Anda di halaman 1dari 50

KARYA TULIS ILMIAH

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN PADA PEMBELAJARAN KOOPERATIF KELAS XII AK 3 SMK NEGERI 1 LUMAJANG PADA POKOK BAHASAN GLOBALISASI TAHUN PELAJARAN 2009/2010

PENELITIAN TINDAKAN KELAS

Diajukan untuk Pengembangan Profesi dan Kenaikan Jabatan Fungsional Guru

Oleh: SUPARSIH NIP. 131 846 155

DINAS PENDIDIKAN KABUPATEN LUMAJANG SMK NEGERI 1 LUMAJANG 2010

HALAMAN PENGESAHAN

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN PADA PEMBELAJARAN KOOPERATIF KELAS XII AK 3 SMK NEGERI 1 LUMAJANG PADA POKOK BAHASAN GLOBALISASI TAHUN PELAJARAN 2009/2010

Oleh: SUPARSIH, S.Pd NIP. 131 846 155 .

Laporan Penelitian ini disahkan oleh:

Kepala SMK Negeri 1 Lumajang

Dra. SOETATIK, M.Pd NIP. 131 406 079

ii

LEMBAR PUBLIKASI

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN PADA PEMBELAJARAN KOOPERATIF KELAS XII AK 3 SMK NEGERI 1 LUMAJANG PADA POKOK BAHASAN GLOBALISASI TAHUN PELAJARAN 2009/2010

Oleh: SUPARSIH, S.Pd NIP. 131 846 155 .

Laporan Penelitian ini dipublikan di perpustakaan SMKN I Lumajang:

Kepala Perpustakaan SMK Negeri 1 Lumajang

sumiyani NIP. 131 406 079

iii

PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN PADA PEMBELAJARAN KOOPERATIF KELAS XII AK 3 SMK NEGERI 1 LUMAJANG PADA POKOK BAHASAN GLOBALISASI TAHUN PELAJARAN 2009/2010

Nama NIP

: Suparsih, S.Pd : 131 846 155 ABSTRAK

Penerapan pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran, dimana siswa belajar bersama dengan kelompok-kelompok kecil dan saling membantu satu sama lain. Kelas disusun dalam kelompok yang terdiri dari 5 atau 6 siswa dengan kemampuan yang heterogen. Maksud heterogen adalah terdiri dari campuran siswa, jenis kelamin, ras atau suku, kesenangan dan latar belakang sosial yang berbeda. Hal ini bermanfaat untuk melatih siswa menerima perbedaan pendapat dan bekerja dengan teman yang latar belakangnya berbeda. Pada model pembelajaran kooperatif diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar dapat bekerjasama dengan baik dalam kelompoknya. Pada penelitian ini menggunakan penelitian tindakan kelas dengan menggunakan tiga putaran. Setiap putaran terdiri dari empat tahap yaitu: rancangan, kegiatan dan pengamatan, refleksi, dan revisi. Sasaran penelitian ini adalah siswa Kelas XII Ak 3 SMK Negeri I Lumajang tahun pelajaran 2009/2010. Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar observasi kegiatan belajar mengajar. Dari hasil analisis dari data yang sudah didapatkan selama proses belajar mengajar yaitu pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan aktivitas siswa pada mata pelajaran PKn. Pembelajaran kooperatif memiliki dampak positif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Penerapan pembelajaran melalui pembelajaran kooperatif mempunyai pengaruh positif, yaitu dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa Kata kunci: kooperatif , prestasi belajar dan aktivitas siswa.

iv

KATA PENGANTAR Dengan mengucap syukur Alhamdulillah kehadirat Allah SWT, hanya dengan limpahan rahmat dan hidayah-Nya, penulis dapat menyelesaikan tugas penyusunan karya ilmiah dengan judul PENINGKATAN PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN PADA

PEMBELAJARAN KOOPERATIF KELAS XII AK 3 SMK NEGERI 1 LUMAJANG PADA POKOK BAHASAN ERA GLOBALISASI TAHUN PELAJARAN 2009/2010. Penulisan laporan penelitian tindakan kelas ini disusun untuk memenuhi persyaratan kenaikan golongan profesi guru dari IVa ke IVb. Penulis menyadari bahwa terselesainya laporan penelitian ini tidak lepas dari bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada : 1 Ibu Dra. Soetatik, MPd selaku Kepala SMK Negeri I Lumajang yang telah memberikan saran, kritik dan masukan guna penyempurnaan penulisan. 2 Ibu Tofan Tri Oktora, S.Pd sebagai pengamat penelitian yang telah banyak membantu memberikan saran terhadap perencanaan pembelajaran. 3 Ibu Dra. Oetik Retno Oetari sebagai pengamat penelitian yang telah banyak membantu memberikan saran terhadap perencanaan pembelajaran. 4 Ibu Suhartin S.Pd sebagai pengamat penelitian yang telah banyak membantu memberikan saran terhadap perencanaan pembelajaran. 5 Semua pihak yang telah banyak membantu, memberikan semangat, dukungan dan doa yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. v

Penulis menyadari bahwa naskah penelitian ini masih banyak kekurangan, sehingga penulis mengharapkan pembaca memberikan saran dan kritik yang bersifat membangun demi kesempurnaan naskah penelitian ini. Selain itu penulis juga berharap semoga naskah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Lumajang, Februari 2010

Penulis

vi

DAFTAR ISI

Halaman Halaman Judul ..................................................................................................... i Abstrak ............................................................................................................... iii Kata Pengantar.................................................................................................... iv DAFTAR ISI ...................................................................................................... vi DAFTAR GAMBAR ........................................................................................ viii DAFTAR TABEL .............................................................................................. ix BAB I PENDAHULUAN .................................................................................... 1 A. Latar Belakang .................................................................................. 1 B. Rumusan Masalah ............................................................................. 3 C. Tujuan Penelitian............................................................................... 3 D. Kegunaan Penelitian .......................................................................... 3 E. Definisi Operasional Variabel ............................................................ 4 BAB II KAJIAN PUSTAKA ............................................................................... 5 A. Pengertian Belajar .............................................................................. 5 B. Prestasi Belajar .................................................................................. 5 C. Indikator Keberhasilan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) ............. 6 D. Model Pembelajaran Kooperatif ......................................................... 7 E. MATERI GLOBALISASI .............................................................. 10 BAB III METODE PENELITIAN ..................................................................... 15 A. Rancangan Penelitian ................................................................ 15 B. Sasaran Penelitian ..................................................................... 17 vii

C. Perangkat Pembelajaran Dan Instrumen Penelitian .................... 18 D. Metode Pengumpulan Data .............................................................. 19 E. Teknik Analisis Data....................................................................... 19 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................... 22 A. Hasil Penelitian ......................................................................... 22 B. PEMBAHASAN ............................................................................. 31 BAB V PENUTUP ..................................................................................... 36 A. Kesimpulan ............................................................................... 36 B. Saran ........................................................................................ 36 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 38 Lampiran

viii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 3.1 Gambar 4.1. Gambar 4.2. Gambar 4.3. Gambar 4.4.

Alur PTK .................................................................................. 17 Aktivitas Siswa Selama Pembelajaran ....................................... 32 Distribusi Nilai Siswa ............................................................... 33 Prosentase Ketuntasan Belajar Siswa ........................................ 34 Nilai Rata-rata Kelas ................................................................. 35

ix

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Tabel 4.1 Tabel 4.2 Tabel 4.3 Tabel 4.4 Tabel 4.5 Tabel 4.6

Tahap-tahap Model Pembelajaran Kooperatif ................................ 10 Rekapitulasi Hasil Pangamatan pada Putaran I............................... 23 Sebaran Hasil Tes Formatif pada Putaran I .................................... 24 Rekapitulasi Hasil Pangamatan pada Putaran II ............................. 26 Selebaran Hasil Tes Formatif pada Putaran II ................................ 27 Rekapitulasi Hasil Pangamatan pada Putaran III ........................... 29 Sebaran Hasil Tes Formatif pada Putaran III.................................. 30

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan, banyak upaya telah dilakukan oleh pemerintah di Indonesia. Salah satu upaya yang dapat dirasakan secara nasional adalah perubahan kurikulum (Parawansa, 2001). Sejak tahun 1980 hingga tahun 2000, Indonesia setidaknya tiga kali telah mengalami perubahan kurikulum (Siskandar, 2003). Namun, patut diakui bahwa hasil-hasil pendidikan di Indonesia masih jauh dari harapan. Lulusan sekolah di Indonesia masih sangat rendah tingkat kompetisi dan relevansinya (Suyanto, 2001). Rendahnya tingkat kompetisi dan relevansi lulusan tersebut dapat digunakan alternatif refleksi bahwa tingkat kompetisi dan relevansi pembelajaran juga patut dipikirkan. Kompetensi peserta didik sebagai produk pembelajaran sangat menentukan tingkat kehidupannya kelak setelah mereka menjalani hidup di dunia nyata. Kompetensi itu sangat penting bagi setiap orang dalam menghadapi perkembangan teknologi yang begitu pesat. Lebih-lebih dalam menghadapi era informasi, AFTA, dan perdagangan bebas di abad pengetahuan yang banyak ditandai oleh pergeseran peran manufaktur ke sektor jasa berbasis pengetahuan, kompetensi itu merupakan salah satu faktor yang sangat menetukan kehidupan manusia. Ketika kehidupan telah berubah menjadi semakin maju dan kompleks, masalah kehidupan yang banyak diwarnai oleh fenomena dunia nyata diupayakan dapat dijelaskan secara keilmuan. Berdasarkan pemilikan kompetensi keilmuan tersebut, maka peserta didik diharapkan mampu memecahkan dan mengatasi

permasalahan kehidupan yang dihadapi dengan cara lebih baik, lebih cepat, adaptif, lentur, dan versatile. Rendahnya hasil belajar siswa disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain kurangnya motivasi dan minat siswa. Semua itu pada umumnya merupakan akibat dari pemilihan metode pembelajaran yang kurang mendukung pembelajaran secara aktif, kreatif, menarik, dan menyenangkan. Sebagai salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan rendahnya hasil belajar siswa adalah memilih metode pembelajaran yang tepat. Alternatif cara untuk mengatasi masalah yang sudah dijabarkan, penulis mengajukan model pengajaran yang mengandung hal-hal yang tersebut di atas adalah model pengajaran kooperatif. Menurut Nur (2004: 16), model pembelajaran kooperatif dapat digunakan untuk mengajarkan materi yang agak kompleks dan dapat membantu guru untuk mencapai tujuan pembelajaran yang berdimensi sosial. Pengajaran kooperatif dikembangkan berdasarkan teori belajar kognitif-konstruktivis dan teori belajar sosial Vygotsky. Menurut Vygotsky (dalam Nur, 2004: 16), ia percaya bahwa interaksi sosial dengan teman lain memacu terbentuknya ide baru dan memperkaya perkembangan intelektual siswa. Pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran, dimana siswa belajar bersama dengan kelompok-kelompok kecil dan saling membantu satu sama lain. Kelas disusun dalam kelompok yang terdiri dari 5 atau 6 siswa dengan kemampuan yang heterogen. Maksud heterogen adalah terdiri dari campuran siswa, jenis kelamin, ras atau suku, kesenangan dan latar belakang sosial yang berbeda. Hal ini bermanfaat untuk melatih siswa menerima perbedaan pendapat dan bekerja dengan teman yang latar belakangnya berbeda. Pada model

pembelajaran kooperatif diajarkan keterampilan-keterampilan khusus agar dapat bekerjasama dengan baik dalam kelompoknya. Berdasarkan hasil identifikasi permasalahan di atas, dipandang perlu untuk diadakan Penelitian Peningkatan Prestasi Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Pada Pembelajaran Kooperatif Kelas XII Ak 3 SMK Negeri 1 Lumajang Pada Pokok Bahasan Era Globalisasi Tahun Pelajaran 2009/2010.

B. Rumusan Masalah Bertolak dari latar belakang di atas maka penulis merumuskan permasalahannya sebagai berikut: Bagaimanakah pengaruh pembelajaran kooperatif terhadap prestasi belajar siswa kelas XII Ak 3 SMK Negeri 1 Lumajang pada Pokok Bahasan Era Globalisasi tahun pelajaran 2009/2010?

C. Tujuan Penelitian Sesuai dengan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk : Ingin mengetahui bagaimanakah peningkatan prestasi belajar PKn setelah diterapkan model pembelajaran kooperatif dalam pembelajaran pada siswa kelas XII Ak 3 SMK Negeri 1 Lumajang.

D. Kegunaan Penelitian Adapun maksud penulis mengadakan penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi: 1. Memberikan informasi tentang model pembelajaran yang sesuai dengan proses belajar mengajar PKn.

2. Meningkatkan prestasi dan motivasi pada pelajaran PKn. 3. Menambah pengetahuan dan wawasan penulis tentang peranan guru dalam meningkatkan pemahaman siswa belajar PKn. 4. Sebagai penentu kebijakan dalam upaya meningkatkan prestasi belajar siswa khususnya pada mata pelajaran PKn. 5. Menerapkan metode yang tepat sesuai dengan materi pelajaran PKn.

E. Definisi Operasional Variabel 1. Metode pembelajaran kooperatif : Suatu pendekatan pengajaran yang melibatkan siswa untuk bekerja berpasangpasangan dengan teman sebangku untuk menetapkan tujuan bersama. 2. Prestasi belajar adalah: Hasil belajar yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau dalam bentuk skor, setelah siswa mengikuti pelajaran. 3. Motivasi belajar adalah: Suatu proses untuk menggiatkan motif-motif menjadi perbuatan atau tingkah laku untuk memenuhi kebutuhan dan mencapai tujuan, atau keadaan dan kesiapan dalam diri individu yang mendorong tingkah lakunya untuk berbuat sesuatu dalam mencapai tujuan tertentu

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Belajar Pengertian belajar sudah banyak dikemukakan dalam kepustakaan, yang dimaksud belajar yaitu perbuatan murid dalam bidang material, formal serta fungsional pada umumnya dan bidang intelektual pada khususnya. Jadi belajar merupakan hal yang pokok. Belajar merupakan suatu perubahan pada sikap dan tingkah laku yang lebih baik, tetapi kemungkinan mengarah pada tingkah laku yang lebih buruk. Untuk dapat disebut belajar, maka perubahan harus merupakan akhir dari pada periode yang cukup panjang. Berapa lama waktu itu berlangsung sulit ditentukan dengan pasti, tetapi perubahan itu hendaklah merupakan akhir dari suatu periode yang mungkin berlangsung berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Belajar merupakan suatu proses yang tidak dapat dilihat dengan nyata proses itu terjadi dalam diri seseorang yang sedang mengalami belajar. Jadi yang dimaksud dengan belajar bukan tingkah laku yang nampak, tetapi prosesnya terjadi secara internal di dalam diri individu dalam mengusahakan memperoleh hubungan-hubungan baru.

B. Prestasi Belajar Sebelum dijelaskan pengertian mengenai prestasi belajar, terlebih dahulu akan dikemukakan tentang pengertian prestasi. Prestasi adalah hasil yang telah dicapai. Dengan demikian bahwa prestasi merupakan hasil yang telah dicapai oleh seseorang setelah melakukan sesuatu pekerjaan/aktivitas tertentu.

Jadi prestasi adalah hasil yang telah dicapai oleh karena itu semua individu dengan adanya belajar hasilnya dapat dicapai. Setiap individu belajar menginginkan hasil yang sebaik mungkin. Oleh karena itu setiap individu harus belajar dengan sebaik-baiknya supaya prestasinya berhasil dengan baik. Sedang pengertian prestasi juga ada yang mengatakan prestasi adalah kemampuan. Kemampuan disini berarti yang dimampui individu dalam mengerjakan sesuatu. a. Pedoman Cara Belajar Untuk memperoleh prestasi/hasil belajar yang baik harus dilakukan dengan baik dan pedoman cara yang tepat. Setiap orang mempunyai cara atau pedoman sendiri-sendiri dalam belajar. Pedoman/cara yang satu cocok digunakan oleh seorang siswa, tetapi mungkin kurang sesuai untuk anak/siswa yang lain. Hal ini disebabkan karena mempunyai perbedaan individu dalam hal kemampuan, kecepatan dan kepekaan dalam menerima materi pelajaran. Oleh karena itu tidaklah ada suatu petunjuk yang pasti yang harus dikerjakan oleh seorang siswa dalam melakukan kegiatan belajar. Tetapi faktor yang paling menentukan keberhasilan belajar adalah para siswa itu sendiri. Untuk dapat mencapai hasil belajar yang sebaik-baiknya harus mempunyai kebiasaan belajar yang baik.

C. Indikator Keberhasilan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Indikator tingkat keberhasilan yang menunjukkan berhasil atau tidaknya Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) bidang studi PKn yang terimplementasikan pada peningkatan pemahaman siswa dengan menggunakan strategi belajar elaborasi adalah sebagai berikut:

a) Peningkatan Kemampuan dan Prestasi Belajar Siswa Peningkatan kemampuan dan pemahaman pada materi pembelajaran bidang studi PKn siswa secara kualitas terlihat dalam kemampuan melakukan kegiatankegiatan praktik dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) bidang studi PKn di dalam kelas maupun di luar kelas. Tingkat kemampuan dan pemahaman pada materi pembelajaran siswa dalam aktifitas praktik dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) bidang studi PKn memudahkan pemahaman dan penguasaan siswa. b) Tingkat Efisiensi Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) Efisiensi proses interaksi antara siswa dan guru dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) bidang studi PKn yang berpusat pada peningkatan prestasi belajar dengan menggunakan strategi belajar elaborasi pada siswa ditandai dengan adanya peningkatan frekuensi interaksi pembelajaran dalam bidang studi PKn itu sendiri. Tingkat interaksi tersebut terimplementasikan dengan jelas pada kegiatan praktik maupun paparan uraian materi pembelajaran yang lengkap dan mudah dipahami oleh siswa.

D. Model Pembelajaran Kooperatif Menurut Jacobsen (2009), Pembelajaran Kooperatif atau Cooperative Learning merupakan istilah umum untuk sekumpulan strategi pengajaran yang dirancang untuk mendidik kerja sama kelompok dan interaksi antarsiswa. Tujuan pembelajaran kooperatif setidak-tidaknya meliputi tiga tujuan pembelajaran, yaitu hasil belajar akademik, penerimaan terhadap keragaman, dan pengembangan keterampilan sosial.

Model pembelajaran kooperatif berlandaskan pada teori belajar Vygotsky yang menekankan pada interaksi sosial sebagai sebuah mekanisme untuk mendukung perkembangan kognitif (Eggen, P. & Kauchak, D. 2010). Selain itu, Model pembelajaran kooperatif ini juga didukung oleh teori belajar information processing dan cognitive theory of learning (Gunter, M. A. dkk. 2007). Dalam pelaksanaannya metode ini membantu siswa untuk lebih mudah memproses informasi yang diperoleh, karena proses encoding akan didukung dengan interaksi yang terjadi dalam Pembelajaran Kooperatif. a. Unsur-Unsur Dasar Pembelajaran Kooperatif a) Para siswa memiliki tanggung jawab terhadap tiap siswa lain dalam kelompoknya, disamping tanggung jawab terhadap diri mereka sendiri, dalam mempelajari materi yang dihadapi. b) Para siswa harus berpandangan bahwa mereka semuanya memiliki tujuan yang sama. c) Para siswa harus berbagi tugas dan berbagi tanggung jawab sama besarnya diantara para anggota kelompok. d) Para siswa akan diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh terhadap evaluasi seluruh anggota kelompok. e) Para siswa akan diminta mempertanggung-jawabkan secara individual materi yang ditangani dalam kelompok kooperatif. (Nur, M., dkk. 1996: 1)

b. Tujuan Pembelajaran Kooperatif Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidaktidaknya tiga tujuan pembelajaran yang disarikan dalam Ibrahim, dkk (2000:7-8) sebagai berikut: a. Meskipun pembelajaran kooperatif meliputi berbagai macam tujuan sosial, tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa dalam tugas-tugas akademik. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini unggul dalam membantu siswa memahami konsep-konsep yang sulit. Model struktur penghargaan kooperatif juga telah dapat meningkatkan penilaian siswa pada belajar akademik dan perubahan norma yang berhubungan dengan hasil belajar. b. Penerimaan yang luas terhadap orang yang berbeda menurut ras, budaya, kelas sosial, kemampuan, maupun ketidakmampuan. Pembelajaran kooperatif memberikan peluang kepada siswa yang berbeda latarbelakang dan kondisi untuk bekerja saling bergantung satu sama lain atas tugas-tugas bersama, dan melalui penggunaan struktur penghargaan kooperatif, belajar untuk

menghargai satu sama lain. c. Tujuan penting ketiga dari pembelajaran kooperatif adalah mengajarkan kepada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi. Keterampilan ini penting karena banyak anak muda dan orang dewasa masih kurang dalam keterampilan sosial.

c. Langkah-langkah Model Pembelajaran Kooperatif Terdapat enam langkah utama atau tahapan dalam model pembelajaran kooperatif secara umum (Ibrahim, dkk, 2000:10). Keenam tahap pembelajaran kooperatif tersebut dirangkum dalam tabel berikut :

Tabel 2.1. Tahap-tahap Model Pembelajaran Kooperatif Tahap-tahap Tahap 1 Menyampaikan tujuan pembelajaran dan motivasi siswa Tahap 2 Menyajikan informasi Kegiatan Guru Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar.

Guru menyampaikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan. Guru menjelaskan pada siswa bagaimana Tahap 3 Mengorganisasikan siswa caranya membentuk kelompok belajar dan ke dalam kelompokmembantu setiap kelompok agar kelompok belajar melakukan transit secara efisien. Guru membimbing kelompok-kelompok Tahap 4 Membimbing kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan bekerja dan belajar tugas. Guru mengevaluasi hasil belajar tentang Tahap 5 Evaluasi materi yang telah dipelajari atau masingmasing kelompok mempresentasikan hasil kerjanya. Guru mencari cara-cara untuk menghargai Tahap 6 Memberikan penghargaan baik upaya ataupun hasil belajar individu dan kelompok. (Nur dkk, 2000: 8)

E. MATERI GLOBALISASI 1. Pengertian Menurut asal katanya, kata "globalisasi" diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Achmad Suparman menyatakan Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah. Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar definisi kerja (working

10

definition), sehingga bergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat. (wikipedia.com, 2008) Di sisi lain, ada yang melihat globalisasi sebagai sebuah proyek yang diusung oleh negara-negara adikuasa, sehingga bisa saja orang memiliki pandangan negatif atau curiga terhadapnya. Dari sudut pandang ini, globalisasi tidak lain adalah kapitalisme dalam bentuk yang paling mutakhir. Negara-negara yang kuat dan kaya praktis akan mengendalikan ekonomi dunia dan negara-negara kecil makin tidak berdaya karena tidak mampu bersaing. Sebab, globalisasi cenderung berpengaruh besar terhadap

perekonomian dunia, bahkan berpengaruh terhadap bidang-bidang lain seperti budaya dan agama. Theodore Levitte merupakan orang yang pertama kali menggunakan istilah Globalisasi pada tahun 1985. Scholte melihat bahwa ada beberapa definisi yang dimaksudkan orang dengan globalisasi:

Internasionalisasi: Globalisasi diartikan sebagai meningkatnya hubungan internasional. Dalam hal ini masing-masing negara tetap mempertahankan identitasnya masing-masing, namun menjadi semakin tergantung satu sama lain.

Liberalisasi: Globalisasi juga diartikan dengan semakin diturunkankan batas antar negara, misalnya hambatan tarif ekspor impor, lalu lintas devisa, maupun migrasi.

Universalisasi:

Globalisasi

juga

digambarkan

sebagai

semakin

tersebarnya hal material maupun imaterial ke seluruh dunia. Pengalaman di satu lokalitas dapat menjadi pengalaman seluruh dunia.

Westernisasi: Westernisasi adalah salah satu bentuk dari universalisasi dengan semakin menyebarnya pikiran dan budaya dari barat sehingga mengglobal.

11

Hubungan transplanetari dan suprateritorialitas: Arti kelima ini berbeda dengan keempat definisi di atas. Pada empat definisi pertama, masingmasing negara masih mempertahankan status ontologinya. Pada pengertian yang kelima, dunia global memiliki status ontologi sendiri, bukan sekadar gabungan negara-negara. (wikipedia.com, 2008)

2. Ciri globalisasi Berikut ini beberapa ciri yang menandakan semakin berkembangnya fenomena globalisasi di dunia.

Perubahan dalam Konstantin ruang dan waktu. Perkembangan barangbarang seperti telepon genggam, televisi satelit, dan internet menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi demikian cepatnya, sementara melalui pergerakan massa semacam turisme memungkinkan kita merasakan banyak hal dari budaya yang berbeda.

Pasar dan produksi ekonomi di negara-negara yang berbeda menjadi saling bergantung sebagai akibat dari pertumbuhan perdagangan internasional, peningkatan pengaruh perusahaan multinasional, dan dominasi organisasi semacam World Trade Organization(WTO).

Peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media massa (terutama televisi, film, musik, dan transmisi berita dan olah raga internasional). saat ini, kita dapat mengonsumsi dan mengalami gagasan dan pengalaman baru mengenai hal-hal yang melintasi beraneka ragam budaya, misalnya dalam bidang fashion, literatur, dan makanan.

Meningkatnya masalah bersama, misalnya pada bidang lingkungan hidup, krisis multinasional, inflasi regional dan lain-lain. Kennedy dan Cohen menyimpulkan bahwa transformasi ini telah

membawa kita pada globalisme, sebuah kesadaran dan pemahaman baru bahwa dunia adalah satu. Giddens menegaskan bahwa kebanyakan dari kita sadar bahwa sebenarnya diri kita turut ambil bagian dalam sebuah dunia yang harus berubah tanpa terkendali yang ditandai dengan selera dan rasa ketertarikan akan hal sama, perubahan dan ketidakpastian, serta kenyataan yang mungkin terjadi. Sejalan dengan itu, Peter Drucker menyebutkan globalisasi sebagai zaman transformasi sosial.

12

3. Teori globalisasi Cochrane dan Pain menegaskan bahwa dalam kaitannya dengan globalisasi, terdapat tiga posisi teoritis yang dapat dilihat, yaitu:

Para globalis percaya bahwa globalisasi adalah sebuah kenyataan yang memiliki konsekuensi nyata terhadap bagaimana orang dan lembaga di seluruh dunia berjalan. Mereka percaya bahwa negara-negara dan kebudayaan lokal akan hilang diterpa kebudayaan dan ekonomi global yang homogen. meskipun demikian, para globalis tidak memiliki pendapat sama mengenai konsekuensi terhadap proses tersebut.
Para globalis positif dan

optimistis menanggapi dengan baik

perkembangan semacam itu dan menyatakan bahwa globalisasi akan menghasilkan masyarakat dunia yang toleran dan bertanggung jawab.
Para globalis pesimis berpendapat bahwa globalisasi adalah sebuah

fenomena negatif karena hal tersebut sebenarnya adalah bentuk penjajahan barat (terutama Amerika Serikat) yang memaksa sejumlah bentuk budaya dan konsumsi yang homogen dan terlihat sebagai sesuatu yang benar dipermukaan. Beberapa dari mereka kemudian membentuk kelompok untuk menentang globalisasi (antiglobalisasi).

Para tradisionalis tidak percaya bahwa globalisasi tengah terjadi. Mereka berpendapat bahwa fenomena ini adalah sebuah mitos semata atau, jika memang ada, terlalu dibesar-besarkan. Mereka merujuk bahwa

kapitalisme telah menjadi sebuah fenomenainternasional selama ratusan tahun. Apa yang tengah kita alami saat ini hanyalah merupakan tahap lanjutan, atau evolusi, dari produksi dan perdagangan kapital.

Para transformasionalis berada di antara para globalis dan tradisionalis. Mereka setuju bahwa pengaruh globalisasi telah sangat dilebih-lebihkan oleh para globalis. Namun, mereka juga berpendapat bahwa sangat bodoh jika kita menyangkal keberadaan konsep ini. Posisi teoritis ini berpendapat bahwa globalisasi seharusnya dipahami sebagai "seperangkat hubungan yang saling berkaitan dengan murni melalui sebuah kekuatan, yang sebagian besar tidak terjadi secara langsung". Mereka menyatakan

13

bahwa proses ini bisa dibalik, terutama ketika hal tersebut negatif atau, setidaknya, dapat dikendalikan. 4. Dampak globalisasi Dampak positif globalisasi antara lain:

Mudah memperoleh informasi dan ilmu pengetahuan Mudah melakukan komunikasi Cepat dalam bepergian (mobilitas tinggi) Menumbuhkan sikap kosmopolitan dan toleran Memacu untuk meningkatkan kualitas diri Mudah memenuhi kebutuhan

Dampak negatif globalisasi antara lain:


Informasi yang tidak tersaring Perilaku konsumtif Membuat sikap menutup diri, berpikir sempit Pemborosan pengeluaran dan meniru perilaku yang buruk Mudah terpengaruh oleh hal yang tidak sesuai dengan kebiasaan atau kebudayaan suatu negara (Wikipedia, 2010)

14

BAB III METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah metode yang ditempuh oleh peneliti dalam melakukan penelitian dan analisis data hasil penelitian. Metode penelitian yang dimaksud berisi tentang rancangan penelitian, sasaran penelitian, kegiatan yang dilaksanakan oleh peneliti untuk mengambil data dan langkahlangkah peneliti dalam melakukan analisis terhadap data yang diperoleh. Untuk lebih jelasnya, berikut dikemukakan metode pada penelitian ini: A. Rancangan Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Dalam Wiriaatmadja (2005: 11), Hoopkins menjelaskan Penelitian Tindakan Kelas sebagai penelitian yang mengkombinasikan prosedur penelitian dengan tindakan substantif, suatu tindakan yang dilakukan dalam disiplin inkuiri, atau suatu usaha seseorang untuk memahami apa yang terjadi, sambil terlibat dalam sebuah proses perbaikan dan perubahan. Sedangkan menurut Raka, T., & Kardiawan, T. H. (1998: 5), Penelitian Tindakan Kelas didefinisikan sebagai suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan, yang dilakukan untuk meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakan dalam melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan, serta memperbaiki kondisi di mana pembelajaran tersebut dilakukan. Menurut Arikunto (2002: 82) Penelitian Tindakan adalah penelitian tentang hal-hal yang terjadi di masyarakat yang bersangkutan.

15

Tujuan Penelitian Tindakan Kelas harus memenuhi beberapa prinsip sebagai berikut: 1. Permasalahan atau topik yang dipilih harus memenuhi kriteria yaitu benarbenar nyata dan penting, menarik perhatian dan mampu ditangani serta dalam jangkauan kewenangan peneliti untuk melakukan perubahan. 2. Kegiatan penelitian, baik intervensi maupun pengamatan yang dilakukan tidak boleh sampai mengganggu atau menghambat kegiatan utama. 3. Jenis intervensi yang dicobakan harus efektif dan efisien artinya terpilih dengan tepat sasaran dan tidak memboroskan waktu, dana dan tenaga. 4. Metodologi yang digunakan harus jelas, rinci dan terbuka, setiap langkah dari tindakan yang dirumuskan dengan tegas sehingga orang yang berminat terhadap penelitian tersebut dapat mengecek setiap hipotesis dan pembuktiannya. 5. Kegiatan penelitian diharapkan dapat merupakan proses kegiatan yang berkelanjutan (on-going) mengingat bahwa pengembangan dan perbaikan terhadap kualitas tindakan memang tidak dapat berhenti tetapi menjadi tantangan sepanjang waktu (Arikunto, 2002: 82:82) Sesuai dengan jenis penelitian yang dipilih yaitu penelitian tindakan, maka penelitian ini menggunakan model penelitian tindakan dari Kemmis dan Taggart (dalam Arikunto, 2002: 83), yaitu berbentuk spiral dari siklus yang satu ke siklus yang berikutnya. Setiap siklus meliputi planning (rencana), action (tindakan), observasi (pengamatan) dan reflection (refleksi). Langkah pada siklus berikutnya adalah perencanaan yang sudah direvisi, tindakan, pengamatan dan refleksi. Sebelum masuk pada siklus I dilakukan tindakan pendahuluan yang berupa

16

identifikasi permasalahan. Siklus spiral dari tahap-tahap penelitian tindakan kelas dapat di lihat pada gambar berikut:

Refleksi

Rencana awal/rancangan

Tindakan/ Observasi Rencana yang direvisi Siklus Selanjutnya Gambar 3.1 Alur Penelitian Tindakan Kelas

B. Sasaran Penelitian Penelitian Tindakan Kelas (PTK) meningkatkan pemahaman materi Globalisasi siswa pada bidang studi PKn dengan model pembelajaran kooperatif ini dilaksanakan di Kelas XII Ak 3 SMK Negeri I Lumajang. Tempat penelitian ini dipilih oleh peneliti berdasarkan pada pertimbangan bahwa: a. Siswa di kelas tersebut memiliki prestasi belajar bidang studi PKn yang relatif kurang dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di sekolah b. Kondisi tingkat kemampuan dan keterampilan pemahaman dan penguasaan materi pembelajaran bidang studi PKn siswa juga menunjukkan tingkatan yang rendah

17

c. Peneliti merupakan salah seorang pengajar dan bertanggung jawab penuh pada kelancaran dan hasil Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) pada sekolah tersebut sehingga merasa mempunyai tanggung jawab secara profesional dan moral.

C. Perangkat Pembelajaran Dan Instrumen Penelitian 1. Perangkat Pembelajaran a. Silabus Silabus adalah garis-garis besar, ringkasan, ikhtiar, atau pokokpokok isi atau materi pengajaran. b. Rencana Pelajaran Rencana pelajaran adalah salah satu perangkat pengajaran yang dibuat oleh seorang guru dalam mengajar, yang meliputi Standar Kompetensi, Kompetensi Dasar, Indikator hasil belajar, serta kegiatan belajar mengajar yang berisikan pendahuluan, kegiatan inti dan penutup. 2. Instrumen Penelitian Untuk memperoleh data dalam penelitian, maka instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : a. Lembar Pengamatan Lembar pengamatan ini digunakan untuk mengamati aktivitas siswa dan guru, keterampilan kooperatif yang dilatihkan, skor perkembangan siswa serta penilaian kinerja siswa selama proses

18

belajar mengajar. Yang bertindak sebagai pengamat adalah guru kelas dan teman mahasiswa. b. Tes Lembar soal tes digunakan untuk mengukur penguasaan konsep siswa pada materi perpindahan kalor. Bentuk tes yang digunakan adalah tes obyektif bentuk pilihan ganda dengan 5 kemungkinan jawaban.

D. Metode Pengumpulan Data Pengumpulan data pada penelitian ini akan diperoleh tiga hal, yakni: 1. Data keaktifan siswa diperoleh dari hasil pengamatan selama kegiatan pengajaran berlangsung dengan pendekatan pengajaran kooperatif pada masing-masing putaran. 2. Data Prestasi belajar siswa diperoleh dari tes akhir masing-masing putaran 3. Data respon siswa diperoleh dari pengisian angket pada akhir penelitian ini.

E. Teknik Analisis Data Untuk mengetahui keefektifan kegiatan pembelajaran perlu diadakan analisa data. Pada penelitian ini menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif, yaitu suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan untuk mengetahui prestasi belajar yang dicapai siswa juga untuk memperoleh respon siswa terhadap kegiatan pembelajaran serta aktivitas siswa selama proses pembelajaran.

19

Untuk menganalisis tingkat keberhasilan atau persentase keberhasilan siswa setelah proses belajar mengajar setiap putarannya dilakukan dengan cara memberikan evaluasi berupa soal tes tertulis pada setiap akhir putaran. Analisis ini dihitung dengan menggunakan statistik sederhana yaitu: 3. Data aktifitas siswa Data aktifitas siswa diamati oleh dua orang pengamat sehingga skor di ambil rata-ratanya yaitu dengan rumus: = Dimana: = skor pengamat 1 = skor pengamat 2 = skor rata-rata 4. Untuk menilai ulangan atau tes formatif Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa, yang selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dapat dirumuskan: + 2

X N
: X = Nilai rata-rata

Dengan

X = Jumlah semua nilai siswa N = Jumlah siswa

5. Prestasi Belajar Siswa Prestasi Belajar siswa dapat diukur dengan ketuntasan belajar siswa. Ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu ketuntasan klasikal dan perorangan.

20

Berdasarkan kurikulum 2004, seseorang dapat dikatakan tuntas belajar apabila mencapai nilai 70% atau nilai 70. Sedangkan ketuntasan Belajar klasikal adalah jumlah daya serap materi dalam satu kelas. Suatu kelas dapat dikatakan tuntas apabila telah mencapai 85% siswa yang tuntas didalam kelas. Pada penelitian ini nilai ketuntasan belajar diambil dari nilai KKM sekolah. KKM adalah kriteria ketuntasan minimum. Besarnya KKM di SMK Negeri 1 Lumajang untuk pelajaran PKn yaitu 75.

21

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian Setelah melalui serangkaian tahapan proses penelitian, didapatkan seperangkat data yang dapat dianalisis untuk mengetahui tingkat keberhasilan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) meningkatkan pemahaman materi

pembelajaran Globalisasi pada siswa dalam bidang studi PKn dengan menggunakan pembelajaran kooperatif pada siswa Kelas XII Ak 3 SMK Negeri I Lumajang. 1. Putaran I a. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti mempersiapkan pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 1, soal tes formatif 1 dan alat-alat pengajaran yang mendukung serta lembar pengamatan pembelajaran kooperatif . b. Kegiatan Belajar Mengajar Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan pada tanggal 6 Februari 2010 di kelas XII Ak 3 SMK Negeri 1 Lumajang dengan jumlah siswa 38 siswa. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran yang telah dipersiapkan. Pengamatan aktifitas siswa selama pembelajaran berlangsung disesuaikan dengan keterampilan kooperatif. Lembar Pengamatan yang disusun sesuai keterampian kooperatif yaitu meliputi Berfikir kritis, aktif berpendapat, menyelesaikan tugas tepat waktunya, menghargai pendapat

22

teman, kerjasama dengan pasangan, presentasi yang baik, mampu menghargai waktu. Selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, aktifitas siswa diamati oleh 3 orang pengamat. Masing-masing pengamat bertugas mencatat semua kegiatan selama kegiatan belajar-mengajar berlangung. Hasil pengamatan kepada siswa selama proses pembelajaran berlangsung yang dilakukan pada siklus I, diperoleh dari lembar pengamatan yaitu dituliskan sebagai berikut:

Tabel 4.1. Rekapitulasi Hasil Pangamatan Putaran I


No 1 2 3 4 5 6 7 Berfikir kritis Aktif berpendapat Menyelesaikan tugas dengan tepat Menghargai pendapat teman Kerjasama dengan pasangan Presentasi yang baik Mampu menghargai waktu Uraian pengamat 1 1 2 2 2 2 1 1 pengamat 2 1 2 2 2 2 2 1 pengamat 3 1 2 2 2 3 2 1 ratarata 1.00 2.00 2.00 2.00 2.33 1.67 1.00

Hasil pengamatan yang diperoleh selama proses kegiatan belajar mengajar belangsung menunjukkan aktifitas siswa masih rendah. Aktifitas siswa mendapat skor antara 1 sampai dengan 2. c. Prestasi Belajar Siswa Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif I dengan tujuan untuk mengetahui keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Adapun data hasil penelitian pada siklus I adalah sebagai berikut:

23

Tabel 4.2 Sebaran Hasil Tes Formatif pada Putaran I


Interval 50-59 60-69 70-79 80-89 90-100 Jumlah siswa Nilai Tengah 55 65 75 85 95 Frekuensi 0 8 19 8 3 38

Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa dengan menerapkan pembelajaran melalui pembelajaran kooperatif diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 73,42 dan ketuntasan belajar mencapai 79%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus pertama secara klasikal siswa belum tuntas belajar, karena siswa yang memperoleh nilai 75 hanya sebesar 79% lebih kecil dari persentase ketuntasan yang dikehendaki yaitu sebesar 85%. Hal ini menunjukkan siswa masih belum bisa menyerap materi pelajaran pada pembelajaran kooperatif . d. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut: 1. Perlu lebih intensif dalam pemotivasian dan penyampaian tujuan pembelajaran. 2. Perlu lebih efektif dalam pengelolaan waktu 3. Siswa kurang aktif selama pembelajaran berlangsung

24

e. Revisi Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar pada siklus I ini masih terdapat kekurangan, sehingga perlu adanya revisi untuk dilakukan pada siklus berikutnya. 1. Guru perlu lebih terampil dalam memotivasi siswa dan lebih jelas dalam menyampaikan tujuan pembelajaran. Dimana siswa diajak untuk terlibat langsung dalam setiap kegiatan yang akan dilakukan. 2. Guru perlu mendistribusikan waktu secara baik dengan

menambahkan informasi-informasi yang dirasa perlu dan memberi catatan. 3. Guru harus lebih terampil dan bersemangat dalam memotivasi siswa sehingga siswa bisa lebih antusias.

2. Putaran II a. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti merevisi perangkat pembelajaran agar siswa dapat menyerap materi pelajaran. Pada tahap ini peneliti mempersiapkan pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 2, soal tes formatif 2 dan alat-alat pengajaran yang mendukung serta lembar pengamatan pembelajaran kooperatif . b. Kegiatan Belajar Mengajar Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus II dilaksanakan pada tanggal 13 Februari 2010 di kelas XII Ak 3 dengan jumlah siswa 38

25

siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan

memperhatikan revisi pada siklus I, sehingga kesalahan atau kekuarangan pada siklus I tidak terulang lagi pada siklus II. Hasil pengamatan yang dilakukan pada siklus II, diperoleh dari lembar pengamatan aktifitas siswa yaitu:

Tabel 4.3. Rekapitulasi Hasil Pangamatan pada Putaran II


No 1 2 3 4 5 6 7 Berfikir kritis Aktif berpendapat Menyelesaikan tugas dengan tepat Menghargai pendapat teman Kerjasama dengan pasangan Presentasi yang baik Mampu menghargai waktu Uraian pengamat 1 1 3 3 4 2 3 2 pengamat 2 2 2 2 3 3 3 3 pengamat 3 2 2 2 3 3 2 2 ratarata 1.67 2.33 2.33 3.33 2.67 2.67 2.33

Hasil

yang

diperoleh

oleh

pengamat

selama

pembelajaran

berlangsung pada Putaran II terjadi peningkatan dibandingkan dengan kegiatan pada Putaran I. Aktifitas siswa menghargai pendapat teman memiliki skor yang baik. c. Prestasi Belajar Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif II dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif II. Adapun data hasil penelitian pada Putaran II adalah sebagai berikut:

26

Tabel 4.4 Selebaran Hasil Tes Formatif pada Putaran II


Interval 50-60 60-70 70-80 80-90 90-100 Nilai tengah 55 65 75 85 95 Jumlah siswa Frekuensi 0 1 8 18 11 38

Dari tabel di atas diperoleh nilai rata-rata prestasi belajar siswa adalah 83.45 dan ketuntasan belajar mencapai 97% atau ada 37 siswa dari 38 siswa sudah tuntas belajar. Hasil ini menunjukkan bahwa pada Putaran II ini ketuntasan belajar secara klasik telah mengalami peningkatan sedikit lebih baik dari Putaran I. Adanya peningkatan hasil belajar siswa ini karena setelah guru menginformasikan bahwa setiap akhir pelajaran akan selalu diadakan tes sehingga pada pertemuan berikutnya siswa lebih termotivasi untuk belajar. Selain itu siswa juga sudah mengerti tujuan yang dimaksud dan diinginkan guru dengan menerapkan pembelajaran kooperatif. d. Refleksi Dalam pelaksanaan kegiatan belajar diperoleh informasi dari hasil pengamatan sebagai berikut: 1. Memotivasi siswa 2. Membimbing siswa merumuskan kesimpulan/menemukan konsep

27

3. Pengelolaan waktu e. Revisi Pelaksanaan kegiatan belajar pada Putaran II ini masih terdapat kekurangan-kekurangan. Maka perlu adanya revisi untuk dilaksanakan pada Putaran II antara lain: Guru dalam memotivasi siswa hendaknya lebih baik lagi dan lebih bervariatif. Guru harus lebih sabar dalam membimbing siswa dalam mencari jawaban dari masalah yang diajukan. Guru harus menyelami dunia siswa sehingga siswa tidak merasa sungkan dan menjadi berani berpendapat.

3. Putaran III a. Tahap Perencanaan Pada tahap ini peneliti merevisi perangkat pembelajaran agar siswa dapat menyerap materi pelajaran. Pada tahap ini peneliti mempersiapkan pembelajaran yang terdiri dari rencana pelajaran 3, soal tes formatif 3 dan alat-alat pengajaran yang mendukung serta lembar pengamatan pembelajaran kooperatif . b. Kegiatan Belajar Mengajar Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk Putaran III

dilaksanakan pada tanggal 20 Februari 2010 di kelas XII Ak 3 dengan jumlah siswa 38 siswa. Dalam hal ini peneliti bertindak sebagai pengajar. Adapun proses belajar mengajar mengacu pada rencana pelajaran dengan

28

memperhatikan revisi pada Putaran II, sehingga kesalahan atau kekurangan pada Putaran II tidak terulang lagi pada Putaran III. Pengamatan (observasi) dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar. Hasil pengamatan yang dilakukan pada Putaran III, diperoleh dari lembar pengamatan aktifitas siswa yaitu:

Tabel 4.5. Rekapitulasi Hasil Putaran III


No 1 2 3 4 5 6 7 Berfikir kritis Aktif berpendapat Menyelesaikan tugas dengan tepat Menghargai pendapat teman Kerjasama dengan pasangan Presentasi yang baik Mampu menghargai waktu Uraian pengamat 1 2 3 3 4 4 3 2 pengamat 2 2 2 2 3 3 3 3 pengamat 3 3 3 3 3 3 3 3 ratarata 2.33 2.67 2.67 3.33 3.33 3.00 2.67

Hasil pengamatan diskusi diperoleh bahwa diskusi berjalan secara baik dan lancar karena setiap siswa sudah berperan aktif untuk berpartisipasi sehingga diskusi terasa sangat menarik dan mencapai hasil akhir yang memuaskan. c. Prestasi Belajar Pada akhir proses belajar mengajar siswa diberi tes formatif III dengan tujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dalam proses belajar mengajar yang telah dilakukan. Instrumen yang digunakan adalah tes formatif III. Adapun data hasil penelitian pada Putaran III adalah sebagai berikut:

29

Tabel 4.6 Sebaran Hasil Tes Formatif pada Putaran III


Interval 50-60 60-70 70-80 80-90 90-100 Nilai tengah 55 65 75 85 95 Jumlah siswa Frekuensi 0 0 0 9 29 38

Berdasarkan tabel di atas diperoleh nilai rata-rata tes formatif sebesar 91.74 dan semua siswa tuntasan belajar. Hasil pada Putaran III ini mengalami peningkatan lebih baik dari Putaran II. Adanya peningkatan hasil belajar pada Putaran III ini dipengaruhi oleh adanya peningkatan kemampuan guru dalam menerapkan pembelajaran melalui pembelajaran kooperatif sehingga siswa lebih mudah dalam memahami materi yang telah diberikan.

d. Refleksi Pada tahap ini akan dikaji apa yang telah terlaksana dengan baik maupun yang masih kurang baik dalam proses belajar mengajar dengan penerapan pembelajaran melalui pembelajaran kooperatif . Dari data-data yang telah diperoleh dapat diuraikan sebagai berikut: Selama proses belajar mengajar guru telah melaksanakan semua pembelajaran dengan baik. Meskipun ada beberapa aspek yang

30

belum sempurna, tetapi persentase pelaksanaannya untuk masingmasing aspek cukup besar Berdasarkan data hasil pengamatan diketahui bahwa siswa aktif selama proses belajar berlangsung. Kekurangan pada Putaran-Putaran sebelumnya sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi lebih baik.

B. PEMBAHASAN 1. Aktivitas Siswa Aktivitas siswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung dari putaran I sampai putaran III dapat ditunjukkan dalam bentuk grafik pada Gambar 4.1. Warna biru menunjukkan kegiatan selama pembelajaran pada putaran I, warna merah menujukkan kegiatan selama pembelajaran pada putaran II dan warna hijau menunjukkan kegiatan selama pembelajaran pada putaran III.

31

Aktivitas Siswa
4

3 I
skor

II III

0 0 1 2 3 4 pengamatan 5 6 7 8

Gambar 4.1. Aktivitas Siswa Selama Pembelajaran

Dengan melihat grafik pada Gambar 4.1, semua aktivitas siswa selama mengikuti kegiatan belajar mengajar penunjukkan peningkatan. Pada putaran I pertama siswa masih memiliki aktifitas yang rendah yaitu ditunjukkan skor antara 1 sampai dengan 2. Pada putaran II dan putaran terakhir yaitu putaran III, aktifitas siswa didalam kelas sangat bagus. Aktifitas siswa yang menunjukkan grafik yang sangat bagus yaitu mampu menghargai waktu. Dari uraian tersebut maka dapat ditarik suatu kesimpulan pembelajaran dengan model kooperatif sangat mempengaruhi terhadap aktivitas siswa. 2. Prestasi Belajar Siswa Hasil ulangan siswa setelah berakhirnya kegiatan pembelajaran mulai dari putaran I sampai putaran III dapat dipaparkan dalam bentuk grafik pada Gambar 4.2.

32

Distribusi Nilai
30 25 20 15 10 5 0 55 65 75 nilai tengah 85 95

putaran I putaran II putaran III

frekuensi

Gambar 4.2. Distribusi Nilai Siswa Dari grafik pada Gambar 4.2, menunjukkan terjadi pergeseran distribusi nilai siswa atau hasil belajar siswa dari putaran I sampai putaran III. Pada putaran I masih ada 8 siswa pada interval nilai 60-70 dan frekuensi terbesar yaitu pada rentang nilai 70-80. Pada putaran II terjadi peningkatan prestasi belajar siswa yaitu 1 siswa pada interval nilai 60-70 dan frekuensi terbesar yaitu pada rentang nilai 70-80. Pada putaran terakhir yaitu putaran III peningkatan prestasi belajar siswa sangat tampak yaitu semua siswa tuntas dan frekuensi tertinggi pada interval 90-100. Pergeseran nilai akan berakibat pada pergeseran ketuntasan belajar siswa. Ketuntasan belajar siswa dapat dilihat grafik pada Gambar 4.3. Warna kuning menunjukkan prosentase ketuntasan belajar siswa mulai dari kegiatan belajar mengajar putaran I sampai proses kegiatan belajar mengajar putaran III.

33

Ketuntasan
21% 3% 0%

100% 80%
prosentase

60% 40% 20% 0% I

79%

97%

100%

tidak tuntas tuntas

II putaran

III

Gambar 4.3. Prosentase Ketuntasan Belajar Siswa Sedangkan nilai rata-rata pada tiap putaran dapat dilihat pada Gambar 4.4. Warna biru menunjukkan nilai rata-rata kelas pada kegiatan belajar mengajar putaran I. Warna merah menunjukkan nilai rata-rata kelas pada kegiatan belajar mengajar putaran II. Warna hijau menunjukkan nilai rata-rata kelas pada kegiatan belajar mengajar putaran III. Dari grafik tampak bahwa nilai rata-rata kelas terus meningkat mulai kegiatan belajar mengajar putaran I sampai putaran III. Nilai rata-rata kelas pada kegiatan belajar mengajar putaran I yaitu sebesar 73,42, nilai rata-rata kelas pada kegiatan belajar mengajar putaran II yaitu sebesar 83,45. Dan yang terakhir nilai rata-rata kelas pada kegiatan belajar mengajar putaran III yaitu 91,74.

34

NILAI RATA-RATA KELAS


91,74 83,45 73,42

II putaran

III

Gambar 4.4. Nilai Rata-rata Kelas

Dari uraian di atas, kegiatan belajar mengajar dengan model kooperatif sangat mempengaruhi prestasi belajar siswa. Prestasi belajar ditunjukkan dengan peningkatan nilai siswa atau hasil belajar yang mana juga menunjukkan ketuntasan belajar siswa. Prestasi belajar siswa juga ditunjukkan dengan peningkatan nilai rata-rata kelas pada kegiatan pembelajaran.

35

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang telah dilakukan dalam Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) bidang studi PKn pada siswa Kelas XII Ak 3 SMK Negeri I Lumajang maka dapat ditarik suatu kesimpulan yaitu: 1. Pembelajaran dengan model kooperatif dapat meningkatkan aktivitas siswa pada mata pelajaran PKn. 2. Prestasi belajar siswa meningkat dengan menerapkan pembelajaran dengan model kooperatif .

B. Saran Berpijak pada pengalaman singkat peneliti menggunakan

pembelajaran kooperatif pada mata pelajaran PKn pada siswa karena Kelas XII Ak 3 SMK Negeri I Lumajang peneliti memiliki sedikit saran-saran kepada beberapa pihak, meliputi : a) Kepada rekan-rekan sejawat yang ingin meningkatkan kemampuan dan keterampilan serta prestasi belajar siswanya, apabila situasi dan kondisi yang berkembang di sekolah atau lingkungan pendidikannya relatif mempunyai kesamaan dengan apa yang ada di sekolah peneliti, maka disarankan untuk menggunakan

pembelajaran kooperatif pada proses KBM.

36

b) Kepada kepala sekolah dan jajaran pengelola kebijakan sekolah, disarankan agar dapat memberikan fasilitas dalam sosialisasi implementasi metode pembelajaran ini, sejalan dengan signifikasi hasil penelitian yang telah peneliti lakukan. c) Kepada siswa agar senantiasa tidak berhenti sampai pada tahapan pembelajaran ini apabila menginginkan kemampuan dan

keterampilannya senantiasa terasah dengan baik.

37

DAFTAR PUSTAKA

Arends, R. I., Wenitzky, N. E., & Tannenboum, M. D. 2001. Exploring teaching: An introduction to education. New York: McGraw-Hill Companies. Brooks, J.G. & Martin G. Brooks. 1993. In search of understanding: The case for constructivist classrooms. Virginia: Association for Supervision and Curriculum Development. Burden, P. R., & Byrd, D. M. 1996. Method for effective teaching, second edition. Boston: Allyn and Bacon. Costa, A. L.1991. The school as a home for the mind. Palatine, Illinois: Skylight Training and Publishing, Inc. Eggen, P. & Kauchak, D. 2010. Educational Psychology. Pearson Education,Inc.,. Gunter, M. A. dkk. 2007. Instruction: A Model Approach. Pearson Education,Inc.,. Ibrahim, M., dkk. 2000. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya : UNESA. Jacobsen, D. A.dkk. 2009. Metode-metode pengajaran. Penerbit Pustaka Pelajar. Nur. Dkk. 1996. Pembelajaran Kooperatif. Laporan Penelitian Suplemen D2. IKIP Surabaya. Nur, M. 2004. Performance Assessment dalam Pendidikan IPA. Surabaya. UNESA. Parawansa, P. 2001. Reorientasi terhadap strategi Pendidikan Nasional. Makalah. Disajikan dalam simposium Pendidikan Nasional dan Munas I alumni PPS.UM. di Malang, Februari 2001. Perkins, D. N., & Unger, C. 1999. Teaching and learning for understanding. Dalam Reigeluth, C. M. (Ed.): Instructioal-design theories and models: A new paradigm of instruction theory, Volume II. New Jersey: Lawrence Erlboum Associates, Publisher.25 Puskur. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi dan hasil belajar mata pelajaran matematika. Jakarta: Puskur. Balitbang. Depdiknas. Raka, T., & Kardiawan, T. H. 1998. Konsep Dasar Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Jakarta: Proyek Pengembangan Guru Sekolah Menengah Depdikbud Dirjen Dikti.

38

Santyasa, I W. 2003(a). Pendidikan, pembelajaran, dan penilaian berbasis kompetensi. Makalah. Disajikan dalam seminar Jurusan Pendidikan Fisika IKIP Negeri Singaraja, 27 Februari 2003, di Singaraja. Santyasa, I W. 2003(b). Asesmen dan kriteria penilaian hasil belajar fisika berbasis kompetensi Makalah. Disajikan dalam Seminar dan Lokakarya Bidang Peningkatan Relevansi Program DUE-LIKE Jurusan Pendidikan Fisika IKIP Negeri Singaraja, Tanggal 15-16 Agustus 2003, di Singaraja Santyasa, I W. 2003(c). Pembelajaran fisika berbasis keterampilan berpikir sebagai alternatif implementasi KBK. Makalah. Disajikan dalam Seminar Nasional Teknologi Pembelajaran, 22-23 Agustus 2003, Di Hotel Inna Garuda Yogyakarta. Santyasa, I W., Subratha, I N., & Suwindra, I N. P. 2003. Pembelajaran fisika berbasis model rekonstruksi pengetahuan kognitif dan pengaruhnya terhadap hasil belajar. Laporan penelitian. Research grant program DUE-LIKE Jurusan Pendidikan Fisika IKIP Negeri Singaraja. Lembaga Penelitian IKIP Negeri Singaraja. Santyasa, I W. 2004. Pengaruh model dan seting pembelajaran terhadap remediasi miskonsepsi, pemahaman konsep, dan hasil belajar fisika pada siswa SMU. Disertasi (tidak diterbitkan). Program Doktor Teknologi Pembelajaran Program Pascasarjana Universitas Negeri Malang. Santyasa, I. W. 2005. MODEL PEMBELAJARAN INOVATIF DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI. Makalah Dalam Penataran Guru-Guru SMP, SMA, dan SMK se Kabupaten Jembrana Juni Juli 2005, di Jembrana Siskandar. 2003. Teknologi Pembelajaran dalam kurikulum berbasis kompetensi. Makalah. Disajikan pada Seminar Nasional Teknologi Pembelajaran pada tanggal 22-23 Agustus 2003 di Hotel Inna garuda Yogyakarta. Suyanto, 2001. Formula Pendidikan Nasional era global. Makalah. Disajikan dalam simposium Pendidikan Nasional dan Munas I alumni PPS.UM. di Malang, 13 Februari 2001. www.wikipedia.com. 2010. Globalisasi. http://id.wikipedia.org/wiki/Globalisasi www.wikipedia.com. 2010. Pembelajaran http://id.wikipedia.org/wiki/Pembelajaran_kooperatif kooperatif.

39

Lampiran 1

40