Anda di halaman 1dari 2

Glass ionomer merupakan kelompok dari bahan material yang bedasarkan reaksi bubuk silica glass dan asam

polyacrilic. Nama material restorasi ini disesuaikan dengan formulasi yang didapatkan dari bubuk glass dan ionomer yang mengandung asam carboxylic. GIC baik untuk digunakan pada cavitas di gigi anterior, karena nilai estetiknya, dan juga untuk preparasi restorasi kelas III dan V. GIC memiliki ikatan perekat pada struktur gigi (Anusavice, 2003). Terdapat 3 tipe klasifikasi glass ionomer. Tipe glass ionomer ini berdasarkan konsistensi dan kegunaannya. Tipe 1 digunakan sebagai luting. Tipe 3 digunakan sebagai bahan lining dan fissure sealant. Pada praktikum ini menggunakan tipe 2 yang biasanya digunakan sebagai bahan restorasi gigi sulung yaitu restorasi kelas III dan V. Ketika bubuk yang dicampur dengan cairan, asam bubuk larut untuk menyusun kembali asam cair dan proses ini diikuti oleh asam-basa reaksi. jenis semen disebut kadang-kadang sebagai ionomer glass anhidrat. (Anusavice, 2003) Proses setting reaksi melibatkan 3 proses yaitu : dissolution, gelasi, dan pengerasan. Dissolution adalah periode dimana bubuk dan carian mulai bertemu, dimana asam membentuk larutan dan bereaksi dengan lapisan luar dari partikel bubuk glass. Lapisan ini menjadi habis dalam aluminium, natrium, dan kalsium nuoride ion, sehingga yang terbentuk hanya silica gel. Permulaan setting adalah ketika periode gelasi, dimana ada reaksi yang yang cepat dari ion kalsium, yang, menjadi divalen dan lebih berlimpah awalnya, bereaksi lebih mudah dengan kelompok karboksil dari asam daripada ion aluminium trivalent. Periode gelasi adalah periode yang kritis, jika restorasi terkontaminasi dari lingkungan, bisa menyebabkan ion alumunium dapat berdifusi keluar dari semen dan hilang, kemudian tidak bisa membuat ikatan silang dengan rantai asam polyacrilic. Jika cairan hilang, reaksi tidak bisa dipenuhi. Kedua kodisi tersebut akan memberikan hasil yang rapuh. Setelah melalui proses gelasi, kemudian memasuki proses hardening atau pengerasan yang bisa terjadi selama 7 hari. Aluminium membutuhkan waktu 30 menit untuk mengeras, meskipun belum mengeras secara maksimal, dan dalam proses awal reaksi ikatan silang. Berbeda dengan ion kalsium, trivalent aluminum sudah membentuk ikatan derajat tinggi pada molekul polymer. (Van Noort, 2002) Dalam percobaan kali ini, dilakukan 6 kali percobaan, dengan w/p ratio yang berbeda, yaitu 1:1, 1,1,5, dan 1:0,5, dengan masing-masing kelas dilakukan 2 kali. Didapatkan hasil bahwa pada w/p ratio tinggi, yaitu 1:0,5, setting time yang

dibutuhkan lebih panjang daripada GIC dengan w/p ratio rendah, yaitu 1:1,5. Menurut Van Noort (2002), ada kecenderungan untuk mengurangi isi bubuk semen untuk mendapatkan pasta lembut dan mulus, namun hal ini membutuhkan setting time yang lebih lama dan semen menjadi lebih rapuh. Pada hasil percobaan menunjukkan bahwa setting time semen glass ionomer dipengaruhi oleh rasio w:p. Pada rasio w:p tinggi (pengurangan jumlah bubuk) didapatkan setting time yang lebih lama dibandingkan rasio w:p rendah (penambahan jumlah bubuk). Hal ini disebabkan, penurunan jumlah bubuk semen glass ionomer menunjukkan polyacid mampu bereaksi dengan partikel unreacted glass ionomer dan kehadiran sejumlah besar garam. Jadi pada rasio w:p yang tinggi didapatkan hanya ada sedikit partikel bubuk yang tidak bereaksi dan sejumlah besar matriks garam yang terbentuk. (Foncesa, 2009, pg. 582-583) Reaksi ini berjalan dengan baik dan meningkatkan setting time semen glass ionomer. Reaksi setting glass ionomer terbentuk sebagai reaksi asam-basa antara proton yang menyumbangkan cairan asam dan proton yang menerima bubuk sehingga mengakibatkan filler partikel glass didistribusikan dalam garam yang bentuknya seperti hidrogel. Compressive fracture strength semen berasal dari filler partikel glass yang menyebabkan compressive forces. Compressive fracture strength menurun akibat penurunan jumlah bubuk glass ionomer. Jadi pada semen glass ionomer dengan rasio w:p tinggi terbentuk karakteristik brittle. (Foncesa, 2009, pg. 583)