Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH TRAKEOSTOMI

Disusun oleh kelompok 5

Anggi Ratih S Deddy Hadi K. Guntur A. Juliyana A.

Krisna Andre M. Mega Roesyi D. Moch. Badrun A. Yohana P.

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SATRIA BHAKTI NGANJUK 2011 / 2012
PENGERTIAN

Trakeostomi adalah operasi membuat jalan udara melalui leher langsung ke trakea untuk mengatasi asfiksi apabila ada gangguan pertukaran udara pernapasan. Trakeostomi adalah tindakan membuat stoma atau lubang agar udara dapat masuk ke paru-paru dengan memintas jalan nafas bagian atas (adams, 1997). Trakeostomi merupakan suatu prosedur operasi yang bertujuan untuk membuat suatu jalan nafas didalam trakea servikal. Trakeostomi adalah suatu tindakan dengan membuka dinding depan/anterior trakea untuk mempertahankan jalan nafas agar udara dapat masuk ke paru-paru dan memintas jalan nafas bagian atas (Harry, tahun)

ETIOLOGI Indikasi Pemasangan Trakeostomi 1. Terjadinya obstruksi jalan nafas atas 2. Sekret pada bronkus yang tidak dapat dikeluarkan secara fisiologis, misalnya pada pasien dalam keadaan koma. 3. Untuk memasang alat bantu pernafasan (respirator). 4. Apabila terdapat benda asing di subglotis 5. Penyakit inflamasi yang menyumbat jalan nafas ( misal angina ludwig), epiglotitis dan lesi vaskuler, neoplastik atau traumatik yang timbul melalui mekanisme serupa 6. Obstruksi laring
a.

karena radang akut, misalnya pada laringitis akut, laryngitis difterika, laryngitis membranosa, laringo-trakheobronkhitis akut, dan abses laring

b. karena radang kronis, misalnya perikondritis, neoplasma jinak dan ganas, trauma laring, benda asing, spasme pita suara, dan paralise Nerus Rekurens 7. Sumbatan saluran napas atas karena kelainan kongenital, traumaeksterna dan interna, infeksi, tumor. 8. Cedera parah pada wajah dan leher 9. Setelah pembedahan wajah dan leher 10. Hilangnya
11.

refleks

laring

dan

ketidakmampuan

untuk

menelan

sehingga

mengakibatkan resiko tinggi terjadinya aspirasi Penimbunan sekret di saluran pernafasan. Terjadi pada tetanus, trauma kapitis berat, Cerebro Vascular Disease (CVD), keracunan obat, serta selama dan sesudah operasi laring

Kontraindikasi pemasangan trakeostomi Infeksi pada tempat pemasangan, dan gangguan pembekuan darah yang tidak terkontrol, seperti hemofili. PEMERIKSAAN PENUNJANG / DIAGNOSTIK Pemeriksaan Diagnostik yang perlu dilakukan pada klien dengan trakeostomi yaitu :
1.

Pemeriksaan fungsi paru: menentukan kemampuan paru untuk pertukaran gas karbondioksida dan termasuk tetapi tidak terbatas . GDA: mengkaji status oksigenasi dan ventilasi dan keseimbangan asam basa. Kapasitas vital (VC): menurun pada keterbatasan dada atau kondisi paru ; normal atau meningkat pada PPOM: normal atau menurun pada penyakit neuromuscular (Guillain-Barre) ; menurun pada kondisi keterbatasan gerak torax (kifoskoliosis)

2. 3.

4.

Kapasitas vital kuat (FVC): (diukur dengan spirometri) menurun pada kondisi restriktif Volume tidal (VT): dapat menurun pada proses restriktif atau obstruktif Inspirasi negative kuat (NIF): dapat mempengaruhi kapasitas vital untuk membantu menentukan apakah pasien dapat bernafas. Ventilasi menit: mengukur volume untuk inhalasi dalam 1 menit pernafasan normal. Tekanan inspirasi (Pimax): mengukur regangan otot pernafasan Volume ekspirasi kuat (FEV): biasanya menurun pada PPOM Aliran-Volume (F-V) loop: Loop tak normal menunjukkan penyakit jalan nafas besar dan kecil dan penyakit keterbatasan bila berlanjut. Sinar x dada: mengawasi perbaikan/kemajuan kondisi atau komplikasi

5. 6.

7. 8. 9. 10.

11.

PERAWATAN TRAKEOSTOMI Perawatan trakeostomi meliputi: 1. Pembersihan secret atau biasa disebut trakeobronkial toilet, 2. Perawatan luka pada trakeostomi 3. Perawatan anak kanul 4. Humidifikasi untuk menjaga kelembapan Tujuan Perawatan Trakeostomi

1. Untuk mencegah sumbatan pipa trakeostomi (Pluging) 2. Untuk mencegah infeksi 3. Meningkatkan fungsi pernafasan (ventilasi dan oksigenasi) 4. Bronkial toilet yang efektif 5. Mencegah pipa tercabut KOMPLIKASI Waktu tindakan operasi 1. Perdarahan 2. Cardiac arrest 3. Perforasi 4. Emboli udara 5. Ruptur pleura servikalis 6. Apneu
7.

Sumbatan darah / secret

Setelah operasi 1. Infeksi 2. Perdarahan 3. Sumbatan kanul 4. Pergeseran stenosis 5. Pembentukan jar. granulasi 6. Aspirasi, atelektasis 7. Pneumotoraks 8. Pipa trakeostomi tercabut 9. Emfisema subkutis

Komplikasi Jangka panjang 1. Obstruksi jalan nafas atas 2. Infeksi

3. Fistula trakeoesofagus 4. Stenosis trakea 5. Iskemia atau nekrosis trakea Contoh Trakeostomi

TEORI KEPERAWATAN a. Pengkajian

1. Identitas Trakeostomi dapat terkena pada siapa saja, pada keadaan sesorang terkena penyakit paru seperti ISPA bagian atas 2. Keluhan utama : Keluhan utama yang di rasakan sesak dan gelisah
3.

Riwayat kesehatan yang berhubungan dengan dilakukannya trakeostomi Trakeostomi dilakukan dengan keadaan Px yang memiliki potensi atau terkena gangguan atau ISPA atas. Misalnya: Ca Laring, Ca Faring, Ca Nasofaring

4.

Riwayat kesehatan keluarga Trakeostomi bukanlah suatu penyakit melainkan suatu tindakan yang dilakukan dengan Px yang memiliki potensi kanker yang sifatnya bisa diturunkan

b. Pemeriksaan fisik
1.

B1 (Breath) B2 (Blood) B3 (Brain) B4 (Bladder) B5 (Bowel) B6 (Bone)

: kesulitan bernafas, batuk (mungkin gejala yang ada), riwayat trauma : takikardia, frekuensi tak teratur. TD hiper/hipotensi : dizziness, cemas :: nafsu makan turun, BB turun, Pasien lemah : malaise

dada, produksi secret meningkat


2. 3. 4. 5. 6.

DIAGNOSA KEPERAWATAN Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan akumulasi secret Resiko infeksi berhubungan dengan pembuatan saluran nafas baru dari mekanisme pertahanan respirasi. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan terpasangnya trakheostomy tube Kebutuhan nutrisi kurang berhubungan dengan pemasangan trakeostomi Gangguan citra tubuh berhubungan dengan terpasangnya trakheostomy tube

INTERVENSI KEPERAWATAN Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan akumulasi secret Tujuan : Tidak ada sekret pada jalan nafas Kriteria hasil : Ronchi dan wheezing tidak terdengar Intervensi Mengauskultasi paru setiap 4 jam Rasional Jika ditemukan crackles dan wheezing dapat mengintrepretasikan adanya sekret pada jalan nafas Menganjurkan klien untuk tarik nafas Pasien dapat mengeluarkan sekret dengan dalam dan batuk tarik nafas dalam dan batuk tanpa suctioning Melakukan fisioterapi nafas jika tidak Untuk membantu pasien mengeluarkan ada kontraindikasi sekret dengan batuk Membersihkan trakheostomy tube klien Dengan membersihkan sesuai dengan kebutuhan. Berdasarkan menghindari jumlah akumulasi secret Melakukan suctioning bila perlu Melakukan nebulizing terjadinya trakheostomy, penumpukan

sekret dan agar jalan nafas bersih Suctioning membersihkan jalan nafas dari sekret Nebulizer membantu untuk mengencerkan secret sehingga lebih mudah untuk dikeluarkan

Resiko infeksi berhubungan dengan pembuatan saluran nafas baru dari mekanisme pertahanan respirasi. Tujuan : Memperkecil adanya infeksi sehingga kemungkinan komplikasi tidak ada Kriteria hasil : Tidak ada tanda-tanda infeksi Seperti: Kalor, Dolor, Tumor, Rubor, Gangguan fungsi ulesa Intervensi Catat factor resiko terjadinya infeksi Rasional intubasi, prosedur ventilasi mekanik umum, lama,

ketidakmampuan

malnutris, perawatan

invasif,

trakeostomi inadekuat adalah factor dimana pasien potensial mengalami infeksi dan lama sembuh. Kesadaran akan factor resiko memberikan

kesempatan untuk membatasi efeknya. Observasi warna/bau/karakteristik sputum. kuning/hijau, sputum berbau purulen Catat drainase sekitar selang trakeostomi menujukkan infeksi, sputum kental, mencegah infeksi lengket diduga dehidrasi. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak sederhana tapi penting dengan pasien, teknik penghisapan steril. infeksi nosokomial. Rawat luka trakeostomi setiap hari.. Menghindari peningkatan prinsip steril. Pertahankan hidrasi adekuat dan nutrisi. disekitar trakeostomi membantu tempat

pemasangan tahanan

memperbaiki

umum untuk penyakit dan menurunkan Ambil kultur sputum sesuai indikasi Berikan antibiotic sesuai indikasi resiko infeksi dari statis secret. mengidentifikasi pathogen dan

antimikrobial yang tepat satu atau lebih agen dapat digunakan tergantung pada identifikasi pathogen bila infeksi terjadi.

DAFTAR PUSTAKA
Somantri, Irman. Keperawatan Medikal Bedah Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. 2008. Jakarta : Salemba Medika.

Doenges, dkk. Rencana Asuhan Keperawatan. 2000. Jakarta : EGC Doenges, Marylin E. dkk. (2000). Rencana Asuhan Dan Dokumentasi Keperawatan. Edisi 3 EGC. Jakarta Reeves, Charlene J. Dkk. 2001. Keperawatan Medikal Bedah. Salemba Medika. Jakarta Trakeostomi. Avilable from http.www.detikhealth.com. accesed at April 5, 2010.