Anda di halaman 1dari 17

BAB I KONSEP A.

Pengertian Menurut WHO, hipertensi merupakan sindroma dimana terjadi peningkatan tekanan darah diatas nilai normal rata-rata atau lebih dari 140/90 mmHg (Soeparman, 1999, hal 205). B. Etiologi 1. Faktor keturunan 2. Ciri-ciri perseorangan a. b. c. a. b. c. d. Umur Jenis kelamin Ras Konsumsi garam tinggi Kegemukan atau makan berlebihan Stres atau ketegangan jiwa Pengaruh lain 1). Merokok 2). Peminum alkohol 3). Obat-obatan C. Klasifikasi 1. Berdasarkan penyebabnya Umumnya hipertensi dibagi menjadi 2 yaitu a. Hipertensi primer Hipertensi ini disebut juga hipertensi essensial sampai saat ini belum diketahui secara pasti penyebabnya dari hipertensi primer ini. b. Hipertensi sekunder Jenis hipertensi yang diketahui penyebabnya seperti kelainan ginjal, endokrin, kelainan pembuluh darah.

3. Kebiasaan Hidup

2. Berdasarkan klasifikasi hipertensi a. Klasifikasi menurut jenis macamnya 1). Hipertensi sistolik a). Pada hipertensi ini hanya tekanan sistolik yang meningkat. b). Kekuatan jantung kiri yang meningkat c). Aorta yang kaku karena adanya degenerasi dari dinding d). Kapasitas yang mengurangi dari aorta 2). Hipertensi dengan peningkatan tekanan sistole dan diastolik b. Klasifikasi menurut tingkatan kliniknya 1). Fase benigna Tekanan darah sistolik maupun diastolik belum begitu meningkat bersifat ringan atau sedang dan belum tampak kelainan atau kerusakan dari target organ (otak, mata, jantung dan ginjal) 2). Fase maligna Tekanan darah diastolik terus menerus meningkat biasanya lebih dari 130 mmHg diastolik dan terdapat kelainan serta kerusakan dari organOrgan target yang bersifat progresif. 3. Berdasarkan tingkatan a. Hipertensi borderline Pada hipertensi ini, tekanan darahnya berubah-ubah antara normal dan tinggi. Hal ini tergantung pada keadaan atau emosi dan beberapa kali banyaknya tekanan darah diperiksa. b. Hipertensi ringan Pada golongan ini, tekanan darah diastolik selalu lebih dari 90 mmHg (rata-rata 90-104), tetapi jarang mendapat komplikasi kegagalan faal jantung kongesti dan kerusakan faal ginjal. c. Hipertensi sedang Pada penderita hipertensi ini, tekanan darah diastolik selalu sekitar 105-114 mmHg pada pemeriksaan tekanan darah berulang-ulang. Pada hipertensi sedang, memerlukan pengobatan yang seksama karena mempunyai resiko mendapat komplikasi yang membahayakan

d.

Hipertensi berat Pada penderita hipertensi golongan ini, tekanan darah diastolik selalu sekitar 115-129 mmHg. Keadaan ini dapat menimbulkan komplikasi yang berbahaya, apabila tidak diobati.

D. Manifestasi klinik 1. 2. 3. 4. 5. 6. Sakit kepala Lemas Sesak nafas Kelelahan Kesadaran menurun Gelisah 7. Susah tidur 8. Mual 9. Muntah 10. Epistaksis 11. Kelemahan otot 12. Perubahan mental.

E. Patofisiologi Dalam keadaan normal jantung memiliki kemampuan untuk memompa lebih dari daya pompanya dalam keadaan istirahat. Kalau jantung menderita beban volume atau tekanan berlebihan secara terus-menerus, maka ventrikel dapat melebar untuk meningkatkan daya kontraksi sesuai dengan hukum starling yaitu hipertrophi untuk meningkatkan jumlah otot dan kekuatan memompa sebagai kompensator alamiah. Jika mekanisme pengkompensasian tidak dapat menopang perfusi perifer yang memadai, maka aliran harus dibagi sesuai kebutuhan. Darah akan dipindahkan dari daerah-daerah yang tidak vital seperti kulit dan ginjal sehingga perfusi darah ke otak dan jantung dapat dipertahankan. Akibatnya tanda permulaan dari syok atau perfusi jaringan yang tidak adekuat adalah berkurangnya pengeluaran air seni, kulit dingin. Perubahan bermakna pada aliran darah yang menuju organ vital terjadi. Tekanan arteri sistemik ditimbulkan oleh cardiac output dan tahanan perifer total. Cardiac output ditentukan oleh isi sekuncup (stroke volume) dan denyut jantung. Sedang tahan perifer dipelihara oleh sistem saraf otonom dan sirkulasi hormon. Setiap perubahan pada tahanan perifer, denyut jantung dan stroke volume akan merubah tekanan arteri sistemik. Terdapat empat sistem kontrol yang mempertahankan tekanan darah yaitu sistem baroreseptor arteri, regulasi volume cairan tubuh, sistem renin angiotensin dan autoregulasi vaskuler. 3

Stimulasi baroreseptor di sinus karotikus dan arkus aorta akan merangsang sistem saraf simpatik sehingga menimbulkan peningkatan epinefrin dan norepinefrin. Keadaan ini menimbulkan peningkatan cardiac output dan resistensi vaskuler sistemik. Perubahan volume cairan akan mempengaruhi tekanan arteri sistemik. Jika di dalam tubuh terdapat air dan garam yang berlebihan, maka akan meningkatkan aliran balik vena, cardiac output dan tekanan. Autoregulasi pembuluh darah adalah proses yang mempertahankan perfusi ke suatu jaringan tetap konstan. Jika aliran berubah, proses autoregulasi akan menurunkan resistensi vaskuler sehingga mengakibatkan penurunan atau peningkatan aliran. Meskipun jelas bahwa aterosklerosis dan hipertensi ada hubungannya, hal ini tidak tentu mana penyebab dan mana akibat. Dalam beberapa kasus aterosklerosis, meningkatnya tekanan arteri dan resistensi perifer terhadap aliran darah, memberikan dampak terhadap aliran darah yang meningkat. Renin merupakan enzim yang disekresikan oleh sel jukstaglumerulus ginjal dan terikat dengan aldeosteron dalam lingkungan umpan balik negatif. Produk akhir kerja renin pada subtratnya adalah pembentukan angiotensin peptida II, mempengaruhi aldosteron untuk terjadi pengikatan natrium dan air ke interstitial sehingga volume pembuluh darah meningkat. Ketidakcocokan sekresi renin meningkatkan perlawanan periphenal, mitral eskemi arteri ginjal akan membebaskan renin yang menyebabkan kontraksi arteri dan meningkatkan tekanan darah. Dalam rokok terdapat nikotin yang dapat mengendap di dalam pembuluh darah yang mengakibatkan arteriosklerosis sehingga kerja dalam pembuluh darah tidak dapat sempurna yang berakibat timbulnya peningkatan tekanan darah. Stres dapat menyebabkan tekanan batin ini terjadi berulang-ulang. Naiknya tekanan darah menyebabkan kelainan pada dinding pembuluh nadi, menyebabkan otot pada pembuluh darah tebal menyempitkan pembuluh darah menyebabkan hipertensi menjadi permanen. Nyeri kepala disebabkan karena suplai nutrisi ke otak berkurang yang berakibat pada kelemahan sehingga menyebabkan masalah intoleransi aktifitas dan defisit perawatan diri.

F. Pemeriksaan penunjang 1. Urin analisa 2. Darah perifer lengkap 3. Kimia darah Kalium, natrium, kreatinin, gula darah puasa, kolesterol total, kolesterol HDL 4. EKG 5. Klirens kreatinin 6. Protein urine 24 jam 7. Asam urat 8. Kolesterol LDL dan TSH 9. Ekokardiografi G. Penatalaksanaan 1. Pencegahan a. b. c. d. e. f. g. Mengurangi konsumsi garam Menghindari kegemukan Membatasi konsumsi lemak Olahraga teratur dan latihan relaksasi atau meditasi Makan banyak buah dan sayur segar Tidak merokok dan minum alkohol Berusaha membina hidup positif

H. Patway
Stres Rokok Kegemukan Ciri perseorangan 1. Umur 2. Jenis kelamin 3. Ras Obat-obatan Konsumsi garam tinggi

Ketidakseimbangan sekresi natrium Kolestrol tinggi Pengendapan nikotin Kelainan pembuluh darah

Na di resorbsi

Penyempitan pembuluh darah Tubuh mengeluarkan Hormon norepinefrin Kerja jantung meningkat Kompensasi Gagal Hipertensi permanen Suplai nutrisi ke otak terganggu Pembuluh darah otak pecah Sistim renin angiotensi

Tekanan darah naik

Pusing

Kelemahan Intoleransi aktivitas

Syok

Nutrisi Defisit perawatan diri

Stroke / CVA

BAB II KEBUTUHAN DASAR MANUSIA A. Pengertian 1. Perubahan kenyamanan Keadaan dimana individu mengalami sensasi yang tidak menyenangkan dalam berespon terhadap suatu rangsang yang berbahaya. 2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Suatu keadaan dimana individu yang tidak puasa mengalami atau yang beresiko mengalami penurunan berat badan yang berhubungan dengan masukan yang tidak adekuat atau metabolisme nutrien yang tidak adekuat untuk kebutuhan metabolik. 3. Intoleransi aktifitas Keadaan dimana orang tidak mampu melakukan aktivitas minimal. 4. Defisit perawatan diri Keadaan dimana individu mengalami suatu kerusakan fungsi motorik atau kognitif yang menyebabkan penurunan kemampuan untuk melakukan masingmasing dari kelima akitivitas perawatan diri. B. Anatomi Fisiologi

C. Hal yang terkait dengan Kebutuhan Dasar manusia 1. Perubahan kenyamanan a. Definisi Keadaan dimana individu mengalami sensasi yang tidak menyenangkan dalam berespon terhadap suatu rangsang yang berbahaya. b. Batasan karakteristik 1). Mayor Individu memperlihatkan atau melaporkan ketidaknyamanan. 2). Minor a). Respon autonom nyeri b). Tekanan darah naik c). Nadi meningkat d). Pernafasan meningkat e). Diaforesis f). Pupil dilatasi g). Posisi berhati-hati h). Raut wajah kesakitan i). j). a. Definisi Suatu keadaan dimana individu yang tidak puasa mengalami atau yang beresiko mengalami penurunan berat badan yang berhubungan dengan masukan yang tidak adekuat atau metabolisme nutrien yang tidak adekuat untuk kebutuhan metabolik. b. Batasan karakteristik 1). Mayor (Harus terdapat) Individu yang tidak puasa atau mengalami : masukan makanan tidak adekuat kurang dari yang dianjurkan dengan atau tanpa penurunan berat badan atau kebutuhan-kebutuhan metabolik aktual atau potensial dalam masukan yang berlebihan. 2). Minor a). Berat badan 10% sampai 20% atau dibawah berat badan ideal untuk tinggi dan kerangka tubuh. 8 Menangis, merintih Terasa sesak pada abdomen

2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

b). Lipatan kulit trisep, lingkar lengan tengah dan lingkar otot pertengahan lengan kurang dari 60% standar pengukuran. c). Kelemahan otot dan nyeri tekan d). Peka rangsang mental dan kekacauan mental e). Penurunan albumin serum f). Penurunan transferin serum atau penurunan kapasitas ikatan besi. c. Faktor yang berhubungan 1). Muntah 2). Penurunan keinginan utnuk makan sekunder akibat anoreksia, depresi, stres, isolasio sosial, mual dan muntah atau alergi. d. Kreteria Hasil 1). Meningkatkan masukan oral 2). Menjelaskan faktor-faktor penyebab apabila diketahui 3). Menjelaskan rasionalisasi dan prosedur untuk pengobatan. e. Intervensi 1). Tentukan kebutuhan kalori harian yang realitis dan adekuat, konsulkan dengan ahli gizi. 2). Timbang setiap hari, pantau hasil pemeriksaan laboratorium. 3). Jelaskan pentingnya nutrisi yang adekuat. Negosiasikan dengan klien tujuan masukan untuk setiap kali makan dan makan-makanan kecil 4). Beri dorongan individu untuk makan dengan orang lain. 5). Rencanakan perawatan sehingga prosedur yang tidak mneyenangkan atau yang menyakitkan tidak dilakukan sebelum makan. 6). Atur rencana perawatan untuk mengurangi atau menghilangkan bau yang menyebabkan ingin muntah atau prosedur yang dilakukan mendekati waktu makan. 7). Ajarkan atau bantu individu untuk isirahat sebelum makan 8). Pertahankan kebersihan mulut yang baik sebelum dan sesudah mengunyah makanan. 9). Tawarkan makan porsi kecil tapi sering untuk mengurangi perasaan tegang pada lambung. 10).Atur agar mendapatkan nutrien yang berprotein / kalori sangat tinggi yang disajikan pada saat individu ingin makan. 9

3. Intoleransi aktifitas 4. Defisit perawatan diri a. Definisi Keadaan dimana individu mengalami suatu kerusakan fungsi motorik atau kognitif b. yang menyebabkan penurunan kemampuan untuk melakukan masing-masing dari kelima akitivitas perawatan diri. Batasan karakteristik 1). Kurang kemampuan harus ada dalam setiap aktivitas (Mayor) Kurangnya kemampuan untuk makan sndiri Kurangnya kemampuan untuk mandi sendiri termasuk membasuh keseluruhan tubuh, menyisir rambut, menggosok gigi, melakukan perawatan terhadap kulit dan kuku. Evaluasi 0 = Benar-benar mandiri 1 = Memerlukan penggunaan alat bantu 2 = Memerlukan bantuan minimal 3 = Memerlukan bantuan atau beberapa pengawasan 4 = Memerlukan pengawasan total 5 = Memerlukan bantuan total atau tidak dapat membantu 2). Kurangnya kemampuan mengenakan pakaian sendiri 3). Kurangnya kemampuan untuk kekamar mandi 4). Kurangnya perawatan diri c. Pengkajian Ketidakmampuan atau kesulitan dalam beberapa aktivitas yang terobservasi atau dilaporkan masing-masing dari empat area perawatan diri. d. Kreteria Hasil Individu akan : 1). Mengidentifikasi kesukaan aktivitas perawatan diri 2). Mendemonstrasikan kebersihan optimal setelah bantuan dalam perawtan diberikan 3). Berpartisipasi secara fisik dan atau verbal dalam aktivitas pemberian makanan, mengenakan pakaian , ke kamar mandi, mandi. 10

e.

Intervensi 1). Kaji faktor penyebab atau yang berperan a). Kemunduran pengelihgatan b). Kegagalan proses berpikir c). Penurunan motivasi d). Kegagalan mobilisasi e). Kurang pengetahuan f). Ketidakadekuatan dukungan sosial g). Regresi h). Perilaku ritualistik yang berlebihan 2). Tingkatkan partisipasi optimal 3). Tingkatkan harga diri dan penentuan diri 4). Evaluasi kemampuan untuk berpartisipasi dalam setiap aktivitas perawatan 5). Beri dorongan untuk mengekspresikan perasaan tentang kurang perawatan diri 6). Untuk kurang perawatan diri yang berkaitan dengan kelainan mental a). Beri dorongan ketidaktergantungan dan keterlibatan. Hargai setiap keterlibatan yang dilakukan klien b). Berikan bantuan dalam aktivitas perawatan diri. Tetap tidak memberikan penilaian c). Hindari peningkatan ketergantungan individu dengan tidak campur tangan saat klien menunjukkan kemampuan d). Gali perasaan individu tentang ketidakmampuannya dan kebutuhan akan bantuan. Dengan halus gali ketidakmampuan dan tujuannya 7). Rujuk pada intervensi dibawah setiap diagnosis, kurangnya kemampuan perawatan diri terhadap : makan, mandi, berpakaian, dan kurang perawatan diri toileting jika diindikasikan.

11

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN A. Pengkajian 1. Aktifitas dan Istirahat : Subjektif : a. b. c. d. Kelemahan, fatigue, nafas pendek. Objektif : denyut jantung meningkat Perubahan irama jantung Tachipnea

2. Sirkulasi : Subjektif : a. b. a. b. c. d. e. f. g. Riwayat hipertensi, atherosklerosis, penyakit jantung koroner, penyakit cerebrovaskuler. Papitasi Peningkatan Tekanan darah Postural hipotensi Nadi : kuat pada karotis, jugural dan radial. Tachicardi Bunyi jantung III atau IV. JVP meningkat Ekstermitas : dingin, capillary refill meningkat, pucat, sianosis, diaporesis. 3. Integritas ego : Kecemasan, depresi, euphoria, mudah marah. 4. Eliminasi : Riwayat obstruksi atau penyakit ginjal. 5. Makanan atau Cairan : Subjektif : a. b. c. d. Riwayat makanan tinggi garam, lemak, kolestrol. Mual, muntah Perubahan berat badan Riwayat penggunaan diuretik 12 Objektif :

Objektif : a. b. Berat badan meningkat Adanya edema, kongesti vena.

6. Neurosensori : Subjektif : a. b. c. d. e. a. b. c. Pusing Sakit kepala suboksipital Mati rasa atau kelemahan pada salah satu sisi. Gangguan penglihatan : diplopia, pandangan kabur Epistaksis Perubahan status mental. Edema pupil Perdarahan retina.

Objektif :

7. Nyeri atau rasa nyaman : Subjektif : a. b. c. Nyeri angina Nyeri intermitten pada kaki Nyeri abdomen

8. Respirasi : Subjektif : a. b. c. d. a. b. c. a. b. Sesak napas pada saat aktifitas Tachipnea, orthopnea, PND Batuk dengan atau tanpa sputum Riwayat merokok Distress pernapasan atau penggunaan otot bantu pernapasan Bunyi napas tambahan Sianosis Gangguan koordinasi Postural hipotensi.

Objektif :

9. Keamanan :

13

10. Pemeriksaan Diagnostik : a. Laboratorium : 1). Proteinuri, hematuri 2). BUN > 20 mg/dl 3). Kreatinin > 1,5 meq/L 4). Kalium >5 mEq/L. b. EKG : Hipertrofi ventrikel kiri.

B. Diagnosa Keperawatan, Intervensi dan Rasionalisasi 1. Perubahan kenyamanan (Pusing) / nyeri akut Berhubungan dengan peningkatan tekanan cerebral Kemungkinan dibuktikan dengan a. Keluhan nyeri berdenyut yang terletak pada region suboksipital, terjadi pada saat bangun dan hilang secara spontan setelah beberapa waktu berdiri. b. c. Segan untuk menggerakkan kepala, menggaruk kepala, menghindari sinar terang dan keributan, mengerutkan kening, menggenggam tangan. Melaporkan kekakuan leher, pusing, pengelihatan kabur, mual dan muntah. Kreteria Hasil a. b. c. a. Pasien melaporkan nyeri / ketidaknyamanan hilang / terkontrol Mengungkapkan metode yang memberikan pengurangan Mengikuti regimen farmakologi yang diresepkan. Mempertahankan tirahbaring selama fase akut Rasionalisasi Meminimalkan stimulus / meningkatkan relaksasi b. Berikan tindakan non farmakologi untuk mengurangi sakit kepala : kompres dingin, pijat punggung dan leher, suasana tenang, redupkan lampu kamar, tehnik relaksasi (panduan imajinasi distraksi) dan aktivitas waktu senggang.

Intervensi dan rasionalisasi

14

Rasionalisasi Tindakan menurunkan tekanan vaskuler serebral dan dalam memperlambat / memblok respon simpatis efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya. c. Hilangkan / minimalkan aktivitas vasokontriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala mis mengejan saat BAB, batuk rejan, membungkuk. Rasionalisasi Aktivitas yang meningkat vasokonstriksi menyebabkan sakit kepala pada adanya peningkatan tekanan vaskuler serebral. d. Bantu pasien ambulasi sesuai kebutuhan. Rasionalisasi Pusing dan pengelihatan kabur yang berhubungan dengan sakit kepala. Pasien dapat mengalami episode hipotensi postural. e. Kolaborasi Berikan obat analgetik sesuai dengan indikasi Rasionalisasi Menurunkan / mengontrol nyeri dan menurunkan rangsang sistem saraf simpatis. 2. Nutrisi Berhubungan dengan a. b. c. a. b. c. a. Masukan berlebihan dengan kebutuhan metabolik Pola hidup monoton Keyakinan dan budaya BB 10-20% lebih dari ideal untuk tinggi dan bentuk tubuh. Lipatan trisep lebih besar dari 15 mm pada pria dan 25 mm pada wanita. Dilaporkan atau terobservasi disfungsi pola makan Mengidentifikasi hubungan antara hipertensi dan kegemukan, kebiasaan merokok, stres, kadar Na dalam tubuh, konsumsi obat-obatan, faktor individu. b. c. Menunjukkan perubahan pola makan. Melakukan / mempertahankan program olahraga yang tepat secara individual. 15

Kemungkinan dibuktikan

Kreteria Hasil

Intervensi dan Rasionalsiasi a. Bicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan batasi masukan lemak, garam dan gula sesuai indikasi. Rasionalisasi Kesalahan, kebiasaan makan menunjang terjadinya aterosklerosis dan kegemukan yang merupakan predisposisi untuk hipertensi dan komplikasinya mis stroke, penyakit ginjal, gagal jantung. Kelebihan masukan garam memperbanyak volume cairan intravaskuler dan dapat merusak ginjal yang lebih memperburuk hipertensi. b. Tetapkan keinginan pasien menurunkan berat badan Rasionalisasi Motivasi untuk penurunan adalah internal. Individu harus berkeinginan untuk menurunkan BB, bila tidak maka program sama sekali tidak berhasil. c. Kaji ulang masukan kalori harian dan pilihan diet. Rasionalisasi Mengidentifikasi kekuatan / kelemahan dalam program diet terakhir. Membantu dalam menentukan kebutuhan individu untuk menyesuaikan / penyuluhan. d. Tetapkan rencana penurunan BB yang realistis dengan pasien. Rasionalisasi Penurunan masukan kalori seseorang sebanyak 500 kalori perhari secara teori dapat menurunkan berat badan 0,5 kg/minggu. Penurunan BB yang lambat mengidentifikasikan kehilangan lemak melalui kerja otot dan umumnya dengan cara mengubah kebiasaan makan. e. Dorong pasien untuk mempertahankan masukan makanan harian termasuk kapan dan dimana makan dilakukan dan lingkungan dan perasaan sekitar saat makanan dimakan. Rasionalisasi Memberikan data dasar tentang keadekuatan nutrisi yang dimakan dan kondisi emosi saat makan. Membantu untuk memfokuskan perhatian pada faktor mana pasien telah / dapat mengontrol perubahan. f. Instruksikan dan bantu memilih makanan yang tepat : hindari makanan dengan kejenuhan lemak tinggi (mentega, keju, telur, es, krim, daging) 16

dan kolestrol (daging berlemak, kuning telur, produk telur, produk kalengan, jerohan) Rasionalisasi Menghilangkan makanan tinggi lemak jenuh dan kolestrol penting dalam mencegah perkembangan aterosklerosis. g. Kolaborasi Rujuk ke ahli gizi sesuai indikasi Rasionalisasi Memberikan konseling dan bantuan dengan memenuhi kebutuhan diet individual 3. Intoleransi aktifitas Berhubungan dengan a. b. a. b. c. d. a. b. c. Kelemahan umum Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen Laporan verbal tentang keletihan atau kelemahan Frekuensi jantung atau respon TD terhadap aktivitas abnormal Rasa tidak nyaman saat bergerak atau dispnea Perubahan EKG mencerminkan iskemia, disritmia. Berpartisapasi dalam aktivitas yang diinginkan / diperlukan Melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur Menunjukkan penurunan dalam tanda-tanda intoleransi fisiologis.

Kemungkinan dibuktikan

Kreteria Hasil

Intervensi dan Rasinalisasi Kaji respon pasien terhadap aktivitas, perhatikan

17