Anda di halaman 1dari 15

STASE KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN FRAKTUR DIRUANG MENUR RSUD dr.

R GOETENG TAROENADIBRATA PURBALINGGA

DISUSUN OLEH : ANNISYA FATWA S.Kep.

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU-ILMU KESEHATAN JURUSAN KEPERAWATAN PROGRAM PROFESI NERS PURWOKERTO 2012

A. PENDAHULUAN 1. Latar Belakang Saat ini penyakit muskuloskeletal telah menjadi masalah yang banyak dijumpai di pusat- pusat pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Bahkan WHO telah menetapkan dekade ini (2000-2010) menjadi dekade tulang dan persendian. Masalah pada tulang yang mengakibatkan keparahan disabilitas adalah fraktur. Fraktur merupakan kondisi terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang umumnya disebabkan trauma langsung maupun tidak langsung. Dengan makin pesatnya kemajuan lalu lintas baik dari segi jumlah pemakai jalan, jumlah pemakai kendaraan, jumlah pemakai jasa angkutan,

bertambahnya jaringan jalan dan kecepatan kendaraan maka mayoritas terjadinya fraktur adalah kecelakaan lalu lintas. Sementara trauma trauma lain yang dapat menyebabkan fraktur adalah jatuh dari ketinggian, kecelakaan kerja dan cedera olah raga. Badan kesehatan dunia (WHO) mencatat tahun 2005 terdapat lebih dari 7 juta orang meninggal dikarenakan insiden kecelakaan dan sekitar 2 juta orang mengalami kecacatan fisik. Salah satu insiden kecelakaan yang cukup tinggi yakni insiden fraktur ekstremitas bawah, sekitar 46,2% dari insiden kecelakaan yang terjadi. Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan/atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh tekanan yang berlebihan. Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung. Sedangkan fraktur terbuka merupakan suatu fraktur dimana terjadi hubungan dengan lingkungan luar melalui kulit sehingga terjadi kontaminasi bakteri sehingga timbul komplikasi berupa infeksi. Fraktur terbuka merupakan suatu keadaan darurat yang memerlukan penanganan yang terstandar untuk mengurangi resiko infeksi. selain mencegah infeksi juga diharapkan terjadi penyembuhan fraktur dan restorasi fungsi anggota gerak. beberapa hal yang penting untuk dilakukan dalam

penanggulangan fraktur terbuka yaitu operasi yang dilakukan dengan segera, secara hati-hati, debrideman yang berulang-ulang, stabilisasi fraktur, penutupan kulit dan bone grafting yang dini serta pemberian antibiotik yang adekuat.

2. Tujuan a. Untuk mengetahui penatalaksanaan pada pasien dengan fraktur b. Untuk mengetahui pengkajian pada pasien dengan fraktur c. Untuk mengetahui pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada pasien dengan fraktur d. Untuk mengetahui diagnose keperawatan pada pasien dengan fraktur e. Untuk mengetahui intervensi pada pasien dengan fraktur.

B. TINJAUAN PUSTAKA 1. Definisi Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh tekanan yang berlebihan. Trauma yang menyebabkan tulang patah dapat berupa trauma langsung dan trauma tidak langsung. Dimana trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan terjadi fraktur pada daerah tekanan. Trauma tidak langsung, apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh dari daerah fraktur, misalnya jatuh dengan tangan ekstensi dapat menyebabkan fraktur pada klavikula, pada keadaan ini biasanya jaringan lunak tetap utuh (Sjamsuhidajat, 2005). Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan atau tulang rawan yang umumnya di sebabkan oleh ruda paksa ( Arif Mansjoer, 2000 ). Fraktur terbuka merupakan suatu fraktur dimana terjadi hubungan dengan lingkungan luar melalui kulit sehingga terjadi kontaminasi bakteri sehingga timbul komplikasi berupa infeksi. luka pada kulit dapat berupa tusukan tulang

yang tajam keluar menembus kulit atau dari luar oleh karena tertembus misalnya oleh peluru atau trauma langsung (chairuddin rasjad,2008). Fraktur terbuka merupakan suatu keadaan darurat yang memerlukan penanganan yang terstandar untuk mengurangi resiko infeksi. selain mencegah infeksi juga diharapkan terjadi penyembuhan fraktur dan restorasi fungsi anggota gerak. beberapa hal yang penting untuk dilakukan dalam penanggulangan fraktur terbuka yaitu operasi yang dilakukan dengan segera, secara hati-hati, debrideman yang berulang-ulang, stabilisasi fraktur, penutupan kulit dan bone grafting yang dini serta pemberian antibiotik yang adekuat (chairuddin rasjad,2008).

2. Etiologi Penyebab dari fraktur adalah sebagai berikut : a. Benturan dan cidera / trauma ( jatuh pada kecelakaan ). b. Kelemahan tulang akibat osteoporosis ( pada orang tua ) penderita kanker atau infeksi yang di sebut fraktur patologis. c. Fraktur stress atau fatigue fraktur akibat peningkatan drastic latihan pada seorang atlit atau pada permulaan aktivitas fisik baru sehingga kakuatan otot meningkat secara lebih cepat di bandingkan kekuatan tulang.

3. Tanda dan Gejala Adapun tanda dan gejala fraktur adalah : a. Rasa sakit atau nyeri. Nyeri akan bertambah dengan gerakan dan penekanan di atas fraktur. b. Pembengkakan di sekitar fraktur c. Deformitas ( kelainan bentuk) d. Gangguan fungsi, ekstremitas tak dapat di gunakan. e. Dapat tejadi gangguan sensasi atau rasa kesemutan yang mengisyaratkan kerusakan syaraf. f. Krepitasi ( suara gemeretak ) dapat terdengar sewaktu tulang di gerakkan

g. Laserasi kulit. h. Jika terdapat luka terbuka, maka terdapat perdarahan. i. Shock karena nyeri hebat, kehilangan darah.

4. Faktor Presdisposisi a. Faktor ekstrinsik yaitu meliputi kecepatan dan durasi trauma yang mengenai tulang, arah serta kekuatan tulang. b. Faktor intrinsik yaitu meliputi kapasitas tulang mengabsorpsi energi trauma, kelenturan, densitas serta kekuatan tulang.

5. Patofisiologi Fraktur terjadi bila ada interupsi dari kontinuitas tulang. Biasanya, fraktur di sertai cidera jaringan di sekitar yaitu ligament, otot, tendon, pembuluh darah dan persarafan.Fraktur bisa juga di sebabkan karena trauma ataupun karena suatu penyakit, missal osteoporosis. Trauma yang terjadi pada tulang dapat menyebabkan fraktur dan akan mengakibatkan seseorang memiliki

keterbatasan gerak, ketidakseimbangan dan nyeri pergerakan jaringan lunak yang terdapat di sekitar fraktur, missal pembuluh darah, saraf, dan otot serta organ lainnya yang berdekatan dapat di rusak. Pada waktu trauma ataupun karena mencuatnya tulang yang patah, apabila kulit sampai robek akan mengakibatkan luka terbuka dan akan mengakibatkan seseorang beresiko terkena infeksi. Tulang memiliki banyak pembuluh darah ked lam jaringan lunak atau luka yang terbuka. Luka dan keluarnya darah dapat mempercepat pertumbuhan bakteri. Pada osteoporosis secara tidak langsung mengalami penurunan kadar kalsium dalam tulang. Dengan berkurangnya kadar kalsium dalam tulang lama kelamaan tulang menjadi rapuh sehingga hanya trauma minimal saja atau tanpa trauma sedikitpun akan mengakibatkan terputusnya kontinuitas tulang yang di sebut fraktur. Tingkatan pertumbuhan tulang :

a. Hematoma Formation ( Pembentukan Hematoma ) Karena pembulih darah cedera maka terjadi pada daerah fraktur dan kedalam jaringan di sekitar tulang tersebut. Reaksi peradangan hebat timbul setelah fraktur. Sel sel darah putih dan sel most terakumulasi menyebabkan peningkatan aliran darah ke tempat tersebut. Darah menumpuk dan mengeratkna ujung ujung tulang yang patah dan fagositosis dan pembersihan sisa sisa sel mati dimulai. b. Fibrin Mesk Work ( Pembentukan Fibrin ) Hematom menjadi terorganisasi karena fibrablast masuk lokasi cidera, membentuk mesk work (gumpalan fibrin) dan berfungsi sebagai jala untuk melekatkan sel-sel baru. c. Invasi Osteoblast Osteoblast masuk ke daerah fibrosis untuk mempertahnkan

penyambungan tulang dan merangsang pembentukan tulang baru imatur ( callus ). Pembuluh darah berkembang mengalirkan nutrisi untuk membentuk collagen. Untaian collagen terus di satukan dengan kalsium. d. Callus Formation ( Pembentukan Callus ) 1) Osteoblast terus membuat jalan untuk membangun tulang. 2) Osteoblast merusakkan tulang mati dan membantu mensintesa tulang baru. 3) Collagen menjadi kuat dan terus menyatu dengan deposit kalsium. e. Remodelling Bekuan fibrin di reabsorpsi dan sel sel tulang baru secara perlahan mengalami tulang sejati. Tulang sejati menggantikan callus dan secara perlahan mengalami kalsifikasi. Penyembuhan memerlikan waktu beberapa minggu sampai beberapa bulan. Penyembuhan dapat terganggu atau terlambat apabila hematom fraktur atau callua rusak sebelum tulng sejati terbentuk atau apabila sel sel tulang baru rusak selam proses kalsifikasi dan pengerasan.

6. Pemeriksaan Penunjang a. Pemeriksaan Laboratorium 2) Hb, Hct sedikit rendah, di sebabkan perdarahan. 3) LED meningkat bila kerusakan jaringan emak sangat luas. 4) Peningkatan jumlah leukosit adalah respon stress norma; setelah trauma. a. Pemeriksaan Penunjang 1) Sinar X untuk melihat gambaan fraktur deformitas 2) CT Scan untuk mmperlihatkan fraktur atau mendeteksi struktur fraktur 3) Venogram untuk menggambarkan arus vaskularisasi 4) Radiograf, untuk menentukan integritas tulang 5) Antroskopi, untuk mendeteksi keterlibatan sendi 6) Angiografi, bila dikaitkan dengan cedera pembuluh darah 7) Konduksi saraf dan elektromiogram, untuk mendeteksi cedera saraf

7. Pathway

8. Penatalaksanaan Fraktur biasanya menyertai trauma, untuk itu sangat penting untuk melakukan pemeriksaan terhadap jalan napas ( airway ), proses pernapasan ( breathing ) dan sirkulasi apakah terjadi syok atau tidak.
a. Intervensi Terapeutik

Penatalaksanaan kadaruratan meliputi : 1) Pembebatan fraktur di atas dan di bawah sisi cenderung sebelum memindahkan pasien. Pembebatan / pembidaian mencegah luka dan nyeri yang lebih jauh dan mengurangi komplikasi. 2) Memberikan kompres dingin, untuk menekan perdarahan, edema dan nyeri. 3) Meninggikan tungkai untuk menurunkan edema dan nyeri. 4) Kontrol perdarahan dan memberikan penggantian cairan untuk mencegah syok. 5) Fiksasi eksternal untuk menstabilkan fraktur komplek dan terbuka. 6) Pemasangan traksi untuk tulang panjang. 7) Traksi kulit : Kekuatan di berikan pada kulit dengan busa karet 8) Traksi skelet : Kekuatan yang di berikan pada tulang skelet secara langsung dengan menggunakan kawat pen.
b. Intervensi Farmakologis.

Anestesi local, analgetik narkotik, relaksan otot, atau di berikanuntuk membantu pasien selama prosedur reduksi tertutup. Imobilisasi di lakukan dengan jangka waktu yang berbeda beda. Fisioterapi untuk mempertahankan otot yang luka bila tidak dipakai dapat mengecil secara cepat. Setelah fraktur sembuh,mobilisasi sendi dapat dimulai sampai ekstremitas betul betul telah kembali normal. Fungsi penyangga badan ( weight bearing) diperbolehkan setelah terbentuk cukup callus.

9. Pengkajian a. Pemeriksaan Fisik 1) Inspeksi (look) Adanya deformitas (kelainan bentuk) seperti bengkak, pemendekan, rotasi, angulasi, fragmen tulang (pada fraktur terbuka). 2) Palpasi (feel)

Adanya nyeri tekan (tenderness), krepitasi, pemeriksaan status neurologis dan vaskuler di bagian distal fraktur. Palpasi daerah ektremitas tempat fraktur tersebut, di bagian distal cedera meliputi pulsasi arteri, warna kulit, capillary refill test. 3) Gerakan (moving) Adanya keterbatasan gerak pada daerah fraktur. b. Pemeriksaan Penunjang : 1) Pemeriksaan radiologis (rontgen), pada daerah yang dicurigai fraktur, harus mengikuti aturan role of two, yang terdiri dari : a) Mencakup dua gambaran yaitu anteroposterior (AP) dan lateral. b) Memuat dua sendi antara fraktur yaitu bagian proximal dan distal. c) Memuat dua extremitas (terutama pada anak-anak) baik yang cidera maupun yang tidak terkena cidera (untuk membandingkan dengan yang normal) d) Dilakukan dua kali, yaitu sebelum tindakan dan sesudah tindakan 2) Pemeriksaan laboratorium, meliputi: a) Darah rutin, b) Faktor pembekuan darah, c) Golongan darah (terutama jika akan dilakukan tindakan operasi), d) Urinalisa, e) Kreatinin (trauma otot dapat meningkatkan beban kreatinin untuk kliren ginjal). 3) Pemeriksaan arteriografi dilakukan jika dicurigai telah terjadi kerusakan vaskuler akibat fraktur tersebut.

10. Diagnose Keperawatan a. b. c. d. e. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan Gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan Kerusakan intergritas kulit berhubungan dengan Deficit perawatan diri berhubungan dengan

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, M. E. (1999). Rencana asuhan keperawatan: pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian pasien. Ed. 3. Jakarta: EGC Lewis (2000). Medical surgical nursing. St Louis: Mosby Mansjoer, Arif dkk. Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius, 2000.346-370 Price, S. A. (1995). Patofisiologi: konsep klinis proses-proses penyakit. Ed. 4. Jakarta: EGC Putz R, Pabst R. Atlas Anatomi Manusia Sobotta, Jilid 2. Jakarta: EGC, 2000.284. Rasjad, Chairuddin. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi,cetakan ke-V. Jakarta: Yarsif Watampone, 2008. 332-334. Sjamsuhidajat R, Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2. Jakarta: EGC, 2005. 840841. Smeltzer, S. C. (2008). Medical Surgical Nursing. Brunner & Suddart. Ed. 8. Jakarta: EGC Tucker,Susan Martin (1993). Standar Perawatan Pasien, Edisi V, Vol 3. Jakarta. EGC

C. Nursing Care Planning


Diagnosa Tujuan (NOC) Intervensi (NIC) Rasional 1. Berguna dalam pengawasan kefektifan obat, kemajuan penyembuhan, perubahan dalam karakteristik nyeri. 2. Dengan lingkungan yang nyaman rasa nyeri bisa berkurang. 3. Dengan menggunakan komunikasi terapeutik akan mudah menggali pengalaman pasien terhadap respon nyeri. 4. Supaya pasien dapat memahami nyerinya dan mengurangi kecemasan. 5. Teknik relaksasi dan distraksi dapat menurunkan nyeri dan kecemasan. 6. Ketika seseorang mengalami nyeri, maka TTV akan menigkat. 7. Pemberian analgetik yang tepat dapat membantu pasien untuk beradaptasi dan mengatasi nyeri.

Nyeri akut berhubungan Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Kaji nyeri secara komprehensif dengan agen cidera fisik selama 3x24 jam diharapkan masalah dapat meliputi lokasi, intensitas, teratasi dengan criteria : kualitas, durasi, dan skala Indicator Target dengan PQRST. Pasien mengatakan nyeri 2. Kontrol faktor lingkungan yang hilang/berkurang mempengaruhi nyeri, seperti Skala nyeri berkurang/turun Ekspresi wajah tampak rileks suhu ruangan, pencahayaan, dan Pasien mengerti penyebab nyeri dan kebisingan. cara mencegahnya 3. Gunakan komunikasi terapeutik TTV dalam batas normal Pasien menunjukkan teknis relaksasi untuk mengetahui pengalaman yang efektif untuk mengurangi nyeri dan penerimaan respon pasien Keterangan : terhadap nyeri. 1 : keluhan ekstrim 4. Jelaskan faktor penyebab nyeri. 2 : keluhan berat 3 : keluhan sedang 5. Ajarkan teknik relaksasi dan 4 : keluhan ringan distraksi untuk mengurangi 5 : tidak ada keluhan nyeri. 6. Ukur Tanda-tanda Vital (TTV) pasien. 7. Kolaborasi medis untuk pemberian analgetik

Hambatan mobilitas fisik Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Kaji kekuatan otot pasien 1. Untuk mengetahui sejauh berhubungan dengan selama 3x24 jam diharapkan masalah dapat 2. Ubah posisi pasien tiap dua jam mana kekuatan otot yang teratasi dengan criteria : 3. Ajarkan pasien untuk dimiliki pasien. Indicator Target melakukan latihan ROM aktif 2. Menurunkan risiko terjadinya Tidak terjadi kotraktur sendi pada ekstremitas yang tidak iskemia jaringan akibat Bertambahnya kekuatan otot sakit sirkulasi darah yang jelek Klien menunjukkan aktivitas untuk 4. Lakukan ROM pasif pada pada daerah yang tertekan. meningkatkan mobilitas ekstremitas pasien yang sakit 3. Gerakan aktif memberikan Keterangan : masa, tonus dan kekuatan otot 1 : keluhan ekstrim serta memperbaiki fungsi 2 : keluhan berat jantung dan pernapasan. 3 : keluhan sedang 4. Otot volunter akan kehilangan 4 : keluhan ringan tonus dan kekuatannya bila 5 : tidak ada keluhan tidak dilatih untuk digerakkan. Kerusakan integritas kulit Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Anjurkan pasien untuk 1. Untuk mencegah tekanan dan berhubungan dengan selama 3x24 jam diharapkan masalah dapat menggunakan pakaian yang membuat sirkulasi dalam teratasi dengan indicator : longgar jaringan lancar. Indicator Target 2. Jaga kulit agar tetap bersih dan 2. Kulit bersih dan kering Perfusi jaringan normal kering mengurangi adanya kerusakan Tidak ada tanda-tanda infeksi 3. Monitor kulit akan adanya jaringan Ketebalan dan tekstur jaringan normal kemerahan 3. Kemerahan menandakan Menunjukkan terjadinya proses 4. Monitor aktivitas dan mobilisasi adanya tekanan dan kerusakan penyembuhan luka Menunjukkan pemahaman dalam proses pasien jaringan perbaikan kulit dan mencegah 5. Observasi luka : lokasi, dimensi, 4. Untuk meminimalkan terjadinya cidera berulang. kedalaman luka, karakteristik, kerusakan integritas jaringan Keterangan : warna cairan, granulasi, jaringan 5. Untuk mengontrol sejauh 1 : keluhan ekstrim nekrotik, tanda infeksi local, mana adanya kerusakan 2 : keluhan berat formasi traktus. jaringan dan pengobatan yang

6. Ajarkan kepada keluarga tepat tentang luka dan perawatan luka 6. Untuk menjaga agar tidak 7. Berikan posisi yang mengurangi terjadi komplikasi yang lebih tekanan pada luka jauh lagi 7. Posisi untuk mengurangi tekanan meminimalkan terjadinya kerusakan. Gangguan perfusi jaringan Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1. Berikan penjelasan kepada 1. Keluarga menjadi lebih berhubungan dengan selama 3x24 jam diharapkan masalah dapat keluarga pasien tentang sebabberpartisipasi dalam proses teratasi dengan indicator : akibat TIK penyembuhan Indicator Target 2. Anjurkan pasien untuk bedrest 2. Untuk menceggah perdarahan Klien tidak gelisah total 3. Untuk mengetahui setiap Tidak ada nyeri kepala, mual, kejang 3. Monitor dan catat tanda-tanda perubahan yang terjadi pada Tanda vital dalam batas normal vital dan kelainan TIK tiap dua pasien secara dini dan untuk Klien tidak gelisah jam penetapam tindakan yang Keterangan : 4. Berikan posisi kepala lebih tepat 1 : keluhan ekstrim tinggi 15-30 derajat dengan 4. Mengurangi tekanan arteri 2 : keluhan berat letak jantung dengan meningkatkan 3 : keluhan sedang 5. Anjurkan pasien untuk draimage vena dan 4 : keluhan ringan menghindari batuk dan memperbaiki sirkulasi 5 : tidak ada keluhan mengejan berlebihan serebral 6. Ciptakan lingkungan yang 5. Batuk dan mengejan dapat tenang dan batasi pengunjung meningkatkan tekanan intrakranial dan potensial terjadinya perdarahan. 6. Rangsangan aktivitas yang meningkat dapat meningkatkan kenaikan TIK.

3 : keluhan sedang 4 : keluhan ringan 5 : tidak ada keluhan

Deficit perawatan berhubungan dengan

diri Setelah dilakukan tindakan keperawatan Self care assistance : ADL (Activity selama 3x24 jam diharapkan masalah dapat Daily Living) teratasi dengan indicator : 1. Monitor kemampuan klien Indicator Target untuk perawatan diri yang Tubuh tidak bau/kotor dan kulit terjaga mandiri. Tertarik untuk ADL sesuai 2. Monitor kebutuhan klien untuk kemampuannya alat-alat bantu untuk kebersihan diri, berpakaian, berhias, Menjelaskan dan menggunakan toileting dan makan. metode perawatan diri secara aman 3. Sediakan bantuan sampai klien dan dengan kesulitan minimal mampu secara utuh untuk melakukan self-care. Keterangan : 4. Dorong klien untuk melakukan 1 : keluhan ekstrim aktivitas sehari-hari yang 2 : keluhan berat normal sesuai kemampuan yang 3 : keluhan sedang dimiliki. 4 : keluhan ringan 5. Dorong untuk melakukan secara 5 : tidak ada keluhan mandiri, tapi beri bantuan ketika klien tidak mampu melakukannya.

1.

2. 3. 4. 5. 6.

Istirahat total dan ketenagngan mingkin diperlukan untuk pencegahan terhadap perdarahan dalam kasus stroke hemoragik / perdarahan lainnya. Menyediakan data kajian dan tujuan serta intrevensi yang akan dilakukan Mengidentifikasi kemandirian pasien Membantu kemandirian pasien Meningkatkan kemandirian pasien Mencegah terjadinya trauma