Anda di halaman 1dari 32

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang Masalah kekurangan atau kelebihan gizi pada orang dewasa merupakan masalah penting karena selain mempunyai risiko penyakit-penyakit tertentu juga dapat mempengaruhi produktivitas kerja. Oleh karena itu, pemantauan keadaan tersebut perlu dilakukan secara berkesinambungan. Salah satu cara adalah dengan mempertahankan berat badan yang ideal atau normal. Penilaian status gizi secara langsung dapat dibagi menjadi empat, yaitu: antropometri, klinis, biokimia, dan biofisik; sedangkan secara tidak langsung dibagi menjadi tiga, yaitu: survei konsumsi pangan, statistik vital dan faktor ekologi1. Berdasarkan Riskesdas 2007, prevalensi obesitas umum secara nasional adalah 19,1% (8,8% BB lebih dan 10,3% obese). Ada 14 provinsi memiliki prevalensi obesitas umum di atas angka prevalensi nasional. Lima provinsi yang memiliki prevalensi obesitas umum terendah adalah Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Sulawesi Barat dan Sumatera Selatan. Sedangkan lima provinsi dengan prevalensi obesitas umum tertinggi adalah: Kalimantan Timur, Maluku Utara, Gorontalo, DKI Jakarta dan Sulawesi Utara. Secara nasional prevalensi obesitas umum pada laki-laki lebih rendah dibandingkan dengan perempuan (masing-masing 13,9% dan 23,8%). Prevalensi obesitas sentral untuk tingkat nasional adalah 18,8%. Dari 33 provinsi, 17 di antaranya memiliki prevalensi obesitas sentral di atas angka prevalensi nasional. Menurut kelompok umur, prevalensi obesitas sentral cenderung meningkat sampai umur 45-54 tahun, selanjutnya berangsur menurun kembali. Prevalensi obesitas sentral pada perempuan (29%) lebih tinggi dibanding laki-laki (7,7%)2.

1 2

Supariasa, I Dewa Nyoman. 2002. Penilaian Status Gizi. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2008. Laporan Riset Kesehatan Dasar 2007.

Untuk menilai prevalensi risiko KEK (Kurang Energi Kronik) dilakukan dengan cara menghitung LILA (Lingkar Lengan Atas) lebih kecil 1 SD dari nilai rerata untuk setiap umur antara 15 sampai 45 tahun. Berdasarkan tingkat pendidikan, gambaran nasional menunjukkan pada tingkat pendidikan terendah (tidak sekolah dan tidak tamat SD), risiko KEK cenderung lebih tinggi dibanding tingkat pendidikan tertinggi (tamat PT). Secara nasional, prevalensi risiko KEK lebih tinggi di daerah perdesaan dibanding perkotaan. Berdasarkan tingkat pengeluaran rumah tangga perkapita, menunjukkan risiko KEK cenderung tinggi pada kelompok pengeluaran terendah. Semakin meningkat pengeluaran rumah tangga per kapita per bulan cenderung semakin rendah risiko KEK. Secara nasional persentase RT dengan konsumsi energi rendah adalah 59,0 % dan konsumsi protein rendah sebesar 58,5 %. Sebanyak 21 provinsi dengan persentase konsumsi energi rendah di atas angka nasional (59,0 %)2. Prevalensi hipertensi pada penduduk umur 18 tahun ke atas di Indonesia adalah sebesar 31,7%. Prevalensi penyakit jantung di Indonesia sebesar 7,2% berdasarkan wawancara, sementara berdasarkan riwayat didiagnosis tenaga kesehatan hanya ditemukan sebesar 0,9%. Prevalensi penyakit DM di Indonesia berdasarkan diagnosis oleh tenaga kesehatan adalah 0,7% sedangkan prevalensi DM (D/G) sebesar 1,1%2. Dari data Riskesdas (2007) memperlihatkan bahwa penyebab kematian utama untuk semua umur adalah strok (15,4%), yang disusul oleh TB (7,5%), hipertensi (6,8%) dan cedera (6,5%). Proporsi penyebab kematian pada kelompok umur 55-64 tahun menurut jenis kelamin menunjukkan bahwa pada laki-laki maupun perempuan penyakit tidak menular (strok, diabetes mellitus, hipertensi, penyakit jantung iskemik) mendominasi sebagai penyebab kematian2. Status gizi ini menjadi penting karena merupakan salah satu faktor risiko untuk terjadinya kesakitan dan kematian. Status gizi yang baik pada

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2008. Laporan Riset Kesehatan Dasar 2007.

seseorang akan berkontribusi terhadap kesehatannya dan juga terhadap kemampuan dalam proses pemulihan3. Antropometri sangat umum digunakan untuk mengukur status gizi dari berbagai ketidakseimbangan antara asupan protein dan energi. Gangguan ini biasanya terlihat dari pola pertumbuhan fisik dan proporsi jaringan tubuh seperti lemak, otot dan jumlah air dalam tubuh1. Hubungan linear antara IMT (Indeks Massa Tubuh) dan tekanan darah ditemukan pada negara-negara berkembang seperti Indonesia, Ethiopia dan Vietnam. Risiko hipertensi pada orang yang overweight dan obesitas (IMT25.0) lebih tinggi di Indonesia (OR=7.68, 95% CI: 3.88-15.0), di Ethiopia (OR= 2.47, 95% CI: 1.42-4.29) dan Vietnam (OR=2.67, 95% CI: 1.75-4.08)4. Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut diatas sebuah penelitian yang dilakukan oleh Dauchet et al. (2007) menyebutkan bahwa peningkatan konsumsi sayur dan buah serta penurunan konsumsi lemak pangan, disertai dengan penurunan konsumsi lemak total dan lemak jenuh, dapat menurunkan tekanan darah. Penemuan ini memperkuat hasil penelitian sebelumnya, the Nurses Health Study and the Health Professionals Follow-up Study groups, yang menemukan bahwa penurunan risiko jantung koroner dan stroke berhubungan dengan tingginya pola konsumsi buah, sayur, kacangkacangan, ikan, dan padi-padian tumbuk5. Dalam Circulation: Journal of the American Heart Association, mengatakan bahwa kesehatan kardiovaskular yang ideal untuk orang dewasa dapat ditentukan dari Indeks Massa Tubuh (IMT) ideal adalah antara 18 sampai 256.

3 1

Achadi, Endang L. 2012. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Supariasa, I Dewa Nyoman. 2002. Penilaian Status Gizi. 4 Tesfaye dkk. 2007. Association between body mass index and blood pressure across three populations in Africa and Asia. 5 Dauchet dkk.. 2007. Dietary patterns and blood pressure change over 5-y followup in the SU. 6 Donald M. Lloyd-Jones. 2010. Defining and Setting National Goals for cardiovascular Health Promotion and Disease Reduction

I.2 Tujuan Praktikum I.2.1 Tujuan Umum Tujuan umum kegiatan praktikum ini adalah untuk menilai status gizi secara antropometri. I.2.2 Tujuan Khusus Tujuan khsusus kegiatan praktikum ini yaitu: 1. Untuk mengetahui status gizi individu berdasarkan indeks IMT. 2. Untuk mengetahui status gizi individu berdasarkan indeks WHR. 3. Untuk mengetahui status gizi individu berdasarkan indeks % Body fat. 4. Untuk mengetahui status gizi individu berdasarkan indeks LILA. 5. Untuk mengetahui status gizi individu berdasarkan indeks Lingkar Perut. 6. Untuk mengetahui estimasi tinggi badan berdasarkan tinggi lutut.

I.3 Manfaat Praktikum Adapun manfaat dari percobaan ini adalah agar dapat mengetahui status gizi seseorang melalui pengukuran antropometri dengan perhitungan Indeks MassaTubuh (IMT), Waist to Hip Ratio (WHR), persentase Body Fat (%BF), Lingkar Lengan Atas (LILA), dan pegukuran Lingkar Perut.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 Indeks Massa Tubuh (IMT) Indeks antropometri adalah pengukuran dari beberapa parameter. Indeks antropometri bisa merupakan rasio dari satu pengukuran terhadap satu atau lebih pengukuran atau yang dihubungkan dengan umur dan tingkat gizi. Salah satu contoh dari indeks antropometri adalah Indeks Massa Tubuh (IMT) atau yang disebut dengan Body Mass Index1. Menurut Pranadji (1997) Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan alat atau cara yang sederhana untuk menentukan status gizi orang dewasa, khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan. Berat badan kurang dapat meningkatkan risiko terhadap penyakit infeksi, sedangkan berat badan berlebih akan meningkatkan risiko terhadap penyakit degeneratif7. Untuk mengetahui nilai IMT ini, dapat dihitung dengan rumus berikut7: Berat badan (Kg) IMT = ---------------------------------------------Tinggi badan (m) x Tinggi badan (m) Dalam Riskesdas (2007) dibedakan kategori ambang batas IMT untuk Indonesia seperti Tabel 1 berikut7. Tabel 1 Ambang Batas IMT untuk Indonesia Kategori Kurus Normal Berat Badan Lebih Obese Sumber: Riset Kesehatan Dasar 2007 Supariasa (2002) menjelaskan bahwa berat badan menggambarkan jumlah dari protein, lemak, air, dan mineral pada tulang. Pada remaja, lemak
1 7

BMI (kg/m2) < 18,50 18,50 24,99 25,00 27,00 27,00

Supariasa, I Dewa Nyoman. 2002. Penilian Status Gizi. Sirajuddin, Saifuddin. 2012. Penuntun praktikum penilaian status gizi.

tubuh cenderung meningkat, dan protein ototmenurun. Pada orang yang edema dan asites terjadi penambahan cairan dalamtubuh. Adanya tumor dapat menurunkan jaringan lemak dan otot, khususnyaterjadi pada orang kekurangan gizi. Pada masa bayi atau balita, berat badan dapat dipergunakan untuk melihat laju pertumbuhan fisik maupun status gizi, kecuali terdapat kelainan klinis (dehidrasi, asites, edema, atau adanya tumor). Dapat digunakan sebagai dasar perhitungan dosis obat dan makanan. Berat badan menggambarkan jumlah protein, lemak, air dan mineral pada tulang. Pada remaja, lemak cenderung meningkat dan protein otot menurun. Pada klien edema dan asites, terjadi penambahan cairan dalam tubuh. Adanya tumor dapat menurunkan jaringan lemak dan otot, khususnya terjadi pada orang kekurangan gizi1. Berat lemak). badan (BB) menggambarkan masa tubuh (otot dan

Berat badan menurut umur merupakan ukuran yang baik untuk

mengetahui keadaan gizi anakanak, terutama anak golongan umur 0-5 tahun (Balita). Ukuran ini juga memberi gambaran yang baik tentang pertumbuhan anak1. Tinggi badan merupakan antropometri yang menggambarkan keadaan pertumbuhan skeletal. Pada keadaan normal, tinggi badan tumbuh seiring dengan pertambahan umur. Pertumbuhan tinggi badan tidak seperti berat badan, relatif kurang sensitif terhadap masalah kekurangan gizi dalam waktu yang pendek. Pengaruh defisiensi zat gizi terhadap tinggi badan akan nampak dalam waktu yang relatif lama1. BB/TB merupakan indikator yang baik untuk indikator menyatakan status gizi saat ini, terlebih bila data umur yang akurat sulit diperoleh. Oleh karena itu Indeks BB/TB disebut juga indikator status gizi yang

independent terhadap umur. Karena Indeks BB/TB yang dapat memberikan gambaran tentang proporsi berat badan relatif terhadap tinggi badan, maka dalam penggunaannya indeks ini merupakan indikator kekurusan1.

Supariasa, I Dewa Nyoman. 2002. Penilian Status Gizi.

II.2 WHR Banyaknya lemak dalam perut menunjukkan ada beberapa perubahan metabolisme, termasuk terhadap insulin dan meningkatnya produksi asam lemak bebas, dibanding dengan banyaknya lemak bawah kulit pada kaki dan tangan. Perubahan metabolisme memberikan gambaran tentang pemeriksaan penyakit yang berhubungan dengan perbedaan distribusi lemak tubuh. Ukuran yang umum digunakan adalah rasio lingkar pinggang-pinggul. Pengukuran lingkar pinggang dan panggul harus dilakukan oleh tenaga terlatih dan posisi pengukuran harus tepat, karena perbedaan posisi pengukuran memberikan hasil yang berbeda7. Dari hasil penelitian Lawrence (2007) menyimpulkan hubungan antara lingkar pinggang, lingkar pinggal-panggul dan rasio lingkar pinggang dan panggul terhadap risiko kardiovaskuler. Obesitas yang diukur dengan lingkar pinggang dan rasio lingkar pinggang-panggul secara signifikan berhubungan dengan risiko kejadian insiden kardiovaskuler. Kenaikan 1 cm di lingkar pinggang dikaitkan dengan peningkatan 2% risiko masa depan kardiovaskuler dan peningkatan 0,01 di rasio lingkar pinggang-panggul dikaitkan dengan peningkatan 5% dalam risiko. Hasil ini konsisten pada pria dan wanita8. Hasil penelitian yang dilakukan Esmaillzadeh (2004) yang dilakukan pada pria dewasa di kota Tahrenian menyimpulkan bahwa semua indikator antropometrik memiliki hubungan yang signifikan dengan faktor-faktor risiko kardiovaskular, rasio pinggang-panggul memiliki koefisien korelasi tertinggi dibandingkan dengan ukuran antropometri lainnya. Untuk semua faktor risiko di semua kategori usia, kemungkinan tertinggi rasio yang tergolong rasio pinggang-panggul. Dari empat indikator individu, rasio lingkar pinggangpanggul memiliki sensitivitas tertinggi, spesifisitas dan akurasi untuk memprediksi faktor risiko kardiovaskular. Cutoff poin untuk rasio lingkar pinggang-panggul terlihat memiliki persentase yang lebih tinggi dari prediksi

Lawrence. 2007. Waist circumference and waist-to-hip ratio as predictors of cardiovascular events: meta-regression analysis of prospective studies.

yang tepat dari BMI, lingkar pinggang dan rasio pinggang terhadap tinggi di semua kategori usia9. WHR (Waist to Hip Ratio) merupakan salah satu pengukuran untuk menentukan status gizi perorangan. WHR ini diperoleh dengan membagi antara lingkar pinggang dan lingkar panggul3. Rumus Waist to Hip Ratio (WHR)7:

Tabel 2 Interpretasi hasil pengukuran lingkar pinggang dan panggul Jenis kelamin Laki-laki Kelompok umur (thn) 20 29 30 39 40 49 Perempuan 20 29 30 39 40 49 Low Risiko Modferate high 0,89 0,94 0,92 0,96 0,96 1,00 0,78 0,82 0,79 0,89 0,80 0,87 Very high >0,94 >0,96 >1,00 >0,82 >0,84 >0,87

< 0.83 0,83 0,88 <0,84 <0,88 <0,71 <0,72 <0,73 0,84 0,91 0,88 0,95 0,71 0,77 0,72 0,78 0,73 0,79

Sumber: Penuntun Praktikum Penilaian Status Gizi Dalam pengukuran lingkar pinggang dan lingkar panggul subjek harus menggunakan pakaian yang tidak terlalu menekan sehingga alat ukur dapat diletakkan secara sempurna. Kemudian subjek berdiri tegak alat ukur diletakkan melingkar di pinggang secara horizontal pada bagian paling kecil. Sedangkan pada pengukuran lingkar panggul alat ukur dilingkarkan secara horizontal sehingga tingkat maksimal dari panggul terlihat7.

7 9

Sirajuddin, Saifuddin. 2012. Penuntun praktikum penilaian status gizi. Esmaillzadeh, dkk. 2004. Waist-to-hip ratio is a better screening measure for cardiovascular risk factors than other anthropometric indicators in Tehranian adult men

II.3 Lingkar Perut Cara lain yang biasa dilakukan untuk memantau risiko kegemukan adalah dengan mengukur lingkar perut. Ukuran lingkar perut yang baik yaitu tidak lebih dari 90 cm untuk laki-laki dan tidak lebih dari 80- cm untuk perempuan. Menurut Gotera (2006) pengukuran lingkar perut lebih memberi arti dibandingkan IMT dalam menentukan timbunan lemak di dalam rongga perut (obesitas sentral) karena peningkatan timbunan lemak di perut tercermin dari meningkatnya lingkar perut7. Tabel 3 Nilai ambang batas lingkar perut menurut berbagai negara Negara USA (ATP III) Europeans Middle eastern, eastern european, nort african Sub-saharan africans Asian Ethnic south and central american Sumber: Penuntun Praktikum Penilaian Status Gizi Male 102 (90) 94 94 94 90 90 female 88 (85) 80 80 80 80 80

II.4 % Body Fat Tabel 4 Klasifikasi persen body fat berdasarkan umur dan jenis kelamin Sex Under fat Healthy range Women (Years) 20-40 41-60 61-79 < 21 % < 23 % < 24 % 21-33% 23-35% 24-36% Men (years) 20-40 41-60 < 8% < 11% 8-9% 11-22% 19-25% 22-27% >25% >27% 33-39% 35-40% 36-42% >39% >40% >42% overweight obese

61-79

< 13%

13-25%

25-30%

>30%

Sumber: Penuntun Praktikum Penilaian Status Gizi Pengukuran lemak tubuh melalui pengukuran ketebalan lemak bawah kulit (skinfold) dilakukan pada beberapa bagian tubuh, misal lengan atas (tricep dan bicep), lengan bawah (forearm), tulang belikat (subscapular), di tengah garis ketiak (midaxillary), sisi dada (pectoral), perut (abdominal), suprailiaka, paha, tempurung lutut (suprapatellar), pertngahan tungkai bawah (medial calv)7.

II.5 Lingkar Lengan Atas Menurut Supariasa (2002), lingkar lengan atas dewasa ini memang merupakan salah satu pilihan untu penentuan status gizi, karena mudah dilakukan dan tidak memerlukan alat-alat yang sulit diperoleh dengan harga yang lebih murah. Akan tetapi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, terutama jika digunakan sebagai pilihan tunggal untuk indeks status gizi1. Ambang batas LILA (Lingkar Lengan Atas) wanita usia subur dengan risiko KEK di Indonesia adalah 23,5 cm. Apabila ukuran LILA kurang dari 23,5 cm atau di bagian merah pita LILA, artinya wanita tersebut mempunyai risiko KEK, dan diperkirakan akan melahirkan berat bayi lahir rendah (BBLR)1. Prosedur kerja pengukuran lingkar lengan atas adalah sebagai berikut7. 1. Tentukan titik mid point pada lengan dengan menekuk lengan subjek membentuk 90, dengan telapak tangan menghadap ke atas. Pengukur berdiri di belakang subjek dan menetukan titik tengah antara tulang atas pada bahu kiri dan siku. Tandailah titik tengah tersebut. 2. Ukurlah lingkar lengan atas pada posisi mid point dengan pita LILA menempel pada kulit. Perhatikan jangan sampai pita menekan kulit atau ada rongga antara kulit dan pita. 3.
1 7

Lingkar lengan atas dicatat pada skala 0,1 cm terdekat.

Supariasa, I Dewa Nyoman. 2002. Penilian Status Gizi. Sirajuddin, Saifuddin. 2012. Penuntun praktikum penilaian status gizi.

Tabel 5 Klasifikasi lingkar lengan atas adalah sebagai berikut7. Klasifikasi Batas ukur

Wanita Usia Subur KEK Normal <23,5 cm 23,5 cm Bayi usia 0-30 hari KEP Normal Balita KEK Normal < 12,5 12,5 < 9,5 cm 9,5 cm

Sumber: Penuntun Praktikum Penilaian Status Gizi Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pengukuran LILA adalah pengukuran dilakukan di bagian tengah antara bahu dan siku lengan kiri (kecuali orang kidal diukur pada lengan kanan). Lengan harus dalam posisi bebas, lengan baju dan otot lengan dalam keadaan tidak tegang atau kencang. Alat pengukur dalam keadaan baik dalam arti tidak kusut atau sudah dilipatlipat sehingga permukaannya sudah tidak rata1. Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian pada pengukuran ini adalah1: 1. Baku Lingkar Lengan Atas (LILA) yang sekarang digunakan belum mendapat pengujian yang memadai untuk digunakan di Indonesia. Hal ini didasarkan pada hasil-hasil penelitian yang umumnya menunjukkan perbedaan angka prevalensi Kekurangan Energi Protein (KEP) yang cukup berarti antar penggunaan LILA di satu pihak dengan berat badan menurut umur atau berat badan menurut tinggi badan maupun indeks-indeks lain di pihak lain, sekalipun dengan LILA.

Supariasa, I Dewa Nyoman. 2002. Penilian Status Gizi.

2. Kesalahan pengukuran pada LILA (pada berbagai tingkat keterampilan pengukur) relatif lebih besar dibandingkan dengan tinggi badan, megingat batas antara baku dengan gizi kurang, lebih sempit pada LILA dari pada tinggi badan. Ini berarti kesalahan yang sama besar jauh lebih berarti pada LILA dibandingkan dengan tinggi badan. 3. Lingkar lengan atas sensitif untuk semua golongan tertentu (prasekolah) tetapi kurang sensitif pada golongan lain terutama orang dewasa. Tidak demikian halnya dengan berat badan.

II.6 Tinggi badan terhadap tinggi lutut Menurut Gibson, alat yang digunakan untuk mengukur tinggi lutut terbuat dari kayu. Subyek yang diukur dalam posisi duduk atau berbaring/tidur. Pengukuran dilakukan pada kaki kiri subyek antara tulang tibia dengan tulang paha membentuk sudut 90 derajat. Alat ditempatkan di antara tumit sampai bagian proksimal dari tulang platela. Pembacaan skala dilakukan pada alat ukur dengan ketelitian 0,1 cm10. Beberapa peneliti menyarankan untuk menerapkan tekanan lembut dengan proses mastoid untuk meregangkan tulang belakang dan

meminimalkan efek yang dihasilkan oleh variasi diurnal. Pengukuran ketinggian diambil di inspirasi maksimal, dengan tingkat mata pemeriksa dengan kepala tempat tidur untuk menghindari kesalahan paralaks. Tinggi tercatat milimeter terdekat, atau bahkan lebih tepat dengan peralatan modem digital. Oleh karena itu, jika berdiri tinggi daripada data referensi berbaring panjang digunakan10. Dilihat dari penggunaan antropometri yang sangat luas, maka salah satu keahlian yang harus dimiliki oleh seorang sarjana gizi adalah mampu mengukur status gizi mengenai konsep pertumbuhan, ukuran antropometri, control kualitas data antropometri dan evaluasi indeks antropometri,

10

Gibson, RS., 1990. Principles of Nutritional Assessment

kelemahan dan keunggulan penggunaan antropometri dalam penilaian status gizi1. Beberapa syarat yang mendasari penggunaan dari antropometri adalah1: 1. Alatnya mudah didapat dan digunakan, seperti dacin, pita lingkar lengan atas, mikrotoa, dan alat pengukur panjang bayi yang dapat dibuat sendiri di rumah. 2. Pengukuran dapat dilakukan berulang-ulang dengan mudah dan objektif. Contohnya apabila terjadi kesalahan pada pengukuran lingkar lengan atas pada anak balita. 3. Pengukuran buka hanya dilakukan dengan tenaga khusus professional, juga oleh tenaga lain setelah dilatih untuk itu. 4. Biaya relatie murah, karena alat mudah didapat dan tidak memerlukan bahan-bahan lainnya. 5. Hasilnya mudah disimpulkan karena mempunyai ambang batas (cut off points) dan baku rujukan yang sudah pasti. 6. Secara ilmiah diakui kebenarannya. Hampir semua negara mengguakan antropometri sebagai metode untuk mengukur status gizi masyarakat, khususnya untuk penapisan (screening) status gizi. Hal ini dikarenakan antropometri diakui kebearanya secara ilmiah. Keunggulan antropometri gizi sebagai metode penilaian status gizi yaitu1: 1. 2. 3. Prosedurnya sederhana, aman dan dapat dilakukan dalam jumlah sampel yang besar Relatif tidak membutuhkan tenaga ahli, cukup dilakukan oleh tenaga yang sudah dilatih dalam waktu singkat 4. Alat murah, mudah dibawa, tahan lama, dapat dipesan dan dibuat di daerah setempat 5.
1 1

Metode tepat dan akurat, karena dapat dibakukan

Supariasa, I Dewa Nyoman. 2002. Penilian Status Gizi. Supariasa, I Dewa Nyoman. 2002. Penilaian Status Gizi.

6. 7.

Dapat mendeteksi atau menggambarkan riwayat gizi di masa lampau Umumnya dapat mengidentifikasi status gizi sedang, kurang, dan gizi buruk, karena sudah ada ambang batas yang jelas

8.

Metode antropometri dapat mengevaluasi perubahan status gizi pada periode tertentu, atau dari satu generasi ke generasi berikutnya

9.

Dapat digunakan untuk penapisan kelompok yang rawan terhadap gizi. Kelemahan antropometri gizi sebagai metode penilaian status gizi yaitu1:

1.

Tidak sensitif, sebab metode ini tidak dapat mendeteksi status gizi dalam waktu singkat. Disamping itu tidak dapat membedakan kekurangan zat gizi tertentu seperti zink dan Fe.

2.

Faktor di luar gizi (penyakit, genetik, dan penurunan penggunaan energi) dapat menurunkan spesifikasi dan sensitivitas pengukuran antropometri.

3.

Kesalahan yang terjadi pada saat pengukuran dapat mempengaruhi presisi, akurasi, dan validitas pengukuran antorpometri gizi.

4.

Kesalahan ini terjadi karena pengukuran, perubahan hasil pengukuran baik fisik maupun komposisi jaringan, dan analisis dan asumsi yang keliru.

BAB III METODOLOGI PERCOBAAN

III.I Tempat dan Waktu Praktikum Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Terpadu Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin pada hari Kamis, tanggal 08 November 2012, pukul 09.00 WITA sampai selesai.

III.2 Alat dan Bahan Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah timbangan digital Seca untuk berat badan, microtoice untuk tinggi badan, alat ukur tinggi lutut, pita LiLA, penggaris siku-siku, pita circumference, dan skinfold caliper.

III.3 Prosedur Kerja a. Pengukuran Barat Badan (BB) 1. Responden mengenakan pakaian biasa (usahakan dengan pakaian yang minimal). Responden tidak menggunakan alas kaki. 2. Dipastikan timbangan berada pada penunjukan skala dengan angka 0,0. 3. Responden diminta naik ke alat timbang dengan berat badan tersebar merata pada kedua kaki dan posisi kaki tepat di tengah alat timbang tetapi tidak menutupi jendela baca. 4. Diperhatikan posisi kaki responden tepat di tengah alat timbang, usahakan agar responden tetap tenang dan kepala tidak menunduk (memandang lurus kedepan). 5. Angka di kaca jendela alat timbang akan muncul, dan ditunggu sampai angka tidak berubah (statis).

6. Dibaca dan dicatat berat badan pada tampilan dengan skala 0.1 cm terdekat. 7. Responden diminta turun dari alat timbang. b. Pengukuran Tinggi Badan (TB) 1. Responden tidak mengenakan alas kaki (sandal/sepatu), topi (penutup kepala). Posisikan responden tepat di bawah microtoice 2. Reponden diminta berdiri tegak, persis di bawah alat geser. 3. Posisi kepala dan bahu bagian belakang, lengan, pantat dan tumit menempel pada dinding tempat microtoise di pasang. 4. Pandangan lurus ke depan, dan tangan dalam posisi tergantung bebas dan menghadap paha. 5. Responden diminta menarik nafas panjang untuk membantu menegakkan tulang rusuk. Usahakan bah tetap santai. 6. Gerakan alat geser sampai menyentuh bagian atas kepala responden. Pastikan alat geser berada tepat di tengah kepala responden. Dalam keadaan ini bagian belakang alat geser harus tetap menempel pada dinding. 7. Dibaca angka tinggi badan pada jendela baca ke arah angka yang lebih besar (ke bawah). Pembacaan dilakukan tepat di depan angka (skala) pada garis merah, sejajar dengan mata petugas. 8. Apabila pengukur lebih rendah dari yang diukur, pengukur harus berdiri di atas bangku agar hasil pembacaannya benar. Catat tinggi badan pada skala 0,1 cm terdekat. c. Pengukuran Tinggi Lutut 1. Responden duduk dengan salah satu kaki ditekuk hingga membentuk sudut 900 proximal hingga patella. 2. Kaki diletakkan di atas alat pengukur tinggi lutut dan pastikan kaki responden membentuk sudut 900 dengan melihat kelurusannya pada tiang alat ukur.

3. Dibaca dengan sedikit menjongkok sehingga mata pembaca tepat berada pada angka yang ditunjukkan oleh alat ukur. Catat tinggi badan pada skala 0,1 cm terdekat.

d. Pengukuran Lingkar Pinggang 1. Responden menggunakan pakaian yang longgar (tidak menekan) sehingga alat ukur dapat diletakkan dengan sempurna. Sebaiknya pita pengukur tidak berada di atas pakaian yang digunakan 2. Responden berdiri tegak dengan perut dalam keadaan rileks 3. Pengukur menghadap ke subjek dan meletakkan alat ukur melingkar pinggang secara horizontal dimana merupakan bagian paling kecil dari tubuh atau pada bagian tulang rusuk paling terakhir. Seorang pembantu diperlukan untuk meletakkan alat ukur dengan tepat 4. Pengukuran dilakukan di akhir dari ekspresi yang normal dan alat ukur tidak menekn kulit 5. Dibaca dengan teliti hasil pengukuran pada pita hingga 0,1 cm terdekat e. Pengukuran Lingkar Panggul 1. Responden mengenakan pakaian yang tidak terlaku menekan 2. Responden berdiri tegak dengan kedua lengan berada pada kedua sisi tubuh dan kaki rapat 3. Pengukur jongkok di samping responden sehingga tingkat maksimal dari penggul terlihat 4. Alat pengukur dilingkarkan secara horizontal tanpa menekan kulit. Seorang pembantu diperlukan untuk meletakkan alat ukur dengan tepat 5. Dibaca dengan teliti hasil pengukuran pada pita hingga 0,1 cm terdekat f. Pengukuran Lingkar Perut

1. Mintalah dengan cara yang santun pada responden untuk membuka pakaian bagian atas atau menyingkapkan pakaian bagian atas dan raba tulang rusuk terakhir responden untuk menetapkan titik pengukuran 2. Ditetapkan titik batas tepi tulang rusuk paling bawah. 3. Ditetapkan titik ujung lengkung tulang pangkal paha/panggul. 4. Ditetapkan titik tengah di antara di antara titik tulang rusuk terakhir titik ujung lengkung tulang pangkal paha/panggul dan tandai titik tengah tersebut dengan alat tulis. 5. Responden diminta untuk berdiri tegak dan bernafas dengan normal (ekspirasi normal). 6. Dilakukan pengukuran lingkar perut dimulai/diambil dari titik tengah kemudian secara sejajar horizontal melingkari pinggang dan perut kembali menuju titik tengah diawal pengukuran. 7. Pengukuran juga dapat dilakukan pada bagian atas dari pusar lalu meletekkan dan melingkarkan alat ukur secara horizontal 8. Apabila responden mempunyai perut yang gendut ke bawah, pengukuran mengambil bagian yang paling buncit lalu berakhir pada titik tengah tersebut lagi. 9. Pita pengukur tidak boleh melipat dan ukur lingkar pinggang mendekati angka 0,1 cm. g. Pengukuran Lingkar Lengan Atas (LiLA) 1. Penentuan Titik Mid Point Pada Lengan 1. Responden diminta berdiri tegak 2. Responden dminta untuk membuka lengan pakaian yang menutup lengan kiri atas (bagi yang kidal gunakan lengan kanan) 3. Tekukan tangan responden membentuk 900 dengan telapak tangan menghadap ke atas. Pengukur berdiri dibelakang dan menentukan titik tengah antara tulang rusuk atas pada bahu kiri dan siku 4. Ditandai titik tengah tersebut dengan pena 2. Mengukur Lingkar Lengan Atas (LILA)

1. Dengan tangan tergantung lepas dan siku lurus di samping badan, telapak tangan menghadap ke bawah 2. Diukur lingar lengan atas pada posisi mid point dengan pita LILA menempel pada kulit dan dilingkarkan secara hotizontal pada lengan. Perhatikan jangan sampai pita menekan kulit atau ada rongga antara kulit dan pita 3. Lingkar lengan atas dicatat pada skala 0,1 cm terdekat h. Penentuan Tebal Lipatan Kulit (TLK) 1. Petunjuk Umum 1. Ibu jari dan jari telunjuk dari tangan kiri digunakan untuk mengangkat kedua sisi kulit dan lemak subkutan kurang lebih 1 cm proximal dari daerah yang diukur 2. Lipatan kulit diangkat pada jarak kurang lebih 1 cm tegak lurus arah garis kulit 3. Lipatan kulit tetap diangkat sampai pengukuran selesai 4. Caliper dipegang oleh tangan kanan 5. Pengukuran dilakukan dalam 4 detik setelah penekanan kulit oleh caliper dilepas 2. Pengukuran TLK Pada Tricep 1. Responden berdiri tegak dengan kedua lengan tergantung bebas pada kedua sisi tubuh 2. Pengukuran dilakukan pada titik mid point (sama pada LILA) 3. Pengukur berdiri di belakang responden dan meletakkan telapak tangan kirinya pada bagian lengan kearah tanda yang telah dibuat dimana ibu jari dan telunjuk menghadap ke bawah. Tricep skinfold diambil dengan menarik pada 1 cm dari proximal tanda titik tengah tadi. 4. Tricep skinfold diukur dengan mendekati 0,1 mm 3. Pengukuran TLK Pada Subscapular 1. Responden berdiri tegak dengan kedua lengan tergantung bebas pada kedua sisi tubuh

2. Tangan diletakkan kiri ke belakang 3. Untuk mendapatkan tempat pengukuran, pemeriksa meraba

scapula dan mencarinya ke arah bawah lateral sepanjang batas vertebrata samapi menentukn sudut bawah scapula 4. Subscapular skinfold ditarik dalam arah diagonal (infero-lateral) kurang lebih 450 ke arah horizontal garis kulit. Titik scapula terletak pada bagain bawah sudut scapula 5. Caliper diletakkan 1 cm infero-lateral dari ibu jari dan jari telunjuk yang mengangkat kulit dan subkutan dan ketebalan kulit diukur mendekati 0,1 mm

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Tabel 4.1. Hasil Pengkuran Antropometri Kelompok B1 No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Nama Florina Yulinda Rukayah Trisna Awaliah Widya Ayu Putri Andi Isna Arianti Dian Anggraeni H Irna Dewi Yuningsi Nazla M Albar Nur Sakinah Sumber: Data Primer 2012 Keterangan: J.K BB TB TL = Jenis Kelamin = Laki-laki / Perempuan = Berat Badan = Tinggi Badan = Tinggi Lutut LPi LPa Lp Lila = Lingkar Pinggang = Lingkar Panggul = Lingkar perut = Lingkar Lengan Atas J.K P P P P P P P P P Umur 19 19 19 19 19 19 19 19 19 BB (kg) 54,5 43,5 36,1 51 45,7 49,9 47,5 55,3 63,5 TB (cm) 157,3 148 146 160,5 152 148,2 163 150,4 148,5 TL (cm) 49 46,3 44,9 49,3 47,8 46,5 48,7 47 46 LPi (cm) 69,5 61 60 65,3 66 68 63,1 70,5 81 LPa (cm) 87,5 80 76 82 80,5 84,4 84 89 78 Lp (cm) 74 69 63,5 70 72 70 71 70,4 93 Tricep (cm) 25 11,8 17 22 18,5 25 19 27 25 Subscapu -lar (cm) 16 11 9 12 16 20 9 26 35 Lila (cm) 25 22,5 19,3 23,7 23,2 24,9 21,6 30,2 32

Tabel 4.2 Hasil Perhitungan Antropometri Kelompok B1


No Nama Nilai IMT Ket Nilai WHR Ket Lingkar Perut Nilai Ket % Body Fat Nilai Ket Nilai LILA Ket TB/TL Nilai Selisih

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

Florina Yulinda Rukayah Trisna Awaliah M Widya Ayu Putri Andi Isna Arianti Dian Anggraeni H Irna Dewi Yuningsi Nazla M Albar Nur Sakinah

22,02 19,85 16,93 19,79 19,78 22,71 17,85 24,44 28,79

Normal Normal Under weight Normal Normal Normal Under weight At risk Obese I

0,79 0,76 0,78 0,79 0,81 0,80 0,75 0,83 1,03

High Moderate High High High High Moderate Very High Very High

74 69 63,5 70 72 70 71 70,4 93

Normal Normal Normal Normal Normal Normal Norma l Normal Obes Sentral

31,82 21,32 23,13 27,72 28,01 34,20 24,27 39,02 43,33

HR HR HR HR HR OW HR Obese Obese

25 22,5 19,3 23,7 23,2 24,9 21,6 30,2 32

Normal KEK KEK Normal KEK Normal KEK Normal Normal

162,41 156,956 154,128 163,016 159,986 151,36 164,79 158,37 156,35

0,1 1,5 1,56 -0,46 -1,4 0,8 1,97 5,16 -5,36

Sumber: Data Primer 2012 Keterangan: IMT WHR TB/TL HR OW KEK = Indeks Massa Tubuh = Waist Hip to Rasio = Tinggi Badan Berdasarkan hasil perhitungan tinggi lutut = Healthy Range = Overweight = Kurang Energi Kronis

4.2 Pembahasan A. IMT Seperti diketahui, berat badan ideal perempuan bisa dihitung berdasarkan BMI nya, yaitu perbandingan antara berat dan tingginya. BMI adalah angka yang cukup dapat diandalkan sebagai indikator body fatness untuk sebagian besar orang, meskipun BMI tidak mengukur secara langsung kandungan lemak tubuh. Namun demikian, penelitian-penelitian terdahulu dapat menyimpulkan bahwa BMI berkorelasi secara langsung dengan lemak tubuh11. Dari hasil pengukuran diperoleh BB dan TB subjek masing-masing adalah 47,5 kg dan 163 cm. Sehingga IMT subjek adalah 17,88. Berdasarkan Riskesdas (2007), individu yang memiliki IMT < 18,50 kg/m2 tergolong kategori kurus (underweight). Dapat disimpulkan subjek tergolong kurus (underweight). Agar mendapatkan IMT normal subjek perlu memperbaiki asupan gizi yang cukup dan seimbang. Subjek perlu memperbanyak mengonsumsi makanan tinggi kalori (karbohidrat, protein, dan lemak) seperti beras, roti, daging, ikan, telur, dan susu.

B. WHR Indeks massa tubuh adalah ukuran yang umum digunakan untuk mengidentifikasi obesitas. Namun, dibandingkan dengan indeks massa tubuh, lingkar pinggang (WC) merupakan indeks yang lebih baik untuk menyelidiki kelainan metabolik seperti hipertensi dan gangguan glukosa puasa. Maffeis et al. Menyarankan bahwa WC sangat membantu dalam mendeteksi resiko metabolik dan risiko penyakit kardiovaskular pada anak-anak yang kelebihan berat badan. Meskipun peningkatan WC didefinisikan sebagai faktor risiko pada orang dewasa, penelitian tersebut

11

Mei Z dkk. 2002. Validity of body mass index compared with other body -composition screening indexes for the assessment of body fatness in children and adolescents. American Journal of Clinical Nutrition

pada anak-anak jarang dilakukan. Beberapa studi telah meneliti hubungan antara lingkar pinggul dan tekanan darah tinggi12. Dari hasil pengukuran diperoleh lingkar pinggang subjek sebesar 63,1 cm. Sedangkan lingkar panggung subjek adalah 84 cm. Sehingga dari hasil penngukuran diperoleh WHR subjek adalah 0,75. Interpretasi dari hasil pengukuran tersebut adalah moderate yang berarti belum memiliki risiko kardiovaskuler. Makanan yang dapat dikonsumsi agar terhindar dari risiko kardiovaskuler adalah oatmeal. Oatmeal kaya akan omega 3, asam lemak, folat, dan kalium. Ini super kaya serat dapat menurunkan kadar LDL (atau buruk) kolesterol dan membantu menjaga arteri tetap bersih dan sehat.

C. Lingkar Perut Lemak menyebabkan kebuncitan pada perut. Banyak penelitianpenelitian in vivo (penelitian secara langsung pada mahluk hidup baik pada hewan maupun manusia) selama lebih dari satu dekade belakangan ini menunjukkan bahwa peningkatan asam lemak bebas baik secara akut maupun secara kronis dalam darah terkait erat dengan memburuknya kerja insulin dalam tubuh. Asam lemak bebas telah diketahui menyebabkan resistensi insulin di otot dan hati yang merupakan faktor penyokong terjadinya diabetes mellitus13. Cara yang dapat dilakukan untuk memantau risiko kegemukan adalah dengan mengukur lingkar perut. Berdasarkan standar Asia wanita dengan lingkar perut 80 cm dan pria dengan lingkar perut 90 cm berarti menderita obesitas. Berdasarkan teori tersebut, maka disimpulkan bahwa subjek memiliki lingkar perut normal karena pengukuran lingkar perutnya menunjukkan angka 71 cm.

12

Choy, dkk., 2011. Waist circumference and risk of elevated blood pressure in children: a crosssectional study 13 Guenther, Boden. 2002. Interaction between free fatty acids and glucose metabolism.

Agar perut tidak buncit dan memperoleh lingkar perut tetap normal, subjek harus tetap memperhatikan gizi seimbang. Batasi konsumsi lemak trans yang terdapat pada makanan cepat saji, makanan ringan, dan gorengan.

D. % Body Fat Pengukuran lemak subkutan dengan mengukur skinfold thickness (tebal lipatan kulit), bila tebal lipatan kulit triceps > 85 persentil merupakan indikator obesitas. Epidemi obesitas sebenarnya sebuah fenomena global, yang mempengaruhi usia sekolah dan prasekolah anakanak di setidaknya dari 60 negara anggota Organisasi Kesehatan Dunia14. Berdasarkan pengukuran diperoleh tebal lemak trisep subjek adalah 19 mm dan tebal lemak subscapular adalah 9 mm.dapat disimpulkan % body fat subjek adalah 24,2% yang berarti healthy range. Agar % body fat tetap normal, subjek perlu mengonsumsi serat setiap harinya misalnya apel dan mengurangi konsumsi lemak jenuh misalnya pada junk food.

E. LILA Lingkar lengan atas mencerminkan cadangan energi, sehingga dapat mencerminkan status KEP pada balita, KEK pada ibu WUS dan ibu hamil dengan risiko bayi BBLR7. Pengukuran LILA sebenarnya hanya diperuntukan bagi wanita dan balita. LILA bagi wanita dapat memberikan arti apakah wanita itu dapat disarankan hamil atau tidak, sebab jika pangukuran LILA dilakukan pada wanita usia subur dan mendapatkan bahwa wanita tersebut KEK maka sangat beresiko untuk melahirkan bayi dengan BBLR15.

14 7

Wang, Y., & Lobstein, T. (2006). Worldwide trends in childhood overweight and obesity. Sirajuddin, Saifuddin. 2012. Penuntun praktikum penilaian status gizi. 15 Chomtho, Sirinuch., Mary S. Fewtrell, Adam Jaffe, dkk. 2006. Evaluation of Arm Antrhropometri for Assessing Pediatric Body Composition: Evidence from Health and Sich Children.

Dari hasil pengukuran, diperoleh Lila subjek sebesar 21,6 cm yang berarti subjek mengalami KEK. Untuk mengatasi masalah tersebut, subjek perlu mencukupi kebutuhan akan makanan bergizi, makan makanan yang bervariasi dan cukup mengandung kalori dan protein termasuk makanan pokok seperti nasi, ubi dan kentang setiap hari dan makanan yang mengandung proteinseperti daging, ikan, telur, kacang-kacangan atau susu sekurang-kurangnya sehari sekali. Minyak dari kelapa atau mentega dapat ditambahkan pada makanan untuk meningkatkan pasokan kalori.

F. TB/TL Perkiraan parameter farmakokinetik dan evaluasi status gizi bergantung pada pengukuran yng akurat tidak hanya berat badan tetapi juga tinggi badan. Namun, sejumlah penyakit dapat menyebabkan kesulitan dalam pengukuran tinggi badan secara akurat. Oleh karena itu, berbagai rumus berdasarkan tulang yang tidak berubah panjang telah dikembangkan. Tinggi lutut digunakan untuk individu yang 60 tahun atau tidak dapat berdiri atau memiliki kelainan bentuk tulang belakang. Dari hasil pengukuran diperoleh TB subjek adalh 163 cm dan TL subjek adalah 49,7. Dari hasil perhitungan prediksi TB subjek terhadap TL adalah 164,79 dengan selisih TB adalah 1,97. Kebutuhan kalsium paling tinggi terjadi pada masa remaja dibanding tahapan usia yang. Apabila pada masa ini kalsium yang dikonsumsi kurang dan berlangsung dalam waktu yang cukup lama, PBM (peak bone mass) tidak akan terbentuk secara optimal. Asupan kalsium yang rendah pada masa remaja berhubungan dengan berkurangnya kepadatan tulang panggul sebesar 3 persen16. Kalsium dapat diperoleh dari keju, yogurt, dan susu. Oleh karena itu subjek perlu memperhatikan asupan kalsium agar pertumbuhan tulang tetap optimal.
16

Kalkwarf HJ dkk. 2003. Milk intake during childhood and adolescence, adult bone density, and osteoporotic fractures in US women.

BAB V PENUTUP

V.I Kesimpulan Adapun kesimpulan dari percobaan ini adalah sebagai berikut. 1. Berdasarkan perhitungan Indeks Massa Tubuh (IMT), subjek tergolong underweight dengan niali IMT 17,85 2. Berdasarkan perhitungan Waist to Hip Ratio (WHR), subjek berada pada resiko moderate dengan nilai WHR 0,75. 3. Berdasarkan perhitungan persentase Body Fat (%BF), subjek berada pada klasifikasi healthy range dengan nilai 24,2%. 4. Berdasarkan pegukuran Lingkar Lengn Atas (LILA), status gizi subjek KEK dengan ukuran LILA 21,6 cm. 5. Berdasarkan pengukuran lingkar perut dengan hasil pengukuran 71 cm, responden tidak mengalami obesitas karena lingkar perutnya < 80 cm. 6. Berdasarkan pengukuran tinggi lutut untuk memprediksi tinggi badan diperoleh tinggi lutut subjek 48,7 dengan selisih tinggi badan 1,79 cm.

V.2 Saran a. Kepada Dosen Sebaiknya para dosen masuk sesuai jadwal yang telah ditetapkan. b. Kepada Asisten Sebaiknya asisten selalu bersahabat dengan praktikan sehingga proses praktikum yang akan dilakukan dapat berjalan dengan baik. c. Laboratorium Sebaiknya laboratorium diperbesar lagi agar praktikum yang dilakukan lebih maksimal dan efektif. d. Kegiatan Praktikum Sebaiknya praktikum dilakukan tepat pada waktu yang telah ditentukan.

DAFTAR PUSTAKA

1. 2.

Supariasa, I Dewa Nyoman. 2002. Penilian Status Gizi. Jakarta: EGC. Achadi, Endang L. 2012. Gizi dan Kesehatan Masyarakat. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakt UI. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. 2008. Laporan Riset Kesehatan Dasar 2007. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Tesfaye dkk. 2007. Association between body mass index and blood pressure across three populations in Africa and Asia. Journal of Human Hypertension Volume 21, 2837 hlm. Dauchet dkk.. 2007. Dietary patterns and blood pressure change over 5-y followup in the SU. Amj Clin Nut Vol 85 (6): 1650-6 hlm. Donald M. Lloyd-Jones. 2010. Defining and Setting National Goals for cardiovascular Health Promotion and Disease Reduction. American Hearth Association vol 121, 586-613 hlm. Sirajuddin, Saifuddin dkk. 2012. Penuntun Praktikum Penilaian Status Gizi. Makassar: Fakultas Kesehatan Masyarakat. Lawrence. 2007. Waist circumference and waist-to-hip ratio as predictors of cardiovascular events: meta-regression analysis of prospective studies. European Heart Journal vol 28 (7): 850-6 hlm Esmaillzadeh, dkk. 2004. Waist-to-hip ratio is a better screening measure for cardiovascular risk factors than other anthropometric indicators in Tehranian adult men. International Journal of Obesity, vol 28 (10);1325-32 hlm.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

10. Gibson, RS., 1990. Principles of Nutritional Assessment. New York: Oxford University Press.

11. Mei Z dkk. 2002. Validity of body mass index compared with other body composition screening indexes for the assessment of body fatness in children and adolescents. American Journal of Clinical Nutrition. vol. 75 (6) 978-985 hlm. 12. Choy, dkk., 2011. Waist circumference and risk of elevated blood pressure in children: a cross-sectional study. BMC Public Health, Vol. 11: 613 hlm.

13. Guenther, Boden. 2002. Interaction between free fatty acids and glucose metabolism. Current Opinion in Clinical Nutrition and Metabolic Care, vol 5 pp 545-549. 14. Wang, Y., & Lobstein, T. (2006). Worldwide trends in childhood overweight and obesity. International Journal of Pediatric Obesity, 1(1), 1125 hlm. 15. Chomtho, Sirinuch., Mary S. Fewtrell, Adam Jaffe, dkk. 2006. Evaluation of Arm Antrhropometri for Assessing Pediatric Body Composition: Evidence from Health and Sich Children. International Pediatric Research Foundation, vol 59, No. 5. 16. Kalkwarf HJ dkk. 2003. Milk intake during childhood and adolescence, adult bone density, and osteoporotic fractures in US women, vol 77(1):257-65 hlm.

LAPORAN PRAKTIKUM PENILAIAN STATUS GIZI ANTROPOMETRI (IMT, WHR, %BODY FAT, LILA, LINGKAR PERUT)

OLEH : IRNA DEWI YUNINGSI K21111011 KELOMPOK B1

PROGRAM STUDI ILMU GIZI FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2012

Lampiran Perhitungan

1. Indeks Massa Tubuh (IMT) Berat Badan Tinggi badan IMT = = = = 47,5 kg = 163 cm
Tinggi adan (m) 4 1, m kg kg 1, m

1,63 m
Tinggi adan (m)

erat adan (kg)

= 17,85 (Under weight)

2. Waist to Hip Ratio (WHR) Lingkar Pinggang (LPi) Lingkar Pnggul (LPa) WHR =
ingkar inggang ( ingkar anggul ( 6 cm

= 63,1 cm = 84 cm
i) a)

8 cm

= 0,75 (Moderate)

3. Persentase Body Fat (%BF) Tebal tricep = 19 mm = 1,0897 0,00133 ( tricep + scapula) = 1,0897 0,00133 ( 19 mm + 9`mm) = 1,0897 0,00133 (28 mm) = 1,0897 0,03724 = 1,05246 %BF = (4,76/Db) 4,28 x 100

Tebal subscapular = 9 mm Db

= (4,76/1,05246) 4,28 x 100 = ( 4,523 4,28 ) x 100 = 0,2427 x 100 = 24,27 % (Health Range)

4. Tinggi Badan Berdasarkan Tinggi Lutut Perempuan = (1,91 x TL) (0,17 x U) + 75 = (1,91 x 48,7) (0,17x 19) + 75 = 93,017 3,23 + 75 = 164,79 cm (Lebih 1,79 cm dri TB aktual)