Anda di halaman 1dari 5

Pengaruh ACFTA Terhadap Industri Mainan Anak di Indonesia

A. Pendahuluan 1. ACFTA Pada era globalisasi ini, suatu negara dituntut untuk dapat menguasai teknologi, mampu bersaing dengan negara-negara lain dalam hal ekonomi dan pasar, serta rakyat yang memilki tingkat pengetahuan yang tinggi akan IPTEK dan modernisasi. China sekarang merupakan salah satu negara yang berhasil dalam era globalisasi ini. China tumbuh menjadi negara yang menunjukan peningkatan ekonomi yang di atas rata-rata, mampu bertahan dari goncangan krisis ekonomi dunia pada akhir abad ke 20. China mampu menjadi seperti sekarang karena beberapa faktor, seperti aspek politik, ekonomi, sosial, dan budaya juga memiliki peranan yang sangat penting dalam kemajuan China. Selain itu China pandai memanfaatkan peluang dalam perdagangan. ASEAN- China Free Trade Area ( ACFTA ) adalah kesepakatan antara negara- negara ASEAN dengan China untuk mewujudkan kawasan perdagangan bebas dengan menghilangkan atau mengurangi hambatan- hambatan perdagangan barang baik tarif maupun non- tarif. Peningkatan aspek pasar jasa, peraturan dan ketentuan investasi, sekaligus peningkatan aspek kerjasama ekonomi untuk mendorong perkonomian para pihak ACFTA dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat ASEAN dan China. Terkait dengan perdagangan bebas, kesepakatan ACFTA juga dapat menimbulkan dampak positif maupun negatif. Dampak positif tersebut akan langsung dinikmati oleh sektor yang produknya diekspor ke China, sementara dampak negatif dirasakan oleh produsen dalam negeri yang produknya sejenis dengan produk impor China, yang dipasarkan di dalam negeri dan memiliki tingkat daya saing yang relatif kurang kompetitif. Dengan berlakunya ACFTA banyak pengamat memprediksi bahwa produk- produk yang ekspornya meningkat adalah kelompok produk pertanian antara lain kelapa sawit, karet dan kopi. Kemudian produk yang diprediksi akan terkena dampak negatif adalah garmen, elektronik, sektor makanan, industri baja/ besi, produk hortikultura, dan mainan anak. 2. Industri Mainan Anak di Indonesia Industri mainan anak di Indonesia merupakan industri kecil yang cukup berkembang di Indonesia. Pelaku usaha yang bergerak di bidang industri mainan di Indonesia antara lain PT. Kenage Internasional, PT. Mars, PT. Jeje Indah, CV. Indenesia Kreatif Utama, dsb. Perusahaan perusahaan tersebut memproduksi mainan anak dari boneka, mainan plastik, puzzle, dan lain lain. Paling tidak saat ini pasar mainan anak di Indonesia dikuasai oleh mainan impor. Sekitar 70 persen mainan anak dikuasai oleh produk mainan impor terutama dari China yang mencapai 80

persen atau USD 2,84 juta. Selama triwulan pertama 2012 dibanding impor impor barang konsumsi dari USD 4,2 miliar menjadi USD 4,4 miliar juta atau meningkat 3,06 persen termasuk didalamya untuk mainan anak. (m.merdeka.com)

B. Pengaruh ACFTA Bagi Industri Mainan Anak di Indonesia Munculnya China sebagai ekonomi terbesar kedua di dunia, dan pada beberapa perhitungan ekonomi yang sudah menyentuh Amerika Serikat untuk tempat teratas , tidaklah mengherankan apabila menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana pergeseran yang luar biasa dan cepat dalam kekuatan dunia akan mempengaruhi tatanan ekonomi global seperti yang kita kenal dan apa peran China sekarang dapat diharapkan, dan akan menjalankan perekonomian dunia. Dampak China pada komoditas global sudah jelas. Dalam tahun-tahun mendatang negara- negara lain tentunya mengharapkan agar hal ini tetap dilanjutkan. Dan itu tidak hanya akan logam. Permintaan terhadap makanan dan komoditas lunak akan menjadi penting. Sementara pendapatan meningkat maka selera makanan juga akan berubah. Selanjutnya, 28 persen lahan Eropa ditanami, sedangkan angka ini adalah 19 persen untuk AS, tapi untuk China hanya 10 persen. Akibatnya, China tidak hanya akan membeli komoditi, tetapi juga akan berinvestasi di negara-negara penghasil komoditas. Ini akan memperkuat koridor baru perdagangan dan arus investasi antara China dan Afrika, Amerika Latin dan Timur Tengah. Kekhawatiran para pelaku industri diabaikan oleh pemerintah, terutama menteri perdagangan. Menyusul diberlakukannya ACFTA ( Asean China Free Trade an Agreement). Pemerintah yakin bahwa kita siap menghadapinya. Namun apa yang terjadi belakangan ini sungguh

memilukan. Negeri kita kebanjiran barang-barang dari China. Bahkan nilai ekspor kita ke negeri panda tersebut jauh lebih kecil dibandingkan dengan masuknya barang-barang dari China. Sayang sekali niat baik diadakannya ACFTA yang sekiranya dapat mendongkrak nilai ekspor kita keluar negeri, tidak dipersiapkan pemerintah dengan baik. Paling tidak para pebisnis di negeri ini akan mempersiapkan berbagai hal yang mampu membuat produk dalam negeri dapat bersaing dengan produk luar negeri. Kini, usaha kecil seperti garment, tekstil, alat pertanian, mainan anak-anak dan lain-lain tinggal hanya menunggu waktu menuju kebangkrutan. Padahal usaha seperti ini banyak menyerap tenaga kerja. Kini akan semakin bertambah besar saja angka pengangguran di Indonesia. Kasus kegagalan bangsa ini menghadapi ACFTA adalah ujian. Tinggal bagaimana para tokoh bangsa mengambil tindakan penting. Apakah mereka hanya akan sibuk dengan urusannya sendiri dan partainya saja, dan membiarkan negeri ini menjadi lahan gambut bagi para produsen luar negeri. Atau mereka akan bersatu padu melindungi industri nasional menjadi tuan di negerinya sendiri. Kita tunggu saja kiprah mereka dimasa yang akan datang. Puluhan kios yang berjajar tersebut sudah terkenal menjajakan mainan murah untuk masyarakat atau pedagang eceran luar kota. Pasar mainan yang tidak terlalu luas tersebut menjadi favorit masyarakat Jakarta mendapatkan mainan murah impor terutama dari China. "95 persen produk yang saya jual disini dari China," ujar satu orang pedagang mainan anak bernama Firman saat ditemui merdeka.com, di Pasar Gembrong, Jatinegara, Jakarta, Sabtu (23/6). Pasar yang berdiri sejak tahun 2000 ini selalu dipadati oleh pembeli hingga menimbulkan kemacetan sampai ujung underpass Basuki Rahmat, Jakarta. Tapi sayang, dari penelusuran merdeka.com, tidak melihat adanya mainan yang berlabel standar nasional Indonesia (SNI) atau memakai bahasa Indonesia dalam bikisan produknya. Hampir semua kios dominasi produk impor mainan asal China, tanpa tahu aman atau tidaknya mainan tersebut bagi anak-anak. Firman mengaku produk China yang dijualnya memiliki harga lebih murah dan kualitas yang lumayan bagus untuk dikoleksi anak-anak. Paling tidak setiap bulannya dia mengaku mendapatkan keuntungan mencapai Rp 35 juta per bulan. "Relatif murah dari mal," katanya. Kadiman pemilik toko bernama SmToys menegaskan dirinya dapat terus mengepulkan asap dapurnya selama 5 tahun ini dari hasil produk China dagangannya. Dengan harga produk mainan China yang paling laku mulai Rp 15.000 hingga 600.000. Namun, usaha penjualan mainan sempat mengalami paceklik saat terpaan isu bahwa mainan impor China berbahaya. "Ada sedikit penurunan tapi cuma sebentar," ujarnya. Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Komisi Perdagangan, Ecky Awal Mucharam menyoroti banjirnya produk China salah satunya mainan anak di tanah air tanpa pemerintah melakukan proteksi bagi produsen dalam negeri maupun untuk kesehatan konsumen. "Harus ada

pembatasan terhadap produk dari luar. Indonesia itu terlalu bebas dan longgar terjadap produk impor. salah satunya mainan. Ini yang buat daya saing menjadi lemah," Koordinator bidang pendidikan dan pelatihan Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia, Jawa Barat, Acuviarta Kartabi mengatakan pemerintah harus segera mengeluarkan aturan importasi. Hal ini untuk segera mendorong pertumbuhan industri mainan nasional. "Selama ini produk mainan anak Indonesia lebih pada mainan tradisional, bukan pada mainan yang mengikuti perkembangan teknologi moderen," katanya. Dia mengatakan aturan importasi dinilai bisa menurunkan impor mainan dari China yang saat ini mendominasi pasar mainan nasional. Bahkan, beleid ini sebagai upaya pencegahan terhadap keselamatan dan kesehatan anak-anak karena mainan dari China disinyalir tidak aman secara kesehatan. "Selama ini, mainan anak dari China belum dinyatakan aman bagi kesehatan. Adanya aturan akan memperjelas aman atau tidaknya mainan impor China," katanya. Secara Ekonomi, aturan importasi mainan akan memberikan dampak insentif untuk pertumbuhan industri mainan dalam negeri. Acuviarta menegaskan pasar mainan Indonesia potensinya sangat besar. Hal ini didukung dengan pertumbuhan jumlah penduduk, ekonomi dan kebutuhan mainan dalam negeri. "Jika ada insentif, kreativitas dalam membuat mainan yang moderen akan terus tumbuh. Pasar dalam negeri masih sangat besar. Jangan sampai dikuasai China," ujarnya. Derasnya impor mainan China, terjadi setelah ada kesepakatan pasar bebas Asean dan China.

C. Penutup

Dari fenomena tersebut, dapat kita pelajari bahwa dalam m e l a k u k a n k e s e p a k a t a n h u b u n g a n perdagangan sangat rentan akan berbagai masalah yang ujungnya akan m erugi kan negara kit a. Pi hak -pi hak t erkai t dengan hal -hal t ersebut harus j el i dal am melihat apa yang terjadi dan dapat melakukan negosiasi dengan baik, dengan maksud agar hubungan luar negeri yang terbina tetap berjalan dengan baik. Dengan kesepakatan Indonesia dengan ACFTA, maka stakeholders harus mempersiapkan diri dengan sebaik mungkin. Dan pemerintahpun dituntut untuk dapat menyusun dan menerapkan sistem perekonomian khususnya dalam hal perdagangan dengan s e b a i k m u n g k i n a g a r i n d u s t r i k e c i l d a n U K M d a p a t t e r u s b e r n a f a s d a n t i d a k t e r s a p u gelombang pasar bebas yang telah memutuskan penerapan tariff 0%. Pemerintah diharapkan dapat mengambil kebijakan yang tepat terhadap fenomena ACFTA dan pengaruhnya di Indonesia untuk melindungi industri dalam negeri ini khususnya mainan anak. Pemerintah dapat melakukan negosiasi ulang kepada China, mempersiapkan SDM yang ada di dalam negeri agar mampu memproduksi barang dengan kwalitas bersaing namun

harga relatif terjangkau oleh masyarakat Indonesia. Selain itu pemerintah juga harus bisa menciptakan iklim bisnis yang kondusif. Tiadakan berbagai pungutan liar dan sogokan, permudah kucuran kredit dari dunia perbankan kepada para pebisnis, memperkecil bunga kredit sehingga memacu para pelaku bisnis untuk terus berkarya.

http://daniel36e.blogstudent.mb.ipb.ac.id/files/2011/08/Pengarug-ACFTA-terhadap-Indonesia-danInternasional.pdf December 23rd, 2009 http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/12/dampak-kerjasama-ekonomiinternasional-terhadap-ekonomi-indonesia/ Mardianti, L. April 17, perdagangan-internasional/


2011.http://laillamardianti.wordpress.com/2011/04/17/sistem-kebijakan-

May 7, 2011 by tinicantik


http://www.beritaterkinionline.com/2011/05/pengaruh-acfta-terhadap-industri-nasional.html Harwanto Bimo Pratomo. RABU, 27 JUNI 2012http://m.merdeka.com/uang/gurihnya-pasar-mainanindonesia--mainan-anak.html