Anda di halaman 1dari 13

FISIKA MODERN

Radiasi benda hitam, Difraksi sinar-x, Hambur Compton, dan


Produksi pasangan

Pada umumnya gelombang mempunyai sifat partikel yang dapat terlihat pada gejala-gejala
alam. Seperti halnya radiasi benda hitam, difraksi sinar-x, hamburan compton, dan produksi
pasangan
2012
SAINS DAN TEKNOLOGI
UIN ALAUDDIN MAKASSAR
11/16/2012
NURUL AZMI RIDHA
60400111043
FISIKA B
FISIKA MODERN

A. RADIASI BENDA HITAM
Pada dasarnya setiap benda (pada zat cair dan gas) yang suhunya
diatas 0 K akan memancarkan kalor radiasi. Apabila kamu brada dekat
benda yang membara, kamu akan merasa panas. Ini berarti benda tersebut
memancaarkan kalor ke sekelilingnya. Radiasi bara atau radiasi kalor
matahari yang letaknya berjuta-juta kilometer masih terasa sampai di
bumi meskipun antara bumi dan matahari terdapat ruang hampa. Ini
berarti energi yang dipancarkan oleh matahari tentu saja bara benda
tadi berupa gelombang elektromagnetik pada spektrum yang terlihat
(cahaya tampak) dan spektrum yang tida sensitif ke mata antara lain
infrared. Salah satu sifat gelombang gelombang elektromagnetik yaitu
dapat merambat melalui ruang hampa yang melibatkan osilasi medan
listrik dan medan magnet yang saling tegak lurus. Di dalam ruang
hampa, kecepatan rambat gelombang elektromagnetik mencapai 3x10
8
m/s.
Benda hitam sempurna sempurna adalah pemancar kalor radiasi yang
paling baik (koefisien resititusi e = 1). Contoh yang mendekati benda
hitam sempurna adalah kotak tertutup rapat yang dilobangi
dimana,cahaya yang masuk dalam lobang tersebut dapat terpental
beberapa kali sehingga cahaya tersebut habis energinya. Menurut hukum
Stefan-Boltzman laju energi radiasi (daya) kalor yang dipancarkan oleh
setiap benda panas dinyatakan dengan rumus :


Dimana ;
P = Daya radiasi (W)
= Tetapan Stefan-Boltzman (5,67 x 10
-8
W/m
2
K
4
)
e = Koefisien emisivitas benda nilainya 0<e<1

Hukum Pergeseran Wien
Pada akhir abad ke-19, para ilmuan sudah tahu bahwa gelombang
elektromagnetik dihasilkan oleh atom yang bergetar. Begitu juga dengan
gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh pijar juga dihasilkan
oleh atom yang bergetar. Hal yang masih membingungkan adalah
penjelasan tentang spektrum yang terlihat oleh mata manusia ketika
benda berpijar. Ada kalanya benda berwarna merah ketika menyala pada
suhu sekitar 1000 K seperti elemen pada setrika. Pada suhu lebih
tinggi benda berpijar mengeluarkan pijar berwarna orange seperti bara
besi. Pada suhu yang lebih tinggi lagi benda berpijar mendekati warna
putih seperti pijarnya kawat wolfram sebuah lampu pijar. Semakin besar
suhu benda, semakin tinggi frekuensi yang dihasilkan olehnya.
Bagaimana hal tersebut terjadi?
Adalah Wilhelm Wien yang kemudian menjelaskan kejadian ini.
Spektrum benda yang berpijar ternyata kontinu. Namun, ada panjang
gelombang pada spektrum itu yang berada pada intensitas paling besar.
Panjang glombang inilah yang menentukan warna pijar benda tersebut.
Wien menjelaskan bahwa panjang gelombang pada intensitas maksimum ini
akan bergeser ke panjang gelombang yang lebih pendek bila suhu benda
bertambah. Apabila panjang gelombang pada puncak intensitas adalah


dan suhu benda pijar tersebut adalah T, menurut Wien berlaku hubungan


Dengan C = Konstanta pergeseran Wien.
Hukum ini dikenal sebagai hukum pergeseran Wien.
Teori Kuantum Planck
Penjelasan tentang sppektrum yang dihasilkan oleh radiasi benda
hitam yang sesuai dengan hasil percobaan muncul pada akhir tahun 1900
oleh ilmuan Max Planck (1858-1947). Ia mengemuakan bahwa energi yang
dipancarkan atau diserap oleh benda hitam tidaklah kontinu, tetapi
berupa paket-paket kecil (diskrit) dalam jumlah terbatas yang masing-
masing berkaitan dengan energi (E), yaitu

Dengan f adalah frekuensi getaran molekul benda dalam Hz dan h adalah
konstanta planck bernilai 6,626 x 10
-3
Js. Energi yang dihasilkan oleh
molekul yang bergetar (sekumpulan atom) ini haruslah sama dengan
kelipatan bilangan bulat dari energi di atas, sehingga

Dengan n adalah bilangan kuantum (n=0,1,2,...).
Ide planck ini sering disebut sebagai hukum kuantum Planck. Teori ini
berhasil menjelaskan radiasi benda hitam dengan baik.
Hukum planck ni menjelaskan bahwa ketika atom bergetar, atom akan
memancarkan gelombang elektromagnetik dengan energi hf, 2hf,3hf,...
dan tidak mungkin bernilai di antara harga tersebut. Nilai paling
kecil dari energi ini, yaitu hf dinamakan kuanta energi (kuantum) atau
foton. Jadi, dalam energi radiasi terkuantisasi satu foton sama dengan
hf.





B. SINAR-X
Dalam tahun 1895 Wilhelm Roentgen mendapatkan bahwa radiasi yang
kemampuan tembusnya besar yang sifatnya belum diketahui, ditimbulkan
jika electron cepat menumbuk materi. Sinar X ini didapatkan menjalar
menurut garis lurus walaupun melalui medan magnetik dapat menembus
bahan, dengan mudah, menyebabkan bahan fosforesen berkilau dan
menyebabkan perubahan plat fostografik. Bertambah cepat electron
semula, bertambah hebat kemampuan tembus sinar X dan bertambauh banyak
jumlah elektron, bertambah besar pula intensitas berkas sinar X.

Kemampuan tembus sinar X, menimbulkan kemampuan untuk memperlihatkan
struktur interior dari benda seperti mesin kapal terbang.





Belum lama setelah penemuan itu orang menduga bahwa sinar X
merupakan gelombang elektromagneti. Bahkan teori elektromagnetik
meramalkan bahwa muatan listrik yang dipercepat akan meradiasikan
gelombang elektromagnetik, dan electron yang bergerak cepat yang tiba-
tiba dihentikan jelas mengalami percepatan. Radiasi yang ditimbulkan
dalam keadaan serupa itudiberi nama bahasa Jerman bremsstrahlung
(radiasi pengereman). Tidak ditemukannya pembiasan (refraksi0 sinar
X pada pekerjaan dini disebabkan sangat kecilnya panjang gelombang,

Sifat gelombang sinar X, mula-mula ditegakkan oleh Barkla dalam
tahun1906 yang bias menunjukkan polarisasinya. Pengaturan eksperimen
Barkla disketsa dalam gambar 2-5. Marilah kita anggap sinar X sebagai
gelombang elektromagnetik. Pada bagian kiri seberkas sinar X
takterpolarisasi menjalar dalam arah z menumbuk sekelimit karbon.
Sinar X didihambur oleh karbon , ini berarti bahwa electron pada atom
karbon digetarkan oleh vector listrik dari sinar X, kemudian
meradiasikan kembali. Karena vector listrik dalam gelombang
elektromagnetik tegak lurus pada arah penjalaran, berkas sinar X
semula yang mengandung vector listrik hanya terletak pada bidang xy.
Electron target terimbas untuk bergetar pada bidang xy. Sinar X yang
terhambur yang menjalar pada arah +x hanya dapat memiliki vector
listrik pada arah y saja, sehingga sinar itu mengalami polarisasi
bidang datar. Untuk memperlihatkan polarisasi ini sekelumit karbon
yang lain diletakkan pada lintasan sinar X yang menjalar pada bidang
xz saja, dan tidak ada pada arah y. tidak adanya sinar X yang
dihamburkan diluar bidang xz meyakinkan sifat gelombang sinar X.
Dalam tahun 1912 suatu metode dicari untuk mengukur panjang
gelombang sinar X. eksperimen difraksi dapat dipandang ideal, tetapi
kita ingat dari optic fisis bahwa jarak antara dua garis yang
berdekatan pada kisi difraksi harus berorde besar sama dengan panjang
gelombang cahaya supaya didapatkan hasil yang memuaskan dan kisi yang
berjarak sangat kecil seperti yang diperlukan untuk sinar X tak dapat
dibuat. Namun dalam tahun 1912, Max von Laure menyadari bahwa untuk
panjang gelombang yang diduga berlaku untuk sinar X berorde besar
hampir sama dengan jarak antara atom-atom dalam kristal yaitu sekitar
beberapa angstrom. Dengan alas an itu ia mengusulkan bahwa kristal
dapat digunakan untuk mendefraksi sinar X dengan kisi kristal berlaku
sebagai kisi tiga dimensi. Tahun berikutnya eksperimen yang memadai
untuk hal tersebut telah dilakukan dan sifat gelombang sinar X secara
sukses ditunjukkan. Dalam eksperimen itu panjang gelombang dari
1,3X10
-11
hingga 4,8X 10
-11
m (0,13 hingga 0,48) telah ditemukan 10
-4
kali
panjang gelombang cahaya tampak sehingga mempunyai kuanta 10
4
kali
lebih energitik. Kita akan membahas difraksi sinar X lebih lanjut
dalam pasal 2.5
Radiasi elektromagnetik dalam selang panjang gelombang
aproksimasi 0,1 hingga 100 , pada waktu ini digolongkan sebagai sinar
X. Perbatasan selang tersebut tidak tajam , pada batas panjang
gelombang kecil bertindak sebagai sinar X dan batas panjang gelombang
besar bertindihan dengan cahaya ultraungu.

Gambar 2-6 merupakan diagram tabung sinar X. sebuah katode yng
dipanasi oleh filament berdekatan yang dilalui arus listrik
menyediakan electron terus menerus dengan emisi termionik. Perbedaan
potensial yang tinggi V dipertahankan antara katode dengan target
logam mempercepat electron kearah target tersebut. Permukaan target
membentuk sudut relatif terhadap berkas electron dan sinar X yang
keliar dari target melewati bagian pinggir tabung. Tabung tersebut
dihampakan supaya electron dapat sampai ketarget tanpa halangan.
Prinsip kerja sinar-X merupakam kebalikan dari gejal efek
fotolistrik. Pada gejala fotolistrik katodanya ditumbuk oleh foton-
foton sehingga melepaskan electron. Sedangkan sinar-X anodanya
ditumbuk electron, sehingga memancarkan energi foton (sinar-X)

Untuk lebih memahaminya perhatikan gambar berikut ini :













Beda potensial anoda dan katoda (50-100) KV kecapatan electron
mencapai 10 % dari kecepatan cahaya. Elekttron yang terlepas dari
katoda menumbuk anoda dengan kecepatan tinggi. Di anoda, energi
kinetik electron berubah menjadi sinar-X.
Sinar-X dapat terjadi melalui dua cara yaitu :
1). Sinar-X terjadi tanpa eksitasi electron








Berkas electron yang berasal dari katode menumbuk atom logam anoda
dengan kecepatan tinggi. Sebagian besar electron ini masuk kedalam
logam, sehingga energi kinetiknya mungkin berkurang, energi yang
hilang berubah menjadi energi foton (sinar-X)
(1) hf E E
k k
=
'
, jika 0 =
k
E , maka

hc
hf E
k
= =

'
k
E
k
E


Karena electron dipergepat dengan beda potensial V, maka :
eV E
k
= jadi eV hf =
Karena

c
f = maka eV
hc
=


Jadi untuk mencari panjang gelombang pada sinar-X dapat dihitung
dengan :
(2)
o
v ev
hc
A
12400
= =

Sinar-X mempunyai ( )
o
A 100 01 . 0 =

2). Sinar-X terjadi karena eksistasi electron
Elektron yang berkecepatan tinggi ketika menumbuk atom logam anoda
akan menyebabkan electron pada kulit atom sebelah dalam akan pindah
kekulit sebelah luarnya. Elektron yang pindah akan cenderung kembali
ke kulit asal sambil melepaskan energi dalam bentuk sinar-X






Spektrum sinar x sebanding dengan potensial pemercepat








EK`

EK


Sifat-sifat sinar-X adalah
1. GEM (Gelombang Elektromagnetik frekuensi tinggi)
2. Tidak dipengaruhi oleh

E dan

B
3. Daya tembusnya besar
4. Dapat menghitamkan film

























3. EFEK COMPTON
Compton menganggap bahwa cahaya sebagai partikel sehingga mempunyai
momentum :
mc P = , atau
c
E
P = atau
c
hf
P = atau

h
P =

2
mc pc E = =









Gambar diatas merupakan gambar penghamburan foton oleh electron
disebut efek Compton. Energi dan momentum adalah kekal dalam keadaan
seperti itu, dan sebagai foton hambur kehilangan energi (panjang
gelombang hasilnya lebih panjang) dibandingkan foton datang.
Momentum foton semula ialah c hv , momentum foton hambur ialah c hv' , dan
momentum electron awal sector ialah, berurutan, 0 dan p. Dalam arah
foton semula.
Momentum awal = Momentum akhir
(3) u | cos cos 0 p
c
hv
c
hv
+ = +
Dan tegak lurus pada arah ini
Momentum awal = Momentum akhir
(4) 0 = u | sin sin
'
p
c
hv


Sudut | menyatakan sudut antara arah mula-mula dan arah foton hambur,
dan u ialah sudut antara arah foton mula dan arah electron yang
tertumbuk. Persamaan (3.10) dan 3.11) sama-sama dikali c, sehingga
diperoleh


| u
| u
sin ' sin
cos ' cos
hv pc
hv hv pc
=
=

Dengan mengkuadratkan masing-masing persamaan ini dan menambahkannya,
sudut u dapat dieliminasi sehinga menjadi
(5) ( ) ( )( ) ( )
2 2 2 2
' cos ' 2 hv hv hv hv c p + = |
Kemudian kita samakan kedua rumus untuk energi total partikel

2 2 2 2
2
c p c m E
c m K E
o
o
+ =
+ =

Dari bab I kita dapat memperoleh :

( )
K c m K c p
c p c m c m K
o
o o
2 2 2 2
2 2 4 2
2
2
2 + =
+ = +

Karena : ' hv hv K = , maka kita dapatkan :
(6) ( ) ( )( ) ( ) ( ) ' 2 ' ' 2
2 2 2 2 2
hv hv c m hv hv hv hv c p
o
+ + =
Substitusikan harga p
2
c
2
ini dalam persamaan (3.13) sehingga kita
mendapatkan
(7) ( ) ( )( )( ) | cos 1 ' 2 ' 2
2
= hv hv hv hv c m
o

Hubungan ini akan lebih sederhana jika dinyatakan dalam panjang
gelombang sebagai pengganti frekuensi. Bagi persamaan (3.14) dengan
2h
2
c
2
,
( ) | cos 1
' '
= |
.
|

\
|

c
v
c
v
c
v
c
v
h
c m
o

Dan karena 1 = c v dan ' 1 ' = c v

'
cos 1
'
1 1

|


= |
.
|

\
|

h
c m
o

Sehingga panjang gelombang untuk efek Compton adalah :
(8) ( ) | cos 1 ' =
c m
h
o

























4. PRODUKSI PASANGAN
Produksi pasangan adalah proses yang dapat terjadi apabila foton
menumbuk atom,dimana seluruh energy foton hilang dan dalam proses ini
dua partikel terciptakan,yakni sebuah electron dan sebuah positron.(
positron adalah sebuah partikel yang massanya sama dengan massa
electron,tetapi memiliki muatan positif ).proses ini merupakan contoh
penciptaan energy massa.elektronnya tidak ada sebelum foton menumbuk
atom ( electron ini bukanlah electron milik atom ).
Telah diterangkan bahwa pada efek foto listrik, foton bila ditembakkan
kepada logam, maka dapat menyerahkan seluruh energinya atau sama
sekali tidak. Kalau menyerahkan seluruh energinya, berarti untuk
mengeluarkan elektron dari dalam logam dan untuk tenaga elektron
meninggalkan logam.
Juga telah diterangkan pada Compton, foton yang mempunyai frekuensi
tinggi ditembakkan langsung pada elektron terluar maka energinya untuk
menghamburkan foton baru.
Pada produksi pasangan, bila sebuah foton dengan frekuensi tinggi
mendekati inti atom berat maka foton tersebut lenyap dan menjelma
menjadi sebuah elektron dan sebuah positron (elektron positif). Jadi
ada perubahan energi elektromagnit menjadi energi diam.
h v = -e0 + +e0
Jumlah muatan elektron (-e) dan positron (+e) adalah nol. Energi
kinetik elektron maupun positron masing-masing adalah :
E = m0C
2
= 0,51 MeV
Produksi pasangan ditunjukkan untuk membuat pasangan partikel dan
anti-partikelnya, terutama pasangan elektron dan positron. Untuk
menciptakan antiproton, O. Chamberlain dan Emilio Segre menumbukkan
dua proton dalam kecepatan tinggi, begitu juga ketika Bruce Cork
menemukan antineutron. Hal yang berbeda terjadi pada produksi pasangan
elektron dan positron. Elektron dan positron tecipta saat sebuah
photon yang melewati inti atom yang pasif dan energinya dikonversikan
ke dalam materi. Kehadiran inti atom diperlukan sehingga hukum
kekekalan momentum dapat terpenuhi. Elektronnya tercipta sendiri,
bukan milik atom. Lalu, muncullah positron dan elektron dari
ketiadaan. Reaksinya dituliskan :
+ e
-
+ e
+

Energi photon yang hilang dalam proses ini dirubah menjadi energi
relativistik positron E+ dan elektron E- dengan persamaan:
hv = E+ + E-
= 2moc
2
+ [E+ + E-]
Karena K+ dan K- selalu positif maka untuk melakukan produksi
pasangan, photon harus memiliki energi sekurang-kurangnya 2moc
2
=1,02
MeV atau 1,64 X 10
-13
J.agar dapat mendekati inti berat sehingga
terjadi produksi pasangan berupa elektron dan positron. Foton tersebut
termasuk dalam sinar gamma inti atom.secara perlambang :
Foton electron + positron
Proses diatas hanya dapat terjadi jika terdapat sebuah atom di sekitar
electron yang memasok momentum pental yang diperlukan,proses
kebalikannya ,
Electron + positron foton
Elektron bila bertemu dengan positron maka keduanya musnah
(anihilasi) dan menjelma menjadi foton sinar gamma.Pada proses
produksi pasangan maupun kebalikannya ini tetap berlaku hukum
kekekalan energi dan hukum kekekalan momentum.Kembali pada produksi
pasangan tersebut di atas, karena foton berubah menjadi elektron dan
positron, maka dengan sendirinya foton yang ditembakkan harus
mempunyai energi lebih tinggi dari 1,02 MeV. Setelah terjadi produk
pasangan ini, maka mengalami penurunan intensitas. Perubahan ini
tergantung dari sifat dan tebal bahan dengan analisis sebagai berikut
:
xD I = -k I D
dI = -k I dx
I = I0 e-kx
I0 = intensitas awal foton
I = intensitas setelah menembus bahan tebal x
x = tebal bahan
k = tetapan absorbsi bahan terhadap foton tertentu
Berarti selama perjalanan dalam media, energinya turun secara
eksponensial. Apabila tebal media x dipilih sedemikian rupa sehingga
intensitasnya tinggal separo yaitu , maka tebal ini disebut tebal
lapisan separo harga (Half Value Layer = H.V.L). Teori ini banyak
digunakan dalam perhitungan penlindung radiasi.