Anda di halaman 1dari 28

Dosen Ass.

Dosen

: Drs. Muztabadiharja, Apt. : Dian Nurhasanah Fauziah Nurrahmah

Tanggal : 21 & 28 November 2012 Tangggal Menyerahkan Laporan : 5 Desember 2012 Nilai :

KECEPATAN PELARUTAN
Di susun Oleh : Kelompok 2 Evi Julianti Gani Putri Andari Wulan Rahayu Witdiastuti Vania Dainoya Ardelia Nurhaida Septi anggraeni 0661 11 149 (Ketua) 0661 11 124 0661 11 135 0661 11 113 0661 11 159 0661 11 158 0661 11 164

LABORATORIUM FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS PAKUAN BOGOR 2012

BAB I PENDAHULUAN I.1 Tujuan Praktikum Setelah mengikuti percobaan ini mahasiswa diharapkan mampu untuk : Menentukan kecepatan pelarutan suatu zat. Menggunakan alat-alat untuk penentuan kecepatan plarutan suatu zat. Menerangkan faktir-faktor yang mempengaruhi kecepatan pelarutan suatu zat.

I.2 Dasar Teori Suatu produk obat dapat berbeda dari produk pabrik lain dalam halbahan baku, komposisi/formula, serta fabrikasinya. Perbedaan tersebut dapat menyebabkan perbedaan dalam pelepasan bahan obat dari sediaan yang akhirnya akan berpengaruh pada efikasi/kemanjuran produk tersebut. (Abdou, 1989, Blanchard, Swachuck, Brodie, 1979). Pada umumnya produk obat mengalami absorbsi sistemik melalui suatu rangkaian proses yang meliputi : 1. disintegrasi produk yang diikuti dengan pelepasan obat 2. pelarutan obat dalam media aqueous 3. absorbsi melalui membran sel menuju sirkulasi sstemik Pada ketiga proses di atas ditentukan oleh tahap yang paling lambat di dalam suatu rangkaian proses kinetic yang sering disebut tahap penentu kecepatan (Rate Limiting Step). Untuk obat yang mempunyai kelarutan kecil dalam air, laju pelarutan seringkali merupakan tahap yang paling lambat di dalam, oleh karena itu mengakibatkan terjadinya efek penentu kecepatan terhadap bioavailabilitas obat. Sebaliknya untuk obat yang mempunyai kelarutan besar dalm air, laju pelarutannya cepat sedangkan laju lintas atau tembus obat melewati membran merupakan tahap penentu kecepatannya. Disolusi didefinisikan sebagai proses dimana suatu zat padat masuk ke dalam pelarut menghasilkan suatu larutan. Secara sederhana, disolusi adalah proses dimana zat padat melarut. Secara prinsip dikendalikan oleh afinitas antara zat padat dengan pelarut. Dalam penentuan kecepatan disolusi dari berbagai bentuk sediaan padat terlibat berbagai proses disolusi yang melibatkan zat murni. Karakteristik fisik sediaan, proses pembasahan sediaan, kemampuan penetrasi media disolusi ke dalam

sediaan, proses pengembangan, proses disintegrasi, dan degradasi sediaan, merupakan sebagaian dari faktor yang mempengaruhi karakteristik disolusi obat dari sediaan. Kecepatan pelarutan adalah ukuran yang menyatakan banyaknya suatu zat terlarut dalam pelarut tertentu tiap satuan waktu. Suatu hubungan yang umum menggambarkan proses pelarutan suatu zat padat dikembangkan oleh Noyes dan Whitney dalam bentuk persamaan sebagai berikut :

Dimana :

kecepatan Pelarutan K = konstanta kecepatan pelarutan S = luas permukaan zat

Cs = kelarutan zat C = konsentrasi zat dalam larutan dalam waktu t Harga konstanta K tergantung kepada harga koefisien difusi dari zat terlarut dan tebal lapisan difusi. K = D/h D = koefisien difusi dalam cm2/detik h = tebal lapisan difusi dalam cm Dari persamaan tersebut di atas dapat dilihat beberapa factor yang mempengaruhi kecepatan pelarutan suaru zat yaitu : 1. Temperatur Naiknya temperature umumnya memperbesar kelarutan (Cs) sat yang endotermis, serta memperbesar harga koefisien difusi zat. Menurut Einstein, koefisien difusi dapat dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut D= Dimana : D = koefisien difusi k = konstanta Boltman T = temperature absolute

r = jari-jari molekul = viskositas pelarut 2. Viskosita Turunnya viskosita pelarut akan memperbesar kecepatan pelarutan suatu zat sesuai dengan persamaan Einstein. Naiknya temperature juga akan menurunkan viskosita sehingga perbesaran kecepatan pelarutan. 3. pH pelarut pH pelarut sangat berpengaruh terhadap kelarutan zat-zat yang bersifat asam lemah atau basa lemah. Untuk asam lemah :

(1+

kalau (H+) kecil, atau pH besar maka akan meningkatkan kelarutan zat, sehingga kecepatan pelarutan besar.

(1+

kalau (H+) besar, atau pH kecil maka akan meningkatkan kelarutan zat, sehingga kecepatan pelarutan besar. 4. Pengadukan Kecepatan pengadukan akan mempengaruhi tebal lapisan difusi (h). Bila pengadukan cepat maka tebal lapisan difusi berkurang sehingga menaikkan kecepatan pelarutan. 5. Ukuran partikel Bila partikel zat terlarut kecil maka luas permukaan efektif besar sehingga menaikkan kecepatan pelarutan. 6. Polimorfis Kelarutan suatu zat dipengaruhi oleh adanya polimorfisa, karena bentuk kristal yang berbeda akan mempunyai kelarutan yang yang berbeda pula. Kelarutan bentuk kristal yang meta stabil lebih besar dari pada bentuk stabil, sehingga kecepatan pelarutannya lebh besar.

7. Sifat permukaan zat Pada umumnya zat-zat yang di gunakan sebagai bahan obat bersifat hidrofob. Dengan adanya surfaktan di dalam pelarut akan menurunkan tegangan permukaan antar partikel zat dengan pelarut, sehingga zat mudah terbasahi dan kecepatan pelarutan bertambah. Selain faktor-faktor yang telah disebutkan di atas kecepatan pelarutan suaru zat aktif dari bentuk sediaannya dipengaruhi pula oleh factor formulasi dan teknik pembuatan sediaan tersebut. Penentuan kecepatan pelarutan suatu zat dapat dilakukan dengan metode : Metode suspensi

Bubuk zat padat ditambahkan pada pelarut tanpa pengontrolan yang eksak terhadap luas permukaan partikelnya. Sampel diambil pada waktu waktu tertentu dan jumlah zat yang larut ditentukan dengan cara yang sesuai. Metode permukaan konstan

Zat ditempatkan dalam suatu wadah yang diketahui luasnya,sehingga variable perbedaan luas permukaan efektif dapat dihilangkan. Biasanya zat dibuat tablet terlebih dahulu kemudian sampel ditentukan seperti pada metode suspensi. Dalam bidang farmasi, penentuan kecepatan pelarutan suatu zat perlu dilakukan karena kecepatan pelarutan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi absorpsi obat. Penentuan kecepatan pelarutan suatu zat aktif dapat dilakukan pada beberapa tahap pembuatan suatu sediaan obat yaitu : 1) Tahap pre formulasi Pada tahap ini penentuan kecepatan pelarutan dilakukan terhadap bahan baku obat dengan tujuan untuk memilih sumber bahan baku dan memperoleh informasi tentang bahan baku tersebut. 2) Tahap formulasi Pada tahap ini penentuan kecepatan pelarutan dilakukan untuk memilih formula yang terbaik. 3) Tahap produksi

Pada tahap ini penentuan kecepatan pelarutan dilakukan untuk control kualitas sediaan obat yang diproduksi. Pada Farmakope Indonesia IV dijelaskan bahwa asam salisilat merupakan serbuk hablur halus putih, biasanya berbentuk jarum halus, rasa agak manis, tajam dan stabil di udara. Bentuk sintetis warna putih dan tidak berbau. Asam salisilat sukar larut dalam air dan dalam benzena, mudah larut dalam etanol dan dalam eter, larut dalam air mendidih dan agak sukar larut dalam kloroform. Penetapan kadar asam salisilat dapat dilakukan dengan titrasi asam basa dengan menggunakan natrium hidroksida dan indikator fenolftalein. Pada penetapan kadar asam salisilat, reaksi yang terjadi: Asam Salisilat + NaOH > Natrium Salisilat + H2O

BAB II METODOLOGI II . 1 Alat dan Bahan

Alat:

Pipet Buret Erlenmeyer Beaker glass Dissolution tester Temperatur Pipet Gondok Chamber (bejana)

Kompor Listrik Gelas Ukur Labu Ukur 500mL

Bahan :

Air 900 ml Asam salisilat 2 gr NaOH 0,05 N PP

II.2 Cara Kerja Pembuatan larutan standar NaOH 0,05 N Dihitung massa NaOH yang di butuhkan untuk membuat NaOH 0,05 N Dilarutkan sebanyak 1 gr NaOH dalam 500 mL air dalam labu ukur.

Percobaan 1 : Pengaruh temperatur terhadap kecepatan pelarutan zat -

Diisi bejana dengan 900 ml air. Dipasang termostat pada temperatur 37C, 40C dan 45C. Bila temperatur air dalam bejana sudah mencapai 30C masukkan 2 gr asam salisilat dan jalankan motor penggerak pada kecepatan 20 RPM.

Diambil sebanyak 20 ml air dalam bejana setiap selang waktu 1, 5, 10, 15, 20 menit setelah pengocokan. Setiap selesai pengambilan sampel segera ganti dengan 20 ml air.

Ditentukan kadar asam salisilat yang larut dalam masing masing sampel dengan cara titrasi asam basa menggunakan NaOH 0,05 N dan indikator fenolftalein.

Lakukan percobaan yang sama untuk temperatur 40C dan 45C. Ditabelkan hasil yang diperoleh. Dibuat grafik antara konsentrasi asam salisilat yang diperoleh dengan waktu untuk masing masing temperatur ( dalam satu grafik ).

Percobaan 2 : Pengaruh kecepatan pengadukan terhadap kecepatan pelarutan zat. -

Diisi bejana dengan 900 ml air. Dipasang termostat pada temperatur 37C. Bila temperatur air dalam bejana sudah mencapai 37C masukkan 2 gr asam salisilat dan jalankan motor penggerak pada kecepatan 40 RPM.

Diambil sebanyak 20 ml air dalam bejana setiap selang waktu 1, 5, 10, 15, 20 menit setelah pengocokan. Setiap selesai pengambilan sampel segera ganti dengan 20 ml air.

Ditentukan kadar asam salisilat yang larut dalam masing masing sampel dengan cara titrasi asam basa menggunakan NaOH 0,05 N dan indikator fenolftalein.

Lakukan percobaan yang sama untuk kecepatan pengadukan 50 RPM, dan 60 RPM. Ditabelkan hasil yang diperoleh. Dibuat grafik antara konsentrasi asam salisilat yang diperoleh dengan waktu untuk masing masing kecepatan pengadukan ( dalam satu grafik).

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN III.1 Hasil Percobaan A. Pengaruh Temperatur Terhadap Kecepatan Pelarutan Zat 370 C V1 0,4 1 1,6 1,7 2 V2 0,5 1 1,5 1,8 1,9 Vt 0,4 5 1 1,5 5 1,7 5 1,9 5 V1 1,1 1,5 1,8 2,1 2 400 C V2 1,4 1,7 1,8 2 2 Vt 1,25 1,6 1,8 2,05 2 V1 0,3 0,8 1,6 1,8 2,3 450 C V2 0,3 0,9 1,5 1,8 2,3 Vt 0,3 0,85 1,55 1,8 2,3

Waktu

1 5 10 15 20

B. Pengaruh Kecepatan Pengadukan Terhadap Kecepatan Pelarutan Zat

Waktu 1

40 RPM V1 0,35 V2 0,25 Vt 0,3 V1 0,4

50 RPM V2 0,5 Vt 0,45 V1 0,8

60 RPM V2 0,7 Vt 0,75

5 10 15 20

0,75 1,05 1,75 2

0,6 1,5 1,55 2,1

0,675 1,275 1,65 2,05

1 1,5 1,9 2,3

1,1 1,75 2,15 2,6

1,05 1,625 2,025 2,45

1,3 2 2,95 2,7

1,7 5 2,3 2,6 5 3,1 5

1,535 2,15 2,8 2,9

Pembuatan NaOH 0,05 N menggunakan labu ukur 500 mL BM NaOH = Ar Na + Ar O + Ar H = 23 + 16 + 1 = 40 gr/mol

NaOH Na+ + OH-

dengan valensi 1 : 1 dalam mol/L

Maka, Normalitas = Molaritas =

(mol/mL)

[NaOH] =

0,05

= = 1 gram

Massa NaOH =

Perhitungan BM Asam Salisilat ( C6H4OHCOOH ) BM C6H4OHCOOH = ( 7 x Ar C ) + ( 6 x Ar H ) + ( 3 x Ar O ) = ( 7 x 12 ) + (6x1) + ( 3 x 16 )

= =

84

48

138 gr/mol

A. Pengaruh Temperatur Terhadap Kecepatan Pelarutan Zat

Pada temperatur 350 C Menit ke-1 (x-y) + y + y = ml NaOH x [NaOH] (x-0) + 0 + 0 = 0,45 ml x 0,05 mol/ml x = 0,0225 mol = - 0,005 mol Ct = ( x y ) x BM asam salisilat = - 0,005 mol x 138 = - 0,69 gram

C0

= (x-y) x BM asam salisilat = 0,0225 mol x 138 = 3,105 gram

K5

= =

x log x log

= 0,46 x 0,65 = 0,299/menit

Menit ke-5 (x-y) + y + y = ml NaOH x [NaOH]

(0,0225 mol) + y = 1 ml x 0,05 mol/ml y = 0,05 0,0225 = 0,0275 mol asam salisilat yang tersisa : x y = 0,0225 mol 0,0275 mol

Menit ke-10 (x-y) + y + y = ml NaOH x [NaOH] y = 0,0775 0,0225 y = 0,055 mol

(0,0225 mol) + y = 1,55 ml x 0,05 mol/ml

asam salisilat yang tersisa :

xy

= 0,0225 mol 0,055 mol = - 0,0325 mol

Ct

= ( x y ) x BM = - 0,0425 mol x 138 = - 5,865 gram

Ct

= ( x y ) x BM = - 0,0325 mol x 138 = - 4,485 gram K15 = x log

=
K10 = x log

x log

= 0,154 x 0,276 = 0,00425/menit

x log

= 0,23 x 0,15 = 0,0345/menit Menit ke-20 Menit ke-15 (x-y) + y + y = ml NaOH x [NaOH] (x-y) + y + y = ml NaOH x [NaOH]

(0,0225 mol) + y = 1,95 ml x 0,05 mol/ml y = 0,0975 mol/ml 0,0225 mol y = 0,075 mol

(0,0225 mol) + y = 1,75 ml x 0,05 mol/ml y = 0,0875 0,0225 y = 0,065 mol asam salisilat yang tersisa : (x y) = 0,0225 mol 0,065 mol = - 0,0425 mol

asam salisilat yang tersisa : (x y) = 0,0225 mol 0,075 mol = - 0,053 mol

Ct

= ( x y ) x Mr. asam salisilat = - 0,053 mol x 138 = - 7,314 gram

K20

x log

x log

= 0,115 x 0,37 = 0,0426/menit

Pada temperatur 400 C Menit ke-1 (x-y) + y + y = ml NaOH x [NaOH] (x-0) + 0 + 0 = 1,25 ml x 0,05 mol/ml x C0 = 0,0625 mol = (x-y) x BM = 0,0625 x 138 = 8,625 gram K5 = x log x log Ct = ( x y ) x BM = 0,045 x 138 = - 0,69 gram

= 0,46 x 0,143 Menit ke-5 (x-y) + y + y = ml NaOH x [NaOH] Menit ke-10 (x-y) + y + y = ml NaOH x [NaOH] = 0,066/menit

(0,0625 mol) + y = 1,6 ml x 0,05 mol/ml y = 0,08 0,0625 = 0,0175 mol

(0,0625 mol) + y = 1,8 ml x 0,05 mol/ml y = 0,09 0,0625 = 0,0275 mol

asam salisilat yang tersisa : (x y) = 0,0625 mol 0,0175 mol = 0,045 mol

asam salisilat yang tersisa : (x y) = 0,0625 0,0275l

= 0,035 mol Ct = ( x y ) x BM = 0,035 x 138 = 4,83 gram

x log

= 0,154 x 0,444 = 0,068/menit

Menit ke-20 K10 = x log x log (x-y) + y + y = ml NaOH x [NaOH]

(0,0625 mol) + y = 2 ml x 0,05 mol/ml y = 0,1 0,0625

= 0,23 x 0,25 = 0,0575/menit

y = 0,0375 mol

asam salisilat yang tersisa : Menit ke-15 (x-y) + y + y = ml NaOH x [NaOH] (x y) = 0,0625 mol 0,0375 mol = 0,025 mol

(0,0625 mol) + y = 2,05 ml x 0,05 mol/ml y = 0,1025 0,0625 y = 0,04 mol asam salisilat yang tersisa : (x y ) = 0,0625 0,04 = 0,0225 mol Ct = ( x y ) x BM = 0,0225 mol x 138 = 3,105 gram K20 = x log x log Ct = ( x y ) x BM = 0,025 x 138 = 3,45 gram

= 0,115 x 2,5 K15 = x log = 0,29/menit Pada temperatur 450 C

Menit ke-1 (x-y) + y + y = ml NaOH x [NaOH] (x-0) + 0 + 0 = 0,3 ml x 0,05 mol/ml = 0,015 mol

= 0,46 x 0,08 = 0,037/menit

Menit ke-10 (x-y) + y + y = ml NaOH x [NaOH]

C0

= (x-y) x BM = 0,015 x 138 = 2,07 gram

(0,015 mol) + y = 1,55 ml x 0,05 mol/ml y y = 0,08 0,015 = 0,0625 mol

asam salisilat yang tersisa : Menit ke-5 (x-y) + y + y = ml NaOH x [NaOH] Ct (x y) = 0,015 mol 0,0625 mol = 0,0475 mol = ( x y ) x BM = 0,0475 x 138 = 0,65 gram K10 = x log x log

(0,015 mol) + y = 0,85 ml x 0,05 mol/ml y = 0,0425 0,015 = 0,0275 mol asam salisilat yang tersisa : (x y) = 0,015 mol 0,0275 mol = 0,0125 mol

= 0,23 x 0,5 Ct = ( x y ) x BM = 0,0125 x 138 = 1,725 gram Menit ke-15 (x-y) + y + y K5 = x log x log = ml NaOH x [NaOH] = 0,115/menit

(0,015 mol) + y = 1,8 ml x 0,05 mol/ml y = 0,09 0,015 = 0,075 mol

asam salisilat yang tersisa : (x y) = 0,015 mol 0,075 mol = - 0,06 mol Ct = ( x y ) x BM = - 0,06 x 138 = - 11,04 gram K20 = x log x log

= 0,1152 x 0,753 = 0,087/menit

K15

x log x log

A.

Pengaruh Kecepatan Pengadukan

Terhadap Kecepatan Pelarutan Zat

= 0,154 x 0,727 = 0,112/menit

Pada kecepatan 40 RPM

Menit 1, pada menit awal y = 0 ; BM

= 138 Menit ke-20 (x-y) + y + y = ml NaOH x [NaOH] ( x y ) + y + y = V NaOH x [NaOH] ( x 0 ) + 0 + 0 = 0,3 mL x 0,05 mol/mL x = 1,5 x 10-3 mol

(0,015 mol) + y = 2,3 ml x 0,05 mol/ml y y = 0,115 0,015 = 0,1 mol Co = ( x y ) BM asam salisilat yang tersisa : (x y) = 0,015 mol 0,1 mol = - 0,085 mol Ct = ( x y ) x BM = 0,085 x 138 = - 11,73 gram Menit 5 = (1,5 x 10-3 0 ) 138 = 0,207 gram

( x y ) + y + y = V NaOH x [NaOH]

x+y 1,5 x 10-3 + y

= 0,675 mL x 0,05 mol/mL = 0,03375 mol y = 0,03375 0,0015 y = 0,03225 mol K10

Ct

= ( x y ) x BM = ( - 0,06075 ) x 138 = - 8,3835 gram

= = = 0,2303 x [- log ( 0,0247 ) ]

(xy)

= 0,0015 0,03225 = - 0,03075 mol

Ct

= ( x y ) x BM = (-0,03075) x 138 = - 4, 2435 gram

= 0,2303 x [ - ( -1,607 ) ] = 0,37 menit-1

Menit 15

K5

= ( x y ) + y + y = V NaOH x [NaOH] = x+y = 0,4606 x [- log ( 0,0488 ) ] = 0,4606 x [ - ( -1,31 ) ] = 0,6 menit-1 = 1,65 mL x 0,05 mol/mL

1,5 x 10-3 + y = 0,0825 mol y = 0,0825 0,0015 y = 0,081 mol

Menit 10 (xy) = 0,0015 0,081 = - 0,0795 mol

( x y ) + y + y = V NaOH x [NaOH] x+y 1,5 x 10-3 + y = 1,275 mL x 0,05 mol/mL = 0,06375 mol y = 0,06375 0,0015 y = 0,06225 mol (xy) = 0,0015 0,06225 = - 0,06075 mol

Ct

= ( x y ) BM = (- 0,0795 ) x 138 = - 10,971 gram

K15

Pada kecepatan 50 RPM

= = 0,1535 x [ - ( log 0,019 ) ] = 0,1535 x [ - ( -1,7212 ) ] = 0,26 menit-1

Menit 1, pada menit awal y = 0 ; BM

= 138 ( x y ) + y + y = V NaOH x [NaOH] ( x 0 ) + 0 + 0 = 0,45 mL x 0,05 mol/mL x = 0,0225 mol

Menit 20

( x y ) + y + y = V NaOH x [NaOH] x+y


-3

= 2,05 mL x 0,05 mol/mL = 0,1025 0,0015 = 0,101 mol = 0,0015 0,101 = - 0,0995 mol

Co = ( x y ) BM = (0,0225 0 ) x 138 = 3,105 gram

1,5 x 10 + y = 0,1025 mol y y (xy)

Menit 5

( x y ) + y + y = V NaOH x [NaOH] x+y 0,0225 + y = 1,05 mL x 0,05 mol/mL = 0,0525 mol y = 0,0525 0,0225 y = 0,03 mol (xy) = 0,0225 0,03 = - 0,0075 mol Ct = ( x y ) x BM = (-0,0075) x 138

Ct

= ( x y ) BM = (- 0,0995 ) x 138 = - 13,731 gram

K20

= = = 0,11515 x [ - ( log 0,015 ) ] = 0,11515 x [ - ( -1,824 ) ] = 0,21 menit-1

= - 1,035 gram

= 0,048 menit-1

K5

= = = 0,4606 x [- log ( 3 ) ] = 0,4606 x [ - 0,477 ] = - 0,22 menit-1

Menit 15

( x y ) + y + y = V NaOH x [NaOH] x+y 0,0225 + y = 2,025 mL x 0,05 mol/mL = 0,10125 mol y = 0,10125 0,0225 y = 0,07875 mol

Menit 10 (xy) = 0,0225 0,07875 = - 0,05625 mol

( x y ) + y + y = V NaOH x [NaOH] x+y 0,0225 + y = 1,625 mL x 0,05 mol/mL = 0,08125 mol y = 0,08125 0,0225 y = 0,05875 mol

Ct (xy) = 0,0225 0,05875 = - 0,03625 mol

= ( x y ) BM = (- 0,05625 ) x 138 = - 7,7625 gram

Ct

= ( x y ) x BM = ( - 0,03625 ) x 138 = - 5,0025 gram K15 =

K10

= = = 0,2303 x [- log ( 0,62 ) ] = 0,2303 x [ - ( -0,208 ) ]

= = 0,1535 x [ - ( log 0,4 ) ] = 0,1535 x [ - ( -0,398 ) ] = 0,061 menit-1

x = 0,0375 mol Menit 20

( x y ) + y + y = V NaOH x [NaOH] x+y 0,0225 + y y y (xy) = 2,45 mL x 0,05 mol/mL = 0,1125 mol = 0,1125 0,0225 = 0,09 mol

Co = ( x y ) BM = (0,0375 0 ) x 138 = 5,175 gram

= 0,0225 0,09 = - 0,0675 mol Ct = ( x y ) BM = (- 0,0675 ) x 138 = - 9,315 gram

Menit 5

( x y ) + y + y = V NaOH x [NaOH] x+y 0,0375 + y = 1,535 mL x 0,05 mol/mL = 0,07675 mol y = 0,07675 0,0375 y = 0,03925 mol (xy) = 0,0375 0,03925 = - 0,00175 mol

K20

= = = 0,11515 x [ - ( log 0,33 ) ] = 0,11515 x [ - ( - 0,48 ) ] = 0,06 menit-1

Ct

= ( x y ) x BM = (-0,00175) x 138 = - 0,2415 gram

Pada kecepatan 60 RPM

K5

= =

Menit 1, pada menit awal y = 0 ; BM

= 0,4606 x [- log ( 21,43 ) ] = 0,4606 x [ - 1,33 ]

= 138 ( x y ) + y + y = V NaOH x [NaOH] = - 0,61 menit-1 ( x 0 ) + 0 + 0 = 0,75 mL x 0,05 mol/mL

Menit 10 (xy) = 0,0375 0,1025 = - 0,065 mol Ct = ( x y ) BM = (- 0,065 ) x 138 = - 8,97 gram

( x y ) + y + y = V NaOH x [NaOH] x+y 0,0375 + y = 2,15 mL x 0,05 mol/mL = 0,1075 mol y = 0,1075 0,0375 y = 0,07 mol (xy) = 0,0375 0,07 = - 0,0325 mol Ct = ( x y ) x BM = ( - 0,0325 ) x 138 = - 4,485 gram

K15

= = 0,1535 x [ - ( log 0,58 ) ] = 0,1535 x [ - ( -0,236 ) ] = 0,036 menit-1

K10

= = = 0,2303 x [- log ( 1,15 ) ] = 0,2303 x [ - ( ) ] = 0,06 menit-1

Menit 20

( x y ) + y + y = V NaOH x [NaOH] Menit 15 x+y 0,0375 + y y x+y 0,0375 + y = 2,8 mL x 0,05 mol/mL = 0,14 mol (xy) y = 0,14 0,0375 y = 0,1025 mol Ct = ( x y ) BM = 0,0375 0,1075 = - 0,07 mol y = 2,9 mL x 0,05 mol/mL = 0,145 mol = 0,145 0,0375 = 0,1075 mol

( x y ) + y + y = V NaOH x [NaOH]

= (- 0,07 ) x 138 = - 9,66 gram K20 = = = 0,11515 x [ - (- log 0,536 ) ] = 0,11515 x [ - ( - 0,271 ) ] = 0,031 menit-1

III.2 Pembahasan A. Pengaruh Temperatur Terhadap Kecepatan Pelarutan Zat Sesuai dengan tujuan percobaan kecepatan larutan ini yakni faktor yang mempengaruhi disolusi zat. Yang pertama dengan mengamati perbedaan temperature menggunakan perbedaan kecepatan pengadukan. Pada percobaan pertama dengan menggunakan temperature yang berbeda. Dari data yang kami dapat pada suhu 37C dan suhu 40C sesuai dengan literatur, yakni semakin tinggi temperature maka semakin cepat pula proses kelarutannya. Ini disebabkan karena tingginya temperature akan memperbesar koefisiensi difusi zat sehingga saat titrasi dibutuhkan titrat (NaOH 0,05 N) dalam jumlah banyak untuk mencapai ekuivalen dan begitupun sebaliknya. Sedangkan pada percobaan disolusi dengan suhu 45C mengalami penyimpangan yang tidak sesuai dengan literatur, hal ini mungkin disebabkan karena penghitungan waktu yang kurang akurat saat pengambilan sampel ( asam salisilat ) dari dissolution tester jadi pada waktu yang belum sesuai, sudah dilakukan pengambilan sampel dan faktor lainnya seperti serbuk asam salisilatnya menggumpal di atas permukaaan air dalam chamber dissolution tester sehingga difusi zat kurang sempurna juga ada dalam pengerjaan percobaan ini yang dilakukan lebih dahulu langsung pada suhu 40C lalu 45C kemudian 37C karena kesalahan informasi yang diterima dari asisten kepada kami. Penjelasan di atas digambarkan dalam grafik berikut : Pada Suhu 37C dan yang kedua

Pada Suhu 40C

Pada Suhu 45C

B. Pengaruh Kecepatan Pengadukan Terhadap Kecepatan Pelarutan Zat Sedangkan pada percobaan kecepatan kelarutan dengan menggunakan kecepatan pengadukan yang sesuai literatur yakni semakin cepat pengadukan maka semakin cepat pula proses kecepatan kelarutan. Itu disebabkan semakin cepat nya proses pengadukan, maka akan semakin cepat pula berkurangnya ketebalan lapisan zat yang dilarutkan (asam salisilat) yang menyebabkan semakin cepat kecepatan larutan. Hasil yang kami peroleh dalam percobaan berbanding lurus dengan literatur. Kecepatan pengadukan yang digunakan yakni 40 RPM, 50 RPM, dan 60 RPM. Semakin cepat dalam pengadukan semakin besar pula difusi zat terlarutnya sehingga saat pengambilan sampel pada waktu-waktu tertentu mendapatkan volume NaOH 0,05 N dari hasil titrasi sampel (asam salisilat) yang berbeda-beda. Semakin lama waktu dan kecepatan pengadukan semakin banyak pula volume NaOH yang dibutuhkan dalam mentitrasi asam salisilat untuk mencapai ekuivalen. Penjelasan tersebut dapat digambarkan pada grafik berikut:

Pada Kecepatan Pengadukan 40 RPM

Pada Kecepatan Pengadukan 50 RPM

Pada Kecepatan Pengadukan 60 RPM

Hasil Konsentrasi pada waktu-waktu tertentu terkadang di dapatkan minus sehingga di dapatkan kecepatan pelarutan tiap menitnya pun minus itu di karenakan kurang tepatnya pada perhitungan waktu antara dimulainya motor penggerak dengan keadaan suhu yang mungkin kurang sesuai pada keadaan di dalam bejana.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN IV.1 Kesimpulan Kecepatan pelarutan adalah ukuran yang menyatakan banyaknya suatu zat terlarut dalam pelarut tertentu tiap satuan waktu.Kecepatan pelarutan dipengaruhi oleh temperature, viskositas, pH pelarut, pengadukan, ukuran partikel, polimorfis dan sifat permukaan zat. Semakin tinggi tempetatur, semakin cepat proses kelarutan, begitupun sebaliknya. Semakin cepat proses pengadukan, semakin cepat proses kelarutan, begotupun sebaliknya. Hasil perhitungan dipengaruhi ketelitian titrasi .

IV.2

Saran Untuk mendapatkan data yang sesuai haruslah menjaga ketelitian baik dari segi

pengadukan, suhu maupun titrasi. Apabila hal tersebut dilakukan dengan baik maka data yang didapat pun akan sesuai dengan literatur.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan RI Martin, A.N., J. Swarbrick, A. Cammarata. 2006. Physical Pharmacy, 5th ed. Philadelphia : Lea & Febiger. Muztabadihardja.,dkk.2012.Penuntun Universitas Pakuan Bogor. Praktikum Farmasi Fisika. Laboratorium Farmasi