Anda di halaman 1dari 11

1

SISI FILSAFAT Keperawatan Sebagai Pengetahuan Mandiri

DISUSUN OLEH : HASIANNA HABAYAHAN

PROGRAM PENDIDIKAN S1- B. STIK. St. CAROLUS JAKARTA, 2012.

PENGANTAR Makalah ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas akademik mahasiswa S1- B. Keperawatan STIK St. Carolus Jakarta, tahun kuliah 2012, dalam mata kuliah Ilmu Filsafat. Judul makalah yang dipilih adalah Sisi Filsafat , Keperawatan Sebagai Pengetahuan Mandiri , judul ini dipilih karena minat penulis pada filsafat dan aplikasinya pada praktek keperawatan sehari-hari. Sedangkan sebagai motivasi tambahan lain adalah penulis merasa tertarik pada bahasan filsafat tentang pengetahuan pada topik bahasan syarat & ciri dari pengetahuan. Dari apa yang penulis dengar dan alami sendiri selama bekerja sebagai praktisi keperawatan di rumah sakit, penulis seringkali mendengar isu bahwa praktisi kesehatan lain (banyak dokter) menganggap bahwa profesi keperawatan sesungguhnya adalah bukan profesi yang mandiri, tetapi keberadaannya disiapkan untuk melengkapi dan mendukung keberadaan profesi kedokteran. Isu ini sangat berpengaruh pada pencitraan dan sungguh mengusik etos kerja profesi keperawatan terutama penulis sendiri dan tidak mustahil hal yang sama juga dirasakan oleh teman praktisi keperawatan lainnya. Setelah penulis mengikuti kuliah filsafat serta setelah membaca buku wajib filsafat yang berjudul FILSAFAT MANUSIA, Upaya Membangkitkan Humanisme, oleh : Bapak Kasdin Sihotang dosen filsafat STIK St. Carolus, maka penulis merasa tertarik untuk mencoba mencari penjelasan mengenai status, kemandirian serta harkat dan derajat profesi keperawatan disamping profesi kesehatan lain. Pada kesempatan ini pula saya sampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dosen Ilmu Filsafat dan pembimbing Makalah ini, yaitu: Bapak Kasdin Sihotang, atas kesediannya untuk membimbing saya dalam penulisan makalah ini, Seoga Tuhan Memberkati Pada akhirnya kritik dan saran dari pembaca sekalian yang budiman sangat saya harapkan. Terima kasih,.

Hasianna Habayahan

SISI FILSAFAT Keperawatan Sebagai Pengetahuan Mandiri


1. Keperawatan Sebagai Ilmu Pengetahuan. Pengetahuan merupakan kekayaan sekaligus kesempurnaan bagi manusia, karena melalui penguasaan pengetahuan manusia dapat mengetahui sesuatu, memperbaiki sesuatu, menolong diri, keluarganya, komunitas dan bahkan dunia. Didalam suatu komunitas ataupun lingkungan sosial, biasanya orang yang berpengetahuan lebih akan memiliki status sosial yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang kurang atau tidak memiliki pengetahuan. Kata filsafat secara etimologi berasal dari bahasa Yunani philein dan sophia yang berarti cinta pada kebijaksanaan. Menurut Herodatus (484 s/d 425 sM) ia mengartikan filsafat sebagai untuk menemukan sesuatu. Filsafat juga dapat diartikan sebagai rasa cinta manusia dalam memenuhi dan memuaskan aspek kognitifnya. Hal yang penting pada filsafat adalah, karena filsafat sejati akan berusaha menangkap makna dibalik gejala empiris karena obyek bahasannya mengungkap keberadaan dan eksistensi manusia yang tidak terlihat dibalik yang terlihat. Filsafat dapat didefinisikan sebagai produk permenungan dari hasil permenungan dalam upaya untuk mengerti, membedakan dan memutuskan sesuatu kebenaran sejati. Upaya filsafat dalam mencari kebenaran dilakukan dengan menggunakan metodologi yang sistematik, berdasar pada pola pikir rasional dan bersifat radikal. Karena filsafat berfokus pada bahasan bersifat metafisis, psikis, sosialitas, termasuk kultural dan spiritualitas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa ilmu filsafat itu sesungguhnya menyerupai puncak dari pohon pengetahuan yang tumbuh dan berkembang serta memberikan berbagai cabang bagi ilmu pengetahuan yang ada saat ini. Filsafat menggunakan metodologi sistematis secara meta-empiris, filsafat juga merupakan hasil permenungan untuk mencari kaitan antara realitas dengan rasionalitas dalam upaya mencari kebenaran yang sejati. Pemahaman filsafat sangat penting untuk dapat mencari kaitan filsafat dengan ilmu keperawatan, sehingga nantinya praktisi keperawatan akan dapat mempelajari esensi terdalam dari ilmu keperawatan yang penting bagi pemahaman keilmuan secara lengkap.

Sebagai cabang pohon pengetahuan maka pengetahuan keperawatan memenuhi kriteria yang disyaratkan sebagai lazimnya ilmu pengetahuan lain, kriteria tersebut adalah terdapatnya interrelasi subyek-obyek, bersifat spontan, terdapatnya keinginan untuk bebas, terdapatnya keterbukaan serta kesadaran, termasuk didalamnya adalah peranan otak dalam mengendalikan. Hubungan inter-relasi antara subyek dan obyek, dalam hal ini dapat berupa relasi antara perawat dan klien, didalamnya terdapat unsur spontan yang tentunya berkaitan dengan hasrat dan keinginan bebas dari berbagai hal yang membatasinya, seperti bebas dari penyakit, rasa sakit, ketidak berdayaan akibat kecacatan dan berbagai masalah lain keperawatan yang membatasi cakrawala ketidak berdayaan klien terhadap masalah kesehatannya. Keterbukaan memegang peran penting dan menentukan dalam bidang ilmu keperawatan, karena keterbukaan seringkali harus diupayakan. Seringkali obyek dalam hal ini klien berupaya menutup diri karena menurutnya ia tidak memerlukan peran subyek atas dirinya atau masalahnya. Oleh karenanya peran subyek dalam hal ini perawat menjadi penting untuk dapat membuka pintu gerbang keterbukaan. Dengan terdapatnya harmonisasi dan keterbukaan antara klien dan perawat, maka akan menjamin terjalinnya inter-relasi antara subyek dan obyek yang sebagai upaya untuk mencapai tujuan bersama. Kesadaran dan peran otak sebagai kendali dari keberadaan dan aplikasi keperawatan secara luas adalah hal yang sungguh-sungguh penting, tanpa kesadaran untuk mengetahui masalah keperawatan dan seluk beluknya, maka tidaklah mungkin pengetahuan mengenai keperawatan akan dimengerti pada tingkat esensi sehingga secara mudah dapat diaplikasikan dalam bentuk intervensi keperawatan yang terarah, terukur, terstandarisasi dan dilakukan secara profesional. Pemahaman yang mendalam dari substansi dan esensi secara teoritik-konseptual ilmu pengetahuan keperawatan, akan memudahkan praktisi keperawatan mengurai dan mencari solusi masalah dibidang keperawatan / kesehatan. Peran otak sebagai kendali utama berbagai hal berkaitan dengan proses didapatkannya pengetahuan, jelas merupakan hasil kontemplasi (Pythagoras & Plato), yang tentunya saja dengan turut melibatkan berbagai organ penting yang harus berfungsi dengan baik. Beberapa organ penting tersebut adalah mata, telinga, hidung, kulit, sistem keseimbangan, dengan berbagai fungsinya seperti melihat, mendengar, menghidu, merasakan permukaan, rasa takut, rasa cemas,

rasa ingin mengetahui, rasa ingin maju. Kesemuanya adalah sarana penting untuk dapat mempelajari dan memanfaatkan pengetahuan bagi diri dan sekitarnya. Ilmu Keperawatan adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari dan mempraktekkan suatu model pelayanan keperawatan profesional dalam memenuhi kebutuhan dasar yang diberikan kepada individu baik sehat maupun sakit dengan gangguan fisik, psikis dan sosial. Harapannya adalah agar individu tersebut dapat mencapai derajat kesehatan yang optimal dan bukan hanya bebas dari sakit, penyakit ataupun kecacatan. Seperti juga ilmu-ilmu lain ilmu keperawatan juga memiliki kandungan yang tidak hanya memuat dimensi sosial dan dimensi ekonomis, tetapi juga mermuat dimensi lain seperti dimensi personal, dimensi historis, dimensi kultural dan dimensi religius. 2. Karakteristik umum Ilmu Pengetahuan pada Ilmu Keperawatan Sebagai ilmu pengetahuan maka ilmu keperawatan haruslah memiliki karakteristik umum dari ilmu pengetahuan. Karakteristik umum tersebut adalah imanensi, intensional, relasional, progresif dan dinamis. Imanensi dalam ilmu keperawatan berarti pengetahuan keperawatan yang melekat pada diri manusia atau praktisi keperawatan digunakan sebagai sarana untuk memperbaiki, menyempurnakan diri dalam bentuk dapat memperbaiki dan meningkatkan kemampuan diri sendiri, keluarga dan orang lain sebagai upaya untuk mendapatkan derajat kesehatan yang optimal. Ciri imanensi ini pula berarti pengetahuan keperawatan menggambarkan pola pikir rasional dan digunakan sebagai upaya dalam memperbaiki dan menyempurnakan diri. Intensional pengetahuan termasuk ilmu keperawatan yang menjadi hasrat manusia untuk memilikinya, akan memaksa manusia untuk membuka diri terhadap sesuatu yang lain, baik itu dalam membuka diri terhadap masuknya pengetahuan keperawatan yang terkini karena dinamika ilmu pengetahuan dan teknologi, misalnya saja maternitas, keperawatan medikal bedah, keperawatan komunitas, keperawatan jiwa dan lain-lain. Ilmu keperawatan juga membuka diri pada pengetahuan yang menunjang praktisi keperawatan, misalnya saja filsafat, sosiologi, biologi, fisika, biokimia dan lain-lain. Sifat intensional ini juga termasuk pada ilmu terapan lain seperti teknologi informatika dan penguasaan berbagai bahasa asing.

Keterarahan membawa implikasi pada keterkaitan pengetahuan keperawatan dengan berbagai hal, melalui pengetahuan maka manusia akan dapat berinteraksi dengan sesuatu yang berada diluar dirinya. Ciri ini membawa pengetahuan pada kemampuan trans-subyektif, melalui cara ini pula subyek dapat keluar dari keterbatasannya untuk dapat mentransendensikan subyektifitasnya. Oleh karenanya pengetahuan dikenal sebagai produk dari relasi antara subyek dan obyek atau sebaliknya. Ciri progresif dan dinamis ilmu keperawatan berkembang pesat mengimbangi ilmu lain. Beberapa konsep dasar keperawatan telah dikembangkan mulai dari Florence Nightingale, sebagai pelopor filosofi keperawatan dengan berfokus masalah yang berkaitan dengan hubungan pasien dengan lingkungan dalam upaya membantu proses pemenuhan kebutuhan individu dan menekankan pada kepedulian, sampai pada Betty Newman dengan konsep rekonstitusi dan adaptasi terhadap stresor dengan mengutamakan pencegahan sebagai intervensi. Ciri diatas selaras dengan ciri manusia yang dilahirkan dengan banyak kekurangan dan ketidak mampuan, akan tetapi makin lama ia hidup maka makin berkembanglah ia menuju kearah perbaikan dan peningkatan kemampuan. Konsep dari Alfred North Whitehead sebagai the active process menunjukkan bahwa manusia bukanlah etre melainkan a etre yang memberi arti bahwa manusia tidak hanya ada, melainkan selamanya membangun adanya, manusia secara terus menerus membangun dirinya, keaadaan ini mengisyaratkan bahwa pengetahuan keperawatan telah maju berkembang terus secara progresif. 3. Perkembangan Ilmu Keperawatan Perkembangan Ilmu Keperawatan dewasa ini telah mencapai prestasi yang cukup fenomenal, kemajuan tersebut menyebabkan ilmu keperawatan mendapat pengakuan sebagai suatu disiplin keilmuan dan sekaligus menjadikan keperawatan sebagai salah satu profesi dibidang kesehatan yang sejajar dengan profesi kesehatan lainnya. Keperawatan adalah Ilmu yang berbasiskan pada teori, berbekal konsep, mengutamakan keselarasan teori & praktik, berorientasi kearah masa depan dan yang paling penting adalah peduli terhadap kemanusiaan dengan visi yang holistik. Berpijak pada banyak hal diatas menyebabkan keperawatan menjadi lebih bermakna dan lebih berarti. Sebagai suatu Ilmu yang berorientasi kekinian. Pola dan fokus keperawatan saat ini telah bergeser, dari upaya pelayanan yang bertumpu pada panggilan ataupun berdasarkan pada undangan menjadi upaya pelayanan yang mengutamakan penyelenggaraan didalam institusi baik

melalui upaya mandiri maupun kolaboratif. Meskipun demikian model pola pelayanan panggilan pada kasus tertentu masih merupakan alternatif pelayanan. Ilmu keperawatan modern saat ini menjadi panduan profesi keperawatan dalam menjalankan praktek keperawatan sehari-harinya, realisasi telah muncul pada paruh pertama abad kedua puluh. Kerangka kerja teoretis ini telah banyak berkontribusi dalam mengembangkan kegiatan keperawatan. Salah satu tujuan dari upaya tersebut adalah untuk menjadikan keperawatan sebagai profesi yang diakui dan mampu memberikan upaya perawatan secara profesional bagi klien yang memerlukan. Teori menyusui adalah salah satu contoh konsep yang mendasarkan pada ilmu keperawatan. Didalam Teori menyusui sarat dengan kaidah keilmuan seperti definisi, hubungan kausatif dan berbagai asumsi yang jelas-jelas berasal dari Model Keperawatan Sistematis, disanapun terlihat rancangan hubungan spesifik antara konsep dan tujuan serta dapat menjelaskan berbagai masalah yang berkaitan antara menyusui dengan kepentingan kesehatan dan keperawatan. Oleh karena itu tergambar secara jelas bahwa ilmu keperawatan merupakan suatu ilmu yang mandiri dan bukan berasal dari cabang atau perkembangan ilmu kesehatan yang lain. Mengulang dari apa yang pernah disebutkan sebelumnya bahwa, pada dasarnya inti dari keperawatan adalah memberikan asuhan keperawatan profesional kepada orang lain baik pada individu, keluarga, kelompok, ataupun masyarakat. Dengan tujuan untuk meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, pengobatan terhadap penyakit serta pemulihan kesehatan. Oleh karenanya dapat disimpulkan bahwa keperawatan merupakan profesi yang mempunyai tujuan untuk membebaskan manusia dari sakit ataupun penyakit, meningkatkan derajat kesehatan sampai pada tingkat yang optimal dan yang lebih tinggi lagi dari itu adalah agar umat manusia dapat mencapai hidup sejahtera fisik dan jiwanya, sehingga mampu untuk menjalankan perannya sebagai individu yang lengkap dan paripurna. Ilmu Keperawatan adalah suatu ilmu pengetahuan sekaligus keterampilan yang selain memiliki berbagai macam dimensi diatas juga memiliki dimensi biologis, psikologis, sosial, kultural sekaligus dimensi religius, seperti layaknya ilmu lain.

Dalam menjalankan praktek keperawatan, seorang perawat haruslah menggunakan kombinasi dari ilmu keperawatan profesional dan seni dalam hal ini merupakan kombinasi dari etika keperawatan, ilmu filsafat, berpedomankan pada Undang-undang dan aturan hukum yang berlaku dengan memperhatikan kondisi biologis, sosial, kultur dan budaya serta spiritual yang dipadu secara harmonis dan seimbang dalam metode ilmiah keperawatan dan standar operasional prosedur sebagai pedoman dalam melaksanakan praktek keperawatan profesional. 4. Pengetahuan keperawatan sebagai ilmu mandiri Sifat kemandirian keperawatan sebagai ilmu pengetahuan diartikan dari keberadaan & eksistensi, kekhususan dan pembagian kewenangan. Keberadaan dan eksistensi ilmu keperawatan tercermin dari sejarah terciptanya keperawatan yang dimulai pada masa purbakala, masa keagamaan, masa Masehi, abad ke VI, abad ke XVI sampai dengan munculnya keperawatan modern yang dipelopori oleh Florence Nightingale. Studi pustaka yang dilakukan beberapa penulis pada masa diatas, membuktikan bahwa keperawatan bukan sebagai cabang dari ilmu kedokteran, akan tetapi ilmu keperawatan ada karena dibutuhkan keberadaannya. Bila dibandingkan usia dari pengetahuan keperawatan, maka akan terbukti kurang lebih sama dengan pengetahuan kedokteran, sehingga dapat disimpulkan bahwa ilmu keperawatan sejak masa dulu sampai saat ini memang telah ada dan saling mengisi dengan ilmu kedokteran. Ilmu kedokteran merupakan upaya untuk menyembuhkan atau mengobati sedangkan ilmu keperawatan merupakan upaya yang dilakukan untuk merawat pada saat proses pengobatan berlangsung atau diterapkan selama dan pasca proses pengobatan. Kewenangan yang dimiliki oleh ilmu kedokteran berfokus pada penegakkan diagnosis penyakit dan upaya memberikan pengobatan ataupun tindakan pengobatan yang sesuai, guna tercapainya kesembuhan. Sedangkan ilmu keperawatan berperan pasca diagnosis kedokteran ditegakkan dan selama upaya pengobatan diberikan. Pada masa itulah biasanya upaya keperawatan dilakukan melalui perumusan masalah keperawatan, merencanakan dan membuat asuhan keperawatan yang sesuai, mengimplementasikan asuhan keperawatan, mengobservasi hasil implementasi keperawatan dan selanjutnya melakukan evaluasi pada hasil proses keperawatan tersebut. Oleh karena proses keperawatan dilakukan 24 jam penuh, terus menerus maka hasil gambaran dari proses tersebut menyerupai siklus yang tidak terputus.

Dewasa ini kekhususan bidang keperawatan merupakan suatu keperluan, keperawatan telah berkembang luas. Di Indonesia sendiri telah terbentuk Direktorat keperawatan di Kementerian Kesehatan, di beberapa rumah sakit besar seperti di RS type A di Indonesia bidang keperawatan merupakan bidang tersendiri disamping bidang pelayanan medik. Dalam melaksanakan tugasnya seorang praktisi keperawatan dihadapkan pada beban kerja yang demikian banyaknya, jauh lebih banyak bila dibandingkan dengan praktisi kesehatan lain. Tugas dan kewenangan praktisi keperawatan di rumah sakit merupakan kombinasi dari tugas mandiri, tugas delegasi dan tugas kolaborasi. Tugas mandiri adalah tugas yang harus dilakukan berdasarkan kepada masalah keperawatan yang diangkat dari seorang klien melalui siklus, observasi, kajian keperawatan, perencanaan asuhan keperawatan, implementasi dan intervensi asuhan keperawatan, pengamatan terhadap hasil intervensi dan evaluasi hasil. Tugas ini merupakan siklus yang tidak terputus untuk mendapatkan hasil yang optimal, yang didasarkan penilaian pada aspek biologi, psikologi, sosial, kultural dan spiritual. Sedangkan tugas delegasi adalah tugas yang dilakukan berdasarkan pendelegasian dari profesi kedokteran. Kewenangan tugas ini sendiri sebenarnya berada pada profesi kedokteran, tetapi karena ketidak cukupan waktu dokter untuk berada 24 jam disamping klien, keterampilan dan kemampuan praktisi keperawatan untuk tindakan tersebut dan demi kesembuhan klien semata maka, secara tertulis tugas ini dapat didelegasikan kepada praktisi keperawatan yang berdinas saat itu. Contoh dari tugas delegasi adalah, menyuntik, memasang infus, memasang pipa nasogaster, dan lain-lain. Selanjutnya tugas kolaborasi adalah tugas yang dilakukan secara bersama berdasarkan pada kewenangan dan kemampuan yang sama. Misalnya saja merawat dan mengganti balutan luka, mengukur fungsi vital, dan lain-lain.

10

KESIMPULAN Profesi keperawatan adalah profesi mandiri, keberadaannya muncul karena memang ia diperlukan seperti itu adanya dan bukan karena dibuat untuk melengkapi profesi lain. Ilmu Keperawatan memiliki semua persyaratan pengetahuan keilmuan dan juga mempunya ciri umum sebagai ilmu pengetahuan. Dinamika dan progresifitas ilmu keperawatan yang sangat fenomenal, dan beberapa konsep keperawatan yang maju dalam pemikiran sehingga diadopsi menjadi program pemerintah menjadi bukti, bahwa pengetahuan keperawatan adalah ilmu yang berkembang secara progresif dan memang diperlukan. Oleh karenanya keperawatan begitu banyak diminati untuk dipelajari. Sebagai ilmu pengetahuan ilmu keperawatan terbuka bagi datangnya ilmu lain yang menunjang dan mendukung makin maju dan berkembangnya pengetahuan keperawatan. Ilmu keperawatan bukanlah sesuatu yang hanya memperkaya cakrawala pengetahuan seseorang atau praktisinya, akan tetapi ilmu keperawatan juga mensyaratkan penguasaan keterampilan dibidang keperawatan pada praktisinya, dan bahkan akhir-akhir ini pengetahuan keperawatan telah berkembang dengan diwajibkannya pemahaman etika profesi, pengetahuan hukum perundang-undangan, ilmu filsafat dan sosiologi kemasyarakatan. Sifat kemandirian keperawatan sebagai ilmu pengetahuan hendaknya ditilik dan diartikan berdasarkan pada historisitas, keberadaan atau eksistensi, kekhususan dan pembagian fungsi kewenangan yang tercermin dalam model pelayanan kesehatan di Indonesia dan di negara-negara berkembang lainnya. Kesemuanya diatas cukup membuktikan bahwa pengetahuan keperawatan adalah pengetahuan atau ilmu yang mandiri, keperawatan diperlukan dimanapun ia berada, keperawatan dapat bekerja sama dengan bidang keilmuan lain dalam bentuk kolaboratif. Di Indonesia, bahkan di negara-negara lain profesi keperawatan dapat bekerja dimanapun ia ditempatkan dan bahkan tanpa dukungan profesi lain sekalipun.

11

DAFTAR PUSTAKA

1. Sihotang, Kasdin., 2009, Filsafat Manusia, Upaya Membangkitkan Humanisme, Kanisius, Jakarta. 2. Aziz Alimul, H., 2002, Pengantar Pendidikan Keperawatan, CV. Sagung Seto, Jakarta.