Anda di halaman 1dari 22

I.

JUDUL PERCOBAAN

: PROSES PENANAMAN MEDIA DAN STERILISASI

II. TUJUAN 2.1 Proses Penanaman Media Untuk mengetahui cara pembuatan media yang sesuai dengan pertumbuhan mikroba, dan untuk mengetahui cara penggoresan pada metode cawan gores serta untuk mengamati mikroba yang tumbuh pada media tersebut. 2.2 Sterilisasi Membunuh mikroorganisme dan mensterilkan alat-alat (erlenmeyer, cawan petri, tabung reaksi dan kaca objek) yang akan digunakan dalam percobaan mikrobiologi. Selain itu agar mengetahui cara pensterilan secara fisika terutama pemanasan basah.

III. TEORI 3.1 Mikroorganisme Mikroorganisme atau mikroba adalah organisme yang berukuran sangat kecil sehingga untuk mengamati diperlukan alat bantuan. Mikroorganisme terdapat dalam populasi yang besar dan beragam,dan mereka terdapat hampir dimana-mana dialam ini. Mikroorganisme dapat menyebabkan banyak penyakit yang telah melanda peradaban manusia selama berabad-abad. Sebelum timbulnya pengertian bahwa penyakit menular disebabkan oleh mikroorganisme, secara berkala populasi dihancurkan oleh wabah penyakit seperti difteri, pes, dan cacar. Dengan diterapkannya penemuan-penemuan yang dibuat didalam bidang mikrobiologi (Pelczar, 2008).

3.2 Fase-Fase Pertumbuhan Mikroba Adapun fase-fase pertumbuhan mikroba, yaitu: a. Fase pertumbuhan atau adabtasi Pada fase ini bakteri baru menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, bermacam enzim dan zat perantara dibentuk sehingga keadaannya memungkinkan terjadinya pertumbuhan lebih lanjut.

b. Fase pertumbuhan yang dipercepat Pada fase ini bakteri mulai bertumbuh dengan membelah diri, tetapi waktu genersinya masih panjang. Fase ini disebut log phase. c. Fase pertumbuhan logaritma Pada fase ini kecepatan membelah diri paling tinggi, waktu generasinya pendek dan konstan. d. Fase pertumbuhan yang mulai terhambat Setelag melakukan fase logaritma, kecepatan pembelahannya akan berkurang dan jumlahnya yang mati juga bertambah banyak. e. Fase stasioner yang maksimum Adanya penurunan kadar nutrien dan meningkatnya penimbunan zat-zat racun yang menghambat kecepatan pembelahan menjadi semakin meningkat. f. Fase kematian yang dipercepat dan fase kematian logaritma. Pada fase ini kecepatan kematian terus meningkat sedang kecepatan pembelahannya nol. (Dwidjoseputro, 1964).

3.3 Media Media adalah suatu bahan yang digunakan untuk menumbuhkan mikroba yang terdiri dari campuran zat makanan (nutrient) yang digunakan untuk kebutuhan makhluk hidup dalam melakukan aktivitas dan pertumbuhan selama hidupnya. Ada beberapa cara mempersiapkan piaraan, yaitu: a. Piaraan lempengan b. Piaraan pada agar-agar miring c. Piaraan tusukan d. Piaraan adukan Beberapa sifat-sifat yang perlu diperhatikan pada koloni yang tumbuh dipermukaan medium, yaitu: a. Besar kecilnya koloni b. Bentuk c. Kenaikan permukaan

d. Halus-kasarnya permukaan e. Wajah permukaan f. Warna g. Kepekatan (Dwidjoseputro, 1964)

3.4 Sterilisasi Sterilisasi merupakan proses yang menghancurkan semua bentuk kehidupan. Sterilisasi yang tidak baik dapat menghasilkan penyebaran infeksi dan virus seperti hepatitis dan HIV. Perebusan bukanlah metode sterilisasi. Sterilisasi umumnya dilakukan menggunakan autoklaf untuk yang menggunakan proses yang bertekanan. Cara lain yang kini dikembangkan adanya sterilisasi basah untuk produk-produk yang tidak tahan panas. Teknologi pengemasan aseptik untuk minuman yang sensitive terhadap asam kini telah dikembangkan. Konsep aseptis ini menggunakan larutan PAA (Paracetik Acid) sebagai medium sterilisasi, isolator microbial untuk pengendali lingkungan, sistem aseptik ini digunakan dalam sterilisasi botol PET yang saat ini banyak digunakan dalam industri minuman. Dasar sterilisasi basah dengan PAA: a. Botol disterilkan dengan penyemprotan larutan PAA dengan botol menghadap kebawah, PAA ditampung untuk dapat digunakan kembali. b. Botol dicuci dengan penyemprotan air steril (menghadap kebawah), air cucian ditampung untuk dapat digunakan kembali. c. Kendalikan laju air semprota, konsentrasi PAA, suhu dan tekanan. d. Pengurangan mikroorganisme yang dilakukan dapat mencapai 6 log penurunan (6D). Penggunaan PAA lebih baik dari pada hidrogen peroksida karena lebih efektif terhadap kontaminan. Sterilisasi digolongkan dalam 2 macam, yaitu: sterilisasi secara fisika dan sterilisasi secara kimia. Sterilisasi fisika dapat digolongkan dalam: a. Pemanasan Kering Udara Panas Oven

Bahan yang karena karakteristik fisiknya tidak dapat disterilkan dengan uap destilasi dalam udara panas oven. Yang termasuk didalamnya adalah minyak lemak, paraffin, petrolatum cair, gliserin, dan sejenisnya. Minyak dan Penangas Lain Bahan kimia yang stabil dalam sampul yang bersegel dapat disterilkan dengan mencelupkannya dalam penangas yang berisi minyak mineral pada suhu 1620C. Pemijaran Langsung Cara ini digunakan untuk mensterilkan spatula logam, batang gelas, filter logam bekerfield dan filter bakteri lain. b. Panas Lembab Uap Bertekanan Ini adalah metode yang diinginkan untuk sterilisasi larutan yang ditujukan untuk infeksi pada tubuh, pembawa pada sediaan media, bahan-bahan gelas. Air Mendidih Penangas air mendidih dapat mensterilkan jarum spolt, penutup karet, penutup dan alat-alat bedah. c. Cara Bukan Panas Cara ini adalah menggunakan sinar ultraviolet, Sinar ultraviolet biasanya digunakan untuk membantu mengurangi kontaminasi diudara dan pemusnahan selama proses dilingkungan. Sinar yang bersifat membunuh mikroorganisme (germisida) diproduksi oleh lampu kabut merkuri yang dipancarkan secara eksklusif pada 253,7 nm. (Aisyah, 2009) 3.5 Aplikasi Sterilisasi Kultur Jaringan Jeruk Nipis (Citrus Aurantifolia): Pengaruh Metoda Sterilisasi dan Komposisi Media Percobaan ini adalah pengujian terhadap berbagai metoda sterilisasi bahan tanaman. Bahan tanaman yang digunakan adalah eksplan pucuk tanaman jeruk nipis tanpa biji yang diambil dari bibit di lapangan. Untuk memperkecil tingkat kontaminasi, maka bibit tersebut terlebih dahulu dipelihara secara intensif di rumah kaca dan diperlakukan dengan 0,5 gL-1 benlate seminggu sekali selama 2 bulan. Bahan sterilisasi yang diuji adalah Na-hipoklorit, Ca-hipoklorit dan HgCl2 dengan

tingkat konsentrasi masing-masing 0,1, 0,5, 1,0 dan 5,0 % dan lama waktu perendaman 10, 20 dan 30 menit. Dengan demikian diperoleh 12 kombinasi perlakuan yang diulang 10 kali. Bahan eksplan yang digunakan pada percobaan ini adalah potongan nodus tunggal yang diambil dari pucuk-pucuk muda. Pucuk yang mengandung 2 - 3 tunas aksilar yang masih dalam keadaan dorman diambil dari tanaman induk. Pucuk tersebut kemudian direndam dan dikocok selama 10 menit di dalam larutan 2 tetes Tween-20 per 100 mL air steril. Kemudian dibilas dengan air steril sampai tidak ada lagi sisa-sisa deterjen pada permukaan pucuk tersebut. Selanjutnya pucuk tadi direndam di dalam tiga macam larutan bahan sterilisasi yang telah disiapkan untuk masing-masing konsentrasi, selama 10, 20 dan 30 menit. Kemudian dibilas dengan air steril sampai bersih. Di dalam laminar air flow cabinet, eksplan dipotong kira-kira 1 cm dengan nodus berada di bagian tengah, lalu dikeringkan pada kertas saring steril. Kemudian eksplan tadi ditanamkan pada medium pra-kondisi. Untuk melihat perkembangan kultur, eksplan yang sudah ditanamkan tadi ditempatkan di dalam ruang kultur pada suhu 251oC dan fotoperiodesitas 16 jam selama 30 hari. Parameter-parameter yang diamati adalah: persentase eksplan yang tidak mengalami kontaminasi dan tidak mati (sehat), dan lamanya gejala kontaminasi mulai nampak (dalam hari) (Nyimas, 2011). Mulai Pucuk yang mengandung 2 - 3 tunas aksilar yang masih dalam keadaan dorman diambil dari tanaman induk Pucuk tersebut kemudian direndam dan dikocok selama 10 menit di dalam larutan 2 tetes Tween-20 per 100 mL air steril

Dibilas dengan air steril sampai tidak ada lagi sisa-sisa deterjen pada permukaan pucuk

A Pucuk tadi direndam di dalam tiga macam larutan bahan sterilisasi yang telah disiapkan untuk masingmasing konsentrasi, selama 10, 20 dan 30 menit eksplan dipotong kira-kira 1 cm dengan nodus berada di bagian tengah, lalu dikeringkan pada kertas saring steril di dalam laminar air flow cabinet Eksplan tadi ditanamkan pada medium pra-kondisi Eksplan yang sudah ditanamkan tadi ditempatkan di dalam ruang kultur pada suhu 251oC dan fotoperiodesitas 16 jam selama 30 hari

Selesai Gambar 3.1 Flowchart Kultur Jaringan Jeruk Nipis (Citrus Aurantifolia): Pengaruh Metoda Sterilisasi dan Komposisi Media (Nyimas, 2011)

IV. BAHAN DAN ALAT 4.1 Bahan 4.1.2 Proses Penanaman Media Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah: 1. Air rendaman daging ayam Fungsi : sebagai sumber nutrisi. 2. Air rendaman leci Fungsi : sebagai sumber nutrisi. 3. Air sungai Deli Fungsi : sebagai sumber mikroba. 4. Air parit pajak Sukaramai Fungsi : sebagai sumber mikroba. 5. Agar-agar Fungsi : sebagai pengental campuran. 6. Glukosa (C6H12O6) Fungsi : sebagai nutrisi untuk mikroba. 7. Aquadest (H2O) Fungsi : sebagai pelarut.

4.1.2 Sterilisasi Adapun bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah: 1. Tabung Reaksi Fungsi : Sebagai bahan yang akan disterilisasi 2. Kaca Preparat Fungsi : Sebagai bahan yang akan disterilisasi 3. Erlenmeyer Fungsi : Sebagai bahan yang akan disterilisasi

4.2 Alat 4.2.1 Proses Penanaman Media Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah : 1. Mikroskop Fungsi : sebagai alat untuk melihat jelas jenis mokroba. 2. Kaca preparat Fungsi : sebagai tempat/wadah dari mikroba yang diamati. 3. Kawat inokulasi Fungsi : sebagai alat untuk menggoreskan sampel ke kaca preparat dan alat dalam pertumbuhan mikroba media tusuk 4. Pengaduk Fungsi : sebagai alat untuk mengaduk campuran. 5. Tabung reaksi Fungsi : sebagai wadah / media pertumbuhan mikroba miring dan tusuk 6. Kompor Fungsi : sebagai alat pemanas. 7. Panci Fungsi : sebagai wadah campuran untuk dipanaskan. 8. Steril kabinet Fungsi : sebagai tempat penyimpanan media

4.2.2 Sterilisasi Adapun alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah : 1. Panci Fungsi : sebagai tempat melakukan sterilisasi 2. Steril kabinet Fungsi : sebagai tempat penyimpanan kaca preparat yang telah disterilisasi 3. Kompor Fungsi : sebagai alat pemanas

V. PROSEDUR PERCOBAAN 5.1 Prosedur Pembuatan Media Tusuk 1. Ditimbang 5 gram glukosa. 2. Air rendaman daging ayam, air rendaman leci, aquadest dan glukosa dicampur dan dimasak sambil diaduk. 3. Setelah mendidih agar ditambahkan ke dalam campuran dan dimasak hingga tersuspensi ke dalam larutan. 4. Campuran dimasukkan ke dalam tabung reaksi. 5. Agar yang telah terdispersi dibiarkan mendingin. 6. Kemudian sumber mikroba yaitu masing-masing untuk air sungai deli dan air parit pajak Sukaramai ditusukkan hingga menutupi keseluruhan permukaan media. 7. Media ditutup dan diinkubasi 2 24 jam. 8. Media diamati dengan menggunakan mikroskop dan digambar bentuk koloninya.

5.2 Prosedur Pembuatan Media Miring 1. Ditimbang 5 gram glukosa. 2. Air rendaman daging ayam, air rendaman leci, aquadest dan glukosa dicampur dan dimasak sambil diaduk. 3. Setelah mendidih agar ditambahkan ke dalam campuran dan dimasak hingga tersuspensi ke dalam larutan. 4. Campuran dimasukkan ke dalam tabung reaksi. 5. Agar yang telah terdispersi dibiarkan mendingin. 6. Kemudian sumber mikroba yaitu masing-masing untuk air sungai deli dan air parit pajak Sukaramai diteteskan hingga menutupi keseluruhan permukaan media. 7. Media ditutup dan diinkubasi 2 24 jam. 8. Media diamati dengan menggunakan mikroskop dan digambar bentuk koloninya.

5.3 Prosedur Sterilisasi 1. Kompor dihidupkan dan dandang diletakkan di atasnya. 2. Alat-alat yang akan disterilkan dicuci hingga bersih dan kemudian dikeringkan dengan cara diangin-anginkan. 3. Alat yang akan disterilkan (erlenmeyer, kaca preparat, dan tabung reaksi) dibungkus dengan tisu gulung. 4. Kemudian alat-alat tersebut dimasukkan ke dalam dandang dan dipanaskan sampai air dalam dandang mendidih (100 oC) selama 10-15 menit. 5. Lalu kompor dimatikan. 6. Tisu pembungkus dilepaskan dengan menggunakan penjepit tabung. 7. Lalu alat yang telah steril dimasukkan ke dalam steril kabinet.

5.4 Flowchart Percobaan 5.4.1 Flowchart Media Lempeng Mulai

Ditimbang 5 gram glukosa

Air rendaman daging ayam, air rendaman leci kaki, aquadest dan glukosa dicampur dan dimasak sambil diaduk

Setelah mendidih agar ditambahkan ke dalam campuran dan dimasak hingga tersuspensi ke dalam larutan

Campuran dimasukkan ke dalam tabung reaksi Agar yang telah terdispersi dibiarkan mendingin

Kemudian sumber mikroba yaitu masing-masing untuk air sungai deli dan air parit pajak Sukaramai ditusukkan hingga menutupi keseluruhan permukaan media Media ditutup dan diinkubasi 2 24 jam Media diamati dengan menggunakan mikroskop dan digambar bentuk koloninya Selesai Gambar 5.1 Flowchart Media Tusuk

5.4.2 Flowchart Media Miring Mulai Ditimbang 5 gram glukosa Air rendaman daging ayam, air rendaman leci kaki, aquadest dan glukosa dicampur dan dimasak sambil diaduk

Setelah mendidih agar ditambahkan ke dalam Gambar 5.1 dan dimasak hingga tersuspensi ke campuran Flowchart Proses Penanaman Media dalam larutan

Campuran dimasukkan ke dalam tabung reaksi Agar yang telah terdispersi dibiarkan mendingin Kemudian sumber mikroba yaitu masing-masing untuk air sungai deli dan air parit pajak pembangunan diteteskan hingga menutupi keseluruhan permukaan media Media ditutup dan diinkubasi 2 24 jam Media diamati dengan menggunakan mikroskop dan digambar bentuk koloninya Selesai Gambar 5.2 Flowchart Media Miring

5.4.3 Flowchart Sterilisasi Mulai

Kompor dihidupkan dan dandang diletakkan di atasnya

Alat-alat yang akan disterilkan dicuci hingga bersih dan kemudian dikeringkan dengan cara diangin-anginkan

Alat yang akan disterilkan (erlenmeyer, , kaca preparat, dan tabung reaksi) dibungkus dengan tisu gulung

Kemudian alat-alat tersebut dimasukkan ke dalam dandang dan dipanaskan sampai air dalam dandang mendidih (100 oC) selama 10-15 menit Lalu kompor dimatikan Tisu pembungkus dilepaskan dengan menggunakan penjepit tabung Lalu alat yang telah steril dimasukkan ke dalam steril kabinet Selesai Gambar 5.3 Flowchart Sterilisasi

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN 6.1 Hasil Percobaan Tabel 6.1 Hasil Percobaan No. Nama alat Gambar Jumlah Keterangan

1.

Kaca Objek

Steril

2.

Erlenmeyer

Steril

4.

Tabung Reaksi

Steril

Tabel 6.2 Gambar Berbagai Media Sumber Media Gambar Media Mikroba

Jenis Mikroba

Tusuk

Basil

Air sungai Deli

Miring

Spiral

Tusuk Air parit pajak Sukaramai Miring

Kokus

Basil

Tabel 6.3 Hasil Percobaan Penanaman Media Sumber Mikroba Media Gambar Mikroba Nama Mikroba

Tusuk

Shigella dysentriae

Air sungai Deli Miring Clostridium

Tusuk Air parit pajak Sukaramai Miring

Propionibacterium acnes

Escherichia coli

6.2 Pembahasan 6.2.1 Sterilisasi Sterilisasi adalah suatu proses mematikan mikroorganiseme yang mungkin ada pada suatu benda. Secara umum terdapat tiga teknik yang biasa digunakan untuk sterilisasi, yaitu secara mekanik, kimia, dan fisik (Surya, 2005). Pada percobaan ini metode sterilisasi yang digunakan adalah sterilisasi fisik dengan metode uap panas. Metode ini digunakan untuk membunuh jenis mikroba yang tidak tahan untuk hidup didalam suhu 100 oC. Dengan uap yang bersuhu 100 oC dapat membunuh mikroba namun ada juga tidak mati.

Hasil akhir dari percobaan ini dinyatakan bahwa alat-alat yang disterilkan berada dalam keadaan steril. Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi sterilisasi adalah sebagai berikut: 1. Penataan alat harus sedemikian rupa agar semua bagian alat dapat steril 2. Memindahkan alat steril ke tempatnya harus menggunakan alat bantu yang juga steril 3. Saat mendinginkan alat steril, pembungkusnya harus tetap terpasang agar tetap terjaga hasil pensterilannya 4. Selama pensterilan belum selesai, tidak boleh menambah peralatan yang akan disterilkan 5. Jenis kontaminan yang hendak dihilangkan 6. Morfologi mikroorganisme 7. Temperatur yang digunakan untuk sterilisasi 8. Durasi sterilisasi (Abdul, 2010)

6.2.2 Air Sungai Deli Air sungai Deli merupakan air yang memiliki warna agak keruh dan kotor. Dari hasil percobaan dan pengamatan pada air sungai Deli terdapat bakteri Shigella dysentriae pada media tusuk dan bakteri Clostridium pada media miring. Berikut ciri-ciri dari bakteri tersebut.

Shigella dysentriae memiliki ciri-ciri: 1. Merupakan bakteri Gram negatif 2. Berbentuk batang dengan ukuran 0,5- 0,7 m x 2-3 m 3. Tidak berkapsul, tidak membentuk spora, dan bersifat fakultatif anaerob Gambar 6.1 Bakteri Shigella dysentriae5. (Nathania, 2012) 4. Penyebab penyakit disentri (Mudatsir, 2012).

Clostridium memiliki ciri-ciri: 1. Merupakan bakteri Gram positif 2. Menghasilkan spora 3. Merusak protein dan menghasilkan toksin 4. Menyebabkan tetanus, botulisme, dan Gambar 6.2 Bakteri Clostridium (Mayasari, 2011) beragam penyakit lainnya (Mayasari, 2011).

6.2.3 Air Parit Pajak Sukaramai Air parit pajak Sukaramai merupakan air yang memiliki warna kuning, kotor dan menimbulkan bau yang sangat tidak sedap. Dari hasil percobaan dan hasil pengamatan terdapat bakteri Propionibacterium acnes pada media tusuk dan bakteri Escherichia coli pada media miring. Berikut ciri-ciri dari bakteri tersebut.

Propionibacterium acnes memiliki ciri-ciri: 1. Merupakan bakteri Gram positif 2. Berbentuk kokoid tumbuh di udara dan

3. Dapat

menghasilkan endospora 4. Bersifat patogen untuk hewan dan Gambar 6.3 Bakteri 6. Propionibacterium acnes (Pramasanti, 2008) tanaman (Pramasanti, 2008).

Escherichia coli memiliki ciri-ciri: 1. Merupakan bakteri Gram negatif 2. Berbentuk batang pendek yang memiliki panjang sekitar 2 m, diameter 0,7 m, lebar 0,4-0,7m 3. Membentuk koloni yang bundar, Gambar 6.4 Bakteri Escherichia coli (Kusuma, 2010) cembung, dan halus dengan tepi yang nyata. (Kusuma, 2010).

VII. KESIMPULAN DAN SARAN 7.1 Kesimpulan Adapun kesimpulan yang didapat dari percobaan ini adalah: 1. Pada sampel air sungai Deli terdapat jenis mikroba Shigella dysentriae dan Clostridium. 2. Pada sampel air parit pajak Sukaramai terdapat jenis mikroba

Propionibacterium acnes dan E.Coli. 3. Pada percobaan ini metode yang digunakan adalah metode media tusuk dan media miring. 4. Suhu pemanasan yang digunakan adalah 100 oC. 5. Sterilisasi uap basah bergantung pada waktu pemanasan, semakin lama waktu pemanasan, maka semakin baik pensterilan alat. 6. Metode uap panas (pengukusan) merupakan metode yang sederhana dan baik dalam proses sterilisasi. 7. Hampir semua jenis mikroba mati pada suhu 100 oC.

7.2 Saran Adapun saran yang didapat pada percobaan ini adalah: 1. Disarankan dilakukan pengamatan mikroba dengan cara pewarnaan gram, supaya diketahui jenis mikroba tersebut. 2. Disarankan untuk melakukan sterilisasi dengan teknik lainnya, misalnya dengan penyaringan (filtrasi) atau penyinaran (radiasi). 3. Disarankan agar praktikan selalu menggunakan masker dan sarung tangan untuk menghindari kontaminasi dengan mikroba. 4. Disarankan untuk menggunakan suspensi bakteri yang tidak terlalu padat dan tidak terlalu encer, agar tidak kesulitan saat mencari bakteri dengan mikroskop.

DAFTAR PUSTAKA Abdul, Nugraha. 2010. Panduan Pelaksanaan Laboratorium Instruksional. Bandung: ITB Aisyah. 2009. Metode sterilisasi. http:/ /belajarmikro.com/2009/03/15/metode sterilisasi. Diakses pada 01 Oktober 2012 Bambang. 2010. Eserchia Coli. http:/en.wikipedia.org/wiki. Diakses pada 01 Oktober 2012 Dwidjoseputro, D. 1985. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta, Jembatan: Malang Kusuma, Sria Agung Fitri. 2010. Escherichia coli. Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran Jawa Barat Nyimas, Myrna. 2011. Kultur Jaringan Jeruk Nipis (Citrus Aurantifolia): Pengaruh Metoda Sterilisasi dan Komposisi Media. Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Jambi. Kampus Pinang Masak, Mendalo Darat, Jambi. Pelczar, Michael J. 2008. Dasar-Dasar Mikrobiologi. UI-Press: Jakarta Surya, Handoko. 2005. Petunjuk Praktikum Mikrobiologi. Yogyakarta: Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Gadjah Mada

LAMPIRAN A FOTO PENGAMBILAN SAMPEL

L.A.1 Foto Pengambilan Sampel Air Sungai Deli

Gambar LA-1 Foto Pengambilan Sampel Air Bundaran Sun Plaza L.A.2 Foto Pengambilan Sampel Air Parit Pajak Sukaramai

Gambar LA-2 Foto Pengambilan Sampel Air Perpustakaan USU