Anda di halaman 1dari 10

KEADILAN SAHABAT

Oleh : Moh. Mujib Zunun @lmisri


I
PENDAHULUAN
Seluruh umat Islam memahami bahwa hadits adalah pedoman hidup yang
kedua setelah al-Qur’an. Sejarah perjalanan hadits tidak terpisahkan dari sejarah
perjalanan Islam itu sendiri. Dimana Rasulullah masih hidup Hadits belum mendapat
perhatian sepenuhnya seperti al-Qur’an. Para sahabat terutama yang mempunyai
tugas istimewa selalu mencurahkan tugas dan tenaganya untuk mengabdikan pada
ayat-ayat al-Qur’an di atas alat-alat yang digunakannya. Tetapi tidak demikian
dengan al-Hadits, kendatipun para sahabat sangat memerlukan petunjuk-petunjuk dan
bimbingan Nabi Muhammad Saw dalam menafsirkan dan melaksanakan ketentuan-
ketentuan dalam al-Qur’an, namun mereka belum membayangkan bahasa yang dapat
mengancam generasi yang akan dating selama Hadits belum diabadikan dalam
tulisan.
Dalam hadits dijelaskan urgensi sahabat berkaitan dengan rangkaian
periwayatan yang diderivikasikan dari Rasulullah Saw diriwayatkan bahwa sahabat
adalah transmiter awal yang menyalurkan informasi nilai-nilai relegius kepada
generasi yang berikutnya. Tanpa sahabat, informasi penting tentang agama tidak akan
sampai kepada generasi pasca sahabat. Terhadap peran sahabat dalam transmisi nilai
relegius yang vital ada dua pandangan yang berbeda; pertama ulama’ sunni secara
mayoritas sepakat bahwa sahabat adalah tonggak Islam pertama yang tidak perlu
diragukan lagi informasi-informasi yang disampaikan kepada generasi selanjutnya,
kesepakatan itu berarti tidak perlu menguasai kredibilitas dan integritas (‫ )عادلة‬nya.
Urgensi dan peran para sahabat sebagai tonggak awal pembawa panji-panji Islam
tersebut juga diakui oleh ulama’ shi’i, hanya saja menurut mereka hal itu tidak serta
merta bermakna bahwa sahabat secara keseluruhan dapat diterima sebagai transmitter

Seminar Studi Hadits, Oleh Moh. Mujib Zunun @l-Misri@2008 1


nilai-nilai agama tanpa diuji kredibilitas dan integritasnya masing-masing
individunya.1
Agar penulisan makalah ini tidak membias, maka penulis mengatur pada kisi-
kisi sebagai berikut :
o Pengertian sahabat
o Keutamaan sahabat dan factor-faktor yang membedakan dalam periwayatan
hadits
o Pengertian ‘Adalah dan Keadilan Sahabat
o Pandangan ulama tentang keadilan sahabat

II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Sahabat
Sahabat secara etimologis merupakan kata bentukan dari kata al-suhbeih
(persahabatan), bentuk isim masdar “Shahiba-yashabu”, yang artinya mengikuti,
menyertai atau orang yang menyertai orang lain, sedikit atau banyak, yang
digunakan untuk mengikuti pernyataanya dalam suatu kegiatan, baik dalam
frekuensi minimal maupun maksimal, sepanjang masa, satu tahun, satu bulan,
satu hari, dan satu jam.2
Adapun pengertian sahabat menurut istilah para ulama’ berbeda pendapat :
o Menurut Usman ibn Shalih, sahabat adalah orang yang menemui masa Nabi
walaupun dia tidak dapat melihat dan memeluk Islam semasa Nabi hidup.3

1
Ar-al-Amien, “Konsep ‘Adalah al-Sahabat Perspektif Sunni dan Shi’I”, Paramedia, Vol 1,
No. 2 (Juli, 2002), hal. 130
2
Muhammad Azzaz Al-Khatib, “Ushul al-Hadits”, (Jakarta : Gramedia Pratama Putra, 1998),
hal. 377.
3
Muhammad Hasbi as-Sidiqi, “Sejarah Pengantar Ilmu Hadits”, (Semarang : Pustaka Riski
Putra, 1999), hal. 238

Seminar Studi Hadits, Oleh Moh. Mujib Zunun @l-Misri@2008 2


o Menurut ulama’ hadits, sahabat adalah setiap muslim yang pernah melihat
Rasulullah Saw.4
o Menurut Ibn Hazm, sahabat adalah setiap orang yang pernah bermujalasah
dengan Nabi walaupun hanya sesaat, mendengar dari beliau walaupun hanya
satu kata, menyaksikan beliau dalam menangani satu masalah dan tidak
termasuk orang-orang yang munafik yang kemunafikannya berlanjut sampai
populer dan meninggal seperti itu.5
o Menurut Ibn Hajar, definisi sahabat yang paling shahih adalah orang yang
pernah bertemu dengan Nabi Saw, dalam keadaan beriman kepada beliau dan
meninggal dalam keadaan iman juga. Masuk dalam kategori orang yang
pernah ketemu Nabi Saw, orang yang lama bermujalasah atau sebentar saja
bersama beliau, orang yang turut berperang atau tidak, orang yang tidak
pernah melihat beliau dengan alsan tertentu seperti buta.6 Dan pendapat ini
merupakan pendapat yang mayoritas.
B. Keutamaan Sahabat dan Faktor-faktro yang membedakan dalam periwayatan
Hadits
1. Ketutamaan Sahabat.
Para ulama berbeda pendapat, siapa diantara sahabat yang lebih dahulu
memeluk agama Islam. Ada yang mengatakan Abu Bakar, ada yang
mengatakan Khadijah, Zaid Ibn Haritsah, Ali bin Abi Thalib dan ada yang
mengatakan Ibn Ats.7
Menurut penelitian Muhaqqiqin, bahwa orang yang mula-mula masuk
Islam adalah Khadijah ra. Dan Assalaby menganggap bahwa, pendapat para
muhaqqiqi tersebut sudah menjadi ijma’. Hanya saja yang menjadi
perselisihan ialah orang-orang sesudah khadijah ra. Untuk menjaga
keperwiraan dan menghindari kesimpangsiuran pendapat tentang orang-orang
4
Al-Khatib, Ibid.
5
Ibid.
6
Ibnu Hazm, “Al-Ishbah Fi al-Tamyiz al-Shahabah”, (Mesir, 1323 H.), hal. 4.
7
Hasbi Assidiqi, 246.

Seminar Studi Hadits, Oleh Moh. Mujib Zunun @l-Misri@2008 3


yang mula-mula masuk Islam, Imam Nawawi mengklasifikasikannya sebagai
berikut :
a. Dari golongan orang laki-laki dewasa lagi merdeka, ialah Abu Bakar.
b. Dari golongan pemuda, ialah Ali bin Abi Thalib.
c. Dari golongan wanita, ialah Khadijah
d. Dari golongan mawali (budak),ialah Zaid bin Haritsah, budak pemberian
Khadijah yang dibebaskan oleh Nabi, kemudian diambil anak angkat.
e. Dari golongan hamba sahaya adalah Bilal.8
Menurut para sahabat, tabi’in dan fuqaha’ telah sepakat dalam
menetapkan bahwa sahabat yang paling utama secara mutlak adalah Abu
Bakar, kemudian Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.9
Setelah mereka berempat, ialah sahabat sepuluh yang telah diakui masuk
surga diantaranya : Sa’ad ibn Abi Waqats, Said bin Zaid, Thalahah ibn
Ubaidillah, Az-Zubair ibn Al-Awam, Abd Rahman ibn Auf, Abu Ubai dan Ibn
Al-Jasrah. Kemudian sahabat-sahabat yang menyaksikan perang Badar,
perang Uhud, kemudian sahabat yang hadir dalam mengadakan Bait ar-
Ridwan10 di Hudaibiyah, dan yang terakhir adalah Assabiqunal Awwalun.
2. Faktor-faktor yang membedakan dalam periwatan hadits.
Para sahabat tidak berada pada satu tingkatan dalam hal ilmu mereka,
mengenai sunnah, hal-ihwal, dan sabda Rasulullah Saw, namun keadaan mereka
bertingkat tingkat, karena ada diantara mereka yang menghabiskan umurnya
untuk selalu bersama Rasulullah Saw dan melayani sebagian besar kegiatan
beliau seperti Anas bin Malik. Ada juga yang sering mengembara di pedalaman-
pedalaman atau berdagang ke berbagai daerah, ada yang berasal dari perkotaan
8
Fathur Rahman, “Intisar Mustalahul Hadits”, (Yogyakarta : Al-Ma’arif, 1970), hal. 291.
9
Ibib, 286
10
Bait al-Ridwan adalah suatu bai’ah yang di ikrarkan oleh para sahabat bersama nabi, di
Hudaibiyah, ketika Nabi hendak melakukan Umrah dan meninjau keluarga beliau di Makkah, ketika
Nabi dan sahabat menunggu kedatangan Usman yang diutus untuk menyampaikan maksud Nabi
kepada kaum Quraisy, Mekkah, dan terdengar kabar bahwa Usman telah dibunuh, maka para sahabat
berikrar dihadapan Nabi dan berjanji akan memeranginya. Dan ikrar ini menggetarkan orang musyrik
Quraisy dan Usman yang ditahan dibebaskan dan mereka mengusulkan untuk diadakan perdamaian.

Seminar Studi Hadits, Oleh Moh. Mujib Zunun @l-Misri@2008 4


dan ada pula yang berasal dari pedalaman (pedesaan), ada yang menetap ada juga
nomadic. Sehingga berbeda-beda tingkat pengetahuan tentang apa yang datang
dari Rasulullah Saw.
Para sahabat dalam meriwayatkan hadits dari Rasulullah Saw yang dibawa
kepada kita syariat yang hanif dan disampaikannya kepada generasi sesudah
mereka, baik berupa perbuatan, namun segala aktifitas Rasulullah Saw yang besar
maupun yang kecil, saat di rumah ataupun di saat bepergian, saat berpindah-
pindah maupun saat menetap. Mereka meriwayatkannya itu berbeda-beda. Ada
yang meriwayatkan lebih dari 200 hadits, ada sahabat yang meriwayatkan lebih
dari 100 hadits dan bahkan ada sahabat hanya meriwayatkan satu hadits
Rasulullah Saw.11 Dari pemaparan tersebut jelaslah perbedaan sahabat dalam
meriwayatkan hadits dari Rasulullah Saw.

C. Pengertian Al-‘Adalah dan Keadilan Sahabat


1. Pengertian Al-‘Adalah
Al-‘Adalah menurut bahasa adalah masdar dan kata kerja (‫ )عدل‬dan
sinonimnya adalah al-Istiqomah, yang berarti lurus, menurut pengertian
sahabat bersikap lurus di jalan kebenaran dengan menghindarkan hal-hal yang
dilarang oleh agama.
Menurut ibnu Sam’ani, keadilan seorang rawi harus memenuhi empat
syarat, yaitu :
a. Selalu memelihara perbuatan taat dan menjauhi maksiat
b. Menjauhi dosa-dosa kecil yang dapat menodai agama dan sopan santun
c. Tidak melakukan perkataan-perkataan mubah yang dapat menggugurkan
iman kepada qadar dan mengakibatkan penyesalan.
d. Tidak mengikuti pendapat salah satu madzhab yang bertentangan dengan
syara’.12

11
Al-Khatib, “Ushul al-Hadits”, hal. 393.
12
Totok Jumantoro, “Kamus Ilmu Hadits”, (FF. Bumi Aksara, 1997), hal. 11

Seminar Studi Hadits, Oleh Moh. Mujib Zunun @l-Misri@2008 5


Dengan demikian, jika pada diri seorang rawi tidak ada jiwa yang
adil dalam meriwayatkan hadits, maka akan berpengaruh negative
terhadap kesahihan hadits itu sendiri.
2. Keadilan Sahabat
Menurut Jumhur Ulama’, bahwa seluruh sahabat itu adalah adil.
Adapun yang dimaksud adil disini adalah adanya konsekuensi para sahabat
secara kontinyu dalam menegakkan nilai-nilai agama, senantiasa ber amar
ma’ruf serta tidak berbohong kepada Rasulullah Saw.13, dengan demikian
keadilan sahabat akan berarti, karena para sahabat dijamin terjaga dari
perbuatan dosa, lupa atau kelupaan.
Imam Al-Khatib al-Bagdadi, dalam kitab kifayahnya mengatakan
bahwa tidak perlu dipersoalkan lagi mengenai keadilan para sahabat, karena
keadilan sahabat sudah ditetapkan keadilannya oleh Allah Swt., dalam ayat-
ayat Al-Qur’an dan Al-Hadits,14 ayat-ayat tersebut antara lain :
          
         
            
      
110. “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada
yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. sekiranya ahli
Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan
kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (AliImran : 110)15

Dan perintah ini langsung tertuju kepada sahabat Rasulullah dan


orang-orang yang menyaksikan turunnya wahyu.
Adanya perbedaan pendapat mengenai keadilan sahabat, Imam Al-
Nawawi menyatakan pendapat jumhur itu telah menjadi ijma’, oleh karena itu
tidak diperbolehkan seseorang mengkritik mereke, khawatir akan
menyimpang dari al-Qur’an dan al-Sunnah yang telah menegaskan keadilan
13
Muhammad bin Muhammad Abi Syunnah, “Al-Wasit”, (Kairo : Dar al-Fikr, al-Arabi, tt),
499
14
Al-Khatib Al-Bagdady, “Kitab Al-Kifayah”, (Bairut : Dar al-Kutub, al-Ilmiah, 1988), 46
15
Al-Qur’an, S. Ali Imron, ayat 110

Seminar Studi Hadits, Oleh Moh. Mujib Zunun @l-Misri@2008 6


mereka. Sebab mereka memiliki peran yang sangat besar dalam menegakkan
dan membela agama, membela Rasulullah Saw, menyerahkan jiwa dan
hartanya, bersikap sesuai dengan tatanan-tatanan-Nya dan sangat ketat dalam
melaksanakan perintah maupun menjauhi larangan-Nya. Sebagaimana yang
dikatakan oleh Abu Zurah Al-Rasyi mengenai keadilan sahabat adalah jika
kamu melihat seseorang yang mencari kesalahan seorang sahabat, maka
ketahuilah bahwa orang itu sindiq. Hal ini karena Rasulullah saw benar, Al-
Qur’an benar dan apa yang dibawa oleh beliau benar, semua itu dibawa
kepada kita oleh sahabat.16
D. Pandangan Ulama’ tentang Keadilan Sahabat
Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa keadilan sahabat telah di maklumi
berlandaskan apa yang ditegaskan Allah Swt sendiri. Selain itu Allah juga memuji
mereka. Oleh karena itu tidak perlu lagi menta’dilkan mereka sebab penta’dilan
dari Allah ebih sahih mengingat Dia adalah Dzat yang Maha Mengetahui terhadap
yang ghaib.17 Pernyataan Al-Ghazali mendapat dukungan ibn Salah, ia
menjelaskan bahwa keadilan sahabat sudah tidak dipertanakan lagi. Hal ini sesuai
dengan keterangan Al-Qur’an, Sunnah, dan Ijma’ bahwa mereka semua adalah
adil.18
Ulama’ Sunni juga menyepakati tentang keadilan sahabat, posisi sahabat
sangat tinggi dalam pandangan mereka, dan mereka mengatakan bahwa sahabat
itu tidak perlu diteliti keadilannya karena mereka semua adil. Dan pendapat ini
ditentang oleh sebagian tokoh Mu’tazilah seperti Wasil bin ‘Atha’ dan Umar bin
Abid, justru berpendapat bahwa suatu riwayat harus dibuang bila transmisinya
berujung pada sahabat, tidak terkecuali Ali. Hal ini disebabkan mereka sama-
sama pernah terlibat perang Jamal dan Siffin.19
16
Azzaz, Al-Khatib, “Usul Al-Hadits”, 391
17
Imam Al-Ghazali, “Al-Mustafa Ulum al-Usul”, (Bairut : Dar al-Kutub al-Ilmiah, 1993), hal.
130
18
Ibn Salah, “ Muqaddimah Ibn Salah fi ‘Ulum al-Hadits’, (Bairut : Dar al-Kutub al-Ilmiah,
1989), hal. 146.
19
Al-Hasan, “Dirasat”, 72-73

Seminar Studi Hadits, Oleh Moh. Mujib Zunun @l-Misri@2008 7


Menurut Ahl al-Bait, diantara para sahabat ada yang adil ada yang tidak
adil, sebab keberadaan seorang sahabat tidaklah menjadi jaminan atas
keadilannya. Satu hal penting untuk mengetahui keadilan seorang sahabat adalah
menelusuri prilaku hidupnya hingga dapat disimpulkan bahwa ia adil dan dapat
dipercaya atau sebaliknya.20
Adapun sebaliknya jawaban Ahl Bait terhadap argument Al-Qur’an yang
dijadikan landasan oleh kalangan sunni untuk merekomendasikan keadilan
seluruh sahabat sebagai berikut : Seperti surat Ali Imran ayat 110, juga tidak tepat
untuk dijadikan argument keadilan bagi seluruh sahabat Nabi. Mukhatabun (orang
yang diajak bicara) ayat ini adalah ummat Islam secvara umum dibandingkan
dengan ummat lainnya, status sebagai umat terbaik diberikan oleh ayat tersebut
kepada mereka jika melakukan amar ma’ruf nahi mungkar, serta beriman kepada
Allah swt, dan sebaliknya bila tidak atau bahkan melakukan kemungkaran bukan
lagi ummat terbaik.
Argument lain oleh Ahlul Bait yang dijadikan rujukan adanya sahabat
yang tidak adil adalah terjadinya peperangan di kalangan sahabat yaitu perang
siffin, antara kelompok Ali dan Muawiyah.

III
KESIMPULAN
Dari uraian tersebut diatas kami menarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Sahabat adalah orang yang bertemu Nabi saw yang bermujalasah dengannya baik
lama atau sebentar, yang beriman kepada Allah dan Rasulnya baik ketika
Rasulullah masih hidup atau sesudah wafat, hingga akhir hayatnya.

20
Zafat Subhani, “Ilahiyat ‘Ala Huda al-Kitab Wa al-Suniya”, Vol III, (Qan Teheran : al-
Markaz al-Alami Li al-Dirasah al-Islami, 1990), 934-935.

Seminar Studi Hadits, Oleh Moh. Mujib Zunun @l-Misri@2008 8


2. Keadilan sahabat adalah konsekuensi para sahabat secara kontinyu dalam
menegakkan nilai-nilai agama, senantiasa beramal ma’ruf nahi mungkar dan tidak
pernah berbohong kepada Rasulullah saw.
3. Menurut mayoritas ulama mengatakan bahwa seluruh sahabat adalah adil, namun
sebagian lagi mengatakan bahwa tidak semua sahabat adil sebab bukanlah
seorang manusia biasa yang tidak lepas dari kesalahan dan kekhilafan,
sebagaimana yang terjadi pada manusia lainnya.

BIBLIOGRAPY

Al-Bagdadi, Al-Khatib, “Kitab al-Kifayah”, (Bairut : Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1988)


Al-Khatib, Muhammad Ajjaj, “Usul al-Hadits’Ulumuha ‘Ala Mustalahahu”, (Bairut :
Dar al-Fikr, 1989)

Seminar Studi Hadits, Oleh Moh. Mujib Zunun @l-Misri@2008 9


Abu Syuhnah, Muhammad, “Al-Wasit Fi al-‘Ulum Wa Mustalahu al-Hadits”, (Kairo :
Dar al-Fikr al-Arabi, tt)
Departemen Agama RI, “Al-Qur’an dan Terjemahannya”, 1986.
Hasbi As-Shidiqi, Muhammad, “Sejarah Pengantar Ilmu Hadits”, (Semarang :
Pustaka Rizki Putra, 1999).
Al-Ghazali, Muhammad, “Al-Mustafa ‘Ulum al-Hadits”, (Bandung : Al-Ma’rif,
1970).
Jumantoro, Totok, “Kamus Ilmu Hadits”, (FF : Bumi Aksara, 1997).
Rahman, Fathur, “Intisari Mustalah al-Hadits”, (Bandung : Al-Ma’arif, 1970).
Salah, Ibn, “Muqaddimah Ibn Salah Fi ‘Ulum al-Hadits”, (Bairut : Dar al-Kutub al-
Ilmiah, 1989).
Subhani, Zafar, “Ilahiyat ‘Ala Huda al-Kitab Wa al-Sunni Wa al-Aqli”, (Vol III, Qan
Teheran : Al-Markaz al-Alami Li al-Dirasah al-Islamiyah, 1990).

Seminar Studi Hadits, Oleh Moh. Mujib Zunun @l-Misri@2008 10