Anda di halaman 1dari 4

Daphnia sp.

12052010
Biologi Daphnia sp.

Daphnia sp. dikenal sebagai kutu air. Klasifikasi Daphnia sp. menurut Pennak (1953) dan Ivleva (1973) dalam Casmuji (2002)
adalah sebagai berikut: Kelas Subkelas Divisio Ordo Famili Genus Spesies : Crustacea : Branchiopoda : Oligobranchiopoda : Cladocera : Daphnidae : Daphnia : Daphnia sp.

Daphnia sp. memiliki ukuran 1-3 mm, tubuh lonjong, pipih, terdapat ruas-ruas/segemn meskipun ruas ini tidak terlihat. Pada
bagian kepala terdapat sebuah mata majemuk, ocellus (kadang-kadang), dan lima pasang alat tambahan (Casmuji, 2002), yang pertama disebut antenna pertama, kedua disebut antenna kedua yang mempunyai fungsi utama sebagai alat gerak. Tiga pasang yang terakhir adalah bagian-bagian dari mulut (Mokoginta, 2003). Umumnya cara berenang Daphnia sp. tersendatsendat (intermitenly), tetapi ada beberapa spesies yang tidak bias berenang dan bergerak dengan merayap karena telah beradaptasi untuk hidup di lumut dan sampah daun-daun yang berasal dari dalam hutan tropik (Suwignyo, 1989 dalam Casmuji 2002). Bagian tubuh Daphnia sp. tertutup oleh cangkang dari khitin yang transparan. Daphniasp. mempunyai warna yang berbedabeda tergantung habitatnya. Spesies daerah limnetik biasanya tidak mempunyai warna atau berwarna muda, sedangkan di daerah litoral, kolam dangkal, dan dasar perairan berwarna lebih gelap. Pigmentasi terdapat baik pada bagian karapas maupun jaringan tubuh (Casmuji, 2002).

Daphnia sp. adalah jenis zooplankton yang hidup di air tawar, mendiami kolam-kolam atau danau-danau. Daphnia sp. dapat hidup di daerah tropis dan subtropis. Kehidupan Daphnia sp. dipengaruhi oleh beberapa faktor ekologi perairan antara lain: suhu, oksigen terlarut dan pH. Daphnia sp. dapat beradaptasi dengan baik pada perubahan lingkungan hidupnya dan termasuk
dalam ketegori hewan eutitropik dan tahan terhadap fluktuasi suhu harian atau tahunan. Kisaran suhu yang dapat ditolerir bervariasi sesuai adaptasinya pada lingkungan tertentu (Mokoginta, 2003).

Daphnia sp. dapat hidup dalam air yang kandungan oksigen terlarutnya sangat bervariasi yaitu dari hampir nol sampai lewat jenuh. Ketahanan Daphnia sp. pada perairan yang miskin oksigen mungkin disebabkan oleh kemampuannya dalam
mensintesis haemoglobin. Dalam kenyataannya, laju pembentukan haemoglobin berhubungan dengan kandungan oksigen lingkungannya. Naiknya kandungan haemoglobin dalam darah Daphnia sp. dapat juga diakibatkan oleh naiknyatemperatur, atau tingginya kepadatan populasi. Untuk dapat hidup dengan baik Daphnia sp. memerlukan oksigen terlarut yang cukup besar yaitu di atas 3,5 ppm (Mokoginta, 2003).

Daphnia sp. hidup pada kisaran pH cukup besar, tetapi nilai pH yang optimal untuk kehidupannya sukar ditentukan.
Lingkungan perairan yang netral dan relatif basah yaitu pada pH 7,1 8,0 baik untukpertumbuhannya. Pada kandungan amoniak antara 0,35 0,61 ppm, Daphnia sp. masih dapat hidup dan berkembangbiak dengan baik (Mokoginta, 2003). Pada keadaan baik Daphnia sp. berkembang secara parthenogenesis, dimana individu baru berasal dari telur-telur yang tidak dibuahi. Cara ini hanya menghasilkan individu betian saja dan jumlha telur yang dihasilkan rata-rata 10-20 butir (Edmonson dalamCasmuji, 2002). Pada saat kondidi kurang baik, seperti adanya perubahan temperature, kurangnya makanan dan akumulasi limbah, produksi telur secara parthenogenesis menjadi berkurang bahkan beberapa menetas dan telur berkembang menjadi individu jantan (Hickman, 1967 dalam Casmuji, 2002). Dengan munculnya Daphnia jantan, maka populasi mulai bereproduksi secara seksual. Selama hidupnya Daphnia sp. mengalami empat periode yaitu telur, anak, remaja dan dewasa. Pertambahan ukuran terjadi sesaat setelah telur menetas didalam ruang pengeraman. Setelah dua kali instar pertama, anak Daphnia sp. yang bentuknya miripDaphnia sp. dewasa dilepas dari ruang pengeraman. Jumlah instar pada stadium anak ini hanya dua sampai lima kali, tetapi tingkat pertumbuhan tertinggi terjadi pada stadium ini (Mokoginta, 2003). Periode remaja adalah instar tunggal antara instar anak terakhir dan instar dewasa pertama. Pada periode ini sekelompok telur pertama mencapai perkembangan penuh di dalam ovarium. Segera setelah Daphnia sp. ganti kulit pada akhir instar remaja memasuki instar dewasa pertama, sekelompok telur pertama dilepaskan ke ruang pengeraman. Selama instar dewasa pertama, kelompok telur kedua berkembang di ovarium dan seterusnya. Namun adakalanya terdapat periode steril pada Daphnia sp. tua (Casmuji, 2002). Pertambahan panjang dan bobot Daphnia sp. selama pertumbuhan cukup pesat, terutama setelah ganti kulit. Selama instar anak terjadipertumbuhan hampir dua kali lipat dibandingkan sebelum ganti kulit. Sedangkan pertambahan volume terjadi dalam beberapa detik ataumenit sebelum eksoskeleton baru mengeras dan kehilangan elastisitasnya. Pada akhir setiap instar Daphnia sp. dewasa terdapat peristiwa berurutan yang berlangsung cepat, biasanya terjadi dalam beberapa menit sampai beberapa jam, yaitu : (1) Lepasnya atau keluarnya anak dari ruang pengeraman; (2) Ganti kulit (molting); (3) Pertambahan ukuran; (4) Lepasnya sekelompok telur baru ke ruang pengeraman;

Daphnia sp. termasuk hewan filter feeder, memakan berbagai macam macam bakteri, ragi, alga bersel tunggal, detritus, dan bahan organic terlarut (Rodina dalam Casmuji, 2002). Daphnia sp. muda berukuran panjang kurang dari satu millimeter
menyaring partikel kecil ukuran 20-30 mikrometer, sedangkan yang dewasa dengan ukuran 2-3 mm dapat menagkap partikel sebesar 60-140 mikrometer (Fasileva dalam casmuji, 2002). Budidaya Daphnia sp. Salah satu metode kultur Daphnia sp. yang sering digunakan adalah metodde pemupukan. Pupuk yang digunakana adalah pupuk organik dan anorganik (Ivleva, 1973 dalam Casmuji, 2002). Pupuk organik dapat berfungsi sebagai sumber makanan secara langsung untuk Daphnia sp. dan organism makanan ikan lainnya atau diuraikan oleh bakteri menjadi bahan-bahan organik yang merangsang pertumbuhan fitoplankton dan zooplankton (Boyd, 1982 dalam Casmuji, 2002). Pupuk organik yang bisa digunakan untuk kultur Daphnia sp adalah kotoran aym, kotoran sapi, kotoran babi, kotoran kambing/domab, da kotoran kuda. Namum , dari berbagai jenis kotoran tersebut menurut Kadarwan (1974) dalam Casmuji (2002) kotoran ayam dianggap lebih baik daripada kotoran kandang lainnya. Tabel 1 Kandungan unsur-unsur hara pada beberapa pupuk kandang

Jenis

Kadar (%)

Kotoran ayam Kotoran kambing Kotoran domba Kotoran babi Kotoran kuda Kotoran sapi

Nitrogen 4 2.77 2 1 0.7 0.7

Phosphor 3.2 1.78 1 0.75 0.34 0.3

Kalium 1.9 2.88 2.55 0.85 0.52 0.65

Bahan organik 74 60 60 30 60 30

Untuk pemupukan dengan kotoran ayam dosis awal yang diberikan yaitu sebanyak 500 g/m3 dan 250 g/m3 setiap hari (Shpet dalam Casmuji, 2002). Sedangkan menurut Suprayitno (1986) dalam Casmuji (2002) untuk mendapatkan media kultur yang baik kotoran ayam kering yang digunakan untuk kultur Daphnia sp. adalah 2-5 g/l air. Di bawah ini dijelaskan metode budidaya daphnia (Darmanto dkk., 2000). Bahan-bahan yang diperlukan : - Bak beton / kolam budidaya ukuran 2 x 3 meter, dengan ketinggian 1 meter. - Pupuk organik, yaitu kotoran ayam dan pupuk kompos (kebutuhan masingmasing 1-1,5 kg/m3 air media). - Kantong waring untuk tempat pupuk dan tali pengikat. Prosedur : - Isi bak / kolam budidaya dengan air sampai ketinggian minimal 70 80 cm, untuk menjaga kestabilan suhu media dan menghindarkan Daphnia dari pengaruh langsung sinar matahari. - Siapkan pupuk kandang, yaitu kotoran ayam dan pupuk kompos dengan dosis masing-masing sebanyak 1 kg/m3 untuk budidaya Moina, sedangkan pada budidayaDaphnia kotoran ayam 1,5 kg/m3 dan kompos 1 kg/m3. - Masukkan pupuk kandang tersebut ke dalam kantong waring, ikat dan masukkan ke dalam kolam budidaya. - Satu hari kemudian masukkan bibit Daphnia sebanyak 5 gram/m3. Pengkayaan Daphnia sp. Pengkayaan daphnia salah satunya dapat menggunakan viterna yang merupakan suplemen yang berasal dari berbagai macam bahan alami yang bermanfaat untuk meningkatkan kandungan nutrisi dan mempercepat pertumbuhan (Wisnu, 2007 dalamMufidah dkk., 2009). Pengkayaan tersebut bertujuan untuk menambah nutrisi Daphniayang diharapkan dapat mempengaruhi kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva. Nilai nutrisi yang terkandung dalam Daphnia berat basah adalah 4 % protein (Schumann, 2006 dalam Mufidah dkk., 2009), 0,54 % lemak dan 0,67 % karbohidrat (Wahyu, 2007 dalam Mufidah dkk., 2009). Sedangkan, nutrisi viterna adalah 42,82 % protein, 47,31 % karbohidrat, 4,5 % lemak, 2,74 % mineral dan 2,63 % vitamin (Fauzan, 2004 dalam Mufidah dkk., 2009).

Daphnia mempunyai sifat non-selective filter feeder yaitu menyaring semua makanan yang ada tanpa memilih, sehingga viterna yang telah diberikan dalam media pemeliharaannya akan dimakan atau diserap oleh Daphnia. Selanjutnya, Daphnia yang telah
diperkaya dengan viterna akan dimakan oleh larva (Mufidah dkk., 2009). Wisnu (2007) dalam Mufidah dkk. (2009) menyatakan, dosis viterna untuk pertumbuhan ikan sebanyak 12,5 ml yang dilarutkan dalam 250 ml air, kemudian dicampur pakan buatan (pellet) sebanyak 2-3 kg pakan. Pakan tersebut diberikan terhadap ikan lele, gurami dan nila. Pemberian pakan buatan (pellet) yang telah dicampur dengan viterna bertujuan untuk menggemukan ikan, daging ikan menjadi padat dan pertumbuhan ikan sangat cepat serta ekonomis.

Penelitian pendahuluan menggunakan viterna dengan beberapa dosis yaitu 10 ml/L air, 50 ml/L air, 100 ml/L air, 200 ml/L air dan kontrol (tanpa penambahan viterna) dan lama pengkayaan 2 jam, 4 jam, 6 jam, 8 jam, 10 jam dan 12 jam. Viterna tersebut dimasukan dalam media pemeliharaan terlebih dahulu agar tercampur merata dengan air sebagai media pemeliharaan Daphnia. Selanjutnya, Daphnia dimasukkan ke dalam media pemeliharaan dengan populasi berkisar antara 500 ekor/L air. Selanjutnya, dilakukan pengamatan setiap 2 jam sekali. Pengamatan menggunakan mikroskop dengan pembesaran 100 kali. Hasil dari penelitian pendahuluan didapatkan, pada 4 jam pengkayaan hasil yang diperoleh adalah usus Daphnia terisi penuh viterna dengan populasi Daphnia yang meningkat terutama pada dosis 10 ml dan 50 ml. Isi ususDaphnia spp. pada jam keempat (Mufidah dkk., 2009). DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2006. Daphnia sp. http://www.microcosmos.nl/vlooi/daphnia01.htm. [26April, 2010]. Casmuji. 2002. Penggunaan Supernatan Kotoran Ayam dan Tepung Terigu Dalam Budidaya Daphnia Sp. [Skripsi]. Departemen Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor. Bogor. Darmanto et al. 2000. Budidaya Pakan Alami untuk Benih Ikan Air Tawar. [Paper]. Badan Penelitian Dan Pengembangan Pertanian Instalasi Penelitian Dan Pengkajian Teknologi Pertanian. Jakarta

Mokoginta I. 2003. Budidaya Daphnia. [Modul]. Direktorat Menengah Kejuruan . Direktorat Jenderal Pendidikan dasar dan Menengah. Departemen Pendidikan Nasional. Mufidah dkk. 2009. Pengkayaan Daphnia Spp. dengan Viterna terhadap Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Larva Ikan Lele Dumbo (Clarias Gariepinus).http://journal.unair.ac.id/filerPDF/9_Naila_rev.pdf. [26 April 2010].

http://rrabis.wordpress.com/2010/05/12/daphnia-sp/

Filum : Crustacea Class : Malacostraca Subclass : Eucarida Ordo : Decapoda Subordo : Natantia Famili : Peneidae Genus : Penaeus Spesies : Penaeus merguensis