Anda di halaman 1dari 4

proses pengolahan biji besi BIJIH LATERIT Pendahuluan Besi dan baja sampai saat ini menduduki peringkat

pertama logam yang paling bany ak penggunaanya, besi dan baja mempunyai kandungan unsur utama yang sama yaitu F e, hanya kadar karbon-lah yang membedakan besi dan baja. Besi dan baja diperoleh dari hasil pengolahan bijih besi menjadi besi kasar untu k selanjutnya diolah menjadi besi atau baja. Pada uraian ini akan diberikan pema paran tentang pengolahan oksida besi atau bijih besi Hematite (70% Fe), Magnetit e (72% Fe) dan Limonite (60% Fe) bijih besi menjadi besi danbaja. PROSES PENGOLAHAN BESI DAN BAJA Pengolahan Besi Kasar Pengolahan Besi Tuang Pengolahan Baja Pengolahan Besi Kasar Besi kasar diperoleh dari peleburan oksida besi atau bijih besi Hematite (70% Fe ), Magnetite (72% Fe) dan Limonite (60% Fe) di dalam tanur tinggi. Bijih besi te rsebut mula mula dibersihkan dengan cara mencucinya pada saluran goyang, kemudia n dihaluskan dengan proses pemecahan secara bertingkat Butiran bijih besi halus tersebut kemudian dilewatkan pada roda magnetik untuk mem isahkan bijih yang mengandung kadar Fe yang tinggi dan yang rendah Biji atau bijih besi adalah cebakan yang digunakan untuk membuat besi gubal. Biji besi terdiri atas oksigen dan atom besi yang berikatan bersama dalam moleku l. Besi sendiri biasanya didapatkan dalam bentuk magnetit (Fe3O4), hematit (Fe2O 3), goethit, limonit atau siderit. Bijih besi biasanya kaya akan besi oksida dan beragam dalam hal warna, dari kelabu tua, kuning muda, ungu tua, hingga merah k arat. Saat ini, cadangan biji besi nampak banyak, namun seiring dengan bertambahnya pe nggunaan besi secara eksponensial berkelanjutan, cadangan ini mulai berkurang, k arena jumlahnya tetap. Sebagai contoh, Lester Brown dari Worldwatch Institute te lah memperkirakan bahwa bijih besi bisa habis dalam waktu 64 tahun berdasarkan p ada ekstrapolasi konservatif dari 2% pertumbuhan per tahun. Potensi Biji Besi di Kalimantan Tengah Biji besi mempunyai 2 tipe yaitu magnetis dan kolovial, biji besi tipe magnetis dijumpai didaerah Kabupaten Lamandau, sedangkan tipe kolovial dijumpai didaerah Kabupaten Kotawaringin Timur. Tipe magnetis terdiri dari hematite dan pegmatite, sedangkan tipe kolovial terdi ri dari limonit dan Ilmenite. Lokasi tipe magnetis berada didaerah : - Bukit Karim, Kabupaten Lamandau - Bukit Gojo, Kabupaten Lamandau - Petarikan, Kabupaten Lamandau - Mirah, Tumbang Manggu, Kabupaten Katingan - Barito Timur Lokasi tipe kolovial berada didaerah : - Kenyala, Kecamatan Kotabesi, Kabupaten Kotawaringin Timur. Cadangan bijih besi yang sudah ditemukan 41,2 juta ton Besi merupakan logam kedua yang paling banyak di bumi ini. Karakter dari endapan besi ini bisa berupa endapan logam yang berdiri sendiri namun seringkali ditemu kan berasosiasi dengan mineral logam lainnya. Kadang besi terdapat sebagai kandu ngan logam tanah (residual), namun jarang yang memiliki nilai ekonomis tinggi. E ndapan besi yang ekonomis umumnya berupa Magnetite, Hematite, Limonite dan Sider ite. Kadang kala dapat berupa mineral: Pyrite, Pyrhotite, Marcasite, dan Chamosi te. Beberapa jenis genesa dan endapan yang memungkinkan endapan besi bernilai ekonom is antara lain :

1. Magmatik: Magnetite dan Titaniferous Magnetite 2. Metasomatik kontak: Magnetite dan Specularite 3. Pergantian/replacement: Magnetite dan Hematite 4. Sedimentasi/placer: Hematite, Limonite, dan Siderite 5. Konsentrasi mekanik dan residual: Hematite, Magnetite dan Limonite 6. Oksidasi: Limonite dan Hematite 7. Letusan Gunung Api Dari mineral-mineral bijih besi, magnetit adalah mineral dengan kandungan Fe pal ing tinggi, tetapi terdapat dalam jumlah kecil. Sementara hematit merupakan mine ral bijih utama yang dibutuhkan dalam industri besi. Mineral-mineral pembawa bes i dengan nilai ekonomis dengan susunan kimia, kandungan Fe dan klasifikasi komer sil dapat dilihat pada Tabel dibawah ini: Tabel mineral-mineral bijih besi bernilai ekonomis Mineral Susunan kimia Kandungan Fe (%) Klasifikasi komersil Magnetit FeO, Fe2O3 72,4 Magnetik atau bijih hitam Hematit Fe2O3 70,0 Bijih merah Limonit Fe2O3.nH2O 59 63 Bijih coklat Siderit FeCO3 48,2 Spathic, black band, clay ironstone Sumber : Iron & Ferroalloy Metals in (ed) M. L. Jensen & A. M. Bafeman, 1981; Ec onomic Mineral Deposits, P. 392. Besi primer ( ore deposits ) Proses terjadinya cebakan bahan galian bijih besi berhubungan erat dengan adanya peristiwa tektonik pra-mineralisasi. Akibat peristiwa tektonik, terbentuklah st ruktur sesar, struktur sesar ini merupakan zona lemah yang memungkinkan terjadin ya magmatisme, yaitu intrusi magma menerobos batuan tua. Akibat adanya kontak ma gmatik ini, terjadilah proses rekristalisasi, alterasi, mineralisasi, dan pengga ntian (replacement) pada bagian kontak magma dengan batuan yang diterobosnya. Perubahan ini disebabkan karena adanya panas dan bahan cair (fluida) yang berasa l dari aktivitas magma tersebut. Proses penerobosan magma pada zona lemah ini hi ngga membeku umumnya disertai dengan kontak metamorfosa. Kontak metamorfosa juga melibatkan batuan samping sehingga menimbulkan bahan cair (fluida) seperti cair an magmatik dan metamorfik yang banyak mengandung bijih. Besi sekunder ( endapan placer ) Cebakan mineral alochton dibentuk oleh kumpulan mineral berat melalui proses sed imentasi, secara alamiah terpisah karena gravitasi dan dibantu pergerakan media cair, padat dan gas/udara. Kerapatan konsentrasi mineral-mineral berat tersebut tergantung kepada tingkat kebebasannya dari sumber, berat jenis, ketahanan kimia wi hingga lamanya pelapukan dan mekanisma. Dengan nilai ekonomi yang dimilikinya para ahli geologi menyebut endapan alochton tersebut sebagai cebakan placer. Jenis cebakan ini telah terbentuk dalam semua waktu geologi, tetapi kebanyakan pada umur Tersier dan masa kini, sebagian besar merupakan cada ngan berukuran kecil dan sering terkumpul dalam waktu singkat karena tererosi. K ebanyakan cebakan berkadar rendah tetapi dapat ditambang karena berupa partikel bebas, mudah dikerjakan dengan tanpa penghancuran; dimana pemisahannya dapat men ggunakan alat semi-mobile dan relatif murah. Penambangannya biasanya dengan cara pengerukan, yang merupakan metoda penambangan termurah. Cebakan-cebakan placer berdasarkan genesanya: G e n e s a J e n i s Terakumulasi in situ selama pelapukan Placer residual Terkonsentrasi dalam media padat yang bergerak Placer eluvial Terkonsentrasi dalam media cair yang bergerak (air) Placer aluvial atau sungai Placer pantai Terkonsentrasi dalam media gas/udara yang bergerak Placer Aeolian (jarang) Placer residual. Partikel mineral/bijih pembentuk cebakan terakumulasi langsung di atas batuan sumbernya (contoh : urat mengandung emas atau kasiterit) yang tel ah mengalami pengrusakan/peng-hancuran kimiawi dan terpisah dari bahan-bahan bat uan yang lebih ringan. Jenis cebakan ini hanya terbentuk pada permukaan tanah ya ng hampir rata, dimana didalamnya dapat juga ditemukan mineral-mineral ringan ya ng tahan reaksi kimia (misal : beryl). Placer eluvial. Partikel mineral/bijih pembentuk jenis cebakan ini diendapkan di

atas lereng bukit suatu batuan sumber. Di beberapa daerah ditemukan placer eluv ial dengan bahan-bahan pembentuknya yang bernilai ekonomis terakumulasi pada kan tong-kantong (pockets) permukaan batuan dasar. Placer sungai atau aluvial. Jenis ini paling penting terutama yang berkaitan den gan bijih emas yang umumnya berasosiasi dengan bijih besi, dimana konfigurasi la pisan dan berat jenis partikel mineral/bijih menjadi faktor-faktor penting dalam pembentukannya. Telah dikenal bahwa fraksi mineral berat dalam cebakan ini beru kuran lebih kecil daripada fraksi mineral ringan, sehubungan : Pertama, mineral berat pada batuan sumber (beku dan malihan) terbentuk dalam ukuran lebih kecil d aripada mineral utama pembentuk batuan. Kedua, pemilahan dan susunan endapan sed imen dikendalikan oleh berat jenis dan ukuran partikel (rasio hidraulik). Placer pantai. Cebakan ini terbentuk sepanjang garis pantai oleh pemusatan gelom bang dan arus air laut di sepanjang pantai. Gelombang melemparkan partikel-parti kel pembentuk cebakan ke pantai dimana air yang kembali membawa bahan-bahan ring an untuk dipisahkan dari mineral berat. Bertambah besar dan berat partikel akan diendapkan/terkonsentrasi di pantai, kemudian terakumulasi sebagai batas yang je las dan membentuk lapisan. Perlapisan menunjukkan urutan terbalik dari ukuran da n berat partikel, dimana lapisan dasar berukuran halus dan/ atau kaya akan miner al berat dan ke bagian atas berangsur menjadi lebih kasar dan/atau sedikit menga ndung mineral berat. Placer pantai (beach placer) terjadi pada kondisi topografi berbeda yang disebab kan oleh perubahan muka air laut, dimana zona optimum pemisahan mineral berat be rada pada zona pasang-surut dari suatu pantai terbuka. Konsentrasi partikel mine ral/bijih juga dimungkinkan pada terrace hasil bentukan gelombang laut. Mineralmineral terpenting yang dikandung jenis cebakan ini adalah : magnetit, ilmenit, emas, kasiterit, intan, monazit, rutil, xenotim dan zirkon. Mineral ikutan dalam endapan placer. Suatu cebakan pasir besi selain mengandung mineral-mineral bijih besi utama tersebut dimungkinkan berasosiasi dengan minera l-mineral mengandung Fe lainnya diantaranya : pirit (FeS2), markasit (FeS), pirh otit (Fe1-xS), chamosit [Fe2Al2 SiO5(OH)4], ilmenit (FeTiO3), wolframit [(Fe,Mn) WO4], kromit (FeCr2O4); atau juga mineral-mineral non-Fe yang dapat memberikan n ilai tambah seperti : rutil (TiO2), kasiterit (SnO2), monasit [Ce,La,Nd, Th(PO4, SiO4)], intan, emas (Au), platinum (Pt), xenotim (YPO4), zirkon (ZrSiO4) dan la in-lain. Eksplorasi bijih besi Penyelidikan umum dan eksplorasi bijih besi di Indonesia sudah banyak dilakukan oleh berbagai pihak, sehingga diperlukan penyusunan pedoman teknis eksplorasi bi jih besi. Pedoman dimaksudkan sebagai bahan acuan berbagai pihak dalam melakukan kegiatan penyelidikan umum dan eksplorasi bijih besi primer, agar ada kesamaan dalam melakukan kegiatan tersebut diatas sampai pelaporan. Tata cara eksplorasi bijih besi primer meliputi urutan kegiatan eksplorasi sebel um pekerjaan lapangan, saat pekerjaan lapangan dan setelah pekerjaan lapangan. K egiatan sebelum pekerjaan lapangan ini bertujuan untuk mengetahui gambaran menge nai prospek cebakan bijih besi primer, meliputi studi literatur dan penginderaan jarak jauh. Penyediaan peralatan antara lain peta topografi, peta geologi, alat pemboran inti, alat ukur topografi, palu dan kompas geologi, loupe, magnetic pe n, GPS, pita ukur, alat gali, magnetometer, kappameter dan peralatan geofisika. Kegiatan pekerjaan lapangan yang dilakukan adalah penyelidikan geologi meliputi pemetaan; pembuatan paritan dan sumur uji, pengukuran topografi, survei geofisik a dan pemboran inti. Kegiatan setelah pekerjaan lapangan yang dilakukan antara lain adalah analisis l aboratorium dan pengolahan data. Analisis laboratorium meliputi analisis kimia d an fisika. Unsur yang dianalisis kimia antara lain : Fetotal, Fe2O3, Fe3O4, TiO2 , S, P, SiO2, MgO, CaO, K2O, Al2O3, LOI. Analisis fisika yang dilakukan antara l ain : mineragrafi, petrografi, berat jenis (BD). Sedangkan pengolahan data adala h interpretasi hasil dari penyelidikan lapangan dan analisis laboratorium. Tahapan eksplorasi adalah urutan penyelidikan geologi yang umumnya dilakukan mel alui empat tahap sbb : Survei tinjau, prospeksi, eksplorasi umum, eksplorasi rin ci. Survei tinjau, tahap eksplorasi untuk mengidentifikasi daerah-daerah yang be rpotensi bagi keterdapatan mineral pada skala regional. Prospeksi, tahap eksplor

asi dengan jalan mempersempit daerah yg mengandung endapan mineral yg potensial. Eksplorasi umum, tahap eksplorasi yang rnerupakan deliniasi awal dari suatu end apan yang teridentifikasi . Eksplorasi rinci, tahap eksplorasi untuk mendeliniasi secara rinci dalarn 3-dime nsi terhadap endapan mineral yang telah diketahui dari pencontohan singkapan, pa ritan, lubang bor, shafts dan terowongan. Penyelidikan geologi adalah penyelidikan yang berkaitan dengan aspek-aspek geolo gi diantaranya : pemetaan geologi, parit uji, sumur uji. Pemetaan adalah pengama tan dan pengambilan conto yang berkaitan dengan aspek geologi dilapangan. Pengam atan yang dilakukan meliputi : jenis litologi, mineralisasi, ubahan dan struktur pada singkapan, sedangkan pengambilan conto berupa batuan terpilih. Penyelidikan Geofisika adalah penyelidikan yang berdasarkan sifat fisik batuan, untuk dapat mengetahui struktur bawah permukaan, geometri cebakan mineral, serta sebarannya secara horizontal maupun secara vertical yang mendukung penafsiran g eologi dan geokimia secara langsung maupun tidak langsung. Pemboran inti dilakukan setelah penyelidikan geologi dan penyelidikan geofisika. Penentuan jumlah cadangan (sumberdaya) mineral yang mempunyai nilai ekonomis ad alah suatu hal pertama kali yang perlu dikaji, dihitung sesuai standar perhitung an cadangan yang berlaku, karena akan berpengaruh terhadap optimasi rencana usah a tambang, umur tambang dan hasil yang akan diperoleh. Dalam hal penentuan cadangan, langkah yang perlu diperhatikan antara lain : - Memadai atau tidaknya kegiatan dan hasil eksplorasi. - Kebenaran penyebaran dan kualitas cadangan berdasarkan korelasi seluruh data e ksplorasi seperti pemboran, analisis conto, dll. - Kelayakan penentuan batasan cadangan, seperti Cut of Grade, Stripping Ratio, k edalaman maksimum penambangan, ketebalan minimum dan sebagainya bertujuan untuk mengetahui kondisi geologi dan sebaran bijih besi bawah permukaan.