Anda di halaman 1dari 12

PENGENALAN HEWAN AVERTEBRATA DAN VERTEBRATA PADA BERBAGAI HABITAT

Oleh : Nama NIM Rombongan Kelompok Asisten : Rita Puspita Dewi : B1J010001 :V :6 : Kukuh Ryan Maulana A

LAPORAN PRAKTIKUM TAKSONOMI HEWAN

KEMENTRIAN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2012

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Habitat adalah tempat suatu makhluk hidup. Semua makhluk hidup mempunyai tempat hidup yang disebut habitat. Istilah habitatjuga dipakai untuk menunjukan tempat tumbuh sekelompok organisme dari berbagai spesies yang membentuk suatu komunitas. Habitat sekelompok organisme mencangkup organisme lain yang merupakan komponen lingkungan biotik dan komponen lingkungan abiotik. Avertebrata adalah hewan yang tidak memiliki tulang belakang. Invertebrata mencakup semua hewan kecuali hewan vertebrata (pisces, reptil, amfibia, burung, dan mammalia. Contoh invertebrata adalah serangga, ubur-ubur, hydra, cumi-cumi, dan cacing. Invertebrata mencakup sekitar 97 persen dari seluruh anggota kingdom Animalia. Vertebrata adalah subfilum dari Chordata, mencakup semua hewan yang memiliki tulang belakang. Tulang-tulang yang menyusun tulang belakang disebut vertebra. Vertebrata adalah subfilum terbesar dari Chordata. Ke dalam vertebrata dapat dimasukkan semua jenis ikan (kecuali remang, belut jeung, "lintah laut", atau hagfish), katak, reptil, burung, serta hewan menyusui. Kecuali jenis-jenis ikan, vertebrata diketahui memiliki dua pasang tungkai. Hewan yang tidak memiliki tulang belakang digolongkan ke dalam hewan avertebrata. Di dalam dunia hewan diketahui bahwa hewan avertebrata dibedakan atas dua golongan yaitu hewan yang bersel tunggal dan hewan yang bersel banyak. Kecuali hewan yang termasuk Filum Protozoa, maka sisanya adalah hewan bersel banyak . Kingdom Animalia atau kerajaan hewan merupakan kingdom yang diduga memiliki jumlah spesies paling banyak. Berdasarkan ada tidaknya tulang belakang, hewan dibagi menjadi avertebrata dan vertebrata. Semua hewan bertulang belakang dikelompokkan ke dalam invertebrta. Adapun hewan bertulang belakang dikelompokkan ke dalam vertebrata. B. Tujuan Tujuan praktikum ini adalah untuk mengenali ciri-ciri yang tampak pada hewan avertebrata dan vertebrata yang hidup di habitat terestrial, semi-akuatik, akuatik dan aboreal. Mendeskripsikan ciri-ciri tempat hidup hewan avertebrata dan vertebrata yang diamati. II. MATERI DAN METODE

A. Materi Materi yang diamati adalah hewan avertebrata dan vertebrata yang hidup di habitat terestrial, semi-akuatik, akuatik dan aboreal (bekicot, capung, ikan pari, kalajengking, burung hantu, keong mas). Alat yang digunakan yaitu bak preparat, pinset, buku gambar, alat tulis, masker, sarung tangan. B. Metode 1. Preparat hewan avertebrata dan vertebrata yang akan diamati dari masing-masing habitatnya disiapkan. 2. Hewan avertebrata dan vertebrata yang diperoleh dikenali dan digambar pada buku gambar.

3. Hewan avertebrata dan vertebrata diamati berdasarkan ciri-ciri morfologi yang


dimiliki kemudian digolongkan dan diberi keterangan tempat hidupnya.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Table pengamatan habitat tempat tinggal vertebrata dan avertebrata Kelompok Hewan Avertebrat Terestrial Capung Kalajengking Bekicot Aquatik Keong Mas Ikan Pari Semi-Aquatik Keong Mas Capung Aboreal Capung -

Vertebrata

Burung Hantu

Burung Hantu -

Gambar 1. Burung hantu

Gambar 2. Kalajengking

Gambar 3. Capung

Gambar 4. Bekicot

Gambar 5. Keong mas

B. Pembahasan Berdasarkan hasil praktikum didapatkan hasil bahwa setiap hewan baik vertebrata maupun avertebrata mempunyai tempat hidupnya masing-masing. Berdasarkan lingkungan hidupnya, tempat hidup organism di bedakan menjadi beberapa kelompok yaitu terestrial, akuatik, semi-akuatik, dan aboreal. Lingkungan terrestrial yaitu lingkungan dimana hewan hidup di daratan atau sebagian besar aktifitasnya di daratan. Lingkungan akuatik yaitu lingkungan dimana hewan hidup di lingkungan perairan atau sebagian besar aktifitasnya berada di perairan. Lingkungan semi-akuatik yaitu lingkungan dimana hewan hidup pada dua lingkungan secara seimbang yaitu lingkungan akuatik dan lingkungan semi akuatik. Lingkungan aboreal yaitu lingkungan dimana hewan hidup sebagian besar di pepohonan. Vertebrata merupakan subfilum dari Chordata yang memiliki anggota yang cukup besar dan paling dikenal. Tubuhnya dibagi menjadi tiga bagian yang cukup jelas yaitu kepala, badan dan ekor. Kepala dengan rangka dalam, cranium, di dalamnya terdapat otak, karna mempunyai cranium ini vertebrata dikenal juga sebagai craniata. Notochhord sebagai penyongkong berakhir pada cranium dan pada tingkat yang telah maju diganti oleh unsur-unsur tulang rawan atau tulang sejati yang membentuk tulang belakang. Kelompok ini dikatakan vertebrata karena mempunyai tulang belakang yang beruas-ruas (vertebrae) (Storer et al., 1957). Pemenuhan kebutuhannya, hewan vertebrata memiliki sistem kerja yang sempurna, peredaran darah berpusat pada organ jantung dengan pembuluh-pembuluh menjadi salurannya (Jasin, M., 1989).

Avertebrata adalah hewan yang tidak bertulang belakang, serta memiliki struktur morfologi dan anatomi lebih sederhana daripada kelompok hewan bertulang belakang. Sistem pencernaan, pernapasan dan peredaran darah lebih sederhana dibandingkan hewan vertebrata. Menurut kondisi rongga tubuh, Hewan avertebrata ada yang tidak memiliki rongga tubuh, disebut Aselomata. Hewan yang memiliki rongga tubuh semu, yaitu rongga tubuh belum dilengkapi dengan peritonieum (mesoderm) yang disebut Pseudoselomata. Hewan yang telah memliki rongga tubuh yang sempurna, yaitu telah memiliki peritonium di bagian luar dan dalam untuk melindungi saluran pencernaan disebut Peritoneum Visceralis atau Selomata. Beberapa hewan avertebrata mengalami proses metamerisme dan tagmanisasi (Suhardi, 1983). Masing-masing hewan vertebrata maupun avertebrata mempunyai ciri-ciri morfologi yang berbeda-beda yaitu sebagai berikut : 1. Ikan Pari (Lacrymaria sp.) Ikan pari (rays) termasuk dalam sub grup elasmobranchii, yaitu ikan yang bertulang rawan dan grup Cartilaginous. Ikan pari mempunyai bentuk tubuh gepeng melebar (depressed) dimana sepasang sirip dada (pectoral, fins)-nya melebar dan menyatu dengan sisi kiri-kanan kepalanya, sehingga tampak atas atau tampak bawahnya terlihat bundar atau oval. Ikan pari umumnya mempunyai ekor yang sangat berkembang (memanjang) menyerupai cemeti. Ikan ini bernapas melalui celah insang (gill openingsatau gill slits) yang berjumlah 5-6 pasang. Posisi celah insang adalah dekat mulut di bagian bawah (ventral). Ikan pari jantan dilengkapi sepasang alat kelamin yang disebut "clasper" letaknya di pangkal ekor. Ikan pari betina umumnya berbiak secara melahirkan anak (vivipar) dengan jumlah anak antara 5-6 ekor. 2. Kalajengking (Heterometrus sp.)

Kalajengking adalah sebuah arthropoda dengan delapan kaki, termasuk dalam ordo Scorpiones dalam kelas Arachnida. kalajengking termasuk binatang beruas berukuran besar, panjang tubuh 13 cm, berwarna coklat atau kehijauan gelap agak mengkilap. Bentuk tubuhnya mirip uang, dengan ujung ekor meruncing tajam kecoklatan seperti kakinya. Ketika menerkam mangsanya, alat sengatnya dapat dijulurkan ke arah punggung hingga mencapai depan mulutnya. Sengatannya menimbulkan rasa sangat sakit seperti tusukan jarum namun tidal mematikan seperti kala Afrika, Timur Tengah dan Amerika Tropika. Binatang pemangsa ini memakan labalaba, serngga, invertabrata dan cicak

Tubuhnya terdiri atas kepala, dada dan perut. Kepala dan dada menyatu dilengkapi sepasang alat sapit semacam gunting bergerigi dan empat pasang kaki. Perutnya memipih, bagian belakang mengecil dan membulat seperti ekor. Masa dewasa dimulai sejak usia 2 3 tahun dengan 8 10 ganti kulit. Masa beranak 1 2 kali setiap tahun, anaknya berjumlah 20 35 ekor yang selalu digendong selama masih lemah. Binatang yang aktif pada malam hari ini berperilaku kanibal, karena sering memangsa sesama kala yang sedang bertukar kulit atau pejantan seusai kawin. Habitatnya di tempat gelap dan lembab seperti liang tanah, celah kayu, tumpukan kayu, batuan atau reruntuhan bangunan. Sebarannya mulai dari India sampai Asia Tenggara. Menurut Jasin (1989), Klasifikasi dari kalajengking adalah sebagai berikut : Kingdom Phylum Classis Ordo Genus Species : Animalia : Arthropoda : Arachnida : Scorpiones : Heterometrus : Heterometrus sp.

3. Capung (Anax junius) Capung (dragonfly) ataupun Capung jarum (damselfly) merupakan salah satu jenis serangga yang banyak dijumpai. Katanya capung sudah ada sejak 300 juta tahun yang lalu. Capung merupakan serangga yang tidak menggigit ataupun bersengat. Capung merupakan hewan yang memiliki peran sebagai sumber makanan bagi banyak hewan lain, seperti burung, ikan, katak, ataupun kumbang air. Capung hidup dekat dengan air karena siklus hidupnya yang membuat mereka tidak bisa hidup jauh dari air. Capung hidup di air bersih. karena itu capung dan capung jarum berperan bagi manusia sebagai indikator pencemaran lingkungan. Bila di suatu sumber air tidak lagi ditemukan capung, artinya lingkungan itu sudah tercemar dan ekosistemnya terganggu. Tubuh capung terdiri dari tiga bagian. kepala dengan mata faset (mata majemuk), dada atau thorax dengan empat sayap panjang yang tidak bisa dilipat dan dilengkapi tiga pasang kaki, dan abdomen dengan sepuluh segmen. 4. Bekicot (Achatina fulica) Bekicot tergolong ke dalam hewan lunak (mollusca) dari kelas Gastropoda yang berarti berjalan dengan perut. Bekicot merupakan hewan yang berasal dari Afrika Timur. Bekicot biasanya mulai kawin pada usia enam sampai tujuh bulan ditempat

pemeliharaan yang cukup memenuhi syarat. Pada masa kawin bekicot betina mulai menyingkir ke tempat yang lebih aman. Bekicot bertelur di sembarang tempat. Jumlah telurnya setiap penetasan biasanya lebih dari lima puluh butir (50-100). Jumlah produksi telur tergantung masa subur bekicot itu sendiri. Besar telur bekicot tidak lebih dari 2 mm. Gastropoda asal kata dari Gaster artinya perut, dan podos artinya kaki. Jadi Gastropoda adalah hewan yang bertubuh lunak, berjalan dengan perut yang dalam hal ini disebut kaki. Gerakan Gastropoda disebabkan oleh kontraksi-kontraksi otot seperti gelombang, dimulai dari belakang menjalar ke depan. Pada waktu bergerak, kaki bagian depan memiliki kelenjar untuk menghasilkan lendir yang berfungsi untuk mempermudah berjalan, sehingga jalannya meninggalkan bekas. Sebagian besar Gastropoda mempunyai cangkok (rumah) dan berbentuk kerucut terpilin (spiral). Bentuk tubuhnya sesuai dengan bentuk cangkok. Padahal waktu larva, bentuk tubuhnya simetri bilateral. Namun ada pula Gastropoda yang tidak memiliki cangkok, sehingga sering disebut siput telanjang (vaginula). Hewan ini terdapat di laut dan ada pula yang hidup di darat. Klasifikasi dari bekot yaitu : Kerajaan Filum Kelas Famili Genus Spesies 5. : Animalia : Mollusca : Gastropoda : Achatinidae : Achatina : Achatina fulica

Keong Mas (Pomaceae canaliculata) Keong mas atau siput murbai (Pomacea canaliculata) merupakan hewan lunak

yang lebih dikenal sebagai hama tanaman padi. Keong mas atau siput murbai merupakan hewan lunak (Mollusca) dari kelas Gastropoda yang berarti berjalan dengan perut. Keong mas atau siput murbai (Pomacea canaliculata Lamarck), diintroduksi ke Filipina antara tahun 1982 sampai tahun 1984. Siput murbai didatangkan dari Amerika Selatan ( Brasilia dan Argentina) melalui Taiwan. klasifikasi bekicot termasuk dalam divisio Mollusca Kelas Ordo :Gastropoda :Pulmonata

Famili Genus Spesies 6.

:Pomaceatidae :Pomacea :Pomacea canaliculata.

Burung Hantu (Tyto alba) Burung hantu adalah kelompok burung yang merupakan anggota ordo

Strigiformes. Burung ini termasuk golongan burung buas (karnivora, pemakan daging) dan merupakan hewan malam (nokturnal). Seluruhnya, terdapat sekitar 222 spesies yang telah diketahui, yang menyebar di seluruh dunia kecuali Antartika, sebagian besar Greenland, lain yang dan beberapa menghadap pulau-pulau ke terpencil. Burung hantu yang dikenal bengkok karena matanya besar dan menghadap ke depan, tak seperti umumnya jenis burung matanya samping. Bersama paruh tajam seperti paruhelang dan susunan bulu di kepala yang membentuk lingkaran wajah, tampilan "wajah" burung hantu ini demikian mengesankan dan terkadang menyeramkan. Apalagi leher burung ini demikian lentur sehingga wajahnya dapat berputar 180 derajat ke belakang. Umumnya burung hantu berbulu burik, kecoklatan atau abu-abu dengan bercak-bercak hitam dan putih (Mackinnon, 1993). Klasifikasi T. alba menurut Bachynski dan Harris, (2002) adalah sebagai berikut Kingdom Phylum Subphylum Class Ordo Famili Genus Spesies :Animalia :Chordata :Vertebrata :Aves :Stringiformes :Tytonidae :Tyto : Tyto alba

IV. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasani, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Ciri-ciri yang tampak pada hewan vertebrata adalah mempunyai tulang


belakang yang beruas-ruas (vertebrae) sedangkan pada hewan avertebrata tidak memiliki tulang belakang. 2. Cacing tanah, udang galah, belalang, dan bulu babi termasuk hewan avertebrata. Ular taliwangsa, ikan nilem, dan burung kutilang termasuk hewan vertebrata. B. Saran Saran untuk praktikum selanjutnya adalah agar praktikum berjalan dengan lancar maka diharapkan praktikan yang sudah selesai melakukan praktikum diharapkan tenang agar tidak mengganggu kelompok lain yang belum selesai melakukan praktikum.

DAFTAR REFERENSI Jasin, Maskoeri. 1989. Sistematik Hewan (Avertebrata dan Vertebrata) untuk universitas. Sinar Jaya. Surabaya. Radiopoetro. 1977. Zoologi. Erlangga, Jakarta. Radiopoetro. 1983. Zoologi. Erlangga, Jakarta. Ryan F, Joseph. Pang, Kevin. Mullikin C, James. Mark Q Martindale Q, Mark. Baxevanis D, Andreas. 2010. The homeodomain complement of the ctenophore Mnemiopsis leidyi suggests that Ctenophora and Porifera diverged prior to the ParaHoxozoa. United States Government; licensee BioMed Central Ltd. Saanin, H. 1968. Taksonomi dan Kunci Identifikasi Ikan. Bina Cipta. Jakarta. Storer, T. I and R. L Usinger. 1957. General Zoology. MC Grow Hill Book Company, New york. Suhardi. 1983. Evolusi Avertebrata. UI-Press. Jakarta. Sumartadinata, Komar. 1981. Pengembangbiakan ikan-ikan. Sastra Budaya, Bogor Willmer, PG (1990). Invertebrate Relationships : Patterns in Animal Evolution. Invertebrata Hubungan: Pola dalam Evolusi Hewan. Cambridge University Press, Cambridge. Cambridge University Press, Cambridge. Borror, Donald, Charles A. Triplehorn, Norman F. Johnson. 1996. Pengenalan Pelajaran Serangga. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta Campbell, A. Neil, et all. 2004. Biologi Edisi Kelima Jilid Kedua. Erlangga, Jakarta. Darbohoesodo, R.B .1976. Penuntun Praktikum Taxonomi Avertebrata. Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto Jasin, Maskoeri. 1989. Sistematik Hewan (Avertebrata dan Vertebrata) untuk universitas. Sinar Jaya, Surabaya. Lilies, Christina. 1991. Kunci Determinasi Serangga. Penerbit Kanisius. Yogyakarta

MacKinnon, J. 1993. Panduan lapangan pengenalan Burung-burung di Jawa dan Bali. Gadjah Mada University Press. Jogyakarta. Putra, Nugroho Susetya. 1994. Serangga di Sekitar Kita. Penerbit Kanisius. Yogyakarta Suhardi. 1983. Evolusi Avertebrata. UI-Press. Jakarta