Anda di halaman 1dari 21

PENDIDIKAN MENENGAH

DALAM KEBIJAKAN PENDIDIKAN NASIONAL


Moh. Mujib Zunun @lmisri

BAB I
PE N DAH U LUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pendidikan memiliki nilai yang strategis dan urgen dalam pembentukan
suatu bangsa. Pendidikan itu juga berupaya untuk menjamin kelangsungan hidup
bangsa tersebut. Sebab lewat pendidikanlah akan diwariskan nilai-nilai luhur yang
dimiliki oleh bangsa tersebut, karena itu pendidikan tidak hanya berfungsi untuk
how to know, dan how to do, tetapi yang amat penting adalah how to be,
bagaimana supaya how to be, terwujud maka diperlukan transfer budaya dan
kultur.
Oleh karena demikian pentingnya masalah yang berkenaan dengan
pendidikan maka perlu diatur suatu aturan yang baku mengenai pendidikan
tersebut, yang dipayungi dalam system pendidikan nasional. System pendidikan
nasional adalah satu keseluruhan yang terpadu dari semua satuan dan kegiatan
pendidikan yang berkaitan satu dengan lainnya untuk mengusahakan tercapainya
tujuan pendidikan nasional.1

B. Rumusan Masalah
Agar makalah yang berjudul “Pendidikan Menengah Dalam Kebijakan
Pendidikan Nasional” ini terfokus, maka dibagi dalam kisi-kisi sebagai berikut :
1. Apakah Sistem Pendidikan Nasional ?
2. Bagaimana Kebijakan Pendidikan Menengah Dalam Sistem Pendidikan
Nasional ?
1
Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia, (Jakarta :
Pranada Media, 2004), hal. 9

1
C. Tujuan Penulisan Masalah
Sesuai dengan rumusan masalah yang dikemukakan diatas, maka tujuan
penulisan makalah ini diarahkan untuk :
1. Untuk mengetahui hakikat Sistim Pendidikan Nasional
2. Untuk mengetahui pendidikan menengah dalam system pendidikan nasional

D. Sistematika Penulisan
Sebagai langkah akhir dalam penulisan makalah ini, maka klasifikasi
sistematika penulisannya sebagai berikut :
Bab I : Pendahuluan yang berisikan tentang latar belakang masalah, pembatasan
dan rumusan masalah, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan.
Bab II : Dibahas tentang tinjauan hakikat system pendidikan nasional dan
pendidikan menengah dalam system pendidikan nasional.
Bab III : Merupakan bab terakhir dalam penulisan makalah ini yang berisikan
tentang kesimpulan.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
PENDIDIKAN MENENGAH DALAM KEBIJAKAN
PENDIDIKAN NASIONAL

A. Sistem Pendidikan Nasional


Bangsa Indonesia di awal kemerdekaannya sungguh sangat serius untuk
membenahi pendidikan. Ada beberapa catatan sejarah dari kronologisnya
menunjukkan keseriusan dan kesungguhan para pendiri Negara ini untuk
membenahi pendidikan. Catatan tersebut adalah sebagai berikut : 2
1. Tahun 1946, membentuk panitia penyelidik pendidikan dan pengajaran.
2. Tahun 1947, Kongres Pendidikan I di Solo.
3. Tahun 1948, membentuk panitia pembentukan rancangan undang-undang
pendidikan.
4. Tahun 1949, Kongres Pendidikan II di Yogyakarta.
5. Tahun 1950, lahirnya UU No. 4 Tahun 1950 undang-undang tentang Dasar
Pendidikan dan Pengajaran (UUPN).
6. Tahun 1954, lahirnya UU No. 12 Tahun 1954 tentang pernyataan berlakunya
UU No. 4 Tahun 1950.
7. Tahun 1961, lahirnya undang-undang tentang Perguruan Tinggi.
8. Tahun 1965, lahirnya Majelis Pendidikan Nasional.
9. Tahuin 1989, lahirnya undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional
(UUSPN). UU No. 2 Tahun 1989.
10. Tahun 1990, lahirnya PP 27, 28, 29, 30 Tahun 1990.
11. Tahun 1991, lahirnya PP 72, 73 Tahun 1991.
12. Tahun 1992, lahirnya PP 38, 39.
13. Tahun 1999, lahirnya PP 60 dan 61.

2
Ibid., hal. 10-11

3
14. Tahun 2003, lahirnya undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional
yaitu UU No. 20 Tahun 2003 pengganti dari UU No. 2 Tahun 1989.
Undang-Undang Dasar 1945 Bab XIII, Pasal 31 ayat (2), mengamanahkan bahwa
pendidikan yang dimaksud harus diusahakan dan diselenggarakan oleh
pemerintah sebagai “suatu system pendidikan nasional”.
System pendidikan nasional dilaksanakan secara semesta, menyeluruh dan
terpadu : semesta dalam arti terbuka bagi seluruh rakyat dan berlaku di seluruh
wilayah Negara; menyeluruh dalam arti kata mencakup semua jalur, jenjang, dan
jenis pendidikan dan terpadu dalam arti adanya saling terkait antara pendidikan
nasional dengan seluruh usaha pembangunan nasional.
Pendidikan nasional mempunyai visi terwujudnya system pendidikan sebagai
pranata social yang kuat dan berwibawa untuk memberdayakan semua warga
Negara Indonesia berkembang menjadi manusia yang berkualitas sehingga
mampu dan proaktif menjawab tentang zaman yang berubah.
Dengan visi pendidikan tersebut, pendidikan nasional mempunyai misi sebagai
berikut :3
1. Mengupayakan perluasan dan pemerataan kesempatan memperoleh
pendidikan yang bermutu bagi seluruh rakyat Indonesia;
2. Membantu dan memfasilitasi pengembangan potensi anak bangsa secara utuh
sejak usia dini sampai akhir hayat dalam rangka mewujudkan masyarakat
belajar;
3. Meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk
mengoptimalkan pembentukan kepribadian yang bermoral;
4. Meningkatkan keprofesionalan dan akuntabilitas lembaga pendidikan sebagai
pusat pembudayaan ilmu pengetahuan, keterampilan, pengalaman, sikap, dan
nilai berdasarkan standar nasional dan global; dan

3
Dedi Hamid, Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta :
Durat Bahagia, 2003), hal. 38-39

4
5. Memberdayakan peran serta masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan
berdasarkan prinsip otonomi dalam konteks Negara Kesatuan Republik
Indonesia.

Berdasarkan visi dan misi pendidikan nasional tersebut, pendidikan nasional


berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban
bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.
Manusia Indonesia yang ingin dibentuk tergambar dalam tujuan pendidikan
nasional yang tercantum pada Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 yakni ada
delapan aspek penting dari pendidikan nasional tersebut, yaitu :
1. Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
2. Berakhlak mulia
3. Sehat
4. Berilmu
5. Cakap
6. Kreatif
7. Mandiri
8. Menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Adapun strategi pembangunan pendidikan nasional disebutkan dalam undang-


undang No. 20 Tahun 2003 yang meliputi :
1. Pelaksanaan pendidikan agama serta akhlak mulia;
2. Pengembangan dan pelaksanaan kurikulum berbasis kompetensi;
3. Proses pembelajaran yang mendidik dan dialogis;
4. Evaluasi, akreditasi, dan sertifikasi pendidikan yang memberdayakan;

5
5. Peningkatan keprofesionalan pendidik dan tenaga kependidikan;
6. Penyediaan sarana belajar yang mendidik;
7. Pembiayaan pendidikan yang sesuai dengan prinsip pemerataan dan
berkeadilan;
8. Penyelenggaraan pendidikan yang terbuka dan merata;
9. Pelaksanaan wajib belajar;
10. Pelaksanaan otonomi manajemen pendidikan;
11. Pemberdayaan peran masyarakat;
12. Pusat pembudayaan dan pembangunan masyarakat; dan
13. Pelaksanaan pengawasan dalam system pendidikan nasional.4

B. Pendidikan Menengah Dalam Sistem Pendidikan Nasional


1. Pendidikan Menengah Sebagai Lembaga / Institusi
Pendidikan menengah diselenggarakan sebagai kelanjutan dari
pendidikan dasar, yang berfungsi untuk menyiapkan peserta didik agar dapat
menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan berinteraksi secara
produktif dengan lingkungan social, budaya, dan alam sekitar dan atau
melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Pendidikan menengah terdiri atas
sekolah menengah tingkat pertama dan sekolah menengah tingkat atas.
Sekolah menengah tingkat atas terdiri atas sekolah menengah umum dan
sekolah kejuruan. Penyelenggaraan pendidikan terbuka dan jarak jauh pada
tingkat pendidikan menengah selain harus disesuaikan dengan tingkat
perkembangan peserta didik memasuki masa remaja, juga perlu diorientasikan
pada pendidikan untuk melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi
dan memasuki dunia kerja. Karakteristik proses pembelajaran mandiri pada
tingkat pendidikan menengah sekaligus harus merupakan suatu proses

4
Ibid.

6
pendewasaan baik dalam aspek akademik maupun kesiapan menguasai
ketrampilan hidup yang dituntut oleh dunia kerja.5
Menurut Peraturan Pemerintah tentang Pendidikan Tingkat Menengah
menyatakan bahwa :
o Sekolah menengah umum adalah satuan pengajaran tingkat menengah
yang melaksanakan proses belajar-pembelajaran dengan mengutamakan
pada penanaman dan penumbuhan sikap ilmiah.
o Sekolah menengah alternative adalah bentuk satuan pengajaran tingkat
menengah yang melaksanakan proses belajar-pembelajaran dengan
memberi kesempatan kepada siswa untuk memilih, mengikuti, dan
memperoleh program dan kemampuan bervariasi sesuai dengan potensi
yang dimilikinya dan dengan bobot yang dibakukan.6

Pola pendidikan alternative sebenarnya bukan merupakan hal yang


baru sama sekali. Bahkan pada awal diselenggarakannya pendidikan ribuan
tahun yang lalu, pendidikan berlangsung dengan berbagai pola : ada yang
diselenggarakan di rumah oleh orang tua sendiri, di tempat ibadah, di tempat
kerja, dan di masyarakat. Kemajuan zaman kemudian justru menyeragamkan
pola-pola yang berbeda itu ke dalam suatu struktur dan lembaga yang disebut
sekolah. Paradigma pendidikan baru yang intinya memberdayakan masyarakat
(termasuk peserta didik/warga belajar dan orang tua/keluarga mereka)
menuntut adanya kebebasan kepada warga masyarakat untuk belajar apa saja
yang diminati dan dibutuhkan, asal tidak bertentangann dengan kaidah moral
dan falsafah bangsa. Demikian pula dalam melaksanakan prinsip belajar
sepanjang hayat, seharusnya diberikan kesempatan dan kebebasan kepada
warga masyarakat tanpa melihat usianya untuk memperoleh pendidikan apa
saja, dari siapa saja, di mana saja, pada jalur dan jenjang mana saja dan kapan

5
Miarso,Yusufhadi, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, (Jakarta : Prenada Media, 2004), hal. 322
6
Ibid., hal. 690

7
saja, yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik pribadi, serta selaras
dengan ketutuhan masyarakat dan lingkungan.
Pengertian “pendidikan alternative” meliputi sejumlah besar cara
pemberdayaan peserta didik/warga belajar yang dilakukan berbeda dengan
cara yang konvensional. Meskipun caranya berbeda, namun semua pola
pendidikan alternative mempunyai tiga kesamaan yaitu : (1) pendekatannya
yang bersifat individual; (2) memberikan perhatian lebih besar kepada peserta
didik/warga belajar, orang/keluarga mereka, dan para pendidik, dan (3)
dikembangkan berdasarkan kebutuhan dan kondisi lingkungan.7
Adapun bentuk pendidikan alternative adalah :
o Pendidikan di rumah (home schooling) yang diselenggarakan oleh orang
tua/keluarga.
o Pendidikan di tempat ibadah, termasuk pendidikan pesantren.
o Pendidikan bagi peserta didik/warga belajar yang bermasalah (mereke
yang menjadi korban kemiskinan, kriminalitas, pertikaian, dan lain
sebagainya) seperti pendidian bagi anak jalanan.
o Pendidikan terprogram seperti yang pernah diujicobakan melalui proyek
PAMONG (Pendidikan Anak oleh Masyarakat, Orang Tua, dan Guru)
o Pendidikan berbasis masyarakat (communityh-based education), termasuk
KEJAR Paket A dan B, dan PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat).
o Pendidikan terbuka, seperti misaslnya SLTP Terbuka dan Madrasah
Tsanawiyah Terbuka.

2. Jenjang Pendidikan
a. Lembaga Pendidikan Formal
Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan
berjenjang.

7
Ibid., hal. 697-698

8
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, Pasal
18 menyatakan bahwa jenjang pendidikan menengah adalah sebagai
berikut : 8
(1) Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar.
(2) Pendidikan menengah terdiri atas pendidikan menengah umum dan
pendidikan menengah kejuruan.
(3) Pendidikan menengah berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA),
Madrasah Aliyah (MA), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan
Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat.
(4) Ketentuan mengenai pendidikan menengah sebagaimana dimaksud
dalam ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) diatur lebih lanjut dengan
Peraturan Pemerintah.

Pada hakekatnya, Pendidikan Menengah Keagamaan adalah pendidikan


yang diselenggarakan bagi lususan Madrasah Tsanawiyah atau Sekolah
Lanjutan Pertama yang mengutamakan perluasan pengetahuan khusus
tentang ajaran agama Islam yang diajarkan untuk melanjutkan pendidikan
pada jenjang pendidikan tinggi dan untuk meningkatkan kemampuan
siswa dalam memasuki masyarakat kerja.9
Madrasah Aliyah Keagamaan (MAK) adalah jenis pendidikan menengah
keagamaan yang mengutamakan penyiapan siswa dalam penguasaan
pengetahuan khusus tentang ajaran agama Islam dan khasanah, Pemikiran
Islam. Madrasah Aliyah Keagamaan merupakan bentuk satuan dari salah
satu jenis pendidikan menengah yang berlangsung selama tiga tahun dan
diselenggarakan dalam system Pondok Pesantren/berasrama (boarding
school).

8
Dedi Hamid, Undang-Undang……………………., hal. 10
9
Departemen Agama RI, Peraturan Menteri Agama RI Nomor 37 tahun 1993 tentang Madrasah
Aliyah Keagamaan, (Jakarta : Departemen Agama, 1993).

9
Dari konsep tersebut di atas, sistem pendidikan boarding school seolah
menemukan pasarnya. Dari segi sosial, sistem boarding school
mengisolasi anak didik dari lingkungan sosial yang heterogen yang
cenderung buruk. Di lingkungan sekolah dan asrama dikonstruksi suatu
lingkungan sosial yang relatif homogen yakni teman sebaya dan para guru
pembimbing. Homogen dalam tujuan yakni menuntut ilmu sebagai sarana
mengejar cita-cita.
Dari segi ekonomi, boarding school memberikan layanan yang paripurna
sehingga menuntut biaya yang cukup tinggi. Oleh karena itu anak didik
akan benar-benar terlayani dengan baik melalui berbagai layanan dan
fasilitas. Terakhir dari segi semangat religiusitas, boarding school
menjanjikan pendidikan yang seimbang antara kebutuhan jasmani dan
ruhani, intelektual dan spiritual. Diharapkan akan lahir peserta didik yang
tangguh secara keduniaan dengan ilmu dan teknologi, serta siap secara
iman dan amal soleh.
Nampaknya, konsep boarding school menjadi alternatif pilihan sebagai
model pengembangan Pendidikan Pesantren yang akan datang.
Pemerintah diharapkan semakin serius dalam mendukung dan
mengembangkan konsep pendidikan seperti ini. Sehingga, Pendidikan
Pesantren menjadi lembaga pendidikan yang maju dan bersaing dalam
mengembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang berbasis pada
nilai-nilai spiritual yang handal.

b. Lembaga Pendidikan Nonformal


Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal
yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang.
Satuan pendidikan nonformal terdiri atas lembaga kursus, lembaga
pelatihan, kelompok belajar, pusat kegiatan belajar masyarakat, dan
majelis taklim, serta pendidikan sejenisnyal.

10
c. Lembaga Pendidikan Informal
Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan.
Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan keluarga dan lingkungan
berbentuk belajar secara mandiri.

3. Kurikulum Pendidikan Menengah


Kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara
kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan;
a. Peningkatan iman dan takwa;
b. Peningkatan akhlak mulia;
c. Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat peserta didik;
d. Keragaman potensi daerah dan lingkungan;
e. Tuntutan pembangunan daerah dan nasional;
f. Tuntutan dunia kerja;
g. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni;
h. Agama;
i. Dinamika perkembangan global; dan
j. Persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan. (UU Sisdiknas Pasal 36)

Kurikulum pendidikan dasar dan menengah wajib memuat :10


a. Pendidikan Agama;
b. Pendidikan Kewarganegaraan;
c. Bahasa;
d. Matematika;
e. Ilmu Pengetahuan Alam;
f. Ilmu Pengetahuan Sosial;
g. Seni dan Budaya;
h. Pendidikan Jasmani dan Olahraga;
10
Dedi Hamid, Undang-Undang……………………, hal. 19

11
i. Keterampilan/kejuruan; dan
j. Muatan Lokal.
(Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, Pasal 37)

Dalam kurikulum yang berorientasi pada pencapaian kompetensi, tujuan yang


harus dicapai oleh siswa dirumuskan dalam bentuk kompetensi. Dalam
konteks pengembangan kurikulum, kompetensi adalah perpaduan dari
pengetahuan, keterampilan, nila, dan sikap yang direfleksikan dalam
kebiasaan berpikir dan bertindak. Seseorang yang telah memiliki kompetensi
dalam bidang tertentu bukan hanya mengetahui, tetapi juga dapat memahami
dan menghayati bidang tersebut yang tercermin dalam pola perilaku sehari-
hari. 11
Pencapaian kompetensi tersebut meliputi :
a. Kompetensi Lulusan, yaitu kemampuan minimal yang harus dicapai oleh
peserta didik setelah tamat mengikuti pendidikan pada jenjang atau satuan
pendidikan tertentu.
Dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006
dijelaskan bahwa Standar Kompetensi Lulusan Satuan Pendidikan (SKL-
SP) dikembangkan berdasarkan tujuan setiap satuan pendidikan, yakni:
o Pendidikan Dasar, yang meliputi SD/MI/SDLB/Paket A dan
SMP/MTs./SMPLB/Paket B bertujuan: Meletakkan dasar kecerdasan,
pengetahuan, kepribadian, akhlak mulia, serta keterampilan untuk
hidup mandiri dan mengikuti pendidikan lebih lanjut
o Pendidikan Menengah yang terdiri atas SMA/MA/SMALB/Paket C
bertujuan: Meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian,
akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti
pendidikan lebih lanjut

11
Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidkan, (Jakarta : Kencana
Prenada Media Group, 2007), hal. 68

12
o Pendidikan Menengah Kejuruan yang terdiri atas SMK/MAK
bertujuan: Meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, kepribadian,
akhlak mulia, serta keterampilan untuk hidup mandiri dan mengikuti
pendidikan lebih lanjut sesuai dengan kejuruannya

b. Komptensi Standar, yaitu kemampuan minimal yang harus dicapai setelah


anak didik menyelesaikan suatu mata pelajaran tertentu pada setiap
jenjang pendidikan yang diikutinya.
Dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 23 Tahun 2006
dijelaskan bahwa Standar Kompetensi Kelompok Mata Pelajaran (SK-
KMP) terdiri atas kelompok-kelompok mata pelajaran:
o Agama dan Akhlak Mulia;
o Kewarganegaraan dan Kepribadian;
o Ilmu Pengetahuan dan Teknologi;
o Estetika;
o Jasmani, Olah Raga, dan Kesehatan.

Standar Kompetensi Kelompok Mata Pelajaran (SK-KMP) dikembangkan


berdasarkan tujuan dan cakupan muatan dan/ atau kegiatan setiap
kelompok mata pelajaran, yakni:
o Kelompok mata pelajaran Agama dan Akhlak Mulia bertujuan:
membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Tujuan
tersebut dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan agama,
kewarganegaraan, kepribadian, ilmu pengetahuan dan teknologi,
estetika, jasmani, olahraga, dan kesehatan.
o Kelompok mata pelajaran Kewarganegaraan dan Kepribadian
bertujuan: membentuk peserta didik menjadi manusia yang memiliki

13
rasa kebangsaan dan cinta tanah air. Tujuan ini dicapai melalui muatan
dan/atau kegiatan agama, akhlak mulia, kewarganegaraan, bahasa, seni
dan budaya, dan pendidikan jasmani.
o Kelompok mata pelajaran Ilmu Pengetahuan dan Teknologi bertujuan:
mengembangkan logika, kemampuan berpikir dan analisis peserta
didik.
o Pada satuan pendidikan SD/MI/SDLB/Paket A, tujuan ini dicapai
melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa, matematika, ilmu
pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, keterampilan/kejuruan,
dan muatan lokal yang relevan,
o Pada satuan pendidikan SMP/MTs/SMPLB/Paket B, tujuan ini dicapai
melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa, matematika, ilmu
pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, keterampilan/kejuruan,
dan/atau teknologi informasi dan komunikasi, serta muatan lokal yang
relevan
o Pada satuan pendidikan SMA/MA/SMALB/Paket C, tujuan ini dicapai
melalui muatan dan/atau kegiatan bahasa, matematika, ilmu
pengetahuan alam, ilmu pengetahuan sosial, keterampilan/kejuruan,
teknologi informasi dan komunikasi, serta muatan lokal yang relevan
o Pada satuan pendidikan SMK/MAK, tujuan ini dicapai melalui muatan
dan/atau kegiatan bahasa, matematika, ilmu pengetahuan alam, ilmu
pengetahuan sosial, keterampilan, kejuruan, teknologi informasi dan
komunikasi, serta muatan lokal yang relevan
o Kelompok mata pelajaran Estetika bertujuan: membentuk karakter
peserta didik menjadi manusia yang memiliki rasa seni dan
pemahaman budaya. Tujuan ini dicapai melalui muatan dan/atau
kegiatan bahasa, seni dan budaya, keterampilan, dan muatan lokal
yang relevan.

14
o Kelompok mata pelajaran Jasmani, Olah Raga, dan Kesehatan
bertujuan: membentuk karakter peserta didik agar sehat jasmani dan
rohani, dan menumbuhkan rasa sportivitas. Tujuan ini dicapai melalui
muatan dan/atau kegiatan pendidikan jasmani, olahraga, pendidikan
kesehatan, ilmu pengetahuan alam, dan muatan lokal yang relevan.

b. Kompetensi Dasar, yaitu kemampuan minimal yang harus dicapai peserta


didik dalam penguasaan konsep atau materi pelajaran yang diberikan
dalam kelas pada jenjang pendidikan tertentu. Dilihat dari tujuan
kurikulum, kompetensi dasar termasuk tujuan pembelajaran.

4. Guru / Pendidik
Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003, Pasal 42,
menyatakan bahwa :12
(1) Pendidikan harus memiliki kualifikasi minimum dan sertifikasi sesuai
dengan jenjang kewenangan mengajar, sehat jasmani dan rohani, serta
memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
(2) Pendidik untuk pendidikan formal pada jenjang pendidikan menengah
dihasilkan oleh perguruan tinggi yang terakreditasi.
(3) Ketentuan mengenai kualifikasi pendidik sebagaimana dimaksud dalam
ayat (1) dan ayat (2) diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Peraturan pemerintah Republik Indonesia tentang Standar Nasional


Pendidikan Pasal 28 menyatakan bahwa : 13

12
Dedi Hamid, Undang-Undang…………………, hal. 22
13
Departemen Agama, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang
Standar Nasional Pendidikan, Departemen Agama, Kantor Wilayah Provinsi Jawa Timur, 2005, hal.
20

15
(1) Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai
agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan
untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
(2) Kualifikasi akademik sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah tingkat
pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang
dibuktikan dengan ijazah dan / atau sertifikasi keahlian yang relevan
sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
(3) Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan
menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi :
a. Kompetensi pedagogic;
b. Kompetensi kepribadian;
c. Kompetensi professional;
d. Kompetensi social.
(4) Seseorang yang tidak memiliki ijazah dan / atau sertifikasikeahlian
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tetapi memiliki keahlian khusus yang
diakui dan diperlukan dapat diangkat menjadi pendidik setelah melewati
uji kelayakan dan kesetaraan.
(5) Kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) sampai dengan (4) dikembangkan
oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan Menteri.

Peraturan pemerintah Republik Indonesia tentang Standar Nasional


Pendidikan Pasal 29 menyatakan bahwa :14
(1) Pendidik pada SMA/MA atau bentuk lain yang sederajat memiliki :
a. Kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV)
atau sarjana (S1);
b. Latar belakang pendidikan tinggi dengan program pendidikan yang
sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan; dan
14
Ibid, hal. 21

16
c. Sertifikasi profesi guru untuk SMA/MA.
(2) Pendidik pada SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat memiliki :
a. Kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV)
atau sarjana (S1);
b. Latar belakang pendidikan tinggi dengan program pendidikan yang
sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan; dan
c. Sertifikasi profesi guru untuk SMK/MAK.

Peraturan pemerintah Republik Indonesia tentang Standar Nasional


Pendidikan Pasal 30 menyatakan bahwa :15
(1) Pendidik pada SMP/MTs atau bentuk lain yang sederajat dan SMA/MA
atau bentuk lain yang sederajat terdiri atas guru mata pelajaran yang
penugasannya ditetapkan oleh masih-masing satuan pendidikan sesuai
dengan keperluan.
(2) Pendidikan pada SMK/MAK atau bentuk lain yang sederajat dan terdiri
atas guru mata pelajaran dan instruktur bidang kejuruan yang
penugasannya ditetapkan oleh masih-masing satuan pendidikan sesuai
dengan keperluan.

5. Pemberdayaan dan Pengembangan Pendidikan Menengah.

Di dalam rangka pemberdayaan pendidikan menengah di Indonesia ada


beberapa hal yang perlu diperhatikan :
a. Pendidik
Lembaga-lembaga pendidikan menengah di Indonesia memiliki
kekurangan tenaga pendidik baik dari segi kualitas maupun kuantitas.
Karena itu berbagaai persoalan yang menyangkut tentang ketenagaan ini
harus dicarikan solusinya. Setidaknya ada 4 (empat) kompetensi pokok
15
Ibid, hal. 23

17
yang mesti dimiliki oleh seorang tenaga pendidik. Pertama, keompetensi
keilmuan, pendidik mesti memiliki ilmu yang mengantarkan dia layak
untuk mengajar, sebab salah satu tugas pokoknya adalah transfer ilmu.
Kedua, kompetensi keterampilan mengomunikasikan ilmunya kepada
peserta didik. Ketiga, kompetensi manajerial, mencakup tentang
kepemimpinan guru, supervisor, administrator, dan lain sebagainya.
Keempat, kompetensi moral akademik, dari segi moral, pendidik mesti
menjadi contoh panutan. Pendidik tempat murid berkaca.16

b. Kurikulum
Ada beberapa persoalan berkenaan dengan ini. Pertama, beban kurikulum
pada lembaga-lembaga pendidikan menengah lebih berat dari lembaga
pendidikan lainnya. Sebab ada keinginan agar peserta didik dapat
memiliki bekal ilmu pengetahuan umum dan agama secara seimbang.
Kedua, isi kurikulumnya agar dapat membentuk manusia profesionalis
guna memiliki keterampilan tertentu sebagai bekal dalam memasuki dunia
kerja.17

c. Struktur dan Kultural


Secara structural lembaga-lembaga pendidikan menengah, Madrasah
Aliyah dan Madrasah Aliyah Ketrampilan berada di bawah naungan
Departemen Agama. Disebabkan karena hambatan structural maka dari
segi pendanaan terdapat perbedaan antara lembaga pendidikan yang
dikelola oleh Departemen Agama dengan lembaga pendidikan yang
dikelola oleh Departemen Pendidikan Nasional, dampaknya berpengaruh
kepada kualitas. Sedangkan masalah yang bersifat cultural, lembaga-
lembaga pendidikan Islam terutama kelompok menengah ke atas. Karena

16
Dede Rosyada, Paradigma Pendidikan Demokratis, (Jakarta : Prenada Media, 2004), 112-113.
17
Haidar Putra Daulay, Pendidikan Islam ……………………, hal. 18

18
itu pemberdayaan yang diharapkan dari partisipasi steakholder masih
kurang.
Ditinjau dari segi pengembangan pendidikan Islam ke depan ada masalah
yang bersifat epistimologi keilmuan, yakni bagaimana merancangkan
terintegrasinya ilmu-ilmu yang selama ini digolongkan kepada perennial
knowledge dengan acquired knowledge. Di Indonesia upaya ini telah
dilakukan langkah-langkahnya. Pertama, memasukkan mata pelajaran
agama ke sekolah-sekolah umum. Kedua, sekolah umum plus madrasah
diniyah. Ketiga, memasukkan mata pelajaran agama ke sekolah umum.
Keempat, Madrasah SKB Tiga Menteri tahun 1975. Kelima, program IDI
(Islam untuk Disiplin Ilmu). Keenam, madrasah sebagai sekolah yang
berciri khas agama Islam. Langkah-langkah yang belum selesai adalah
soal Islamisasi ilmu atau setidaknya ilmu yang berwawasan Islam.18
Pendidikan Islam semakin kukuh kedudukannya setelah masuk dan
inklusif dalam system pendidikan nasional yang diatur dalam UU No. 2
Tahun 1989 yang selanjutnya diatur pula serangkaian, Peraturan
Pemerintah yang berkenaan dengan pendidikan yang relevan dengan UU
No. 20 Tahun 2003.
Untuk mengukuhkan eksistensi pendidikan Islam di Indonesia, maka
usaha ke depan adalah bagaimana memberdayakannya dan
mengembangkannya. Untuk memberdayakannya perlu dicarikan way out
atau solusi dari berbagai problema yang sedang dihadapi-tenaga pendidik,
sarana fasilitas, kurikulum, structural dan cultural.
III
KESIMPULAN

Penyelenggaraan pendidikan dengan mengacu pada sistim pendidikan


18
Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan
Perguruan Tinggi, (Jakarta : Raja Grafindo, 2005), hal. 198-199

19
nasional dan kajian empirik, ilmiah akan memberikan model konsep yang relevan dan
ideal, dengan orientasi utama pengelolaan manajemen sekolah yang otonom dan
efektif.
Pendidikan menengah merupakan bentuk minimal dari manajemen
penyelenggaraan pendidikan di Indonesia yang harus terus dikembangkan secara
konseptual, strategi dan pengembangan implementasi pada satuan pendidikan. Oleh
sebab itu sangat diperlukan keterlibatan berbagai pihak yang kompeten untuk
mewujudkan hal tersebut.

BIBLIOGRAPY

Daulay, Haidar Putra, Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional di


Indonesia, (Jakarta : Pranada Media, 2004).

20
Departemen Agama RI, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun
2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, (Surabaya : Departemen Agama,
Kantor Wilayah Provinsi Jawa Timur, 2005).
Departemen Agama RI, Peraturan Menteri Agama RI Nomor 37 tahun 1993 tentang
Madrasah Aliyah Keagamaan, (Jakarta : Departemen Agama, 1993)
Departemen Pendidikan Nasional, Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor
23 Tahun 2006 tentang Standar Nasional Pendidikan, (Jakarta : Departemen
Pendidikan Nasional, 2006).
Hamid, Dedi, Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional, (Jakarta : Durat Bahagia, 2003).
Miarso, Yusufhadi, Menyemai Benih Teknologi Pendidikan, (Jakarta : Prenada Media,
2004).
Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah,
Madrasah dan Perguruan Tinggi, (Jakarta : Raja Grafindo, 2005).
Rosyada, Dede, Paradigma Pendidikan Demokratis, (Jakarta : Prenada Media, 2004)
Sanjaya, Wina, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan,
(Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2007).
Undang-Undang RI Nomor 2 Tahun 1989, Undang-Undang tentang Pendidikan
Nasional, (Semarang : Tugu Muda, 1989).
Undang-Undang Sisdiknas, UU No. 20 Tahun 2003, (Jakarta : Departemen Agama
RI, 2003).

Semoga Bermanfaat

21