Anda di halaman 1dari 15

PEMICU I TEKNOLOGI OLEOKIMIA

LAPORAN LENGKAP

KELOMPOK III (TIGA)

NAMA

NIM

M. RIFAI RAWA RICKY AFRIANTO NOFRIKO PRATAMA

100405003 100405018 100405046

DEPARTEMEN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2012

LAPORAN LENGKAP PEMICU 1 TEKNOLOGI OLEOKIMIA

A. Sejarah dan Perkembangan Oleokimia

Produk-produk olahan oleokimia telah dikenal sejak peradaban kuno, misalnya minyak olive dan kosmetik di peradaban mesir kuno, minyak wijen pada zaman China kuno dan sebagainya. Perkembangan oleokimia semakin pesat pada abad ke-20 ketika surfaktan ditemukan dan penggunaan minyak nabati semakin dikembangkan hingga muncul pernyataan dari Rudolf Diesel dalam presentasinya di British Institute of Mechanical Engineers pada tahun 1912 yang mengatakan: "The fact that fat oils from vegetable sources can be used may seem insignificant today, but such oils may perhaps become in course of time of the same importance as some natural mineral oils and the tar products are now."
B. Pengenalan Oleokimia Oleokimia merupakan bahan kimia yang berasal dari minyak/lemak alami, baik tumbuhan maupun hewani. Bidang keahlian teknologi oleokimia merupakan salah satu bidang keahlian yang mempunyai prospek yang baik dan penting dalam teknik kimia. Pada saat ini dan pada waktu yang akan datang, produk oleokimia diperkirakan akan semakin banyak berperan menggantikan produk-produk turunan minyak bumi (petrokimia). Pada saat ini, permintaan akan produk oleokimia semakin meningkat. Hal ini dapat dimaklumi karena produk oleokimia mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan produk petrokimia, seperti harga, sumber yang dapat diperbaharui dan produk yang ramah lingkungan. Pada saat ini industri oleokimia masih berbasis kepada minyak/trigliserida sebagai bahan bakunya. Hal ini terjadi karena secara umum, para pengusaha masih ragu untuk terjun secara langsung ke industri oleokimia. Masih sangat jarang dijumpai sebuah industri yang mengolah bahan baku langsung menjadi bahan kimia tanpa melalui trigliserida. Padahal secara ekonomi dan teknik, banyak produk dari bahan alami yang bisa diolah langsung dari bahan nabati tanpa melalui trigliserida. Contohnya adalah pengolahan secara langsung buah kelapa sawit menjadi asam lemak. Selama ini asam lemak dari kelapa sawit selalu diolah dari minyak/trigliserida. Padahal dari segi teknik dan ekonomi akan lebih efisien untuk mengolah secara langsung buah sawit menjadi

asam lemak melalui pengaktifan enzim lipase yang terkandung pada buah sawit. Hal ini juga bisa ditemukan pada bahan baku nabati lainnya.

C. Proses Pada Industri Oleokimia C.1 Proses Pembuatan Asam Lemak dan Gliserol melalui Splitting Hidrolisis CPO dengan H2O Hidrolisis CPO dengan H2O merupakan metode yang umum dipakai untuk menghasilkan asam lemak. Air memecah gugus alkil dalam trigliserida menjadi asam lemak dan gliserol pada proses hidrolisis minyak (fat splitting). Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :

CH2RCOO CHRCOO CH2RCOO trigliserida air


o

CH2OH + 3 H2 O CHOH CH2OH gliserol


o

3 RCOOH

asam lemak

Reaksi ini dilakukan pada suhu 240 C 260 C dan tekanan 45 50 bar. Pada proses ini derajat pemisahan mampu mencapai 99%. Hal yang membuat proses ini kurang

efisien adalah karena proses ini memerlukan energi yang cukup besar dan komponenkomponen minor yang ada di dalamnya seperti -karoten mengalami kerusakan.

Hidrolisis CPO secara Enzimatik Hidrolisis CPO secara enzimatik dilakukan dengan cara immobilized enzim lipase. Pada proses ini, kebutuhan energi yang diperlukan relatif kecil jika dibandingkan dengan proses hidrolisa CPO dengan H2O pada suhu dan tekanan tinggi. Pada proses ini, pemakaian enzim lipase dilakukan dengan cara berulang-ulang (reuse), karena harga enzim lipase yang sangat mahal. Reaksi yang terjadi pada proses hidrolisa secara enzimatik adalah sebagai berikut : CH2RCOO CHRCOO CH2RCOO trigliserida
o

CH2OH + 3 H2 O CHOH CH2OH air gliserol asam lemak + 3 RCOOH

Reaksi ini dilakukan pada kondisi optimum aktifitas enzim lipase yaitu pada suhu 35 C dan pH 4,7-5. Derajat pemisahan pada proses ini mampu mencapai 90%.

Hidrolisis Secara Langsung Buah Kelapa Sawit Secara Enzimatik Hidrolisis secara langsung buah kelapa sawit dengan mengaktifkan enzim lipase sebagai biokatalisator yang terdapat pada buah kelapa sawit merupakan suatu alternatif proses yang dapat dilakukan untuk memperoleh asam lemak. Enzim lipase yang terdapat pada buah sawit akan membantu air dalam menghidrolisis trigliserida menjadi asam lemak dan gliserol Jika proses ketiga dibandingkan dengan proses pertama dan kedua, dimiliki kelebihan dan kekurangan, antara lain : 1. Hidrolisis minyak sawit dengan air pada suhu dan tekanan tinggi mampu menghasilkan pemisahan asam lemak dengan gliserol sampai 99%, tetapi proses ini menggunakan CPO yang telah diolah dari tandan, disamping itu juga dapat merusak komponen-komponen minor yang terdapat dalam minyak sawit. Pada proses hidrolisis CPO secara enzimatik, kebutuhan energi relatif kecil. Kekurangan dari proses ini adalah harga enzim lipase yang sangat mahal. Pemakaian enzim lipase secara berulang-ulang dapat dilakukan, tetapi hal ini memerlukan tambahan proses untuk mendapatkan enzim lipase yang mempunyai kemampuan yang sama seperti

semula. Disamping itu, karena sifat enzim yang sangat sensitif terhadap temperatur dan pH, maka kemungkinan kerusakan pada enzim lipase secara tiba-tiba tentu saja dapat terjadi, sementara pemenuhan enzim lipase ini relatif sulit dilakukan karena faktor biaya dan supplier enzim lipase yang terbatas di pasaran. 2. Hidrolisis dengan mengaktifkan enzim lipase yang terdapat pada buah kelapa sawit jika ditinjau dari segi ekonomi dan teknik sangat baik sekali, karena sesuai dengan tujuannya yaitu untuk menghasilkan asam lemak dan gliserol, maka proses ini tidak perlu lagi melakukan pengolahan terlebih dahulu terhadap tandan buah segar menjadi minyak.

C.2 Esterifikasi Asam lemak Ada dua metode yang digunakan dalam esterifikasi yaitu proses batch dan proses kontinyu. Esterifikasi merupakan reaksi ionik yang merupakan gabungan dari reaksi adisi dan penataan ulang eliminasi. Reaksi tersebut berlangsung dibawah tekanan pada suhu 200- 250oC. Pada reaksi kesetimbangan, air dipindahkan secara mengembangkan esterifikasi

kontinyu untuk menghasilkan ester. Henkel telah countercurrent

kontinyu menggunakan kolom reaksi dodel plate. Teknologi ini

didasarkan pada prinsip reaksi esterifikasi dengan absorpsi simultan superheated metanol vapor dan desorpsi metanol- water mixture. Gambar 2 memperlihatkan proses kontinyu esterifikasi Henkel asam lemak. Reaksi ini menggunakan tekanan sekitar 1000 Kpa

dan suhu 240 C. Keuntungan dari proses ini adalah kelebihan metanol dapat dijaga secara nyata pada rasio yang rendah yaitu 1,5 : 1 molar metanol : asam lemak dibandingkan proses batch dimana rasionya 3-4 : 1 molar. Metil ester yang melalui proses distilasi tidak memerlukan proses pemurnian. Esterifikasi proses kontinyu

lebih baik daripada proses batch. Dengan hasil yang sama, proses kontinyu membutuhkan waktu yang lebih singkat dengan kelebihan metanol yang lebih rendah. Proses esterifikasi merupakan proses yang cenderung digunakan dalam produksi ester dari asam lemak spesifik. Laju reaksi esterifikasi sangat dipengaruhi oleh struktur molekul reaktan dan radikal yang terbentuk dalam senyawa antara. Data tentang laju reaksi serta mekanismenya disusun berdasarkan karakter kinetiknya, sedangkan data tentang perkembangan reaksi dinyatakan sebagai konstanta

kesetimbangan. Secara umum laju reaksi esterifikasi mempunyai sifat sebagai berikut: 1. Alkohol primer bereaksi paling cepat, disusul alkohol sekunder, dan paling lambat alkohol tersier 2. Ikatan rangkap memperlambat reaksi. Asam aromatik (benzoat

dan p-toluat) bereaksi lambat, tetapi mempunyai batas konversi yang tinggi 4. Makin panjang rantai alkohol, cenderung mempercepat reaksi atau tidak terlalu berpengaruh terhadap laju reaksi Proses yang dirancang untuk menyelesaikan reaksi esterifikasi

dikehendaki untuk sedapat mungkin mencapai 100%. Oleh karena itu reaksi esterifikasi merupakan kesetimbangan, maka angka 100% tidak mungkin

tercapai, dan sesuai informasi yang ada konversi yang dapat dicapai hanya sampai 98%. Nilai konversi yang tinggi dapat dicapai dengan ekses reaktan yang besar. Proses esterifikasi secara umum harus diketahui untuk dapat mendorong

konversi sebesar mungkin. Secara umum ada tiga golongan proses, dan penggolongan ini bergantung kepada volatilitas ester. Golongan 1. Dengan ester yang sangat mudah menguap, seperti metil format, metil asetat, dan etil format, titik didih ester lebih rendah daripada alkohol, oleh karena itu ester segera dapat dihilangkan dari campuran reaksi. Produksi metil asetat dengan metode distilasi Bachaus merupakan sebuah contoh dari golongan ini. Metanol dan asam asetat diumpankan ke dalam kolom distilasi dan ester segera dipisahkan sebagai campuran uap dengan metanol dari bagian atas kolom. Air terakumulasi di dasar tangki dan selanjutnya dibuang. Ester dan alkohol dipisahkan

lebih lanjut dalam kolom distilasi yang kedua. Golongan 2. Ester dengan kemampuan menguap sebaiknya dipisahkan dengan cara menghilangkan air yang terbentuk secara distilasi. Dalam beberapa hal, campuran terner dari alkohol, air dan ester dapat

terbentuk. Kelompok ini layak untuk dipisahkan lebih lanjut: dengan etil asetat, semua bagian ester dipindahkan sebagaicampuran uap dengan alkohol dan sebagian air, sedangkan sisa air akan terakumulasi dalam sistem. Dengan butil asetat, semua

bagian air dipindahkan ke bagian atas dengan sedikit bagian dari ester dan alkohol, sedangkan sisa ester terakumulasi dalam sistem. Golongan 3. Dengan ester yang

mempunyai volatilitas rendah, beberapa kemungkinan timbul. Dalam hal butil dan amil alkohol, air dipisahkan sebagai campuran biner dengan alkohol. Contoh proses untuk tipe seperti ini adalah pembuatan dibutil ftalat. Untuk menghasilkan ester dari (metil, etil, propil) dibutuhkan penambahan hidrokarbon

alkohol yang lebih pendek

seperti benzena dan toluena untuk memperbesar air yang terdistilasi.dengan alkohol bertitik didih tinggi (benzil, furfuril, b-feniletil) suatu cairan tambahan selalu diperlukan untuk menghilangkan kandungan air dari campuran.

Gambar Diagram produksi ester

2 alir metil dengan

esterifikasi

C.3 Proses Transesterifikasi Proses transesterifikasi dari lemak dan minyak merupakan proses yang paling umum digunakan dalam memproduksi metil ester, kecuali bila dibutuhkan metil ester dengan asam lemak spesifik. Trigliserida dapat dengan mudah ditransesterifikasi secara

batchwise pada tekanan atmosfer dan suhu 60-70 C dengan metanol berlebih dan menggunakan alkalis alkalin. Tahap awal yang diperlukan untuk memindahkan asam lemak bebas dari minyak adalah dengan cara permurnian atau pra-esterifikasi

sebelum proses transesterifikasi. Tahap ini tidak diperlukan jika reaksi dilakukan pada tekanan yang tinggi (9000 KPa) dan suhu yang tinggi (240 C). Pada kondisi ini, esterifikasi dan transesterifikasi terjadi secara kontinu. Campuran hasil reaksi pada akhir reaksi dibiarkan mengendap. Lapisan paling bawah dari gliserin dikeluarkan, lapisan paling atas, metil ester dicuci untuk memindahkan gliserin dan diproses lebih lanjut. Kelebihan metanol direcover ke kondensor dan dialirkan ke kolom rectifying untuk dimurnikan dan didaur ulang. Gambar 3 memperlihatkan diagram alir proses Henkel yang berlangsung pada tekanan 9000 Kpa dan suhu 240 C menggunakan minyak tidak murni (unref iined oil) sebagai feedstock. Minyak tidak murni (unref ined oil), metanol yang berlebih dan katalis diukur dan dipanaskan pada suhu 240o C

sebelum dialirkan ke reaktor. Kelebihan metanol dikeluarkan melalui reaktor dan diisikan pada kolom rak untuk proses pemurnian. dalam sistem. Reaksi yang terjadi : Metanol recover didaur ulang ke

D. Sumber Bahan Baku dan Produk Industri Oleokimia Sebagai sumber minyak dan lemak, industri oleokimia dapat menggunakan dua jenis sumber yaitu yang alami dan sintetik. Sumber alami minyak dan lemak dapat dihasilkan dari tumbuhan, binatang maupun dari laut. Sedangkan sumber sintetik adalah berasal dari minyak bumi dan tall oil. Sumber minyak/lemak alami yang berasal dari lautan adalah minyak ikan kod, dan minyak sarden (sarden Oil). Minyak/lemak yang berasal dari hewan adalah lemak hewan. Tumbuhan merupakan sumber minyak terbesar, dimana di dunia ini terdapat banyak jenis tumbuhan yang mengandung minyak yang tersebar di bagian tanaman. Sebagai sumber minyak, tumbuhan dikelompokkan menjadi dua yaitu plant oil yang antara lain terdiri dari minyak kelapa dan minyak sawit serla seed oil. Seed oil dapat dihasilkan dari biji-biji tanaman seperti biji kedelai, biji lobak, biji bunga matahari, biji kapas, kacang dan Lin seed.

Oleokimia dibagi menjadi dua yailu oleokimia dasar dan turunannya, Industri Oleokimia dasar (Basic Oleochemica/s ) dimulai dari suatu proses yang dinamakan Splitting atau Hydrolysis. Dalam proses hidrolisis, trigliserida dari minyak/lemak dipecah menjadi asam lemak dan gliserol dengan adanya air. Asam lemak dan gliserol inilah merupakan "basic building blocks" dari proses-proses turunan yang selanjutnya dari industri oleokimia. Berikut ini beberapa jenis produk asam lemak dan turunan asam lemak yang banyak digunakan dalam industri: 1. Fatty acid: Banyak dibutuhkan sebagai komponen utama dalam pembuatan sabun 2. Fatty acid esters: merupakan produk turunana asam lemak, dari berbagai fraksi asam lemak melalui proses etrefikasi menggunakan alkohol menghasilkan beberapa jenis ester yang sangat berguna dalam industri. Misalnya ester dari asam lemak C8 - C10 dengan ttrimethylol propane digunakan sebagai bahan pembuatan pelumas. C8 C10 yang diestrfikasi kembali dengan gliserol menghasilkan lemak berantai sedang (Medium Chain Triglesirides-MCT) yang memiliki viskositas rendah dan memiliki

sifat sangat stabil. MCT digunakan sebagai pelarut wangi-wangian (flovors), sebagai makanan diet karena mudah dicerna dan cepat menghasilkan energi. Esterfikasi asam lemak dengan monoalcohol misalnya isopropanol dengan meristic acid menghasilkan isopropyl myristate, salah satu komponen kosmetik. Gliserol monoester digunakan sebagai bahan pengemulsi pada industri pangan, bahan penghilang jamur dan pelumas dalam industri plastik. 3. Fatty alcohol: merupakan produk hasil hidrogenasi asam lemak atau ester asam lemak. Fatty alkohol dapat difraksinasi untuk memisahkan fraksi C8-C10 yang dikenal sebagai plasticizer range alcohol, dan C8-C12 sebagai deterget range alcohol. Plasticizer range alcohol berbentuk cair dan memiliki daya pelarut yang tinggi dapat digunakan dalam industri tinta printer dan cat. Esterfikasi dengan polycarboxylic acid seperti phthalic anhydride menghasilkan plasticizer khususnya untuk industri PVC. C12 C14 alkohol banyak digunakan sebagai additif pelumas dan dalam pembuatan minyak rem dan minyak hidrolik. C16-C18 fatty alkohol banyak digunakan sebagai campuran dalam pembuatan cream, lipstik, pasta, semir dan produk lainnya. 4. Polyglycol Ethers: dihasilkan dari hasil reaksi fatty alcohol dengan ethylene oxide digunakan sebagai surfaktan nonionik. Banyak digunakan sebagai bahan pembatu dalam industri tekstil, cairan pencuci, produk penghilang lemak dan pembuatan cairan pembersih. 5. Fatty Amides: misalnya Cocomonoethanolamide dan cocodiethanolamide dibuat dengan merekasikan asam lemak atau ester asam lemak dengan monoethanolamine atau diethanolamine banyak digunakan sebagai pembentuk busa (foam boosters) pada sampo dan produk detergen. 6. Fatty Amines: dihasilkan dari reaksi fatty acid dengan amonia dan hidrogen. Banyak digunakan dalam industri pembuatan bahan pelembut (softener) dan biosida. fatty amine oksida banyak digunakan sebagai bahan pembuatan sampo.

Extended Problem

Lemak dan minyak adalah salah satu kelompok yang termasuk pada golongan lipid , yaitu senyawa organik yang terdapat di alam serta tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik non-polar,misalnya dietil eter (C2H5OC2H5), Kloroform(CHCl3), benzena dan hidrokarbon lainnya, lemak dan minyak dapat larut dalam pelarut yang disebutkan di atas karena lemak dan minyak mempunyai polaritas yang sama dengan pelarut tersebut. Bahan-bahan dan senyawa kimia akan mudah larut dalam pelarut yang sama polaritasnya dengan zat terlarut . Tetapi polaritas bahan dapat berubah karena adanya proses kimiawi. Misalnya asam lemak dalam larutan KOH berada dalam keadaan terionisasi dan menjadi lebih polar dari aslinya sehingga mudah larut serta dapat diekstraksi dengan air. Ekstraksi asam lemak yang terionisasi ini dapat dinetralkan kembali dengan menambahkan asam sulfat encer (10 N) sehingga kembali menjadi tidak terionisasi dan kembali mudah diekstraksi dengan pelarut non-polar. Lemak dan minyak merupakan senyawaan trigliserida atau triasgliserol, yang berarti triester dari gliserol . Jadi lemak dan minyak juga merupakan senyawaan ester . Hasil hidrolisis lemak dan minyak adalah asam karboksilat dan gliserol . Asam karboksilat ini juga disebut asam lemak yang mempunyai rantai hidrokarbon yang panjang dan tidak bercabang. Sumber Lemak Dan Minyak: 1) Tanaman (Nabati) a. Kelompok tanaman palawija (jagung, kedelai, kacang tanah, biji matahari, dll.) b. Kelompok tanaman tahunan (kelapa sawit, kelapa, olive) c. Kelompok biji-bijian tanaman tahunan (cacao, inti sawit, kapas, kemiri, dll.) 2) Hewani a. Hewan ternak / peliharaan (lemak dari susu sapi, daging sapi, domba, dll.) b. Hasil Laut (minyak ikan paus, sardine, dll.) Sifat-sifat Lemak dan Minyak Sifat-sifat fisika Lemak dan Minyak 1. Bau amis (fish flavor) yang disebabkan oleh terbentuknya trimetil-amin dari lecitin 2. Bobot jenis dari lemak dan minyak biasanya ditentukan pada temperatu kamar 3. Indeks bias dari lemak dan minyak dipakai pada pengenalan unsur kimia dan untuk pengujian kemurnian minyak.

4. Minyak/lemak tidak larut dalam air kecuali minyak jarak (coastor oil0, sedikit larut dalam alkohol dan larut sempurna dalam dietil eter,karbon disulfida dan pelarut halogen. 5. Titik didih asam lemak semakin meningkat dengan bertambahnya panjang rantai karbon 6. Rasa pada lemak dan minyak selain terdapat secara alami ,juga terjadi karena asamasam yang berantai sangat pendek sebaggai hasil penguraian pada kerusakan minyak atau lemak. 7. Titik kekeruhan ditetapkan dengan cara mendinginkan campuran lemak atau minyak dengan pelarut lemak. 8. Titik lunak dari lemak/minyak ditetapkan untuk mengidentifikasikan minyak/lemak 9. shot melting point adalah temperratur pada saat terjadi tetesan pertama dari minyak / lemak 10. slipping point digunakan untuk pengenalan minyak atau lemak alam serta pengaruh kehadiran komponen-komponennya
Sifat-sifat kimia Minyak dan Lemak

1. Esterifikasi Proses esterifikasi bertujuan untuk asam-asam lemak bebas dari trigliserida,menjadi bentuk ester. Reaksi esterifikasi dapat dilakukan melalui reaksi kimia yang disebut interifikasi atau penukaran ester yang didasarkan pada prinsip transesterifikasi FriedelCraft.

2. Hidrolisa Dalam reaksi hidrolisis, lemak dan minyak akan diubah menjadi asam-asam lemak bebas dan gliserol. Reaksi hidrolisi mengakibatkan kerusakan lemak dan minyak. Ini terjadi karena terdapat terdapat sejumlah air dalam lemak dan minyak tersebut.

3. Penyabunan Reaksi ini dilakukan dengan penambhan sejumlah larutan basa kepada trigliserida. Bila penyabunan telah lengkap,lapisan air yang mengandung gliserol dipisahkan dan gliserol dipulihkan dengan penyulingan.

4. Hidrogenasi Proses hidrogenasi bertujuan untuk menjernihkan ikatan dari rantai karbon asam lemak pada lemak atau minyak . setelah proses hidrogenasi selesai , minyak didinginkan dan katalisator dipisahkan dengan disaring . Hasilnya adalah minyak yang bersifat plastis atau keras , tergantung pada derajat kejenuhan. 5. Pembentukan keton Keton dihasilkan melalui penguraian dengan cara hidrolisa ester.

6. Oksidasi Oksidasi dapat berlangsung bila terjadi kontak antara sejumlah oksigen dengan lemak atau minyak . terjadinya reaksi oksidasi ini akan mengakibatkan bau tengik pada lemak atau minyak.