Anda di halaman 1dari 13

I.

IDENTITAS PASIEN Nama Jenis Kelamin Umur Alamat Agama Pekerjaan Tanggal masuk RS Tanggal pemeriksaan Tanggal Operasi : An. A : Laki-laki : 14 tahun : Slahung : Islam : Pelajar : 2 Juli 2012 : 3 Juli 2012 : 4 Juli 2012

II.

ANAMNESIS A. Keluhan utama : Nyeri pada tangan kanan B. Riwayat Penyakit Sekarang : Pasien datang ke IGD RSUD Ponorogo dengan keluhan nyeri pada tangan kanan, nyeri dirasakan sangat mengganggu, tidak menjalar, semakin memberat saat digerakkan dan berkurang bila diistirahatkan. Nyeri dirasakan setelah pasien jatuh dari kursi, sebelum jatuh pasien tidak ada gangguan dalam menggunakan tangannya untuk beraktivitas. Setelah terjatuh pasien masih bisa menggerakkan tangan kanannya namun bentuk tangannya bekok, serta nyeri saat digerakkan. Pada lokasi nyeri terdapat adanya luka kecil serta bengkak. Pasien mengaku dirinya terjatuh dari kursi, pada hari Selasa pukul 10 malam. Pasien terjatuh dengan posisi tangan kanan menahan berat tubuh. Pasien langsung dibawa ke IGD RSUD Ponorogo. Pasien mendapat pertolongan pertama, luka pada tangannya dijahit kemudian dibidai.

Pasien tidak mengeluh adanya nyeri dibagian tubuh lain, pingsan (-), pusing (-), sakit kepala (-), demam (-), mual (-), muntah (-), sesak nafas (-), nyeri dada (-), nyeri perut (-), . C. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat Asma Riwayat Alergi Riwayat Hipertensi Riwayat Penyakit Jantung/Paru Riwayat Diabetes Mellitus Riwayat Sakit Ginjal/Liver Riwayat Operasi sebelumnya Riwayat Trauma` : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : disangkal : ada, pasien jatuh dari motor

1 bulan yang lalu dan terdapat luka lecet pada lengan kanan dan tungkai kanan D. Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat Alergi dalam keluarga Riwayat Asma dalam keluarga : disangkal : disangkal

Riwayat Hipertensi dalam keluarga : disangkal Riwayat DM dalam keluarga : disangkal

E. Anamnesis Sistem Sistem Serebrospinal Sistem Respirasi : Pusing (-), Demam (-) : Batuk (-), Pilek (-), sulit bernafas (-)

Sistem Kardiovaskuler : Nyeri dada (-), Pucat (-) Sistem Digestivus Sistem Urogenital : Mual (-), Muntah (-), BAB lancar : BAK lancar, jernih kekuningan, nyeri (-)

Sistem Muskuloskeletal : Ada hambatan dalam bergerak di regio antebrachii dan manus Sistem Integumentum : Suhu teraba hangat

III. PEMERIKSAAN FISIK A. Status Generalis Keadaan Umum Gizi Kesadaran Vital Sign Tek. Darah Nadi RR Suhu B. Pemeriksaan fisik a) Kepala/Leher Jejas (-), ekskoriasi (-), nyeri tekan (-), hematom (-), rhinorea (-), otorhea (-), peningkatan JVP (-), pembesaran kelenjar getah Bening (-), Brill hematome (-) : 110/80 mmHg : 84 x/menit isi cukup dan reguler : 18 x/menit : 36,1 oC per axilla : Baik : Cukup : Compos mentis, GCS E4V5M6

b) Mata Konjungtiva Sklera Pupil : Anemis (+/+) : Ikterus (-/-) : Ukuran 4 mm reguler, Reflek cahaya (+/+), isokor (+/+) Palpebra : Edema (-/-)

c) Thoraks Dinding thoraks : Jejas (-) Paru - Inspeksi - Palpasi : Gerakan Pernafasan Simetris kanan dan kiri : Ketinggalan gerak (-)

Fremitus depan N N N N N N belakang N N N N N N

Perkusi

depan

belakang

Sonor Sonor Sonor Sonor Sonor Sonor Sonor Sonor Sonor Sonor Sonor Sonor -

Auskultasi depan belakang

Vesikuler Vesikuler Vesikuler Vesikuler Vesikuler Vesikuler Vesikuler Vesikuler Vesikuler Vesikuler Vesikuler Vesikuler

Suara tambahan Wheezing (-/-), Ronkhi (-/-)

Jantung - Inspeksi - Palpasi - Perkusi : Iktus kordis tidak tampak : Iktus kordis tidak kuat angkat : Batas jantung tidak membesar 4

- Auskultasi (-) d) Abdomen Inspeksi

: Suara Jantung I-II regular, Bising jantung

: Jejas (-), distensi (-), darm steifung (-), darm contour (-)

Auskultasi Perkusi

: Peristaltik (+) bising usus normal : Timpani, hepar pekak, hepatomegali (-), splenomegali (-)

Palpasi

: Supel, nyeri tekan (-), defans muskular (-), hepatomegali (-), splenomegali (-)

e) Ekstremitas Atas : ekskoriasi (-/-), luka terbuka (+/-) pada regio

antebrachii ventral 1/3 distal ukuran 1x 0,25x 0,25 cm Bawah : ekskoriasi (-/-), luka terbuka (-/-)

C. Status Lokalis a) Lokasi trauma b) Look Deformitas Edema Luka : (+) angulasi ke dorsal : (+) : (+) 1 x 0,25 x 0,25 cm pada ventral 1/3 distal antebrachii dextra c) Feel False movement Nyeri tekan Krepitasi Akral Hangat Capilarry refill time Pulsasi a. radialis : (+) : (+) : (-) : (+) : (+) : (+) pulsasi a. radialis kanan teraba, irama reguler : Regio Antebrachii Dextra

Fungsi sensorik

: n. Radialis (+) n. Ulnaris (+) n. Medianus (+)

d) Move Nyeri gerak Fungsi Motorik : (+) : n. Radialis (sde karena edema) n. Medianus (sde karena edema) n. Ulnaris (sde karena edema) ROM : terbatas karena nyeri

IV.

DIAGNOSIS BANDING Soft Tissue Injury Suspect Closed Fracture Radius 1/3 Distal Suspect Closed Fracture Ulna 1/3 Distal

V.

PLANNING DIAGNOSA Foto Rontgen Antebrachii Dextra AP dan Lateral

VI.

TERAPI Pemasangan IV line Analgetik (Inj. Ketorolac 2 x 30mg) Bidai atau spalk

VII. EDUKASI Istirahatkan lengan kanan

VIII. PEMERIKSAAN PENUNJANG

A. Pemeriksaan Radiologi

Foto Rontgen Antebrachii Dextra AP dan Lateral seorang laki-laki berusia 14 tahun : Tampak soft tissue swelling Susunan tulang baik Sela sendi tak menyempit Permukaan sendi reguler Tampak dikontinuitas jaringan tulang Radius dan Ulna 1/3 distal Tak tampak lesi litik dan sklerotik Kesan : gambar fraktur pada Radius dan Ulna 1/3 distal Kanan 7

IX.

DIAGNOSA Closed Fracture 1/3 Distal Radius Ulna Dextra Komplit Displaced

X.

PLANNING TERAPI Terapi Konservatif :

Reposisi tertutup manual dan Immobilisasi dengan above-elbow plaster cast pada posisi netral dipertahankan selama 6 minggu Terapi Operatif :

Open Reduction Internal Fixation Plating

XI.

TINDAKAN OPERASI Macam Posisi : Open Reduction Internal Fixation Plating : Terlentang

Jenis Anastesi : General Anaesthesy A. Pre-operatif Informed consent pemasangan intravena line dan pemberian profilaksis antibiotik (Seftriakson 1gr). B. Intra-operatif Pasien masuk ke ruang OK, diposisikan terlentang di atas meja operasi, dan dianastesi dengan general anestesi. Daerah operasi didesinfeksi dengan savlon dan betadine. Persempit daerah operasi dengan duk steril. Insisi sisi distal Radius dextra, mulai dari kulit, fascia, perdalam insisi lapis demi lapis sambil rawat pendarahan. Insisi fascia, diperdalam lapis demi lapis dan ditemukan Fraktur Radius 1/3 distal. Dilakukan reposisi fraktur. Dilakukan fiksasi dengan plate dan screw 1 buah. Cek stabilitas. Setelah stabil, cuci lapang operasi dan tutup lapis demi lapis. 8

Insisi sisi distal Ulna dextra, mulai dari kulit, fascia, perdalam insisi lapis demi lapis sambil rawat pendarahan. Insisi fascia, diperdalam lapis demi lapis dan ditemukan Fraktur Ulna 1/3 distal. Dilakukan reposisi fraktur. Dilakukan fiksasi dengan plate dan screw 1 buah. Cek stabilitas. Setelah stabil, cuci lapang operasi dan tutup lapis demi lapis.

XII.

PLANNING A. Terapi Infus RL 16 tpm Antibiotik (Inj. Ceftriaxone 2 x 1g) Analgetik (Inj. Ketorolac 2x 30 mg)

B. Edukasi Segera melatih sendi-sendi proximal dan distal dari fragmen fraktur. Lengan tetap dielevasi hingga pembengkakan mereda

C. Rehabilitasi Active dan passive ROM exercise

REFLEKSI KASUS Pasien laki-laki berusia 14 tahun, datang ke RSUD Dr. Harjono Ponorogo dengan keluhan nyeri pada tangan kanan setelah terjatuh dari kursi, nyeri dirasakan sangat mengganggu, tidak menjalar dan terasa semakin memberat saat digerakkan serta berkurang bila diistirahatkan. Dari pemeriksaan fisik regio antebrachii dextra didapatkan pada look: deformitas (+) angulasi ke dorsal, edema (+), luka (+) feel: false movement (+), nyeri tekan (+),krepitasi (-), move: Nyeri gerak (+), ROM terbatas karena nyeri. Dari hasil foto rontgen didapatkan dikontinuitas jaringan tulang Radius dan Ulna 1/3 distal. Kemudian dilakukan open reduction plating 2 plate pada Radius dan Ulna dextra pada 4 Juli 2012. Pada pasien ini mengalami fraktur Radius dan Ulna 1/3 distal. Fraktur pada regio wrist dan lengan bawah sangat sering terjadi pada anakanak karena sering jatuh di mana gaya diteruskan dari lengan ke Radius dan Ulna. Fraktur 1/3 distal Radius dan Ulna komplit displaced umumnya terjadi pada masa anak-anak. Saat hanya Radius saja yang fraktur, fraktur menjadi supinasi; reduksi yang paling stabil adalah pronasi. Namun saat Radius dan Ulna fraktur, reduksi yang paling stabil dengan posisi lengan bawah netral dengan above-elbow cast selama 6 minggu.1 Fraktur lengan bawah pada dewasa sulit untuk ditangani dibandingkan dengan fraktur pada anak-anak. Trauma langsung biasanya mengakibatkan fraktur transversal pada tingkat yang sama (paling banyak pada 1/3 tengah) sedangkan pada trauma tak langsung hampir selalu mengakibatkan rotasi yaitu fraktur oblique atau spiral pada tingkat yang berbeda. Deformitas rotasi tambahan dapat ditimbulkan oleh tarikan otot-otot yang melekat pada Radius: otot itu adalah biseps dan otot supinator pada 1/3 bagian atas, pronator teres pada sepertiga pertengahan, pronator quadratus pada sepertiga bagian bawah. 2 Gambaran klinik fraktur ini biasanya sangat jelas, tetapi nadi harus diraba dan tangan diperiksa untuk mencari ada tidaknya defisit peredaran darah atau saraf.2

10

Pada pasien ini didapatkan hasil foto rontgen tampak fraktur 1/3 distal Radius dan Ulna secara melintang pada tingkat yang sama. Gambaran sinar-X fraktur Radius dan Ulna yaitu kedua tulang fraktur, baik secara melintang pada tingkat yang sama atau secara oblik dengan fraktur Radius biasanya pada tingkat yang lebih tinggi. Pada anak-anak fraktur sering tidak lengkap (greenstick) dan hanya berangulasi. Pada orang dewasa pergeseran dapat terjadi pada setiap arah, tumpang tindih miring atau memuntir.2 Reduksi tertutup pada kedua fraktur memungkinkan untuk menggunakan traksi dan berbagai macam derajat pronasi dan supinasi bergantung pada deformitas. Reduksi terbuka biasanya diperlukan fraktur Radius dan Ulna pada dewasa sebagai penanganan primer atau sekunder setelah gagal dengan reduksi tertutup. Internal fiksasi yang paling efektif pada fraktur ini adalah plate and screws. Radius biasanya menyembuh lebih cepat dari Ulna.1 Pada anak-anak reduksi tertutup biasanya berhasil dan fragmen dipertahankan dalam gips panjang lengkap, dari aksila sampai ke metakarpal; alat ini diterapkan dengan posisi siku 90 derajat dengan lengan bawah pada posisi netral. Posisi itu diperiksa dengan sinar-x setelah 2 minggu dan kalau memuaskan, pembebatan dipertahankan hingga fraktur menyatu (biasanya 6-8 minggu). Selama periode ini dianjurkan melakukan latihan tangan dan bahu. Anak harus tidak boleh berolahraga untuk mencegah terjadi fraktur ulang.Adakalanya operasi diperlukan jika fraktur tidak bisa direduksi atau fragmen sangat tidak stabil. Fiksasi dapat menggunakan small plate, Kirschner Wires (K-Wires) atau flexible intramedullary nails.2 Pada orang dewasa, reduksi sukar dilakukan dan pergeseran kembali dalam gips hampir selalu terjadi, kecuali kalau fragmen dalam aposisi dekat. Hasilnya sangat sulit diprediksi, sehingga para ahli memilih reduksi terbuka dan fiksasi internal. Fragmen dipertahankan dengan menggunakan plat dan sekrup. Fasia yang dalam dibiarkan terbuka untuk mencegah terjadinya tekanan dalam kompartemen otot, dan hanya kulit dan jaringan sub kutan lah yang dijahit. Setelah operasi lengan tetap dielevasi hingga pembengkakan mereda, dan selama periode ini latihan aktif dianjurkan. Tulang menyatu dalam 8-12 minggu.2 11

Komplikasi fraktur Radius dan Ulna yaitu: 1. Early a. Cedera saraf b. Cedera pembuluh darah c. Sindrom kompartemen

2. Late a. Delayed union dan non union b. Malunion c. Komplikasi pelepasan plat

12

DAFTAR PUSTAKA

1. Salter, Robert Bruce. 1999. Specific Fractures and Joint Injuries in Children In : Textbook of Disorders and Injuries of the Musculoskletal System 3rd Edition. USA : Lippincott Williams & Wilkins . pp: 513-516

2. Solomon L, Warwick DJ, Nayagama S. 2001. Injury of the Forearm and Wrist in Apleys System of Orthopaedics and Fractures Eigth Edition. London: Arnold International Student Edition. pp: 611-613

13