Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN

Polip nasi merupakan massa udematous yang lunak berwarna putih atau keabu-abuan yang terdapat di dalam rongga hidung dan berasal dari pembengkaan mukosa hidung atau sinus. Prevalensi yang pasti dari polip nasi belum ada datanya, oleh karena studi epidemiologi yang dilakukan dan hasilnya bergantung pada populasi studi serta metodenya.1,2 Etiologi dan patogenesis dari polip nasi belum diketahui secara pasti. Sampai saat ini, polip nasi masih banyak menimbulkan perbedaan pendapat. Dengan patogenesis dan etiologi yang masih belum ada kesesuaian, maka sangatlah penting untuk dapat mengenali gejala dan tanda polip nasi untuk mendapatkan diagnosis dan pengelolaan yang tepat.

BAB II LAPORAN KASUS

2.1. Identitas Nama Umur Jenis Kelamin Pekerjaan Suku/Bangsa Alamat No. Rekmed Tanggal Masuk RS 2.2. Anamnesis Keluhan utama : Hidung kanan tersumbat (buntu) sejak 1 tahun yang lalu. Keluhan tambahan : sakit kepala dan demam Riwayat Perjalanan Penyakit : 1 tahun SMRS Penderita mengeluh hidung tersumbat yang menetap. Penderita juga mengeluh sering pilek, demam, dan sakit kepala. Akibat sumbatan tersebut, penderita merasa sulit bernafas dan saat tidur penderita mengorok. 2 minggu SMRS penderita mengaku tampak ada benjolan di lubang hidung kanan. Penderita juga mengeluhkan gangguan penciuman yang mulai berkurang sejak 2 minggu yang lalu. Riwayat asma, alergi makanan/obat-obatan tertentu disangkal. Riwayat bersin-bersin pada pagi hari disangkal. Riwayat gigi berlubang : M. Zulfi Fauzan : 11 tahun : Laki-laki : Pelajar : Indonesia : Lingkungan IV Rt 008 kec Indralaya Mulya. : 106486 : 01 Januari 2012

pada geraham kanan. Tidak ada keluhan pada telinga, pendengaran, maupun tenggorokan. Riwayat pengobatan : Penderita tidak pernah minum obat apapun semenjak keluhan muncul. Riwayat Penyakit Sebelumnya Riwayat menderita amandel (tonsilitis kronis) sejak 4 tahun yang lalu namun belum pernah dioperasi. Pasien sering menderita pilek dan demam Riwayat dengan keluhan yang sama sebelumnya disangkal Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada keluarga yang menderita penyakit serupa dengan pasien Riwayat atopik dalam keluarga disangkal Tidak ada riwayat asma pada keluarga. 2.3. Pemeriksaan Fisik a. Keadaan Umum Kesadaran Nadi Pernapasan Suhu Status Generalis
- Kepala : normocephali, wajah simetris

: Compos mentis : 81 x/menit : 20 x/menit : 37,7 0C

Mata
- Leher

: konjungtiva anemis (-)/(-), sklera ikterik (-)/(-) : pembesaran KGB (-)

- Thoraks Paru a) Inspeksi


b) Palpasi c) Perkusi

: simetris, retraksi interkosta (-)/(-) : vokal fremitus dextra = sinistra : sonor pada semua lapang paru

d) Auskultasi : vesikular (+)/(+) normal, wheezing (-)/(-), ronki (-)/(-)

Jantung a) Inspeksi
b) Palpasi

: tidak tampak iktus kordis : tidak ditemukan kelainan : : ICS II linea midklavikularis sinistra : ICS V linea mid aksilaris anterior sinistra

c) Perkusi Batas atas Batas kiri - Abdomen Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi - Ekstremitas a) Superior b) Inferior

Batas kanan : ICS IV V linea parasternalis dextra


d) Auskultasi : S1/S2 reguler, gallop (-), murmur (-)

: datar, lemas : teraba massa (-), pembesaran hepar-lien (-) : timpani : BU (+) normal : akral hangat, deformitas (-)/(-), gangguan fungsi dan gerak (-)/(-) : akral hangat, deformitas (-)/(-), gangguan fungsi dan gerak (-)/(-)

b. Pemeriksaan Khusus Status Lokalis THT Telinga


Pemeriksaan Kelainan Kel kongenital Daun telinga Trauma Radang Kel. Metabolik Nyeri tarik Nyeri tekan tragus Cukup lapang (N) Dekstra Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Cukup lapang (N) Sinistra Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Cukup lapang(N)

Dinding liang telinga Sempit Hiperemis Edema Massa Ada / Tidak Sekret/serumen Bau Warna Jumlah Jenis Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Membran timpani Warna Reflek cahaya Utuh Bulging Retraksi Atrofi Jumlah perforasi Perforasi Jenis Kwadran pinggir Putih mengkilat (+) arah jam 5 Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Putih mengkilat (+) arah jam 7 Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Hidung
Pemeriksaan Kelainan Deformitas Kelainan kongenital Hidung luar Trauma Radang Dektra Sinistra Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Massa

Tidak ada Tidak ada

Sinus paranasal
Pemeriksaan Nyeri tekan Nyeri ketok Dekstra Tidak ada Tidak ada Sinistra Tidak ada Tidak ada

Rinoskopi Anterior
Pemeriksaan Kelainan Cukup lapang (N) Cavum nasi Sempit Lapang Lokasi Sekret Jenis Jumlah Bau Konka inferior Ukuran Warna Permukaan Edema Cukup lurus/deviasi Permukaan Warna Septum Spina Krista Rata, licin Merah muda Tidak ada Tidak ada Rata, licin Merah muda Tidak ada Tidak ada Dekstra + Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Eutrofi Merah muda Rata Tidak ada Cukup lurus Sinistra + Tidak ada Tidak ada Tidak ada Tidak ada Eutrofi Merah muda Rata Tidak ada Cukup lurus

Abses Perforasi Lokasi

Tidak ada Tidak ada Meatus medius

Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Bentuk Ukuran

Bulat lonjong Tidak dinilai

Tidak ada

bisa Tidak ada

Massa

Permukaan Warna

Licin Putih abuan

Tidak ada keabu- Tidak ada

Konsistensi

Lunak, tidak rapuh, tidak mudah berdarah

Tidak ada

Orofaring dan mulut Pemeriksaan Kelainan Simetris/tidak Palatum mole + Arkus Faring Warna Edema Bercak/eksudat Dinding faring Warna Permukaan Ukuran Warna Permukaan Muara kripti Detritus Eksudat Dekstra Simetris Merah muda Tidak ada Tidak ada Merah muda Licin T3 Merah muda Melebar Tidak Ada Tidak ada Sinistra Simetris Merah muda Tidak ada Tidak ada Merah muda Licin T2 Merah muda Melebar Tidak Ada Tidak ada

Tonsil

Perlengketan dengan pilar

Tidak ada M1 atas Karies Merah muda Normal Tidak ada Tidak ada

Tidak ada Tidak ada

Gigi

Karies/Radiks Kesan Warna Bentuk

Merah muda Normal Tidak ada Tidak ada

Lidah

Deviasi Massa

Pemeriksaan Kelenjar getah bening leher : tidak ada pembesaran KGB Inspeksi Palpasi : Tidak terlihat adanya pembesaran kelenjar getah bening. : Tidak tampak adanya pembesaran kelenjar getah bening.

2.4. Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan Laboratorium Darah - Hemoglobin - Leukosit - Diff. Count - Hematokrit - Trombosit - Cloting Time - Bleeding Time : 14,1 gr/dl : 11.900 /cm2 : 3/0/0/48/41/8 (shift to the right) : 39% : 339.000 / L : 7 : 2

Kesan : kemungkinan terdapat infeksi kronik 2.5. Resume Penderita, laki-laki usia 11 tahun datang dengan keluhan hidung tersumbat yang menetap sejak 1 tahun yang lalu.. Penderita juga mengeluh sering pilek, demam, dan sakit kepala. Akibat sumbatan tersebut, penderita merasa sulit bernafas dan saat tidur penderita mengorok. 2 minggu SMRS

penderita mengaku tampak ada benjolan di lubang hidung kanan. Penderita juga mengeluhkan gangguan penciuman yang mulai berkurang. Riwayat asma, alergi makanan/obat-obatan tertentu disangkal. Riwayat bersin-bersin pada pagi hari disangkal. Riwayat gigi berlubang pada geraham kanan atas. Penderita tidak pernah minum obat apapun semenjak keluhan muncul. Keluhan timbul benjolan pada hidung kanan pertama kali dirasakan penderita. Tidak ada keluarga yang menderita penyakit serupa dengan pasien. Riwayat atopik dalam keluarga disangkal. Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik generalis ditemukan dalam batas normal. Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik khusus Rhinoskopi Anterior : Tampak massa di meatus medius, bentuk bulat lonjong, permukaan licin, warna putih keabu-abuan, konsistensi lunak, tidak rapuh, tidak mudah berdarah, mudah digoyang. Orofaring dan Mulut : Tonsil : T3-T2, warna merah muda, muara kripti melebar, detritus (+) Gigi : karies pada M1 atas dextra

2.6

Diagnosis Banding a. Polip Nasal Dextra Stadium 3 b. Konkha hipertrofi

2.7. Diagnosis Kerja Polip nasal dextra stadium 3 Diagnosis Tambahan: Susp Tonsilitis Kronis et Karies gigi 2.8. Usulan Pemeriksaan Penunjang - Nasoendoskopi, untuk memastikan adanya polip nasal maupun sinus dan untuk menentukan letak polip nasal tersebut Rontgen foto polos sinus paranasal, Biopsi massa polip

2.9. Penatalaksanaan

a. Non Medikamentosa - Menjelaskan tentang penyakit yang diderita pada pasien dan anggota keluarga serta menjelaskan juga komplikasi yang mungkin terjadi. - Menjelaskan tentang terapi yang dapat dilakukan terhadap penderita dan komplikasi yang mungkin terjadi. - Berobat ke dokter gigi untuk pengananan gigi yang berlubang. - Kontrol post operatif ke poliklinik THT. b. Medikamentosa - IVFD RL gtt XX/mnt - Sefuroksim inj 2x375 mg - paracetamol 3x500 mg - Pro polipektomi dextra 2.10. Prognosis a. Quo ad vitam c. Quo ad sanationam : ad bonam : dubia ad bonam b. Quo ad fungsionam : ad bonam

2.11. Follow Up Post Tonsilektomi Pasien dilakukan tindakan operasi pada hari senin tanggal 03 Desember 2012 pukul 13.00 WIB.
a. selasa / 04 Desember 2012 / 08.00 WIB

Subjektif - Nyeri setelah operasi - Darah yang mengalir dari dalam mulut berkurang - Demam

Objektif Vital Sign N : 89 x/menit RR : 23 x/menit Temp 37,3 0C Pemeriksaan Khusus hidung - Terpasang tampon di R nasalis Dx - Perdarahan (+) aktif - Nyeri (+)

Assesment Rencana Terapi Post - IVFD RL gtt polipektomi XX/mnt ec. Polip nasi - Inj. Sharox 2x375 dextra hari mg ke 1 - Inj. Asam Tranexamat 2 x 375 mg - Paracetamol 3x250 mg - Cetirizin 1x5 mg tab - Diet BB

10

b. Rabu / 05 Desember 2012 / 07.30 WIB

Subjektif - Demam - Nyeri post op berkurang - Perdarahan (+) tidak aktif

Objektif Vital Sign N : 92 x/menit RR : 21 x/menit Temp 37,5 0C Pemeriksaan Khusus hidung - Terpasang tampon di R nasalis Dx - Perdarahan (+) tidak aktif - Nyeri (-)

Assesment Rencana Terapi Post - IVFD RL gtt polipektomi XX/mnt ec. Polip nasi - Inj. Sharox 2x375 dx hari ke 2 mg - Inj. Asam Tranexamat 2 x 375 mg - Paracetamol 3x250 mg - Cetirizin 1x5 mg tab - Diet BB

c. Kamis / 06 Desember 2012/ 07.30 Subjektif - Demam (-) - Nyeri post op (-) - Perdarahan (+) tidak aktif Objektif Vital Sign N : 91 x/menit RR : 22 x/menit Temp 36,9 0C Pemeriksaan Khusus hidung - Terpasang tampon di R nasalis Dx - Perdarahan (+) tidak aktif - Nyeri (-) Assesment Rencana Terapi Post - IVFD RL gtt polipektomi XX/mnt ec. Polip nasi - Inj. Sharox 2x375 dx hari ke 3 mg - Inj. Asam Tranexamat 2 x 375 mg - Paracetamol 3x250 mg - Cetirizin 1x5 mg tab - Diet BB

d. Jumat/ 07 Desember 2012 / 08.00


Subjektif - Demam (-) - Nyeri post op (-) - Perdarahan (-) tidak aktif Objektif Vital Sign N : 92 x/menit RR : 21 x/menit Temp 36,9 0 Pemeriksaan Khusus hidung - Terpasang tampon di R nasalis Dx - Perdarahan (+) tidak aktif Assesment Rencana Terapi Post - Rencana polipektomi pulang ec. Polip nasi - Aff ifus dx hari ke 4 Ganti oral - Cefotaxim 2x250 mg tab - Paracetamol 3x 250 mg tab - Cetirizin 1x5 mg tab

11

- Nyeri (-)

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Anatomi Hidung 3,4

Gambar 1. Anatomi Hidung

A. Hidung Luar Hidung luar berbentuk piramid dengan bagian bagiannya dari atas ke bawah : 1. 2. Pangkal hidung (bridge) Dorsum nasi

12

3. 4. 5. 6.

Puncak hidung Ala nasi Kolumela Lubang hidung (nares anterior)

Hidung luar dibentuk oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yaitu M. Nasalis pars transversa dan M. Nasalis pars allaris. Kerja otot otot tersebut menyebabkan nares dapat melebar dan menyempit. Batas atas nasi eksternus melekat pada os frontal sebagai radiks (akar), antara radiks sampai apeks (puncak) disebut dorsum nasi. Lubang yang terdapat pada bagian inferior disebut nares, yang dibatasi oleh : Superior : os frontal, os nasal, os maksila Inferior : kartilago septi nasi, kartilago nasi lateralis, kartilago alaris mayorb menjadi fleksibel. Perdarahan : 1. A. Nasalis anterior (cabang A. Etmoidalis yang merupakan cabang dari A. Oftalmika, cabang dari a. Karotis interna). 2. A. Nasalis posterior (cabang A.Sfenopalatinum, cabang dari A. Maksilaris interna, cabang dari A. Karotis interna) 3. A. Angularis (cabang dari A. Fasialis) Persarafan : 1. Cabang dari N. Oftalmikus (N. Supratroklearis, N. Infratroklearis) 2. Cabang dari N. Maksilaris (ramus eksternus N. Etmoidalis anterior) B. Kavum Nasi Dengan adanya septum nasi maka kavum nasi dibagi menjadi dua ruangan yang membentang dari nares sampai koana (apertura posterior). Kavum nasi ini berhubungan dengan sinus frontal, sinus sfenoid, fossa kranial anterior dan fossa kranial media. Batas batas kavum nasi : Posterior : berhubungan dengan nasofaring dan kartilago alaris minor

Dengan adanya kartilago tersebut maka nasi eksternus bagian inferior

13

Atap Lantai

: os nasal, os frontal, lamina kribriformis etmoidale, korpus sfenoidale dan sebagian os vomer : merupakan bagian yang lunak, kedudukannya hampir horisontal, bentuknya konkaf dan bagian dasar ini lebih lebar daripada bagian atap. Bagian ini dipisahnkan dengan kavum oris oleh palatum durum.

Medial

: septum nasi yang membagi kavum nasi menjadi dua ruangan (dekstra dan sinistra), pada bagian bawah apeks nasi, septum nasi dilapisi oleh kulit, jaringan subkutan dan kartilago alaris mayor. Bagian dari septum yang terdiri dari kartilago ini disebut sebagai septum pars membranosa = kolumna = kolumela.

Lateral

: dibentuk oleh bagian dari os medial, os maksila, os lakrima, os etmoid, konka nasalis inferior, palatum dan os sfenoid.

Konka nasalis suprema, superior dan media merupakan tonjolan dari tulang etmoid. Sedangkan konka nasalis inferior merupakan tulang yang terpisah. Ruangan di atas dan belakang konka nasalis superior adalah resesus sfeno-etmoid yang berhubungan dengan sinis sfenoid. Kadang kadang konka nasalis suprema dan meatus nasi suprema terletak di bagian ini. Perdarahan : Arteri yang paling penting pada perdarahan kavum nasi adalah A.sfenopalatina yang merupakan cabang dari A.maksilaris dan A. Etmoidale anterior yang merupakan cabang dari A. Oftalmika. Vena tampak sebagai pleksus yang terletak submukosa yang berjalan bersama sama arteri. Persarafan : 1. Anterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari N. Trigeminus yaitu N. Etmoidalis anterior 2. Posterior kavum nasi dipersarafi oleh serabut saraf dari ganglion pterigopalatinum masuk melalui foramen sfenopalatina kemudian menjadi N. Palatina mayor menjadi N. Sfenopalatinus.

14

C. Mukosa Hidung Rongga hidung dilapisi oleh mukosa yang secara histologik dan fungsional dibagi atas mukosa pernafasan dan mukosa penghidu. Mukosa pernafasan terdapat pada sebagian besar rongga hidung dan permukaannya dilapisi oleh epitel torak berlapis semu yang mempunyai silia dan diantaranya terdapat sel sel goblet. Pada bagian yang lebih terkena aliran udara mukosanya lebih tebal dan kadang kadang terjadi metaplasia menjadi sel epital skuamosa. Dalam keadaan normal mukosa berwarna merah muda dan selalu basah karena diliputi oleh palut lendir (mucous blanket) pada permukaannya. Palut lendir ini dihasilkan oleh kelenjar mukosa dan sel goblet. Silia yang terdapat pada permukaan epitel mempunyai fungsi yang penting. Dengan gerakan silia yang teratur, palut lendir di dalam kavum nasi akan didorong ke arah nasofaring. Dengan demikian mukosa mempunyai daya untuk membersihkan dirinya sendiri dan juga untuk mengeluarkan benda asing yang masuk ke dalam rongga hidung. Gangguan pada fungsi silia akan menyebabkan banyak sekret terkumpul dan menimbulkan keluhan hidung tersumbat. Gangguan gerakan silia dapat disebabkan oleh pengeringan udara yang berlebihan, radang, sekret kental dan obat obatan. Mukosa penghidu terdapat pada atap rongga hidung, konka superior dan sepertiga bagian atas septum. Mukosa dilapisi oleh epitel torak berlapis semu dan tidak bersilia (pseudostratified columnar non ciliated epithelium). Epitelnya dibentuk oleh tiga macam sel, yaitu sel penunjang, sel basal dan sel reseptor penghidu. Daerah mukosa penghidu berwarna coklat kekuningan. D. Sinus Paranasal Polip nasi sering dihubungkan dengan sinusitis. Sinus paranasal ada empat buah yaitu sinus maksila, sinus etmoid, sinus frontal, dan sinus sphenoid. 1. Sinus maksila terdapat dilateral hidung, dasar sinus maksila adalah processus alveolaris gigi, atap sinus maksila berhubungan dengan dasar orbita. Pstium sinus maksila berhubungan dengan meatus media.

15

2. Sinus etmoid seperti sarang tawon (honeycomb). Dibagi menjadi dua bagian anterior dan posterior. Terletak antara dinding lateral hidung dan dinding medial orbita (lamina papirasea). Atap sinus etmoid berhubungan dengan sinus frontal dan fossa kranii anterior. Di inferolateral sinus etmoid berhubungan dengan sinus maksila. Sinus etmoid posterior berhubungan dengan sinus sphenoid. 3. Sinus frontal terletak pada tulang frontal. Dinding posterior sinus frontal membentuk dinding anrerir fosa kranii. Di inferior sinus ini berbatasan dengan orbita dan sinus etmoid. Drainase sinus ini melalui duktus nasofrontal langsung ke hidung atau melalui infundibulum etmoid. 4. Sinus sphenoid terletak di garis tengah. Dibagi dua oleh septum. Di superior berbatasan dengan hipofisa, lobus frontal dan sinus kavernosus. Di posterior terletak pons cerebri dan arteri basilaris, di inferior terletak nasofaring. Arteri karotis terletak di lateral sinus ini.

Gambar 2 : Anatomi sinus 3.2 Definisi Polip Nasi Polip nasi merupakan kelainan mukosa hidung berupa massa lunak yang bertangkai, berbentuk bulat atau lonjong, berwarna putih keabuan, dengan permukaan licin dan agak bening karena mengandung banyak cairan. Polip nasi bukan merupakan penyakit tersendiri tapi merupakan manifestasi klinik dari

16

berbagai macam penyakit dan sering dihubungkan dengan sinusitis, rhinitis alergi, fibrosis kistik dan asma. 5 Berdasarkan jenis sel peradangannya, polip dikelompokkan menjadi 2 : 1. Polip eusinofilik. Polip jenis ini biasanya disebabkan proses hipersensitivitas atau alergi. 2. Polip neutrofilik. Polip jenis ini biasanya disebabkan oleh proses inflamasi nonalergi.

3.3 Epidemiologi Polip nasi sudah di kenal sejak 4000 tahun yang lalu, melalui pengetahuan dari prasasti yang ditemukan pada makam raja-raja Mesir. Polip nasi digambarkan sebagai buah anggur yang turun melalui hidung ( grapes coming down from the nose) .Istilah polip berasal dari kata Yunani poly-pous yang berarti berkaki banyak. Pada awal perkernbangannya polip nasi sering dihubungkan dengan neoplasma, baru pada tahun 1882 Zuckerkandl menyatakan bahwa polip nasi merupakan suatu proses inflamasi. Polip nasi ditemukan 1-4 % dari populasi, 36 % penderita dengan intoleransi aspirin, 20% pada penderita fibrosis kistik, 7% pada penderita asma. Polip nasi lebih banyak ditemukan pada penderita asma non alergi (13%) dibanding penderita asma alergi (5%). Polip nasi terutama ditemukan pada usia dewasa, hanya kurang lebih 0.1% ditemukan pada anak-anak, lebih sering ditemukan pada laki-laki dibanding dengan wanita dengan rasio 2:1 atau 3:1 dan dapat ditemukan pada seluruh kelompok ras dan kelas ekonomi. 2 Angka mortalitas polip nasi tidaklah signifikan, namun polip nasi dihubungkan dengan turunnya kualitas hidup seseorang. Polip multipel yang jinak biasanya timbul setelah usia 20 tahun dan lebih sering pada usia diatas 40 tahun. Polip nasi jarang ditemukan pada anak usia dibawah 10 tahun. 2

3.4. Etiologi dan Faktor Resiko 3,5

17

Sampai saat ini belum ada kesepakatan mengenai etiologi polip nasi, terdapat sejumlah hipotesis mengenai asal dari polip nasi eosinofilik dan neutrofilik yang berkisar dari predisposisi genetik, variasi anatomi, infeksi kronis, alergi inhalan, alergi makanan, sampai ketidakseimbangan vasomotor. Namun saat ini yang banyak digunakan, yaitu : teori infeksi dan teori inflamasi. Etiologi yang pasti belum diketahui tetapi ada 3 faktor penting pada terjadinya polip, yaitu : 1. Adanya peradangan kronik yang berulang pada mukosa hidung dan sinus. 2. Adanya gangguan keseimbangan vasomotor. 3. Adanya peningkatan tekanan cairan interstitial dan edema mukosa hidung. Fenomena Bernoulli menyatakan bahwa udara yang mengalir melalui tempat yang sempit akan mengakibatkan tekanan negatif pada daerah sekitarnya. Jaringan yang lemah akan terhisap oleh tekanan negatif ini sehingga mengakibatkan edema mukosa dan pembentukan polip. Fenomena ini menjelaskan mengapa polip kebanyakan berasal dari daerah yang sempit di kompleks ostiomeatal (KOM) di meatus medius. Walaupun demikian polip juga dapat timbul dari tiap bagian mukosa hidung atau sinus paranasal dan seringkali bilaterak dan multipel. Selain dari fenomena Bernouli terdapat beberapa hipotesa lainnya. 1. Perubahan Polisakarida di postulatkan pada 1971 oleh Jackson dan Arihood. 2. Infeksi 3. Infeksi berulang pada sinus predisposisi pada mukosa menjadi perubahan polipoid. 4. Alergi alergi telah di implikasikan sebagai penyebab, sejak sekresi hidung mengandung eosinofil dan pasien mempunyai gejala alergi, sering dikaitkan dengan asma dan atopi.

18

5. Teori vasomotor Gangguan keseimbangan otonomik di duga mungkin sebagai penyebab pada individu non atopi. Juga di kaitkan dengan mediator inflamasi, faktor anatomi lokal, dan tumor. Predisposisi genetik diketahui sebagai penyebab polipoid pada fibrosis kistik. Yang dapat menjadi faktor predisposisi terjadinya polip antara lain : . 1. 2. 3. 4. Alergi terutama rinitis alergi. Sinusitis kronik. Iritasi. Sumbatan hidung oleh kelainan anatomi seperti deviasi septum

dan hipertrofi konka. 3.4. Patofisologi Polip hidung biasanya terbentuk sebagai akibat reaksi hipersensitif atau reaksi alergi pada mukosa hidung. Peranan infeksi pada pembentukan polip hidung belum diketahui dengan pasti tetapi ada keragu raguan bahwa infeksi dalam hidung atau sinus paranasal seringkali ditemukan bersamaan dengan adanya polip. Polip berasal dari pembengkakan lapisan permukaan mukosa hidung atau sinus, yang kemudian menonjol dan turun ke dalam rongga hidung oleh gaya berat. Polip banyak mengandung cairan interseluler dan sel radang (neutrofil dan eosinofil) dan tidak mempunyai ujung saraf atau pembuluh darah. Polip biasanya ditemukan pada orang dewasa dan jarang pada anak anak. Pada anak anak, polip mungkin merupakan gejala dari kistik fibrosis. 5 Banyak faktor yang mempengaruhi pementukan polip nasi. Kerusakan epitel merupakan patogenesa dari polip. Sel-sel epitel teraktivasi oleh alergen, polutan dan agen infeksius. Sel melepaskan berbagai faktor yang berperan dalam reson inflamasi dan perbaikan. Epitel polip menunjukan hiperplasia sel goblet dan hipersekresi mukus yang berperan dalam obstruksi hidung dan rinorea. 5

19

Polip dapat timbul pada hidung yang tidak terinfeksi kemudian menyebabkan sumbatan yang mengakibatkan sinusitis, tetapi polip dapat juga timbul akibat iritasi kronis yang disebabkan oleh infeksi hidung dan sinus. 6 Polip di kavum nasi terbentuk akibat proses radang yang lama dan berulang. Penyebab tersering adalah sinusitis kronik dan rinitis alergi. Dalam jangka waktu yang lama, vasodilatasi lama dari pembuluh darah submukosa menyebabkan edema mukosa. Kemudian stroma akan terisi oleh cairan interseluler sehingga mukosa yang sembab menjadi polipoid Mukosa akan menjadi ireguler dan terdorong ke sinus dan pada akhirnya membentuk suatu struktur bernama polip. Biasanya terjadi di sinus maksila, kemudian sinus etmoid. Bila proses ini berlanjut, mukosa yang sembab makin membesar dan kemudian tururn kedalam rongga hidung sambil membentuk tangkai yang akan turun ke kavum nasi kebanyakan terjadi di daerah meatus medius. Hal ini terjadi karena bersin dan pengeluaran sekret yang berulang yang sering dialami oleh orang yang mempunyai riwayat rinitis alergi karena pada rinitis alergi terutama rinitis alergi perennial yang banyak terdapat di Indonesia karena tidak adanya variasi musim sehingga alergen terdapat sepanjang tahun. Begitu sampai dalam kavum nasi, polip akan terus membesar dan bisa menyebabkan obstruksi di meatus media.7 3.5 Gejala Klinis 3,8 Pasien dengan polip yang masif biasanya mengalami sumbatan hidung yang meningkat, hiposmia sampai anosmia, perubahan pengecapan, dan drainase post nasal persisten. Sakit kepala dan nyeri pada muka jarang ditemukan dan biasanya pada daerah periorbita dan sinus maksila. Pasien polip dengan sumbatan total rongga hidung atau polip tunggal yang besar memperlihatkan gejala sleep apnea obstruktif dan pernafasan lewat mulut yang kronik. Pasien dengan polip soliter seringkali hanya memperlihatkan gejala obstruktif hidung yang dapat berubah dengann perubahan posisi. Walaupun satu atau lebih polip yang muncul, pasien mungkin memperlihatkan gejala akut, rekuren, atau rinosinusitis bila polip menyumbat ostium sinus. Beberapa polip dapat timbul berdekatan dengan muara sinus, sehingga aliran udara tidak

20

terganggu, tetapi mukus bisa terperangkap dalam sinus. Dalam hal ini dapat timbul perasaan penuh di kepala, penurunan penciuman, dan mungkin sakit kepala. Mukus yang terperangkap tadi cenderung terinfeksi, sehingga menimbulkan nyeri, demam, dan mungkin perdarahan pada hidung. Manifestasi polip nasi tergantung pada ukuran polip. Polip yang kecil mungkin tidak menimbulkan gejala dan mungkin teridentifikasi sewaktu pemeriksaan rutin. Polip yang terletak posterior biasanya tidak teridenfikasi pada waktu pemeriksaan rutin rinoskopi posterior. Polip yang kecil pada daerah dimana polip biasanya tumbuh dapat menimbulkan gejala dan menghambat aliran saluran sinus, menyebabkan gejala-gejala sinusitis akut atau rekuren. 3.6 Diagnosis Anamnesa Pada anamnesa kasus polip, keluahan utama biasanya ialah: 5
1. Hidung tersumbat dari yang ringan sampai berat. Sumbatan ini

menetap, tidak hilang dan semakin lama semakin berat. 2. Rinore mulai dari yang jernih sampai purulen 3. Pasien sering mengeluhkan terasa ada massa di dalam hidung dan sukar membuang ingus. 4. Hiposmia atau anosmia Mungkin disertai bersin-bersin, rasa nyeri pada hidung disertai sakit kepala di daerah frontal. Bila disertai infeksi sekunder mungkin di dapati post nasal drip dan rinore purulen. Gejala sekunder yang dapat timbul adalah bernafas melalui mulut, halitosis, nyeri muka, suara nasal (bindeng), telinga terasa penuh, mendengkur, gangguan tidur dan penurunan kualitas hidup.9 Selain itu juga harus di tanyakan riwayat rhinitis alergi, asma, intoleransi terhadap aspirin dan alergi obat serta makanan. 9 Pemeriksaan Fisik 5,10

21

1. Inspeksi Polip yang masif sering sudah menyebabkan deformitas hidung luar. Dapat dijumpai pelebaran kavum nasi terutama polip yang berasal dari selsel etmoid. 2. Rinoskopi Anterior Memperlihatkan massa yang berwarna pucat yang berasal dari meatus medius yang mudah digerakkan. Deformitas septum membuat pemeriksaan menjadi lebih sulit. Tampak sekret mukus dan polip multipel atau soliter. Polip kadang perlu dibedakan dengan konka nasi inferior, yakni dengan cara memasukan kapas yang dibasahi dengan larutan efedrin 1% (vasokonstriktor), konka nasi yang berisi banyak pembuluh darah akan mengecil, sedangkan polip tidak mengecil. Polip dapat diobservasi berasal dari daerah sinus etmoidalis, ostium sinus maksilaris atau dari septum 3. Rinoskopi Posterior Kadang-kadang dapat dijumpai polip koanal. Sekret mukopurulen ada kalanya berasal dari daerah etmoid atau rongga hidung bagian superior, yang menandakan adanya rinosinusitis.1,6,9,10. 4. Nasoendoskopi Adanya fasilitas nasoendoskopi akan sangat membantu diagnosis kasus baru. Polip stadium awal tidak terlihat pada pemeriksaan rinoskopi anterior tetapi tampak dengan pemeriksaan nasoendoskopi. Pada kasus polip koanal juga sering dapat terlihat tangkai polip yang berasal dari ostium assesorius sinus maksila. Pemeriksaan Radiologi Foto polos sinus paranasal ( posisi waters, lateral, Caldwell dan AP) dapat memperlihatkan penebalan mukosa dan adanya batas udara cairan di dalam sinus, tetapi sebenarnya kurang bermanfaat pada kasus polip nasi karena dapat memberikan kesan positif palsu atau negative palsu dan tidak dapat memberikan informasi mengenai keadaan dinding lateral hidung dan

22

variasi anatomis di daerah kompleks osteomeatal. Pemeriksaan tomografi computer sangat bermanfaat untuk melihat dengan jelas keadaan di hidung dan sinus paranasal apakah ada proses radang, kelainan anatomi, polip atau sumbatan pada kompleks osteomeatal. Terutama pada kasus polip yang gagal diobati dengan terapi medikamentosa, jika ada komplikasi dari sinusitis dan pada perencanaan tindakan bedah terutama bedah endoskopi. Biasanya untuk tujuan penapisan dipakai potongan koronal, sedangkan polip yang rekuren juga dipeerlikan potongan aksial. 6. Tes alergi Evaluasi alergi sebaiknya dipertimbangkan pada pasien dengan riwayat alergi lingkungan atau riwayat alergi pada keluarganya. 7. Laboratorium Untuk membedakan sinusitis alergi atau non alergi. Pada sunisitis alergi ditemukan eosinofil pada swab hidung, sedang pada non alergi ditemukannya neutrofil yang menandakan adanya sinusitis kronis. Stadium Polip Nasal Pembagian stadium polip menurut Mackay dan Lund (1997) : Stadium 1 : polip masih terbatas di meatus medius Stadium 2 : polip sudah keluar dari meatus medius tapi belum memenuhi rongga hidung Stadium 3 : polip yang masif

3.7 Diagnosis Banding Polip didiagnosisbandingkan dengan konka polipoid, yang ciri cirinya sebagai berikut : 5 Tidak bertangkai Sukar digerakkan

23

Nyeri bila ditekan dengan pinset Mudah berdarah Dapat mengecil pada pemakaian

vasokonstriktor (kapas adrenalin). Pada pemeriksaan rinoskopi anterior cukup mudah untuk membedakan polip dan konka polipoid, terutama dengan pemberian vasokonstriktor yang juga harus hati hati pemberiannya pada pasien dengan penyakit kardiovaskuler karena bisa menyebabkan vasokonstriksi sistemik, maningkatkan tekanan darah yang berbahaya pada pasien dengan hipertensi dan dengan penyakit jantung lainnya. 3.8 Penatalaksanaan 11,12 Karena etiologi yang mendasari pada polip nasi adalah reaksi inflamasi, maka penatalaksanaan medis ditujukan untuk mpengobatan yang tidak spesifik. Pada terapi medikamentosa dapat diberikan kortikosteroid. Kortikosteroid dapat diberikan secara sistemik ataupun intranasal. Pemberian kortikosteroid sistemik diberikan dengan dosis tinggi dalam waktu yang singkat, dan pemberiannya perlu memperhatikan efek samping dan kontraindikasi. Kortikosteroid oral adalah pengbatan paling efektif untuk pengobatan jangka pendek dari polip nasi, dan kortikosteroid oral memiliki efektivitas paling baik dalam mengurangi inflamasi polip. Kortikosteroid juga dapat diberikan secara intranasal dalam bentuk spray steroid, yang dapat mengurangi atau menurunkan pertumbuhan polip nasi yang kecil, tetapi secara relatif tidak efektis untuk polip yang masif. Steroid intranasal paling efektif pada periode post operatif untuk mencegah atau megurangi relaps. Pengobatan juga dapat ditujukan untuk mengurangi reaksi alergi pada polip yang dihubungkan dengan rhinitis alergi. Pada penderita dapat diberikan antihistamin oral untuk mengurangi reaksi inflamasi yang terjadi. Bila telah terjadi infeksi yang ditandai dengan adanya sekret yang mukopurulen maka dapat diberikan antibiotik.

24

Pengobatan Medis polip nasal sebagai berikut : 3,5

Steroid oral dan topikal di berikan pada pengobatan pertama pada nasal polip. Antihistamin, dekongestan dan sodium cromolyn memberikan sedikit keuntungan. Imunoterapi mungkin dapat berguna untuk pengobatan rhinitis alergi, tapi bila di gunakan sendirian, ak dapat berguna pada polip yang telah ada, pemberian antibiotik bila terjadi superimposed infeksi bakteri.

Kortikosteroid adalah pengobatan pilihan, baik secara topikal maupun sistemik. Injeksi langsung pada polip menunjukkan berkurangnya pertumbuhan polip dan berkurangnya gejala pada hidung dibandingkan dengan pengobatan intranasal. Injeksi steroid intrapolip ini merupakan pengobatan alternatif yang aman pada pasien tertentu tapi masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut. Tapi tindakan ini kemudian tidak dibenarkan oleh Food and Drug Administration karena dilaporkan terdapat 3 pasien dengan kehilangan penglihatan unilateral setelah injeksi intranasal langsung dengan kenalog. Keamanan mungkin tergantung pada ukuran spesifik partikel. Berat molekuler yang besar seperti Aristocort lebih aman dan sepertinya sedikit yang di pindahkan ke area intrakranial. Hindari injeksi langsung ke dalam pembuluh darah.

Pemberian kortikosteroid untuk menghilangkan polip nasi disebut juga polipektomi medikamentosa.Untuk polip stadium 1 dan 2, sebaiknya diberikan kortikosteroid intranasal selama 4-6 minggu. Bila reaksinya baik, pengobatan ini diteruskan sampai polip atau gejalanya hilang. Bila reaksinya terbatas atau tidak ada perbaikan maka diberikan juga kortikosteroid sistemik. Perlu diperhatikan bahwa kortikosteroid intranasal mungkin harganya mahal dan tidak terjangkau oleh sebagian pasien, sehingga dalam keadaan demikian langsung diberikan kortikosteroid oral. Dosis kortikosteroid saat ini belum ada ketentuan yang baku, pemberian masih secara empirik misalnya diberikan Prednison 30 mg per hari selama seminggu dilanjutkan dengan 15 mg per hari selama seminggu. Menurut van Camp dan Clement dikutip dari Mygind dan, Lidholdt untuk polip dapat diberikan prednisolon dengan dosis total 570 mg yang dibagi dalam

25

beberapa dosis, yaitu 60 mg/hari selama 4 hari, kemudian dilakukan tapering off 5 mg per hari. Menurut Naclerio. pemberian kortikosteroid tidak boleh lebih dari 4 kali dalam setahun. Pemberian suntikan kortikosteroid intrapolip sekarang tidak dianjurkan lagi mengingat bahayanya dapat menyebabkan kebutaan akibat emboli. Kalau ada tandatanda infeksi harus diberikan juga antibiotik. Pemberian antibiotik pada kasus polip dengan sinusitis sekurang-kurangnya selama 10-14 hari.

Respon dengan kortikosteroid tergambar dari ada atau tidaknya eosinofilia, jadi pasien dengan polip dan rhinitis alergi atau asma seharusnya respon dengan pengobatam ini. Pasien dengan polip yang sedikit eosinofil mungkin tidak respon terhadap steroids. Penggunaan steroid oral jangka panjang tidak direkomendasikan karena efek sampingnya yang merugikan (seperti gangguan pertumbuhan, Diabetes Melitus, hipertensi, gangguan psikis, gangguan pencernaan, katarak, glukoma, osteoporosis)

Banyak penulis menganjurkan pemberian steroid topikal untuk polip nasal, sebagai pengobatan primer atau pengobatan lanjutan mengikuti pemberian per oral, atau bedah. Banyak steroid nasal (seperti ; flucitason, beclomethasone, budesonide) efektik untuk menurunkan gejala subjektif, dan meningkatkan aliran udara di hidung ketika dipastikan secara objektif. Beberapa penelitian mengindikasikan mempunyai onset yang lebih cepat dan mungkin sedikit lebih baik dari beclomethasone.

Pemberian topikal kortikosteroid di beriakan secara umum karena lebih sedikit efek yang merugikan dibandingkan pemberian sistemik karena bioavaibilitasnya yang terbatas. Pemberian jangka panjang khususnya dosis tinggi dan kombinasi dengan kortikosteroid inhalasi, terdapat resiko penekanan hipotalamus-pituari-adrenal aksis, pembentuakan katarak, gangguan pertumbuhan, perdarahan hidung, dan pada jarang kasus terjadi perforasi septum.

Inhibitor Leukotrien : Leukotrien dibentuk selama pemecahan asam arachidonat oleh enzim 5-lipoxigenase. Mereka merupakan mediator inflamasi yang berperan dalam patogenesis asma, rhinitis alergi, dan polip

26

nasal. Hasilnya mereka menjadi target modulasi terapi. Penelitian barubaru ini mengenai penghambatan sintesis leukotrien menunjukkan peningkatkan aliran udara dalam hidung dan pengecilan polip nasal yang dibuktikan dengan endoskopi dan studi imaging. Penggunaan inhibitor leukotrien ini menunjukkan hasil maksimal pada penderita dengan rhinitis alergi konkomitan dan polip nasal eosinofilik.

Obat-obatan lain : obat-obatan lain yang mungkin digunakan dalam pengobatan polip nasal adalah antibiotic makrolid, terapi diuretic topical, dan asam asetilsalisilat-lisin intranasal. Kasus polip yang tidak membaik dengan terapi medikamentosa atau polip

yang sangat masif dipertimbangkan untuk terapi bedah. Pembedahan dilakukan jika Polip menghalangi saluran pernafasan, menghalangi drainase dari sinus sehingga sering terjadi infeksi sinus, atau berhubungan dengan tumor. Terapi bedah yang dipilih tergantung dari luasnya penyakit (besarnya polip dan adanya sinusitis yang menyertainya), fasilitas alat yang tersedia dan kemampuan dokter yang menangani. Macamnya operasi mulai dari polipektomi intranasal menggunakan jerat (snare) kawat dan/ polipektomi intranasal dengan cunam (forseps) yang dapat dilakukan di ruang tindakan unit rawat jalan dengan analgesi lokal; etmoidektomi intranasal atau etmoidektomi ekstranasal untuk polip etmoid; operasi Caldwell-Luc untuk sinus maksila. Yang terbaik ialah bila tersedia fasilitas endoskop maka dapat dilakukan tindakan endoskopi untuk polipektomi saja, atau disertai unsinektomi atau lebih luas lagi disertai pengangkatan bula etmoid sampai Bedah Sinus Endoskopik Fungsional lengkap. Alat mutakhir untuk membantu operasi polipektomi endoskopik ialah microdebrider (powered instrument) yaitu alat yang dapat menghancurkan dan mengisap jaringan polip sehingga operasi dapat berlangsung cepat dengan trauma yang minimal. Tindakan pengangkatan polip atau polipektomi dapat dilakukan dengan menggunakan senar polip dengan anestesi lokal, untuk polip yang besar tetapi belum memadati rongga hidung. Polipektomi sederhana cukup efektif untuk memperbaiki gejala pada hidung, khususnya pada kasus polip yang tersembunyi

27

atau polip yang sedikit. Bedah sinus endoskopik (Endoscopic Sinus Surgery) merupakan teknik yang lebih baik yang tidak hanya membuang polip tapi juga membuka celah di meatus media, yang merupakan tempat asal polip yang tersering sehingga akan membantu mengurangi angka kekambuhan. Surgical micro debridement merupakan prosedur yang lebih aman dan cepat, pemotongan jaringan lebih akurat dan mengurangi perdarahan dengan visualisasi yang lebih baik.

28

Penatalaksanaan Polip Hidung dan sinus para nasal Keluhan Sumbatan hidung dengan 1/> gejala Massa polip hidung Tentukan stadium Jika mungkin : biopsy untuk tentukan tipe polip dan lakukan polipektomi reduksi Stad 2&3 Terapi bedah Stad I & 2 Terapi medik Semua stadium tipenetrofi lik terapi bedah Curiga keganasan Permukaan berbenjol, mudah berdarah Biopsy tatalaksana sesuai Semua stadium tipenetrofi lik terapi medik Keterangan menentukan stadium Polip dalam MM (NE) Polip keluar dari MM Polip memenuhi rongga hidung

Persiapan pra bedah Terapi medik : steroid topical dan atau polipektomi medikamentosa dengan cara : deksametason 12 m (3 Hr) 8 mg (3 Hr)4 mgt (3 Hr) Methylprednisolon 64 mg 10 mg (10 Hr) Prednisone 1 mg/ kgbb (10 Hr) Perbaikan mengecil Perbaikan hilang

Terapi bedah

Tidak ada perbaikan

Tindak lanjut dengan steroid topical Pemeriksaan berkala sebaiknya dengan NE

sembuh

Polip rekuren : Cari faktor alergi Steroid topical Steroid oral tidak lebih 3-4x/ tahun Kaustik Operasi ulang Bagan 1: Penatalaksanaan Polip Nasal Sumber : Perhati-KL, Guideline Penyakit THT-KL di Indonesia

29

3.9 Prognosis Polip nasi dapat muncul kembali selama iritasi alergi masih tetap berlanjut. Rekurensi dari polip umumnya terjadi bila adanya polip yang multipel. Polip tunggal yang besar seperti polip antral-koanal jarang terjadi relaps.7

30

DAFTAR PUSTAKA

1.

Zulfadli. 2007. Polip Nasi. Diakses dari www.solaraid.com. Punagi, Abdul Qadar. 2005. Peranan Sitokin Pada Polip Nasi

Diakses pada tanggal 10 Desember 2012


2.

dalam Jurnal Media Nusantara Volume 26 No.4 Oktober- Desember 2005. Hal 263-267.
3.

Nizar, Nuty W, Endang Mangunkusumo. Hidung. Dalam Buku

Ajar Ilmu Kesehatan Hidung dan Telinga editor : Eliaty AS, Nurbaiti, edisi ke 6 tahun 2007. Hal 118-122.
4.

Snell, Richard S, Kepala dan Leher dalam Anatomi Klinik alih Nizar, Nuty W, Endang Mangunkusumo. Polip Hidung. Dalam

bahasa dr. Jan Tamboyang. EGC 1997


5.

Buku Ajar Ilmu Kesehatan Hidung dan Telinga editor : Eliaty AS, Nurbaiti, edisi ke 6 tahun 2007. Hal 123-125
6.

McClay,

Jhon

MD.

Nasal

Polyps,

di

akses

dari

www.emedicine.com . Diakses tanggal 11 Desember 2012.


7.

Polip hidung, 2004. Diakses dari www.medicastore.com Diakses Blumenthal MN. Kelainan alergi pada pasien THT. Dalam: Adam,

tanggal 11 Desember 2012


8.

Boies, Higler. BOIES. Buku Ajar Penyakit THT. Jakarta, EGC, 1997. Hal 196-8.
9.

Bechara,

Ghorayeb.

Nasal

polyps.

Diakses

dari

www.otolaryngology Houston.htm. Diakses tanggal 13 Desember 2012


10.

Polip Nasal. Diakses dari www.arquivosdeorl.org.br Diakses

tanggal 11Desember 2012.


11.

Valerie J Lund. Diagnosis and Treatment of Nasal Polyps. Diakses

dari www.otolayngologyhouston Htm. Diakses tanggal 12 Desember 2012 12. Perhimpunan Dokter Spesialis THT-KL Indonesia. Guideline

Penyakit THT-KL di Indonesia. 2007. Hal 58

31

32