Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRAKTIKUM FISIKA EKSPERIMEN I Percobaan h/e

DISUSUN OLEH : NamaPraktikan AsistenPraktikum Hari/TanggalPraktikum : LarasRifianaDewi (H1E010007) : AnangHidayatuloh (H1E010025) : Fuad : Kamis, 8 November 2012

LABORATORIUM FISIKA MATERIAL DAN INSTRUMENTASI PROGRAM STUDI FISIKA JURUSAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM FAKULTAS SAINS DAN TEKNIK UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN PURWOKERTO

2012

Percobaan h/e
Laras Refiana Dewi & Anang Hidayatuloh (H1E010007) (H1E010025)

Abstrak

Eksperimen h/e dilakukan berdasarkan penerapan prinsip efek fotolistrik. Efek fotolistrik merupakan gejala keluarnya elektron dari permukaan logam bila dikenai potensial henti ( V0 ) berbanding lurus dengan energi kinetik elektron. Hal ini menyebabkan Ek maks pancaran elektron akan bertambah secara linier terhadap frekuensi cahaya yang digunakan. Cahaya mempunyai dua jenis sifat, yaitu bersifat gelombang dan partikel. Cahaya disebut sebagai gelombang bila cahaya sebagai gelombang bila cahaya tersebut melalui sebuah celah dan ketika cahay a tiba pada sebuah layar, cahaya tersebut sebagai partikel. Eksperimen dilakukan untuk menentukan perbandingan ( ratio )dengan perhitungan menggunakan grafik. Nilai perbandingan diperoleh melalui perhitungan slope/kemiringan antara nilai potensial dan nilai frekuensi ( ). Planck menemukan bahwa nilai konstanta Plank h= 6,625 x 10 -34 Js, = 1,6 x 10 -19 C dan nilai perbandingan h/e adalah 4,14375 x 10 -15 Js/C . Berdasarkan eksperimen diperoleh nilai h/e sebesar

. Kata kunci : Lampu mercuri, efek fotolistrik, potensial henti, konstsnta planck.

I.

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang Cahaya mempunyai dua jenis sifat , yaitu bersifat sebagai gelombang dan sebagai partikel. Cahaya disebut sebagai gelombang bila cahaya tersebut melalui sebuah celah dan ketika cahaya tiba pada sebuah layar, cahaya tersebut sebagai partikel. Efek fotolistrik merupakan fenomena fisis yang menunjukkan sebuah partikel bersifat gelombang. Efek fotolistrik merupakan peristiwa jatuhnya gelombang elektromagnetik dengan energi tertentu pada permukaan logam sehingga sejumlah elektronnya terpancar.

Gambar 1. Spektrum warna pada ineterferensi gelombang Berdasarkan tinjauan fisika klasik, gelombang elektromagnetik membawa energi kemudian sebagian energi ini ditransfer ke dalam logam dan terkonsentrasi pada elektron tertentu. Energi ini diubah menjadi energi kinetik elektron pada saat munculnya fotoelektron dan nilainya tergantung dari intensitas cahaya yang datang. Setelah cahaya mengenai permukaan logam yang digunakan sebagai anoda, fotoelektron tidak segera dipancarkan tetapi menunggu beberapa saat sehingga energinya cukup 1 eV (energi yang biasa dimiliki oleh satu fotoelektron). 1.2. Tujuan Tujuan dilakukan percobaan h/e adalah a. Mempelajari pancaran dari lampu mercury b. Menentukan nilai perbandingan h/e. 1.3. Tinjauan Pustaka A. Teori Kuantum Cahaya Dua teori klasik yang mencoba menjelaskan radiasi benda hitam dikemukakan oleh Wilhem Wien (1896) dan Lord Rayleigh (1900) yang diperkuat oleh J.Jeans sehingga

dikenal sebagai Teori Rayleigh-Jeans.Teori Wien mampu menjelaskan radiasi benda hitam untuk panjang gelombang yang panjang.Sedangkan teori Reyleigh-Jeans kebalikan dari teori Wien. Pada akhir tahun 1900 penjelasan yang memuaskan datang dari Max Planck yang mengajukan rumus empiris dan ternyata sangat cocok dengan hasil eksperimen adapun penjelasannya adalah sebagai berikut: a Energi radiasi yang dipancarkan oleh getaran molekul-molekul benda bersifat diskret, yang besarnya: En = nh dengan n adalah bilangan bulat yang disebut bilangan kuantum dan adalah frekuensi getaran molekul-molekul, sedangkan h adalah konstanta Planck yang besarnya 6,626x10-34 J.s. karena energi radiasi bersifat diskret, dikatakan energinya terkuantisasi dan energi yang diperkenenkan dengan n =1, 2, 3, disebut tingkat energi. b Molekul-molekul menyerap dan memancarkan energi radiasi cahaya dalam paket diskret yang disebut kuantum atau foton. Energi kuantum = (tetapan Planck) x (frekuensi) E = h (1) Bila molekul-molekul menyerap/memancar satu foton, maka tingkat energinya bertambah/berkurang sebesar h. Semua gagasan Planck tersebut diatas hanya membahas tentang fenomena radiasi benda hitam.Kemudian Albert Einsten memperluasnya menjadi fenomena yang universal dan berdasarkan Teori Kuantum.Cahaya merupakan pancaran dari paket-paket energi (foton) yang terkuantisasi (diskret) yang besarnya sesuai dengan persamaan (1).Cahaya merupakan sala satu gelombang yang dalam perambatannya membawa energi. Sehingga teori-teori fisika sebelum tahun 1900 disebut fisika klasik, sedangkan teori-teori fisika sesudah tahun 1900 yang diawali oleh Teori Kuantum dari Planck disebut fisika modern. B. Efek Fotolistrik Gejala efek fotolistrik dapat diterangkan sebagai berikut: foton yang membawa energi dipancarkan terhadap lempeng logam.sistem tersebut pertama-tama berfungsi untuk melepaskan elektron dari lempeng dan energi yang tersisa akan terkonsentrasi pada elektron yang lepas dan mengerakannya sehingga muncul suatu energi kinetik yang berarti elektron tersebut bersifat sebagai benda. Secara matematis:

h h0 h

= Kmax + h0 = W0 = Kmax + W0 (2)

dengan: h = Energi kuantum cahaya. Kmax = energi kinetik maksimum elektron. h0 = W0 = fungsi kerja, energi minimum untuk melepas sebuah electron yang terikat pada permukaan logam. Fungsi kerja untuk masing-masing permukaan logam memiliki nilai yang khas.Hal ini menunjukkan bahwa fungsi kerja merupakan besaran yang khas. C. Eksperimen Seperti diketahui bahwa cahaya membawa energi, dan sebagian energi diserap oleh bagian yang tersinari.( Sisa )Energi yang terserap dapat terkonsentrasi pada elektron tertentu dan muncul kembali sebagai energi kinetik elektron (Ekmaks). Kita ingat bahwa hubungan antara energi kinetik elektron dengan potensial elektron adalah: Ekmaks = e.V Menurut persamaan (2): h = Ek + W0 (3)

h = e.V + W0 V =

W h - 0 e e

(4)

Persamaan (4) dapat dinyatakan sebagai persamaan garis lurus, sehingga apabila V dan diplotkan dalam grafik akan diperoleh slope dari garis tersebut, seperti terlihat pada Gambar 1.

V Slope =
h e

Gambar 1. Grafik hubungan potensial (V) dan frekuensi gelombang h/e

II.

METODE PERCOBAAN Metode dalam percobaan ini dilaksanakan dengan metode eksperimen, yang menggunakan cahaya lampu mercury disertai dengan pemasangan filter pada perangkat. 2.1. Alat Dan Bahan Percobaan Alat dan perlengkapan yang digunakan dalam percobaan ini adalah: a. Sumber cahaya mercury b. Multimeter digital c. prisma d. Perangkat h/e e. filter transmitansi Cara Kerja Percobaan Bagian A a. Menyusun peralatan percobaan h/e. b. Menghidupkan sumber cahaya mercury. c. mengecek potensial baterai pada perangkat h/e. d. Memasang filter transmisi pada layar perangkat h/e e. Memulai percobaan dengan mengepaskan cahaya warna biru f. Mencatat nilai potensial yang ditunjukkan pada multimeter digital untuk setiap prosentase transmisi (100%, 80%, 60%,40% dan 20%). Bagian B a. Mengulang langkah a sampai c pada bagianA. b. Mencatat nilai potensial yang ditunjukkan pada multimeter digital untuk setiap warna (merah, jingga, kuning, hijau dan ungu).

2.2.

III.

HASIL PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN 3.1. Hasil Pengamatan Tabel 1. Nilai potensial warna cahaya biru untuk filter transmisi Warna Cahaya KUNING (5,19 x 1014 Hz) % Transmisi 100 80 60 40 20 Potensial (mV) 344,6 329,3 305,9 262,3 175,8

Warna Cahaya HIJAU (5,50 x 1014 Hz)

% Transmisi 100 80 60 40 20

Potensial (mV) 282,6 251,4 207,2 149,4 107,3

Tabel 2. Nilai potensial untuk warna cahaya pembiasan Warna Cahaya Pembiasan Merah Jingga Kuning Hijau Ungu Frekuensi (Hz) 4,11 x 1014 5,08 x 1014 5,19 x 1014 5,50 x 1014 7,89 x 1014 Potensial (mV) 318,7 334,2 375,1 325,7 300.9

3.2. Perhitungan dari Grafik 2:


0.8 0.7 0.6 0.5 Axis Title 0.4 0.3 0.2 0.1 0 0.00E+00

5.00E+14 Axis Title

1.00E+15

Slope terbaik =

IV.

PEMBAHASAN Jika melihat dari grafik yang didapat, terlihat bahwa nilai h/e adalah kemiringan (slope) dari grafik tersebut. Nilai tegangan berbanding lurus dengan frekuensi. Jika nilai frekuensi bertambah maka nilai tegangan juga akan bertambah, dan sebaliknya. Energi kinetik foto elektron tidak bergantung pada intensitas cahaya. Intensitas cahaya hanya berpengaruh terhadap jumlah foto elektron yang dipancarkan pada saat terjadi efek fotolistrik. (Urutan cahaya mulai dari yang berfrekuensi rendah sampai yang tertinggi pada praktikum ini adalah merah, kuning, hijau dan biru. Di atas untuk transmisi 100%, 80%, 60 %, 40%, 20% semakin besar frekuensi suatu cahaya maka semakin besar pula nilai potensialnya. Dari percobaan dapat dilihat, dengan bertambahnya nilai frekuensi maka nilai tegangannya juga bertambah dan sebaliknya begitu pun dengan arus yang berbanding lurus dengan tegangan.

Adapun tabel dari transmisi dan potensial : Warna Cahaya KUNING (5,19 x 1014 Hz) % Transmisi 100 80 60 40 20 % Transmisi 100 80 60 40 20 Potensial (mV) 344,6 329,3 305,9 262,3 175,8 Potensial (mV) 282,6 251,4 207,2 149,4 107,3

Warna Cahaya HIJAU (5,50 x 1014 Hz)

Dari data hasil pengamatan dapat dilihat bahwa nilai h/e tidak ada yang sesuai dengan referensi yaitu 4,14E-15 J.s/C nilai h/e yang di dapat adalah Hal ini dapat dikarenakan : 1. kurang telitinya atau fokusnya praktikan dalam memfokuskan cahaya yang diamati. 2. Kalibrasi alat yang mungkin kurang bagus.

IV.

KESIMPULAN Dari pembahasan dapat disimpulkan bahwa energi kinetik foto elektron tidak bergantung pada intensitas cahaya.Intensitas cahaya hanya berpengaruh terhadap jumlah foto elektron yang dipancarkan pada saat terjadi efek fotolistrik. Energi kinetik maksimum foto elektron bergantung pada frekuensi sinar yang dipergunakan dalam percobaan efek fotolistrik.Semakin besar frekuensi foton, maka semakin besar pula energi kinetik maksimum foto electron.

DAFTAR PUSTAKA

Beiser, Arthur. 1992. Konsep Fisika Modern. Edisi mahasiswa. Penerjemah The Houw Liong. Jakarta: Erlangga. Rohlf, James William. 1994. Modern Physics from to Zo. New York: Jhon Willey and Sons, Inc. Tipler, Paul A. 2001.Fisika untuk Sains dan Teknik. Penerjemah: Bambang Soegijono. Jakarta: Erlangga. Wiyatno, Yusman. 2003. Fisika Modern. Jakarta: Erlangga.