Anda di halaman 1dari 30

PENDAHULUAN

I. DEFINISI HIV adalah singkatan dari Human Imunodeficiency Sindrom yang selanjutnya dapat menyebabkan imunodefisiensi seperti AIDS dengan cara menyerang sel lekosit CD4 sehingga dapat merusak kekebalan tubuh penderitanya. Menurut Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), HIV merupakan singkatan dari human immunodeficiency virus. HIV merupakan retrovirus yang menjangkiti sel-sel sistem kekebalan tubuh manusia (terutama CD4 positive T-sel dan macrophages komponen-komponen utama sistem kekebalan sel), dan menghancurkan atau mengganggu fungsinya. Infeksi virus ini mengakibatkan terjadinya penurunan sistem kekebalan yang terus-menerus, yang akan mengakibatkan defisiensi kekebalan tubuh. Jadi, HIV adalah suatu retrovirus penyebab AIDS sebagai manifestasi akhir yang muncul dari adanya infeksi karena virus ini dengan cara merusak system kekebalan tubuh penderitanya. Menurut Robbins, Stanley L., dkk., dalam Buku Ajar Patologi, AIDS adalah suatu penyakit retrovirus yang disebabkan oleh HIV dan ditandai dengan imunosupresi berat yang menimbulkan infeksi oportunistik, neoplasma sekunder, dan manifestasi neurologi. Sedangkan menurut Tuti Parwati dalam buku ajar Ilmu Penyakit dalam, AIDS didefinisikan sebagai sindrom atau kumpulan gejala penyakit dengan karakteristik defisiensi imun yang berat, dan merupakan manifestasi stadium akhir dari infeksi HIV. Antibody HIV memang tidak identik dengan AIDS karena AIDS harus menunjukkan gejala-gejala penyakit akibat defisisensi imun seluler. Namun, kebanyakan penderita HIV akan mengalami AIDS juga. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah AIDS adalah sindroma yang yang ditandai dengan adanya imunodefisiensi akibat system pertahanan tubuh yang dirusak oleh virus HIV dan sindroma tersebut dapat berupa neoplasma sekunder, manifestasi neurologic, dan infeksi opotunistik pada tubuh penderita.

II.

KLASIFIKASI

1. Klasifikasi menurut WHO Pada tahun 1990, WHO mengelompokkan berbagai infeksi dan kondisi AIDS dengan memperkenalkan system tahapan utuk pasen yang terinfeksi HIV namun pada tahun 2005 sistem ini telah diperbaiki. Berikut penejelasannya : A. Stadium I : infeksi HIV asimtomatik dan tidak dikategorikan sebagai HIV.

B. Stadium II : termasuk manifestasi membran mukosa kecil dan radang saluan pernafasan atas yang berulang-ulang. C. Stadium II : termasuk diare kronik yang tidak dapat dijelaskan selama lebih dari sebulan, infeksi bakteri parah, dan tuberculosis. D. Stadium IV : termasuk toksoplasmosis otak; kandidiasis esophagus, trakea, bronkus atau paru-paru; dan sarcoma Kaposi. Semua penyakit ini adalah indicator AIDS.

2.

Klasifikasi menurut CBC Klasifikasi menurut CBC didasarkan pada patofisiologi penyakit seiring

memburuknya secara progresif fungsi imun. Kelompok Kategori Keterangan - Penyakit serokonversi mirip nukleosis - Gejala-gejala meningitis - Gejala yang mirip dengan influensayang dapat I Infeksi Akut mereda - Adanya tanda-tanda infeksi seropositif dari HIV tapi Antibodi HIV masih negative

- Tidak ada indicator klinis atau laboratorium Infeksi kronik asimtomatik adanya imunodefisiensi - Antibody HIV positif dengan adanya bukti dari infeksi HIV dengan pemeriksaan antibody

II

- 1 cm di dua tempat atau lebih pada ekstra inguinal PGL (Persistent III Generalized Lymphadenopaty) - Gejala-gejala lain dapat timbul tapi limfadenopati paling dominan - Antibody HIV positif karena infeksi HIV terdeteksi dengan pemeriksaan antibody

IV

Penyakit lain Sub grup A

- Infeksi HIV terdeteksi - Antibody HIV positif

- Penyakit konstitusional atau ARC (AIDSrelated complex) : demam, diare, dan penurunan berat badan

- Antibody HIV positif - Penyakit neurologic : kompleks penyakit Sub grup B demensia AIDS (demensia, neuropati, dan mielopati)

- Antibody HIV positif - Hitung limfosit CD4+ <200 l Sub grup C - Penyakit infeksi sekunder (Pneumonia Pneumocystis Carinii)

- Antibody HIV positif Sub grup D - Kanker sekunder : sarcoma Kaposi dan kanker serviks dan adanya tuberculosis pada paru

Sub grup E

- Antibody HIV positif - Keadaan-keadaan lain

Table 1. Klasifikasi infeksi HIV/AIDS menurut CBC. 3. Klasifikasi berdasarkan Masa Inkubasi Virus A. Infeksi Akut Sekitar 30-50% dari penderita HIV atau 50-70% dari dewasa yang terinfeksi akan menunjukkan gejala ifeksi akut yang mirip dengan gejala mononucleosis seperti demam, sakit tenggorokan, letargi, batuk, mailgia, keringat malam, dan keluhan GIT berupa nyeri menelan, mual, muntah dan diare. Mungkin bisa didapatkan adanya pembesaran kalenjar limfe leher, faringitis, macular rash, dan aseptic meningitis yang akan sembuh dalam waktu enam minggu. Fase ini juga ditandai dengan meningkatnya jumlah roduksi virus, viremia, dan persemaian yang luas pada jaringan limfoid perifer, yang secara khas ditandai dengan menurunnya sel CD4+. Namun, respon imun yang spesifik akan muncul

(antara 3-17 minggu). Viremia akan mereda tapi replikasi virus akan berlanjut didalam makrofag dan monosit. Pemeriksaan antibody negative tapi Ag24 sudah positif. Pada fase ini bias dikatakan pasien sangat infeksius. B. Infeksi Kronik Asimtomatik dan PGL Pasien tidak menunjukkan gejala ataupun menderita limfadenopati persisten, dan banyak penderita yang mengalami infeksi oportunistik seperti sariawan (candida) atau herpes zoster. Tanda lain dari fase ini adalah masa latensi virus dengan replikasi virus yang intensif dan kontinyu terutama di jaringan limfoid. Penurunan jumlah CD4+ berahap akibat regenerasi sel T yang cepat. Pada fase ini dapt terjadi PGL tanpa disertai gejala konstiusional. Fase ini berlangsung selama bertahun-tahun (7-10 tahun). Namun ketika menjelang akhir fase ini muncul demam, ruam, kelelahan, dan viremia. C. Krisis / Progresi akhir menjadi AIDS Ditandai oleh penurunan pertahanan tubuh hospes dengan cepat yang dimanifestasikan dengan jumlah CD4+ yang rendah, penurunan berat badan, infeksi oportunistik dan neoplasma sekunder. Gamabaran klinis tersebut dikenal dengan istilah full-blown AIDS.

4.

Klasifikasi Menurut Kategori Klinis dan Kategori Diagnostik untuk Pasien Remaja dan Dewasa Kategori klinis A Kategori sel-T CD4+ Kategori diagnostik HIV (primer) atau PGL asimptomatik, akut 500/l 200-499/l <200/l Indicator AIDS Jumlah sel T Table 2. Sistem klasifikasi untuk infeksi HIV dan definisi kasus surveilan AIDS yang diperluas bagi pasien dewasa serta remaja. A3 B3 C3 A1 A2 B Simptomatik, bukan kondisi (A) atau (C) B1 B2 C Kondisi yang merupakan indicator-AIDS C1 C2

Sejak 1 Januari 1993, orang-orang dengan keadaan yang merupakan indicator AIDS (kategori klinik C) dan orang-orang yang termasuk dalam kategori A3 dan B3 dianggap mederita penyakit AIDS. a. Kategori klinis A Mencakup satu atau lebih keadaan berikut ini pada seorang dewasa atau remaja dengan infeksi HIV yang sudah dipastikan dan tanpa keadaan dalam kategori klinis B serrta C : Infeksi HIV yang asimtomatik PGL Infeksi HIV (primer) yang akut dengan keadaan sakit yang menyertai atau riwayat infeksi HIV yang akut b. Kategori klinis B Contoh-contoh kedaan dalam kategori klinis B mencakup (tetapi tidak terbatas pada): Angiomatosis baksilaris Kandidiasis orofaring (thrush) atau vulvovaginal (persistent, frekuent, atau responsnya jelek terhadap terapi) Dysplasia serviks (yang sedang atau berat/karsinoma serviks in situ) Gejala konstitusional seperti panas (38,50C) atau diare yang lamanya melebihi satu bulan Leukoplakia oral yang berambut Herpes zoster (shingles) yang meliputi sedikitnya dua kejadian yang berbeda atau yang terjadi pada lebih dari satu dermatom saraf ITP Listeriosis Penyakit inflamasi pelvic, khususnya jika disertai komplikasi abses tuboovari Neuropati perifer

c. Kategori klinis C Contoh-contoh kedaan dalam kategori klinis pada pasien remaja dan dewasa mencakup : Kandidiasis bronkus, trakea atau paru-paru, esophagus Kanker serviks yang infasif

Koksidioidomikosis ektrapulmoner atau diseminata Kriptokokosis ektrapulmoner Kriptosporidiosis intestinal yang kronis (dengan durasi lebih satu bulan) Penyakit CMV (yang bukan hati, lien atau kelenjar limfe) Renitinitis CMV (dengan gangguan penglihatan) Ensefalopati yang berhubungan dengan HIV Herpes simpleks: ulkus kronis (dengan durasi lebih dari satu bulan) atau bronchitis pneumonitis atau esofagitis Histoplasmosis diseminata atau ekstrapulmoner Isosporiasis intestinal yang kronis (dengan durasi lebih satu bulan) Sarcoma Kaposi Limfoma burkitt Kompleks Mycobacterium-avium atau M. kansasii yang diseminata atau ekstrapulmoner Mycobacterium tuberculosis pada setiap lokasi (pulmoner/ekstrapulmoner) Mycobacterium, spesies lain atau yang tidak dikenali, diseminata, atau ekstrapulmoner PCP Peneumonia rekuren Leukoensefalopati multifocal progresif Septicemia salmonella yang rekuren Toksoplasmosis otak Sindrom pelisutan akibat HIV

III.

ETIOLOGI Virus yang menjadi penyebab penyakit AIDS adalah virus HIV (Human Immuno-

deficiency Virus). Saat ini dikenal juga dua tipe HIV yaitu HIV-1 dan HIV-2. Sebagian besar infeksi disebabkan HIV-1, sedangkan infeksi oleh HIV-2 didapatkan di Afrika Barat. Infeksi HIV-1 memberi gambaran klinis yang hampir sama. Hanya infeksi HIV-1 lebih mudah ditularkan dan masa sejak mulai infeksi (masuknya virus ke tubuh) sampai timbulnya penyakit lebih pendek.

HIV dapat diisolasi dari darah, cairan serebrospinalis, semen, air mata, sekresi vagina atau serviks, urine, ASI, dan air liur. Penularan terjadi paling efisien melalui darah dan semen. HIV juga dapat ditularkan melalui air susu dan sekresi vagina atau serviks. Tiga cara utama penularan adalah kontak dengan darah dan kontak seksual dan kontak ibu-bayi. Setelah virus ditularkan akan terjadi serangkaian proses yang kemudian menyebabkan infeksi.

Gambar 1 dan 2. Anatomi HIV Taksonomi VI: ssRNA-RT viruses (+) sense RNA dengan DNA intermediet dalam daur hidup Kingdom : Virus Familia : Retroviridae

Subfamilia : Orthoretrovirinae Genus : Lentivirus Primate lentivirus group Spesies : Human immunodeficiency virus 1 Human immunodeficiency virus 1 Berikut merupakan intisari tentang virus HIV dari berbagai sumber : 1. Merupakan human type C retrovirus yang masih satu family dengan HTLV-1 dan berkaitan erat dengan HIV-II yang menyebabakan penyakit di Afrika Barat. 2. HIV merupakan retrovirus sitopatik non transforming yang menimbulkan imunodefisisensi lewat destruksi sel T yang menjadi target. 3. Termasuk dalam keluarga lentivirus (virus imunodefisiensi pada kucing, kera, visna virus pada domba, dan virus anemia infeksiosa pada kuda).

4. Bentuk HIV yang berbeda secara genetic tetapi berhubungan dalam antigen yaitu HIV I dan HIV II. HIV I memiliki masa laten yang lebih pendek dari HIV II yaitu sekitar 7-10 tahun sedangkan HIV II masa latennya lebih panjang dari HIV I yaitu bisa sampai 20 tahun. HIV I merupakan tipe virus penyebab AIDS yang sering ditemukan di Amerika Serikat, Eropa dan Afrika Tengah dan HIV II adalah penyebab AIDS yang sering ditemukan di Afrika Barat. Namun kebanyakan infeksi HIV banyak disebabkan oleh HIV I. 5. Virion HIV I berbentuk sferis dan mengandung inti berbentuk kerucut yang padat electron dan dikelilingi oleh selubung lipid yang berasal dari membrane sel host. Inti virus tersebut mengandung : a. Kapsid utama p24 yang merupakan antigen virus yang paling mudah dideteksi sehingga menjadi sasaran antibody yang digunakan untuk mendiagnosis infeksi HIV dalam penapisan darah. b. Nukleokapsid protein p7 dan p9. c. Dua salinan RNA genom d. Ketiga enzim virus (protease, reverse transcriptase, dan integrase) 6. Inti virus dikelilingi oleh matriks protein yang disebut dengan p17, yang terletak dibawah selubung virion. Selubungnya tersusun atas 2 glikoprotein virus, yaitu gp 120 dan gp41 yang sangat penting untuk infeksi HIV pada sel. 7. Genom provirus HIV I mengandung gen gag, pol dan enu yang mengkode berbagai jenis protein virus. HIV juga mengandung gen lain seperti tat, rev, vif, nef, vpr, dan vpu yang mengatur sintesis serta perakitan virus yang infeksius. Produk gen tat (transactivator) penting untuk replikasi virus yang menyebabkan peningkatan transkripsi gen virus sebanyak seribu kali lipat. Protein nef, mengaktifitasi aktivitas kinase intrasel (mempengaruhi aktivasi sel T, replikasi virus, dan infeksi virus) dan penting untuk perkembangan infeksi HIV in vivo. 8. HIV juga dibagi menjadi dua kelompok yang lebih luas, yaitu M (major) dan O (outlier). Virus kelompok M adalah bentuk yang lebih umum diseluruh dunia dan dibagi lagi kedalam sub tipe atau yang disebut clades. Tiap clades terdiri dari clades A-J. clade B adalah bentuk yang paling umum ditemukan di Eropa Barat dan Amerika Serikat sedangkan clade E ditemukan di Thailand. 9. Simpai lemak HIV I berasal dari host yang terinfeksi

10. Virus telah dapat diisolasi dari sel limfoid, serum, cairan cerebrospinal, dan semua secret penderita terinfeksi 11. Antibody terhadap simpai HIV I dan protein core timbul pada lebih dari 90% penderita AIDS

IV.

FAKTOR RESIKO Menurut buku Saku Dasar Patologi Penyakit oleh Robbins, Stanley L., di Amerika Serikat terdapat 5 kelompok resiko, antara lain : 1. Pria homoseksual/biseksual. Sekitar 60% kasus AIDS yang dilaporkan (pada pria homoseksual virus masuk melalui limfosit dalam semen melalui mukosa rectum yang terluka). 2. Pengguna obat intravena (tanpa pengalaman kontak homoseksual). Sekitar 23% dari seluruh penderita, yang sisebabkan karena penggunaan jarum tercemar dan paraphernalia. 3. Penderita hemophilia. Terutama yang menerima konsentrat factor VIII yang dikumpulkan dalam jumlah banyak sebelum tahun 1985: 1% kasus 4. Resipien darah/komponen darah (tidak termasuk penderita hemofilia); 2% di seluruh penderita. Penularan cara ini telah dieliminasi di Amerika Serikat. Namun, karena beberapa penderita yang serogatif ditemukan, maka resiko kecil namun pasti kejadian ini masih tetap ada. 5. Kelompok resiko yang lain. 6% penderita mendapatkannya melalui kontak heteroseksual dari kelompok resiko tinggi lainnya. 8 % anak-anak yang menderita AIDS mempunyai orang tua yang terinfeksi HIV dan mengalami penularan transplasental atau perinatal. Resiko serokonversi setelah tusukan jarum yang mengandung darah terkontaminasi adalah sekitar 0,5% Pada sekitar 6% penderita cara penularan tidak diketahui HIV tidak ditularkan melalui kontak yang biasa-biasa saja (nonseksual) Di luar AS dan Eropa, penularan pria ke wanita merupakan cara penularan yang utama (hubungan seksual per vaginal) Penularan heteroseksual meningkat dan melebihi cara penularan lain di AS Meskipun HIV ditemukan dalam sekresi vagina dan serviks, monosit, dan endotel, penularan wanita ke pria tidak umum ditemukan di AS

V.

EPIDEMIOLOGI Dewasa ini dunia tengah mengalami suatu pandemic virus HIV. Pandemic ini tidak

hanya menimbulkan dampak negative di bidang medis, tetapi juga di bidang social, ekonomi, dan politik. AIDS merupakan masalah global yang penting dan merupakan masalah yang sangat kompleks karena melibatkan berbagai aspek kehidupan. Menurut buku Ajar Ilmu Penyakit dalam dalam tulisan tentang AIDS oleh tuti Purwati Merwati, epdemi HIV dibagi menjadi tiga yaitu : 1. Silent epidemi atau epidemic HIV itu sendiri, yang secara diam-diam tanpa disadari, dana tanpa diketahui terjadi di masyarakat. Dari penelitian seroarkeologi, ternyata HIV telah ada pada darah beku di Afrika yang tersimpan sejak tahun 1959. 2. Munculnya kasus-kasus AIDS yang terjadi beberapa tahun kemudian. Hal ini dikarenakan perlu beberapa tahun sebelum seseorang dengan infeksi HIV akan berkembang cepat pada awal delapan puluhan. Perkembangannya akan terus berlanjut dalam decade mendatang karena adanya penularan yang baru dan gejala HIV yang asimtomatik 3. Epidemic reaksi masyarakat terhadap masalah HIV dan kasus AIDS, sebagai akibat adanya kedua epidemi sebelumnya. Hal ini mulai Nampak sekita pertengahan tahun 80-an, berupa dampak social, ekonomi, psikologi, bahakan politik.

VI.

CARA PENULARAN

1. Penularan seksual Penularan (transmisi) HIV secara seksual terjadi ketika ada kontak antara sekresi cairan vagina atau cairan preseminal seseorang dengan rektum, alat kelamin, atau membran mukosa mulut pasangannya. Hubungan seksual reseptif tanpa pelindung lebih berisiko daripada hubungan seksual insertif tanpa pelindung, dan risiko hubungan seks anal lebih besar daripada risiko hubungan seks biasa dan seks oral. Seks oral tidak berarti tak berisiko karena HIV dapat masuk melalui seks oral reseptif maupun insertif. Kekerasan seksual secara umum meningkatkan risiko penularan HIV karena pelindung umumnya tidak digunakan dan sering terjadi trauma fisik terhadap rongga vagina yang memudahkan transmisi HIV. Penyakit menular seksual meningkatkan risiko penularan HIV karena dapat menyebabkan gangguan pertahanan jaringan epitel normal akibat adanya borok alat

kelamin, dan juga karena adanya penumpukan sel yang terinfeksi HIV (limfosit dan makrofaga) pada semen dan sekresi vaginal. Penelitian epidemiologis dari Afrika SubSahara, Eropa, dan Amerika Utara menunjukkan bahwa terdapat sekitar empat kali lebih besar risiko terinfeksi AIDS akibat adanya borok alat kelamin seperti yang disebabkan oleh sifilis dan/atau chancroid. Resiko tersebut juga meningkat secara nyata, walaupun lebih kecil, oleh adanya penyakit menular seksual seperti kencing nanah infeksi chlamydia, dan trikomoniasis yang menyebabkan pengumpulan lokal limfosit dan makrofaga. Transmisi HIV bergantung pada tingkat kemudahan penularan dari pengidap dan kerentanan pasangan seksual yang belum terinfeksi. Kemudahan penularan bervariasi pada berbagai tahap penyakit ini dan tidak konstan antarorang. Beban virus plasma yang tidak dapat dideteksi tidak selalu berarti bahwa beban virus kecil pada air mani atau sekresi alat kelamin. Setiap 10 kali penambahan jumlah RNA HIV plasma darah sebanding dengan 81% peningkatan laju transmisi HIV. Wanita lebih rentan terhadap infeksi HIV-1 karena perubahan hormon, ekologi serta fisiologi mikroba vaginal, dan kerentanan yang lebih besar terhadap penyakit seksual. Orang yang terinfeksi dengan HIV masih dapat terinfeksi jenis virus lain yang lebih mematikan. 2. Kontaminasi Patogen melalui Darah Jalur penularan ini terutama berhubungan dengan pengguna obat suntik, penderita hemofilia, dan resipien transfusi darah dan produk darah. Berbagi dan menggunakan kembali jarum suntik (syringe) yang mengandung darah yang terkontaminasi oleh organisme biologis penyebab penyakit (patogen), tidak hanya merupakan risiko utama atas infeksi HIV, tetapi juga hepatitis B dan hepatitis C. Resiko terinfeksi dengan HIV dari satu tusukan dengan jarum yang digunakan orang yang terinfeksi HIV diduga sekitar 1 banding 150. Post-exposure prophylaxis dengan obat anti-HIV dapat lebih jauh mengurangi risiko itu. Pekerja fasilitas kesehatan (perawat, pekerja laboratorium, dokter, dan lain-lain) juga dikhawatirkan walaupun lebih jarang. Jalur penularan ini dapat juga terjadi pada orang yang memberi dan menerima rajah dan tindik tubuh. 3. Penularan Masa Perinatal Transmisi HIV dari ibu ke anak dapat terjadi melalui rahim (in utero) selama masa perinatal, yaitu minggu-minggu terakhir kehamilan dan saat persalinan. Bila tidak ditangani, tingkat penularan dari ibu ke anak selama kehamilan dan persalinan adalah

sebesar 25%. Namun demikian, jika sang ibu memiliki akses terhadap terapi antiretrovirus dan melahirkan dengan cara bedah caesar, tingkat penularannya hanya sebesar 1%. Sejumlah faktor dapat memengaruhi risiko infeksi, terutama beban virus pada ibu saat persalinan (semakin tinggi beban virus, semakin tinggi risikonya). Menyusui meningkatkan risiko penularan sebesar 4%.

VII.

PATOFISIOLOGI HIV menginfeksi sel dengan mengikat permukaan sel sasaran yang memiliki molekul

reseptor membran CD4. Sejauh ini, sasaran yang disukai oleh HIV adalah limfosit T penolong positif CD4, atau sel T4 (limfosit CD4+) sehingga gp41 dapat memerantai fusi membran virus ke membrane sel. Ditemukan bahwa dua koreseptor permukaan sel CCR5 atau CVCR4 diperlukan, agar glikoprotein gp120 dan gp41 dapat berikatan dengan reseptor CD4+. Koreseptor ini menyebabkan perubahan-perubahan konformasi sehingga gp41 dapat masuk ke membrane sel sasaran. Sel-sel lain yang mungkin rentan terhadap infeksi HIV mencakup monosit dan makrofag. Monosit dan makrofag yang terinfeksi dapat berfungsi sebagai reservoar untuk HIV tetapi tidak dihancurkan oleh virus. HIV bersifat politrofik dan dapat menginfeksi beragam sel manusia, seperti sel natural killer (NK), limfosit B, sel endotel, sel epitel, sel Langerhans, sel dendritik (yang terdapat di permukaan mukosa tubuh), sel mikroglia, dan berbagai jaringan tubuh. Setelah virus berfusi dengan limfosit CD4+, maka berlangsung serangkaian proses kompleks yang dapat menyebabkan terbentuknya partikel-partikel virus baru dari sel yang terinfeksi. Limfosit CD4+ yang terinfeksi mungkin tetap laten dalam keadaan provirus atau mungkin mengalami siklus-siklus replikasi sehingga menghasilkan banyak virus. Infeksi pada limfosit CD4+ juga dapat menimbulkan sipatogenisitas melalui beragam mekanisme, termasuk apoptosis (kematian sel terprogram), anergi (pencegahan fusi sel lebih lanjut), atau pembentukan sinsitium (fusi sel). Setelah terjadi fusi sel virus, RNA virus masuk ke bagian tengah sitoplasma limfosit CD4+. Setelah nukleokapsid dilepas, maka terjadi transkripsi terbalik (reverse transcription) dari satu untai-tunggal RNA menjadi DNA salinan (cDNA) untai-ganda virus. Integrase HIV membantu insersi cDNA virus ke dalam inti sel pejamu, maka dua untai DNA sekarang menjadi provirus.

Provirus menghasilkan mRNA yang meninggalkan inti sel dan masuk ke dalam sitoplasma. Tahap akhir produksi virus membutuhkan suatu enzim virus yang disebut HIV protease, yang memotong dan menata protein virus menjadi segmen-segmen kecil yang mengelilingi RNA virus, membentuk partikel virus menular yang menonjol dari sel yang terinfeksi. Pada saat keluar dari sel pejamu, partikel-partikel virus tersebut akan terbungkus oleh sebagian dari membran sel yang terinfeksi. HIV yang baru terbentuk sekarang dapat menyerang sel-sel rentan lainnya di seluruh tubuh. Replikasi HIV berlanjut sepanjang periode latensi klinis. HIV ditemukan dalam jumlah besar di dalam limfosit CD4+ dan makrofag di seluruh sistem limfoid pada semua tahap infeksi. Partikel-partikel virus juga telah dihubungkan dengan sel-sel dendrit folikular, yang mungkin memindahkan infeksi ke sel-sel selama migrasi melalui folikelfolikel limfoid. Walaupun selama masa latensi klinis tingkat viremia dan replikasi virus di sel-sel mononukleus darah perifer rendah, namun pada infeksi ini tidak ada latensi yang sejati. HIV secara terus-menerus terakumulasi dan bereplikasi di organ-organ limfoid. Aktivitas ini menunjukkan bahwa terjadi pertempuran terus-menerus antara virus dan sistem imun pasien. Transmisi infeksi HIV dan AIDS terdiri dari 5 fase, yaitu: 1. 2. 3. 4. Periode jandela Berlangsung selama 4 minggu 6 bulan setelah Tidak terdapat gejala, hasil rapid test (-) Fase infeksi primer akut Berlangsung selama 1-2 minggu dengan gejala seperti gejala flu. Hssil rapid test (-) Infeksi Asimptomatik Berlangsung selama 1-15 tahun / lebih dengan tidak ada gejala. Hasil rapid test (+) Supresi Imun Symptomatik Diatas 3 tahun dengan gejala demam, keringat malam hari, BB turun, diare, infeksi.

neuropati, lemah, rash, limfadenopati, lesi mulut. 5. ditegakkan Periode AIDS Lamanya bervariasi antara 1-5 tahun dari kondisi AIDS pertama kali

Gambar 3. Siklus hidup HIV

VIII.

MANIFESTASI KLINIS Manifestasi klinis yang muncul sesuai dengan tahap-tahap perkembangan virus HIV.

Gejala ini sesuai dengan menurunnya tingkat CD4 di peredaran darah perifer dan makin melemahnya tingkat imunitas tubuh. Penyakit yang ditimbulkan akan lebih sulit diatasi jika sebelumnya penderita penderita telah menderita penyakit tersebut dan diperparah dengan HIV. Misalnya, seseorang terserang sifilis terlebih dahulu sebelum terinfeksi HIV,

maka gejala yang ditimbulkan oleh penyakit sifilis akan makin parah dan mempercepat terjadinya proses infeksi. Manifestasi klinis dapat terbagi menjadi 2, yaitu gejala mayor dan gejala minor, sebagai berikut: 1. Gejala Mayor:

- Berat badan turun lebih dari 10% dalam waktu 1 bulan - Diare kronis selama lebih dari 1 bulan - Demam > 38C dalam waktu lebih dari 1 bulan. - HIV ensephalopati 2. Gejala Minor:

- Batuk pneumonia atau tuberculosis - Candidiasis oral sampai orofaring - Dermatitis, herpes simpleks, herpes zoster - Hemoglobin menurun - Demensia, gangguan mental - Penyakit kelamin - Infeksi oportunistik

Pada dasarnya, manifestasi klinis penyakit AIDS menyebar luas pada semua organ. Penyakit yang berkaitan dengan infeksi HIV dan penyakit AIDS terjadi akibat infeksi, malignansi, dan/atau efek langsung HIV pada jaringan tubuh. Beberapa manifestasi yang sering muncul, antara lain: 1. Penyakit pada paru-paru a. Pneumonia pneumocystis Pneumonia pneumocystis (awalnya diketahui dengan nama pneumonia Pneumocystis carinii, dan masih disingkat sebagai PCP yang sekarang merupakan singkatan dari Pneumocystis pneumonia) jarang dijumpai pada orang yang sehat dan imunokompeten, tetapi umum dijumpai pada orang yang terinfeksi HIV. Penyakit ini disebabkan oleh fungi Pneumocystis jirovecii. b. Tuberkulosis Tuberkulosis (TBC) merupakan infeksi unik di antara infeksi terkait HIV lainnya karena dapat ditularkan ke orang yang imunokompeten melalui rute respirasi, dapat muncul pada stadium awal HIV, dan dapat dicegah dengan terapi obat.

Namun demikian, kekebalan terhadap berbagai obat adalah masalah serius pada penyakit ini. Pada stadium awal infeksi HIV (jumlah CD4 >300 sel per L), TB muncul sebagai penyakit paru-paru. Pada infeksi HIV belakangan, TB sering muncul dengan penyakit ekstrapulmoner (sistemik). Gejala biasanya bersifat konstitusional dan tidak dibatasi pada satu tempat, sering menyerang sumsum tulang, tulang, saluran kemih dan saluran pencernaan, hati, nodus limfa regional, dan sistem saraf pusat. Selain itu, gejala yang muncul mungkin lebih berkaitan dengan tempat keterlibatan penyakit ekstrapulmoner.

2.

Penyakit pada saluran pencernaan a. Esofagitis Esofagitis adalah peradangan pada esofagus (tabung berotot pada vertebrata yang dilalui sewaktu makanan mengalir dari bagian mulut ke dalam lambung). Pada individual yang terinfeksi HIV, hal ini terjadi karena infeksi jamur (kandidiasis) atau virus (herpes simpleks-1 atau sitomegalovirus). b. Diare kronik Diare kronik pada infeksi HIV terjadi akibat berbagai penyebab, termasuk infeksi bakteri (Salmonella, Shigella, Listeria, Kampilobakter, atau Escherichia coli) serta parasit yang umum dan infeksi oportunistik tidak umum seperti kriptosporidiosis, mikrosporidiosis, kolitis kompleks Mycobacterium avium dan sitomegalovirus (CMV). Pada beberapa kasus, diare adalah efek samping beberapa obat yang digunakan untuk menangani HIV, atau efek samping infeksi HIV, terutama selama infeksi HIV utama. Pada stadium akhir, diare diduga menunjukkan perubahan cara saluran usus menyerap nutrisi dan mungkin merupakan komponen penting pembuangan yang berhubungan dengan HIV.

3.

Penyakit pada saraf a. Toksoplasmosis Toksoplasmosis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit bersel-satu disebut Toxoplasma gondii. Parasit ini biasanya menginfeksi otak dan menyebabkan toksoplasma ensefalitis, tetapi juga dapat menginfeksi dan menyebabkan penyakit pada mata dan paru-paru. b. Leukoensefalopati multifokal progresif

Leukoensefalopati multifokal progresif adalah penyakit demielinasi, yang merupakan penghancuran sedikit demi sedikit selubung mielin yang menutupi akson sel saraf sehingga merusak penghantaran impuls saraf. Hal ini disebabkan oleh virus yang disebut virus JC yang 70% populasinya terdapat dalam bentuk laten, menyebabkan penyakit hanya ketika sistem kekebalan sangat lemah, sebagaimana yang terjadi pada pasien AIDS. Penyakit ini berkembang cepat, biasanya menyebabkan kematian dalam waktu sebulan setelah diagnosis. c. Kompleks demensia AIDS Kompleks demensia AIDS adalah ensefalopati metabolik yang disebabkan oleh infeksi HIV dan didorong oleh aktivasi imun makrofag dan mikroglia otak yang terinfeksi HIV yang mengeluarkan neurotoksin. Kerusakan neurologis spesifik tampak sebagai ketidaknormalan kognitif, perilaku, dan motorik yang muncul bertahun-tahun setelah infeksi HIV dan berhubungan dengan rendahnya jumlah sel T CD4 dan tingginya muatan virus pada plasma. d. Meningitis kriptokokal Meningitis kriptokokal adalah infeksi meninges (membran yang menutupi otak dan sumsum tulang belakang) oleh jamur Cryptococcus neoformans. Hal ini dapat menyebabkan demam, sakit kepala, lelah, mual, dan muntah. Pasien juga mungkin mengalami sawan dan kebingungan, yang jika tidak ditangani dapat mematikan.
+

4.

Kanker Pasien dengan infeksi HIV pada pokoknya meningkatkan insiden beberapa kanker.

Hal ini terjadi karena infeksi dengan virus DNA onkogenik, terutama virus Epstein-Barr (EBV), virus herpes penyebab sarkoma Kaposi (KSHV) dan papilomavirus manusia (HPV). a. Sarkoma Kaposi Gammaherpesvirinae, yaitu virus herpes manusia-8 yang juga disebut virus herpes sarkoma Kaposi (KSHV). Penyakit ini sering muncul di kulit dalam bentuk bintik keungu-unguan, tetapi dapat menyerang organ lain, terutama mulut, saluran pencernaan, dan paru-paru. Sarkoma Kaposi adalah tumor yang paling umum menyerang pasien yang terinfeksi HIV. Kemunculan tumor ini pada sejumlah pemuda homoseksual tahun 1981 adalah salah satu pertanda pertama wabah AIDS. b. Limfoma

Limfoma sel B tingkat tinggi seperti limfoma Burkitt (Burkitt's lymphoma), Burkitt's-like lymphoma, diffuse large B-cell lymphoma (DLBCL), dan limfoma sistem saraf pusat primer muncul lebih sering pada pasien yang terinfeksi HIV. Kanker ini seringkali mengakibatkan prognosis yang buruk. Pada beberapa kasus, limfoma ini merupakan tanda utama AIDS. Limfoma ini sebagian besar disebabkan oleh virus Epstein-Barr (EBV) atau KSHV. c. Kanker leher rahim Kanker leher rahim pada wanita yang terkena HIV dianggap tanda utama AIDS. Kanker ini disebabkan oleh papilomavirus manusia (HPV). d. Tumor lainnya Pasien yang terinfeksi HIV juga dapat terkena tumor lainnya, seperti limfoma Hodgkin, karsinoma anal, dan karsinoma usus besar.

5.

Infeksi lainnya Pasien AIDS biasanya menderita infeksi oportunistik dengan gejala tidak spesifik,

terutama demam ringan dan kehilangan berat badan. Infeksi oportunistik ini termasuk infeksi Mycobacterium avium-intracellulare dan sitomegalovirus. Sitomegalovirus dapat menyebabkan kolitis, seperti yang dijelaskan di atas, dan retinitis sitomegalovirus dapat menyebabkan kebutaan. Penisiliosis yang disebabkan oleh Penicillium marneffei kini adalah infeksi oportunistik ketiga paling umum (setelah tuberkulosis dan kriptokokosis) pada orang yang positif HIV di daerah endemik Asia Tenggara.

IX.

PEMERIKSAAN PENUNJANG

X.

DIAGNOSA Diagnose AIDS dapat dibuat bila terdapat satu atau lebih gejala penyakit yang

termasuk indicator AIDS dan pemeriksaan laboratorium sebagai bukti adanya infeksi HIV (seperti yang tercantum dalam lampiran definisi kasus menurut CDC (Buku Saku Dasar Patologi Penyakit oleh Satanley L. Robbins). Selain itu, deteksi akan adanya antibody anti-HIV didalam serum juga diperlukan. Infeksi akut dapat dideteksi dengan adanya antigen p24 atau RNA HIV melalui PCR dan mendahului munculnya igM dan IgG (akan terdeteksi setelah 3 bulan). Selain itu juga, dapat dideteksi adanya titer tinggi igG

terhadap protein-protein inti selubung [Kapita Selekta Kedokteran Klinik oleh Lasagna, Louis (ed.].

XI.

DIAGNOSA BANDING Menurut Buku Saku Dasar Patologi Penyakit oleh Satanley L. Robbins, diagnose

banding HIV berupa : 1. 2. 3. 4. 5. Penyakit Hodgkin dan limfoma non Hodgkin Infeksi virus yang berat, misalnya mononucleosis CMV dan EBV Penyebab supresi imun lain, terutama obat sitotoksik dan kortikosteroid Tuberculosis dan infeksi diseminata tersembunyi lain Penyakit kolagen-vaskular

XII.

PENATALAKSANAAN

XIII.

KOMPLIKASI

XIV.

PROGNOSA Prognosa penderita HIV/AIDS menurut Buku Saku Dasar Patologi Penyakit oleh

Satanley L. Robbins adalah jika tidak diobati, penderita AIDS akan meninggal dalam waktu kira-kira 20 bulan; jika diobati dengan baik akan dapat bertahan lebih lama. Sumber lain menyebutkan median survival penyakit AIDS adalah antar 1-2 tahun untuk Negara maju dan 1 tahun untuk Negara berkembang.

XV.

PENCEGAHAN

1. Penularan seksual Penularan (transmisi) HIV secara seksual terjadi ketika ada kontak antara sekresi cairan vagina atau cairan preseminal seseorang dengan rektum, alat kelamin, atau membran mukosa mulut pasangannya. Hubungan seksual reseptif tanpa pelindung lebih berisiko daripada hubungan seksual insertif tanpa pelindung, dan risiko hubungan seks anal lebih besar daripada risiko hubungan seks biasa dan seks oral. Seks oral tidak berarti tak berisiko karena HIV dapat masuk melalui seks oral reseptif maupun insertif.

Kekerasan seksual secara umum meningkatkan risiko penularan HIV karena pelindung umumnya tidak digunakan dan sering terjadi trauma fisik terhadap rongga vagina yang memudahkan transmisi HIV. Penyakit menular seksual meningkatkan risiko penularan HIV karena dapat menyebabkan gangguan pertahanan jaringan epitel normal akibat adanya borok alat kelamin, dan juga karena adanya penumpukan sel yang terinfeksi HIV (limfosit dan makrofag) pada semen dan sekresi vaginal. Penelitian epidemiologis dari Afrika SubSahara, Eropa, dan Amerika Utara menunjukkan bahwa terdapat sekitar empat kali lebih besar risiko terinfeksi AIDS akibat adanya borok alat kelamin seperti yang disebabkan oleh sifilis dan/atau chancroid. Resiko tersebut juga meningkat secara nyata, walaupun lebih kecil, oleh adanya penyakit menular seksual seperti kencing nanah infeksi chlamydia, dan trikomoniasis yang menyebabkan pengumpulan lokal limfosit dan makrofaga. Transmisi HIV bergantung pada tingkat kemudahan penularan dari pengidap dan kerentanan pasangan seksual yang belum terinfeksi. Kemudahan penularan bervariasi pada berbagai tahap penyakit ini dan tidak konstan antarorang. Beban virus plasma yang tidak dapat dideteksi tidak selalu berarti bahwa beban virus kecil pada air mani atau sekresi alat kelamin. Setiap 10 kali penambahan jumlah RNA HIV plasma darah sebanding dengan 81% peningkatan laju transmisi HIV. Wanita lebih rentan terhadap infeksi HIV-1 karena perubahan hormon, ekologi serta fisiologi mikroba vaginal, dan kerentanan yang lebih besar terhadap penyakit seksual. Orang yang terinfeksi dengan HIV masih dapat terinfeksi jenis virus lain yang lebih mematikan. 2. Kontaminasi Patogen melalui Darah Jalur penularan ini terutama berhubungan dengan pengguna obat suntik, penderita hemofilia, dan resipien transfusi darah dan produk darah. Berbagi dan menggunakan kembali jarum suntik (syringe) yang mengandung darah yang terkontaminasi oleh organisme biologis penyebab penyakit (patogen), tidak hanya merupakan risiko utama atas infeksi HIV, tetapi juga hepatitis B dan hepatitis C. Resiko terinfeksi dengan HIV dari satu tusukan dengan jarum yang digunakan orang yang terinfeksi HIV diduga sekitar 1 banding 150. Post-exposure prophylaxis dengan obat anti-HIV dapat lebih jauh mengurangi risiko itu. Pekerja fasilitas kesehatan (perawat, pekerja laboratorium, dokter, dan lain-lain) juga dikhawatirkan walaupun lebih jarang. Jalur penularan ini dapat juga terjadi pada orang yang memberi dan menerima rajah dan tindik tubuh.

3.

Penularan Masa Perinatal Transmisi HIV dari ibu ke anak dapat terjadi melalui rahim (in utero) selama masa

perinatal, yaitu minggu-minggu terakhir kehamilan dan saat persalinan. Bila tidak ditangani, tingkat penularan dari ibu ke anak selama kehamilan dan persalinan adalah sebesar 25%. Namun demikian, jika sang ibu memiliki akses terhadap terapi antiretrovirus dan melahirkan dengan cara bedah caesar, tingkat penularannya hanya sebesar 1%. Sejumlah faktor dapat memengaruhi risiko infeksi, terutama beban virus pada ibu saat persalinan (semakin tinggi beban virus, semakin tinggi risikonya). Menyusui meningkatkan risiko penularan sebesar 4%. Sumber lain menyebutkan bahwa, pencegahan juga dapat dilakukan, antara lain : 1. Gunakan selalu jarum suntik yang steril dan baru setiap kali akan melakukan penyuntikan atau proses lain yang mengakibatkan terjadinya luka atau Tidak bertukar jarum suntik,jarum tato, dan sebagainya. 2. Selalu menerapkan kewaspadaan mengenai seks aman (artinya : hubungan seks yang tidak memungkinkan tercampurnya cairan kelamin, karena hal ini memungkinkan penularan HIV. 3. Bila ibu hamil dalam keadaan HIV positif sebaiknya diberitahu tentang semua resiko dan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada dirinya sendiri dan bayinya, sehingga keputusan untuk menyusui bayi dengan ASI sendiri bisa dipertimbangkan. 4. Abstinensi (atau puasa, tidak melakukan hubungan seks dengan pasangan terinfeksi). 5. Melakukan prinsip monogami yaitu tidak berganti-ganti pasangan dan saling setia kepada pasangannya. 6. Untuk yang melakukan hubungan seksual yang mengandung risiko, dianjurkan melakukan seks aman termasuk menggunakan kondom atau alat pengaman. 7. Memeriksa adanya virus paling lambat 6 bulan setelah hubungan seks terakhir yang tidak terlindungi.

Ada dua hal yang perlu diperhatikan: Semua alat yang menembus kulit dan darah (jarum suntik, jarum tato, atau pisau cukur) harus disterilisasi dengan benar Jangan memakai jarum suntik atau alat yang menembus kulit bergantian dengan orang lain

XVI.

ASUHAN KEPERAWATAN

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PENDERITA AIDS Triger Tn. M (48 th) dirawat di ruang isolasi sejak kemarin, klien datang dengan keluhan diare selama 2 bulan tidak sembuh-sembuh sehingga pasien lemas dan dibawa ke RS. Keluahan lain yang dirasakan klien adalah batuk berdahak yang tidak sembuh-sembuh selama 3 bulan terakhir. Kondisi tersebut yang menyebabkan klien dipulangkan dari Hongkong (tempat kerja sebagai TKI selama 10 tahun). Klien mengatakan kadangkadang pernah mencari hiburan di klub dan berganti-ganti pasangan.

Dari hasil pengkajian saat ini didapatkan TD: 90/60 mmHg, N: 110x/mnt, RR: 28x/mnt, S: 37,8oC klien masih tampak lemas, mukosa bibir kering, kulit tidak elastic, tampak ruam kemerahan di kulit. Untuk mengatasi maslah klien dokter meresepkan terapi cairan IV, ARV, dan merencanakan pemeriksaan ELISA. Pagi ini istri klien mengatakan tidak tahu tentang penyakit suaminya dan menanyakan apa yang harus dilakukan agar kondisi pasien bisa segera sembuh.

1. PENGKAJIAN

A. Identitas Klien Nama Usia Jenis kelamin : Tn. M : 48 tahun : Laki-laki

Status pernikahan: Menikah Pekerjaan Lama berkerja : TKI di Hongkong : 10 tahun

B. Status kesehatan Saat Ini 1. Keluhan utama sembuh 2. Lama keluhan sembuh dan batuk berdahak tidak sembuh-sembuh selama 3 bulan terakhir :Klien mengeluh diare selama 2 bulan tidak sembuh:Klien mengeluh diare dan batuk yang tidak sembuh-

3. Upaya yang telah dilakukan : dokter meresepkan terapi cairan IV dan ARV 4. Diagnosa medis : klien menderita AIDS (pemeriksaan ELISA)

C. Riwayat Kesehatan Saat Ini Klien dirawat di ruang isolasi sejak kemarin, klien datang dengan keluhan diare selama 2 bulan tidak sembuh-sembuh. Keluhan lain yang dirasakan klien adalah batuk berdahak yang tidak sembuh-sembuh selama 3 bulan terakhir. Klien tampak lemas, mukosa bibir kering, kulit tidak elastic, tampak ruam kemerahan di kulit. Klien mengatakan kadang-kadang pernah mencari hiburan di klub dan berganti-ganti pasangan. D. Riwayat Kesehatan Terdahulu (tidak terkaji) E. Riwayat Keluarga (tidak terkaji)

F. Pola Eliminasi Klien mengatakan diare selama 2 bulan tidak sembuh-sembuh BAB: - Frekuensi/pola - Konsistensi - Warna & bau - Kesulitan - Upaya mengatasi BAK: - Frekuensi/pola - Konsistensi - Warna & bau - Kesulitan - Upaya mengatasi : tidak terkaji : tidak terkaji : tidak terkaji : tidak terkaji : tidak terkaji : tidak terkaji : tidak terkaji : tidak terkaji : tidak terkaji : tidak terkaji

G. Pemeriksaan Fisik 1. Keadaan Umum: Klien tampak lemas Kesadaran: compos mentis, klien dapat diajak berbicara

Tanda-tanda vital: - Tekanan darah : 90/60 mmHg - Nadi

- Suhu :37,8oC - RR

:110x/menit

:28x/menit 2. Kepala & Leher a. Kepala: tidak terkaji b. Mata: tidak terkaji c. Hidung: tidak terkaji d. Mulut & tenggorokan: mukosa bibir kering e. Telinga: tidak terkaji f. Leher: tidak terkaji

3. Kulit & Kuku a. Kulit: kulit tidak elastic dan tampak ruam kemerahan b. Kuku: tidak terkaji

H. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan ELISA I. Terapi Terapi cairan IV dan ARV

2. ANALISA DATA DATA ETIOLOGI MASALAH KEPERAWATAN DS: Klien mengatakan Infeksi HIV AIDS Diare diare selama 2 bulan penurunan sistem imun tidak sembuh-sembuh IOs GI kronik diare

DO: TTV TD: 90/60 mmHg N: 110x/mnt RR: 28x/mnt S: 37,80C -tampak lemas

-mukosa bibir kering -Kulit tidak elastik

DS: klien mengaku diare Infeksi bakteriTidak ada kekurangan volume cairan selama 2 bulan tidak pertahanan sembuh-sembuh tubuh berhubungan dengan peristaltic absorpsi air diare. DO: TTV TD: 90/60 mmHg N: 110x/mnt RR: 28x/mnt S: 37,80C -tampak lemas -mukosa bibir kering Kulit tidak elastik cairan Diare-->kekurangan

DS: klien mengatakan Virus

menempel

pada Ketidakefektifan bersihan

batuk berdahak selama 3 CDCD4 bulan sembuh tidak

kekebalan jalan nafas

sembuh- menurunVirus menginfeksi Eksudat paru

DO: TTV TD: 90/60 mmHg N: 110x/mnt RR: 28x/mnt S: 37,80C

ketidakefektifan bersihan jalan nafas

DS:

istri

klien Terinfeksi

HIV/AIDS Kurang pengetahuan

mengatakan tidak tahu kurang pengetahuan tentang suaminya penyakit dan

menanyakan apa yang harus dilakukan agar

kondisi

pasien

bisa

segera sembuh DO: -

3. DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. Diare berhubungan dengan infeksi 2. Kurang volume cairan berhubungan dengan output yang berlebihan (diare) 3. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan batuk berdahak 4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif

4. INTERVENSI DAN RASIONALISASI 1. Diagnosa keperawatan Diare berhubungan dengan infeksi Tujuan: Menunjukkan eliminasi defekasi yang efektif ditandai dengan tidak adanya diare dalam 1x24 jam Kriteria hasil: -diare akan dapat dikendalikan -melaporkan penurunan tentang diare, normal bowel -terhidrasi dengan baik ( membran mukosa lembab, TD normal) -melaporkan penambahan BB atau BB kembali normal seperti sebelum sakit - Pasien merasa nyaman, komplikasi minimal dengan kriteria perut lunak, tidak tegang, feses lunak dan warna normal, kram perut hilang

INTERVENSI - Mengkaji (bising/tidak) kondisi

RASIONALISASI perut/usus -bising perut merupakan tanda diare

- Mengkaji frekuensi diare, nyeri - Mendeteksi perubahan status dan perut, volume cairan - Timbang BB pasien setiap hari - Monitor intake dan output - Menjaga asupan cairan minimal 2 L kuantitas hilangnya cairan - Menjaga BB klien tetap normal - Menentukan data dasar - Mencegah hipovolemia

- Rencanakan diet dengan pasien - Meyakinkan bahwa makanan sesuai dan orang penting lainnya. dengan keinginan pasien

- Informasikan kemungkinan menyebabkan

pada obat diare

klien - Sebagai edukasi yang dan

penggunaan obat antidiare yang tepat setelah konsultasi dengan dokter 2. Diagnosa keperawatan Kurang volume cairan berhubungan dengan output yang berlebihan (diare) Tujuan: mempertahankan hidrasi cairan yang dibuktikan oleh normalnya kadar elektrolit Kriteria hasil: - Terpenuhinya kebutuhan cairan secara adekuat - Defekasi kembali normal, maksimal 2x sehari

INTERVENSI Mandiri - Kaji turgor kulit,membran

RASIONALISASI - Indikator

tidak

langsung

dari

mukosa, dan rasa haus - Pantau masukan oral dan memasukkan cairan sedikitnya 2500 ml/hari - Hilangkan makanan yang

status cairan. - Mempertahankan keseimbangan cairan, mengurangi rasa haus, melembabkan mukosa. - Mungkin dapat mengurangi diare.

potensial menyebabkan diare, yakni yang pedas/ makanan berkadar lemak tinggi, kacang, kubis, susu. - Berikan makanan yang - Meningkatkan secara adekuat. - Mengurangi asupan nutrisi

membuat pasien berselera. Kolaborasi - Berikan obat-obatan sesuai indikasi : antiemetikum, insiden muntah,

menurunkan jumlah keenceran feses mengurangi kejang usus dan peristaltik. - Mewaspadai adanya gangguan dan menentukan

antidiare atau antispasmodik. - Pantau

hasil

pemeriksaan

elektrolit

laboratorium. - Berikan cairan/elektrolit

kebutuhan elektrolit. - Diperlukan untuk mendukung

melalui selang makanan atau IV.

volume sirkulasi, terutama jika pemasukan oral tidak adekuat.

3. Diagnosa keperawatan Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan batuk berdahak Tujuan: klien menunjukkan perbaikan pertukaran gas Kriteria hasil: RR 16-20 x/mnt, tidak ada batuk, suara nafas bersih, mata tidak terbuka lebar, tidak gelisah

INTERVENSI

RASIONALISASI

- Kaji status respiratory, mencakup -memudahkan intervensi frekuensi, irama - Kaji batuk, warna dan jumlah - Mengindikasikan seputum, suara nafas, sianosis fungsi pernafasan abnormalitas

- Lakukan pengambilan spesimen - Untuk pemeriksaan penyakit sputum untuk dianalisis - Terapi pulmoner sedikitnya -untuk mencegah statis sekresi dan meningkatkan bersihan jalan nafas -memudahkan ekspansi paru dan

dilakukan setiap 2 jam sekali - Posisikan pasien semi fowler - Berikan

mendorong bernafas dalam oksigen yang sudah -Untuk mempertahankan ventilasi yang tindakan memadai

dilembabkan

untuk

pengisapan lendir (suctioning)

4. Diagnosa keperawatan Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif Tujuan: memberikan edukasi pada klien atau keluarga Kriteria hasil: -Melaporkan tingkat pemahaman tentang penyakit (proses penyakit, kontrol infeksi, pengobatan dan prosedur pengobatan,

aktivitas yang dianjurkan, dll) serta berpartisipasi dengan maksimal dalam kegiatan perawatan mandiri. -Mengidentikasi hubungan antara tanda/gejala pada proses

penyakit dan hubungan gejala dengan faktor penyebab -memulai perubahan gaya hidup yang sehat

INTERVENSI

RASIONALISASI

-kaji pengetahuan klien dan keluarga -mengetahui tingkat pemahaman klien tentang proses penyakit tentang penyakitnya dan sebagai data dasar -Jelaskan tentang patofisiologi -penyuluhan kesehatan penting untuk informasi pada klien

penyakit, tanda dan gejala serta memberikan penyebab yang mungkin

sehingga klien dapat meningkatkan

-sediakan informasi tentang kondisi quality of life klien dan diagnosa klien -siapkan dengan kelurga/orang informasi -agar klien mengetahui

terdekat kondisi/perkembangan kesehatannya tentang -kesembuhan klien juga didorong oleh lingkungan sekitar

perkembangan penyakit -diskusikan perubahan gaya hidup

yang mungkin diperlukan untuk -klien merubah gaya hidup yang buruk mencegah komplikasi sehingga dapat meningkatkan quality of life

5. EVALUASI 1. Mendapatkan kembali kebiasaan defekasi yang normal 2. Klien akan mempertahankan tingkat hidrasi yang adekuat 3. Mempertahankan kebersihan jalan napas yang efektif 4. Melaporkan tingkat pemahaman tentang penyakit AIDS serta berpartisipasi dengan maksimal dalam kegiatan perawatan mandiri DAFTAR PUSTAKA

Boshoff, C. and Weiss, R. (2002). "AIDS-related malignancies". Nat. Rev. Cancer 2 (5): 373 382. PubMed. Dedi, Setiyadi Abang. 2011. Laporan kasus penyakit HIV/AIDS. Pontianak: Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yayasan Rumah Sakit Islam Pontianak. Ditjen PP & PL Kemenkes RI. 2011. Statistik Kasus HIV/AIDS di Indonesia Dilapor s/d Juni 2011. Online. (http://spiritia.or.id/Stats/StatCurr.pdf. 2011) Doengoes, Marilynn, dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan ; Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, edisi 3, alih bahasa : I Made Kariasa dan Ni Made S, EGC, Jakarta Majalah Farmacia Edisi Desember 2006 , Vol 6 No. 5, Halaman: 30 (2787 hits) ARV : Tumpuan Penderita HIV. Online (http://www.majalahDiakses 1 November

farmacia.com/rubrik/one_news.asp?IDNews=379 diakses 1 november 2011) Mansjoer, Arif,dkk. Kapita Selecta Kedokteran FKUI. 2000. Jakarta: EGC Rasmaliah. 2001. Epidemiologi HIV/AIDS dan Upaya Penanggulangannya. Fakultas Kesehatan Masyarakat: Universitas Sumatra Utara Sherwood. L. Fisiologi Manusia. edisi 2. Alih bahasa : Pendit. B.U. Jakarta : EGC. 2001. Smeltzer, Suzanne C. 2001. Keperawatan medical bedah Ed 8. Jakarta: EGC UNAIDS (2006). "Overview of the global AIDS epidemic" (PDF). 2006 Report on the global AIDS epidemic.online(http://data.unaids.org/pub/GlobalReport/2006/2006_GR_CH02 _en.pdf. Diakses pada 1 november 2011) WHO.2008. EPIDEMI HIV DAN AIDS DI DUNIA DAN INDONESIA.

online.(http://pmtct.bikinsitus.com/index2.php?option=com_content&do_pdf= 1&id=55 Diakses 1 November 2011) Wilkinson, Judith M. 2007. BUKU SAKU DIAGNOSIS KEPERAWATAN DENGAN INTERVENSI NIC DAN KRITERIA HASIL NOC. Jakarta: EGC