Anda di halaman 1dari 17

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori 1. Pemberian Menurut kamus besar bahasa Indonesia edisi ketiga, pemberian adalah sesuatu yang diberikan atau sesuatu yang didapat dari orang lain karena diberi (Diknas, 2005).

2. Pendidikan Seks Pada dasarnya pendidikan seks untuk anak dan remaja sangat perlu, peran orang tua yang sangat dituntut lebih dominan untuk memperkenalkan sesuai dengan usia dan perkembangan anak hingga beranjak dewasa. Memberikan pengetahuan pada remaja tentang resiko seks bebas, baik secara psikologis maupun emosional serta sosial, juga akan dapat membantu agar terhindar dari pelanggaran norma yang berlaku (Fitriani, 2011). Pendidikan seks merupakan bagian dari pendidikan kesehatan reproduksi, sehingga ruang lingkup pendidikan kesehatan reproduksi lebih luas dan lebih difokuskan kepada hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan seks (Fitriani, 2011). a. Tujuan Pendidikan Seks Pendidikan seks merupakan salah satu cara untuk mengurangi dampak negatif yang tidak diharapkan seperti pelecehan seksual, kehamilan yang tidak direncanakan, aborsi, dan penyakit menular seksual (Sarwono, 2011: 234).

Tujuan pendidikan seksual yang lebih lengkap dapat dijabarkan antara lain: 1) Memberikan pengertian yang memadai mengenai perubahan fisik,

mental dan proses kematangan emosional yang berkaitan dengan masalah seksual pada remaja. 2) Mengurangi ketakutan dan kecemasan sehubungan dengan

perkembangan dan penyesuaian seksual (peran, tuntutan dan tanggung jawab). 3) Membentuk sikap dan memberikan pengertian terhadap seks dan

semua manifestasi yang bervariasi. 4) Memberikan pengertian mengenai kebutuhan nilai moral yang

essensial untuk memberikan dasar yang rasional dalam membuat keputusan berhubungan dengan perilaku seksual.
5)

Memberikan pengetahuan tentang kesalahan dan penyimpangan

seksual agar individu dapat menjaga diri dan melawan eksploitasi yang dapat mengganggu kesehatan fisik dan mental. 6) Untuk mengurangi prostitusi, ketakutan terhadap seksual yang tidak

rasional dan eksplorasi seks yang berlebihan. 7) Memberikan pengertian dan kondisi yang dapat membuat individu

melakukan aktivitas seksual secara efektif dan kreatif dalam berbagai peran, misalnya sebagai istri atau suami, orang tua, dan anggota masyarakat. b. Manfaat Pendidikan Seks

Dengan pendidikan seks remaja dapat memahami bahwa seks adalah sesuatu yang alamiah dan wajar terjadi pada setiap orang, selain itu remaja dapat mengetahui berbagai perilaku seksual beresiko sehingga mereka dapat menghindarinya (Widiyastuti, 2009:19). c. Materi Pendidikan Seks Materi pendidikan seks yang harus diberikan adalah tentang tumbuh kembang remaja (Fitriani, 2011). Tumbuh ialah tahap perubahan ukuran dan bentuk tubuh atau anggota tubuh. Pengertian tumbuh kembang adalah tahap perubahan fisik dan psikologi remaja. Beberapa hal yang harus diketahui remaja pada saat awal masa tumbuh kembangnya yaitu seksualitas, pubertas, mimpi basah, menstruasi dan organ reproduksi: 1) Seksualitas

Segala sesuatu yang menyangkut sikap dan perilaku seksual maupun orientasi seksual. 2) Pubertas

Masa dimana seseorang mengalami perubahan struktur tubuh dari anakanak menjadi dewasa dan perubahan psikis. 3) Mimpi basah

Proses keluarnya sperma tanpa rangsangan pada saat tidur dan umumnya terjadi pada saat mimpi tentang seks. 4) Menstruasi

Proses peluruhan seluruh lapisan dalam atau endometrium yang banyak mengandung pembuluh darah dari uterus melalui vagina secara periodik dan berkala.

5)

Organ reproduksi

Organ reproduksi wanita antara lain ovarium (indung telur), tuba falopi (saluran telur), fimbrae (umbai-umbai), uterus (rahim), cervix uteri (leher rahim), vagina (lubang senggama). Organ reproduksi laki-laki antara lain penis, glans, uretra, vas deferens, epididimis, testis, scrotum, kelenjar prostat, vesikula seminalis. Pada akhirnya, semua cara yang digunakan dalam menyampaikan pendidikan seks tergantung kepada setiap orang tua. Artinya, orang tua harus berusaha mencari cara-cara yang khusus dan praktis tentang pemberian pendidikan seks sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian, remaja akan lebih menghargai dan mengetahui hubungan seksual yang sebenarnya bila nanti tiba saatnya (Kusumastuti, 2010).

3. Remaja Masa remaja adalah peralihan dari masa anak dengan masa dewasa yang mengalami perkembangan semua aspek/fungsi untuk memasuki masa dewasa. Masa remaja berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria (Arya, 2009). a. Pengertian

10

Remaja berasal dari kata latin adolensence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik. Masa remaja menunjukan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak (Arya, 2009). Remaja adalah masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisik maupun perkembangan psikisnya (Tarwoto et. Al, 2009:1). b. Batasan Batasan usia remaja yang umum digunakan oleh para ahli adalah antara 10 hinggga 18 tahun. Tetapi berdasarkan penggolongan umur, masa remaja menurut Tarwoto et. Al (2009: 1) terbagi atas : 1) 12 15 tahun adalah masa remaja awal

Pada tahap ini, remaja mulai berfokus pada pengambilan keputusan, baik didalam rumah ataupun sekolah. Remaja mulai menunjukkan cara berfikir logis. 2) 15 -18 tahun adalah masa remaja pertengahan

Pada tahap ini terjadi peningkatan interaksi dengan kelompok, sehingga tidak terlalu tergantung pada keluarga. Pada masa ini remaja juga mulai mempertimbangkan kemungkinan masa depan, tujuan, dan membuat rencana sendiri. 3) 18 -21 tahun adalah masa remaja akhir

11

Pada tahap ini remaja lebih berkonsentrasi pada rencana yang akan datang dan meningkatkan pergaulan. Selama masa remaja akhir, proses berpikir secara kompleks digunakan untuk memfokuskan diri pada keputusan untuk karier dan pekerjaan, serta peran orang dewasa dalam masyarakat. c. Karakteristik remaja Karakteristik pertumbuhan dan perkembangan remaja yang mencakup perubahan transisi biologis, transisi kognitif, dan transisi sosial adalah menurut Arya (2009) sebagai berikut: 1) Transisi biologis Perubahan fisik yang terjadi pada remaja telihat nampak pada saat pubertas yaitu meningkatnya tinggi dan berat badan serta kematangan sosial. Diantara perubahan fisik itu, yang terbesar pengaruhnya pada perkembangan jiwa remaja adalah pertumbuhan tubuh (badan menjadi semakin panjang dan tinggi). Selanjutnya, mulai berfungsinya alat-alat reproduksi (ditandai dengan haid pada wanita dan mimpi basah pada lakilaki) dan tanda-tanda seksual sekunder yang tumbuh. Pada dasarnya perubahan fisik remaja disebabkan oleh kelenjar pituitary dan kelenjar hypothalamus. Kedua kelenjar itu masing-masing menyebabkan terjadinya pertumbuhan ukuran tubuh dan merangsang aktifitas serta pertumbuhan alat kelamin pada remaja. 2) Transisi kognitif Pemikiran operasional formal berlangsung antara usia 11 sampai 15 tahun. Pemikiran operasional formal lebih abstrak, idealis, dan logis

12

daripada pemikiran operasional konkret. Piaget menekankan bahwa remaja terdorong untuk memahami dunianya karena tindakan yang dilakukannya penyesuaian diri biologis.Secara lebih nyata mereka mengaitkan suatu gagasan dengan gagasan lain. Mereka bukan hanya mengorganisasikan pengamatan dan pengalaman akan tetapi juga menyesuaikan cara berfikir mereka untuk menyertakan gagasan baru karena informasi tambahan membuat pemahaman lebih mendalam. 3) Transisi Sosial Transisi sosial remaja mengalami perubahan dalam hubungan individu dengan manusia lain yaitu dalam emosi, dalam kepribadian, dan dalam peran dari konteks sosial dalam perkembangan. Membantah orang tua, serangan agresif terhadap teman sebaya, perkembangan sikap asertif, kebahagiaan remaja dalam peristiwa tertentu serta peran gender dalam masyarakat merefleksikan peran proses sosial-emosional dalam

perkembangan remaja. Perkembangan sosial anak telah dimulai sejak bayi, kemudian pada masa kanak-kanak dan selanjutnya pada masa remaja. Hubungan sosial anak pertama masih sangat terbatas dengan orang tuanya dalam kehidupan keluarga, khususnya dengan ibu dan berkembang semakin meluas dengan anggota kelurga lain, teman bermain dan teman sejenis maupun lain jenis. 4) Tugas perkembangan remaja Tugas perkembangan masa remaja difokuskan pada upaya

meningkatkan sikap dan perilaku kekanak-kanakkan serta berusaha untuk

13

mencapai kemampuan bersikap dan berperilaku dewasa. Adapun tugastugas perkembangan remaja menurut Arya pada tahun 2009 adalah:
a) Mampu menerima keadaan fisiknya. b) Mampu menerima dan memahami peran seks usia dewasa. c) Mampu membina hubungan baik dengan anggota kelompok yang

berlainan jenis.
d) Mencapai kemandirian emosional. e) Mengembangkan konsep dan keterampilan intelektual yang sangat

diperlukan untuk melakukan peran sebagai anggota masyarakat.


f) Memahami dan menginternalisasikan nilai-nilai orang dewasa dan

orang tua.
g) Mengembangkan perilaku tanggung jawab sosial yang diperlukan

untuk memasuki dunia dewasa.


h) Memahami dan mempersiapkan berbagai tanggung jawab kehidupan

keluarga. Berdasarkan pendapat tersebut maka peneliti menyimpulkan bahwa tugastugas perkembangan remaja dalah sikap dan perilaku dirinya sendiri dalam menyikapi lingkungan di sekitarnya. Perubahan yang terjadi pada fisik maupun psikologisnya menuntut anak untuk dapat menyesuaikan diri dalam lingkungan dan tantangan hidup yang ada dihadapannya (Arya, 2009).

4. Perilaku Seksual Remaja

14

Perilaku merupakan suatu kegiatan atau aktivitas organisme yang bersangkutan, yang dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung (Sunaryo, 2004). Perilaku manusia berasal dari dorongan yang ada dalam diri manusia sedangkan dorongan merupakan usaha untuk memenuhi kebutuhan manusia. Pada umumnya perilaku dapat dipengaruhi dengan pemberian pendidikan seks terhadap perilaku seksual remaja. Remaja memang masih enggan untuk melakukan komunikasi dengan orang tuanya berkaitan dengan pendidikan seksual. Keengganan tersebut muncul karena kekhawatiran dan rasa ketidakpercayaan terhadap orangtua. Menurut Sarwono (2011), perilaku seksual adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual baik yang dilakukan sendiri, dengan lawan jenis maupun sesama jenis tanpa adanya ikatan pernikahan menurut agama. Menurut Stuart dan Sundeen (1999), perilaku seksual yang sehat dan adaptif dilakukan ditempat pribadi dalam ikatan yang sah menurut hukum. Perilaku seksual pranikah merupakan perilaku seksual yang dilakukan tanpa melalui proses pernikahan yang resmi menurut hukum maupun menurut agama dan kepercayaan masing-masing (Mutadin, 2002). Menurut Irawati (2002) remaja melakukan berbagai macam perilaku seksual beresiko yang terdiri atas tahapan-tahapan tertentu yaitu dimulai dari berpegangan tangan, cium kering, cium basah, berpelukan, memegang atau meraba bagian sensitif, petting, oral sex, dan bersenggama (sexual intercourse). Perilaku seksual pranikah pada remaja ini pada akhirnya dapat mengakibatkan berbagai dampak

15

yang merugikan remaja itu sendiri. Oleh karena itu, sebagai usaha pendidikan, komunikasi tentang seks yang dilakukan orang tua dengan anak tidak boleh terlepas dari segi seksualitas tersebut.

a. Faktor-faktor Penyebab Perilaku Seksual Remaja Perilaku negatif remaja terutama hubungannya dengan penyimpangan seksualitas seperti seks pranikah ini, dipengaruhi oleh faktor-faktor internal (dari diri remaja sendiri) serta faktor eksternal (berasal dari luar) yang mendukung perilaku tersebut. Faktor-faktor internal yang menyebabkan terjadinya perilaku seks pranikah antara lain: 1) Meningkatnya libido seksualitas, dimana menurut Freud bahwa

energi-energi seksual berkaitan erat dengan kematangan fisik.


2)

Proses kematangan organ tubuh yang menyangkut perkembangan

fisik maupun kematangan organ-organ seksual dikendalikan oleh kelenjar endokrin yang terletak pada dasar otak. Kelenjar pituari ini menghasilkan dua hormon, yaitu hormon pertumbuhan yang mempengaruhi ukuran dan bentuk fisik tubuh individu, dan hormone gonadotropik yang merangsang kelenjar gonad (kelenjar seks) menjadi lebih aktif sehingga menimbulkan rangsangan-rangsangan seksual.

16

3)

Kualitas

diri

pribadi

seperti

kurangnya

kontrol

diri

atau

pengendalian diri, motivasi kesenangan, pengalaman emosional yang kurang sehat, terhambatnya perkembangan hati nurani yang agamis. 4) Ketidakmampuan mempergunakan waktu luang dengan baik.

Faktor-faktor eksternal yang menjadi penyebab terjadinya perilaku seks pranikah antara lain:

1)

Kurangnya informasi tentang seks.

Hubungan seks dianggap ekspresi rasa cinta. Selain itu tidak tersedianya informasi yang akurat dan benar tentang kesehatan reproduksi memaksa remaja mencari akses dan mengeksplorasi sendiri. Majalah, buku dan film pornografis yang memaparkan kenikmatan hubungan seks tanpa

mengajarkan tanggung jawab yang harus disandang dan resiko yang harus dihadapi, menjadi acuan utama mereka. 2) Percintaan.

Hubungan seks pada remaja umumnya akibat berpacaran atau percintaan dan beberapa di antaranya berorientasi pada pemuasan nafsu. 3) Kurangnya komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak

sehingga memperkuat munculnya perilaku yang menyimpang. 4) Pergaulan.

Menurut Hurlock, perilaku seksual sangat dipengaruhi oleh lingkungan pergaulannya, terutama pada masa pubertas dimana pengaruh teman sebaya lebih besar dibandingkan orang tua.

17

5)

Adanya penundaan usia perkawinan yang menyebabkan tidak segera

dilakukan penyaluran kebutuhan biologis yang tepat. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Yayasan Keluarga Besar Kaiser (Suyanto, 2009), faktor yang mendorong remaja melakukan hubungan seks pranikah adalah: 1) Hubungan seks: bentuk penyaluran kasih sayang yang salah dalam

pacaran seperti ungkapan kasih sayang dengan pemberian hadiah bunga, berpelukan, berciuman dan bahkan melakukan hubungan seks. 2) Faktor religiusitas, kehidupan iman yang rapuh. Individu yang rapuh

imannya cenderung mudah melakukan pelanggaran terhadap ajaran-ajaran agamanya. 3) Faktor kematangan biologis, sehingga remaja sudah dapat

melakukan fungsi reproduksi layaknya orang dewasa. Kematangan biologis yang tidak disertai dengan kemampuan mengendalikan diri cenderung berakibat negatif seperti perilaku seks pranikah, sebaliknya kematangan biologis yang disertai dengan kemampuan mengendalikan diri akan membawa kebahagiaan bagi remaja di masa depannya. b. Bentuk-bentuk Perilaku Seks Pranikah Bentuk perilaku seks adalah tingkat perilaku yang dilakukan pasangan lawan jenis. Menurut Soetjiningsih (2009), bentuk perilaku seks pranikah yang biasa dilakukan remaja adalah sebagai berikut:
1)

Bergandengan tangan adalah perilaku seks mereka hanya terbatas

pada pergi berdua/bersama dan saling berpegangan tangan, belum sampai

18

pada tingkat yang lebih dari bergandengan tangan, seperti berciuman atau lainnya. Bergandengan tangan termasuk dalam perilaku seks pranikah karena adanya kontak fisik secara langsung antara dua orang lawan jenis yang didasari dengan rasa suka/cinta. 2) Berciuman, didefinisikan sebagai suatu tindakan saling

menempelkan bibir ke pipi atau bibir ke bibir, sampai saling menempelkan lidah sehingga dapat menimbulkan rangsangan seksual antar keduanya. 3) Bercumbu adalah tindakan yang sudah dianggap rawan yang

cenderung menyebabkan suatu rangsangan akan melakukan hubungan seksual (senggama) dimana pasangan ini sudah memegang atau meremas payudara, baik melalui pakaian atau secara langsung, juga saling menempelkan alat kelamin tapi belum melakukan hubungan seksual atau senggama secara langsung. 4) Senggama, yaitu melakukan hubungan seksual atau terjadi kontak

seksual. Bersenggama mempunyai arti bahwa memasukkan alat kelamin laki-laki ke dalam alat kelamin perempuan. Furhmann (1990) menjelaskan jenis-jenis perilaku seksual yang dilakukan selama masa remaja. Di antaranya adalah: 1) Masturbasi

Aktivitas seksual yang bertujuan untuk meredakan ketegangan seksual tanpa melakukan hubungan seksual dengan obyek manusia tetapi dengan obyek seksual lain yang bisa berupa fantasi atau benda tertentu. Pada masturbasi tidak terjadi hubungan seksual tapi dapat dicapai orgasme. Terdapat

19

perbedaan presentase antara anak perempuan dengan anak laki-laki dalam melakukan masturbasi.

2)

Meraba daerah sensitif (petting)

Upaya membangkitkan dorongan seksual antar jenis kelamin dengan tanpa tindakan intercourse atau hubungan seksual. Petting merupakan aktifitas erotis yang umum dilakukan dalam masa remaja. Petting merupakan bentuk kontak fisik yang tidak melibatkan alat kelamin atau bagian genital yang bertujuan untuk menimbulkan efek erotis. Berdasarkan studi Hass ditemukan 90% remaja (usia 15-18) melakukan petting menggunakan anggota tubuh bagian pinggang ke atas dan dikatakan pula bahwa petting merupakan aktivitas heteroseksual yang sering terjadi pada remaja. Sedangkan menurut Masland, petting adalah langkah yang lebih mendalam dari ciuman dan pelukan yang berupa merasakan dan mengusap-usap tubuh pasangan termasuk lengan, dada, buah dada, kaki dan kadang-kadang daerah kemaluan dari dalam atau dari luar pakaian (Daryanto, 2009). 3) Oral genital sex

Hubungan seks oral merupakan rangsangan dengan mulut pada organ seks atau alat kelamin pasangan atau dapat diartikan sebagai hubungan seksual yang hanya melibatkan adanya pertemuan antara bagian oral genital dari masing-masing individu tanpa melakukan penetrasi. Tipe hubungan seks

20

model oral-genital sex ini merupakan alternatif aktivitas seksual yang dianggap cukup aman oleh remaja. Morrison (dalam Fuhrmann, 1990) menemukan berdasarkan penelitiannya bahwa beberapa anak laki

perempuan yang menjadi sampelnya menyatakan bahwa dirinya masih perawan sepanjang dia tidak melakukan penetrasi, dan oral-genital sex dianggap cukup efektif untuk mempertahankan keperawanannya.
4)

Sexual Intercourse (hubungan seksual)

Menurut Adams, hubungan seksual terjadi pada remaja belasan cenderung kurang direncanakan dan lebih bersifat spontan. Hal ini dipengaruhi oleh adanya romantisme aktivitas seks, ketidakpastian identitas seksual, sifat impulsif remaja serta dipengaruhi oleh tingkat kematangan kognitif dan sosial. c. Dampak Perilaku Seks Pranikah Setiap perbuatan pasti ada dampak dan konsekuensinya, begitu juga konsekuensi yang ditimbulkan dari hubungan seks pranikah sangat jelas terlihat khususnya bagi remaja putri seperti hamil di luar nikah. Perilaku seks pranikah khususnya bagi remaja akan menimbulkan masalah antara lain:
1)

Memaksa remaja tersebut dikeluarkan dari sekolah, sementara

mental belum siap dibebani masalah ini. 2) Kemungkinan terjadinya aborsi yang tidak bertanggung jawab dan

membahayakan jika sampai terjadi kehamilan yang tidak diinginkan.

21

3)

Pengalaman seksualitas yang terlalu dini sering berpengaruh di masa

dewasa, seperti merasakan hubungan seks bukanlah sesuatu yang sakral lagi sehingga tidak bisa menikmati hubungan tersebut, hanya sebagai alat memuaskan nafsu saja.
4)

Hubungan seks yang dilakukan dengan berganti-ganti pasangan

menimbulkan resiko yang tinggi seperti terjangkitnya berbagai penyakit kelamin menular. Tidak hanya itu dampak psikologis perilaku seks pranikah, tetapi juga mengakibatkan rasa bersalah dan penyesalan karena melanggar norma, depresi, ketegangan mental dan kebingungan untuk menghadapi segala kemungkinan resiko yang akan terjadi. Kehamilan remaja, pengguguran kandungan (aborsi), terputusnya sekolah, perkawinan di usia muda, perceraian, penyakit kelamin, penyalahgunaan obat merupakan akibat buruk dari petualangan cinta dan seks yang salah pada saat remaja masih sebagai seorang pelajar. Akibatnya, masa depan mereka yang penuh dengan harapan menjadi hancur berantakan. Oleh karena itu, pendidikan seks bagi remaja sebaiknya diberikan agar mereka sadar bagaimana menjaga organ reproduksinya tetap sehat dan mereka mempunyai pengetahuan tentang seks yang benar.

B. Kerangka Konsep
2.1 Gambar Kerangka Konsep

Variabel Independen Pemberian Pendidikan Seks

Variabel Dependen Perilaku Seksual Remaja

22

C. Hipotesis

Adapun hipotesis penelitian ini adalah Ho : Tidak ada hubungan antara pemberian pendidikan seks dengan perilaku seksual remaja di SMA Negeri 2 Banjarmasin tahun 2012 Ha : Ada hubungan antara pemberian pendidikan seks dengan perilaku seksual remaja di SMA Negeri 2 Banjarmasin tahun 2012