Anda di halaman 1dari 16

STUDI ISLAM KEJAWEN MAKALAH Di buat untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah : Ilmu Kalam Oleh : M.

ADLAN FAHMI D03209064 Dosen pembimbing: Drs. AZ. FANANI, M. Ag. JURUSAN KEPENDIDIKAN ISLAM FAKULTAS TARBIYAH INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SUNAN A MPEL SURABAYA 2010 1

KATA PENGANTAR Segala puji hanya milik-Nya, Tuhan semesta alam yang senantiasa m elimpahkan rahmat, hidayah, serta inayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah kami yang berjudul Studi Islam Kejawen. Sholawat serta salam tetap terlimp ah curah tiada henti kepada makhluk terbaik-Nya, Nabi Muhammad Saw, yang senanti asa kita harapkan syafaatnya. Makalah ini kami susun atas dasar tugas yang telah diamanatkan kepada kami oleh Bapak Drs. H. Muh. Akhyar, M. Si sebagai dosen pem bimbing mata kuliah Ilmu Kalam. Kami sebagai penyusun, menyadari sepenuhnya bahw a dalam makalah ini banyak sekali kekurangan. Akan tetapi, kami tetap berharap s emoga makalah yang telah kami susun ini senantiasa bermanfaat bagi pembacanya. A min. Surabaya, 04 Januari 2010 Penyusun 2

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL................................................................... ..................... i KATA PENGANTAR.......................................... ............................................ ii DAFTAR ISI...................... ............................................................................... iii BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang ...................................... ............................................... 1 B. Rumusan Masalah............ ..................................................................... 2 C. Tujua n............................................................................... .................... 2 BAB II : PEMBAHASAN A. Proses Masuknya Islam di Jawa..... ........................................................... 3 B. Profil Beberapa Aliran Islam Jawa............................................................ 5 1. Paguyuban Sumarah.......................................... ................ .........................................................5 2. Paguyuban Ngesthi Tunggal............................. 6 3. Saptadarma............................ ............................ ................................................... ......................7 4. Susila Buddhi Dharma (Subud)........................ 8 BAB III : KESIMPULAN.......................................................... ...................... 10 DAFTAR PUSTAKA........................................ ............................................... 11 3

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Islam adalah agama yang diturunkan k epada manusia sebagai rohmat bagi alam semesta. Ajaran-ajarannya selalu membawa kemaslahatan bagi kehidupan manusia di dunia ini. Allah swt sendiri telah menyat akan hal ini, sebagaimana yang tersebut dalam ( QS. Toha : 2 ) : Kami tidak menu runkan Al Quran ini kapadamu agar kamu menjadi susah . Artinya bahwa umat manusia yang mau mengikuti petunjuk Al Quran ini, akan dijamin oleh Allah bahwa kehidupan mereka akan bahagia dan sejahtera dunia dan akherat. Ajaranajaran Islam yangpenuhden gankemaslahatan bagimanusia ini,tentunyamencakupsegalaaspekkehidupanmanusia.Tidak ntuk kegiatan yang dilakukan manusia, kecuali Allah telah meletakkan aturan yadalamajaranIslamini.Kebudayaanadalahsalahsatudari sisi pentig dari kehidupa n Islampun telah mengatur dan memberikan batasanbatasannya.1Kebudayaan umumnya atakan sebagai prosesatauhasilkrida,cipta,rasa,dankarsamanusiadalamupayamenjawa dupanyangberasaldarialamsekelilingnya.2 Islam lahir sekitar abad ke-6 M. hingga saat ini, Islam berkembang sangat pesat. Perluasan- perluasan wilayah terus dilakukan . Hingga akhirya Islam menjelma sebagai agama terbesar di dunia. Dari banyak per luasan yang dilakukan, yang menjadi kunci utama dalam perkembangan Islam adalah fleksibilitas ajaran Islam terhadap kebudayaan daerah setempat. Jadi, pada waktu itu Islam hanya melakukan ekspansi politik yang tetap memberi kebebasan terhada p budaya local untuk tetap berkembang.3 Sehingga dalam 1http://kacahati.wordpress .com/2009/04/08/artikel-tentang-islam-dan-budaya/ 2 Simuh, Islam dan Pergumulan Budaya Jawa,(Jakarta: TERAJU,2003)h.1 3 Badri Yati m, Sejarah Peradaban Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1993) hal. 1-4. 4

setiap perkembangan Islam di suatu daerah, sudah dipastikan Islam akan berakultu rasi dengan kebudayaan daerah tersebut. Salah satunya adalah budaya Jawa. Hasil akulturasi tersebut menyebabkan adanya istilah Islam Jawa atau Islam kejawen. Disk ursus ini telah menyebabkan polemic tentang apakah golongan ini masih layak dise but Islam atau bukan. Terkait dengan hal itu, melalui mungkin bisa disimpulkan b ahwa penulis lebih setuju pada pendapat Woodward yang mengatakan bahwa Islam Jaw a merupakan varian yang wajar dalam Islam dan berhak Hadir, sebagaimana juga ada Islam India, Islam Persia, Islam Melayu, dan seterusnya.4 Terlepas dari polemic itu, tulisan ini mencoba mengupas sejarah Islam Jawa. Islam Jawa ini tergolong unik, bukan karena ia mempertahankan aspek-aspek budaya dan agama pra Islam, teta pi karena konsep-konsep sufi mengenai kewalian, jalan mistik dan kesempurnaan ma nusia diterapkan dalam formulasi suatu kultus keratin (imperial cult). Pada gili rannya, agama Negara itu merupakan suatu model konsepsi Jawa tradisional mengena i aturan social, ritual, dan bahkan aspek-aspek kehidupan social.5 B. RUMUSAN MA SALAH 1. Bagaimana sejarah Islam masuk ke Jawa? 2. Apa pengaruh masuknya Islam d i Jawa? 3. Bagaimana perkembangan Islam Jawa? 4. Bagaimana profil beberapa alira n Islam Jawa? C. Tujuan 1. Mengetahui sejarah masuknya Islam di Jawa. 2. Mengeta hui pengaruh masuknya Islam di Jawa. 3. Mengetahui perkembangan Islam Jawa. 4. M engetahui profil beberapa aliran Islam Jawa. 4 Mark R. Woodward, Islam Jawa, Kesalehan Normatif Versus Kebatinan, (Yogyakarta : LKiS, 1999) h.vi 5 Ibid.h 352 5

BAB II PEMBAHASAN B. Sejarah Masuknya Islam di Jawa Tentang masuknya Islam di Nu santara, dalam Larabie et les Indes Neerlandaises, Snouck mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia pada masa-masa awal, yakni pada abad ke-12 atau 13. Ada juga yang menyakini Islam masuk ke wilayah Nusantara pada abad ke-13. Dan wilayah per tama yang dijamah adalah Samudera Pasai. Bahkan ada pula yang mengatakan pada aw al abad ke-7. Artinya, menurut teori ini, Islam masuk ke Indonesia pada awal aba d hijriah, bahkan pada masa khulafaur rasyidin memerintah. Islam sudah mulai eks pidesinya ke Nusantara ketika sahabat Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Af fan dan Ali bin Abi Thalib memegang kendali sebagai amirul mukminin. Bahkan sumb er-sumber literatur Cina menyebutkan, menjelang seperempat abad ke-7, sudah berd iri perkampungan Arab Muslim di pesisir pantai Sumatera. Di perkampungan-perkamp ungan ini diberitakan, orang-orang Arab bermukim dan menikah dengan penduduk lok al dan membentuk komunitas-komunitas muslimin.6 Tentang kapan pribumi nusantara memeluk Islam, para ahli berbeda pendapat. Hal ini terjadi karena Islamisasi di Indonesiatidak terdokumentasi dengan baik sehingga banyak spekulasi dikalangan i lmuwan yang menimbulkan polemic yang hingga saat ini belum selesai.7 Sedangkan s ejarah islam masuk ke Jawa tidak bisa lepas dari sejarah wali songo. Para wali s ongo mulai datang ke Indonesia dimulai dari abad ke 15 berdasarkan batu nisan Ma ulana Malik Ibrahim yang disebut sebagai sesepuh wali dan wali pertama yang meny ebarkan agama Islam di Tanah Jawa 6 http://www.swaramuslim.net/galery/islam-indonesia/index.php?page=risalahislamn usantara,2412-09 7 Sri Mulyati, Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabarah di Indonesia, (Jakarta: Kencana, 2006 hal.7-12 6

penyebaran dakwah Islam oleh wali Songo dimulai dari Maulana Malik Ibrahim.8 Jad i kemungkinan besar Islam datang di Jawa pada abad tersebut. Di Jawa, penyebaran agama Islam dihadapkan kepada dua jenis lingkungan budaya kejawen, yaitu lingku ngan budaya istana Majapahit yang telah menyerap budaya Hinduisme dan budaya ped esaan yang masih hidup dalam baying-bayang animism-dinamisme, dan hanya lapisan luarnya saja yang terpengaruh budaya Hinduisme.9 Dari perjalanan sejarah proses Islamisasi di Jawa, tampak bahwa Islam sulit diterima dilingkungan budaya Jawa i stana, bahkan dalam cerita Babad Tanah Jawa dijelaskan bahwa raja Majapahit meno lak agama baru itu. Sehingga, para penyebar Islam lebih menekankan kegiatan dakw ahnya dilingkungan masyarakat pedesaan. Ternyata, didaerah-daerah pesisir ini Is lam diterima dengan penuh kegairahan. Dengan demikian, daerah-daerah pedesaan te lah berubah menjadi tradisi besar baru, yaitu kebudayaan pesantren yang kemudian menjadi pesaing kebudayaan istana. Pesantren yang dipimpin oleh para kiai yang sangat dihormati oleh masyarakat dan murid-muridnya, bahkan para guru tarekat in i mereka pandang sebagai wali. Lambat laun, mereka menjadi raja-raja local. Mala h ada diantaranya menjelma menjadi kesultanan, yakni Demak, Surabaya, dan lain s ebagainya.10 Pada saat itulah terjadi interaksi antara budaya pesantren dan keja wen. Ketertarikan para cendekiawan jawa terhadap perbendaharaan pesantren ini me nimbulkan penyerapan terhadap budaya Islam pesantren yang menghasilkan naskah-na skah Jawa bertuturkan Islam. Selain itu, interaksi ini juga menghasilkan budaya Islam kejawen.11 Budaya ini kemudian menghasilkan berbagai macam aliran yang ber orientasi pada kebatinan. Faham kebatinan ini dalam telah ada sejak Islam bersen tuhan dengan budaya Jawa Hindu, justru perpaduan antara mistik Islam dan Hindu B udha itulah yang menghasilkan mistik Islam Kejawen yang menjadi ciri khas aliran 8http://macheda.blog.uns.ac.id/2009/06/11/resensi-sejarah-wali-songo-misi-pengis laman-di-tanahjawa/ 9 Simuh, Islam dan Pergumulan Budaya Jawa, (Jakarta: TERAJU, 2003)h.66 10 Ibid.h 66-68 11 Ibid. 80-95. 7

kepercayaan atau aliran kebatinan.12 C. Profil Beberapa Aliran Islam Jawa 1. Pag uyuban Sumarah Pendiri aliran ini adalah Sukinohartono. Dia adalah penduduk desa Semau, Gunung Kidul (Wonosobo). Dia berpendidikan rendah dan kemudian menjadi m entri pamicis di keratin kesultanan Yogyakarta.sejak kecil ia telah tertarik pad a aliran kepercayaan Hardapusara, mengikuti teknik wiridan dan menjalankan laku tapa brata yang dianjurkan Hardapusara, yaitu kungkum atau merendam diri disunga i pada malam hari. Meditasi dan doa ini ia lanjutkan untuk kemerdekaan bangsa Ind onesia, dan akhurnya ia menerima wahyu Sumarah pada 1935 M.13 Sejak 1935 hingga 1945 para pengikut Sumarah masih merupakan kelompok kecil. Kemudian pada 1945, D r. Surono mulai menyusun organisasi para pengikut Sumarah. Sesudah pemberontakan Partai Komunis Indonesia 1965, Drs. Arymurthy menata kembali para pengikut Suma rah di Jakarta. Kini para pengikut paguyuban ini telah mencapai 5.000 orang dan dipimpin oleh Zahid Husein. Cabang- cabang paguyuban ini menyebar di Jawa Tengah , Jawa Timur, dan Yogyakarta.14 Bahkan ada sumber yang mengatakan bahwa jumlah a nggotanya kini sudah mencapai 115.000 orang baik yang berasal dari golongan priy ayi maupun dari kelas-kelas masyarakat lain.15 Ajaran paguyuban ini sangat dipen garuhi oleh animism-dinamisme mengenai hubungan langsung dengan ruh dan kekuatan gaib. Inti ajarannya lebih terletak pada laku keprihatinan dan meditasi melalui sujud sumarah, sebagai sarana untuk mengadakan hubungan langsung dengan Tuhan a tau melalui perantaraan malaikat Jibril dan ruh-ruh Gaib. Dengan kata lain, untu k mencapai jumbuhing kawula gusti.16 12 Ridin Sofwan, Menguak Seluk Beluk Aliran Kebatinan, (Semarang: CV. Aneka Ilmu , 1999) h.9 13 Simuh, Islam dan Pergumulan Budaya Jawa,(Jakarta: TERAJU,2003)h.1 73-174 14 Ibid.h 173-174 15 http://www.swaramuslim.net/galery/islam-indonesia/in dex.php?page=falsafah jawa,24 -12-09 16 Simuh, Islam dan Pergumulan Budaya Jawa, (Jakarta: TERAJU,2003)h.175 8

Dari beberapa ajarannya, paguyuban ini masih kental dengan unsureunsur Islamnya dan khususnya istilah-istilah tasawuf. Misalnya, dikatakan bahwa badan wadhak ma nusia tersusun dari empat anasir, yakni tanah, api, air, dan udara. Manusia memi liki empat macam nafsu: amarah, lawwamah, sufiyah, dan muthmainnah.taraf sujud Su marah ada tiga, yaitu: sujud Jinem, sujud Junun (berasal dari kata majnun:gila, yang berarti penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah), dan sujud Syuhul (berasal dari kata syughul: sibuk atau bersungguh-sungguh menghadap kepada Allah.17 2. P aguyuban Ngesthi Tunggal Pagguyuban ngesti tunggal, atau lebih terkenal dengan n ama pangestu adalah sebuah budaya kebatinan lain yang luas jangkauannya. Gerakan ini dimuulai R. Soenarto Mertowardojo pada tanggal 14 Februari 1932, saat belia u sedang memohon petunjuk Tuhan dan menjalankan shalat dhaim dengan khusyu, tibatiba dia menerima sabda Ilahi melalui utusan-Nya yang abadi Sang sukma Sejati ya ng kemudian oleh kedua orang pengikutnya dicatat dan kemudian diterbitkan menjad i buku sasangka djati. 18 Soenarto dilahirkan didesa Simo, Boyolali, Surakarta p ada 21 April 1899. Ia adalah putra keenam dari R. Soemowardoyo. Sebagai anak pri yayi, dia beruntung bias mengenyam pendidikan sekolah, dan tamat sekolah Algemen Nederland Verbond dan Hollands Islandse Middagcursus. Disamping itu, ia gemar m enghafal ayat Al Quran dan berguru di sastra kejawen. Dia suka laku tapa brata. M isalnya merendam diri di sungai tempuran (kungkum), puasa, jalan malam dan sebag ainya.19 Dalam ajaran Pangestu, aspek mistk amat menonjol. Ia diilhami oleh kons ep-konep mistik kejawen yang cenderung panteistik dengan cits-cita manunggaling kawula gusti atau jumbuhing kawula gusthi. Pangestu juga menganut paha Wahdatul adyan, bahwa semua agama adalah benar, dan 17 Ibid.h. 175-176 18 Ibid.h.176-178 19 Ibid.h. 177 9

mengajarkan untuk kembali kepada Allah.20 Pangestu resmi didirikan di Surakarta pada bulan mei 1949, dan anggota-anggotanya yang kini sudah berjumlah 50.000 ora ng tersebar di banyak kota di Jawa, terutama berasal dari kalangan priyayi. Namu n anggota yang berasal dari daerah pedesaan juga banyak yaitu yang tinggal di pe mukiman transmigrasi di sumatera dan kalimantan. Majalah yang dikeluarkan organi sasi itu dwijawara merupakan tali pengikat bagi para anggotanya yang tersebar it u.21 3. Saptadarma Sapta darma adalah yang termuda dari kelima gerakan kebatinan yang terbesar di jawa yang didirikan tahun 1955 oleh guru agama bernama Hardjos aputro yang kemudian mengganti namanya menjadi Panuntun Sri Gutomo. Beliau beras al dari desa Keplakan, Pare, Kediri. Berbeda dengan keempat organisasi yang lain , sapta darma beranggotakan orang-orang dari daerah pedesaan dan orang-orang pek erja kasar yang tinggal di kota-kota. Walaupun demikian para pemimpinnya hampir semua priyayi. Buku yang berisi ajarannya adalah kitab pewarah sapta darma.22 Ha rdjosapuro dilahirkan di Pare, Kediri pada tahun 1910 M dan lulusan Sekolah Raky at kelas V tahun 1925 M. pada 1947 ia pernah aktif dalam PESINDO (Pemuda Sosial Indonesia). Pada 1952 ia menyatakan menerima wahyu. Dia merasa dirinya digerakka n oleh getaran tulang tungging (silit kodok) dan disujudkan. Dia menganggap gera kan tersebut diperintahkan oleh Tuhan atau wahyu Tuhan Yang Maha Kuasa. Saptadha rma, yang berarti tujuh kewajiban, memiliki ajaran yang cukup sederhana, sebagai berikut: 1. Mempercayai dengan lima adanya sifat Tuhan Yang Maha Esa 20 Ibid.h.180-184 21http://www.swaramuslim.net/galery/islam-indonesia/index.php? page=falsafah jawa,24-12-09 22 http://www.swaramuslim.net/galery/islam-indonesia /index.php?page=falsafah jawa,24-12-09 10

keagungan yang dikenal dengan Pancasila Allah. 2. Setia melaksanakan undang-unda ng Negara dengan hati yang jujur dan suci. 3. Ikut bangsa. 4. Menolong yang kasi h pamrih. 5. Hidup dan berlaku bermasyarakat, berbudi jujur, luhur, dan siapa pu n membutuhkan sayang, tanpa serta berjuang menegakkan nusa dan pertolongan atas dasar memelihara ketenteraman. 6. Berani selalu 7. Yakin tidaklah bersifat manggilinga n, berubah-ubah, hendaknya terpikat oleh hidup atas kekuatan sendiri, tidak meng harapkan bahwa dunia cakra selalu karena tidak gebyar bantuan orang lain. kekal, tetapi itu warga Saptadarma 11

keduniaan.23 4. Susila Buddhi Dharma (Subud) Susila budi (SUBUD) didirikan pada tahun 1925 di Semarang, pusatnya sekarang berada di Jakarta. Budaya ini tidak ma u disebut budaya kebatinan, melainkan menamakan dirinya pusat latihan kejiwaan. An ggota-anggotanya yang berjumlah beberapa ribu itu tersebar di berbagai kota dise luruh indonesia dan mempunyai sebanyak 87 cabang di luar negeri. Banyak dari par a pengikutnya adalah orang asia, eropa, australia dan amerika. Doktrin ajaran or ganisasi itu dimuat dalam buku berjudul susila budhi dharma; selain itu, gerakan itu juga menerbitkan majalah berkala berjudul pewarta kejiwaan subud.24 Aliran ini dibina oleh Muhammad Subuh, yang lahir di Semarang pada Juni 1901 M. Ia dibe sarkan dilingkungan budaya kejawen dan suka bertirakat sejak usia muda. Konon di a bersahabat dengan guru tarekat Naqsyabandiyah, Syaikh Abdurrahman dari Blora. Naqsyabandiyah adalah tarekat yang menekankan pada segi-segi praktis ajaran tasa wwuf. Yaitu latihan zikir sebagai sarana meditasi (samadi) untuk mencapai pengha yatan tentang yang ghaib. Maka dari itu, Subud lebih menekankan pada praktik pen ghayatan kebatinan dengan latihan samadi atau dzikir. Ia juga mengutamakan latih an persujudan untuk membimbing para pengikutnya mencapai penghayatan spiritual ( kejiwaan) secara otomatis. Menurut Subud, ada dua macam teori latihan kejiwaan, yaitu: 1. Nganggo patrap nyawi jekake cipta atau pemusatan pikiran. Teori ini se ring dipraktikkan dalam ajaran tasawuf. Seperti Al Ghazali. 2. Nganggo patrap ny uwungake cipta, yaitu mengosongkan pikiran dan angan-angan.25 23 Simuh, Islam dan Pergumulan Budaya Jawa,(Jakarta: TERAJU,2003)h.185-190 24 ht tp://www.swaramuslim.net/galery/islam-indonesia/index.php?page=falsafah jawa,1212-09. Bandingkan dengan Simuh, Islam dan Pergumulan Budaya Jawa,(Jakarta: TERAJ U,2003)h.191. 25 Simuh, Islam dan Pergumulan Budaya Jawa,(Jakarta: TERAJU,2003)h .190-198. 12

BAB III KESIMPULAN Islam adalah agama yang diturunkan kepada manusia sebagai roh mat bagi alam semesta. Maka dari itu, dalam perkembangannya, Islam berinteraksi dengan berbagai macam budaya. Salah satunya adalah budaya Jawa yang kental denga n aroma animism-dinamisme serta mistiknya. Sehingga beberapa aliran yang dihasil kan, mayoritas bercorak kebatinan. Diantara beberapa aliran tersebut adalah: 1. Paguyuban Sumarah 2. Paguyuban Ngesthi Tunggal 3. Saptadarma 4. Susila Buddhi Dh arma (Subud) Beberapa aliran diatas, menurut keputusan Sidang Umum MPR 1978 13

memutuskan bahwa mereka adalah aliran kepercayaan dan bukan agama, dan hanya mer upakan aspek spiritual budaya Jawa. Maka dari itu mengambil istilah Woodward, me reka adalah varian Islam yang sinkretik bila dipandang dari segi agama dan sinte sis bila dipandang dari segi budaya. DAFTAR PUSTAKA Mulyati, Sri.2003 Mengenal dan Memahami Tarekat-Tarekat Muktabara h di Indonesia. Jakarta: Kencana. Simuh.2003. Islam dan Pergumulan Budaya Jawa. Jakarta: TERAJU Sofwan, Ridin. 1999. Menguak Seluk Beluk Aliran Kebatinan. Semar ang: CV. Aneka Ilmu. Woodward, Mark R. 1999 Islam Jawa, Kesalehan Normatif Versu s Kebatinan, Yogyakarta: LKiS. Yatim, Badri.1993. Sejarah Peradaban Islam, Jakar ta: Raja Grafindo Persada http://kacahati.wordpress.com/2009/04/08/artikel-tenta ng-islam-dan-budaya/ 14

http://www.swaramuslim.net/galery/islamindonesia/index.php?page=falsafah jawa,12 -12-09. http://macheda.blog.uns.ac.id/2009/06/11/resensi-sejarah-wali-songo-misi pengislaman-di-tanah-jawa/ 15