Anda di halaman 1dari 6

TUGAS HUKUM KONTRAK

UNTUK MEMENUHI NILAI UKD 4

Disusun Oleh : Michael Arnold P. E 0010228

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2012

Selasa, 18 Desember 2012

1. Apakah untuk terjadinya wanprestasi harus dimintakan pembatalan kepada hakim? Jelaskan dengan mengigat kontroversi Pasal 1266 BW. Jawab: Dalam suatu kontrak baku sering dijumpai ketentuan bahwa para pihak telah bersepakat menyimpang atau melepaskan Pasal 1266 Kitab UndangUndang Hukum Perdata. Akibat hukumnya jika terjadi wanprestasi, maka perjanjian tersebut tidak perlu dimintakan pembatalan kepada hakim, tetapi dengan sendirinya sudah batal demi hukum. Dalam hal ini wanprestasi merupakan syarat batal. Akan tetapi, beberapa ahli hukum berpendapat sebaliknya, bahwa dalam hal terjadi wanprestasi perjanjian tidak batal demi hukum, tetapi harus dimintakan pembatalan kepada hakim dengan alasan antara lain bahwa sekalipun debitur sudah wanprestasi hakim masih berwenang untuk memberi kesempatan kepadanya untuk memenuhi perjanjian. Untuk melihat persoalan ini dengan jernih, penerapan klausula yang melepaskan ketentuan Pasal 1266 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata harus dilihat kasus demi kasus. Dalam kasus yang melibatkan pelaku usaha dan konsumen, memang perlu diberikan perlindungan hukum kepada konsumen dari tindakan sepihak yang dilakukan oleh pelaku usaha tanpa melalui putusan hakim. Akan tetapi, dalam kasus antara pelaku usaha melawan pelaku usaha atau Business to Business perlu adanya kepastian hukum agar para pihak mentaati hak dan kewajibanya.

Kontroversi pasal 1266 BW

Ada perbedaan mendasar antara perikatan dengan syarat tangguh dan perikatan dengan syarat batal. Perikata dengan syarat tangguh adalah perikatan yang lahirnya tergantung pada suatu peristiwa yang belum terjadi. Misalnya, perjanjia jual beli dengan percobaan atas sebuah mobil. Artinya, sebelum pembeli menggunakan mobil tersebut untuk di test dan menyetujuinya maka perikatan dengan syarat batal, perjanjian itu sudah melahirkan perikatan, hanya perikatan itu akan batal jika terjadi suatu peristiwa yang disebutkan dalam perjanjian sebagai suatu conditional clause.

Pada 1265 Kitab Undang Undang Hukum Perdata menyebutkan bahwa apabila suatu syarat batal dipenuhi maka syarat tersebut menghentikan perikatan dan membawa segala sesuatu kembali pada keadaan semula, seolah-olah tidak pernah ada suatu perikatan, dengan demikian si Kreditur yang telah menerima prestasi yang diperjanjikan harus mengembalikan apa yang telah diterimanya. Selanjutnya pasal 1266 ayat 1 Kitab Undang Undang Hukum Perdata menjelaskan bahwa syarat batal dianggap selalu dicantumkan dalam perjanjian yang bertimbal balik, manakala slah satu pihak tidak memenuhi kewajiban atau wanprestasi. Dengan demikian menurut ketentuan dalam ayat 1 wanprestasi adalah merupakan syarat batal. Akan tetapi, dalam pasal 1266 ayat 2 Kita Undang Undang Hukum Perdata disebutkan bahwa dalam hal terjadi wanprestasi, maka perjanjian tidak batal demi hukum, tetapi pembatalan harus dimintakan kepada hakim. Jadi, ketentuan Pasal 1266 Kitab Undang Undang Hukum Perdata sudah mengadung suatu kontroversi. Dalam praktik, para pihak sering mencantumkan suatu klausula dalam perjanjian bahwa mereka sepakat untuk melepaskan atau mengenyampingkan ketentuan Pasal 1266 ayat 2 Kitab Undang Undang Hukum Perdata. Akibat hukumnya jika terjadi wanprestasi, maka perjanjan itu batal demi hukum. Ada beberapa alasan yang mendukung pencantuman Klausula ini, misalnya berdasrkan Pasal 1338 ayat 1 Kitab Undang Undang, setiap perjanjian yang dibuat secara sah berlaku sebagai undang undang bagi para pihak yang membuatnya, sehingga mencantumkan klausula yang melepaskan ketentuan Pasal 1266 ayat 2 Kitab Undang Undang Hukum Perdata, harus ditaati para pihak. Selain itu jalan yang ditempuh melalui pengadilan akan membutuhkan biaya yang besar dan waktu yang lama sehingga hal ini tidak efisien bagi pelaku bisnis. Sebaliknya, ada para ahli hukum maupun praktisi hukum yang berpendapat bahwa wanprestasi tidak secara otomatis mengakibatkan batalya perjanjian tetapi harus dimintakan kepada hakim. Hal ini didukung oleh alasan bahwa pihak jika pihak debitur wanprestasi, maka kreditur masih berhak mengajukan gugatan agar pihak debitur memenuhi perjanjian, sedangkan apabila wanprestasi dianggap sebagai suatu syarat batalnya perjanjian, maka kreditur hanya dapat menuntut ganti rugi. Selain itu, berdasarkan ketentuan Pasal 1266 ayat 4 kitab Undang Undang Hukum Perdata, hakim berwewenang untuk memberikan kesempatan kepada debitur, dalam jangka waktu paling lama satu bulan, untuk memenuhi perjanjian meskipun sebenarya debitur sudah wanprestasi atau cidera janji. Dalam hal ini hakim mempunyai Discrecy untuk menimbang berat ringannya kelalaian debitur dibandingkan dengan kerugian yang diderita jika perjanjian dibatalkan.

Untuk memutuskan apakah terjadinya wanprestasi merupakan syarat batal atau harus dimintakan pembatalanya kepada hakim, menurut hemat penulis harus dipertimbangkan kasus demi kasus dan pihak yang membuat perjanjian Beli Sewa dan Restrukturisasi Utang dapat dijadikan bahan untuk menganalisa akibat hukum wanprestasi.

2. Dalam hal ada hubungan kontraktual antara para pihak dan terjadi wanprestasi dapatkah diajukan gugatan perbuatan melawan hukum? Jawab: Kitab Undang Undang Hukum Perdata membedakan dengan jelas antara perikatan yang lahir dari perjanjian dan perikatan yang lahir dari Undang undang. Akibat hukum suatu perikatan yang lahir dari perjanjian memang dikehendaki oleh para pihak, karena memang perjanjian didasarkan atas kesepakatan yaitu perjanjian. Sedangkan akibat hukum suatu perikatan yang lahir dari undang undang mungkin tidak dikehendaki oleh para pihak, tetapi hubugan hukum dan akibat hukumnya ditentukan oleh Undang Undang. Apabila atas perjanjian yang disepakati terjadi pelanggaran, maka dapat diajukan gugatan wanprestasi, karena adanya hubungan kontraktual antara pihak yang menimbulkan kerugian dan pihak yang menderita kerugian. Apabila tidak ada hubungan kontraktual antara para pihak yang menimbulkan kerugian dan pihak yang menderita kerugian, maka dapat diajukan gugatan melawan hukum. Menurut teori klasik yang membedakan antara gugatan wanprestasi dan gugatan perbuatan melawan hukum, tujuan gugatan wanprestasi adalah untuk menempatkan penggugat pada posisi seandainya perjanjian tersebut terpenuhi ( put the plaintiff to the position if he would have been in had the contract been performed). Dengan demikian ganti rugi tersebut adalah berupa kehilangan keuntungan yang diharapkan atau disebutkan dengan istilah expectation loss atau winstderving. Sedangkan tujuan gugatan perbuatan melawan hukum adalah untuk menempatkan posisi penggugat kepada keadaan semula sebelum terjadinya perbuatan melawan hukum. Sehingga ganti rugi yang diberikan adalah kerugian yang nyata atau reliance loss. 3. A. Kerugian yang diderita Sofyan.

Jawab: Total kerugian yang diderita Sofyan: Pengeluaran a. Membuat Leaflet 2000 lembar @ Rp 1000 = Rp 2.000.000,00

b. Membuat Pamflet

200 lembar @ Rp 10.000 = Rp 2.000.000,00 400.000,00 = Rp 6.000.000,00

c. Memasang Spanduk di 15 tempat Rp d. Iklan di 5 stasiun Radio e. Iklan di Televisi 10x Tayang f. Kontrak Ariel g. Penggantian biaya kerusakan h. Sewa tempat sound system i. Pengembalian tiket

@ Rp 200.000,00 = Rp 1.000.000,00 @ Rp 2.000.000,00 = Rp 20.000.000,00 = Rp 500.000.000,00 = Rp 100.000.000,00 = Rp 50.000.000,00 = Rp 2.000.000.000,00

Total Pengeluaran = Rp 2.681.000.000,00

Pemasukan Harga tiket = Rp 2.000.000.000,00

Total Pemasukan = Rp 2.000.0000.000,00

Total Kerugian Sofyan Pemasukan Pengeluaran Rp 2.000.000.000,00 Rp 2.681.000.000,00 = Rp 681.000.000,00

Kerugian Sofyan = Rp 681.000.000,00

B. Kriteria gugatan yang diajukan dan dasar hukumnya. Jawab: Menurut Hemat saya dasar gugatan yang diajukan adalah Pasal 1266 dan 1267 Penjelasanya adalah Sebagai berikut: Pasal 1267

Pihak yang terhadapnya perikatan tidak dipenuhi, dapat memilih; memaksa pihak yang lain untuk memenuhi persetujuan, jika hal itu masih dapat dilakukan, atau menuntut pembatalan persetujuan, dengan penggantian biaya, kerugian dan bunga. a. Pembatalan suatu perjanjian tidak perlu melalui proses permohonan batal ke pengadilan melainkan dapat hanya berdasarkan kesepakatan para pihak itu sendiri (Pasal 1266); b. Pihak yang tidak dipenuhi perikatannya dapat memaksa pihak yang lain untuk memenuhi isi perjanjian atau menuntut pembatalan perjanjian tersebut ke pengadilan dengan membebankan penggantian biaya, kerugian dan bunga (Pasal 1267).