Anda di halaman 1dari 20

DAFTAR ISI

I. II. III. IV. V. VI. VII. VIII. IX.

PENDAHULUAN.1 ETIOLOGI.....2 EPIDEMIOLOGI...2 ANATOMI.3 HISTOLOGI...5 FISIOLOGI.6 PATOFISIOLOGI..7 HISTOPATOLOGI....9 DIAGNOSIS a. GEJALA KLINIS12 b. PEMERIKSAAN FISIS..12 c. PEMERIKSAAN LABORATORIUM13 d. PEMERIKSAAN RADIOLOGI..14 e. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LAINNYA14

X. XI. XII.

TERAPI..15 KOMPLIKASI...16 PROGNOSIS..16 DAFTAR PUSTAKA

POLIP COLON I. PENDAHULUAN Polip merupakan suatu penonjolan diatas permukaan mukosa. Mayoritas dari polip colon merupakan adenoma yang berpotensi untuk menjadi ganas. Ukuran polip bermacam-macam dengan diameter dari hanya beberapa millimeter sampai dengan ukuran beberapa sentimeter. Polip dapat muncul secara soliter maupun multipel, malah pada sindrom poliposis dapat ditemukan hingga ratusan polip. (1) Polip colon dapat dibagi menjadi polip non neoplasma dan polip neoplasma. Hamartoma, polip metaplastik (hiperplastik) dan polip inflamatorik diklasifikasikan dalam golongan polip non neoplasma. Tipe ini tidak berpotensi untuk berubah menjadi ganas. Polip adenomatosa familial pula merupakan suatu neoplasma. (1,2) Polip yang lebih besar ditemukan direktum dan hampir 70-80% dari kesemua polip merupakan suatu adenoma, dan sebagian 5% dari jumlah tersebut dapat mengandung sel-sel ganas. Kebanyakan polip tidak memberikan gejala dan hanya ditemukan pada saat pasien sedang diperiksa untuk gejala seperti nyeri, perubahan pola defekasi, perdarahan rectal maupun sebab-sebab yang lain. (1) Polip colon jarang memberikan gejala dan hampir kesemua kasus terdeteksi melalui pemeriksaan Rontgen atau kolonoskopi. Polip dengan ukuran agak besar dapat menyebabkan perdarahan intermiten sehingga dapat mengakibatkan anemia. Sedangkan adenoma villous sessile yang berukuran besar pada rektum dapat memberikan gejala diare dan hipokalemia. (1,2) Penatalaksanaan polip colon dapat berupa operasi, terapi adjuvan dan juga kemoterapi. Operasi dilakukan dengan cara mengangkat polip dengan batas reseksi yang adekuat serta pengangkatan kelenjar limfe yang bersangkutan. Pencegahan sekunder bertujuan untuk mendeteksi dini dan mengangkat lesi pada tahap awal atau fase pra-kanker. (2)

II. ETIOLOGI Sel-sel normal tumbuh dan berkembang dengan jalur yang teratur. Bila terjadinya mutasi pada salah satu gen yang mengatur tumbuh dan kembang sel-sel tersebut, maka sel tersebut akan terus berkembang walaupun pada saat tersebut sel-sel baru tidak lagi diperlukan. Pada colon dan rektum, perkembangan sel-sel yang tidak terkontrol selanjutnya dapat membentuk polip. Dalam jangka waktu yang cukup lama, sebagian dari polip ini dapat berkembang menjadi ganas. (3) III. EPIDEMIOLOGI Studi dari suatu populasi di Amerika Serikat dan juga autopsi membuktikan bahawa hampir 30% dari individu usia pertengahan atau usia lanjut menderita polip colon. Secara internasional, perbandingan yang tepat antara insidens polip colon dan prevalens antara Negara sukar dikenal pasti oleh karena terdapat perbedaan dalam teknik untuk mendeteksi. Prevalens polip kolon pada pasien usia melebihi 60 tahun menunjukkan berbagai hasil, namun pada kebanyakan Negara prevalensnya melebihi 10%.
(4)

Ras bukan merupakan faktor resiko mayor untuk polip colon. Namun, suatu studi menunjukan bahawa orang berkulit gelap turut memiliki insidens yang lebih tinggi dan onset kanker kolorektal yang lebih dini. Dari jenis kelamin pula, laki-laki memiliki insidens menderita polip kolon lebih tinggi berbanding wanita. (4) Polip colon bergantung dengan pertambahan usia (biasanya usia di atas 40 tahun). Namun polip colon dapat muncul lebih dini pada pasien dengan sindrom poliposis. Sebagai contoh, polip colon dapat terdeteksi pada orang dewasa dengan polip adenomatosa familial atau pasien yang berusia 20 hingga 40 tahun dengan kanker colorectal non poliposis herediter. (4)

III. ANATOMI & FISIOLOGI A. Anatomi Colon ( Intestinum Crassum = Usus Besar ) merupakan salah satu organ yang berada di dalam cavum abdomino pelvicum, dimana sebagian berada didalam rongga peritoneum dan sebagian lagi diluar rongga perotonium, bersama-sama dengan beberapa organ lainnya. Colon, melengkung mengikuti lekukan-lekukan Intestinum Tenue dan cenderung lebih terfixasi dibandingkan Intestinum Tenue. Anatomi colon sangat penting untuk diketahui mengingat kasus pada colon cukup banyak terjadi di klinik.. Secara garis besar colon dibagi menjadi beberapa bagian yaitu : 1. Caecum. 2. Processus Vermiformis ( Appendix ). 3. Colon Ascenden. 4. Colon Transversum. 5. Colon Descenden. 6. Colon Sigmoid. 7. Rectum Vaskularisasi, inervasi,& aliran limfe Colon 1. Pembuluh darah ateri Caecum, colon ascendens, dan bagian kanan colon tranversum didarahi oleh cabang a.mesentrika superior yaitu a.ileokolika, a.kolika dekstra, dan a.kolika media. Kolon transversum bagian kiri, kolon descendens, kolon sigmoid dan sebagian besar rektum didarahi oleh a.mesentrika inferior melalui a.kolika sinistra, a.sigmoideum, dan a.hemoroidalis superior.

2. Pembuluh darah vena Pembuluh vena kolon berjalan pararel dengan arterinya. Aliran darah vena disalurkan melalui v.mesentrika superior untuk kolon ascaendens dan kolon transversum, dan melalui v.mesentrika inferior untuk kolon descendens, sigmoid dan rektum.

3. Inervasi Kolon dipersarafi oleh serabut simpatis yang berasal dari n.splanknikus dan pleksus presakralis serta serabut simpatis yang berasal dari n.vagus.

4. Aliran limfe Kolon dilayani dengan banyak jalinan pembuluh limfe serta saluran limfe mengikuti arteria regional kenodi limfatisi preaorta pada pangkal arteria mesentrika superior dan inferior. Kemudian limfe di drainase ke dalam sisterna kili (bagian sistem duktus torasikus) yang kemudian bermuara ke dalam sistem vena pada sambungan vena subklavia dan jugularis sinistra. Karena hubungan ini, maka karsinoma metastatik dari traktus gastrointestinalis bisa ada dindalam kelenjar limfe leher. Pembuluh limfe rektum berdrainase ke atas sepanjang pembuluh darah hemoidalis superior dan pembuluh limfe kanalis analis menyebar ke nodi limfatisi iliaka interna, sedangkam pembuluh limfe anus dan kulit perineum berdrainase ke dalam nodi limfatisi ingunalis superfisialis..

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Pancreas Mesecolon Transversum A.Mesenterica superior A.Colica Media Duodenum Flexura duodenujejunalis A.Mesenterica Inferior A. Colica Sinistra Aa.Sigmoidalis

10. A.Rectalis Superior 11. A.Colica Dextra 12. Aa.Jejunalis 13. A.Ileocolica 14. A.Appendicularis

4
5 11
12

6 7 8

Gambar 1. Vascularisasi skematis Intestinum crasum (Colon). ( Dikutip dari Yokochi C. Atlas Anatomy Manusia . Pembuluh Darah dan Organ Abdomen.Hal.292).

Usus besar dibagi menjadi caecum, appendix vermiformis, colon ascenden, colon transversum, colon descenden, colon sigmoideum (colon pelvicum), rectum, dan anus. Usus besar melengkung meliputi lekukan-lekukan usus halus. Usus besar cenderung lebih terfiksasi dibanding usus halus. Caecum merupakan kantong dengan ujung buntu yang menonjol kebawah pada regio illiaca kanan, di bawah juncture ileocaecalis. Appendix vermiformis berbentuk seperti cacing dan berasal dari sisi medial usus besar.

Colon ascenden berjalan ke atas dari caecum ke permukaan inferior lobus kanan hati, menduduki region illiaca dan lumbalis kanan. Setelah mencapai hati, kolon ascenden membelok ke kiri, membentuk fleksura coli dekstra. Colon transversum menyilang abdomen pada regio umbilicalis dari flexura coli dextra sampai flexura coli sinistra. Colon transversum membentuk lengkungan besar berbentuk huruf U. Colon transversum, waktu mencapai daerah limpa, membengkok kebawah membentuk flexura colon sinistra (flexura lienalis) untuk kemudian menjadi colon descenden. Colon sigmoid mulai pada pintu atas panggul. Colon sigmoideum merupakan lanjutan colon descenden, bergantung ke bawah dalam rongga pelvis dalam bentuk lengkungan. Colon sigmoideum bersatu dengan rectum di depan sacrum. Colon Sigmoid Berbentuk huruf S yang panjangnya sekitar 25-38 cm dan berada pada cavum pelvicum dimulai sebagai kelanjutan dari colon descendens yang terletak didepan a. iliaca eksterna sinistra. Membuat dua buah lekukan dan pada linea mediana menjadi rectum, setinggi corpus vertebra sacralis 3. Pada colon ini masih terdapat haustra dan taenia. Dihubungkan dengan dinding posterior pelvis oleh mesecolon pelvis yang berbentuk seperti kipas. Atap mesocolon seperti huruf V terbalik. Salah satu lengan V melekat sepanjang sisi medial a. iliaca eksterna sinistra, dan lengan lainnya berjalan dari percabangan a.communis sinistra, berjalan turun di anterior sacrum, sampai sejauh vertebra sacralis 3. Pada apex V terdapat kantong kecil peritoneum yang dinamakan recessus messocolon pelvicum. Di bawah dasar recessus tersebut terdapat ureter kiri. Colon sigmoideum ditutupi oleh peritoneum parietale ( Retro peritoneal ). Batas anterior : Pada pria dibatasi oleh Vesica urinaria, dan pada wanita permukaan posterior uterus dan bagian atas vagina. Batas posterior : Dibatasi oleh

rectum dan sacrum. Colon sigmoideum juga dikaitkan dengan gelungan bagian terminal ileum yang lebih bebas. Pembuluh darah arteri colon sigmoideum berasal dari rami sigmodeus a.mesenterica inferior. Aliran darah vena berjalan sesuai dengan perjalanan arterinya yang membentuk sistem vena porta.

Gambar (2)Suplai vaskular dari kolon.

Pembuluh limfe colon sigmoideum mengalirkan cairan limfe ke kelenjar limfe sepanjang a. sigmoidea, dari kelenjar limfe ini cairan limfe dialirkan ke nodi lympatici mesenterica inferior

Gambar (3) Drainase limfatik dari kolon Innervasi colon sigmoideum bersasl dari plexus hypogastricus inferior. Saraf berjalan keatas pada atap mesocolon sigmoideum. Rectum menduduki bagian posterior rongga pelvis. Rectum ke atas dilanjutkan oleh colon sigmoideum dan berjalan turun di depan caecum, meninggalkan pelvis dengan menembus dasar pelvis. Disini rectum melanjutkan diri sebagai anus dalam perineum.

B. Fisiologi Fungsi Colon adalah Absorbsi air dan elektrolit, menyimpan bahan yang tidak dicerna tubuh sampai keluar menjadi feses. Fungsi usus besar ialah menyerap air, vitamin, dan elektrolit, ekskresi mukus serta menyimpan feses, dan kemudian mendorongnya ke luar Dari 700-1000 ml cairan usus halus yang diterima kolon, 150-200 ml sehari dikeluarkan sebagai feses. Udara ditelan sewaktu makan, minum, atau menelan ludah. Oksigen dan CO2 didalamnya diserap di usus sedangkan nitrogen bersama dengan gas hasil pencernaan dan peragian dikeluarkan sebagai flatus. Jumlah gas didalam usus mencapai 500 ml sehari. Pada infeksi usus produksi gas meningkat dan bila mendapat obstruksi usus gas tertimbun di jalan cerna yang menimbulkan flatulensi.

IV. PATOFISIOLOGI Polip colon atau adenoma merupakan neoplasma jinak yang muncul dari sel gepeng yang melapisi bagian dinding dalam colon. Polip colon dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu; polip hiperplastik, adenoma dan sindrom poliposis.

Polip Hiperplastik Polip hiperplastik merupakan hampir 90% dari semua polip dan biasanya jinak. Polip ini memiliki diameter berukuran kurang dari 0,5 cm. Polip hiperplastik sering muncul pada daerah rektosigmoid dan sering ditemukan pada usia dewasa. Namun, polip hiperplastik juga memiliki potensi untuk berubah menjadi ganas seperti pada kasus sindrom poliposis hiperplastik. Polip pada sindrom ini memiliki komponen adenomatosa, permukaan sel gepeng yang tidak rata dan proses metilisasi gen target termasuk kelainan dalam proses perbaikan gen.

Adenoma Adenoma menunjang kurang lebih 10% dari semua polip. Kebanyakan (90%) dari polip ini berukuran kecil, biasanya dengan diameter kurang dari 1 cm, dan memiliki potensi yang sangat kecil untuk berubah menjadi ganas. 10% adenoma yang tersisa berukuran lebih besar dari 1 cm dan memiliki potensi untuk berubah menjadi kanker invasif. Adenoma dapat dibagi secara histologis kepada 3 tipe yaitu tubuler, tubulovillous dan villous. Adenoma tubuler merupakan adenoma yang paling sering terjadi dari 3 tipe tersebut dan dapat ditemukan disepanjang colon. Adenoma villous pula sering muncul pada daerah rectum, dan biasanya berukuran lebih besar berbanding dua tipe yang lain, dengan potensi untuk menjadi non pedunkulasi, velvety atau seperti gambaran kembang kol. Adenoma villous memiliki mortalitas dan morbiditas yang paling tinggi berbanding dengan polip yang lain. Adenoma yang berukuran lebih dari 1 cm, biasanya mengandungi substansial villous (<25%) manakala adenoma yang memiliki displasia dengan derajat yang tinggi biasanya disebut sebagai neoplasma tahap lanjut dan beresiko untuk menjadi kanker. Gambaran atau struktur kasar polip juga adalah signifikan secara klinis. Polip dengan batang disebut sebagai pedunkulated. Polip tanpa batang disebut sebagai sessile. Polip sessile lebih berbahaya berbanding polip pedunkulated karena dua sebab yaitu yang pertama, jalur migrasi sel-sel invasif dari tumor ke submukosa dan struktur yang lebih distal adalah lebih pendek. Sebab kedua, pengangkatan total secara endoskopi lebih sulit untuk dicapai.

Sindrom poliposis Sindrom poliposis merupakan suatu kelainan herediter di mana kelainankelainan yang dapat terjadi adalah poliposis adenomatosa familial (FAP), kanker colorectal non poliposis herediter (HNPCC), sindrom Gardner, sindrom Turcot,

sindrom Peutz-Jeghers, penyakit Cowden, poliposis juvenil familial dan poliposis hiperplastik. (4) Poliposis adenomatous familial (FAP) muncul dari mutasi gen APC yang terokalisasi pada kromosom 5q dan diturunkan sebagai autosomal dominan. Kelainan ini ditandai dengan adanya ratusan sampai ribuan adenoma colorectal. Usia rata-rata perkembangan adenoma ialah 16 tahun, usia rata-rata untuk berkembang menjadi kanker colorectal pula ialah 39 tahun. (8)

V. HISTOPATOLOGI

Polip hiperplastik (metaplastik). Tampak perubahan hiperplastik pada mukosa dan kelenjar serrata berhampiran dengan permukaan penonjolan papilla. (9)

Secara mikroskopik, kripta dilihat melapisi sel-sel epitel hiperplastik yang mana memberikan gambaran scalloped. Struktur ini berbeda dari struktur polip adenomatous. Lapisan epitel longgar oleh karena sel kolumner dan sel goblet yang memberikan gambaran serrata dari sel-sel yang berubah menjadi datar. Sel-sel goblet menghilang dan lamina propria memberikan gambaran reaksi inflamatorik yaitu adanya sel-sel plasma dan limfosit. (9)

Polip juvenil. Tampak kelenjar sistik yang dilatasi dilapisi oleh epitel yang memberikan gambaran normal. (9)

Pemeriksaan mikroskopik menunjukkan bahawa polip juvenile terdiri dari eiptelia dan jaringan ikat yang mana akhirnya akan berkontribusi dalam membentuk massa tumor. Sel-sel inflamatorik akut dan kronik juga sering ditemukan. (9)

Polip Peutz-Jeghers diusus besar. Tampak gambaran jaringan sel-sel otot seperti pohon. (9)

Secara mikroskopik, polip ini disangkakan berasal dari epitel kelenjar usus besar dan jaringan muskuler dari muskularis mukosa. Tubula dari epitelia berhenti pada pertemuan antara jaringan otot polos. Oleh karena tiada bukti hiperplasia, variasi sitologik atau hilangnya diferensiasi, gambaran polip ini mendukung kearah suatu proses hemartroma atau suatu malformasi. (9)

Polip adenomatous. Tampak dysplasia yang dikarateristik oleh hilangnya polaritas dengan adanya gambaran mitotik. (9) Secara mikroskopik, polip adenomatosa terdiri dari tubula epitel yang erat dibatasi oleh lamina propria normal yang mana berkembang secara horizontal ke muskularis mukosa. Namun, tidak tampak gambaran tubula inkonsisten; tubula dapat memberi gambaran regular atau ireguler, dengan atau tanpa reaksi inflamatorik. Selsel epitelia dapat berubah menjadi lebih pendek, dengan inti hiperkromik dan jumlahnya meningkat dan jumlah mukus berkurang. (9)

VI. DIAGNOSIS a. GAMBARAN KLINIS Polip adenomatous sering kali tidak memberikan gejala. Gejala yang timbul pada penderita biasanya ditemukan secara tidak sengaja dan bukan disebabkan oleh polip itu sendiri. Sebagai contoh, perdarahan rectal pada pasien dengan polip kolon yang berukuran kecil lebih sering disebabkan oleh kondisi-kondisi lain seperti hemorrhoid.

Perdarahan hemorrhoid merupakan suatu perdarahan yang muncul setelah defekasi di mana darah menyelimuti feses dan memberi warna merah terang. Polip dengan ukuran lebih dari 1 cm lebih sering memberikan gejala berbanding polip yang berdiameter kurang dari 0,5 cm. Gejala yang sering muncul adalah perdarahan pada rektal, nyeri abdomen dan perubahan pola defekasi. Polip yang lebih besar pula dapat mengakibatkan rectal prolaps. Sedangkan adenoma villous yang berukuran besar terutama dibagian distal kolon sangat jarang mengakibatkan diare. (8)

b. PEEMERIKSAAN FISIK Pada pemeriksaan fisik sangat jarang ditemukan kelainan. Polip dibagian rectum dapat teraba pada pemeriksaan rectal touche. Hanya sebagian adenoma dapat menyebabkan perdarahan pada feses. Adenoma yang lebih besar sering mengakibatkan pedarahan namun adenoma yang kecil tidak. Gejala anemia lebih sering dikaitkan dengan suatu proses keganasan sehingga polip kolon yang jinak tidak memberi gambaran tersebut. (8)

c. PEMERIKSAAN LABORATORIUM Pemeriksaan darah rutin Pada pasien yang menderita polip kolon dan terdapat tanda-tanda keganasan dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan darah secara rutin. Sering ditemukan anemia dan hipoalbuminemia pada penderita. Apabila

terdapat gejala mual dan muntah yang hebat, dapat terjadi gangguan elektrolit seperti, hipokalemi atau alkalosis. (8)

Pemeriksaan feses Terdapat dua jenis pemeriksaan yang dapat dilakukan untuk mengenalpasti adanya darah pada feses yaitu dengan pemeriksaan Fecal Occult Blood Test dan Fecal Immunohistochemical Test. Pemeriksaan feses darah biasanya diakukan untuk menunjang diagnosis kanker kolorektal. Pemeriksaan ini dapat memberikan hasil negatif oleh karena tidak semua polip dan kanker memberikan gejala suatu perdarahan. Adanya darah pada feses turut dikaitkan dengan hemorrhoid atau kelainan gastrointestinal selain kanker. (4, 8)

Pemeriksaan feses darah merupakan pemeriksaan yang memiliki sensitifitas tinggi. Pemeriksaan ini dilakukan pada feses segar atau dengan cara mengrehidrasi spesimen feses. (4, 8)

d. PEMERIKSAAN RADIOLOGI Barium enema Pemeriksaan ini dapat mengevaluasi keseluruhan usus besar dengan menggunakan filem X-ray. Barium mengisi dan melapisis permukaan usus besar sehingga memberi gambaran pada rectum, kolon dan kadang-kadang sebagian dari usus kecil. Udara dimasukkan bagi mendapatkan gambaran usus besar yang lebih jelas. (4)

Divertikulosis, spasme kolon, persiapan yang kurang dan overlapping dari loop-loop kolon dapat mengganggu interpretasi dari barium enema. Barium enema tidak membantu dalam memberikan karakteristik histologis dari suatu lesi. Pemeriksaan ini juga tidak membantu dalam pengangkatan polip. (8)

e. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK LAINNYA Kolonoskopi Kolonoskopi dilakukan dengan menggunakan selang yang fleksibel dan memiliki kamera pada ujungnya serta monitor. Prosedur ini merupakan prosedur yang sangat sensitif bagi mendeteksi kanker colorectal serta polip kolon. Bila ditemukan polip pada saat pemeriksaan, sampel dapat diambil langsung untuk dianalisa. (4)

Sigmoidoskopi fleksibel Pemeriksaan ini dilakukan dengan memasukkan selang yang terdapat kamera ke dalam rektum dan kolon sigmoid. Namun, pemeriksaan ini agak terbatas oleh karena bagian yang diperiksa hanyalah rektum dan kolon sigmoid. Sedangkan bagian yang lebih proksimal tidak di periksa. (8)

VI. TERAPI Kolonoskopi telah berkembang dalam menangani polip pada usus besar. Hampir kesemua polip pada daerah kolon dan rektum dapat diangkat dengan kolonoskopi dan mempunyai morbiditas yang rendah. (10)

Polip yang ditemukan pada sigmoidoskopi dengan ukuran kurang dari 1 cm akan di lakukan biopsi dan jika dapat dibuktikan bahawa ia merupakan suatu adenoma, kolonoskopi di lakukan untuk mengangkat polip tersebut dan juga untuk

memeriksa proksimal kolon untuk lesi neoplastik lainnya. Jika polip yang berukuran 1 cm atau lebih besar ditemukan pada sigmoidoskopi, biopsy tidak diperlukan; tetapi dilakukan polypectomy colonoscopic dan kolon proksimal diperiksa untuk lesi neoplastik. Jika polip non neoplastik seperti suatu hiperplasia atau polip inflamatorik ditemukan pada sigmoidoskopi, tidak dilakukan evaluasi atau tindakan khusus yang lebih lanjut. (11) Polip yang berukuran kecil (kurang dari 1 cm) yang ditemukan pada kolonoskopi biasanya direseksi dengan menggunakan teknik yang berbeda yaitu dengan atau tanpa menggunakan elektrokauter. Polip sesil kecil direseksi menggunakan teknik yang berbeda termasuk menggunakan biopsy panas dan dingin (dengan dan tanpa kanker metakronus). (12) Pada pasien yang telah di lakukan eksisi colonoscopic polip sesil yang besar (0,2 cm) biasanya harus menjalani kolonoskopi lanjutan dalam jangka waktu 3 sampai 6 bulan untuk menentukan apakah reseksi tersebut telah berhasil dalam mengangkat polip tersebut atau tidak. Jika terdapat polip residual dari reseksi tersebut, polip residual tersebut harus direseksi kembali dalam jangka waktu 3 sampai 6 bulan.. (12) Polip sesil yang besar (0,2 cm) biasanya mengandung jaringan vili dan berpotensi untuk berubah menjadi ganas lebih tinggi dan cenderung untuk kambuh setelah reseksi. Penderita yang telah berhasil dalam eksisi polip sesil besar biasanya harus menjalani colonoscopy 3 sampai 6 bulan kemudian untuk menentukan apakah reseksi tersebut telah berhasil atau tidak. (12) Tidak ada pengobatan lebih lanjut diindikasikan setelah di lakukan reseksi conoloscopic dari suatu polip ganas.. (12)

VII. KOMPLIKASI Polip kolon yang tidak di tangani dapat berkembang menjadi kanker dalam waktu beberapa tahun. Morbiditas dari polip kolon tergantung dengan komplikasinya seperti perdarahan, diare, obstruksi saluran cerna dan pembentukan kanker.

Perdarahan yang dapat terjadi adalah hematokezia di mana sering terjadi secara kronik dan tidak disadari oleh pasien. Bila perdarahan pada saluran cerna tidak di tangani akan mengakibatkan terjadinya anemia defisiensi besi. (4)

IX. PROGNOSIS Suatu studi dari Stryker et al menunjukan bahawa resiko terjadinya kanker dari polip colon yang berukuran 1 cm ialah 8% dalam waktu 10 tahun dan 24% dalam waktu 20 tahun. Resiko untuk terjadinya kanker bergantung kepada ukuran polip, gambaran histologi dari villous dan keterlibatan sindrom poliposis. Pada FAP, kanker akan terjadi dalam jangka waktu 10 sampai dengan 20 tahun setelah pertama kali muncul polip colon. (4)

DAFTAR PUSTAKA 1. Kumar P., Clark M., Clinical Medicine, 6th Edition, Saunders Company, p 326 2. Colledge N. R., Walter B. R., Ralston S. H., Davidsons Principle and Practice of Medicine, 21st Edition, Churchill Livingstone, Elsevier, p 907-909 3. Available at www.mayoclinic.com. Last updated on 16th July 2011 4. Enders G. H., Katz J., available at emedicine.medscape.com. Last updated on 16 December 2010 5. Hansen J. T., Koeppen B. M., Netters Atlas of Human Physiology, 4th Edition, Saunders, p 160-161 6. Marieb E N, Hoehn K, Human Anatomy and Physiology, 7th Edition, Pearson Education Inc, p 7. Guyton A. C., Hall J. E., Guyton & Hall: Textbook of Medical Physiology, 11th Edition, Elsevier Saunders, p 769-771 8. Cappell M. S., The Medical Clinics of North America, 2004, Elsevier Saunders, p 16-20 9. Corman M. L., Colon and Rectal Surgery, 5th Edition, Lippincotts William and Wilkins. P. 702-710 10. Gordon P. H., Nivatvongs S., Principles and Practice of Surgery for the Colon, Rectum and Anus, 3rd Edition, p 455 11. Markowitz A. J., Winawer S. J., Colorectal Polyp Management, Management of Colorectal Polyps, Vol 47 No. 2, March/April 1997, p 108 12. Bond J. H., The American Journal of Gastroenterology, Polyp Guideline: Diagnosis, Treatment and Surveillance for Patients With Colorectal Polyps, Vol 95 No. 11, August 2000, Published by Elsevier Science Inc., p 3055-3057