Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PENDAHULUAN PRAKTIK KEPERAWATAN ANAK

DIAGNOSA VARISELA DI BANGSAL AR-RAHMAN RS PKU MUHAMMADIYAH BANTUL

Penyusun : Lenna Anugraheni 3210081

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN JENDERAL AHMAD YANI YOGYAKARTA 2012

LAPORAN PENDAHULUAN VARISELA


Nama Lain : Cacar Air, Chicken Pox 1. Pengertian Varisela adalah penyakit menular akut yang disebabkan oleh virus varisela zoster (VVZ) terdapat di seluruh dunia, tanpa perbedaan pada ras dan jenis kelamin. Penyakit ini terutama mengenai anak-anak dan merupakan infeksi primer VVZ pada individu yang rentan. Kurang lebih 90% kasus terjadi pada anak berusia kurang dari 10 tahun dan kurang dari 5% pada usia lebih dari 15 tahun. Varisela adalah suatu penyakit infeksi akut primer menular yang disebabkan oleh Varicella Zoster Virus (VZV) yang menyerang kulit dan mukosa, dengan ditandai oleh adanya vesikel-vesikel. Varisela merupakan penyakit akut menular yang ditandai oleh vesikel di kulit dan selaput lendir yang disebabkan oleh virus varisella. Varisela adalah infeksi akut prime yang menyerang kulit dan mukosa secara klinis terdapat gejala konstitusi, kelainan kulit polimorfi terutama

berlokasi di bagian sentral tubuh, disebut juga cacar air, chicken pox. Varisela merupakan penyaki menular akut. Penularan dapat melalui kontak langsung dengan lesi, terutama melalui udara. Klasifikasi Varisela dibagi menjadi 2 : Varisela congenital Varisela congenital adalah sindrom yang terdiri atas parut sikatrisial, atrofi ekstremitas, serta kelainan mata dan susunan syaraf pusat. Sering terjadi ensefalitis sehingga menyebabkan kerusakan

neuropatiki. Risiko terjadinya varisela congenital sangat rendah (2,2%), walaupun pada kehamilan Varisela trimester pertama ibu menderita varisela.

pada kehamilan paruh kedua jarang sekali menyebabkan

kematian bayi pada saat lahir. Sulit untuk mendiagnosis infeksi varisela

intrauterin. Tidak diketahui apakah pengobatan dengan antivirus pada ibu dapat mencegah kelainan fetus. Varisela neonatal Varisela neonatal terjadi bila terjadi varisela maternal antara 5 hari sebelum sampai 2 hari sesudah kelainan. Kurang lebih 20% bayi yang terpajan akan menderita varisela neonatal. Sebelum penggunaan

varicella-zoster immune globulin (VZIG), kematian varisela neonatal sekitar 30%. Namun neonatus dengan lesi pada saat lahir atau dalam 5 hari pertama sejak lahir jarang menderita varisela berat karena mendapat antibody dari ibunya. Neonatus dapat pula tertular dari anggota keluarga lainnya selain ibunya. Neonatus yang lahir dalam masa risiko tinggi harus diberikan profilaksis VZIG pada saat lahir atau saat awitan infeksi

maternal bila timbul dalam 2 hari setelah lahir. Varisela neonatal biasanya timbul dalam 5-10 hari walaupun telah diberikan VZIG. Bila terjadi varisela progresif (ensefalitis, pneumonia, varisela, hepatitis, diatesis pendarahan) harus diobati dengan asiklovir intravena. Bayi yang terpajan dengan varisela maternal dalam 2 bulan sejak lahir harus diawasi. Tidak ada indikasi klinis untuk memberikan antivirus pada varisela neonatal atau asiklovir profilaksis bila terpajan varisela maternal.

2. Etiologi Menurut Richar E, varisela disebabkan oleh Herpes virus varicella atau disebut juga virus varicella-zoster (virus V-Z). Virus tersebut dapat pula menyebabkan herpes zoster. Kedua penyakit ini mempunyai manifestasi

klinis yang berbeda. Diperkirakan bahwa setelah ada kontak dengan virus VZ akan terjadi varisela; kemudian setelah penderita varisela tersebut sembuh, mungkin virus itu tetap ada dalam bentuk laten (tanpa ada manifestasi klinis) dan kemudian virus V-Z diaktivasi oleh trauma sehingga menyebabkan herpes zoster. Virus V-Z dapat ditemukan dalam cairan vesikel dan dalam darah penderita verisela dapat dilihat dengan mikroskop electron dan dapat

diisolasi dengan menggunakan biakan yang terdiri dari fibroblas paru embrio manusia.

3. Patofisiologi dan Pathway Virus varisela-zoster masuk ke dalam tubuh manusia melalui mukosa saluran nafas atau orofaring. Multiplikasi virus ditempat tersebut diikuti oleh penyebaran virus dalam jumlah sedikit melalui darah dan limfe (viremia primer). Virus dimusnahkan oleh sel sistem retikuloendotelial, yang

merupakan tempat utama replikasi virus selama masa inkubasi. Selama masa inkubasi virus dihambat sebagian oleh mekanisme pertahanan tubuh yang terinfeksi, replikasi virus dapat mengalahkan pertahanan tubuh yang belum berkembang, sehingga 2 minggu setelah infeksi terjadi viremia sekunder

dalam jumlah yang lebih banyak. Viremia tersebut menyebabkan demam dan malese anorexia serta menyebarkan virus ke seluruh tubuh, terutama ke kulit dan mukosa. Respons imun pasien yang kemudian berkembang akan dan

menghentikan viremia dan menghambat berlanjutnya lesi pada kulit

organ lain. Terjadinya komplikasi varisela mencerminkan gagalnya respons imun tersebut menghentikan replikasi serta penyebaran virus dan

berlanjutnya infeksi. Dalam 2-5 hari setelah gejala klinis varisela terlihat, antibody (IgG, IgM, IgA) spesifik terhadap VVZ dapat dideteksi dan mencapai titer tertinggi pada minggu kedua atau ketiga. Setelah itu titer IgG menurun perlahan, sedangkan IgM dan IgA menurun lebih cepat dan tidak terdeteksi satu tahun setelah infeksi. Imunitas selular terhadap VVZ juga berkembang selama infeksi dan menetap selama bertahun-tahun. Imunitas selular lebih penting daripada imunitas humoral untuk penyembuhan

varisela. Pada pasien imunokompromais, oleh karena imunitas humoral dan selularnya terganggu, pajanan ulang dapat menyebabkan rekurensi dan varisela menjadi lebih berat dan berlangsung lebih lama.

Pathway Keperawatan
Virus Varisela Zoster Masuk ke tubuh

Mukosa saluran nafas atas

orofaring

Multiplikasi virus dan penyebaran virus dalam jumlah sedikit melalui darah dan limfe Dimusnahkan oleh sel sistem ritikuloendotelial

Infeksi virus dihambat sebagian oleh mekanisme pertahanan tubuh dan respon imun

Replikasi virus dapat mengatasi pertahanan tubuh yang belum berkembang Viremia Sekunder

Demam

Anorexia

Malaise

Virus menyebar ke seluruh tubuh (kulit dan mukosa)

Hipertermi

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Intoleransi aktifitas

Lesi (chicken pox)

Kerusakan integritas kulit

Nyeri

Kurang pengetahuan

4. Gambaran Klinik Gambaran klinik varisela dibagi menjadi 2 stadium : Stadium prodromal: 24 jam sebelum kelainan kulit timbul, terdapat gejala panas, perasaan lemah (malaise), anoreksia. Kadang-kadang terdapa kelainan scarlatinaform atau morbiliform. Stadium erupsi: Dimulai dengan terjadinya papula merah, kecil yang

berubah menjadi vesikel yang berisi cairan jernih dan mempunyai dasar eritematous. Permukaan vesikel tidak memperlihatkan cekungan di tengah (unumbilicated). Isi versikel berubah menjadi keruh dalam waktu 24 jam. Biasanya vesikel menjadi kering sebelum isinya menjadi keruh. Dalam 34 hari erupsi tersebar; mula-mula di dada lalu ke muka, bahu dan anggota gerak. Erupsi ini disertai perasaan gatal. Pada suatu saat terdapat macam-macam stadium erupsi, ini merupakan tanda khas penyakit verisela. Vesikel tidak hanya terdapat di kulit,

melainkan juga di selaput lendir mulut. Bila terdapat infeksi sekunder, maka akan terjadi limfadenopatia umum. Karena kemungkinan mendapat varisela selama masa kanak-kanak sangat besar, maka varisela jarang ditemukan pada wanita hamil (0,7 tiap 1.000 kehamilan). Diperkirakan 17% dari anak yang dilahirkan wanita yang mendapat verisela ketika hamil akan menderita kelainan bawaan berupa bekas luka di kulit (cutaneous scars), berat badan lahir rendah, hipoplasia tungkai, kelumpuhan dan atrofi tungkai, kenang, retardasi mental, koriorenitis, atrofi kortikal, katarak atau kelainan pada mata lainnya.

Angka kematian tinggi, bila seorang wanita hamil mendapat varisela dalam 21 hari sebelum ia melahirkan, maka 25% dari neonatus yang dilahirkan akan memperlihatkan gejala varisela kongenital pada waktu dilahirkan sampai berumur 5 hai. Biasanya varisela yang timbul

berlangsung ringan dan tidak mengakibatkan kematian. Sedangkan bila seorang wanita hamil mendapat varisela dalam waktu 4-5 hari sebelum melahirkan, maka neonatusnya akan memperlihatkan gejala varisela kongenital pada umur 5-10 hari. Di sini perjalanan penyakit varisela

sering berat dan menyebabkan kematian sebesar 25-30%. Mungkin ini ada hubungannya dengan kurun waktu fetus berkontak dengan varisela dan dialirkannya antibody itu melalui plasenta kepada fetus. Seorang neonatus jarang mendapat varisela di bangsal perinatologi dari seorang perawat atau petugas bangsal lainnya, tapi bila ini terjadi maka perjalanan penyakit amat ringan dan terlihat gejala-gejala seperti pada anak yang besar.

5. Komplikasi Pneumonia varisela hanya terdapat 0,8% pada anak, biasanya disebabkan oleh infeksi sekunder dan anak sembuh sempurna. Pneumonia yang disebabkan oleh virus V-Z jarang didapatkan pada anak dengan sistem imunologis normal pada anak dengan defisiensi imunologis atau orang

dewasa tidak jarang ditemukan. Pada keadaan ini kelainan radiologis paruparu masih didapatkan selama 6-12 minggu dan angka kematiannya sebesar 20%. Mungkin juga terjadi komplikasi pada susunan saraf seperti ensefalitis, ataksia, nistagmus, tremor, mielitis tranversa, kelumpuhan saraf muka, neuromielitis optika atau penyakit Devic dengan kebutaan sementara, sindrom hipotalamus yang disertai dengan obesitas dan panas badan berulang-ulang. Pasien varisela dengan komplikasi ensefalitis setelah sembuh dapat meninggalkan gejala sisa seperti kejang, retardasi mental, dan kelainan

tingkah laku. Anak dengan sistem imunologis yang normal jarang mendapat komplikasi tersebut; sedangkan anak dengan defisiensi imunologis, pasien leukemia dan anak yang sedang mendapatkan pengobatan anti metabolit atau steroid (pasien sindrom nefrotik, demam reumatik) dan orang dewasa sering mendapat komplikasi tersebut. Kadang-kadang varisela pada pasien tersebut dapat menyebabkan kematian.

6. Teori Tumbuh Kembang Anak

Pertumbuhan (Growth) Perubahan dalam besar, jumlah, ukuran atau dimensi tingkat sel organ maupun individu (kuantitatif) Perkembangan Bertambahnya bertambahnya kemampuan (Skill) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan (kualitatif)

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Faktor genetik Berbagai faktor bawaan yang normal dan patologik, Jenis kelamin, dan Suku bangsa Faktor lingkungan Faktor pranatal Gizi pada waktu hamil, mekanis, toksin, endokrin, radiasi, infeksi, stress, imunitas anoksia embrio Faktor postnatal Faktor Lingkungan Biologis Ras, jenis kelamin, umur, gizi, kepekaan terhadap penyakit, perawatan kesehatan, penyakit kronis, dan hormon Faktor lingkungan fisik Cuaca Cuaca, musim musim, sanitasi,keadaan sanitasi,keadaan rumah rumah. Lingkungan sosial Stimulasi, Motivasi belajar, Stress, Kelompok sebaya, Ganjaran atau hukuman yang wajar, Cinta dan kasih

Lingkungan keluarga dan adat istiadat yang lain Pekerjaan, pendidikan ayah dan ibu, jumlah saudara, stabilitas rumah tangga kepribadian ayah/ibu, agama, adat istiadat dan normanorma

TAHAP-TAHAP PERTUMBUHAN DAN TAHAP PERKEMBANGAN ANAK MASA PRENATAL Germinal : konsepsi 2 mgg Embrio : 2-8 mgg Fetal : 8 40mgg Neonatus : Lahir 27/28 hari Bayi : 1 -12 bln

MASA BAYI

MASA ANAK-ANAK AWAL (1-6 thn) Toddler :1-3 thn Pra sekolah: 3-6 thn

MASA ANAK-ANAK TENGAH (6-12 thn) MASA ANAK-ANAK AKHIR (12-19 thn) Pre Pubertas: 12-13 Thn Remaja : 13-19 Thn

KEBUTUHAN DASAR ANAK KEBUTUHAN FISIK BIOMEDIS (ASUH) Pangan / gizi merupakan kebutuhan terpenting o Perawatan kesehatan dasar : imunisasi,pemberian ASI, penimbangan BB, pengobatan kalau sakit Papan/pemukiman yang layak Hygiene perorangan, sanitasi lingkungan Sandang Kesegaran jasmani

KEBUTUHAN EMOSI/KASIH SAYANG (ASIH) o Kekurangan kasih sayang ibu pada tahun tahun-tahun pertama mempunyai dampak negative terhadap tumbuh kembang syndrome deprivasi maternal

KEBUTUHAN AKAN STIMULASI MENTAL (ASAH) Stimulasi mental mengembangkan perkembangan mental psikososial Kecerdasan Keterampilan Kemandirian Kreativitas Agama Keprobadian Moral etika Produktivitas

DETEKSI DINI PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN ANAK Pengukuran BB, TB, LK, LLA Dilakukan secara teratur 1X/bulan DDST

ASPEK-ASPEK PERKEMBANGAN YANG DIBINA Perkembangan gerakan (motorik) kasar dan halus Komunikasi pasif & aktif Perkembangan kecerdasan

o Perkembangan kemampuan menolong diri sendiri dan tingkah laku social

DAFTAR TUGAS PERKEMBANGAN ANAK USIA 0 USIA 0-12 BULAN MOTORIK KASAR Duduk tanpa dibantu upaya pembinaannya: Berikan kesempatan pada anak dengan meletakkan anak dipangkuan ibu Meletakkan si anak dengan sekitarnya diberi bantal

MOTORIK HALUS Menjangkau, mencekam, memasukkan benda ke mulut. Upaya pembinaan Beri kesempatan anak untuk meraih sesuatu benda tersebut.

KOMUNIKASI PASIF Bereaksi terhadap pembicaraan orang dengan melihat kepada si pembicara. upaya pembinaan ibu berbicara kepada anak (muka ibu menghadap muka anak) atau berbisik ditelinga anak KOMUNIKASI AKTIF membuat bunyi-bunyi sperti tangisan dan bunyi lain upaya pembinaan Ibu memperhatikan keadaan anaknya, ekspresi mukanya,lalu merangsang misalnya dengan ucapan yang menyenangkan KECERDASAN Mengikuti benda yang bergerak dengan mata Upaya pembinaan Gantungkan potongan kain, plastic atau kertas yang berwarna warni.

MENOLONG DIRI SENDIRI Menyuapkan biscuit ke mulut Upaya pembinaan Letakkan biscuit didekat anak. Berikan kesempatan anak untuk mengambil biscuit tersebut dan menyuapkan kemulutnya Tingkah laku social : Tersenyum secara spontan

Upaya pembinaan Berbicaralah dengan anak. Tunjukkan ekspresi muka yang cerah. Tersenyumlah pada anak

Tugas perkembangan anak 1. Masa Bayi (0-2 tahun) Pola perilaku, sikap dan pola ekspresi terbentuk. Pertumbuhan dan perubahan berjalan cepat. Berkurangnya ketergantungan. Meningkatnya individualitas. Permulaan sosialisasi. Permulaan berkembangnya penggolongan peran seks. Permulaan kreativitas.

2. Masa kanak-kanak awal (2-5 tahun) Bagi orang tua merupakan usia yang mengundang masalah, usia mainan. Bagi pendidik merupakan masa usia prasekolah.Bagi pakar psikologi merupakan usia kelompok, usia menjelajah, usia bertanya, usia meniru, usia kreatif. 3. Masa kanak-kanak akhir (5-9 tahun) Bagi orang tua merupakan usia yang menyulitkan, usia tidak rapi, usia bertengkar. Bagi pendidik merupakan usia sekolah dasar, periode kritis dalam dorongan berprestasi. Bagi pakar psikologi merpakan usia berkelompok, usia penyesuaian diri.

4. Masa puber (9-12 tahun) Periode tumpang tindih (di antara masa anak-anak akhir dan masa remaja awal). Periode yang singkat (2-4 tahun).

Bukan lagi seorang anak-anak tapi juga belum remaja (=masa prapuber). Kematangan seksual muncul (= masa puber). Ciri-ciri seks sekunder muncul (= masa prapuber).

7. Pengkajian Keluhan utama : nyeri hebat di daerah terdapatnya vesikel Riwayat penyakit sekarang: biasanyna klien mengeluh sudah beberapa hari demam dan timbul rasa gatal / nyeri pada dermatom yang terserang, keluhan nyeri kepala dan badan terasa lelah, pada tempat yang terserang mula-mula muncul papula dan 1-2 hari berubah menjadi kumpulan vesikel. Riwayat penyakit keluarga: Biasanya keluarga atau teman dekat ada yang menderita varisela. Konsep diri: citra diri dan harga diri: sering mengalami gangguan. Takukt, kecemasan/ penngetahuan yang dimiliki tentang penyakit ini. Keluhan sehari-hari: Nyeri: gangguan tidur / istirahat dan aktivitas, kaji kebersihan diri dan cara merawat diri( alat mandi dan pakaian 1 bersama) Pemeriksaan fisik: jarang ditemukan penurunan kesadaran, kecuali komplikasi infeksi lain, bila nyeri hebat TTV meningkat.

Epidemologi Sangat mudah menular, yaitu melalui percikan ludah dan kontak. Dapat mengenai semua golongan umur, termasuk neonatus (varisela congenital), tetapi tersering pada masa anak. Penderita dapat menularkan penyakit selama 24 jam sebelum kelainan kulit (erupsi) timbul sampai 6 atau 7 hari kemudian. Biasanya hidup seumur hidup, varisela hanya diderita satu kali. Varisela merupakan penyakit yang sangat menular, tetapi juga tergantung kepekaan seseorang. Varisela terutama dijumpai pada individu

yang belum mempunyai antibody, hal ini sesuai dengan laporan penelitian pada 143 anak yang dirawat di rumah sakit dengan berbagai penyakit lain, empat puluh sembilan anak mempunyai riwayat kontak dengan penderita varisela, dimana pada anak-anak tersebut terdapat antibody terhadap varisela, dan ternyata di dalam perkembangannya tidak ada yang menderita varisela, sedangkan pada 78 anak yang tidak pernah kontak dengan penderita varisela dilakukan pemeriksaan serologis ternyata 41 anak dengan seronegatif dan dari mereka 11 anak kemudian menderita varisela.

Penatalaksanaan Pengobatan Umum Pada pasien imunokompeten varisela biasanya ringan dan dapat sembuh sendiri. Untuk mengatasi gatal dapat diberikan kompres dingin atau lotion kalamin dan antihistamin oral. Bila lesi masih vesicular dapat diberikan bedak agar tidak mudah pecah, dapat ditambahkan antipruritus di dalamnya, misalnya mentol 0,25-0,5%. Bila vesikel sudah pecah atau sudah terbentuk krusta, dapat diberikan salap antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder bacterial. Mandi rendam dalam air hangat yang diberi antiseptik dapat mengurangi gatal dan mencegah infeksi bacterial

sekunder pada kulit. Krim atau lotion kortikosteroid serta salap bersifat oklusif sebaiknya tidak digunakan. Kadang diperlukan antipiretik/analgetik, tetapi golongan salisilat sebaiknya dihindari karena sering dihubungkan dengan terjadinya sindrom Reye. Kuku jari tangan harus dipotong dan dijaga kebersihannya untuk mencegah infeksi sekunder dan parut yang dapat terjadi karena garukan. Obat Antivirus Dengan tersedianya obat antivirus yang efektif terhadap VVZ, dokter maupun pasien/orang tua pasien sering dihadapkan pada pilihan untuk menggunakan obat antivirus atau tidak. Pada anak

imunokompeten, varisela

biasanya ringan sehingga umumnya tidak

memerlukan pengobatan antivirus. Antivirus efektif bila diberikan dalam

24 jam setelah awitan lesi kulit karena dapat lebih cepat menurunkan demam serta gejala kulit dan sistemik. Pada bayi/anak imunokompromais berat, antivirus intravena merupakan obat pilihan agar kadar dalam plasma cukup tinggi untuk menghambat replikasi virus. Antivirus intravena secara bermakna dapat menurunkan morbiditas dan mortalitas varisela pada pasien

imunokompramais, terutama bila diberikan dalam 72 jam setelah awitan lesi kulit. Pada pasien imunokompromais ringan dapat diberikan antivirus oral. Beberapa antivirus terbukti efektif untuk mengobati infeksi VVZ, yaitu golongan analog nukleosida (asiklovir, famsiklovir, valasiklovir, vidarabin) dan foskarnet.

Tabel. pengobatan varisela dengan antivirus pada bayi dan anak Kelompok Pasien Neonatus Rejimen Pengobatan Imunokompeten Imunokompromais

Asiklovir 500 mg/mIV Asiklovir 500 mg/mIV setiap 8 setiap 8 jam selama 10 jam selama 10 hari hari

Anak

Hanya simtomatik atau Ringan : dengan Asiklovir 4 x Asiklovir 5 x 800 mg/hari peroral 20 mg/kgBB/hari per selama > 7 hari oral selama 5 hari Berat : Asiklovir 500 mg/matau 10

mg/kgBB intravena setiap 8 jam selama 5-7 hari atau 48 jam setelah tidak terbentuk lesi baru Pubertas Asiklovir 5 x 800 mg/ Ringan : hari peroral selama 7 Asiklovir 5 x 800 mg/hari peroral hari, atau Valasiklovir selama > 7 hari

3 x 1 g/hari peroral Berat : selama 7 hari, atau Asiklovir 500 mg/matau 10

Famsiklovir 3 x 500 mg/kgBB intravena setiap 8 jam mg/hari peroral selama selama 5-7 hari atau 48 jam setelah 7 hari tidak terbentuk lesi baru Bila resisten asiklovir : Foskarnet 40 mg/kgBB intravena setiap 8 jam sampai sembuh

Pencegahan Pencegahan terhadap infeksi varisela zoster virus dilakukan dengan cara imunisasi pasif atau aktif. A. Imunisasi Pasif Imunisasi pasif biasanya diberikan pada neonatus yang dilahirkan dari ibu yang menderita varisela, kurang dari 5 hari sebelum partus atau kontak varisela pada saat setelah lahir. Dosis Zoster Imunoglubulin (ZIG): 0,6 ml/Kg.bb intramuskuler diberikan 72 jam setelah kontak. B. Imunisasi Aktif Diberikan pada anak-anak sehat maupun penderita leukemia, imunodefisiensi. Dapat diberikan dengan vaksin hidup yang dilemahkan. Vaksin yang digunakan adalah OKA Strain. Dosis yang dianjurkan ialah 0,5 cc subkutan. Pemberian vaksin ini ternyata cukup aman dan efektif dan dapat memberikan perlindungan 96%. dapat diberikan bersamaan dengan MMR dengan daya proteksi yang sama dan efek samping hanya berupa rash yang ringan. Efek samping biasanya tidak ada, tetapi bila ada biasanya bersifat ringan.

DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Nyeri akut berhubungan dengan lesi kulit (chicken pox) 2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anorexia 3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan lesi kulit 4. Hipertermi berhubungan dengan proses infoksi 5. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan malaise 6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan paparan

INTERVENSI DX I : NOC : Tujuan : Nyeri akut berhubungan dengan lesi kulit (chicken pox) Control nyeri Nyeri berkurang/hilang

Kriteria hasil : 1. Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan teknik non farmakologi untuk mengurangi nyeri) 2. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri 3. Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi, nyeri) 4. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang 5. Tanda vital dalam rentang normal Skala : 1 2 3 4 5 = Tidak pernah menunjukkan = jarang menunjukkan = kadang menunjukkan = sering menunjukkan = selalu menunjukkan

NIC : Manajemen Nyeri 1. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi 2. Observasi reaksi non verbal dari ketidaknyamanan 3. Ajarkan tentang teknik non farmakologi (relaksasi, distraksi)

4. Tingkatkan istirahat 5. Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri 6. Control lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan.

DX II :

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia

NOC : Tujuan :

Status nutrisi Status nutrisi terpenuhi

Kriteria hasil 1. Mempertahankan pemasukan nutrisi 2. Mempertahankan BB 3. Melaporkan keadekuatan tingkat energi Keterangan Skala : 1 2 3 4 5 = tidak pernah menunjukkan = jarang menunjukkan = kadang menunjukkan = sering menunjukkan = selalu

DX III : NOC : Tujuan :

Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan lesi kulit Integritas jaringan, kulit dan membran mukosa Kerusakan integritas kulit tidak terjadi

Kriteria hasil 1. Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sensasi, elastisitas, temperatur, hidrasi, pigmentasi) 2. Tidak ada luka pada kulit 3. Perfusi jaringan baik 4. Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit

Skala : 1 2 3 4 5 = ekstrem = berat = sedang = ringan = tidak ada gangguan

NIC : Presure Management 1. Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar 2. Hindari kerutan pada tempat tidur 3. Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering 4. Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap 2 jam sekali 5. Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien 6. Monitor status nutrisi pasien

DX IV : NOC : Tujuan :

Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi Termoregulation Tidak terjadi peningkatan suhu tubuh

Kriteria hasil 1. Suhu tubuh dalam batas normal 2. Nadi dan RR dalam rentang normal 3. Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing, merasa nyaman Skala : 1 2 3 4 5 = tidak normal = jauh dari normal = hampir normal = cukup normal = normal

NIC : Regyulasi Suhu 1. Observasi TTV 2. Berikan minuman per oral

3. Kompres dengan air hangat 4. Kolaborasi pemberian antipiretik

DX V : NOC : Tujuan :

Intoleransi aktifitas berhubungan dengan Malaise Penghematan energi Dapat melakukan aktifitas secara mandiri

Kriteria hasil 1. Melaporkan peningkatan toleransi terhadap aktifitas 2. TTV dalam batas normal 3. Suhu normal

Skala : 1. = tidak normal 2. = jauh dari normal 3. = hampir normal 4. = cukup normal 5. = normal

NIC : Pengelolaan Energi 1. Evaluasi respon pasien terhadap aktifitas 2. Berikan lingkungan yang tenang dan batasi pengunjung 3. Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat 4. Jelaskan pentingnya istirahat dan perlunya keseimbangan antara istirahat dan aktifitas 5. Bantu aktifitas perawatan diri yang diperlukan

DX VI : NOC : Tujuan :

Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan paparan Pengetahuan prosedur perawatan Diharapkan tingkat pengetahuan pasien berhubungan dengan

penyakitnya dapat meningkat Kriteria hasil 1. Mendeskripsikan prosedur 2. Menjelaskan tujuan dari prosedur 3. Mendeskripsikan tahap dari prosedur 4. Mendeskripsikan hubungan pencegahan dengan prosedur 5. Mendeskripsikan perawatan mandiri dengan alat 6. Menunjukkan prosedur perawatan 7. Mendeskripsikan potensial efek seimbang Keterangan Skala : 1 2 3 4 5 = tidak ada = terbatas = sedang = berat = estensif

NIC : Mengajarkan proses penyakit 1. Tingkatkan tingkat pengetahuan pasien yang berhubungan dengan proses penyakit yang spesifik 2. Deskripsikan tanda dan gejala umum dari penyakit 3. Identifikasi penyebab yang mungkin 4. Diskusikan terapi/perawatan 5. Instruksikan kepada pasien untuk meminimalkan efek samping

EVALUASI DX I : Nyeri akut berhubungan dengan lesi kulit (chicken pox) Kriteria Hasil 1. Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan teknik non farmakologi untuk mengurangi nyeri) 2. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen nyeri 3. Mampu mengenali nyeri) 4. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang 5. Tanda vital dalam rentang normal 4 4 nyeri (skala, intensitas, frekuensi, 4 4 Skala 4

DX II :

Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia

Kriteria Hasil : Kriteria Hasil 1. Mempertahankan pemasukan nutrisi 2. Mempertahankan BB 3. Melaporkan keadekuatan tingkat energi DX III : Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan lesi kulit Skala 4 4 4

Kriteria Hasil : Kriteria Hasil 1. Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan (sensasi, elastisitas, temperatur, hidrasi, pigmentasi) 2. Tidak ada luka / lesi pada kulit 3. Perfusi jaringan baik 4. Mampu melindungi kulit dan mempertahankan 4 4 4 Skala 4

kelembaban kulit

DX IV : Kriteria Hasil :

Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi

Kriteria Hasil 1. Suhu tubuh dalam batas normal 2. Nadi dan RR dalam rentang normal 3. Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing, merasa nyaman

Skala 4 4 4

DX V : Kriteria Hasil :

Intoleransi aktifitas berhubungan dengan Malaise

Kriteria Hasil 1. Melaporkan peningkatan toleransi terhadap aktifitas 2. TTV dalam batas normal 3. Suhu normal

Skala 4 4 4

DX VI

Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan

paparan

Kriteria Hasil : Kriteria Hasil 1. Mendeskripsikan prosedur 2. Menjelaskan tujuan dari prosedur 3. Mendeskripsikan tahap dari prosedur 4. Mendeskripsikan hubungan pencegahan dengan prosedur 5. Mendeskripsikan perawatan mandiri dengan alat 6. Menunjukkan prosedur perawatan 7. Mendeskripsikan potensial efek seimbang Skala 5 5 4 4 4 4 5

DAFTAR PUSTAKA

Hidayat, Aziz Alimul, 2005, Pengantar Ilmu Keperawatan Anak I, Jakarta: Salemba Medika.

Nanda, 2006, Panduan Diagnosa Keperawatan Nanda 2005-2006: Definisi dan Klasifikasi, Jakarta: EGC.

Wilkonson, Judith M, 2006, Buku Saku Diagnosa Keperawatan dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC, Jakarta: EGC.

Halaman Pengesahan

LAPORAN PENDAHULUAN PRAKTIK KEPERAWATAN ANAK

DIAGNOSA VARISELA DI BANGSAL AR-RAHMAN RS PKU MUHAMMADIYAH BANTUL

Telah disahkan oleh :

Tanggal ..........................

Pembimbing Akademik

Pembimbing Klinik

Mahasiswa