Anda di halaman 1dari 28

Anak Perempuan 14 Tahun Dicurigai Disetubuhi Teman Laki-laki

Aimi Nadiah bt Abd Latif Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Krida Wacana Jl. Arjuna Utara No.6 11510 Jakarta Barat ime021288@yahoo.com

KATA PENGANTAR

Puji Tuhan saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terselesaikannya makalah Problem Based Learning Blok 30 Emergency Medicine II dengan baik. Juga saya sampaikan terima kasih kepada dokter, dr. Judin yang membantu memberikan informasi sehingga makalah ini dapat terbentuk. Walaupun terdapat banyak kesulitan dalam pengerjaan makalah ini, mulai dari pengumpulan bahan, pembuatan dan penyusunannya, tetapi pada akhirnya makalah ini dapat terselesaikan dengan baik walau mungkin terdapat berbagai kekurangan. Pada akhirnya, saya mengucapkan maaf apabila terdapat kesalahan pada isi makalah ini dan harap dimaklumi. Atas kesempatan yg telah diberikan, saya ucapkan terima kasih.

Januari 2011

Daftar Isi

1. PENDAHULUAN.... 4 2. ASPEK HUKUM.... 4 3. PROSEDUR HUKUM...10 4. PROSEDUR MEDIKOLEGAL..12 5. PEMERIKSAAN KORBAN..16 TERSANGKA....18

6. INTERPRETASI HASIL... 22 7. VISUM et REPERTUM. 23 8. ASPEK PSIKOSOSIAL.. 25 9. PERAN LSM 26 10. PENUTUP ......... 27 11. DAFTAR PUSTAKA...... 28

Anak Perempuan 14 Tahun Dicurigai Disetubuhi Teman Laki-laki

Aimi Nadiah Abd Latif Fakultas Kedokteran, Universitas Kristen Krida Wacana Jl. Arjuna Utara No.6, 11510 Jakarta Barat ime021288@yahoo.com

Kasus PBL 3 : Anda bekerja sebagai dokter di IGD sebuah rumah sakit. Pada suatu sore datang seorang laki-laki berusia 45tahun membawa anak perempuannya yang berusia 14tahun menyatakan bahwa anaknya baru saja pulang dibawa lari oleh teman laki-laki yang berusia 18tahun selama 3 hari keluar kota. Sang ayah takut apabila telah terjadi sesuatu pada diri putrinya. Ia juga bimbang apa yang akan diperbuatnya bila sang anak telah disetubuhi laki-laki tersebut dan akan merasa senang apabila anda dapat menjelaskan hal tentang aspek medikolegal dan hukum kasus anaknya.

Pendahuluan

Pemeriksaan kasus-kasus persetubuhan yang merupakan tindak pidana, hendaknya dilakukan dengan teliti dan waspada. Pemeriksa harus yakin akan semua bukti yang ditemukan karena berbeda dengan pemeriksaan di klinik, ia tidak lagi mempunyai kesempatan untuk melakukan pemeriksaan ulang guna memperoleh lebih banyak bukti. Tetapi dalam melaksanakan kewajiban itu, dokter jangan sampai meletakkan kepentingan korban di bawah kepentingan pemeriksaan. Terutama bila korban masih anak-anak, hendaknya pemeriksaan itu tidak sampai menambah trauma psikis yang sudah dideritanya.

Aspek Hukum

Agar kesaksian seorang dokter pada perkara pidana mencapai sasaran yaitu membantu pengadilan dengan sebaik-baiknya, maka dokter harus mengenal undang-undang yang

bersangkutan dengan tindak pidana itu sehingga mengetahui unsur-unsur yang harus dibuktikan secara medik atau yang memerlukan pendapat medik.

KUHP pasal 284 ayat 1 Dihukum dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan untuk : 1. Seorang pria yang telah kawin, yang melakukan gendak (overspel), padahal diketahui bahwa pasal 27 BW (Burgerly Wetboek) berlaku baginya. 2. Seorang wanita yang telah kawin, yang melakukan gendak, padahal diketahui bahwa pasal 27 BW berlaku baginya. 3. Seorang pria yang belum kawin yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal diketahuinya bahwa yang turut bersalah telah kawin. 4. Seorang wanita yang belum kawin yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal diketahuinya bahwa yang turut bersalah telah kawin dan pasal 27 BW berlaku baginya. ayat 2 - Tidak dilakukan penuntutan melainkan atas pengaduan suami/istri yang tercemar, dan bilamana bagi mereka berlaku pasal 27 BW, dalam tenggang waktu tiga bulan diikuti dengan permintaan untuk bercerai atau pisah-meja dan ranjang karena alasan itu juga.

ayat 3 - Terhadap pengaduan ini tidak berlaku pasal 72, 73, dan 75.

ayat 4 - Pengaduan dapat ditarik kembali selama pemeriksaan dalam sidang pengadilan belum dimulai.

ayat 5 - Jika bagi suami-istri itu berlaku pasal 27 BW, pengaduan tidak diindahkan selama perkawinan belum diputuskan karena perceraian atau sebelum putusan yang menyatakan pisah meja dan tempat tidur menjadi tetap.

BW pasal 27 Dalam waktu yang sama seorang pria hanya diperbolehkan mempunyai satu orang perempuan sebagai istrinya, seorang perempuan hanya satu orang pria sebagai suaminya.

KUHP pasal 285 Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita bersetubuh dengan dia di luar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.

Pada tindak pidana di atas perlu dibuktikan telah terjadi persetubuhan dan telah terjadi paksaan dengan kekerasan atau dengan ancaman kekerasan. Dokter dapat menentukan apakah persetubuhan telah terjadi atau tidak, dan apakah terdapat tanda-tanda kekerasan. Tetapi dokter tidak dapat menentukan apakah terdapat unsur paksaan pada tindak pidana ini.

Ditemukannya tanda kekerasan pada tubuh korban tidak selalu merupakan akibat paksaan, mungkin juga disebabkan oleh hal-hal lain yang tak ada hubungannya dengan paksaan. Demikian pula jika dokter tidak menemukan tanda kekerasan, maka hal itu belum merupakan bukti bahwa paksaan tidak terjadi. Pada hakekatnya dokter tidak dapat menetukan unsur paksaan yang terdapat pada tindak pidana perkosaan sehingga dokter juga tidak mungkin menentukan apakah perkosaan telah terjadi. Yang berwenang untuk menentukan hal tersebut adalah hakim karena perkosaan adalah pengertian hukum bukan istilah medis sehingga dokter jangan menggunakan istilah perkosaan dalam Visum et Repertum.

Dalam bagian kesimpulan Visum et Repertum hanya dituliskan 1. Ada tidaknya tanda persetubuhan 2. Ada tidaknya tanda kekerasan serta jenis kekerasan yang menyebabkannya.

KUHP pasal 286 Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan padahal diketahui bahwa wanita itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.

Pada tindak pidana di atas harus terbukti bahwa perempuan berada dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya ketikan terjadi persetubuhan. Dokter harus mencatat dalam anamnesa apakah korban sadar ketika terjadi persetubuhan, adakah penyakit yang diderita korban yang sewaktu-waktu dapat mengakibatkan korban pingsan atau tak berdaya misalnya epilepsi, katalepsi, syncope, dan lainnya. Jika korban mengatakan ia pingsan maka perlu diketahui bagaimana terjadinya keadaan pingsan itu, apakah terjadi setelah korban diberi makanan atau minuman.

Pada pemeriksaan perlu diperhatikan apakah korban menunjukkan tanda-tanda bekas hilang kesadaran atau tanda-tanda telah berada di bawah pengaruh alkohol, hipnotik atau narkotik. Apabila ada petunjuk bahwa alkohol, hipnotik atau narkotik telah dipergunakan maka dokter perlu mengambil urin dan darah untuk pemeriksaan toksikologik.

Jika terbukti bahwa si terdakwa telah sengaja membuat wanita itu pingsan atau tak berdaya, ia dapat dituntut telah melakukan tindak pidana perkosaan karena dengan membuat wanita itu pingsan atau tidak berdaya ia telah melakukan kekerasan.

KUHP pasal 89 Membuat orang pingsan atau tidak berdaya disamakan dengan menggunakan kekerasan.

KUHP pasal 287 ayat 1 Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umurnya belum lima belas tahun atau kalau umurnya tidak jelas, bahwa belum waktunya untuk dikawin, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun.

ayat 2 Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan kecuali jika umur wanita itu belum sampai dua belas tahun atau jika ada salah satu hal berdasarkan pasal 291 dan pasal 294.

Tindak pidana ini merupakan persetubuhan dengan wanita yang menurut undang-undang belum cukup umur. Jika umur korban belum cukup 15 tahuntetapi sudah di atas 12 tahun, penuntutan baru dilakukan bila ada pengaduan dari yang bersangkutan. Jadi dengan keadaan itu persetubuhan tersebut merupakan delik aduan, bila tidak ada pengaduan maka tidak ada penuntutan.

Tetapi keadaan berbeda jika : 1. Umur korban belum cukup 12 tahun, atau 2. Korban yang belum cukup 15 tahun itu menderita luka berat atau mati akibat perbuatan itu (KUHP pasal 291), atau 3. Korban yang belum cukup 15 tahun itu adalah anaknya, anak tirinya, muridnya, anak yang berada di bawah pengawasannya, bujangnya atau bawahannya (pasal 294). Dalam keadaan diatas, penuntutan dapat dilakukan walaupun tidak ada pengaduan karena bukan lagi merupakan delik aduan.

Pada pemerikasaan akan diketahui umur korban. Jika tidak ada akte kelahiran maka umur korban yang pasti tidak diketahui. Dokter perlu menyimpulkan apakah wajah dan bentuk badan korban sesuai dengan umur yang dikatakannya.

Keadaan perkembangan payudara dan pertumbuhan rambut kemaluan perlu dikemukakan. Ditentukan apakah gigi geraham belakang ke-2 (molar ke-2) sudah tumbuh (terjadi pada umur kira-kira 12 tahun), sedangkan molar ke-3 akan muncul pada usia 17-21 tahun atau lebih. Juga harus ditanyakan apakah korban sudah pernah mendapat haid bila umur korban tidak diketahui.

Jika korban menyatakan belum pernah haid, maka penentuan ada/tidaknya ovulasi masih diperlukan. Muller menganjurkan agar dilakukan observasi selama 8 minggu di rumah sakit untuk menentukan adakah selama itu ia mendapat haid. Kini untuk menentukan apakah seorang wanita sudah pernah mengalami ovulasi atau belum, dapat dilakukan pemeriksaan 'vaginal smear'.

Hal di atas perlu diperhatikan mengingat bunyi kalimat : padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduga bahwa wanita itu umurnya belum lima belas tahun dan kalau umurnya tidak jelas bahwa belum waktunya untuk dikawin. Perempuan yang belum pernah haid dianggap sebgai belum patut dikawin.

KUHP pasal 291 ayat 1 Kalau salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 286, 287, 288, dan 290 itu berakibat luka berat, dijatuhkan hukuman penjara selama-lamanya 12 tahun.

ayat 2 Kalau salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 285, 286, 287, 289, dan 290 itu berakibat matinya orang, dijatuhkan hukuman penjara selama-lamanya 15 tahun.

KUHP pasal 294 Barang siapa melakukan perbuatan cabul dengan anaknya, anak tirinya atau anak piaraannya, anak yang dibawah pengawasannya, orang dibawah umur yang diserahkan kepadanya untuk dipelihara, dididiknya atau dijaganya, atau bujangnya atau orang yang dibawah umur, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 7 tahun.

Dengan itu dihukum juga : 1. Pegawai negeri yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang

dibawahnya/orang yang dipercayakan/diserahkan kepadanya untuk dijaga.

2. Pengurus, dokter, guru, pejabat, pengurus atau bujang di penjara, ditempat bekerja kepunyaan negeri, tempat pendidikan, rumah piatu, Rumah sakit jiwa atau lembaga semua yang melakukan perbuatan cabul dengan orang yang dimasukkan disitu.

Setiap pemeriksaan untuk pengadilan harus berdasarkan permintaan tertulis dari penyidik yang berwenang.

Korban harus diantar oleh polisi karena tubuh korban merupakan benda bukti. Kalau korban datang sendiri dengan membawa surat permintaan dari polisi, tidak akan diperiksa oleh dokter dan korban akan disuruh kembali kepada polisi.

Setiap Visum et Repertum harus dibuat berdasarkan keadaan yang didapatkan pada tubuh korban pada waktu permintaan Visum et Repertum diterima oleh dokter.

Prosedur Hukum Bila dokter telah memeriksa seorang korban yang datang di rumah sakit atau di tempat praktek atas inisiatif sendiri, bukan atas permintaan polisi, dan beberapa waktu kemudian polisi mengajukan permintaan dibuatkan Visum et Repertum maka dokter harus menolak karena segala sesuatu yang diketahui dokter tentang diri korban sebelum ada permintaan untuk dibuatkan Visum et Repertum merupakan rahasia kedokteran yang wajib disimpannya (KUHP pasal 322). Dalam keadaan seperti itu dokter dapat meminta kepada polisi supaya korban dibawa kembali kepadanya dan Visum et Repertum dibuat berdasarkan keadaan yang ditemukan pada waktu permintaan diajukan. Hasil pemeriksaan yang lalu tidak diberikan dalam bentuk Visum et Repertum tetapi dalam bentuk surat keterangan. Hasil pemeriksaan sebelum diterimanya surat permintaan pemeriksaan dilakukan terhadap pasien dan bukan sebagai corpus dilicti (benda bukti).

Ijin tertulis untuk pemeriksaan ini dapat diminta pada korban sendiri atau jika korban adalah seorang anak, dari orang tua atau walinya. Jelaskan terlebih dahulu tindakantindakan apa yang akan dilakukan pada korban dan hasil pemeriksaan akan disampaikan ke pengadilan. Hal ini perlu diketahui walaupun pemeriksaan dilakukan atas permintaan polisi, belum tentu korban akan menyetujui pemeriksaan itu dan menolaknya. Selain itu bagian yang akan diperiksa merupakan the most private part dari tubuh seorang wanita.

10

Seorang perawat atau bidan harus mendampingi dokter pada waktu memeriksa korban.

Pemeriksaan dilakukan secepat mungkin dan jangan ditunda terlampau lama.

Hindarkan korban dari menunggu dengan perasaan was-was dan cemas di kamar periksa. Apalagi bila korban adalah seorang anak. Semua yang ditemukan harus dicatat, jangan tergantung pada ingatan semata.

Visum et Repertum diselesaikan secepat mungkin. Dengan adanya Visum et Repertum perkara dapat cepat diselesaikan. Seorang terdakwa dapat cepat dibebaskan dari tahanan bila ternyata ia tidak bersalah.

Kadang - kadang dokter yang sedang berpraktek pribadi diminta oleh seorang ibu/ayah untuk memeriksa anak perempuannya karena ia merasa sangsi apakah anaknya masih perawan atau karena ia merasa curiga kalau-kalau telah terjadi persetubuhan pada anaknya.

Dalam hal ini sebaiknya ditanyakan dahulu maksud pemeriksaan, apakah sekedar ingin mengetahui saja atau ada maksud untuk melakukan penuntutan. Bila dimaksudkan akan melakukan penuntutan maka sebaiknya dokter jangan memeriksa anak itu. Katakan bahwa pemeriksaan harus dilakukan berdasarkan permintaan polisi dan biasanya dilakukan di rumah sakit. Mungkin ada baiknya dokter memberikan penerangan pada ibu/ayah itu bahwa jika umur anaknya sudah 15 tahun dan jika persetubuhan terjadi tidak dengan paksaan maka menurut undang-undang, laki-laki yang bersangkutan tidak dapat dituntut. Pengaduan mungkin hanya akan merugikan anaknya saja. Lebih baik lagi jika orang tua itu dianjurkan untuk minta nasehat dari seorang pengacara.

Jika orang tua hanya sekedar ingin mengetahuisaja maka dokter dapat melakukan pemeriksaan. Tetapi jelaskan lebih dahulu bahwa hasil pemeriksaan tidak akan dibuat dalam bentuk surat keterangan karena kita tidak mengetahui untuk apa surat keterangan itu. Mungkin untuk melakukan penuntutan atau untuk menuduh seseorang yang tidak bersalah. Dalam keadaan demikian umunya anak tidak mau diperiksa, sebaliknya orang tua malah mendesaknya. Sebaiknya dokter meminta izin tertulis untuk memeriksa dan

memberitahukan hasil pemeriksaan kepada orang tuanya.

11

Data yang perlu dicantumkan dalam bagian pendahuluan Visum et Repertum delik kesusilaan adalah :

Instansi polisi yang meminta pemeriksaan Nama dan pangkat polisi yang mengantar korban Nama, umur, dan alamat korban seperti yang tertulis dalam surat permintaan Nama dokter yang memeriksa Tempat, tanggal, dan jam pemeriksan dilakukan Nama perawat yang menyaksikan pemeriksaan

Prosedur Medikolegal Persetujuan Tindakan Medik. Peraturan Menteri Kesehatan No. 585/MenKes/Per/IX/1989 tentang persetujuan tindakan medis. Pasal 1. Permenkes No 585/MenKes/Per/IX/1989. a) Persetujuan tindakan medis/informed consent adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medic yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut. b) Tindakan medik adalah suatu tindakan yang dilakukan terhadap pasien berupa diagnostik atau terapeutik. c) Tindakan invasif adalah tindakan medis yang langsung dapat mempengaruhi jaringan tubuh. d) Dokter adalah dokter umum/spesialis dan dokter gigi/dokter gigi spesialis yang bekerja di rumah sakit, puskesmas, klinik atau praktek perorangan/bersama.

Pasal 2. PerMenKes No 585/MenKes/Per/IX/1989 1. Semua tindakan medis yang akan dilakukan terhadap pasien harus mendapat persetujuan. 2. Persetujuan dapat diberikan secara tertulis maupun lisan.

12

3. Persetujuan sebagaimana dimaksud ayat (1) diberikan setelah pasien mendapat informasi yang adekuat tentang perlunya tindakan medik yang bersangkutan serta risiko yang dapat ditimbulkannya. 4. Cara penyampaian dan isi informasi harus disesuaikan dengan tingkat pendidikan serta kondisi dan situasi pasien. Pasal 4. PerMenKes No 585/MenKes/Per/IX/1989. 1. Informasi tentang tindakan medik harus diberikan kepada pasien, baik diminta maupun tidak diminta. 2. Dokter harus memberikan informasi selengkap-lengkapnya kecuali bila dokter menilai bahwa informasi tersebut dapat merugikan kepentingan kesehatan pasien atau pasien menolak diberikan informasi. 3. Dalam hal-hal sebagaimana yang disebut di pasal (2) dokter dengan persetujuan pasien dapat memberikan informasi tersebut kepada terdekat dengan didampingi oleh seorang perawat/paramedik lainnya sebagai saksi.1 Selain di atas, terdapat juga beberapa pasal yang berhubungan dengan peraturan perundang-undangan bidang kedokteran yang lain,yaitu : 1. Kewajiban Dokter Membantu Peradilan Pasal 179 KUHAP (1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan. (2) Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan yang sebenarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya.

2. Hak Menolak Menjadi Saksi / Ahli

13

Pasal 120 KUHAP

(1) Dalam hal penyidik menganggap perlu, ia dapat meminta pendapat seorang ahli atau orang yang memiliki keahlian khusus. (2) Ahli tersebut mengangkat sumpah atau mengucapkan janji di muka penyidik bahwa ia akan memberi keterangan menurut pengetahuan yang sebaik-baiknya kecuali bila disebabkan karena harkat serta martabat, pekerjaan atau jabatan yang mewajibkan ia menyimpan rahsia dapat menolak untuk memberi keterangan yang diminta.

3. Bentuk Bantuan Dokter Bagi Peradilan Dan Manfaatnya

Pasal 183 KUHAP Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu tindak pidana benar-benar terjadi dan terdakwalah yang bersalah melakukannya.

4. Sangsi Bagi Pelanggar Kewajiban Dokter

Pasal 216 KUHP (1) Barang siapa dengan sengaja tidak menurut perintah atau permintaan yang dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat berdasarkan tugasnya, demikian pula yang diberi kuasa untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana, demikian pula barang siapa yang dengan sengaja mencegah, menghalangi atau menggagalkn tindakan guna menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan dua minggu tau denda paling banyak sembilan ribu rupiah.

14

Anamnesis

Anamnesis merupakan sesuatu yang tidak dapat dilihat atau ditemukan oleh dokter sehingga bukan merupakan pemeriksaan yang obyektif. Jadi, seharusnya anamnesis tidak dimasukkan dalam Visum et Repertum. Anamnesis dibuat terpisah dan dilampirkan pada Visum et Repertum dengan judul "keterangan yang diperoleh dari korban". Dalam mengambil anamnesis, dokter meminta pada korban untuk menceritakan segala sesuatu tentang kejadian yang dialaminya dan sebaiknya terarah. Anamnesis terdiri dari bagian yang bersifat umum dan khusus. Anamnesa diberikan bila diminta oleh penyidik dan tidak secara otomatis dilampirkan dalam Visum et Repertum.

Anamnesis umum meliputi pengumpulan data tentang umur, tanggal, dan tempat lahir, status perkawinan, siklus haid untuk anak yang tidak diketahui umurnya, penyakit kelamin, penyakit kandungan dan penyakit lainnya seperti epilepsi, katalepsi, syncope. Keterangan pernah atau belum pernah bersetubuh, saat persetubuhan terakhir, adanya penggunaan kondom.

Hal khusus yang perlu diketahui adalah tanggal dan jam kejadian. Bila antara kejadian dan pelaporan kepada yang berwajib berselang beberapa hari/minggu, dapat diperkirakan bahwa peristiwa itu bukan perkosaan tetapi persetubuhan yang pada dasarnya tidak disetujui oleh wanita yang bersangkutan karena berbagai alasan, misalnya merasa tertipu, cemas terjadi kehamilan atau karena ketakutan diketahui orangtuanya bahwa dia sudah pernah bersetubuh maka mengaku disetubuhi secara paksa. Jika korban benar telah diperkosa biasanya akan segera melapor. Pada pelaporan yang terlambat, ada kemungkinan pula karena korban diancam untuk tidak melapor ke polisi.

Hal selanjutnya yang ditanyakan adalah tempat kejadian. Adanya rumput, tanah dan lainnya yang melekat pada pakaian dan tubuh korban dapat dijadikan petunjuk dalam pencarian trace evidence yang berasal dari tempat kejadian. Perlu diketahui pula apakah korban melawan. Jika korban melawan maka pada pakaian mungkin ditemukan robekan, pada tubuh korban akan ditemukan tanda-tanda bekas kekerasan dan pada alat kelamin mungkin terdapat bekas perlawanan. Kerokan kuku mungkin menunjukkan adanya sel-sel epitel kulit

15

dan darah yang berasal dari pemerkosa/penyerang. Temukan adanya kemungkinan korban menjadi pingsan karena ketakutan atau dibuat pingsan dengan pemberian obat tidur/bius. Dalam hal ini diperlukan sampel pengambilan urin dan darah untuk pemeriksaan toksikologik.Perlu ditanyakan pula apakah setelah kejadian korban mencuci, mandi, dan mengganti pakaian.

Pemeriksaan Umum

Pemeriksaan pakaian perlu dilakukan dengan teliti helai demi helai, apakah terdapat robekan lama atau baru sepanjang jahitan atau melintang pada pakaian, kancing yang terputus akibat tarikan, bercak darah, air mani, lumpur, dan lainnya yang berasal dari tempat kejadian. Apakah pakaian dalam keadaan rapi atau tidak. Bila tidak ada fasilitas pemeriksaan , maka benda-benda yang melekat dan pakaian yang dipakai ketika terjadi persetubuhan dikirim ke laboratorium forensik di kepolisian atau bagian ilmu kedokteran forensik dalam keadaan dibungkus, tersegel dan disertai berita acara pembungkusan dan penyegelan.

Pemeriksaan tubuh korban meliputi pemeriksaan umum seperti penampilan rambut yang rapi atau kusut, wajah dalam keadaan emosional, tenang atau sedih/gelisah. Adanya tanda-tanda bekas kehilangan kesadaran akibat pemberian obat tidur/bius, adanya needle marks. bila ada indikasi maka diperlukan pengambilan urin dan darah. Adanya memar atau luka lecet pada daerah mulut, leher, pergelangan tangan, lengan, paha bagian dalam dan pinggang. Dicatat pula tanda perkembangan alat kelamin sekunder, pupil, refleks cahaya, pupil pinpoint, tinggi dan berat badan, tekanan darah, keadaan jantung, paru, dan abdomen.

16

Pemeriksaan Khusus

Pemeriksaan bagian khusus daerah genitalia meliputi adanya rambut kemaluan yang saling melekat menjadi satu karena air mani yang mengering yang akan digunting untuk pemeriksaan laboratorium. Jika dokter menemukan rambut kemaluan yang lepas pada badan wanita maka harus diambil beberapa helai rambut kemaluan dari wanita dan laki-laki sebagai bahan pembanding (matching). Perlu ditemukan bercak air mani di sekitar alat kelamin dengan cara dikerok menggunakan sisi tumpul skapel atau swab dengan kapas lidi yang dibasahi dengan garam fisiologis. Pada vulva, perlu diteliti adanya tanda-tanda bekas kekerasan seperti hiperemi, edema, memar dan luka lecet (goresan kuku). Introitus vagina apakah hiperemi/edema dan penggunaan kapas lidi untuk pengambilan bahan pemeriksaan sperma dari vestibulum.

Pemeriksa jenis selaput dara untuk melihat adanya ruptur dan penentuan apakah ruptur tersebut baru atau lama. Bedakan ruptur dengan celah bawaan dari ruptur dengan memperhatikan sampai di pangkal selaput dara. Celah bawaan tidak mencapai pangkal sedangkan ruptur dapat sampai ke dinding vagina. Pada vagina akan ditemukan parut bila ruptur sudah sembuh, sedangkan ruptur yang tidak mencapai basis tidak akan menimbulkan parut. Ruptur akibat persetubuhan biasa ditemukan di bagian posterior kanan atau kiri dengan asumsi bahwa persetubuhan dilakukan dengan posisi saling berhadapan. Tentukan pula besar orifisium apakah sebesar ujung jari kelingking, jari telunjuk, atau 2 jari. Ukuran pada seorang perawan kira-kira 2,5 centimeter sedangkan lingkaran persetubuhan yang dapat terjadi menurut Voight minimal 9 centimeter. Pada persetubuhan tidak selalu disertai deflorasi.

Pemeriksaan selanjutnya pada frenulum labiorum pudendi dan comissura labiorum posterior untuk melihat keutuhannya. Pemeriksaan vagina dan serviks dilakukan dengan spekulum bila keadaan alat genital memungkinkan dan pemeriksaan kemungkinan adanya penyakit kelamin. Pemeriksaan cairan mani dan sel mani dalam lendir vagina dilakukan dengan mengambil lendir vagina menggunakan pipet pasteur atau diambil dengan ose batang gelas atau swab. Bahan diambil dari forniks posterior, bila mungkin dari spekulum.

17

Pada anak-anak atau bila selaput dara masih utuh, pengambilan bahan dibatasi dari vestibulum saja.

Pemeriksaan terhadap kuman Neisseria gonorrhoeae dari sekret urether (urut dengan jari) dan dipulas dengan pewarnaan Gram. Pmeriksaan dilakukan pada hari ke-I, III, V, dan VII. Jika pada pemeriksaan didapatkan N.gonorrheae berarti terbukti adanya kontak seksual dengan seorang penderita, bila pada pria tertuduh juga ditemukan maka ini akan menjadi bukti yang kuat. Jika terdapat ulkus, sekret perlu diambil untuk pemeriksaan serologik atau bakteriologik. Pemeriksaan kehamilan dan toksikologik terhadap urin dan darah juga bisa dilakukan bila ada indikasi.

Pemeriksaan Medis terhadap Tersangka

Pada pria tersangka dapat dilakukan pemeriksaan pakaian, diperhatikan bersak semen, darah dan sebagainya. Bercak semen tidak berarti dalam pembuktian sehingga tidak perlu ditentukan. Darah mempunyai nilai karena mungkin berasal dari darah korban. Disini penentuan golongan darah penting dilakukan. Mungkin dapat ditemukan tanda kekerasan akibat perlawanan. Persetubuhan dapat dijejaki dengan melakukan pemeriksaan ada atau tidak sel epitel vagina pada glans penis: Pemeriksaan dilakukan dengan menekankan kaca objek ke glans penis, daerah korona atau frenulum, kemudian diletakkan terbalik di atas cawan yang berisi larutan lugol. Uap yodium akan mewarnai lapisan pada kaca objek tersebut. Sitoplasma sel epitel vagina akan berwarna coklat tua karena mengandung glikogen. Warna coklat tadi cepat hilang namun dengan meletakkan sekali sediaan diatas cairan lugol, warna coklat akan kembali lagi. Pada sediaan ini dapat ditemukan spermatozoa tanpa arti.

Dilakukan juga pemeriksaan secret urethra menentukan penyakit kelamin.

18

Pemeriksaan Laboratorium Sebelum dilakukan pemeriksaan laboratorium perlu dilakukan pengambilan sampel. Sampel didapat dari cairan vagina untuk pemeriksaan air mani dan secret uretra untuk pemeriksaan penyakit kelamin. Cairan vagina disedot dengan pipet Pasteur, atau diambil dengan ose. Pada anak-anak, atau jika selaput dara utuh sebaiknya pengambilan bahan dibatasi sampai vestibulum.2,3.

a) Penentuan spermatozoa i. Tanpa pewarnaan

Setetes cairan vagina diletakkan di atas kaca benda dan diperiksa dengan pembesaran 500x dengan kondensor diturunkan. Perhatikan apakah spermatozoa bergerak. Dapat diambil sebagai patokan bahwa spermatozoa masih bergerak kira-kira 4 jam postkoital.

ii.

Dengan pewarnaan

Buat sediaan apus dari cairan vagina pada kaca benda, keringkan di udara, fiksasi dengan api, warnai dengan Malachite-green 1% dalam air, tunggu 10-15 menit, cuci dengan air, warnai dengan eosin-yellowish 1% dalam air, tunggu 1 menit, cuci dengan air, keringkan dan diperikasa di bawah mikroskop. Hasil yang diharapkan adalah bagian basis kepala sperma berwarna ungu, bagian hidung berwarna merah muda.

b) Penentuan cairan mani i. Reaksi asam fosfatase

Cairan mani menunjukkan aktitifitas enzim fosfatase yang tinggi, rata-rata 2500 unit K.A. sedangkan dalam sekret vagina, setelah 8 hari abstinensia seksualis, ditemukan 0-6 unit. Sebagai reagen digunakan brentamin fast blue b yang dilarutkan di dalam larutan buffer yang telah ditambah sodium a-naphtyl fosfat. Enzim asam fosfatase menghidrolisis anaphty fosfat; a-naphtol yang telah dibebaskan bereaksi dengan brentamine di atas kertas saring, disemprot dengan reagen, ditentukan dalam berapa detik warna violet

19

timbul (reaction time). Davis dan Wilson menyatakan bahwa bila waktu reaksi kurang dari 30 detik dapat dianggap indikasi baik dan adanya cairan mani, jika kurang dari 65 detik dapat dianggap sebagai indikasi cukup, tetapi masih perlu dikuatkan dengan pemeriksaan elektroforetik. Waktu reaksi yang lebih dari 65 detik belum dapat menyingkirkan sepenuhnya adanya cairan mani, karena pernah ditemukan waktu reaksi yang lebih dari 65 detik, tetapi spermatozoa ditemukan.

ii.

Tes Florence

Cairan vagina ditetesi larutan yodium. Kristal yang terbentuk diamati di bawah mikroskop. Hasil yang diharapkan tampak kristal-kristal kholinperyodida tampak berbentuk arum-jarum yang berwarna coklat.

iii.

Tes Berberio

Cairan vagina ditetesi larutan asam pikrat, kemudian kristal yang terbentuk diamati di bawah mikroskop. Hasil yang diharapkan adalah terbentuknya kristal-kristal spermin pikrat berbentuk rhombik atau jarum kompas yang berwarna kuning kehijauan.

iv.

Elektroimmunodifusi

Digunakan serum anti air mani manusia. Selain spesifik terhadap antigen manusia, serum ini juga mengandung zat anti terhadap enzim fosfatase. Apabila serum ini direaksikan dengan air mani akan terbentuk enzim antibody kompleks yang ternyata masih memiliki sifat enzimatik dan dapat dinyatakan dengan reagen asam phospatase. Sebagai medium digunakan plat agar yang mengandung serum anti dalam konsentrasi kecil.

v.

Elektroforetik

Digunakan plat akrilamide, dikembangkan dalam suatu larutan buffer pH 3 dan dilihat di bawah sinar ultraviolet. Asam fosfatese seminal bergerak sejauh 4 cm dan asam fosfatase vaginal sejauh 3 cm.

20

c) Pemeriksaan air mani yang terdapat pada pakaian

i.

Visual : Tampak sebagai bercak yang berbatas jelas dan lebih gelap dari sekitarnya. Bercak yang sudah agak tua berwarna sedikit kekuning-kuningan. Pada bahan sutera atau nilon batasnya sering tidak jelas, tetapi selalu lebih gelap dari sekitarnya.

ii.

Sinar ultraviolet : Menunjukkan flouresensi putih. Apa yang menyebabkan hal ini tidak diketahui. Cara ini kurang memuaskan. Bercak air mani pada sutera buatan, nilon, biasanya tidak memberikan flourosensi.bahan makanan, urine, sekret vagina juga sering menimbulkan flourosensi.

iii.

Taktil : Diraba dengan ari-ari tangan terasa kaku seperti cairan kanji yang tidak menyerap. Bila diraba permukaan bercak terasa kasar.

iv.

Penapisan dengan reagen asam fosfatase : Selembar kertas saring yang dibasahi dengan aqua destilata dilekatkan di atas pakaian atau sprei yang diperiksa. Setelah 5-10 menit kertas saring diangkat, didiamkan sampai hampir kering dan disemprot dengan reagen. Ika terbentuk bercak violet, kertas saring diletakkan kembali di atas bahan sesuai dengan letaknya semula. Dengan demikian letak bercak mani pada bahan dapat dilokasi.

v.

Pencairan spermatozoa : Konsentrasi spermatozoa yang terbesar terdapat di bagian sentral dari bercak. Dari bagian itu diambil sebagian kecil, dipulas dengan pewarnaan Baeechi. Bahan dipulas selama 2 menit, dicuci di dalam HCl 1%, dihidrasi dalam alcohol 70%, 80%, dan 95-100%, dan dijernihkan dengan xilol. Kemudian dikeringkan dengan meletakkannya di atas kertas saring.Dengan jarum preparir atau jarum suntik diambil sehelai atau dua benang, diletakkan di atas kaca mikroskopik dan diurai sampai menjadi serabut-serabut. Ditutup dengan balsem Kanada dan diperiksa dengan pembesaran 500x.

d) Pemeriksaan DNA

Pada kasus perkosaan ditemukannya pita-pita DNA dari benda bukti atau korban yang ternyata identik dengan pita-pita DNA tersangka menunjukkan bahwa tersangkalah yang menjadi donor sperma. Adanya kemungkinan percampuran antara sperma pelaku dan cairan

21

vagina tidak menjadi masalah, karena pada proses kedua jenis DNA ini dapat dipisahkan satu sama lain. Satu-satunya kesalahan yang mungkin terjadi adalah kalau pelakunya memiliki saudara kembar identik. Perkembangan lebih lanjut pada bidang forensik adalah ditemukannya pelacak DNA yang hanya melacak satu lokus saja (single locus probe) yang menghasilkan hanya 2 pita saja. Penggunaan metode ini pada kasus perkosaan sangat menguntungkan karena ia dapat digunakan untuk membuat perkiraan jumlah pelaku pada kasus perkosaan dengan pelaku lebih dari satu.

Ditemukannya metode penggandaan DNA secara enzimatik (Polymerase Chain Reaction atau PCR) membuka lebih banyak kemungkinan pemeriksaan DNA. Dengan metode ini bahan sampel yang amat minim jumlahnya tidak lagi menjadi masalah karena DNAnya dapat diperbanyak jutaan sampai milyaran kali lipat di dalam mesin yang dinamakan mesin PCR atau thermocycler. Dengan metode ini waktu pemeriksaan juga banyak dipersingkat, lebih sensitif serta lebih spesifik pula. Pada metode ini analisis DNA dapat dilakukan dengan sistim dotblot yang berbentuk bulatan berwarna biru, sistim elektroforesis yang berbentuk pita DNA atau dengan pelacakan urutan basa dengan metode sekuensing.

Interpretasi Hasil Dari kasus di atas, korban adalah seorang anak perempuan yang berumur 14 tahun, yang dibawa lari oleh teman laki-lakinya berusia 18tahun, dan sang ayah mencurigai jika anaknya telah disetubuhi. Jika pemeriksaan ke dokter menunjanng dugaan ayahnya dengan ditemui yaitu dari pemeriksaan di lihat selaput dara (hymen) telah terobek, disertai erosi dan peradangan pada vulva sisi kanan. Adanya robekan pada selaput dara menandakan terdapat penetrasi ke dalam vagina sehingga selaput dara terobek.

Robekan selaput dara mungkin disebabkan pelbagai keadaan, salah satunya adalah disebabkan terjadinya kejahatan seksual terhadap anak ini. Pemeriksaan lanjut diperlukan untuk mengenalpasti adakah terdapat tanda-tanda penetrasi, air mani atau persetubuhan. Hasil dari pemeriksaan lanjut seperti pemeriksaan laboratoriun terhadap air mani dan spermatozoa dapat menunjang kasus dan dapat diketahui pelakunya.

22

Dicari juga tanda-tanda kekerasan pada anak perempuan yang apabila ditemukan menunjukkan bahwa kasus di atas tidak dilakukan atas dasar kerelaan sendiri dan terdapat unsur pemaksaan oleh teman laki-laki. Dalam kasus ini, jika sang ayah tidak dibawa ke pengadilan, dokter hanya bisa membuat surat keterangan medis. Tuntutan hanya berlaku jika si ayah atau pihak lain yang mengadukan kasus ini ke penyidik, dan penyidik meminta dokter untuk membuat Visum et Repertum untuk dijadikan bahan bukti.

Visum et Repertum

Visum et Repertum yang dihasilkan mungkin menjadi dasar untuk membebaskan terdakwa dari penuntutan atau sebaliknya untuk menjatuhkan hukuman. Di Indonesia, pemeriksaan korban persetubuhan yang diduga sebagai tindak kejahatan seksual umumnya dilakukan oleh dokter ahli Ilmu Kebidanan dan Penyakit Kandungan, kecuali di tempat yang tidak ada dokter ahli demikian maka dokter umumlah yang harus melakukan pemeriksaan itu.

Sebaiknya korban kejahatan seksual dianggap sebagai orang yang telah mengalami cedera fisik dan/atau mental sehingga sebaiknya pemeriksaan ditangani oleh dokter di klinik. Penundaan pemeriksaan dapat memberikan hasil yang kurang memuaskan. Visum et Repertum Kejahatan Susila CONTOH Bahagian Ilmu Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran UKRIDA Jl. Arjuna Utara, Jakarta Barat Nomor : 3456-SK.III/2345/2-95. Jakarta, 2011. Lamp. : Satu sampul tersegel. Perihal : Hasil Pemeriksaan Medis atas anak perempuan berusia 14 tahun. Projustitia Visum Et Repertum Yang bertanda tangan di bawah ini, Aimi Nadiah, dokter ahli kedokteran forensik menerangkan bahawa atas permintaan tertulis dari Kepolisian Resort Polisi Jakarta Selatan No. Pol.:B/789/VR/XII/2010/Serse tertanggal 10 Januari 2011, maka pada tanggal tiga belas januari tahun dua ribu sebelas, pukul delapan lewat tiga puluh menit waktu Indonesia Barat, 14 Januari

23

bertempat di ruang pemeriksaan medis Fakultas Kedokteran UKRIDA telah melakukan pemeriksaan ke atas korban menurut surat permintaan tersebut adalah : Nama : Anak X ---------------------------------------------------------------------------------------Jenis Kelamin : Perempuan -------------------------------------------------------------------------Umur : 14 tahun ---------------------------------------------------------------------------------------Kebangsaan : Indonesia ------------------------------------------------------------------------------Agama : -------------------------------------------------------------------------------------------------Pekerjaan : ----------------------------------------------------------------------------------------------Alamat : ---------------------------------------------------------------------------------------------------

HASIL PEMERIKSAAN Pemeriksaan Luar 1. Korban seorang perempuan ---------------------------------------------------------------------2. Korban berpakaian seperti berikut : ------------------------------------------------------------3. Celananya seperti berikut : ----------------------------------------------------------------------4. Pada jari manis tangan kiri : --------------------------------------------------------------------5. Daerah dada sebelah kiri, kanan : --------------------------------------------------------------6. Rambut kepala : ----------------------------------------------------------------------------------7. Alis: ------------------------------------------------------------------------------------------------8. Hidung berbentuk : -------------------------------------------------------------------------------9. Mulut berbentuk : ---------------------------------------------------------------------------------10. Pada lengan kanan bawah : ----------------------------------------------------------------------11. Pada telapak tangan kanan : ---------------------------------------------------------------------12. Pemeriksaan daerah genital : --------------------------------------------------------------------Pemeriksaan Laboratorium 1. Penentuan cairan mani : -------------------------------------------------------------------------2. Penentuan spermatozoa : ------------------------------------------------------------------------3. Pemeriksaan air mani yang terdapat pada pakaian : -----------------------------------------Kesimpulan Pada korban terdapat robekan selaput dara, erosi dan peradangan menandakan terdapat penetrasi ke dalam vagina sehingga menyebabkan selaput dara robek. Pemeriksaan lanjut menunjukkan adanya cairan mani, memastikan terdapat tanda-tanda persetubuhan. Demikianlah saya uraikan dengan sebenar benarnya berdasarkan keilmuan saya yang sebaik baiknya mengingat sumpah sesuai dengan KUHAP. Dokter yang memeriksa,

-------------------------Dr. Aimi Nadiah

24

Aspek Psikososial

Tindakan perkosaan membawa dampak emosional dan fisik kepada korbannya. Secara emosional, korban perkosaan bisa

mengalami stress, depresi, goncangan jiwa, menyalahkan diri sendiri, rasa takut berhubungan intim dengan lawan jenis, kehamilan yang tidak diinginkan, coba bunuh diri dan malu untuk berhadapan dengan masyarakat. Secara fisik, korban mengalami penurunan nafsu makan, sulit tidur, sakit kepala, tidak nyaman di sekitar vagina, berisiko tertular PMS, luka di tubuh akibat perkosaan dengan kekerasan, dan lainnya. Adanya non-reporting dalam kasus kejahatan seksual pada anak merupakan suatu fenomena universal dan dijumpai juga di negara-negara lain disebabkan oleh berbagai hal, antara lain: 1. Si korban malu karena peristiwa ini telah mencemarkan dirinya (baik secara fisik, psikologi maupun sosiologis). 2. Si korban merasa berkewajiban melindungi nama baik keluarganya (terutama jika pelaku adalah anggota keluarga sendiri). 3. Si korban merasa bahwa proses peradilan pidana terhadap kasus ini belum tentu dapat membuat dipidananya si pelaku. 4. Si korban khawatir bahwa diprosesnya kasus ini akan membawa cemar yang lebih tinggi lagi pada dirinya (misalnya melalui publikasi media massa, atau cara pemeriksaan aparat hukum yang dirasanya membuatnya makin terluka) 5. Si korban khawatir akan retaliasi atau pembalasan dari pelaku (terutama jika pelaku adalah orang yang dekat dengan dirinya) 6. Lokasi kantor polisi yang jauh dari tempat tinggal korban, membuatnya enggan melapor

25

7. Keyakinan korban bahwa walaupun ia melapor ia tidak akan mendapat perlindungan khusus dari penegak hukum. 8. Ketidaktahuan korban bahwa yang dilakukan terhadap dirinya merupakan bentuk tindak kejahatan seksual.

Peran Lembaga Swadaya Masyarakat

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) menjadi ikon dalam proses transformasi masyarakat akhir-akhir ini. Perannya tidak diragukan lagi, turut serta dalam proses pemberdayaan masyarakat. Melalui perspektif sejarah, dapat ditelusuri bahwa cikal-bakal LSM di Indonesia telah ada sejak pra kemerdekaan. Lahir dalam bentuk lembaga keagamaan yang sifatnya sosial/amal (dapat dikategorikan generasi pertama). Tahun 50-an muncul LSM yang kegiatannya bersifat alternatif terhadap program pemerintah, dua pelopornya adalah LSD (Lembaga Sosial Desa) dan Perkumpulan Keluarga Kesejahteraan Sosial. Budi Utomo dan Serikat Islam juga dapat dikategorikan sebagai LSM yang mempunyai visi turut serta mewujudkan kemandirian masyarakat yang lebih tinggi untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan. Isu perempuan Hak anak dan perempuan, pusat bantuan untuk perempuan yang mengalami kekerasan, terapikelompok terhadap perempuan yang mengalami pelecehan seksual, hotline counseling (konseling via telepon khusus untuk perempuan), bantuan hukum untuk perempuan, mendorong minat baca dan tulis.

Upaya pencegahan kejahatan (crime prevention) dapat diklasifikasikan ke dalam 3 bagian, yaitu: a. Primary prevention, dengan melakukan kebijakan public agar dapat mempengaruhi persepsi atau pendapat public dengan mensosialisasikan sebab musabab terjadinya tindak pidana akar permasalahan (sumber kejahatan) yang perlu diketahui oleh masyarakat umum.

26

b. Secondary prevention, antara lain dengan kriminalisasi memperbaharui undangundang hukum bahwa perbuatannya adalah tindak pidana yang diatur di dalam undang-undang baru termasuk berat ringannya ancaman pidana (sasarannya adalah calon pelaku). c. Tertiery prevention, tahapan ini telah mempergunakan pendekatan represif melalui proses penegakan hukum bagi mereka yang melakukan tindak pidana yang pengaturannya telah mengalami tahap kriminalisasi. Dalam upaya pencegahan kejahatan yang telah dilakukan saat ini terutama primary, dan secondary prevention adalah hal kekerasan terhadap perempuan, diantaranya melalui pembuatan undang-undang yang lebih mendukung perempuan, seperti UU Penghapusan KDRT dan UU Perlindungan Saksi, juga program penguatan terhadap penegak hukum, baik dari sisi pengetahuan maupun sikap dalam mewujudkan keadilan gender. Penutup Kejahatan seksual yang dilakukan terhadap anak dibawah umur merupakan suatu kejahatan kesusilaan dan akan dihukum berdasarkan pasal 287 KUHP. Untuk suatu kejahatan kesusilaan ini dapat dibawa ke peradilan, perlu melewati jalur yang benar, membuatkan aduan ke pihak berwenang. Setelah pemeriksaan medis dan laboratorium menunjang adanya bukti terhadap dugaan, pelaku dapat dihukum. Sesungguhnya dampak kekerasan seksual terhadap anak dapat member efek buruk terhadap masa depan anak tersebut seperti dendam terhadap pelaku, takut menikah, merasa rendah diri, dan trauma akibat eksploitasi seksual, meski kini mereka sudah dewasa.

27

Daftar Pustaka 1. Peraturan undang-undangan bidang kedokteran, bahagian kedokteran forensik, fakultas kedokteran universitas Indonesia, cetakan kedua, 1994. 20-1, 33-4. 2. Ilmu kedokteran forensik, bahagian kedokteran forensik, fakultas kedokteran universitas Indonesia, cetakan kedua,1997. 147-58. 3. Pemeriksaan Kedokteran Forensik Klinik. Diunduh dari http://www.scribd.com/doc/17381449/Pemeriksaan-Kedokteran-Forensik-Klinik. Juli 15, 2009. 4. Pemeriksaan laboratorium forensic sederhana. Diunduh dari http://yumizone.wordpress.com/2009/03/19/pemeriksaan-laboratorium-forensiksederhana. Maret 19, 2009. 5. DNA Testing: An Introduction For Non-Scientist. Diunduh dari http://www.scientific.org/tutorials/articles/riley/riley.html. April 6, 2005. 6. Peradilan perspektif gender pada kejahatan seksual. Diunduh dari http://reformasikuhp.org/wp-content/uploads/2007/08/ridwan-masyurksm.pdf, 2007. 7. Visum et Repertum.Bagian Kedokteran Forensik FKUI, Jakarta ; h. 72-81 8. Dampak social-psikologis perkosaan, Ekandari S.F., Buletin Psikologi, Tahun X, No. 1, Juni 2002, 9-23. 9. Peran Lembaga Sosial Kasus Perlindungan Anak DKI Jakarta. Diunduh dari http://www.docstoc.com/docs/3896382. Jan 28, 2009.

28