Anda di halaman 1dari 15

PSIKODINAMIKA Sigmund Freud adalah seorang ilmuwan terkenal dalam bidang psikologi yang mempelopori penyelidikan psikoanalisa.

Ia lahir di Freiberg Cekoslowakia tahun 1856. Cekoslowakia saat itu masuk dalam wilayah Kerajaan Austria. Pada umur 4 tahun, ia dan keluarganya pindah ke Wina hingga wafatnya. Pendidikan tetinggi diperoleh dari Fakultas Kedokteran Universitas Wina tahun 1881. Ia kemudian secara intensif melakukan kajian mendalam pada bidang psikologi, membentuk staf klinik psikiatri, melakukan praktek pribadi di bidang neurologi, bekerja di Paris bersama neurolog Perancis kenamaan Jean Charcot dan juga bersama dokter Josef Breuer orang Wina. Karya Freud dalam bidang psikoanalisa dimulai tahun 1895 setelah buku pertama yang memuat laporan penyelidikan tentang histeria diterbitkan, kemudian disusul buku kedua yang membahas mengenai tafsir mimpi yang terbit tahun 1900. Nama Sigmund Freud kemudian melejit sebagai psikolog tingkat dunia setelah ia banyak di undang ke Amerika untuk memberikan ceramah dan presentasi hasil penelitiannya di berbagai universitas besar sekitar tahun 1908. Freud kemudian membentuk kelompok diskusi yang membahas psikologi di Wina Austria tahun 1902. Beberapa tokoh psikologi tergabung di dalam forum ini seperti Alfred Adler dan Carl Yung. Diakhir masa hidupnya, Freud menderita kanker tulang rahang sejak tahun 1923 dan menjalani operasi sampai 30 kali hingga sangat menurunkan kondisi kesehatannya. Tahun 1938 Nazi menduduki Austria dan si Sigmund Freud yang sudah berusia 82 tahun dan keturunan Yahudi itu dipaksa pergi ke London dan meninggal dunia di sana setahun kemudian. Sumbangsih Freud dalam perkembangan ilmu psikologi amat besar terutama penyelidikan mengenai proses bawah sadar sikap manusia. Berikut ini sumbangan Freud secara garis besar: 1. Freud menunjukkan alam bawah sadar berpengaruh terhadap isi mimpi yang sering dialami manusia. 2. Freud mengembangkan teknik psikoanalisa sebagai metode penyembuhan penyakit kejiwaan.

3. Freud merumuskan teori tentang struktur pribadi manusia. Freud mengembangkan atau mempopulerkan teori psikologi yang bersangkutan dengan rasa cemas, mekanisme mempertahankan diri, ihwal pengkhitanan, rasa tertekan, sublimasi dan banyak lagi.1 B. Teori Psikodinamika (Psikoanalisis) Psikodinamika pada awalnya dikembangkan oleh Sigmund Freud (1974) dan pengikut-pengikutnya. Dikatakan psikodinamik, karena teori ini didasarkan pada asumsi bahwa perilaku berasal dari gerakan dan interaksi dalam pikiran manusia, kemudian pikiran merangsang perilaku dan keduanya saling mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya. Teori psikodinamika adalah teori yang berusaha menjelaskan hakikat dan perkembangan kepribadian. Unsur-unsur yang diutamakan dalam teori ini adalah motivasi, emosi dan aspek-aspek internal lainnya. Teori ini mengasumsikan bahwa kepribadian berkembang ketika terjadi konflik-konflik dari aspek-aspek psikologis tersebut, yang pada umumnya terjadi pada anak-anak dini.2 Menurut teori ini, perkembangan jiwa atau kepribadian seseorang ditentukan oleh komponen dasar yang bersifat sosio-efektif, yakni ketegangan yang ada di dalam diri seseorang itu ikut menentukan dinamikanya ditengah-tengah lingkungannya. Menurut salah satu teori psikodinamaika yang terkenal, yaitu teori Freud (Sigmund Freud), maka seseorang anak dilahirkan dalam dua macam kekuatan (energi) biologis, yaitu libido dan nafsu mati, yang mana kekutan ini menguasai semua orang atau semua benda yang berarti bagi anak yang melalui proses yang disebut kathesis yang berarti konsentrasi energi psikis terhadap suatu objek atau suatu ide yang spesifik, atau terhadap satu person yang spesifik. Struktur kepribadian terbagi menjadi tiga komponen yaitu id, ego, super ego.

http://www.biografitokohdunia.com/2011/05/biografi-sigmund-freud.html Elvira SD. Kumpulan Makalah Psikoterapi. Balai Penerbit FKUI, 2005: hal 64.

B. 1. Struktur Kepribadian Menurut Freud (Alwisol, 2005 : 17), kehidupan jiwa memiliki tga tingkat kesadaran, yaitu sadar (conscious), prasadar (preconscious), dan tak sadar (unconscious). Sampai dengan tahun 1920an, teori tentang konflik kejiwaan hanya melibatkan ketiga unsur tersebut. Baru pada tahun 1923 Freud mengenalkan tiga model struktural yang lain, yaitu das Es, das Ich, dan das Ueber Ich. Struktur baru ini tidak mengganti struktur lama, tetapi melengkapi gambaran mental terutama dalam fungsi dan tujuannya. Freud berpendapat bahwa kepribadian merupakan suatu sistem yang terdiri dari 3 unsur, yaitu das Es, das Ich, dan das Ueber Ich (dalam bahasa Inggris dinyatakan dengan the Id, the Ego, dan the Super Ego), yang masing memiliki asal, aspek, fungsi, prinsip operasi, dan perlengkapan sendiri.3 a. Das Es (Id) Das Es yang dalam bahasa Inggris disebut The Id adalah aspek kepribadian yang dimiliki individu sejak lahir. Jadi das Es merupakan factor pembawaan. Das Es merupakan aspek biologis dari kepribadian yang berupa dorongan-dorongan instintif yang fungsinya untuk mempertahankan konstansi atau keseimbangan. Misalnya rasa lapar dan haus muncul jika tubuh membutuhkan makanan dan minuman. Dengan munculnya rasa lapar dan haus individu berusaha mempertahankan keseimbangan hidupnya dengan berusaha memperoleh makanan dan minuman. Menurut Freud, das Es berfungsi berdasarkan prinsip kesenangan (pleasure principle), munculnya dorongan-dorongan yang merupakan manifestasi das Es, adalah dalam rangka membawa individu ke dalam keadaan seimbang. Jika ini terpenuhi maka rasa puas atau senang akan diperoleh. Perlengkapan yang dimiliki das Es menurut Freud berupa gerak-gerak refleks, yaitu gerakan yang terjadi secara spontan misalnya aktivitas bernafas untuk memperoleh oksigen dan kerdipan mata. Selain gerak refleks, das Es juga memiliki perlengkapan berupa proses primer, misalnya mengatasi lapar dengan membayangkan makanan.
3

Jess feist, geogory j feist, 2008, Theories of personality 7 , Jakarta, Salemba Humanika, hal 32-36

th

b. Das Ich (Ego) Das Ich yang dalam bahasa Inggris disebut The Ego merupakan aspek kepribadian yang diperoleh sebagai hasil interaksi individu dengan lingkungannya. Menurut Freud, das Ich merupakan aspek psikologis dari kepribadian yang fungsinya mengarahkan individu pada realitas atas dasar prinsip realitas (reality principle). Misal ketika individu lapar secara realistis hanya dapat diatasi dengan makan. Dalam hal ini das Ich mempertimbangkan bagaimana cara memperoleh makanan. Dan jika kemudian terdapat makanan, apakah makanan tersebut layak untuk dimakan atau tidak. Dengan demikian das Ich dalam berfungsinya melibatkan proses kejiwaan yang tidak simple dan untuk itu Freud menyebut perlengkapan untuk berfungsinya das Ich dengan proses sekunder. c. Das Ueber Ich (Super Ego) Das Ueber Ich atau the Super Ego adalah aspek sosiologis dari kepribadian, yang isinya berupa nilai-nilai atau aturan-aturan yang sifatnya normative. Menurut Freud das Ueber Ich terbentuk melalui internalisasi nilai-nilai dari figur-figur yang berperan, berpengaruh atau berarti bagi individu. Aspek kepribadian ini memiliki fungsi : 1) Sebagai pengendali das Es agar dorongan-dorongan das Es disalurkan dalam bentuk aktivitas yang dapat diterima masyarakat. 2) Mengarahkan das Ich pada tujuan-tujuan yang sesuai dengan prinsip-prinsip moral. 3) Mendorong individu kepada kesempurnaan. Dalam menjalankan tugasnya das Ueber Ich dilengkapi dengan conscientia atau nurani dan ego ideal. Freud menyatakan bahwa conscentia berkembang melalui internalisasi dari peringatan dan hukuman, sedangkan ego ideal berasal dari pujian dan contoh-contoh positif yang diberikan kepada anak-anak. B. 2. Dinamika Kepribadian A. Distribusi Energi Dinamika kepribadian, menurut Freud bagaimana energi psikis didistribusikan dan dipergunakan oleh das Es, das Ich, dan das Ueber Ich. Freud menyatakan bahwa energi

yang ada pada individu berasal dari sumber yang sama yaitu makanan yang dikonsumsi. Bahwa enerji manusia dibedakan hanya dari penggunaannya, enerji untuk aktivitas fisik disebut enerji fisik, dan energi yang dunakan untuk aktivitas psikis disebut energi psikis. Menurut Freud jumlah energy itu terbatas sehingga terjadi semacam persaingan di antara ketiga aspek kepribadian untuk memperoleh dan menggunakannya. Jika salah satu aspek banyak menggunakan energi maka aspek kepribadian yang lain menjadi lemah. Freud menyatakan bahwa pada mulanya yang memiliki energi hanyalah das Es saja. Melalui mekanisme yang oleh Freud disebut identifikasi, energi tersebut diberikan oleh das Es kepada das Ich dan das Ueber Ich. Bagi Freud, manusia termotivasi untuk mencari kesenangan serta menurunkan ketegangan dan kecemasan motivasi ini diperoleh oleh dari energy psikis dan fisik dari dorongan-dorongan dasar yang mereka miliki.

B. Dorongan-dorongan Freud menggunakan istilah dakam bahasa jerman yaitu trieb untuk menjelaskan dorongan atau stimulus yang ada didakam diri seseorang. Mereka yang menerjemahkan pikiran freud menggunakan istilah insting, tetapi sebetulnya kata yang paling cocok adalah dorongan (drive) atau (implus). Dorongan bekerja sebagai tekanan motivasional yang konstan. Sebagai stimulus internal. Menurut Freud (1933/1964), berbagai macam dorongan bisa digolongkan berdasarkan dua kategori, yaitu seks atau eros dan agresi, distraksi atau thanatos. Dorongan-dorongan ini bermaksud pada id, tetapi berada dibawah kendali ego. Masingmasing dorongan memiliki bentuk energi psikis masing-masing. Freud menggunakan istilah libido untuk dorongan seks, sedangkan energy untuk dorongan agresi tidak diberi nama. Penjelasan ada di bawah ini :4 a) Seks: tujuan dorongan seksual adalah kesenangan, tetapi kesenangan ini tidak terbatas pada pemuasan genital. Freud meyakini bahwa seluruh tubuh dialiri oleh
4

Ibid, hal 36

libido, selain genital, mulut dan anus juga mampu menghasilkan kesenangan seksual dan dikenal sebagai zona erogenous (erogenous zones). Tujuan utama dari dorongan seksual (pengurangan ketegangan seksual) ini tak bisa diubah, tetapi jalur yang ditempuh untuk mencapai tujuan dapat bervariasi. b) Agresi: tujuan dari dorongan merusak, menurut freud, adalah kembalinya organisme ke kondisi inorganik. Oleh karena kondisi inorganic yang paling utama adalah kematian, maka tujuan akhir dari dorongan agresi adalah penghancuran diri. Serupa dengan dorongan seksual, agresi bersifat fleksibeldan bisa berubah bentuk, kisalnya dengan menggoda, bergosup, sarkasme, mempermalukan orang lain, humor dan menikmati penderitaan orang lain. Kecenderungan agresi ada pada semua orang dan hal ini menjelaskan mengapa terjadi perang, pembantaian, dan pencemaran agama. c) Kecemasan: dalam menjelaskan kecemasan , Freud (1933/1964) menjelaskan bahwa kecemasan merupakan situasi afektif yang dirasa tidak menyenangkan yang diikuti oleh sensasi fisik yang memperingatkan seseorang akan bahaya yang mengancam. Perasaan tidak menyenangkan ini biasanya samar-samar dan sulut dipastikan, tetapi selalu terasa. Kecemasan berfungsi sebagai mekanisme yang mengamankan ego karena memberi sinyal bahwa ada bahaya didepan mata (Freud, 1933/1964). Misalnya, yang memungkinkan kita untuk menyamarkan gambaran mimpi. Kecemasan memungkinkan ego yang selalu siaga ini tetap waspada terhadap tanda-tanda ancaman dan bahaya. Sinyal adanya bahaya yang mengintai membuat kita bersiaga untuk melawan atau melindungi diri.

C. Mekanisme Pertahanan Ego Menurut Freud, mekanisme pertahanan ego (ego defence mechanism) sebagai strategi yang digunakan individu untuk mencegah kemunculan terbuka dari dorongan-

dorngan das Es maupun untuk menghadapi tekanan das Uber Ich atas das Ich, dengan tujuan kecemasan yang dialami individu dapat dikurangi atau diredakan5 Freud pertama kali mengembangankan pemikiran tentang Mekanisme Pertahanan Diri ini pada tahun 1926.kemudian anaknya menyempurnkan konsep ini. Sekalipun mekanisme pertahanan ini normal dan digunkan secara universal. Mekanisme-mekanisme pertahanan utama yang di identifikasi oleh freud mencakup represi, pembentukan reaksi, pengalihan, fiksasi, regresi, proyeksi, introyeksi, dan sublimasi. Diantaranya adalah:6 a. Represi Mekanisme pertahanan yang paling dasar, karena muncul juga pada bentukbentuk mekanisme pertahanan lain, adalah repres (Repression). Manakala ego terancam oleh dorongan-dorongan ID yang tidak di kehendaki, ego melindungi dirinya dengan merepresi dorongan-dorongan tersebut dengan cara memaksa perasaan-perasaan mengancam masuk ke alam tidak sadar (Freud, 1926/1959a). Dalam banyak kasus, represi ini bisa muncul sepanjang hidup. Misalnya, seorang perempuan muda bisa slamanya menekan rasa marah pada adik perempuannya karena rasa benci tersebut melahirkan kecemasan yang terlalu besar. b. Pembentukan Reaksi Salah asatu cara agar dorongan yang di tekan tersebut bisa disadari adalah dengan cara menyembunyikan diri dalam selabung yang sama sekali bertentangan dengan bentuk semula. Mekanisme pertahanan seperti ini disebut sebagai

pembentukan reaksi. Perilaku reaktif ini bisa dikenali dari sifatnya yang berlebihlebihan dan bentuk yang obsesif juga kompulsif. Contoh dari pembentukan reaksi bisa dilihat dari seorang perempuan muda yang sangat marah dan benci kepada ibunya, oleh karena ia tahu bahwa masyarakat menuntut anak untuk sayang pada orang tuanya, maka kesadaran akan rasa benci pada sang ibu akan membuatnya mersakan kecemasan yang besar. Guna
5
6

Koeswara, E. (1991) Teori-teori Kepribadian. Bandung Eresco. hal 46 Jess feist, geogory j feist, 2008, Theories of personality 7 , Jakarta, Salemba Humanika, hal 37-40
th

menghindari rasa sakit akibat kecemasan itu, maka si perempuan muda ini berkonsentrasi pada dorongan-dorongan yang sebaliknya, yaitu CINTA. Akan tetapi cintanya kepada sang ibu tidaklah tulus. Cintanya terlalu ditonjolkan, dibesarbesarkan dan di buat-buat. Orang lain bisa dengan mudah melihat perasaan yang ada dibalik rasa cintanya, tetapi reaksinya yang membantu dirinya

menyembunyikan kebenaran, yaitu rasa benci pada sang Ibu yang membuatnya cemas. c. Pengalihan Freud (1926/1959a)meyakini bahwa pembentukan reaksi terbattas hanya pada satu objek tunggal. Misalnya, orang memiliki rasa cintayang reaktif akan membanjiri orang yang diam-diam mereka akan membenci dengan perhatian yang berlebihan. Akan tetapi, pada pengalihan orang bisa mengarah kan dorongan-

dorongan yang tak sesuai ini pada sejumlah orang atau objek sehingga dorongan aslinya terselubung atau tersembunyi. Misalnya seorang perempuan yang marah pada teman sekamarnya bisa mengalihkan rasa marahnya kepada para pegawainya, kucin peliharaannya, ataupun boneka yang ia miliki. Ia akan tetap bersikap ramah kepada teman sekamarnya. Akan tetapi berbeda dengan pembentukan reaksi,sikap ramah tersebut tidak di ungkapkan secara berlebihan atau dibesar-besarkan. d. Fiksasi Secara umum, pertumbuhan psikis lazimnya bergerak secara continue melalui serangkaian tahap perkembangan. Akan tetapi, proses pendewasaan secara psikologis tidaklah bebas dari moment yang penuh dengan setress maupun kecemasan. Jika melangkah ke tahap perkembangan lebih lanjut memunculkan kecemasan yang begitu besar, maka ego bisa mengambil strategiuntuk tetap bertahan ditahap psikologis saat ini, yang lebih nyaman pertahanan seperti ini disebut sebagai fiksasi (fixation). Secara teknis, fiksasi merupakan keterikatan permanen dari libido pada tahap perkembangan sebelumnya yang lebih primitif (Freud, 1917/1963) serupa dengan mekanisme pertahannan lainnya. Fiksasi bersifat universal, orang-orang yang terus menerus mendapatkan kepuasan lewat makan,

merokok, atau bicara bisa jadi memiliki fiksasi oral, sebagaimana mereka yang terobsesi pada kerapihan dan keteraturan memiliki fiksasi anal. e. Regresi Pada saat libido melewati perkembangan tertentu, di masa-masa penuh setres dan kecemasan, libido bisa kembali ketahap yang sebelumnya. Langkah mundur ini dikenal sebagai regresi, misalnya ank yang sudah di sapih total bisa mundur dan menuntut untuk minum dari botol atau mengisap puting susu pada saat adiknya lahir. f. Proyeksi Ketika dorongan dari dalam menyebabkan kecemasan yang berlebihan, ego biasanya mengurangi rasa cemas tersebut dengan mengarahkan dorongan yang tidak diinginkanke objek eksternal, biasanya ke orang lain. Inilah yang disebut dengan mekanisme proyeksi. Didefinisikan sebagai melihat dorongan atau perasaan orang lainyang tidak dapat diterima, padahal sebenarnya perasaan atau dorongan ada di alam tidak sadar dari diri sendiri (freud, 1915/1957b). Jenis proyeksi yang ekstrem adalah paranoid yaitu, kelainan mental yang ditandai dengan pikiran-pikiran yang salah (Delusi) yang begitu kuat berupa rasa cemburu terhadap orang lain dan merasa di kejar-kejar oleh orang lain. Paranoid tidak selalu muncul akibat proyeksi, tetapi merupakan jenis ekstrim dari proyeksi. g. Introyeksi Sementara proyeksi mencakup pengarahan dorongan yang tidak diinginkan ke objek eksternal, introyeksi adalah mekanisme pertahanan dimana seorang meleburkan sifat-sifat positif orang lain kedalam egonya sendiri. Contohnya seorang remaja yang melakukan introyeksi atau mengadopsi perilaku, nilai, atau gaya hidup seorang bintang film. Introyeksi seperti ini memberikan seorang remaja tersebut rasa menghargai diri sendiri yang berlebihan dan meminimalkan perasaan-perasaan inferiornya. Orang mengintroyeksikan hal-hal yang mereka anggap bernilai dan hal tersebut membuat mereka bisa memandang diri mereka sendiri lebih baik. h. Sublimasi

Masing-masing dari mekanisme pertahanan di atas, membantu individu melindungi ego dari kecemasan. Akan tetapi, setiap mekanisme tersebut tidak sepenuhnya bisa diterima oleh masyarakat. Menurut freud (1917/1963), satu mekanisme yaitu sublimasi dapat diterima, baik oleh individu maupun kelompok sosial.

B. 3. Perkembangan Kepribadian7 a. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadian Perkembangan kepribadian individu menurut Freud, dipengaruhi oleh kematangan dan cara-cara individu mengatasi ketegangan. Menurut Freud, kematangan adalah pengaruh asli dari dalam diri manusia. Ketegangan dapat timbul karena adanya frustrasi, konflik, dan ancaman. Upaya mengatasi ketegangan ini dilakukan individu dengan : identifikasi, sublimasi, dan mekanisme pertahanan ego. b. Tahap-tahap perkembangan kepribadian Freud mencatat bahwa di usia-usia tertentu, beberapa bagian dari kulit kita dapat menimbulkan yang lebih besar dibanding bagian kulit yang lain. Teoritikus pada era selanjutnya menyebut bagian kulit ini dengan daerah erogen (erogeneus). Menurut freud, bayi mendapat kenikmatan tertinggi ketika menghisap, khususnya ketika menyusu pada ibunya. Seperti kita lihat, bayi sangat senang memasukkan benda-benda yang dia pegang ke mulutnya. Di usia berikutnya, dia sampai pada tahap kenikmatan anal, yaitu memegang dan melepaskan benda yang ada pada tangannya. Di usia 3 atau 4 tahun, dia akan menemukan kenikmatan ketika menyentuh alat kelaminnya. Kemudian, di saat perkembangan seksual sudah mencapai kematangan, kita menemukan kenikmatan paling tinggi dalam

Sumadi Suryabrata. (2005) Psikologi Kepribadian. Hal 172-173

10

berhubungan seksual. Berdasarkan pengamatan inilah Freud membuat teori tahap perkembangan kepribadian atau psikoseksual. Yaitu :8

1) Fase oral (oral stage): 0 sampai kira-kira 18 bulan Bagian tubuh yang sensitif terhadap rangsangan adalah mulut. Tujuan seksual dari aktivitas oral awal ini adalah untuk mengambil atau menerima objek pilihan yaitu puting susu ke dalam ke dalam tubuh bayi, begitu mereka tumbuh dewasa, mereka cenderung mengalami perasaan frustasi dan kecemasan karena penjadwalan sesi menyusui, jeda waktu antar sesi menyusui yang semakin panjang, dan penyapihan bertahap. Sementara anak tumbuh besar, mulut tetap menjadi zona erogen. Pada saat mereka dewasa, mereka mampu memuaskan kebutuhan oral dalam berbagai macam cara,seperti mengisap permen, mengunyah permen karet, menggigit pensil, makan berlebihan, merokok, mengisap pipa dan cerutu, juga mengeluarkan pernyataan sarkastis yang menusuk. 2) Fase anal (anal stage) : kira-kira usia 18 bulan sampai 3 tahun. Pada fase ini bagian tubuh yang sensitif adalah anus. Selama periode anal awal (early anal awal), anak memperoleh kepuasan dari merusak atau menghilangkan objek. Pada masa ini sifat menghancurkan dari dorongan sadistis lebih kuat dibandingkan dorongan erotis sehingga anak anak sering kali bertindak agresif pada orang tua karena membuat mereka frustasi dengan latihan penggunaan toilet (toilet training). Pada tahap oral dan anal, tidak ada perbedaan mendasar antara perkembangan psikoseksual pada pria dan wanita, anak-anak, baik berjenis kelamin laki-laki atau perempuan bisa mengembangkan orientasi aktif maupun pasif. Sikap aktif ini sering kali ditandai dengan apa yang Freud (933-964) disebut sebagai kualitas maskulin dari kekuatan dan sadism. Sementara Orientasi Pasif, umumnya ditandai dengan kualitas feminim dari Voyeurisme dan Masokisme. Akan tetapi, kedua orientasi tersebut juga kombinasi antara keduanya sama-sama bisa berkembang, baik anak laki-laki maupun perempuan
8

Op Cit, hal 44-43

11

3) Fase falis (phallic stage) : kira-kira usia 3 sampai 6 tahun. Bagian tubuh yang sensitif pada fase falis adalah alat kelamin. Anak memulai tahap ketiga dari perkembangan infantil-fase falik (Phalic Phase), yaitu masa dimana wilayah genital menjadi zona erogen utama. Tahap ini ditandai pertama kalinya lewat dikotomi antara perkembangan pria dan wanita, perbedaan yang Freud (1925/1961) yakini disebabkan oleh perbedaan anatomi antara kedua jenis kelamin tersebut. Freud juga percaya bahwa anak laki-laki mulai melihat ayah mereka sebagai saingan untuk ibu kasih sayang itu. Akhirnya, anak menyadari mulai mengidentifikasi dengan induk yang samaseks sebagai alat vicariously memiliki orang tua lainnya. Untuk anak perempuan, Namun, Freud percaya bahwa penis iri tidak pernah sepenuhnya terselesaikan dan bahwa semua wanita tetap agak terpaku pada tahap ini. Psikolog seperti Karen Horney sengketa teori ini, menyebutnya baik tidak akurat dan merendahkan perempuan. Sebaliknya, Horney mengusulkan bahwa laki-laki mengalami perasaan rendah diri karena mereka tidak bisa melahirkan anak-anak. 4) Fase laten (latency stage) : kira-kira usia 6 sampai pubertas Periode laten adalah saat eksplorasi di mana energi seksual tetap ada, tetapi diarahkan ke daerah lain seperti pengejaran intelektual dan interaksi sosial. Tahap ini sangat penting dalam pengembangan keterampilan sosial dan komunikasi dan kepercayaan diri. Freud menggambarkan fase laten sebagai salah satu yang relatif stabil. Tidak ada organisasi baru seksualitas berkembang, dan dia tidak membayar banyak perhatian untuk itu. Untuk alasan ini, fase ini tidak selalu disebutkan dalam deskripsi teori sebagai salah satu tahap, tetapi sebagai suatu periode terpisah. 5) Fase genital (genital stage): terjadi sejak individu memasuki pubertas dan selanjutnya. Pada masa ini individu telah mengalami kematangan pada organ reproduksi. Individu mengembangkan minat seksual yang kuat pada lawan jenis. Dimana dalam tahap-tahap awal fokus hanya pada kebutuhan individu, kepentingan kesejahteraan orang lain tumbuh selama tahap ini. Jika tahap lainnya telah selesai

12

dengan sukses, individu sekarang harus seimbang, hangat dan peduli. Tujuan dari tahap ini adalah untuk menetapkan keseimbangan antara berbagai bidang kehidupan.

C. Aplikasi Teori Psikodinamika Berdasarkan pemaparan teori psikodinamika di atas, bahwa teori perkembanagn ini bisa di aplikasikan dalam dunia pendidikan khususnya dalam memeberikan bimbingan kepada peserta didik. Pertama, konsep kunci teori psikodinamika bahwa manusia adalah makhluk yang memiliki dua kekuatan (energy)biologic, yaitu libido dan nafsu mati.9 Dengan demikian,konselor dalam memberikan bimbingan harus selalu berpedoman kepada apa yang dibutuhkan dan yang diinginkan oleh yang diberikan konseling (siswa), sehingga bimbingan benar-benar efektif. Adapun fungsi-fungsi bimbingan dalam pendidikan antara lain:10 a. Memahami Individual Seorang guru dan pembimbing dapat memberikan bantuan yang efektif jika mereka dapat memahami dan mengerti persoalan, sifat, kebutuhan, minat, dan kemampuan anak didiknya. Karena itu, bimbingan yang efektif menuntut secara mutlak pemahaman diri anak secara menyeluruh. Karena tujuan bimbingan dan pendidikan dapat dicapai jika programnya didasarkan atas pemahaman diri anak didiknya. b. Preventif dan Pengembangan Individual Preventif dan pengembangan merupakan dua sisi dari satu mata uang. Preventive berusaha mencegah kemerosotan perkembangan seseorang dan minimal dapat memelihara apa yang telah dicapai dalam perkembangannya melalui pemberian pengaruh-pengaruh yang positif, memberikan bantuan untuk

mengembangkan sikap dan pola perilaku yang dapat membantu setiap individu
9

Thalib, Babhri, Syamsul, Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis Empiris Aplikatif, 2010, Jakarta, Prenada Media Group, hal 17 10 Jess Feist,. Gregory J. Feist. 2008. Theories of Personality (diterjemahkan oleh Yudi Santoso). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

13

untuk mengembangkan dirinya secara optimal. Membantu individu untuk menyempurnakan setiap manusia pada saat tertentu membutuhkan pertolongan dalam menghadapi lingkungannya. Bimbingan dapat memberikan pertolongan pada anak untuk mengadakan pilihan yang sesuai dengan potensi dan kemampuan yang dimilikinya. Ada lima fase yang bisa digunakan dalam dalam mencapai peran preventif dan pengembangan individu. Pertama, konsep bahwa manusia dalah makhluk yang dilahirkan dengan memiliki kebutuhan dan keinginan. Sebagai pendidik kita harus mengetahui dan sadar bahwa peserta didik yang kita didik adalah orang yang memiliki kebutuhan dan keinginan. Dalam dunia pendidikan ada istilah need assasment yaitu penilaian kebutuhan, apa yang dibutuhkan masyarakat dan peserta didik itu sendiri. Jangan memeberikan sesuatu yang itu tidak memberikan kepuasan pada kebutuahan dan keinginannya atau sesuai dengan akal (ego). Kedua, konsep teori tentang kecemasan yang dimiliki seseorang dapat digunakan sebagai wahana pencapaian tujuan bimbingan, yaitu membantu individu supaya mengerti diri dan lingkungannya, mampu memilih, memutuskan dan merencanakan hidup secara bijaksana mampu mengembangkan kemampuan dan kesanggupan, memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupannya, mampu mengelola aktivitas sehari-hari dengan baik dan bijaksana, mampu memahami dan bertindak sesuai dengan norma agama, social dalam masyarakatnya. Inilah salah satu bentuk aplikasi dari struktuk kepribadian tahan super ego. Ketiga, konsep teori psikoanalisis yang menekankan pengaruh masa lalu (masa kecil) terhadap perjalanan manusia. Dalam system pembinaan akhlak individual, islam menganjurkan agar keluarga dapat melatih dan membiasakan anak-anknya agar dapat tumbuh kembang sesuai dengan norma agama dan social. Bila sebuah keluarga mampu memberikan bimbingan yang baik, maka kelak anak itu diharapkan akan tumbuh menjadi manusia yang baik. Keempat, teori freud tentang tahapan perkembangan kepribadian individu dapat digunakan dalam proses bimbingan, baik sebagai materi maupun pendekatan. Konsep ini memberikan arti bahwa, materi, metode, dan pola bimbingan harus

14

disesuaikan dengan tahapan perkembangan kepribadian individu, karena pada setiap tahapan itu memiliki karakteristik dan sifat yang berbeda. Kelima, konsep Sigmund Freud tentang ketidaksadaran dapat digunakan dalam proses bimbingan yang dilakukan pada individu dengan harapan dapat mengurangi impuls-impuls dorongan id yang bersifat irrasional sehingga berubah menjadi rasional.

15

Anda mungkin juga menyukai