Anda di halaman 1dari 12

BAB I PEMBAHASAN 1.1 Uji Persepsi Dua Titik Sentuh 1.1.

1 Analisa Prosedur Alat yang digunakan dalam percobaan uji persepsi dua titik sentuh adalah tusuk gigi. Tusuk gigi dengan ujung yang runcing digunakan untuk menguji persepsi pada dua titik sentuh pada permukaan kulit. Percobaan dilakukan pada permukaan kulit di ibu jari, jempol kaki, lengan atas, betis, dan punggung dengan tujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan persepsi pada permukaan kulit yang berbeda. Tusuk gigi dengan ujung runcing disentuhkan pada permukaan tubuh, kemudian digeser sedikit demi sedikit. Apabila probandus telah merasakan satu titik sentuh, pergeseran dihentikan dan dilakukan pengukuran. Hal itu bertujuan untuk mengetahui jarak persepsi titik sentuh pada sel saraf yang terdapat pada permukaan tubuh. Jarak ketika probandus merasakan satu titik sentuh dicatat sebagai data hasil percobaan. Digunakan probandus gemuk dan yang kurus dengan tujuan untuk membandingkan jarak persepsi dua titik sentuh pada masing-masing probandus. Tidak lupa diucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya terhadap probandus yang telah memberi kesempatan untuk diuji dalam percobaan ini. 1.1.2 Analisa Hasil Berdasarkan data yang diperoleh, diketahui adanya perbedaan jarak titik sentuh pada probandus sebagai berikut: Tabel 1. Hasil Uji Perbedaan Jarak Titik Sentuh Probandus Gemuk Kurus Gemuk Kurus Ibu jari (mm) 10 10 50 5 Jempol Kaki (mm) 50 50 50 5 Lengan atas (mm) 30 10 50 50 Betis (mm) 60 50 50 50 Punggung (mm) 50 60 50 50

Gambar 1. Grafik Perbedaan Jarak Dua Titik Sentuh Pada hasil uji tersebut menunjukkan adanya perbedaan tingkat respon persepsi antara dua titik sentuh. Dari gambar 1 tersebut, dapat diketahui bahwa rata-rata probandus gemuk menunjukkan jarak dua titik sentuh yang lebih besar dibandingkan dengan probandus yang kurus, sedangkan pada beberapa lokasi terdapat kesamaan jarak dua titik sentuh. Hal ini menunjukkan bahwa jenis kelamin tidak mempengaruhi persepsi jarak dua titik sentuh, melainkan dipengaruhi oleh berat badan dan postur badan seseorang.

Gambar 2 . Mekanisme respon saraf pada kulit (Neuroscience, 2008)

Persepsi titik sentuh terjadi karena adanya suatu indra peraba yang disebut kulit. Kulit menanggapi rangsang berupa panas, dingin, tekanan, sentuhan, dan rasa nyeri. Reseptor pada kulit yang menerima rangsang disebut turgo reseptor (Pearce, 1991). Mekanisme respon saraf pada kulit diawali dari turgo reseptor yang terdapat pada lapisan dermis. Rangsang yang diterima oleh reseptor tersebut kemudian diteruskan menuju neuron sensorik dan menuju ke otak. Otak menerima informasi mengenai jenis rangsang (tekanan, sentuhan, panas, dan dingin). Setelah menerima informasi tersebut impuls kemudian diteruskan oleh saraf motorik hingga akhirnya probandus dapat mengatakan mengenai rasa sentuhan yang dialami (Campbell, 2005). Kulit dapat mengidentifikasi beberapa sensasi yang berbeda, yakni suhu, tekanan, sakit, dan sentuhan. Reseptor sensorik kulit merespon impuls mekanik, suhu, dan kimia, selanjutnya impuls tersebut akan dikirimkan ke otak dan spinal cord (CNS). Saraf sensorik tersebut akan mengubah energi mekanik, kimia dan suhu menjadi sinyal elekrik. Sinyal tersebut akan melewati akson dari CNS, dan selanjutnya akan diketahui sensasi dari stimuli tersebut, tidak hanya dengan kerja reseptor dan neuron namun juga memori yang terdapat dalam otak (Bullock,2001). Pada orang yang gemuk memiliki kecenderungan untuk lebih lama merasakan suatu sentuhan karena lapisan lemak yang berada dibawah kulit lebih tebal dibandingkan orang yang kurus. Umumnya, perempuan memiliki sensitifitas yang lebih dibandingkan laki-laki. Sensitifitas yang dimiliki kulit akan sangat mempengaruhi uji dua titik sentuh ini, karena uji ini akan melihat tingkat sensitifitas dari kulit. Mekanisme respon saraf terhadap kulit adalah rangsangan akan diterima oleh saraf sensorik dan kemudian disampaikan langsung ke otak. Dari otak kemudian dikeluarkan perintah ke saraf motori sehingga terjadilah gerakan. Artinya pada gerakan itu diketahui suatu kontrol oleh otak. Sedangkan jarak dua titik sentuh dengan saraf adalah jika dua titik sentuh itu saling berdekatan maka orang tersebut akan merasakan seperti satu sentuhan karena seakan-akan sentuhan pada satu titik lenyap dan hanya titik yang lain yang dapat dirasakan. Namun kenyataannya ada dua sentuhan yang dirasa hanya saja salah satu titik yang lain memiliki rangsang yang lebih kuat. Jarak dua titik sentuh pada orang normal pada ibu jari sebesar 2-3mm, jempol kaki sebesar 20mm, lengan atas sebesar 39mm, betis sebesar

30mm, perut sebesar 18mm dan punggung sebesar 15mm (Forumsains, 2007). 1.2 Reaction Test 1.2.1 Analisa Prosedur Reaction test menggunakan satu set alat reaction test, yang digunakan untuk melihat seberapa cepat reaksi dari probandus ketika melihat warna lampu yang menyala di alat tersebut. Waktu yang diperlukan oleh probandus untuk menekan tombol sesuai dengan warna nyala lampu pada alat reaction test digunakan sebagai data hasil percobaan. Perlakuan ini menggunakan probandus laki-laki berkacamata dan tidak berkacamata, perempuan berkacamata dan tidak berkacamata, probandus digunakan sebagai pembanding dan sampel kelas dengan menggunakan probandus yang berlainan jenis kelamin. Pertama-tama alat reaction test dihidupkan, kemudian probandus menekan tombol sesuai dengan warna lampu yang menyala (diulang 20x) dan dicatat waktu yang tertera pada alat, pengulangan dilakukan agar data setiap probandus yang diambil benar-benar valid. 1.2.2 Analisa Hasil Berdasarkan data yang diperoleh, diketahui adanya perbedaan kecepatan respon mata terhadap warna pada probandus sebagai berikut: Tabel 2. Perbedaan Hasil Uji pada Reaction Test Probandus Normal Berkacamata Normal Berkacamata I (s) 0,66 0,60 0,53 0,64 II (s) 0,64 0,66 0,46 0,51

Gambar 3. Grafik Perbedaan Kecepatan Respon Penglihatan Terhadap Warna Probandus laki-laki yang tidak berkacamata memiliki waktu respon yang relatif sama dibandingkan dengan probandus laki-laki yang berkacamata. Hal ini menunjukkan bahwa kelainan pada mata tidak berpengaruh terhadap kecepatan respon penglihatan terhadap warna. Tidak demikian halnya pada probandus wanita, dimana terdapat perbedaan yang jauh antara probandus wanita yang tidak berkacamata dengan probandus wanita yang berkacamata. Berdasarkan data yang diperoleh, jenis kelamin dapat dikatakan tidak berpengaruh karena waktu yang dibutuhkan probandus perempuan dan laki-laki relatif sama. Berdasarkan pada pengamatan ini juga dapat disimpulkan bahwa semua probandus memiliki respon penglihatan yang normal karena rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk merespon tersebut berada pada rentang waktu yang normal (di bawah 3 menit). Percobaan ini menggunakan probandus laki-laki yang memiliki mata minus. Mata minus berarti penglihatan jarak jauh buruk, namun tidak dengan jarak yang dekat. Faktor-faktor yang mempengaruhi respon saraf mata adalah kesehatan organ-organ penyusun mata dan cara kerjanya. Sedangkan, faktor yang dari luar adalah faktor-faktor lingkungan seperti udara yang tidak sehat, seringnya mata terkena radiasi sinar matahari dan radikal bebas yang dapat membuat daya kerja dari organ mata menurun (Marrief, 2004).

Faktor-faktor yang mempengaruhi respon dari saraf pengelihatan adalah (IndoFamilyHealth, 2008): - intensitas : semakin sering kita melihat maka respon semakin cepat - eksensitas : penghayatan tebal-tipis, luas-sempit, besar-keci akan mempengaruhi persepsi dan respon - selang waktu / lama : semakin lama suatu impuls maka semakin cepat respon - kualitas : semakin kontras saru warna maka semakin cepat respon yang dihasilkan. Salah satu kelainan respon penglihatan adalah buta warna, dimana pada penderita reseptor warna pada retina berupa sel kerucut kurang berfungsi dengan baik. Proses membedakan warna dilakukan dengan bantuan sel pada mata yang sangat sensitif terhadap sinar yang berbentuk kerucut (cone cells). Letaknya pada lapisan khusus yang berada pada sel di belakang mata yang dikenal dengan retina. Sel kerucut terdiri dari tiga macam, yaitu sel untuk warna merah, biru terang, dan hijau. Warna akan terlihat apabila sel kerucut ini menangkap perbedaan di antara warna-warna yang tampak dari ketiga warna dasar di atas. Sel kerucut juga dapat dibagi dalam tiga sistem penglihatan, yaitu Trichromat, Dichromat dan Monochromat (IndoFamilyHealth, 2008). Jalur penyampaian impuls syaraf pada mata diawali dari retina menuju persilangan khiasma optikus dan traktus optikus hingga terjadi sinaf pada korpus genitakulatum lateral. Informasi dari pusat penglihatan diteruskan ke korteks otak bagian visual. Rangsang dari korteks primer visual akan dikirim menuju area bodman sebagai tempat sinafnya sebelum menuju ke area penyusunan kata, area pusat motorik dan tingkah laku (Watson, 2001). Pengenalan dan respon terhadap rangsangan kejadian lebih rumit dibandingkan dengan citra sederhana yang diproyeksikan pada retina atau syaraf-syaraf pengindraan yang lain. Faktor utama yang menghambat penerimaan rangsangan adalah berkaitan dengan tingkat kejadian. Aktivitas di otak terjadi terus-menerus, namun hal itu menjadi bervariasi ketika berada pada tingkat koma (pingsan), sadar hingga kondisi prima. Hal itu dapat menyebabkan adanya tegangan fisik dan mental. Faktor penghambat lain adalah rangsangan yang hilang terjadi pada situasi adanya sinyal yang kuat (Nakamura, 2004).

1.3 Knee Jerk 1.3.1 Analisa Prosedur Percobaan knee jerk menggunakan palu kecil untuk memukul lutut dari probandus, tujuannya untuk mengetahui reaksi yang terjadi pada probandus ketika palu tersebut dipukulkan pada lutut probandus secara tiba-tiba. Sebelum mulai mengetuk, probandus dialihkan perhatiannya. Hal itu bertujuan supaya probandus tidak terkonsentrasi pada lututnya sehingga refleks probandus dapat diketahui. Probandus duduk dengan kaki menggantung supaya ketika terjadi gerak refleks, kaki tidak akan tertahan. Respon yang diberikan oleh probandus setelah dipukul dengan palu pada lututnya secara tiba-tiba dicatat sebagai data percobaan. Digunakan probandus gemuk dan kurus untuk masingmasing jenis kelamin yang berfungsi sebagai pembanding antara masing-masing variabel. 1.3.2 Analisa Hasil Berdasarkan hasil pengamatan, didapatkan hasil sebagai berikut : Tabel 3. Data Hasil Pengamatan pada Uji Knee Jerk Probandus Knee Jerk Gemuk Kurus Gemuk Kurus + + + +

Berdasarkan data hasil pengamatan yang diperoleh, diketahui bahwa semua probandus baik itu laki-laki maupun perempuan, kurus maupun gemuk memiliki respon yang sama terhadap knee jerk. Dari hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa semua probandus normal dan variable jenis kelamin ataupun gemuk - kurus seseorang tidak berpengaruh terhadap respon saraf tak sadar atau refleks. Refleks knee jerk adalah gerakan maju mundur secara tiba-tiba saat lutut dipukul ketika duduk (MedicineNet, 2000). Gerak refleks ini menunjukkan adanya hubungan yang cepat antara saraf pada lutut dengan spinal cord. Tendon pada lutut berhubungan dengan otot pada bagian paha, sehingga ketika palu dipukulkan maka tendon

pada lutut akan menarik otot. Saraf sensorik pada otot akan terstimulasi oleh tarikan tersebut dan mengirim impuls ke spinal cord. Saraf motorik pada spinal cord akan mengirim kembali impuls ke otot paah dan menyebabkan kontraksi otot yang membuat gerakan menendang (Breau, 2007).

Gambar 4. Gerak Refleks Knee Jerk (MedicineNet, 2000) Berikut ini merupakan standar nilai yang digunakan untuk mengetahui standar refleks knee jerk (MedicineNet, 2000) : Nol : absen 1 + : hypoactive (underactive) 2 + : "normal" 3 + : hyperactive (terlalu) tanpa clonus (ekstra jerks) 4 + : hyperactive dengan unsustained clonus (hanya 1 atau 2 ekstra jerks) 5 + : hyperactive berkelanjutan dengan clonus Gerak pada umumnya terjadi secara sadar, namun ada pula gerak yang terjadi tanpa disadari yaitu gerak refleks. Impuls pada gerakan sadar melalui jalan panjang, yaitu dari reseptor, ke saraf sensori, dibawa ke otak untuk selanjutnya diolah oleh otak, kemudian hasil olahan oleh otak, berupa tanggapan, dibawa oleh saraf motor sebagai perintah yang harus dilaksanakan oleh efektor (Mapok, 2007). Gerak refleks berjalan sangat cepat dan tanggapan terjadi secara otomatis terhadap rangsangan, tanpa memerlukan kontrol dari otak. Jadi dapat dikatakan gerakan terjadi tanpa dipengaruhi kehendak atau tanpa disadari terlebih dahulu. Contoh gerak refleks misalnya berkedip, bersin, atau batuk. Pada gerak refleks, impuls

melalui jalan pendek atau jalan pintas, yaitu dimulai dari reseptor penerima rangsang, kemudian diteruskan oleh saraf sensori ke pusat saraf, diterima oleh set saraf penghubung (asosiasi) tanpa diolah di dalam otak langsung dikirim tanggapan ke saraf motor untuk disampaikan ke efektor, yaitu otot atau kelenjar. Jalan pintas ini disebut lengkung refleks. Gerak refleks dapat dibedakan atas refleks otak bila saraf penghubung (asosiasi) berada di dalam otak, misalnya, gerak mengedip atau mempersempit pupil bila ada sinar dan refleks sumsum tulang belakang bila set saraf penghubung berada di dalam sumsum tulang belakang misalnya refleks pada lutut (Kucera dkk., 2008). Gerak sadar diatur dan dikendalikan oleh gerak motorik. Gerak sadar dilaksanakan oleh otak sadar yang berpusat pada korteks otak. Rangsang yang diterima oleh reseptor diteruskan menuju syaraf sensorik. Impuls yang diterima syaraf sensorik berakhir di otak untuk penyampaian informasi. Informasi kemudian diteruskan ke neuron motorik hingga ke efektor (Masud, 2000). Gerak refleks adalah gerakan spontan yang tidak melibatkan kerja otak. Gerak ini dilakukan tanpa kesadaran. Mekanisme gerak refleks berlangsung secara spontan dibawah control medulla spinalis. Rangsang yang diterima oleh reseptor diteruskan oleh neuron sensorik melalui konektor menuju ke neuron motorik. Impuls dari neuron motorik langsung menuju efektor diluar kontrol otak (Masud, 2000).

BAB II PENUTUP 2.1 Kesimpulan Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, dapat disimpulkan bahwa semakin jauh jarak titik sentuh maka semakin berkurang pula persepsi sentuh dari kulit. Hal ini dikarenakan impuls saraf yang diterima dua titik yang berdekatan akan lebih kuat daripada dua titik yang berjauhan. Jenis kelamin dan gemuk-kurus probandus tidak berpengaruh pada pengamatan ini. Reaction test berguna untuk menguji kecepatan respon penglihatan terhadap warna. Pada pengamatan yang dilakukan semua probandus termasuk kategori normal untuk respon tersebut. Jenis kelamin dan penggunaan kacamata juga tidak berpengaruh terhadap hasil uji ini. Refleks Knee Jerk merupakan refleks menendang karena adanya impuls pada tendon ketika lutut dipukul dengan palu. Pada pengamatan ini diketahui bahwa semua probandus normal karena semua mengalami refleks ini ketika lutut dipukul palu. 2.2 Saran Sebaiknya praktikum dilaksanakan tepat waktu sehingga waktu yang digunakan lebih efisien.

DAFTAR PUSTAKA

Breau, A. 2007. Knee jerk http://amos.indiana.edu/library/scripts/kneejerk.html. Diakses pada tanggal 14 April 2010 Bullock, J. 2001. Physiology 4th Edition. Lippincott Williams and Wilkins. USA Campbell N.A., Jane E., dan Lawrence G. 2005. Biologi, Edisi kelima Jilid III. Penerbit Erlangga. Jakarta Forumsains.2007.Sensitive.http://www.forumsains.com/index.php? page=32. Diakses pada tanggal 14 April 2010 IndoFamilyHealth. 2008. Buta Warna Tanda Kelainan Sistem Mata. http://www.indofamilyhealth.com/buta-warna-tanda-kelainansistem-mata.html. Diakses pada tanggal 14 April 2010 Kucera P., Goldenberg Z., Kurca E. 2008. Sympathethic skin response : review of the method and its clinical use. Bratisl Lek Listy; 105 (3): 108-116. Mapok.2007.macam gerak.http://www.edukasi.net/mapok/mp_full.php? id=376&fname=materi05.html,macam gerak. Diakses pada tanggal 14 April 2010 Marrief, E.N.2004.Human Anatomy and Physiology 6th Edition. Pearson Education Inc.San Fransisco Masud I. 2000. Sinopsis Faal Sistem. UM press. Malang MedicineNet. 2000. Knee Jerk Definition. http://www.medterms.com/script/main/art.asp? articlekey=4116. Diakses pada tanggal 14 April 2010 Nakamura. 2004. Change in Visual Function. Japanese Journal of Clinical Ophthamology. edisi 58 hal: 1051-1054 Neuroscience . 2008 . Our Sense of Touch. http://www.neuroscience.edu/sense/asmith/touch.html . Diakses pada tanggal 14 April 2010 Pearce E. 1991. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Gramedia. Jakarta Watson R. 2001. Anatomi Fisiologi untuk Perawat. Penerbit buku kedokteran EGC. Jakarta

Gambar 2.1 Tahapan-tahapan dalam Pembelahan Sel (Stanfield, 2006)

Gambar 2.2 macam-macam bentuk kromosom (Stanfield, 2006)