Anda di halaman 1dari 31

Dasar-Dasar Permukiman dan Perkotaan

Modul 3

TIPOLOGI DAN MORFOLOGI PERMUKIMAN DAN PERKOTAAN


3.1 TIPOLOGI PERMUKIMAN DAN PERKOTAAN 3.1.1 Pengertian Tipologi adalah ilmu tentang pentipean yang dijadikan sebagai pendekatan untuk merancang, antara lain fisik bangunan, permukiman maupun perkotaan. Tipe merupakan gagasan abstrak, images places atau ideas of places. Tipe merupakan kata yang menggambarkan suatu proses internal manusia dalam mengenal sesuatu yang ada di bumi yang akhirnya dapat mengklasifikasikan sesuatu tersebut ke dalam kelompok tertentu berdasarkan karakteristik yang sama (Frank, Keren : Schneekloth, Linda : Ordering Space, Type in Architecture and Design, 1994) 3.1.2 Tipologi Permukiman Permukiman adalah bagian dari lingkungan hidup diluar kawasan lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan maupun kawasan perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung peri-kehidupan dan penghidupan. Tipologi permukiman dapat dibedakan dalam 5 kelompok, yaitu : 1. Permukiman berdasarkan Karakteristik Ukuran a. Permukiman Tunggal (Homogen) Adalah sebuah permukiman yang terdiri dari kumpulan unit yang kohesif seperti : permukiman petani, permukiman militer, permukiman biara dll b. Permukiman Campuran (Heterogen) Adalah sebuah permukiman yang terdiri dari banyak kumpulan unit yang kohesif dan ada campuran dengan unit lain seperti perumahan petani dengan perumahan militer dll 2. Permukiman berdasarkan Permanency a. Permukiman Temporer (sementara) Seperti : penampungan korban tsunami, penampungan korban gempa bumi, penampungan korban kebakaran dll b. Permukiman Permanen (tetap) Seperti : permukiman transmigrasi, permukiman anggota DPR, permukiman buruh pabrik, permukiman nelayan dll 3. Permukiman berdasarkan Metoda Penciptaan Permukiman a. Permukiman Natural (Alami / Tidak Terencana)
Etty R Kridarso Jurusan Arsitektur Usakti

Dasar-Dasar Permukiman dan Perkotaan

Seperti : Permukiman sepanjang bantaran sungai, bantaran rel kereta api, permukiman kumuh di pusat kota, permukiman nelayan di pesisir pantai b. Permukiman Terencana Seperti : Permukiman Pantai Indah Kapuk, Permukiman Kelapa Gading Permai, Permukiman Bumi Serpong Damai dll 4. Permukiman berdasarkan Fungsi dan Tujuan a. Permukiman Rural (Perdesaan) Seperti : Permukiman Nomaden (berpindah-pindah/ temporer), Permukiman Semi Nomanen / Semi Permanen, Permukiman One Family Permanent (suku terasing), Permukiman Komposit Permanen b. Permukiman yang di bangun oleh Institusi (pemerintah, swasta) Seperti : Permukiman anggota DPR, Permukiman karyawan Pemprov. DKI, Permukiman karyawan Garuda dll c. Permukiman Urban (Perkotaan) - Kota Statis (tidak berubah / berkembang) - Kota Dinamis (berkembang) 5. Permukiman berdasarkan Karakteristik Ukuran, Fungsi, Struktur dan Bentuk dari jaman primitive sampai jaman modern a. Permukiman Nomaden b. Permukiman Campuran (Urban-agricultural) c. Towns dan Cities d. Metropolis e. Dinapolis f. Dynametropolis g. Megalopolis h. Eunocopolis 3.1.3 Tipologi Perkotaan Kota adalah suatu permukiman yang besar, padat dan permanen, terdiri dari orang-orang yang heterogen dari segi sosial. Tipologi perkotaan dapat dibedakan dalam 5 kelompok, yaitu : 1. Kota berdasarkan jumlah penduduk - Kota Raya : > 1 juta jiwa - Kota Besar : 500.000 1 juta jiwa - Kota Sedang : 100.000 500.000 jiwa - Kota Kecil : 25.000 100.000 jiwa - Rural Town : 3.000 25.000 jiwa

Etty R Kridarso Jurusan Arsitektur Usakti

Dasar-Dasar Permukiman dan Perkotaan

2. Kota berdasarkan fungsi dominan - Kota Pertambangan (Muara Enim, Cilacap, Cirebon dll) - Kota Perindustrian (Tangerang, Bekasi dll) - Kota Pendidikan (Yogyakarta dll) - Kota Transportasi (Jakarta, Medan, Surabaya dll) - Kota Politik (Jakarta, Yogyakarta ) 3. Kota berdasarkan lokasi geografis - Kota Pantai (Cirebon, Semarang dll) - Kota Sungai (Palembang, Banjarmasin dll) - Kota Pedalaman 4. Kota berdasarkan Status - Kota yang merupakan ibukota Negara - Kota yang merupakan ibukota Propinsi - Kota yang merupakan ibukota Kabupaten 5. Kota berdasarkan Tahap Pengembangan - Kota Eopolis Kota yang merupakan suatu pusat dari daerah-daerah pertanian dengan adat istiadat yang bercorak perdesaan dan serba sederhana - Kota Polis Kota yang merupakan tempat berpusatnya kehidupan keagamaan dan pemerintahan. Berbentuk seperti benteng yang kokoh. Didalamnya terdapat tempat-tempat ibadah, pasar, industry kecil, lembaga pendidikan, tempat hiburan, stadion besar untuk olah raga, penduduknya terdiri dari aneka tukang dengan macam-macam keahlian - Kota Metropolis Kota yang dicirikan oleh wilayah yang besar dan penduduknya yang banyak, terdiri atas berbagai bangsa untuk berdagang dan kegiatan budaya. Terjadi percampuran perkawinan antar bangsa dan ras sehingga memunculkan falsafah dan kepercayaan baru. Secara fisik, perkembangan menjadi metropolis menunjukkan sifat kemegahan, tetapi dari segi social memperlihatkan adanya kekontrasan antara golongan kaum kaya dan kaum miskin. - Kota Megalopolis Kota dengan tingkat perkembangan lebih lanjut dari metropolis. Gejala social-patologis sangat menonjol. Di satu pihak terdapat kekayaan dan kekuasaan yang didukung oleh birokrasi yang ketat dan di lain pihak kemiskinan dan keresahan makin meluas sehingga mendorong terjadinya pemberontakan kaum proletar

Etty R Kridarso Jurusan Arsitektur Usakti

Dasar-Dasar Permukiman dan Perkotaan

Kota Tyranopolis Kota yang mencapai tingkat perkembangan yang ditandai oleh terjadinya de-generasi dan korupsi, moral penduduk merosot, adanya kejahatan dan kemaksiatan, dan timbulnya kekuatan kaum proletar yang sewaktu-waktu dapat meledak Kota Nekropolis Peradaban kota yang runtuh, kota menjadi bangkai/mati (nekros). Seperti : Babilon, Nineve dan Roma Kuno

Menurut Spiro Kostaf (1991) bahwa Kota adalah percampuran dari bangunan dan penduduk. Sedangkan bentuk kota pada awalnya adalah netral, tetapi kemudian berubah akibat adanya pengaruh budaya yang tertentu. Bentuk kota ada 2 macam yaitu : 1. Bentuk Kota Geometri a. Bentuk Terencana (Planned) Bentuk ini dapat dijumpai pada kota-kota eropa abad pertengahan dengan pengaturan kota yang selalu regular dan rancangan bentuk geometric.

Etty R Kridarso Jurusan Arsitektur Usakti

Dasar-Dasar Permukiman dan Perkotaan

b. Bentuk Tidak Terencana (Unplanned) Bentuk ini banyak terjadi pada kota-kota metropolitan. Dimana satu segmen kota berkembang secara spontan dengan bermacam-macam kepentingan yang saling mengisi. Sehingga akhirnya kota akan memiliki bentuk semaunya yang kemudian disebut dengan Organik Pattern. Bentuk kota organic tersebut secara spontan, tidak terencana dan memiliki pola yang tidak teratur dan non geometric.

2. Bentuk Kota Organik Elemen-elemen pembentuk kota pada kota organic, bila dianalogikan secara biologis dari organ tubuh manusia adalah sebagai berikut : - Square, open space sebagai paru-paru - Center, pusat kota sebagai jantung yang memompa darah (traffic) - Jaringan jalan sebagai saluran arteri darah dalam tubuh - Kegiatan ekonomi kota sebagai sel yang berpikir - Bank, pelabuhan, kawasan industry sebagai jaringan khusus dalam tubuh - Unsur capital (keuangan dan bangunan) sebagai energy yang mengalir ke seluruh system perkotaan

Etty R Kridarso Jurusan Arsitektur Usakti

Dasar-Dasar Permukiman dan Perkotaan

Dalam suatu kota organic, terjadi saling ketergantungan antara lingkungan fisik dan lingkungan social. Contoh : jalan-jalan dan lorong-lorong menjadi ruang komunal dan ruang public yang tidak teratur, tetapi menunjukkan adanya kontak social dan saling menyesuaikan diri antara penduduk asli dengan pendatang, antara kepentingan individu dengan kepentingan umum. Perubahan demi perubahan fisik dan non fisik (social) terjadi secara spontan. Apabila salah satu elemennya terganggu maka seluruh lingkungan akan terganggu juga. Sehingga akan mencari keseimbangan baru. Hal ini terjadi secara berulangulang. Menurut Kevin Lynch (19810, defines Kota Organik atau Kota Biologis adalah kota yang terlihat sebagai tempat tinggal yang hidup, memiliki ciri-ciri kehidupan yang membedakannya dari mesin yaitu mengatur diri sendiri dan dibatasi oleh ukuran dan batas yang optimal, struktur internal dan perilaku yang khas, perubahannya tidak dapat dihindari untuk mempertahankan keseimbangan yang ada. Ciri-ciri bentuk fisik Kota Organik yaitu : - Membentuk pola radial dengan unit terbatas - Memiliki focused centre - Memiliki lay out non geometric atau cenderung romantic dengan pola yang membentuk lengkung tak beraturan, material alami - Kepadatan sedang sampai rendah, dekat dengan alam - Organisasi ruang telah membentuk kesatuan yang terdiri dari unit-unit yang memiliki fungsi masing-masing - Mudah untuk mengalami penurunan kualitas karena perkembangannya yang spontan, tidak terencana dan sepotong-sepotong - Masyarakat penghuni kota organic bermacam-macam yang merupakan percampuran antara berbagai macam manusia dalam suatu tempat (place) yang memiliki keseimbangan. Masing-masing memiliki fungsi yang berbeda, saling menyimpang tetapi juga saling mendukung satu sama lain. - Kota organic memiliki cirri khas pada kerjasama dalam memelihara lingkungan social oleh masyarakat.

Contoh Typologi Kota di Indonesia :


Pengertian pusat kota pada kota-kota di Jawa terus berubah sesuai dengan perkembangan jaman. Keadaan social politik, termasuk sistim pemerintahan, letak geografis, serta sejarah masa lalu sebuah kota sangat berpengaruh pada kawasan yang disebut sebagai pusat kota. Setelah th. 1980 an dengan adanya perpindahan industri skala kecil dan menengah dari negara maju ke negara berkembang yang sebagian besar bertempat di pinggiran kota-kota besar di Jawa seperti Jakarta, Surabaya dan Semarang, maka kesenjangan jarak antara pusat dan pinggiran ini makin tipis. Majunya transportasi mengurangi kesenjangan antara pusat dan pinggiran kota tersebut. Karena panjang jalan yang tidak seimbang dengan jumlah kendaraan pada abad 21, di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung dan Semarang, maka timbullah lagi kesenjangan antara pusat dan pinggiran kota.

Etty R Kridarso Jurusan Arsitektur Usakti

Dasar-Dasar Permukiman dan Perkotaan

3.2 MORFOLOGI PERMUKIMAN DAN PERKOTAAN (MORFOLOGI KOTA) 3.2.1 Pengertian Morfologi adalah bidang ilmu bahasa yang mengkaji struktur, bentuk dan penggolongan. Morfologi dipakai oleh berbagai cabang ilmu. Secara harfiah, morfologi berarti pengetahuan tentang bentuk (morphos). Menurut David Gosling bahwa morfologi merupakan suatu ekspresi formal dari tipe konstruksi bangunan / elemen arsitektural baik secara individu maupun berkelompok. Sebagai manifestasi nilai-nilai atau makna yang dikandung, terkait dengan perkembangan konstruksi bangunan atau elemen arsitektur. Menurut Slamet Wirasonjaya, bahwa morfologi kota mempelajari asal-usul terbentuknya kota atau proses terjadinya bentuk kota. Menurut Herbert (1973), bahwa tinjauan morfologi kota ditekankan pada bentuk fisik dari lingkungan kota yang tercermin pada system jalan-jalan yang ada, blok-blok bangunan komersil maupun hunian. Morfologi dapat berfungsi sebagai : 1. Metoda : untuk mengenal atau mengetahui proses terjadinya bentuk kota serta digunakan untuk membaca, melihat suatu rencana atau perancangan bangunan 2. Konsep : untuk konsep pendekatan perencanaan dan perancangan kota serta bentuk kota Morfologi kota berkaitan dengan perubahan suatu kawasan dan sekitarnya sebagai bagian dari suatu kawasan perkotaan yang lebih luas. 3.2.2 Morfologi Kota Suatu kota selalu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu yang dipengaruhi oleh : 1. Faktor Ekonomi : pertumbuhan ekonomi, adanya kegiatan ekonomi yang intensif 2. Faktor Sosial-Politik-Budaya : pola pikir dan cara pandang masyarakat, kondisi politik negara 3. Faktor Teknologi : penemuan konstruksi dan material baru Dari waktu ke waktu bentuk fisik kota selalu mengalami perubahan sementara batas administrasi kota relative sama untuk periode yang lama. Oleh karena itu batas fisik kota sering berubah setiap saat. Ada 3 macam kemungkinan hubungan antara batas fisik kota dengan batas administrasi yaitu :

Etty R Kridarso Jurusan Arsitektur Usakti

Dasar-Dasar Permukiman dan Perkotaan

1. Under Bounded City Sebagian besar batas fisik kota berada jauh di luar batas administrasi kota. Wewenang pemerintah kota untuk merencanakan ruang wilayahnya hanya pada daerah yang terletak di dalam batas administrasi. Sedangkan untuk daerah yang berada di luar batas adminitrasi menjadi wewenang pemerintah daerah.

2. Over Bounded City Sebagian besar batas fisik kota berada di dalam batas administrasi kota. Hal ini tidak menimbulkan konflik antara pemerintah kota dengan pemerintah daerah. Karena wewenang pemerintah kota untuk merencanakan ruang wilayahnya masih dapat diperluas.

3. True Bounded City Batas fisik kota sama dengan batas administrasi kota. Dalam perencanaan tata ruang kota akan lebih memudahkan pemerintah kota. Karena seluruh areal kota berada dala batas administrasi kota.

Etty R Kridarso Jurusan Arsitektur Usakti

Dasar-Dasar Permukiman dan Perkotaan

Macam-macam Bentuk dari Morfologi Kota, yaitu : 1. Bentuk-Bentuk Kompak a. Bentuk Bujur Sangkar (the square cities) Kota dengan bentuk bujur sangkar menunjukkan adanya kesempatan perluasan kota kesegala arah yang relative seimbang dan kendala fisik relative tidak begitu berarti. Hanya adanya jalur transportasi memungkinkan terjadi percepatan pertumbuhan kota pada jalur tersebut.

b. Bentuk empat persegi panjang (the rectangular cities) Dimensi memanjang sedikit lebih besar dari pada dimensi melebar. Hal ini disebabkan adanya hambatan-hambatan fisik terhadap perkembangan kota pada salah satu sisinya (lereng terjal, perairan, gurun pasir dll).

Etty R Kridarso Jurusan Arsitektur Usakti

Dasar-Dasar Permukiman dan Perkotaan

c. Bentuk Kipas (fan shaped cities) Bentuk setengah lingkaran : mempunyai kesempatan pengembangan yang relative seimbang Bentuk kipas (b dan c) : mempunyai hambatan perkembangan pada area kotanya antara lain disebabkan oleh factor alami maupun buatan Contoh : Kota-kota Pelabuhan

d. Bentuk Bulat (rounded cities) Bentuk kota paling ideal adalah bulat. Hal ini disebabkan adanya kesempatan perkembangan areal kearah luar yang seimbang. Jarak dari pusat kota kearah bagian luar sama.

Etty R Kridarso Jurusan Arsitektur Usakti

10

Dasar-Dasar Permukiman dan Perkotaan

e. Bentuk Pita (ribbon shaped cities) Kota yang mirip dengan bentuk kota empat persegi panjang. Namun karena dimensi memanjangnya jauh lebih besar maka bentuknya menyerupai pita. Peranan jalur transportasi memanjang menjadi dominan dalam mempengaruhi perkembangan kota.

f. Bentuk Gurita / Bintang (octopus / star shaped cities) Peranan jalur transportasi sangat dominan. Pada bentuk gurita, jalur transportasi tidak hanya satu arah saja, tetapi beberapa arah ke luar kota. Dan daerah pinggiran tidak member hambatan.

g. Bentuk Tidak berpola (unpatterned cities) Kota yang terbentuk dari kondisi geografis khusus. Kota yang telah menciptakan latar belakang khusus dengan kendala-kendala pertumbuhan sendiri. Contoh : Kota sebuah pulau, dimana kota mengikuti bentuk pulau yang sudah ada yang terhambat oleh laut dari segala arah.

Etty R Kridarso Jurusan Arsitektur Usakti

11

Dasar-Dasar Permukiman dan Perkotaan

2. Bentuk-bentuk Tidak Kompak a. Bentuk Terpecah (fragmented cities) Awalnya berbentuk kota yang kompak dalam skala wilayah yang kecil. Dalam perkembangannya perkembangan kota baru tidak langsung menyatu dengan kota induknya. Tetapi cenderung membentuk daerah-daerah pertanian disekitarnya.

b. Bentuk Berantai (chained cities) Termasuk bentuk terpecah yang terjadi disepanjang route tertentu. Bentuk berupa mata rantai yang dihubungkan oleh route transportasi. Sehingga jarak antara kota induk dengan kota baru tidak jauh. Biasanya memiliki fungsi yang sama yaitu ekonomi.

c. Bentuk Terbelah (split cities) Termasuk kota yang kompak, tetapi berhubung ada perairan yang cukup lebar membelah kota menjadikan kota terbelah dua bagian yang terpisah. Contoh : kota Buda dan kota Pest.
Etty R Kridarso Jurusan Arsitektur Usakti

12

Dasar-Dasar Permukiman dan Perkotaan

d. Bentuk Stellar (stellar cities) Terdapat pada kota-kota besar yang dikelilingi oleh kota-kota satelit. Terjadi penggabungan antara kota besar utama dengan kota-kota satelit disekitarnya. Pros penggabungan yang terus menerus akan menciptakan bentuk megapolitan.

Macam-macam Bentuk Perluasan / Perembetan dari Areal Perkotaan, yaitu : 1. Perluasan Konsentris Merupakan jenis perluasan areal perkotaan yang paling lambat. Perluas berjalan perlahanlahan terbatas pada semua bagian-bagian luar fisik kota. Sifat perluasan kota merata ke semua bagian luar kota yang sudah ada. Akan membentuk morfologi kota yang kompak. Peran transportasi tidak terlalu besar.

2. Perluasan Memanjang Bentuk ini menunjukkan ketidak merataan perluasan areal perkotaan disemua sisi-sisi bagian luar. Perluasan paling cepat terlihat pada jalur transportasi yang ada. Tipe perkembangan ini dianggap paling merugikan, karena tidak efisien dalam bidang ekonomi
Etty R Kridarso Jurusan Arsitektur Usakti

13

Dasar-Dasar Permukiman dan Perkotaan

dan tidak mempunyai nilai estetis. Keadaan ini sangat menyulitkan pemerintah kota untuk membangun prasarana dan biaya pembangunan tidak sebanding dengan jumlah penduduk yang diberi fasilitas.

c. Perluasan Melompat Tipe ini sangat cepat menimbulkan dampak negative terhadap kegiatan pada wilayah yang lebih luas.

Etty R Kridarso Jurusan Arsitektur Usakti

14

Dasar-Dasar Permukiman dan Perkotaan

Macam-Macam Model Bentuk Kota : a. Bentuk Satelit dan Pusat-Pusat Baru

LAUT JAWA

KAB. DEMAK

KAB. KENDAL

KAB. GROBOGAN

KABUPATEN SEMARANG

KE YOGYAKARTA

Etty R Kridarso Jurusan Arsitektur Usakti

15

Dasar-Dasar Permukiman dan Perkotaan

b. Bentuk Stellar atau Radial

c. Bentuk Cincin

Etty R Kridarso Jurusan Arsitektur Usakti

16

Dasar-Dasar Permukiman dan Perkotaan

d. Bentuk Linier Bermanik

e. Bentuk Inti / Kompak

Etty R Kridarso Jurusan Arsitektur Usakti

17

Dasar-Dasar Permukiman dan Perkotaan

f. Bentuk Memencar

g. Bentuk Kota Bawah Tanah

Contoh Morfologi Kota-Kota di Indonesia : a. Sejarah Perkembangan Bentuk Kota di Pulau Jawa Pengertian pusat kota pada kota-kota di Jawa terus berubah sesuai dengan perkembangan jaman. Keadaan sosial politik, termasuk sistim pemerintahan, letak geografis, serta sejarah masa lalu sebuah kota sangat berpengaruh pada kawasan yang disebut sebagai pusat kota. Setelah th. 1980 an dengan adanya perpindahan industri skala kecil dan menengah dari negara maju ke negara berkembang yang sebagian besar bertempat di pinggiran kotakota besar di Jawa seperti Jakarta, Surabaya dan Semarang, maka kesenjangan jarak antara pusat dan pinggiran ini makin tipis. Majunya transportasi mengurangi kesenjangan antara pusat dan pinggiran kota tersebut. Karena panjang jalan yang tidak seimbang dengan jumlah kendaraan pada abad 21, di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Bandung dan Semarang, maka timbullah lagi kesenjangan antara pusat dan pinggiran kota.

Etty R Kridarso Jurusan Arsitektur Usakti

18

Dasar-Dasar Permukiman dan Perkotaan

Pusat Kota Pedalaman pada Jaman Pra Kolonial sampai abad ke 18 Secara geografis kota di pulau Jawa dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu kota Pesisir dan kota Pedalaman. Baik Kota Pesisir maupun kota pedalaman pada awal perkembangannya mempunyai struktur yang sama. Hanya dalam perkembangan sejarah selanjutnya kemudian kota Pesisir mempunyai struktur yang berbeda dengan kota Pedalaman. Hal ini disebabkan karena kota Pesisir nantinya lebih banyak berinteraksi dengan orang asing dari seberang sebagai akibat kemajuan dalam bidang pelayaran. Sehingga penduduk kota Pasisir lebih heterogen jika dibandingkan dengan penduduk kota Pedalaman yang relatif lebih homogen. Makin kuat seorang penguasa pada sebuah kota, maka makin besar kotanya. Sebaliknya makin lemah penguasa, secara otomatis kotanya akan menyusut. Jadi kota di pulau Jawa jaman pra-kolonial pada hakekatnya tidak mempunyai batas administratif yang tetap. Semuanya tergantung pada penguasanya. Seorang penguasa biasanya berkedudukan di ibukota kerajaan atau kabupaten. Kota di pulau Jawa pada jaman pra-kolonial pada dasarnya menganut pola kota Mandala, sebagai penerusan dari kebiasaan kota-kota pada jaman Hindu Jawa. Dalam pelaksanaannya kota Jawa dimasa lampau mempunyai pusat (inti) kota, yang berupa istana penguasa (Keraton atau Kabupaten) dengan alun-alun dan bangunan penting lain di sekitarnya. Kalau musuh ingin menghancurkan atau menaklukkan penguasa setempat, maka simbol kekuasaan phisik seperti istana atau keraton serta bangunan pendukungnya harus diratakan dengan tanah. Sehingga kota itu kemudian jadi lemah atau bahkan mati.

Konsep Penataan Wilayah Keterangan: 1. Sultan, Pusat kuasa, sebagai dalem Sultan dan dimana pusaka kerajaan disimpan. 2. Batas Benteng Keraton, dimana didalamnya juga terdapat permukiman keluarga Sultan (royal compound), pembantu,serta prajurid pengawal 3. Nagara atau sama dengan ibukota, dimana pusat administrasi dan pemerintahan terdapat disana. Permukiman para pejabat istana (priyayi) yang berbentuk compound serta Kepatihan dan permukiman orang asing (Belanda, Cina), juga terdapat disana.
Etty R Kridarso Jurusan Arsitektur Usakti

19

Dasar-Dasar Permukiman dan Perkotaan

4. Narawita Dalem, tanah pertanian dibawah kekuasaan Sultan, dimana semua kebutuhan keraton berasal dari sana. 5. Naragung, dimana tanah lungguh (apanage) dari pejabat istana terletak. 6. Mancanegara, dibawah kekuasaan beberapa Bupati. Daerah pesisir, termasuk daerah Mancanegara.

Konsep keraton Jawa sebagai Implementasi Imago Mundi atau citra mikrokosmos.

Inti Keraton Yogyakarta, sebagai implementasi dari konsep penataan jagad makrokosmos kedalam kehidupan mikrokosmos

Inti Keraton Surakarta, sebagai implementasi dari konsep penataan jagad makrokosmos kedalam kehidupan mikrokosmos.

Perkembangan pembangunan sebuah kota, sesuai dengan konsep yang telah digariskan, adalah dibawah pemerintahan otoriter atau penguasa yang mempunyai kekuasaan absolute. Sejak abad ke 18, kekuasaan raja Jawa harus berbagi dengan kekuasaan pemerintah kolonial Belanda. Akibat dari keadaan politik tersebut maka ibukota kerajaan Surakarta dan Jogjakarta tidak bisa dirancang sesuai dengan konsep yang telah ada sejak jaman Hindu Jawa. Itulah sebabnya pada pusat kota Surakarta maupun Jogjakarta terdapat benteng dan kantor Gubernur Belanda. Perkembangannya kota-kota tradisional (Solo dan Jogja) pada abad ke 18 di pusat kota nya terdapat unsur asing berupa benteng serta kantor Gubernur Belanda. Perkembangan ini nantinya menjadi model pusat kota pada kota-kota Kabupaten di Jawa pada abad ke 19. Pada dasarnya yang disebut pusat kota pada kota-kota di Jawa jaman pra-kolonial adalah Keraton serta bangunan yang ada disekelilingnya. Di satu kota kadang-kadang terdapat dua keraton (di Jogjakarta, keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan keraton Pakualaman, di Surakarta keraton Surakarta Adiningrat dan keraton Mangkunegaran). Meskipun kedua keraton itu tidak sama besarnya, tapi ada kecenderungan kota-kota tersebut
Etty R Kridarso Jurusan Arsitektur Usakti

20

Dasar-Dasar Permukiman dan Perkotaan

se-olah-olah mempunyai dua pusat kota. Pada perkembangannya kota-kota tradisional (Solo dan Jogja) pada abad ke 18 di pusat kota nya terdapat unsur asing berupa benteng serta kantor Gubernur Belanda. Perkembangan ini nantinya menjadi model pusat kota pada kotakota Kabupaten di Jawa pada abad ke 19.

Kawasan pusat kota Jogja dengan alun-alun, keraton serta jl. Malioboro sebagai intinya.

Kawasan pusat kota Surakarta dengan keraton serta alun-alun sebagai intinya

Pusat Kota Pesisir pada Jaman Pra-Kolonial di Pulau Jawa Pada abad ke 13 - 15, terjadi peningkatan perniagaan yang besar di Asia Tenggara pada umumnya dan Jawa pada khususnya. Akibat dari kemajuan dalam bidang pelayaran, banyak pedagang asing datang ke kota-kota di pantai Utara Jawa. Mereka ini datang dari India (Jambudwipa), Kamboja, Cina, Vietnam (Yawana), Campa, India Selatan, Bengali dan Siam. Akibat dari kemajuan perdagangan tersebut adalah timbulnya elite-elite baru di daerah perkotaan di pantai Utara Jawa. Elite baru ini tidak lagi berada di kota pedalaman ditengah dataran persawahan, tapi di dekat laut yang menjadi sumber penghidupan mereka. Pada masa itu kota Pesisir menjadi pusat peradaban baru. Timbullah kota-kota pelabuhan besar di Jawa seperti Tuban, Gresik dan Surabaya serta kota-kota lain di pantai Utara Jawa. Pedagang asing pun banyak yang bermukim di bagian tertentu di kota-kota Pesisir tersebut. Maka timbullah dua daerah menjadi pusat kotanya yaitu kawasan pemerintahan (political domain) dan kawasan perdagangan (economical domain). Banyak orang-orang kaya akibat perdagangan di kota-kota pantai tersebut kemudian diangkat menjadi penguasa di daerahnya. Hal ini berakibat kawasan perdagangan dan kawasan
Etty R Kridarso Jurusan Arsitektur Usakti

21

Dasar-Dasar Permukiman dan Perkotaan

pemerintahan kemudian lebur menjadi satu di dalam pusat kotanya. Peristiwa seperti ini sering terjadi di kota-kota pantai Utara Jawa sebelum pemerintah kolonial Belanda berkuasa disana. Contoh seperti itu dulu adalah kota Lasem, Gresik, Jepara dan sebagainya.

Pusat Kota

Peta kota Lasem pada abad ke17, dimana daerah pusat pemerintahan (political domain) telah bercampur dengan daerah perdagangan (economical domain), yang didominasi oleh pedagang Tionghoa

Pusat Kota-Kota Pesisir Di Jawa pada jaman VOC (abad 18)- akhir abad ke 19 Sebelum menguasi sebuah kota, VOC biasanya mendirikan bentengnya dulu di tepi sungai yang juga berfungsi sebagai gudang penyimpanan hasil bumi yang akan diangkut ke Eropa. Setelah kedudukannya kuat dan menguasai kota secara keseluruhan baru ia keluar dari bentengnya dan mendirikan sebuah townhall yang dikelilingi oleh bangunan pelengkap lainnya. Tidak lupa biasanya selalu didirikan sebuah rumah yatim piatu (jongenweshuis) untuk menampung anak yang belum dewasa dari orang Belanda di Nusantara yang orang tuanya telah meninggal, di dekat townhall tersebut. Daerah sekitar townhall itulah nantinya menjadi pusat kota yang baru. Jalan besar di pusat kota dekat townhall tersebut biasanya dinamakan heerenstraat. Hal yang menarik pada sistim kolonisasi Belanda di Nusantara terletak pada cara pemerintahannya. Cara tersebut terkenal dengan istilah indirect rule (memerintah dengan cara tidak langsung). Pusat kota-kota kolonial di Jawa pada abad ke 18, awalnya terpecah menjadi dua, yaitu pusat pemerintahan Pribumi (terletak di alun-alun dengan Kabupatennya), serta pusat pemerintahan Kolonial, dengan gedung Residen (untuk ibukota Karesidenan) atau Asisten Residen (untuk ibukota Kabupaten). Contohnya seperti Pasuruan, Banyumas dsb.nya. Kota-kota seperti itu
Etty R Kridarso Jurusan Arsitektur Usakti

22

Dasar-Dasar Permukiman dan Perkotaan

sering disebut sebagai Oud Indische Stad (Kota Hindia Belanda Lama). Pada akhir abad ke 18, kawasan pemerintahan Pribumi dan kawasan pemerintahan Kolonial Belanda ini diusahakan untuk dijadikan satu. Contohnya adalah Probolinggo, Malang, Garut, Cianjur dsbnya. Kota seperti itu sering disebut sebagai Nieuwe Indische Stad (Kota Hindia Belanda Baru). Sedangkan daerah perdagangan meskipun tetap menjadi kawasan yang ramai, tapi pamornya sebagai pusat kota jadi menurun.

Peta kota Jepara abad ke 17. Terlihat mulai adanya perubahan dari daerah pusat kota, dengan adanya unsur benteng Belanda dipinggir sungai.

Tugas Kecil 3 : Contoh salah satu tipologi dan morfologi kota di Indonesia - Jelaskan perkembangan bentuk kota dengan sejarah dan peta perkembangan (morfologi) - Uraikan dengan teori diatas !!!!!!!!!!!!

Etty R Kridarso Jurusan Arsitektur Usakti

23

Dasar-Dasar Permukiman dan Perkotaan

Contoh : Kota Jogyakarta

Monumen penting Yogyakarta bukanlah bangunan monumental yang megah, melainkan poros historis filosofis Krapyak-Keraton-Tugu. Pada umumnya warga Yogyakarta sudah memahami maknanya, struktur kota memiliki filosofis simbolis yang berdasar pada garis imajiner Gunung Merapi-Tugu-Keraton Panggung Krapyak-Laut Selatan (Parang Kusumo). Keraton Yogyakarta dikelilingi Beteng Baluwarti. Secara historis kultural, bangunan-bangunan itu berorientasi pada keberadaan keraton dan garis imajiner, baik di dalam maupun di luar beteng.Yogyakarta pada umumnya memiliki empat komponen utama. Bentuk seperti ini disebut caturgatra tunggal atau empat komponen dalam suatu kesatuan. Keempat komponen itu adalah keraton, masjid, alunalun, dan pasar. Kawasan Jeron Beteng yang dikelilingi Beteng Baluwarti -artinya beteng pagar bata- mempunyai lima pintu gerbang yang disebut plengkung. Nama-nama kampung di Jeron Beteng amat lekat dengan Keraton Yogyakarta. Nama-nama itu biasanya menunjuk pada nama abdi dalem keraton yang tinggal di situ. Banyak pusaka budaya dan pusaka alam yang berharga, seperti Keraton dan taman sari.Kelengkapan fisik, sarana, prasarana, estetik, etik, simbol, dan filosofis-religius eksistensinya mempunyai koherensi dengan berbagai rancangan sebagaimana fungsi dan maknanya. Ciri-ciri dan makna tersebut pada dasarnya melekat dalam elemen bangunan, ruang suatu bangunan, bangunan, kelompok bangunan, maupun lingkungannya.Yogyakarta sebagai kota yang mempunyai ciri khas dan keunikan, secara khusus mempunyai struktur bermakna filosofis-simbolis, yaitu berdasarkan garis imajiner (G. Merapi-Tugu- Keraton-Panggung Krapyak (Laut selatan ) . Garis poros di dalam tata rakit keraton tersebut konfigurasi fisiknya merupakan suatu bagian dari tata Kota Yogyakarta. Secara historis-kultural bangunan-bangunan yang ada berorientasi pada
Etty R Kridarso Jurusan Arsitektur Usakti

24

Dasar-Dasar Permukiman dan Perkotaan

keberadaan keraton, yaitu berada di dalam benteng dan lingkungan sekitarnya, bangunan yang ada bercorak arsitektur jawa berupa joglo, limasan, kampung . Penggalian pusaka Jeron Beteng, di Yogyakarta sebagai pelestarian peninggalan budaya untuk memperluas makna keraton sebagai simbol penting dari peninggalan budaya Kesultanan Yogyakarta. Dari segi sejarah akan menarik lebih banyak wisatawan yang berkunjung di Indonesia . Proses interaksi sosial budaya masyarakat di dalam kota melahirkan kompleksitas produk budaya, baik budaya material (material culture) maupun budaya hidup (living culture) yang berupa pranata sosial, seni, adatistiadat, etik, estetik, dan filosofis-religius. Wujud kompleksitas produk budaya pada satu sisi akan dijiwai dan sesuai dengan konteks, langgam, dan ikatan budayanya, di sisi lain juga memunculkan kemajemukan atau keragaman tinggalan budaya. Poros panggung Krapyak-Kraton Secara lengkap struktur tata rakit bangunan Keraton Yogyakarta membujur dari arah selatan (Panggung Krapyak) ke Keraton (arah utara) dihubungkan dengan jalan lurus (Jl DI Panjaitan, dahulu Jl Gebayanan) dan untuk ke dalam benteng keraton dihubungkan dengan Gerbang Nirboyo (Plengkung Gading)-Alun-alun selatan (Pungkuran) Siti Hinggil selatan (sejak 1955 sampai sekarang Sasono Hinggil Dwi Abad)-Regol Gadung Mlathi-Regol Magangan. Secara filosofis-simbolis tata rakit bangunan tersebut melambangkan perjalanan atau proses kehidupan manusia dari kandungan, lahir, sampai dengan aktivitas hidupnya (magang). Di sebelah utara Regol Magangan adalah Kedaton, yang mempunyai makna keberadaan manusia. Di sepanjang kiri-kanan jalan dari Krapyak ke Keraton dilengkapi pepohonan khas yang mempunyai makna tertentu, antara lain, asem, garam, jambu dersono, kweni, beringin dan sawo kecik. Vegetasi yang khas tersebut-terutama pohon sawo kecik-juga menjadi ciri bagi dalem-dalem bangsawan.Keraton dikelilingi oleh benteng baluwarti (bagian paling luar) dan cepuri (bagian dalam) atau mengelilingi dalem Kedaton. Untuk memasuki benteng Keraton ada 5 (lima) gerbang utama, yaitu Gerbang Nirbaya, Jagabaya, Jagasura, Tarunasura, dan Madyasura serta jejalur dan simpul-simpul jalan yang mendukung komunikasi dan transportasi antar kawasan. Kondisi lingkungan di kawasan selatan Keraton dan di dalam benteng saat ini masih menampakkan ciri-ciri yang serasi dengan keberadaan Keraton, proses perubahan dan perkembangan yang terjadi tidak secara drastis. Pola perkampungan tradisionl masih terlihat, kondisi tersebut memperkuat kekhasan toponim kampung yang masih ada keterkaitan dengan tata rakit Keraton. Poros Siti Hinggil Keraton-Tugu Antara keraton dan tugu dihubungkan dengan jalan lurus (Jl Letjen Achmad Yani, dahulu Jl Margamulya, Jl Malioboro, Jl P Mangkubumi, dahulu Jl Margatama) yang membujur dari selatan ke arah utara. Di sepanjang jalan tersebut ada beberapa bangunan yang merupakan tinggalan struktur kota lama, antara lain: dalem Kepatihan (sekarang Kantor Gubernur) dan Pasar Beringharjo. Di samping itu, di dalam proses interaksi budaya dengan komunitas asing (Eropa) melahirkan keragaman produk budaya berupa bangunan-bangunan era-kolonial bercorak indis, antara lain: Gedung Agung, Vredeburg, Nilmij (sekarang Bank BNI), Hotel Garuda, dan Hotel Tugu. Di samping itu, juga komunitas pecinan di sekitar Pasar Beringharjo-Malioboro, antara lain: kawasan Ketandan, Gandekan, Bekalan, dan Pajeksan.
Etty R Kridarso Jurusan Arsitektur Usakti

25

Dasar-Dasar Permukiman dan Perkotaan

Secara historis-kultural dari Siti Hinggil (Keraton) raja (sultan) duduk (lenggah siniwoko) konsentrasi ke arah utara dari Alun-alun sampai dengan puncak Tugu. Jalan poros Siti Hinggil (Keraton) sampai dengan Tugu secara historis merupakan simbol kesempurnaan keberadaan raja di dalam proses kehidupannya yang dilandasi manembah kepada Yang Maha Tinggi serta satu tekad dengan rakyatnya (golong-gilik). Hal itu dilakukan setelah mampu melakukan transendensi tantangan hidup duniawi, yaitu manunggalnya raja-rakyat (makna beringin kurung di Alun-alun), tantangan ekonomi (dilambangkan dengan pasar), godaan kekuasaan (dilambangkan kepolisian), dan pengaruh asing (Benteng Vredeburg), (Brongtodiningrat, 1975). Perlu diketahui, bahwa bentuk Tugu masa Sultan Hamengku Buwono I sampai VI melambangkan makna golong-gilik (satu tekad) antara raja-rakyat, yaitu bagian puncak bulatan (golong) dan bagian bawah berbentuk silindris (gilik). Tugu tersebut kemudian runtuh akibat adanya gempa bumi tektonik di Yogyakarta pada tanggal 10 Juni 1867, hal ini ditandai dengan surya sengkala Hargo Molah Dening Sanghyang Naga Bumi. Bentuk Tugu seperti sekarang adalah hasil renovasi masa Sultan Hamengkubuwono VII pada tahun 7 Sapar 1819 (3 Oktober 1889). Kondisi lingkungan saat ini-dilihat dari aktivitas-aktivitas masyarakat di kawasan itumenampakan tarik menarik kepentingan antara aspek sosial, ekonomi, tata kota dan nilai kultural. Lingkungan yang menjadi tempat sarat beban dan tarik menarik kepentingan ini mengalami perubahan dan perkembangan yang cepat. Poros Tugu-Keraton-Panggung Krapyak pada dasarnya merupakan kawasan urban yang mempunyai beberapa komponen yang signifikan bagi masyarakat. Secara historis kawasan tersebut juga merupakan kawasan yang tumbuh, berkembang, dan berinteraksi secara berkelanjutan. Di dalam konteks kekinian, bahwa kawasan urban tersebut dapat membangun gambaran (image) bagi masyarakat luas. Komponen kawasan yang dapat membangun citra maupun gambaran tersebut memiliki ciri khas dan keunikan, baik jejalur (paths), batas-batas wilayah (edges), segmen kawasan (districs), simpul (nodes), dan landmark (tanda fisik kawasan yang menonjol). Nilai historis-kultural, filosofis, dan arsitektural Poros Imajiner tersebut merupakan identitas yang mempunyai karakter dan potensi. Keberadaan lingkungannya perlu terus dilindungi, oleh undang undang sehingga keberadaan poros dan produk budaya yang ada tetap monumental dan menjadi daya-magnet bagi Kota Yogyakarta. Penciptaan poros imajiner ini selaras dengan konsep Tri Angga (Parahyangan,Pawongan,Palemahan atau Hulu, Tengah, Hilir serta nilai Utama, Madya, Nisha). Secara simbolas filosofis poros imajiner ini melambangkan keselarasan dan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhannya (Hablun min Allah), manusia dengan manusia (Hablunmin Annas) maupun manusia dengan alam termasuk lima anasir pembentuknya yakni api (dahana) dari gunung Merapi, tanah (bantala) dari bumi Yogyakarta dan air (tirta) dari laut Selatan, angin (maruto) dan akasa (either). Adapun filosofi Panggung Krapyak ke Utara merupakan perjalanan manusia sejak dilahirkan dari rahim ibu, beranjak dewasa, menikah sampai melahirkan anak (Brotodiningrat 1978). Visualisasi dari filosofi ini diwujudkan dengan keberadaan kampung Mijen di sebelah utara Panggung Krapyak yang melambangkan benih manusia, pohon asem (tamarindus indica) dengan daun
Etty R Kridarso Jurusan Arsitektur Usakti

26

Dasar-Dasar Permukiman dan Perkotaan

yang masih muda bernama sinom melambangkan gadis yang masih anom (muda) selalu nengsemaken (menarik hati) maka selalu disanjung yang divisualisasikan dengan pohon tanjung (mimusopselengi). Di alun-alun selatan mengggambarkan manusia dewasa dan sudah wani (berani) meminang gadis karena sudah akilbaligh yang dilambangkan dengan pohon kweni (mangifera odoranta) dan pohon pakel. Masa muda yang mempunyai jangkauan jauh ke depan divisualisasikan dengan pagar ringin kurung alun-alun selatan yang seperti busur panah. Masa depan dan jangkauan para kaum muda dilambangkan panah yang dilepas dari busurnya.Sampai di Sitihinggil selatan pohon yang ditanam pelem cempora (mangifera indica) yang berbunga putih dan pohon soka (ixora coccinea) yang berbunga merah yang menggambarkan bercampurnya benih laki-laki (dilambangkan warna putih) dan benih perempuan (dilambangkan warna merah). Di halaman Kamandhungan menggambarkan benih di dalam kandungan dengan vegetasi pohon pelem (mangifera indica) yang bermakna gelem (kemauan bersama), pohon jambu dersono (eugenia malaccensis) yang bermakna kaderesan sihing sasama dan pohon kepel (stelechocarpus burahol) yang bermakna kempel, bersatunya benih karena kemauan bersama didasari saling mengasihi. Melalui Regol Gadhung Mlathi sampailah di Kemagangan yang bermakna bayi telah lahir dan magang menjadi manusia dewasa. Sebaliknya dari tugu pal putih ke arah selatan merupakan perjalanan manusia menghadap Sang Khalik. Golong gilig melambangkan bersatunya cipta, rasa dan karsa dilandasi kesucian hati (warna putih) melalui Margotomo (jalan menuju keutamaan) ke selatan melalui Malioboro (memakai obor atau pedoman ilmu yang diajarkan para wali), terus ke selatan melalui Margomulyo (jalan menuju kemuliaan), kemudian melalui Pangurakan (mengusir nafsu yang negatif). Sepanjang jalan Margotomo, Malioboro dan Margomulyo ditanam pohon asem (tamarindus indica) yang bermakna sengsem atau menarik dan pohon gayam (inocarpus edulis) yang bermakna ayom atau teduh.(Srt Bid.II PPI) Kraton Kasultanan Yogyakarta Kraton Yogyakarta didirikan pada tahun 1756 oleh Pangeran Mangkubumi (Hamengkubu Buwono I) sebagai pusat kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat. Pada mulanya, lokasi Kraton sekarang ini merupakan daerah rawa yang bernama Umbul Pacethokan, yang kemudian dibangun menjadi sebuah pesanggrahan Ayodya.Sebagaimana bangunan kraton pada kerajaankerajaan Jawa umumnya, Kraton Yogyakarta dibangun menghadap ke utara. Bangunan terluar berupa benteng kraton yang dibuat dari batubata merah dengan ketebalan sekitar 4 meter. Benteng ini melingkari kraton sepanjang 4 kilometer persegi, dan membentuk segi empat dengan beberapa gerbang utama (regol). Susunan bangunan Kraton Yogyakarta berturut-turut dari utara ke selatan : Alun-alun utara (termasuk Siti Hinggil dan Bangsal Pagelaran), Kemandungan Lor (utara) atau Keben, Sri Manganti, Kraton sebagai bangunan induk, Kemagangan, Kemandungan Kidul (selatan), dan terakhir pada Alun-alun Selatan. Pada jaman kerajaan, Alun-alun Utara digunakan untuk mengumpulkan prajurit dan rakyat, disamping digunakan untuk upacara-upacara adat seperti Grebeg, Sekaten, dan lain-lain. Keberadaan Alun-alun ini melambangkan menunggalnya raja dengan rakyat dalam membangun
Etty R Kridarso Jurusan Arsitektur Usakti

27

Dasar-Dasar Permukiman dan Perkotaan

kerajaan. Di tengah alun-alun terdapat dua pohon beringin yang melambangkan bahwa Sultan adalah pelindung dan pengayom rakyatnya. Pada bangunan Pagelaran dan Siti Hinggil terdapat adegan pisowanan (persidangan) para pejabat kerajaan dengan Sultan. Para pejabat kerajaan duduk di bangunan Pagelaran, sedangkan tempat duduk Sultan terletak pada bangsal Manguntur Tangkir yang terletak di bangunan Siti Hinggil. Di belakang bangsal Manguntur Tangkir, terdapat bangsal Witana, yaitu tempat untuk menyimpan lambang-lambang kebesaran kerajaan yang digunakan dalam upacara. Bangunan kedua dari kraton bernama Keben atau Kemandungan lor. Bangunan utamanya bernama bangsal Ponconiti, yaitu bangsal pengadilan khususnya yang berkenaan dengan lima perkara besar yang diancam hukuman mati. Sekarang ini, pada bangunan ini terdapat kantor Tepas Pariwisata Kraton. Pada bagian ini terdapat bangsal Trajumas di sebelah kiri dan bangsal Sri Manganti di sebelah kanan. Pada bangsal Trajumas terdapat berbagai peralatan upacara tradisional, sedangkan pada bangsal Sri Manganti terdapat berbagai acara kesenian seperti taritarian klasik, karawitan, dan wayang kulit. Bangsal Sri Manganti dahulu merupakan tempat Sultan menanti dan menerima tamu-tamu agung. Sri Manganti sendiri berarti Raja menanti. Setelah bangsal Sri Manganti, terdapat regol Donopratopo, yaitu sebuah gerbang yang menghubungkan halaman Sri Manganti dengan halaman inti kraton. Gerbang ini dijaga oleh patung Dwarapala dan Gupala.Keduanya diberi nama, masing-masing, Cingkarabala dan Balaupata yang melambangkan kepribadian mulia manusia untuk selalu menggemakan kebaikkan dan melarang perbuatan yang jahat.Pada bangunan ini kraton, terdapat beberapa bangsal. Bangsal Purnaretna, yaitu tempat Sultan bekerja, letaknya bersebelahan dengan bangunan bertingkat yang diberi nama Panti Sumbaga. Bangunan ini merupakan perpustakaan pribadi Sultan. Pada bagian lainnya terdapat Gedong Kuning, yaitu istana tempat tinggal Sultan, yang letaknya bersebelahan dengan Traju Tresna, yaitu tempat Sultan menanyakan kesanggupan putra-putrinya yang akan menikah. Di bagian lain dari inti kraton terdapat bangsal Kencono, yaitu tempat upacara penobatan Sultan dan para pangeran. Di samping itu, bangsal ini kadang kala digunakan untuk menerima tamu-tamu agung yang berhubungan dengan Kasultanan. Di sebelah barat bangsal Kencono, sekarang ini terdapat museum Sri Sultan HB XI. Di balik bangsal Kencono, terdapat bangsal Prabayeksa, yaitu tempat penyimpanan pusaka-pusaka kraton. Bangsal ini menjadi bagian paling sakral dari seluruh lingkungan bangunan kraton. Bagian lainnya adalah bangsal Manis, yaitu tempat perjamuan atau pesta, dan Gedong Patehan, yaitu tempat untuk menyiapkan minuman. Kompleks Kraton Yogyakarta setiap hari dibuka untuk masyarakat umum mulai dari pukul 07.30-13.00, kecuali pada hari Jumat ali sampai dengan 11.00 WIB SEJARAH KOTA YOGYAKARTA (Bag 1) Berdirinya Kota Yogyakarta berawal dari adanya Perjanjian Gianti pada Tanggal 13 Februari 1755 yang ditandatangani Kompeni Belanda di bawah tanda tangan Gubernur Nicholas
Etty R Kridarso Jurusan Arsitektur Usakti

28

Dasar-Dasar Permukiman dan Perkotaan

Hartingh atas nama Gubernur Jendral Jacob Mossel. Isi Perjanjian Gianti : Negara Mataram dibagi dua : Setengah masih menjadi Hak Kerajaan Surakarta, setengah lagi menjadi Hak Pangeran Mangkubumi. Dalam perjanjian itu pula Pengeran Mangkubumi diakui menjadi Raja atas setengah daerah Pedalaman Kerajaan Jawa dengan Gelar Sultan Hamengku Buwono Senopati Ing Alega Abdul Rachman Sayidin Panatagama Khalifatullah.

Adapun daerah-daerah yang menjadi kekuasaannya adalah Mataram (Yogyakarta), Pojong, Sukowati, Bagelen, Kedu, Bumigede dan ditambah daerah mancanegara yaitu; Madiun, Magetan, Cirebon, Separuh Pacitan, Kartosuro, Kalangbret, Tulungagung, Mojokerto, Bojonegoro, Ngawen, Sela, Kuwu, Wonosari, Grobogan.

Setelah selesai Perjanjian Pembagian Daerah itu, Pengeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengku Buwono I segera menetapkan bahwa Daerah Mataram yang ada di dalam kekuasaannya itu diberi nama Ngayogyakarta Hadiningrat dan beribukota di Ngayogyakarta (Yogyakarta). Ketetapan ini diumumkan pada tanggal 13 Maret 1755. Tempat yang dipilih menjadi ibukota dan pusat pemerintahan ini ialah Hutan yang disebut Beringin, dimana telah ada sebuah desa kecil bernama Pachetokan, sedang disana terdapat suatu pesanggrahan dinamai Garjitowati, yang dibuat oleh Susuhunan Paku Buwono II dulu dan namanya kemudian diubah menjadi Ayodya. Setelah penetapan tersebut diatas diumumkan, Sultan Hamengku Buwono segera memerintahkan kepada rakyat membabad hutan tadi untuk didirikan Kraton. Sebelum Kraton itu jadi, Sultan Hamengku Buwono I berkenan menempati pasanggrahan Ambarketawang daerah Gamping, yang tengah dikerjakan juga. Menempatinya pesanggrahan tersebut resminya pada tanggal 9 Oktober 1755. Dari tempat inilah beliau selalu mengawasi dan mengatur pembangunan kraton yang sedang dikerjakan. Setahun kemudian Sultan Hamengku Buwono I berkenan memasuki Istana Baru sebagai peresmiannya. Dengan demikian berdirilah Kota Yogyakarta atau dengan nama utuhnya ialah Negari Ngayogyakarta Hadiningrat. Pesanggrahan Ambarketawang ditinggalkan oleh Sultan Hamengku Buwono untuk berpindah menetap di Kraton yang baru. Peresmian mana terjadi Tanggal 7 Oktober 1756 Sejarah Kota Yogyakarta (Bag 2) Kota Yogyakarta dibangun pada tahun 1755, bersamaan dengan dibangunnya Kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I di Hutan Beringin, suatu kawasan diantara sungai Winongo dan sungai Code dimana lokasi tersebut nampak strategi
Etty R Kridarso Jurusan Arsitektur Usakti

29

Dasar-Dasar Permukiman dan Perkotaan

menurut segi pertahanan keamanan pada waktu itu. Sesudah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII menerima piagam pengangkatan menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Propinsi DIY dari Presiden RI, selanjutnya pada tanggal 5 September 1945 beliau mengeluarkan amanat yang menyatakan bahwa daerah Kesultanan dan daerah Pakualaman merupakan Daerah Istimewa yang menjadi bagian dari Republik Indonesia menurut pasal 18 UUD 1945. Dan pada tanggal 30 Oktober 1945, beliau mengeluarkan amanat kedua yang menyatakan bahwa pelaksanaan Pemerintahan di Daerah Istimewa Yogyakarta akan dilakukan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII bersama-sama Badan Pekerja Komite Nasional Meskipun Kota Yogyakarta baik yang menjadi bagian dari Kesultanan maupun yang menjadi bagian dari Pakualaman telah dapat membentuk suatu DPR Kota dan Dewan Pemerintahan Kota yang dipimpin oleh kedua Bupati Kota Kasultanan dan Pakualaman, tetapi Kota Yogyakarta belum menjadi Kota Praja atau Kota Otonom, sebab kekuasaan otonomi yang meliputi berbagai bidang pemerintahan massih tetap berada di tangan Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Kota Yogyakarta yang meliputi daerah Kasultanan dan Pakualaman baru menjadi Kota Praja atau Kota Otonomi dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1947, dalam pasal I menyatakan bahwa Kabupaten Kota Yogyakarta yang meliputi wilayah Kasultanan dan Pakualaman serta beberapa daerah dari Kabupaten Bantul yang sekarang menjadi Kecamatan Kotagede dan Umbulharjo ditetapkan sebagai daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Daerah tersebut dinamakan Haminte Kota Yogyakaarta. Untuk melaksanakan otonomi tersebut Walikota pertama yang dijabat oleh Ir.Moh Enoh mengalami kesulitan karena wilayah tersebut masih merupakan bagian dari Daerah Istimewa Yogyakarta dan statusnya belum dilepas. Hal itu semakin nyata dengan adanya Undang-undang Nomor 22 Tahun 1948 tentang Pokok-pokok Pemerintahan Daerah, di mana Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Tingkat I dan Kotapraja Yogyakarta sebagai Tingkat II yang menjadi bagian Daerah Istimewa Yogyakarta. Selanjutnya Walikota kedua dijabat oleh Mr.Soedarisman Poerwokusumo yang kedudukannya juga sebagai Badan Pemerintah Harian serta merangkap menjadi Pimpinan Legislatif yang pada waktu itu bernama DPR-GR dengan anggota 25 orang. DPRD Kota Yogyakarta baru dibentuk pada tanggal 5 Mei 1958 dengan anggota 20 orang sebagai hasil Pemilu 1955. Dengan kembali ke UUD 1945 melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959, maka Undang-undang Nomor 1 Tahun 1957 diganti dengan Undang-undang Nomor 18 Tahun 1965 tentang pokok-pokok Pemerintahan di Daerah, tugas Kepala Daerah dan DPRD dipisahkan dan dibentuk Wakil Kepala Daerah dan badan Pemerintah Harian serta sebutan Kota Praja diganti Kotamadya Yogyakarta. Atas dasar Tap MPRS Nomor XXI/MPRS/1966 dikeluarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Pemerintahan di Daerah. Berdasarkan Undang-undang tersebut, DIY
Etty R Kridarso Jurusan Arsitektur Usakti

30

Dasar-Dasar Permukiman dan Perkotaan

merupakan Propinsi dan juga Daerah Tingkat I yang dipimpin oleh Kepala Daerah dengan sebutan Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta dan Wakil Gubernur Kepala Daerah Istimewa Yogyakarta yang tidak terikat oleh ketentuan masa jabatan, syarat dan cara pengankatan bagi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah lainnya, khususnya bagi beliiau Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII. Sedangkan Kotamadya Yogyakarta merupakan daerah Tingkat II yang dipimpin oleh Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II dimana terikat oleh ketentuan masa jabatan, syarat dan cara pengangkatan bagi kepala Daerah Tingkat II seperti yang lain. Seiring dengan bergulirnya era reformasi, tuntutan untuk menyelenggarakan pemerintahan di daerah secara otonom semakin mengemuka, maka keluarlah Undang-undang No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah yang mengatur kewenangan Daerah menyelenggarakan otonomi daerah secara luas,nyata dan bertanggung jawab. Sesuai UU ini maka sebutan untuk Kotamadya Dati II Yogyakarta diubah menjadi Kota Yogyakarta sedangkan untuk pemerintahannya disebut denan Pemerintahan Kota Yogyakarta dengan Walikota Yogyakarta sebagai Kepala Daerahnya.

Etty R Kridarso Jurusan Arsitektur Usakti

31