayana, dan Universitas Brawijaya. Sampai saat ini sekitar seratus varietas tanaman transgenik yang telah disetujui untuk diuji cobakan atau ditanam. Tanaman tersebut dirancang untuk mendapatkan serangkaian sifat yang lebih unggul daripada tanaman konvensional. Beberapa sifat tanaman transgenik yang penting adalah: meningkatkan toleransi terhadap zat kimia, meningkatkan ketahanan terhadap hama, memperlambat pematangan, meningkatkan nilai gizi pangan, mengambil nitrogen dari udara, menyesuaikan tenaman terhadap lingkungan buruk, mendiagnosis dan mengobati penyakit, meningkatkan kualitas bahan untuk pangan olahan.

DAFTAR PUSTAKA Herman,M. 2010. Aplikasi Teknik Rekayasa Geneti dalam Perbaikan Sumber Daya Genetik Tanaman untuk Ketahanan Cekaman Biotik. Buletin Plasma Nutfah. Volume 16 No 1. Halaman 72. Sinay,Hermalina. 2008. Kontrol Pemasakan Buah Tomat Menggunakan RNA ANTISENSE. Tabloid Wuny. Volume September. Soedarini, Bernadetha dan Patricia Noviani. 2006. Pangan Transgenik: Suatu Pilihan Yang Dilematis. Humaniora. Volume 6 No 2. Halaman 129. Sulichantini,Dwi Ellok. 2007. Tanaman dan Pangan Transgenik Di Sekitar Kita. Jurnal Teknologi Pertanian. Volume 2. Halaman 38. Sulastri,Sri Yustina. 2005. Rekayasa Fisiologi Tanaman Untuk Meningkatkan Kualitas Benih Melalui Pengaturan Nutrisi. Jurnal Penelitian Bidang Ilmu Pertanian. Volume 3 No 1. Halaman 18.