Anda di halaman 1dari 6

1

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Tanaman perkebunan merupakan salah satu komoditas yang bisa di andalkan sebagai sentra bisnis yang menggiurkan. Terlebih produk-produk dari tanaman perkebunan cukup ramai permintaannya, baik di pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri. Selain itu, harga jual yang tinggi juga membuat tanaman perkebunan menjadi salah satu penyumbang devisa negara yang tidak sedikit. Saat ini ada puluhan jenis komoditas perkebunan yang cukup potensial, antara lain kelapa sawit, karet, kakao, kopi, tembakau dan cengkeh (Tim Penulis Penebar Swadaya, 2008). Menurut Wahyudi (2009), Salah satu tanaman perkebunan yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi adalah tanaman kakao (Theobroma Cacao L.), sehingga menarik peminat petani maupun pengusaha untuk mengembangkanya. Pada umumnya tanaman kakao yang dihasilkan oleh petani merupakan bahan baku untuk berbagai jenis produk bahan makanan baik di dalam negeri maupun di luar negeri sehinggga memberi peluang besar bagi petani kakao untuk mengusahakannya. Semakin luas lahan kakao yang diusahakan maka produksi akan lebih tinggi sehingga akan dapat mempengaruhi pendapatan petani. Kakao (Theobroma cacao L.) merupakan salah satu produk pertanian yang memiliki peranan yang cukup nyata dan dapat diandalkan dalam mewujudkan program pembangunan pertanian, khususnya dalam hal penyedian lapangan kerja, pendorong pembangunan wilayah, peningkatan kesejahteraan petani, dan peningkatan pendapatan serta peningkatan devisa negara (Wahyudi et all, 2009). Menurut Menteri Pertanian Suswono, mengatakan sampai tahun 2009 luas tanaman kakao di Indonesia mencapai 1,54 juta hektar dan menghasilkan 964 ribu ton biji kakao kering. Perkebunan rakyat mendominasi budi daya kakao nasional, dimana lebih dari 90 % dari taksiran total luasan pertanaman dan produksi biji kakao berasa dari kebun yang diusahakan oleh rakyat Sasaran pengembangan kakao Indonesia terutama diarahkan pada sektor perkebunan rakyat dengan

menanam kakao lindak, sedangkan jenis kakao mulia diusahakan oleh perusahaan perkebunan. Kegemaran mengkonsumsi makanan dan minuman cokelat pada era milenium tidak lagi didominasi oleh kalangan tertentu, tetapi sudah menjadi hal yang umum dikonsumsi oleh segala lapisan masyarakat, khusunya anak-anak dan kaum muda atau remaja. Masyarakat umumnya telah mengetahui bahwa makanan dan minuman cokelat mengandung bahan gizi tinggi yang kaya akan protein, lemak, serta unsur-unsur penting yang dibutuhkan manusia seperti vitamin dan mineral (Wahyudi et all, 2009). Indonesia merupakan penghasil kakao terbesar kedua di dunia setelah Afrika dengan produksi kakao sebanyak 700 ribu ton per tahun. Produksi kakao Afrika kini mencapai 2 juta ton per tahun, dan 95% di antaranya difermentasi. Selain penghasil terbesar di dunia, kakao mereka juga berkualitas. (Chaerul, 2010). Pengembangan tanaman kakao telah menjadi prioritas pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Komoditi kakao merupakan salah satu komoditi yang dipilih oleh Wakil Presiden Yusuf Kalla dalam program revitalisasi pertanian yang dicanangkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Dalam program ini setiap daerah harus mempersiapkan komoditi yang menjadi komoditi unggulan sesuai dengan kemampuan lahan dan komoditi tersebut mampu bersaing di pasar dunia. Oleh karena itu, sumatera barat merupakan sentra produksi kakao di wilayah Indonesia bagian barat. (Dinas Perkebunan Sumatera Barat, 2008). Sumatera Barat merupakan salah satu produsen kakao di Indonesia yang didukung oleh agroklimat, ketersedian lahan dan minat masyarakat yang bagus terhadap komoditi kakao. Pada tahun 2006 memiliki luas tanam kakao sebesar 36.360 Ha dengan produksi 18.721 Ton. Nilai ini meningkat pada tahun 2008 menjadi 61.464 Ha dengan jumlah produksi 32.376 Ton (Lampiran 1) (Dinas Perkebunan Sumatera Barat, 2008). Dengan peningkatan luas serta produksi merupakan modal besar dalam meningkatkan produksi biji kakao yang di lakukan secara fermentasi karena biji kakao fermentasi ini mempunyai mutu dan kualitas yang baik dibandingkan dengan tidak fermentasi.

Biji Kakao yang diperlakukan dengan proses fermentasi memiliki kualitas yang baik dan aroma yang khas sehingga diminati pasar dengan harga yang cukup tinggi. Permintaan kakao fermentasi sangat besar baik domestic maupun ekspor, dan bahkan belum bisa dipenuhi seluruhnya. Diperkirakan permintaan kakao fermentasi dunia mencapai 2 juta ton per tahun (Chaerul, 2010). Namun, Di Sumatera Barat peluang pasar tersebut belum mampu dimanfaatkan secara maksimal. Petani kakao hanya melakukan proses fermentasi secara tradisional dalam jumlah yang sedikit. Hal tersebut disebabkan karena harga kakao fermentasi tidak terlalu jauh beda dengan harga kakao yang tidak di fermentasi. Proses fermentasi membutuhkan perlakuan khusus sehingga membutuhkan waktu, tenaga dan biaya tambahan sehingga apabila harga kakao fermentasi tidak berbeda dengan harga kakao yang tidak difermentasikan mampu mengurangi animo petani untuk melakukan proses fermentasi dengan alasan petani merasa di rugikan dalam melakukannya. Menurut kepala Dinas Perkebunan, Ir Fajarruddin, Jumlah produksi biji kakao kualitas fermentasi di sentra provinsi Sumatera Barat pada saat ini sebesar 10 % dari total jumlah produksi biji kakao di Sumatera Barata yaitu 41.000 Ton/Tahun sehingga hal tersebut membuktikan bahwa produksi biji kakao berkualitas fermentasi belum maksimal dan belum mampu memanfaatkan peluang pasar yang prospektif. Hal tersebut disebabkan karena keinginan petani kakao dalam melakukan fermentaasi biji kakao yang sangat kecil akibat dari selisih harga kakao fermentasi dengan tidak fermentasi sangat kecil. Oleh karena itu, harga kakao fermentasi seharusnya memiliki harga jual yang tepat dan mampu memberikan nilai tambah tehadap pendapatan petani. Harga jual kakao fermentasi yang menguntungkan bagi petani dapat menutupi biaya perlakuan khusus untuk melakukan fermentasi dan mendapatkan laba yang diharapkan petani . Dalam menetapkan harga jual suatu produk pada umumnya berdasarkan harga pokok produk yang mencerminkan besarnya biaya yang harus di keluarkan untuk menghasilkan suatu produk sehingga Oleh karena itu, penetapan harga jual biji kakao fermentasi ini sangat penting dilakukan dengan memperhitungkan biaya-biaya yang dikeluarkan petani dalam memproduksi biji kakao fermentasi serta laba yang diharapkan sehingga

penetapan harga jual tersebut sebagai acuan bagi petani dalam hal harga jual biji kakao fermentasi dan meningkatkan pendapatan yang lebih dari penjualan biji kakao non fermentasi. 1.2 Perumusan Masalah Kecamatan Talawi merupakan salah satu kecamatan yang merupakan sentral produksi kakao di Kota Sawahlunto yang sebagian besar didominasi oleh perkebunan rakyat. Luas areal tanaman kakao di Kecamatan Talawi pada 2006 sebesar 1190 Ha dengan produksi 64 Ton dan pada tahun 2008 meningkat menjadi 2.412 Ha dengan produksi 549 Ton serta pada tahun 2009 luas lahan produksi kakao di Kota Sawahlunto menjadi 4.889 Ha dan 1747 Ton (Lampiran 2) (Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Sawahlunto, 2009). Menurut data Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Sawahlunto, sampai dengan tahun 2009, empat kecamatan yang membudidayakan tanaman kakao dan telah berproduksi (Lampiran 3). Serta telah menyediakan bantuan bibit kakao secara cuma-cuma kepada petani sebanyak 134.515 batang pada tahun 2007 dan pada tahun 2008 disediakan sebanyak 102.100 batang ( 6.113 batang bibit kakao mati atau rusak) dan 28.108 batang pada tahun 2009 (Lampiran 4). Berdasarkan hasil wawancara pada survei pendahuluan, menurut pedagang pengumpul yang ada di Kota Sawahlunto, mereka membeli biji kering kakao dari petani di kumpulkan di gudang tanpa dilakukan pemisahan berdasarkan kualitas melainkan dibedakan berdasarkan banyaknya kadar air. Untuk biji kering kakao dengan kadar air >10% dibeli dengan harga Rp 17.000 Rp 18.000/Kg, sedangkan untuk biji kering kakao dengan kadar air <10% dibeli dengan harga Rp 19.000 Rp 20.000/Kg. Apabila kadar air biji kakao masih diatas 10% maka pedagang pengumpul melakukan penjemuran kembali sebelum dijual ke industri pengolahan dan pedagang besar. Harga fermentasi yang dibeli oleh pedagang pengumpul kepada petani dengan harga rendah Rp 20.500, dibandingkan dengan tanpa fermentasi Rp 19.000 Rp 20.000, sehingga petani menjadi enggan untuk melakukan fermentasi sedangkan untuk melakukan fermentasi dibutuhkan waktu dan biaya tambahan. Dimana seharusnya petani yang melakukan ferrmentasi bisa mendapatkan

tambahan pendapatan karena mutu dan kualitas hasil fermentasi jauh lebih bagus dibanding dengan tanpa fermentasi. Pada kondisi sekarang ini petani menjual kakao yang telah difermentasi dengan harga jual yang rendah Rp 20.500 jika dibandingkan dengan tanpa melakukan fermentasi sekitar Rp 19.000 Rp 20.000, Agar produksi kakao fermentasi meningkat, selisih harga harus signifikan, jadi harga jual biji kakao fermentasi ini yang layak diperoleh petani hendaknya dengan harga bagus, sehingga tidak disuruh pun petani akan memproduksi kakao fermentasi nantinya. sehingga muncul pertanyaan dari penulis sebagai berikut :
1. Berapakah harga jual yang layak untuk biji kakao fermentasi? 2. Apakah petani

memperoleh keuntungan dengan harga jual biji kakao

fermentasi yang layak ? Berdasarkan pernyataan di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian tentang Analisa Penetapan Harga Jual Biji Kakao Fermentasi (Theobroma Cacao L.) di Kecamatan Talawi Kota Sawahlunto. 1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan dari Latar Belakang dan perumusan masalah yang telah disampaikan diatas maka penelitian ini mempunyai tujuan untuk :
1. Menganalisa berapakah harga jual biji kakao fermentasi yang layak untuk

petani kakao fermentasi, sehingga usaha untuk melakukan fermentasi ini meningkat kedepannya
2. Menganalisa berapakah

keuntungan yang diperoleh oleh patani yang

melakukan fermentasi dengan harga jual biji kakao fermentasi yang layak 1.4 Manfaat Penelitian Berdasarkan tujuan tersebut, maka hasil penelitian ini nantinya diharapkan dapat memberikan manfaat, antara lain;
1. Bagi Petani kakao, yaitu sebagai masukan dan informasi sehingga dapat

membantunya dalam mengelola usahataninya dan membantu dalam menghadapi masalah sehubungan budidaya dan acuan terhadap harga jual biji kakao fermentasi.

2. Bagi pemerintah, yaitu sebagai bahan pertimbangan dalam pengembangan

dan penetapan harga jual, sehingga membantu dalam perumusan kebijakan dan perencanaan pembangunan pertanian yang lebih baik.
3. Penelitian ini diharapkan juga dapat menjadi informasi bagi pembaca lain

dan referensi bagi mahasiswa yang ingin melakukan penelitian selanjutnya.