Anda di halaman 1dari 28

Lab.

Ketrampilan Medik PPD Unsoed

MODUL SKILL LAB BLOK DERMATO - MUSKULOSKELETAL Kode : KUB 233 Kredit : 8 SKS Semester : III

TIM BLOK DERMATO-MUSKULOSKELETAL

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN JURUSAN KEDOKTERAN FKIK PURWOKERTO 2012

Dermato Musculo Sceletal System

Lab. Ketrampilan Medik PPD Unsoed

DAFTAR ISI Hecting Pembalutan dan pembidaian Motorik

Dermato Musculo Sceletal System

Lab. Ketrampilan Medik PPD Unsoed

HECTING
LEARNING OUTCOME Mahasiswa mampu ketrampilan jahit luka: menentukan jenis luka memberikan penjelasan dan meminta persetujuan tindakan medik melakukan cuci tangan secara foerbringer melakukan tindakan aseptik anti septik melakukan anestesi lokal melakukan debridemen luka melakukan jahit luka/ suture interuptus melakukan jahit luka/ suture jelujur melakukan jahit luka/ suture jelujur terkunci melakukan jahit luka/ suture matras horisontal melakukan jahit luka/ suture matras vertikal melakukan dressing TINJAUAN PUSTAKA Luka Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh (diskontinuitas jaringan). Keadaan ini dapat disebabkan oleh trauma benda tajam atau tumpul, perubahan suhu, zat kimia, ledakan, sengatan listrik atau gigitan hewan. Proses yang kemudian terjadi pada jaringan yang rusak ini ialah penyembuhan luka yang dapat dibagi dalam tiga fase, yaitu fase inflamasi, poliferasi dan penyudahan yang merupakan perupaan kembali (remodelling) jaringan. Klasifikasi penyembuhan luka: Penyembuhan luka kulit tanpa pertolongan dari luar, berjalan secara alami. Luka akan terisi jaringan granulasi dan kemudian ditutup jaringan epitel. Penyembuhan ini disebut penyembuhan sekunder (sanatio per secundam) cara ini biasanya makan waktu cukup lama dan meninggalkan parut yang kurang baik, terutama kalau lukanya menganga lebar. Jenis penyembuhan yang lain adalah penyembuhan primer ( sanatio per primam) yang terjadi bila luka segera diusahakan bertaut, biasanya dengan bantuan jahitan. Parut yang terjadi biasanya lebih halus dan kecil. Namun penjahitan luka tidak dapat langsung dilakukan pada luka yang terkontaminasi berat dan/ atau tidak berbatas tegas. Luka yang compang-camping seperti luka tembak sering meninggalkan jaringan yhang tidak dapat hidup yang pada pemeriksaan pertama sukar dikenali. Keadaan ini diperkirakan akan menyebabkan infeksi bila luka langsung dijahit. Luka yang demikian sebaikmya dibersihkan dan dieksisi (debridemen) dahulu dan kemudiam dibiarkan selama 4-7 hari. Baru selanjutnya dijahit dan akan sembuh secara primer. Cara ini umumnya disebut penyembuhan primer tertunda. Terjadinya infeksi pada luka pascaeksisi umumnya terjadi karena eksisi luka tidak cukup luas dan teliti. Jika setelah debridemen luka langsung dijahit, dapat diharapkan terjadi penyembuhan primer. Pada manusia, penyembuhan luka dengan cara reorganisasi dan regenerasi hanya terjadi pada epidermis, hati, dan tulang yang dapat menyembuh alami tanpa meninggalkan bekas. Organ lain, termasuk kulit mengalami penyembuhan secara epimorfis, artinya jaringan yang rusak diganti oleh jaringan ikat yang tidak sama dengan jaringan semula. Fase penyembuhan luka Fase Proses Gejala dan tanda I Inflamasi Reaksi radang Dolor, rubor, kalor, tumor, gangguan fungsi II Proliferasi Regenerasi/ Jaringan granulasi/ kalus fibroplasia tulang menutup: epitel/endotel/ mesotel II Penyudahan Pematangan dan Jaringan parut/ fibrosis I perupaan kembali Gangguan penyembuhan luka Penyembuhan luka dapat terganggu oleh penyebab dari dalam tubuh (endogen) atau oleh penyebab dari luar tubuh (eksogen). Penyebab endogen terpenting adalah gangguan koagulasi yang disebut koagulopati dan gangguan sistem imun. Semua gangguan pembekuan darah akan menghambat penyembuhan luka sebab hemostasis merupakan titik tolak dan dasar fase inflamasi. Gangguan sistem imun akan menghambat dan mengubah reaksi tubuh terhadap luka, kematian jaringan, kontaminasi. Bila sistem daya tahan tubuh, baik humoral maupun selular tenganggu, pembersihan kontaminan dan jaringan mati serta penanahan infeksi tidak berjalan baik. melakukan

Dermato Musculo Sceletal System

Lab. Ketrampilan Medik PPD Unsoed

Gangguan sistem imun dapat terjadi terjadi pada infeksi virus, terutama HIV, keganasan tahap lanjut, penyakit menahun berat seperti tuberkulosis, hipoksia setempat seperti ditemukan pada arteriosklerosis, diabetes melitus, morbus Raynoud, morbus Burger, kelainan pendarahan (hemangioma, fistel arteriovena), atau fibrosis. Sistem imun juga dipengaruhi oleh gizi kurang akibat kelaparan, malabsorbsi, juga oleh kekurangan asam amino esensial, mineral maupun vitamin, serta oleh gangguan dalam metabolisme makanan, misalnya pada penyakit hati. Selain itu fungsi sistem imun ditekan oleh keadaan umum yang kurang baik, seperti pada usia lanjut dan penyakit tertentu, misalnya penyakit Cushing dan penyakit Addison. Penyebab eksogen meliputi penyinaran sinar ionisasi yang akan mengganggu mitosis dan merusak sel dengan akibat dini maupun lanjut. Pemberian sitostatik, obat penekan reaksi imun, misalnya setelah transplantasi organ, kortikosteroid juga akan mempengaruhi penyembuhan luka. Pengaruh setempat seperti infeksi, hematom, benda asing, serta jaringan mati sangat menghambat penyembuhan luka. Diagnosis Pertama-tama dilakukan pemeriksaan secara teliti untuk memastikan apakah ada perdarahan yang harus dihentikan. Kemudian, tentukan jenis trauma, tajam atau tumpul, luasnya kematian jaringan, banyaknya kontaminasi dan berat ringannya luka. Tindakan Pertama dilakukan anestesia setempat atau umum, tergantung berat dan letak luka, serta keadaan penderita. Luka dan sekitarnya dibersihkan dengan antiseptik, kalau perlu dicuci dengan air sebelumnya. Kemudian daerah sekitar lapangan kerja ditutup dengan kain steril dan secara steril dilakukan kembali pembesihan luka dari kontaminan secara mekanis, misalnya pembuangan jaringan mati dengan gunting atau pisau dan dibersihkan dengan bilasan, guyuran atau semprotan cairan NACl. Akhirnya lakukan penjahitan denga rapi. Bila diperkirakan akan terbentuk atau dikeluarkan cairan yang berlebihan perlu dibuat penyaliran. Luka ditutup dengan bahan yang dapat mencegah lengketnya kasa, misalnya mengandung vaselin, ditambah dengan kasa penyerap, dan dilanjut dengan pembalut elastis. Penyulit 1. Penyulit dini Hematom harus dicegah dengan mengerjakan hemostasis secara teliti. Hematom yang mengganggu atau terlalu besar sebaiknya dibuka dan dikeluarkan. Seroma adalah penumpukan cairan luka dilapangan bedah. Jika seroma mengganggu atau terlalu besar dapat dilakukan pungsi. Jika seroma kambuh sebaiknya dibuka dan dipasang penyalir. Infeksi luka terjadi jika luka yang terkontaminasi dijahit tanpa pembilasan dan eksisi yang memadai. Pada keadaan demikian luka harus dibuka kembali, dibiarkan terbuka dan penderita diberi antibiotik sesuai dengan hasil biakan dari cairan luka atau nanah. 2. Penyulit lanjut Keloid dan jaringan parut hipertropik timbul karena reaksi serat kolagen yang berlebihan dalam proses penyembuhan luka. Serat kolagen disini teranyam teratur. Keloid yang tumbuh berlebihan melampaui batas luka, sebelumnya menimbulkan gatal dan cenderung kambuh bila dilakukan intervensi bedah. Persetujuan tindakan medik Penghormatan terhadap hak asasi manusia dalam bidang kedokteran atau patient rights, sebagai salah satu kewajiban etik yang harus dipatuhi oleh setiap warga profesi kedokteran. Selanjutnya persetujuan tindakan medik berkembang menjadi kewajiban administrasi dan hukum. Persetujuan tindakan medik adalah adanya persetujuan dari pasien terhadap tindakan medik yang akan dilakukan terhadap dirinya. Persetujuan diberikan setelah pasien memperoleh penjelasan yang lengkap dan obyektif tentang diagnosis penyakit, upaya penyembuhan, tujuan dan pilihan tindakan yang akan dilakukan. Dalam tindakan medis penjahitan luka penderita memperoleh penjelasan kondisi luka, kemungkinan penyembuhan secara primer dan sekunder, cacat yang mungkin timbul, keuntungan dan kerugian jahit luka, anestesi lokal. Anestesia 1. Anestesia infiltrasi Anestesia infiltrasi dilakukan dengan menyuntikkan anestetik lokal langsung ke jaringan tanpa mempertimbangkan persarafannya. Anestetik berdifusi dn khasiatnya dicapai melalui penghambatan ujung saraf perasa di jaringan subkutan. Jika penyuntikan anestetik menimbulkan nyeri, berarti tehnik penyuntikan tidak memenuhi syarat. Infiltrasi dimulai dengan penyuntikan kecil intrakutan yang memang menimbulkan sedikit nyeri. Tempat penyuntikan intrakutan digunakan sebagai pintu masuk selanjutnya untuk anestetik. Penyuntikannya harus dilakukan secara teliti, sedikit demi sedikit supaya tidak menyebabkan nyeri. 2. Anestesi lapangan Merupakan penyuntikan anestetik subkutan sedemikian rupa sehingga terjadi anestesia di distal penyuntikan.

Dermato Musculo Sceletal System

Lab. Ketrampilan Medik PPD Unsoed

Peringatan yang berhubungan dengan anestetik lokal Tanyakan dalam anamnesis apakah penderita pernah menerima suntikan anestetik lokal Jangan tinggalkan penderita setelah dilakukan anestetik lokal Sewaktu penyuntikan anestetik lokal , sebaiknya penderita dibaringkan Perhatikan tindak asepsis Ingat kontraindikasi penggunaan vasokonstriktor Pakai vasokonstriktor bila ada kemungkinan penyerapan cepat Pakai vasokonstriktor bila diperlukan anestesia untuk waktu lama Pakai persentase obat anestesia serendah mungkin Berikan dosis yang memadai Berikan pada tempat yang tepat Cegah iskemia kompresi Hindari penyuntikan intravaskuler Sediaan lidokain Mula kerja Anestetik Lidokain Lidokain+adrenali n % 2% 2% Dosis maksimal (ml) 10 25 lamakerja

5 menit 5 menit

70 menit

Penjahitan luka Ada tiga hal yang menentukan pemilihan jenis benang jahit, yaitu jenis bahannya, kemampuan tubuh untuk menyerapnya dan susunan filamennya. Benang yang dapat diserap melalui reaksi enzimatik pada cairan tubuh kini banyak dipakai Penyerapan benang oleh jaringan dapat berlangsung antara tiga hari sampai tiga bulan bergantung pada jenis benang dan kondisi jaringan yang dijahit. Menurut bahan asalnya, benang dibagi dalam benang yang terbuat dari usus domba (catgut) dan dibedakan dalam catgut murni yang tanpa campuran dan catgut kromik yang bahannya bercampur larutan asam kromat. Catgut murni cepat diserap, kira-kira dalam waktu satu minggu, sedangkan catgut cromik diserap lebih lama, kira-kira 2-3 minggu. Disamping itu, ada benang yang terbuat dari bahan sintetik, baik dari asam poliglikolik maupun dari poliglaktin dan memiliki daya tegang yang besar. Benang ini dapat dipakai pada semua jaringan termasuk kulit. Benang yang dapat diserap menimbulkan reaksi jaringan setempat yang dapat menyebabkan fistel benang atau infiltrat jaringan yang mungkin ditandai indurasi. Benang yang tidak dapat diserap oleh tubuh umumnya tidak menimbulkan reaksi jaringan karena bukan merupakan bahan biologik. Benang ini dapat berasal dari sutra yang sangat kuat dan liat, dari kapas yang kurang kuat dan mudah terurai, dan dari poliester yang merupakan bahan sintetik yang kuat dan biasanya dilapisi teflon.selain itu terdapat pula benang nilon yang berdaya tegang besar, yang dibuat dari polipropilen, dan baja yang terbuat dari baja tahan karat. Karena tidak dapat diserap maka benang akan tetap berada di jaringan tubuh. Benang jenis ini biasanya dipakai pada jaringan yang sukar sembuh. Bila terjadi infeksi akan terbentuk fistel yang baru dapat sembuh setelah benang yang bersifat benda asing, dikeluarkan. Benang alami terbuat dari bahan sutra atau kapas. Kedua bahan alami ini dapat bereaksi dengan jaringan tubuh meskipun minimal karena mengandung juga bahan kimia alami. Daya tegangnya cukup dan dapat diperkuat bila dibasahi terlebih dahulu dengan larutan garam sebelum digunakan.

Dermato Musculo Sceletal System

Lab. Ketrampilan Medik PPD Unsoed

Benang sintetik terbuat dari poliester, nilon, atau polipropilen yang umumnya dilapisi oleh bahan pelapis teflon atau dakron. Dengan lapisan ini permukaannya lebih mulus sehingga tidak mudah bergulung atau terurai. Benang ini mempunyai daya tegang yang besar dan dipakai untuk jaringan yang memerlukan kekuatan penyatuan yang besar. Menurut bentuk untaian seratnya, benang dapat berupa monofilamen bila hanya terdiri atas satu serat saja dan polifilamen bila terdiri atas banyak serat yang diuntai menjadi satu. Ukuran benang merupakan salah satu faktor yang menentukan kekuatan jahitan. Oleh karena itu, pemilihan ukuran benang untuk menjahit luka bedah bergantung pada jaringan apa yang dijahit dan dengan mempertimbangkan faktor kosmetik. Sedangkan kekuatan jaringan ini ditentukan oleh jumlah jahitan yang dibuat, jarak jahitan, dan jenis benangnya. Pada daerah wajah digunakan ukuran yang kecil (5,0 atau 6,0)

Ukuran dan jenis benang untuk berbagai jaringan Lokasi penjahitan Jenis benang Fasia Semua Otot Semua Kulit Tak terserap Lemak Terserap Hepar Kromik catgut Ginjal Semua catgut Pankreas Sutera, kapas Usus halus Catgut, sutera, kapas Usus besar Kromik catgut Tendo Tak terserap Kapsul sendi Tak terserap Peritoneum Kromik catgut Bedah mikro Tak terserap Tabel SUTURE SELECTION CHARACTERISTICS AND FREQUENT USES

Ukuran 2.0-1 3.0-0 2.0-6.0 2.0-3.0 2.0-0 4.0 3.0 2.0-3-0 4.0-0 5.0-30 3.0-20 3.0-20 7.0-11-0

SUTURE * Vicryl, Dexon PDS or Maxon Prolene Nylon Silk Chromic Gut Stainless Steel Wound Clips, Staples

Absorbable; 60-90 days. Ligate or suture tissues where an absorbable suture is desirable. Absorbable; 6 months. Ligate or suture tissues especially where an absorbable suture and extended wound support is desirable Nonabsorbable, Inert. Nonabsorbable. Inert. General closure. Nonabsorbable. (Caution: Tissue reactive and may wick microorganisms into the wound). Excellent handling. Preferred for cardiovascular procedures. Absorbable. Versatile material. Nonabsorbable. Requires instrument for skin removal.

The use of common brand names as examples does not indicate a product endorsement. Suture gauge selection: Use
the smallest gauge suture material that will perform adequatel

Dermato Musculo Sceletal System

Lab. Ketrampilan Medik PPD Unsoed

Jarum jahit bedah Jarum jahit bedah, yang lurus maupun yang lengkung, berbeda-beda bentuknya. Perbedaan bentuk ini pada penampang batang jarum yang bulat atau bersegi tajam, dan bermata atau tidak bermata. Panjang jarum pun beragam dari 260 mm. Masing-masing berbeda kegunaannya, berbeda cara mempersiapkan dan memasang benangnya. kelengkungan jarum berbeda untuk kedalaman jaringan yang berbeda, sedangkan penampang batang jarum dipilih berdasarkan lunak kerasnya jaringan. Jarum yang sangat lengkung untuk luka yang dalam dan penampang yang bulat untuk jaringan lunak dan yang bersegi untuk kulit. Jarum yang bermata akan membuat lubang tusukan lebih besar, sedangkan jarum yang tidak bermata yang disebut atraumatik akan membuat lubang yang lebih halus. Jenis jahitan Jenis jahitan yang umum dipakai adalah: o Jahitan tunggal/ terputus/ interuptus o Jahitan jelujur/ kontinyu o Jahitan jelujur/ kontinyu terkunci o Jahitan matras vertikal o Jahitan matras horisontal. Perawatan luka bedah: Biasanya luka bedah yang selesai dijahit ditutup dengan alasan untuk melindungi dari infeksi, di samping agar cairan luka yang keluar terserap, luka tidak kekeringan, dan luka tidak tergaruk oleh penderita. Selain itu, perdarahan dihentikan dengan memberi sedikit tekanan pada luka. Jenis penutup luka dapat berupa kasa yang diolesi vaselin atau salep antibiotik, atau kasa kering. Sebenarnya luka operasi yang kering yang ditutup primer lebih baik dibiarkan terbuka, tetapi umumnya secara psikologis kurang berkenan bagi penderita maupun keluarganya. Penutup luka yang sudah basah oleh darah atau cairan luka harus diganti. Penggantiannya harus dilakukan dengan tehnik aseptik. pada kesempatan mengganti balutan ini, sekaligus dicari kemungkinan asal perdarahan atau kebocoran cairan luka tersebut. Kemudian sumber kebocoran harus ditangani, misalnya dengan tindakan hemostasis. Bila tidak dipasang penyalir pada luka bedah, penutup luka dapat dibiarkan sampai 48 jam pasca bedah agar tujuan penutupan luka dapat dicapai. Luka bedah perlu diawasi pada masa pascabedah. Luka tidak perlu dilihat setiap hari dengan membuka penutup luka, kecuali jika ada gejala atau tanda gangguan penyembuhan luka atau radang. Bila luka sudah kuat dan sembuh primer, jahitan atau benangnya dapat diangkat. Saat pengambilan benang tergantung pada kondisi luka waktu diperiksa. Umumnya luka didaerah wajah memerlukan waktu 3-4 hari, di daerah lain 7-10 hari. Salah satu faktor penting dalam menentukan saat pencabutan jahitan adalah tegangan pada tepi luka bedah. Tepi luka yang searah dengan garis lipatan kulit tidak akan tegang, sementara luka yang arahnya tegak lurus terhadap garis kulit atau yang dijahit setelah banyak bagian kulit diambil, akan menyebabkan ketegangan tepi luka yang besar. Dalam hal ini pengambilan jahitan harus ditunda lebih lama sampai dicapai kekuatan jaringan yang cukup sehingga bekas jahitan tidak mudah terbuka lagi. Saat pengangkatan jahitan Daerah jahitan Saat pengangkatan (hari ke-) Wajah (termasuk kelopak 4 mata dan lidah) 5 Skrotum 6-7 Kulit kepala 7 Tangan dan jari Dinding perut 7-9 9-11 Sayatan lintang 11-12 Sayatan vertikal Pinggang dan bahu

Dermato Musculo Sceletal System

Lab. Ketrampilan Medik PPD Unsoed

ALAT DAN BAHAN:


Bahan: NaCl fisiologis Povidon Iodine 10% Perhidrol 3% Lidocain 2% Klorin 0,5% Kasa steril Plester Spuit 3cc Benang side no 3.0 Benang catgut no. 3.0

Alat: Minor set steril, terdiri: Jenis alat wadah dari logam needle holder/ pemegang jarum jarum dengan ujung segi tiga jarum dengan ujung bulat Pinset anatomi Pinset chirrurgis Gunting Benang Gunting jaringan Klem arteria berujung lurus/ bengkok Kain steril 1 1 1 1 1 1 1 1 3 1 Jumlah Buah Buah Buah Buah Buah buah buah buah buah buah

PROSEDUR TINDAKAN/ PELAKSANAAN 1. Menentukan jenis luka menilai bentuk luka : teratur/tidak menilai tepi luka : teratur/tidak, jembatan jaringan menilai luas luka : panjang dan lebar dalam cm menilai kedalaman luka : dalam cm 2. Memberikan penjelasan dan meminta persetujuan tindakan medik: a. menjelaskan kondisi luka b. menjelaskan prosedure tindakan c. menjelaskan tujuan tindakan,keuntungan dan kerugian d. meminta persetujuan tindakan 3. Menyiapkan peralatan yang diperlukan dalam keadaan steril 4. Menentukan jenis benang dan jarum yang diperlukan 5. Memilih antiseptik, desinfektan yang diperlukan 6. Melakukan cuci tangan secara foerbringer 7. Memakai sarung tangan steril 8. Melakukan tindakan aseptik anti septik dimulai dari tengah ke tepi secara sentrifugal menggunakan kasa dan povidon iodine 3. Melakukan anestesi lokal (secara infiltrasi atau lapangan) cara: menusukkan jarum sub kutan menyusuri tepi luka sampai seluruh luka teranestesi dengan baik. Lakukan aspirasi untuk memastikan bahwa ujung jarum tidak masuk pembuluh darah (terlihat cairan darah dalam spuit). infiltrasikan lidokain bersamaan waktu menarik mundur jarum 2-4 cc (tergantung luas luka) 10. Melakukan debridemen luka cara : Setelah luka teranestesi dengan baik, desinfeksi luka menggunakan perhidrol 3%, agar kotoran yang menempel terangkat. Untuk mengangkat tanah/ pasir yang melekat dapat menggunakan kasa atau sikat halus. Lanjutkan dengan irigasi menggunakan NaCl fisiologis sampai semua kotoran terangkat. 11. Pasang kain steril.

Dermato Musculo Sceletal System

Lab. Ketrampilan Medik PPD Unsoed

12. Lakukan eksplorasi luka untuk mencari perdarahan aktif, jaringan-jaringan mati/ rusak. Perdarahan dari vena cukup dihentikan dengan penekanan menggunakan kasa steril beberapa detik. Perdarahan arterial dihentikan dengan jahitan ligasi. Jaringan mati/ rusak dibuang menggunakan gunting jaringan. Lakukan aproksimasi tepi luka. Buang tepi luka yang mati, tidak teratur. Passing the needle through the vessel before securing the tie around the vessel. Place a second free tie below the suture ligature.

13. Desinfeksi menggunakan povidon Iodine 14. Menjahit luka a. Gunakan needle holder untuk memegang jarum. Jepit jarum pada ujung pemegang jarum pada pertengahan atau sepertiga ekor jarum. Jika penjepitan kurang dari setengah jarum, akan sulit dalam menjahit. Pegang needle holder dengan jari-jari sedemikian sehingga pergelangan tangan dapat melakukan gerakan rotasi dengan bebas. b. masukkan ujung jarum pada kulit dengan jarak dari tepi luka sekitar 1cm, membentuk sudut 90 c. dorong jarum mengikuti kelengkungan jarum. d. Jahit luka lapis-demi lapis dari yang terdalam. Aproksimasi tepi luka harus baik. e. Penjahitan luka bagian dalam menggunakan benang yang dapat di serap atau monofilament. f. Jarak tiap jahitan sekitar 1cm. Jahitan yang terlalu jarang luka kurang menutup dengan baik. Bila terlalu rapat meningkatkan trauma jaringan dan reaksi inflamasi.

melakukan jahit luka/ suture interuptus

melakukan jahit luka/ suture jelujur

melakukan jahit luka/ suture jelujur terkunci

Dermato Musculo Sceletal System

Lab. Ketrampilan Medik PPD Unsoed

melakukan jahit luka/ suture matras vertikal

melakukan jahit luka/ suture matras horisontal

15. Melakukan dressing Setelah penjahitan selesai, lakukan eksplorasi. Jahitan yang terlalu ketat/ kendor diganti. Desinfeksi luka dengan povidone iodine. Tutup dengan kasa steril beberapa lapis untuk menyerap discharge yang mungkin terbentuk. Dan diplester 16. Melakukan dekontaminasi: Untuk menghindari penularan penyakit yang menular lewat serum/ cairan tubuh. Alat-alat direndam dalam larutan klorin 0,5% selama 10 menit. 17. Memberikan edukasi perawatan luka Berikan edukasi tentang makanan, cara merawat luka, mengganti kasa. Waktu kontrol. 18. Menentukan prognosis penyembuhan Menjelaskan lama penyembuhan, waktu pengangkatan jahitan, hasil jahitan, penyulit-penyulit yang mempengaruhi penyembuhan luka.

DAFTAR PUSTAKA 1. Ahmadsyah Ibrahim. Ed: Luka, dalam: Syamsuhidajat R, Wim de Jong, ed. Buku Ajar Ilmu Bedah. Ed 2. Jakarta: EGC. 2004: 66-88 2. Saefudin abdul Bari, Adriaansz george, Wiknjosastro Gulardi Hanifa, Waspodo Djoko, ed. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Ed. 1. Jakarta: JNPKKR-POGI. 2000: 45-54 3. Wijdjoseno-Gardjito. Ed: Anestesia, dalam: Syamsuhidajat R, Wim de Jong, ed. Buku Ajar Ilmu Bedah. Ed 2. Jakarta: EGC. 2004: 239-264 4. Wijdjoseno-Gardjito. Ed: Pembedahan, dalam: Syamsuhidajat R, Wim de Jong, ed. Buku Ajar Ilmu Bedah. Ed 2. Jakarta: EGC. 2004: 265-288 5. Karnadihardja Warko. Ed: Penyulit pascabedah, dalam: Syamsuhidajat R, Wim de Jong, ed. Buku Ajar Ilmu Bedah. Ed 2. Jakarta: EGC. 2004: 293-303 6. Surgical Care at the District Hospital.htm 7. ResidentNet-Wound Closure-clinical update.htm

Dermato Musculo Sceletal System

10

Lab. Ketrampilan Medik PPD Unsoed

PEMBALUTAN DAN PEMBIDAIAN Tujuan Pembelajaran

1. Mahasiswa dapat melakukan pembalutan luka. 2. Mahasiswa dapat melakukan fiksasi/ imobilisasi pada cidera skeletal. TINJAUAN PUSTAKA Membalut merupakan salah satu keterampilan yang harus dikuasai dengan baik oleh dokter dan pemberi pelayanan kesehatan lainnya. Istilah pembalut merujuk pada aplikasi secara luas maupun secara sempit pembalutan untuk tujuan terapeutik. Apapun alasannya, perlu diingat bahwa jika tidak diterapkan dengan benar, membalut dapat lebih cepat dan mudah menyebabkan injury. Tekanan pembalutan harus tidak melebihi tekanan hidrostatik intravaskuler, jika membalut bertujuan untuk mengurangi pembentukan oedema tanpa meningkatkan tahanan vaskuler yang dapat merusak aliran darah. Tujuan: Macam: Menahan bagian tubuh supaya tidak bergeser dari tempatnya Menahan pembengkakan yang dapat terjadi pada luka Menyokong bagian tubuh yang cedera dan mencegah agar bagian itu tidak bergeser Menutup bagian tubuh agar tidak terkontaminasi Melindungi atau mempertahankan dressing lain pada tempatnya

Mitella adalah pembalut berbentuk segitiga Dasi adalah mitella yang berlipat-lipat sehingga berbentuk seperti dasi Pita adalah pembalut gulung Plester adalah pembalut berperekat Pembalut yang spesifik Kassa steril

Mitella: Bahan pembalut terbuat dari kain yang berbentuk segitiga sama kaki dengan berbagai ukuran. Pnjang kaki antara 50-100cm Pembalut ini dipergunakan pada bagian kaki yang tebentuk bulat atau untuk menggantung bagian anggota badan yang cedera Pembalut ini biasa dipakai pada cedera di kepala, bahu, dada, siku, telapak tangan, pinggul, telapak kaki, dan untuk menggantung lengan. Dasi: Pembalut ini adalah mitella yang dilipat-lipat dari salah satu sisi segitiga agar beberapa lapis dan berbentukseperti pita dengan kedua ujung-ujungnya lancip dan lebamya antara 5-10cm. Pembalut ini biasa dipergunakan untuk membalut mata, dahi (atau bagian kepala yang lain), rahang, ketiak, lengan, siku, paha, lutut, betis dan kaki terkilir.

Pita ( Gulung ): Pembalut ini dapat dibuat dari kain katun, kain kassa, flanel atau bahan elastis. Yang paling sering adalah dari kassa, hal ini karena kassa mudah menyerap air, darah dan tidak mudah bergeser ( Kendor). Macam-macam pembalut dan penggunaannya : Lebar 2,5 cm - Biasa untuk jari-jari Lebar 5cm - Biasa untuk leher dan pergelangan tangan Lebar 7,5 cm - Biasa untuk kepala, lengan atas, lengan bawah, betis dan kaki Lebar 10 cm - Biasa untuk paha dan sendi pinggul Lebar >10-15cm - Biasa untuk dada, perut, dan punggung Plester: Pembalut in untuk merekatkan penutup luka, untuk fiksasi pada sendi yang terkilir, untuk merekatkan pada kelainan patah tulang. Khusus untuk penutup luka, biasa dilengkapi dengan obat anti septik

Dermato Musculo Sceletal System

11

Lab. Ketrampilan Medik PPD Unsoed

Pembalut yang spesifik 1. Snelverband adalah pembalut pita yang sudah ditambah dengan kassa penutup luka dan steril, baru dibuka pada saat akan dipergunakan, sering dipakai pada luka-luka lebar yang terdapat pada badan. 2. Sufratulle adalah kassa steril yang telah direndam dengan obat pembunuh kuman. Biasa dipergunakan pada luka-luka kecil Kasa Steril Adalah kassa yang dipotong dengan berbagai ukuran untuk menutup luka kecil yang sudah diberi obatobatan ( antibiotik, antiplagestik). Setelah ditutup kassa itu kemudian baru dibalut. Prosedur pembalutan Perhatikan tempat atau letak yang akan dibalut dengan menjawab pertanyaan .1 a. Bagian dari tubuh yang mana ? b. Apakah ada luka terbuka atau tidak ? c. Bagaimana luas luka tersebut ? d. Apakah perlu membatasi gerak bagian tubuh tertentu atau tidak ? 2. Pilih jenis pembalut yang akan dipergunakan ! dapat salah satu atau kombinanasi 3. Sebelum dibalut jika luka terbuka periu diberi desinfektan atau dibalut den< pembalut yang mengandung desinfektan atau dislokasi periu direposisi 4. Tentukan posisi balutan dengan mempertimbangkan : Dapat membatasi pergeseran atau gerak bagian tubuh yang memang perlu difiksasi Sesedikit mungkin membatasi gerak bagian tubuh yang lain Usahakan posisi balutan yang paling nyaman untuk kegiatan pokok penderita Tidak mengganggu peredaran darah, misalnya pada balutan beriapis, lapis yang paling bawah letaknya disebelah distal Tidak mudah kendor atau lepas 1. Cara membalut dengan mitella a. Salah satu sisi mitella dilipat 3 - 4 cm sebanyak 1 - 3 kali b. Pertengahan sisi yang telah terlipat diletakkan diluar bagian yang akan dibalut, lalu ditarik secukupnya dan kedua ujung sisi itu diikatkan c. Salah satu ujung yang bebas lainnya ditarik dan dapat diikatkan pada ikatan b, atau diikatkan pada tempat lain maupun dapat dibiarkan bebas, hal ini tergantung pada tempat dan kepentingannya 2. Cara pembalutan dengan dasi a. Pembalut mitella dilipat-lipat dari salah satu sisi sehingga berbentuk pita dengan masing-masing ujung lancip b. Bebatkan pada tempat yangakan dibalut sampai kedua ujungnya dapat diikatkan c. Diusahakan agar balutan tidak mudah kendor dengan cara sebelum diikat arahnya saling menarik d. Kedua ujungnya diikatkan secukupnya 3 Cara membalut dengan pita a. Berdasar besar bagian tubuh yang akan dibalut maka dipilih pembalutan pita ukuran lebar yang sesuai b. Balutan pita biasanya beberapa lapis, dimulai dari salaah satu ujung yang diletakkan dari proksimal ke distal menutup sepanjang bagian tubuh , yang akan dibalut kemudian dari distal ke proksimal dibebatkan dengan. arah bebatan saling menyilang dan tumpang tindih antara bebatan yang satu dengan bebatan berikutnya c. Kemudian ujung yang dalam tadi (b) diikat dengan ujung yang lain secukupnya 4. Cara membalut dengan plester a. Jika ada luka terbuka luka diberi obat antiseptik tutup luka dengan kassa baru lekatkan pembalut plester b. Jika untuk fiksasi (misalnya pada patah tulang atau terkilir) - balutan plester dibuat "strapping" dengan membebat berlapis-lapis dari distal ke proksimal, dan untuk membatasi gerakkan tertentu perlu masing-masing ujungnya difiksasi dengan plester 5. Penggunaan pembalut yang steril Biasanya dijual dalam bahan yang steril dan baru dibuka pada saat akan digunakan

Dermato Musculo Sceletal System

12

Lab. Ketrampilan Medik PPD Unsoed

Pelaksanaan latihan Cara membalut dengan mitella (lihat gambar)

Dermato Musculo Sceletal System

13

Lab. Ketrampilan Medik PPD Unsoed

Dermato Musculo Sceletal System

14

Lab. Ketrampilan Medik PPD Unsoed

1. 2. 3. 4. 5.

Alat dan bahan

Elastik perban Kain mitella Plester Pembalut yang spesifik Kassa steril

IMMOBILISASI DAN TRANSPORTASI

Tujuan : Memberi kesempatan kepada peserta untuk bisa mempraktekkan dan mendemonstrasikan tehnik-tehnik reposisi. immobilisasi dan transportasi pada penderita yang mengalami trauma.

Setelah menyelesaikan ini peserta akan mampu : 1. Mengenal dan mengerti tujuan immobilisasi 2. Mengerti prinsip-prinsip pemasangan bidai 3. Mengerjakan cara meluruskan deformitas pada fraktur tulang panjang. 4. Mengerti cara-cara transportasi, yang meliputi tindakan sebelum dan selama serta masalah yang timbul sewaktu dilakukan transportasi.

TINJAUAN TEORI

Semua ekstremitas yang mengalami trauma harus diimobilisasi dengan bidai. Bidai yang kaku untuk menjaga dan melindungi ekstremitas yang cedera. Pada patah tulang terbuka atau luka lain, luka harus ditutup dulu dengan kassa, status vaskuler dan neurologis ekstremitas tersebut harus diperiksa sebelum dan sesudah imobilisasi. Tujuan immobilisasi : 1. Mengurangi nyeri 2. Mencegah gerakan fragmen tulang, sendi yang cedera dan jaringan lunak yang cedera (ujung fragmen tulang yang tajam dapat mencederai syaraf, pembuluh darah dan otot). 3. Mencegah fraktur tertutup menjadi terbuka 4. Memudahkan transportasi 5. Mencegah gangguan sirkulasi pada bagian distal yang cedera 6. Mencegah perdarahan akibat rusaknya pembuluh darah oleh fragmen tulang 7. Mencegah kelumpuhan pada cedera tulang belakang. PRINSIP PEMASANGAN BIDAI 1. Lepas pakaian yang menutupi anggota gerak yang dicurigai cedera, periksa adanya luka terbuka atau tanda-tanda patah dan distokasi

Dermato Musculo Sceletal System

15

Lab. Ketrampilan Medik PPD Unsoed

2. Periksa dan catat ada tidaknya gangguan vaskuler dan neurologis pada bagian distal yang mengalami cedera sebelum dan sesudah imobilisasi. 3. Tutup luka terbuka dengan kasasteril 4. Imobilisasi pada bagian proximal dan distal daerah trauma (dicurigai parah atau dislokasi) 5. Jangan memindahkan penderita sebelum dilakukan imobilisasi kecuali ada ditempat bahaya 6. Beri bantalan yang lembut pada pemakaian bidai yang kaku 7. Lakukah tarikan secara periahan sampai lurus sumbu tulang sehingga dapat dipasang bidai yang benar. Tarikan /traksi segera dilepas bila saat diperiksa tampak cyanotik dan nadi lemah. 8. Pada kecurigaaan trauma tulang belakaog letakkan pada posisi satu garis. MACAM-MACAM BIDAI/SPLINT 1. Rigid splint 2.. Pneumatic splint & gips 3. Traction splint Bila tidak ada bidai bisa dicoba 1. Lengan dapat diimobilisasi dengan dada 2. Tungkai yang cedera diimobilisasi dengan tungkai yang sebelah 3. Bahan-bahan lain bisa, dipakai seperti guling, majalah yang digulung, dll CARA MELURUSKAN DEFORMITAS 1. Lengan atas Pegang siku dan tarik ke bawah, setelah lurus bidai dipasang dan lengan dipertahankan dengan sling dan ke dinding dada 2. Lengan bawah : Tarik pergelangan tangan ke bawah dengan siku ditahan sebagai kontra traksi. Bidai dipasang dilengan bawah dan dielevasi. 3. Tungkai atas/paha Luruskan tulang paha dengan melakukan tarikan didaerah pergelangan kaki jika tulang tungkai bawah tidak patah. 4. Tulang tibia/tulang kering Lakukan tarikan didaerah pergelangan kaki dan kontra traksi diatas lutut, dikerjakan bila tulang paha utuh, setelah lurus bidai dipasang. PEMBIDAIAN Bidai atau spalk adalah alat dari kayu, anyaman kawat, atau bahan lain yang kuat tetapi ringan yang digunakan untuk menahan atau menjaga agar bagian tulang yang patah tidak bergerak (immobilisasi) memberikan istirahat, dan mengurangi rasa sakit. Sedangkan prinsip pembidaian adalah : 1. Lakukan pembidaian di tempat dimana anggota badan mengalami cidera 2. Lakukan juga pembidaian pada persangkaan patah tulang, jadi tidak perlu harus dipastikan dulu ada tidaknya patah tulang 3. Melewati minimal dua sendi yang berbatasan Syarat-syarat pembidaian 1. Siapkan alat-alat selengkapnya 2. Bidai harus meliputi dua sendi dari tulang yang patah. Sebelum dipasang diukur lebih dulu pada anggota badan korban yang tidak sakit 3. Ikatan jangan terlalu keras dan terlalu kendor 4. Bidai dibalut dengan pembalut sebelum digunakan 5. Ikatan harus cukup jumlahnya, dimulai dari sebelah atas dan bawah tempat yang patah 6. Kalau memungkinkan, anggota gerak tersebut ditinggikan setelah dibidai 7. Sepatu, gelang, jam tangan, dan alat pengikat perlu dilepas PRINSIP MELAKUKAN IMOBILISASI TULANG BELAKANG DAN LOGROLL (penderita dengan curiga cedera tulang belakang) 1. Diperlukan 4 orang, orang ke 1 mempertahankan imobilisasi segaris kepala dan leher, orang ke 2 untuk badan (termasuk pelvis dan panggul), orang ke 3 pelvis dan tungkai, orang ke 4 mengatur prosedur ini dan memasang/mencabut spineboard. 2. Dilakukan kesegarisan kepala dan leher secara manual, kemudian dipasang kolar servikal semirigid. 3. Lengan penderita diluruskan dan diletakkan disamping badan. 4. Tungkai bawah diluruskan dan kedua pergelangan kaki diikat satu sama lain dengan plester 5. Pertahankan kesegarisan kepala dan leher penderita sewaktu orang ke 2 memegang penderita daerah bahu dan pergelangan tangan. Orang ke 3 memasukkan tangan dan memegang panggul penderita dengan 1 tangan dan dengan tangan yang lain memegang plester yang mengikat ke dua pergelangan kaki

Dermato Musculo Sceletal System

16

Lab. Ketrampilan Medik PPD Unsoed

6. Dengan komando orang pertama (yang mempertahankan kesegarisan kepala dan leher) dilakukan logroll sebagai satu unit kearah kedua penolong yang berada disisi penderita, hanya diperlukan pemutaran minimal untuk memasukkan spineboard dibawah penderita. 7. Setelah spine board dibawah penderita dan dilakukan logroll ke arah spineboard. 8. Pasang bantalan disisi kiri - kanan kepala dan leher penderita . Kemudian pengikat dipasang (kepala, dada, pelvis, paha dan diatas pergelangan kaki)

TRANSPORTASI/PENGANGKUTAN Pengangkutan korban merupakan upaya penting dalam proses pemberian pertolongan. Cara-cara pengangkutan korban yang mengalami cedera secara benar.perlu diketahui dan dikuasai: 1. Pengangkutan di tempat kejadian (tempat yang berbahaya) 1. Sambil jongkok lutut penolong disamping kiri korban. Lengan dan tangan kanan penolong dimasukkan dibawah leher korban, kemudian tangan kanan penolong di sebelah ketiak kanan korban sehingga sampai ke depan dadanya. 2. Tangan kiri penolong menyilangkan lengan kanan korban didadanya, kemudian tangan kanan penolong memegang tangan kanan korban. 3. Kemudian lengan dan tangan kiri penolong dimasukkan dibawah ketiak kiri korban dan memegang lengan kanan korban. 4. Kedua tangan penofong saling bertaut melingkari lengan bawah kanan korban. 5. Kemudian kaki kiri penofong diletakkan setinggi pinggang korban. 6. Sambil membongkokkan tubuh kedepan (prinsip mengungkit) badan korban dapat terangkat. 7. Korban didekatkan ke dada penolong, kemudian penolong berdiri dan menarik korban sejauh mungkin dalam keadaan setengah baring. 8. Di tempat yang aman korban dibaringkan lagi secara hati-hati untuk dilakukan resusitasi. Penderita harus dilakukan resusitasi dalam usaha membuat penderita sestabil mungkin sebelum dilakukan trasnportasi ke tempat yang mempunyai fasilitas /untuk melakukan tindakan definitif. Selama dalam perjalanan / transportasi yang harus diperhatikan 1. Monitor tanda-tanda vital 2. Bantuan kardio repirasi bila diperiukan 3. Pemberian obat sesuai prosedur 4. Menjaga komunikasi dengan dokter selama transportasi 5. Melakukan dokumentasi selama transportasi

Dermato Musculo Sceletal System

17

Lab. Ketrampilan Medik PPD Unsoed

PEMERIKSAAN SISTEM MOTORIK LEARNING OUTCOME:

Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan sistem motorik: - posisi tubuh - trofi otot - tonus otot - kekuatan otot TINJAUAN PUSTAKA Evaluasi sistem motorik dibagi menjadi : - posisi tubuh - gerakan involunter - tonus otot - kekuatan otot Lesi UMN (upper motor neuron) ditandai oleh: kelemahan, kekakuan (spasticity), hiper refleks, refleks primitif (meliputi grasp, suck,snout reflex). Lesi LMN (lower motor neuron) ditandai oleh kelemahan, hipotonus, hiporefleksi, atrofi dan fasikulasi. Fasikulasi adalah gerakan halus otot dibawah kulit dan menandakan adanya LMN. Fasikulasi disebabkan oleh denervasi pada seluruh motor unit yang diikuti oleh hiper sensitif terhadaf asetilcolin pada otot yang mengalami denervasi. Atrofi otot yang timbul biasanya bersamaan dengan fasikulasi. Fibrilasi adalah kontraksi spontan pada serabut otot secara individu sehingga tidak teramati oleh mata telanjang. Posisi tubuh dinilai pada posisi duduk di meja pemeriksaan

Paralisis atau kelemahan/ kelumpuhan tampak pada posisi tubuh abnormal. Lesi di sentral biasanya menyebabkan kelemahan/ kelumpuhan yang lebih besar pada otot ekstensor daripada otot fleksor di ekstremitas superior, sebaliknya pada ektremitas inferior kelemahan/ kelumpuhan lebih besar pada otot fleksor. Berikut ini pemerikaan tic, tremor dan fasikulasi. Catat lokasi dan kualitasnya, catat pula jika ada hubungan dengan posisi tubuh tertentu (spesifik) atau keadaan emosi. Periksalah secara sistematik semua kelompok besar otot tubuh. Catatlah untuk tiap kelompok otot: 1. Penampakan otot (wasted, highly developed, normal) 2. Rasakan adanya tonus otot (flaccid, clonic, normal) 3. Periksa kekuatan kelompok otot: 0 1 2 3 4 5 Tidak ada kontraksi otot Kontraksi halus yang teraba saat paien berusa kontraksi Pasien mampu gerak aktif ketika tidak melawan gravitasi Pasien mampu melawan gravitasi, tapi tidak mampu terhadap tahanan ringan dari pemeriksa Pasien mampu melawan tahanan ringan dari pemeriksa Pasien mampu melawan tahanan yang lebih berat dari pemeriksa Normal: 5

Dermato Musculo Sceletal System

18

Lab. Ketrampilan Medik PPD Unsoed

Beberapa klinisi membagi lagi dalam sub dengan: menambah +/- menjadi 3+, atau 5Dimulai dari deltoid, minta pasien untuk mengangkat ledua lengan atas ke anterior simultan dengan tahanan yang diberikan pemeriksa. Bandingkan kanan dan kiri. m. Deltoid disarafi oleh C5 melalui N. Axillaris

Minta pasien untuk untuk ekstensi antebrachiumdan anterofleksi seperti membawa nampan (supinasi). minta pasien untuk memejamkan mata dan bertrahan dalam posisi tersibut selama 10 hitungan. Normal mampu bertahan. Bila ada kelemahan ekstremitas superior, mata akan pronasi (pronator drift) dan jatuh. Pronator drift merupakan indikator kelumpuhan/ kelemahan UMN. Pada UMN otot supinator ekstemitas superior lebih lemah dari pronator, sehingga cenderung pronasi. Tes ini juga baik untuk menguji konsistensi interna, sebab pasien yang pura-pura akan selalu menjatuhkan tangan tanpa disertai pronasi. Periksa kekuatan fleksi lengan bawah dengan memegang pergelangan tangan dan memberi tahanan pada penderita dari sisi atas, minta pasien untuk fleksi lengan bawah. Ulangi dan bandingkan dengan lengan yang lain. Tes ini untuk memeriksa m. biseps brachii yang disarafi oleh C5&6 melalui N musculocutaneus.

Mintalah pasien untuk ekstensi lengan bawah melawan tahan yang diberikan pemeriksa. Mulailah dari posisi fleksi maksimal, posisi ini sangat sensitif untuk mengetahui penurunan kekuatan. Bandingkan dengan sisi kontra lateral. Tes ini untuk memeriksa m. triseps brachii yang disarafi oleh C6&7 melalui nervus radialis.

Dermato Musculo Sceletal System

19

Lab. Ketrampilan Medik PPD Unsoed

Periksa kekuatan ekstensi tangan dengan meminta pasien ekstensi perdelangan tangan melawan tahanan dari pemeriksa. Bandingkan dengan sisi kontralateral. Tes ini untuk memeriksa otot ekstensor lengan bawah yang disarafi oleh C6&7 melalui N radialis. N radialis nerupakan saraf otot extensor lengan, mensarai semua otot ekstensor pada lengan atas dan lengan bawah. Periksalah tangan pasien, cari atrofi otot intrinsik, thenar, hipothenar. Periksalah genggaman pasien dengan meminta penderita menggenggam jari pemeriksa sekuatnya dan tidak melepas genggaman saak memeriksa mencoba menarik jarinya. Normal pemeriksa tida dapat menarik jari dari genggaman pasien. Bandingkan dengan sisi kontra lateral. Tes ini untuk memeriksa kekuatan otot fleksor lengan bawah dan otot intrinsik tangan. Otot fleksor jari disarafi oleh C8 melalui N medianus. Periksalah otot intrinsik tangan sekali lagi, dengan meminta pasien abduksi pada semua jari dan melawan tekanan/ tahanan pemeriksa. Normal pasien dapat menahan tekanan pemeriksa. Otot abduksi jari disarafi oleh T1 melalui N ulnaris.

Periksalah kekuatan oposisi ibujari dengan meminta pasien menyentuhkan ujung ibujari dengan jari jelunjuknya sendiri dan melawan tahanan pemeriksa.bandingkan dengan sisi kontra lateral. Oposisi ibujari disarafi oleh C8&T1 melalui N. medianus. Lanjutkan pemeriksaan pada tungkai Periksalah fleksi sendi panggul. Pasien dal posisi berbaring. Mintalah pasien mengangkat tungkai denga fleksi sendi panggul melawan tahanan pemeriksa. Bandingkan dengan sisi kontra lateral. Tes ini memeriksa m. iliopsoas Fleksi panggul disarafi olef L2&3 melalui N femoralis.

Dermato Musculo Sceletal System

20

Lab. Ketrampilan Medik PPD Unsoed

Periksalah adduksi tungkai dengan meletakkan tangan pemeriksa pada sisi dalam paha dan mintalah penderita untuk adduksi kedua tungkai. Adduksi tungkai disarafi oleh L2,3 dan 4

Periksalah abduksi tungkai dengan meletakkan tangan pemeriksa pada sisi luar paha dan mintalah penderita untuk abduksi kedua tungkai. Abduksi tungkai disarafi oleh L4,5dan S1

Periksalah ekstensi panggul dengan meminta pasienmenekan tungkai kebawah melawan tahanan tangan pemeriksa yang ada di bawah tungkai. Bandingkan dengan sisi kontra lateral. Tes ini memeriksa m. gluteus maksimus. Ekstensi panggul disarafi oleh L4&5 melalui N. gluteus Periksalah ekstensi lutut dengan meletakkan tangan pemeriksa di bawah lutut dan pergelangan kaki, mintalah pasien ektensi lutut melawan tahan pemeriksa, bandingkan dengan sisi kontra lateral. Tes ini memeriksa m. quadriseps femoris. Ekstensi lutut oleh m. quadriseps dan disarafi oleh L3&4 melalui N femoralis Periksalah fleksi lutut dengan memegang lutut dan memberikan tahanan pada pergelangan kaki. Mintalah pasien menarik tumit kearah pantat sekuat mungkin (fleksi) melawan tahanan pemeriksa. Bandingkan dengan sisi kontra lateal. Tes ini memeriksa otot hamstring, yang disarafi oleh L5 &S1 melalui Nsciatica

Dermato Musculo Sceletal System

21

Lab. Ketrampilan Medik PPD Unsoed

Periksalah dorsofleksi dengan meminta pasien dorsofleksi kaki sekuat mungkin melawan tahanan pemeriksa. Bandingkan sisi kontra lateral. Tes ini memeriksa kompartemen anterior cruris. Dorsofleksi kaki disarafi oleh L4&5 melalui N peroneus.

Periksalah plantar fleksi dengan meminta pasien plantar fleksi sekuat mungkin melawan tahanan pemeriksa. Bandingkan dengan sisi kontra lateral. Tes ini memeriksa m. gastroknemius dan soleus di kompartemen posterior cruris. Planta fleksi disarafi oleh S1&2 melalui N. tibialis

Mintalah pasien ekstensi ibu jari kaki melawan tahanan pemeriksa. Tes ini memeriksa m. ekstensor halucis longus yang disarafi oleh L5.

Pasien dengan kelainan otot primer (seperti: polymiositis), kelainan pada neuromuscula junction (miastenia gravis), biasanya kelemahan/ kelumpuhan berkembang pada kelompok otot proksimal. Kelemahan terberat pada otot gelang panggul dan gelang bahu. Kelemahan ini tampak/ manifes pada kesulitan saat berdiri dari kursi tanpa bantuan otot lengan. Pasien biasanya mengeluh kesulitan keluar dari mobil, atau sulit menyisir rambut. PELAPORAN HASIL PEMERIKSAAN: Ekstremitas Superior: Inspeksi: Dekstra Sinistra

(wasted, highly (wasted, highly developed, normal) developed, normal) Palpasi tonus: (flaccid, clonic, (flaccid, clonic, spastik normal) spastik normal) Kekuatan : /./ // Cantumkan otot spesifik yang mengalami kelainan: Ekstremitas Inferior: Inspeksi: Dekstra Sinistra

(wasted, highly (wasted, highly developed, normal) developed, normal) Palpasi tonus: (flaccid, clonic, (flaccid, clonic, spastik normal) spastik normal) Kekuatan : /./ // Cantumkan otot spesifik yang mengalami kelainan:

REFERENSI:

Dermato Musculo Sceletal System

22

Lab. Ketrampilan Medik PPD Unsoed

http://endeavor.med.nyu.edu/neurosurgery/

Dermato Musculo Sceletal System

23

Lab. Ketrampilan Medik PPD Unsoed

CHECKLIST ANAMNESIS UJIAN OSCE BLOK DMS 2012 2013 Nama NIM : :

No 1 2 3 4 5

Aspek yang dinilai

Nilai 1 2

Memberikan salam dan tersenyum pada pasien Memperkenalkan diri Menanyakan identitas (nama, usia, pekerjaan, alamat) Menjelaskan kegiatan yang akan dilakukan Keluhan utama Riwayat penyakit sekarang : 6 Onset 7 Durasi 8 Kuantitas/frekuensi 9 Kualitas 10 Progresifitas 11 Factor yang memperberat 12 Factor yang memperingan 13 Keluhan penyerta 14 Riwayat penyakit dahulu 15 Riwayat penyakit keluarga 16 Riwayat sosial dan lingkungan 17 Pertanyaan berkaitan secara runtut 18 Berhadapan, mempertahankan kontak mata 19 Memberi kesempatan pada pasien untuk bertanya 20 Memberikan salam dan terima kasih TOTAL SKOR

Keterangan : 0 = tidak dilakukan 1 = dilakukan tetapi kurang sempurna 2 = dilakukan dengan sempurna

Nilai = ( Jumlah/40 ) x 100 = Purwokerto, 2012 Evaluator

Dermato Musculo Sceletal System

24

Lab. Ketrampilan Medik PPD Unsoed

CHECKLIST PEMBALUTAN DAN PEMBIDAIAN Nama NIM : : Aspek yang dinilai 0 1. Mempersiapkan alat dan bahan yang diperlukan 2. Berikan salam, menyapa dengan sopan 3. Memeriksa bagian tubuh yang akan dibalut/cedera : inspeksi, palpasi, gerakan 4. 5. 6. 7. 8. Menjelaskan tujuan dan prosedur Mempersiapkan posisi dan menenangkan pasien Rawat luka/hentikan perdarahan dengan deb Memilih jenis pembalutan yang tepat Cara pembalutan dilakukan dengan benar (posisi dan arah balutan) Nilai 1 2

9. Evaluasi hasil yang dicapai (hasil pembalutan : mudah lepas/tidak, mengganggu peredaran darah/tdk , mengganggu gerakan lain) 10. Memilih dan mempersiapkan bidai yang sudah dibalut dengan pembalut 11. Melakukan pembidaian melewati dua sendi 12. Hasil pembidaian : ikatan harus cukup jumlahnya, dimulai dari sebelah atas dan bawah tempat yang patah, tidak kendor dan tidak keras 13. Evaluasi hasil yang dicapai (subjektif maupun objektif) 14. Edukasi pasien Jumlah Keterangan : 0 : Tidak dilakukan sama sekali 1 : Dilakukan tetapi tidak sempurna 2 : Dilakukan dengan sempurna Nilai = jumlah x 100 % 28 Purwokerto, 2012 Evaluator

Dermato Musculo Sceletal System

25

Lab. Ketrampilan Medik PPD Unsoed

CHECKLIST HECTING Nama : NIM No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 Memberi salam Memeriksa luka (lokasi, luas, jenis: robek/ sayat/ lecet, fraktur, tanda infeksi) Persetujuan tindakan medic Persiapan pasien( menenangkan pasien, posisi) Mempersiapkan anestesi Mencuci tangan Memakai sarung tangan Melakukan aseptik antiseptic* Melakukan anestesi lokal ( infiltrasi)* Melakukan debridemen (irigasi Nacl, perhidrol, irigasi NaCl, Povidon)* Memasang doek steril Jahit kulit terputus Bersihkan luka dengan kasa povidon Menutup luka dengan kasa povidon & kasa steril Dekontaminasi Cuci tangan pasca tindakan TOTAL SCORE Keterangan: 0 = tidak dilakukan/disebut sama sekali 1 =dilakukan tapi kurang sempurna 2 =disebut/ dilakukan dengan sempurna * =Critical point ( item yang harus dilakukan dan berurutan) Nilai = Total skor (.) x 100 % 32 Purwokerto, 2012 Evaluator Aspek yang dinilai 0 Nilai 1 2

...........

CHECKLIST PEMERIKSAAN SISTEM MOTORIK Nama :

Dermato Musculo Sceletal System

26

Lab. Ketrampilan Medik PPD Unsoed

NIM NO 1 2 3 4

: KETERANGAN Memberi salam dan menyapa dengan sopan Inform konsent pemeriksaan Pemeriksaan posisi tubuh Meminta pasien duduk di meja pemeriksaan Inspeksi adakah kelainan posisi : diamati sejak pasien masuk ruang periksa (cara berjalan, cara duduk ke meja pemeriksaan, perubahan posisi duduk-tidur, perubahan posisi tidur-duduk ) dinarasikan Pemeriksaan trofi otot Inspeksi trofi kedua ekstremitas atas:hipotrofi/atrofi/hipertrofi Lakukan pengukuran trofi kedua ekstremitas atas (berikan interpretasinya hipertrofi/atrofi/hipertrofi) Pemeriksaan tonus otot Palpasi kedua otot ekstermitas superior fleksi-ekstensi kedua otot ekstermitas superior Pemeriksaan kekuatan otot ekstremitas superior Periksalah kekuatan m.deltoideus kanan dan kiri Periksalah kekuatan m.biceps brachii kanan dan kiri Periksalah kekuatan m. triceps brachii kanan dan kiri Periksalah kekuatan otot ektensor lengan atas dan lengan bawah kanan dan kiri Periksalah kekuatan otot intrinsik tangan, otot thenar, otot hipothenar kanan dan kiri Periksalah abduksi jari-jari tangan Periksalah oposisi ibu jari ke dua tangan Pemeriksaan kekuatan otot ekstremitas bawah Meminta pasien berbaring di meja pemeriksaan Periksalah fleksi ke dua panggul Periksalah adduksi ke dua panggul Periksalah abduksi ke dua panggul Periksalah ekstensi ke dua tungkai bawah Periksalah fleksi ke dua tungkai bawah Periksalah dorsofleksi ke dua kaki Periksalah plantarfleksi ke dua kaki Periksalah ekstensi ibu jari ke dua kaki Mempersilahkan pasien duduk kembali total KET: 0 : bila tidak dikerjakan 1 : bila dikerjakan, tetapi tidak sempurna 2 : bila dikerjakan dengan sempurna Nilai: total score x 100 52 Purwokerto, SCORE 0 1 2

5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25

2012 Evaluator

...........................................

Dermato Musculo Sceletal System

27

Lab. Ketrampilan Medik PPD Unsoed

Hari/Tan ggal Senin, 26 November 2012

Waktu 13.0014.50

Kegiata n

Kelompok 1 MS 2 ES 3 MA 4 TO DN WF RJ AN O P MS Y W ES MA TO D N OP SC VR M S DN WF RJ AN OP 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 Y W SC VR ES MA T O WF RJ A N YW SC V R 5 6 7 8 9 10 11 1 2

Hecting BalutBidai Motorik 13.0014.50 Hecting BalutBidai Motorik 08.0009.50 Hecting BalutBidai Motorik dr. Mustofa dr. Evy Slulistyoningrum, MSc dr. Dwi Adi Nugroho dr. Tri Okmawati Handini dr. Madya Ardi dr. Wiwik F dr. Raudatul Janah dr. Arini Nur Famila dr. Oktavia permatasari dr. Yudhi Wibowo dr.Susian aC dr. Viva Ratih

Selasa, 27 November 2012

Jumat, 30 November 2012

MS ES DN TO MA WF RJ AN OP YW SC VR

Dermato Musculo Sceletal System

28