Anda di halaman 1dari 93

Misteri Warisan Hitchcock

dari The Mystery of The Hitchcock Inheritance oleh Mark Zahn dialihbahasakan oleh FXRBDS

KATA PENGANTAR DARI REGINALD CLARKE


Salam, para penggemar Trio Detektif! Hari ini adalah kesempatan langka bagi kalian ... karena yang kalian pegang di tangan kalian saat ini adalah 'kasus yang hilang' dari detektif muda kita yang telah berpengalaman! Seperti kalian ketahui, banyak orang di dunia bersedih atas meninggalnya sutradara film besar dan pembimbing Trio Detektif, Alfred Hitchcock. Anak-anak itu merasa mereka telah kehilangan seorang sahabat karib dengan kepergiannya dan memang itulah yang terjadi. Maka ketika datang kesempatan untuk memecahkan sebuah misteri yang melibatkan surat wasiatnya, mereka langsung bersedia! Jika kalian tidak terlalu mengenal Jupiter, Pete, dan Bob, maka biarlah ini menjadi kata perkenalan bagi kalian. Jika kalian telah mengenal mereka dengan baik, silakan langsung menuju Bab I dan menikmati cerita ini. Seperti yang telah kuketahui dari teman lamaku Hitch, setiap kata pengantar Trio Detektif haruslah dimulai dengan Jupiter Jones yang sedikit kelebihan berat badan. Dikenal sebagai Jupe oleh kawan-kawannya, Penyelidik Pertama ini memiliki otak yang logis, hati yang penuh keberanian, dan tekad yang kuat untuk memecahkan teka-teki. Penyelidik Kedua adalah Pete Crenshaw, yang dengan perawakannya yang kekar dan atletis merupakan aset yang sangat penting bagi Trio Detektif. Dan tidak ada biro detektif yang dapat bertahan lama tanpa adanya catatan dan riset yang teratur rapi. Ini adalah bagian Bob Andrews. Bob cekatan dalam bertindak dan dengan fakta. Catatannya yang teliti memungkinkan kita semua untuk menikmati petualangan demi petualangan kelompok detektif muda ini. Anak-anak itu tinggal di sebuah kota pantai bernama Rocky Beach, California, yang terletak di antara Santa Monica yang penuh bukit dan Hollywood yang gemerlap. Markas mereka adalah sebuah karavan rusak sepanjang sepuluh meter, yang mereka sembunyikan di antara tumpukan rongsokan di pangkalan barang bekas yang dikenal sebagai Jones Salvage Yard -- dimiliki dan dioperasikan oleh paman dan bibi Jupe: Titus dan Mathilda Jones.

fotoselebriti.net

Semboyan mereka adalah "Kami menyelidiki Apa Saja" dan dalam kasus ini mereka membuktikannya. Dan sekarang, cukup dengan kata pengantar. Seperti yang suka diucapkan teman lamaku Alfred Hitchcock .... Lampu, kamera, action! REGINALD CLARKE

BAB I PERPISAHAN DENGAN SEORANG SAHABAT


"Aku masih tidak bisa percaya," kata Pete Crenshaw. Remaja jangkung itu duduk di atas peti tempat jeruk di bengkel Jupiter Jones, yang terletak di sudut Jones Salvage Yard. "Rasanya aku tidak pernah merasa sesedih ini." Bob Andrews menghela nafas dan menendang sebutir kerikil. "Sulit dipercaya Mr. Hitchcock telah pergi," katanya. "Aku tahu kita baru saja pulang dari pemakamannya namun sepertinya masih sulit menerimanya." Jupiter duduk di atas mesin cetak tua yang telah diperbaikinya beberapa waktu yang lalu. "Perasaan seperti itu wajar bagi orang yang baru saja kehilangan seseorang yang disayangi, Data," katanya, melonggarkan dasi. "Kita harus berusaha sebisa-bisanya membiasakan diri meskipun aku tidak yakin apa dampak kejadian ini bagi masa depan Trio Detektif." Pete mengusap dagu dan menatap kosong. Tadi pagi ia, Jupiter, dan Bob meninggalkan Rocky Beach bersama Paman Titus dan Bibi Mathilda menuju ke Hollywood untuk menghadiri pemakaman sahabat lama mereka, Alfred Hitchcock, sang sutradara film kenamaan. Mereka telah mengenal Mr. Hitchcock sejak kasus pertama mereka, Misteri Puri Setan, dan sutradara besar itu telah menuliskan kata pengantar untuk setiap kasus mereka hingga yang terakhir, Misteri Karang Hiu. Sekarang pembimbing mereka telah pergi dan anak-anak itu merasa ditinggalkan. "Jupe," kata Pete, "apa yang akan kita lakukan tanpa Mr. Hitchcock yang memberi kata pengantar untuk kasus kita?" "Aku tidak tahu, Dua," jawab temannya yang gempal itu. "Sekarang aku bahkan tidak yakin bisa memecahkan misteri apapun."

Teman-temannya mengangguk setuju. Sukar untuk berpikir jernih sejak mereka mendengar berita duka itu. Tidak satupun dari mereka pernah ditinggalkan orang yang dekat dengan mereka. Meskipun Jupiter adalah seorang anak yatim piatu yang diadopsi oleh paman dan bibinya, ia masih terlalu kecil ketika orangtuanya meninggal untuk mengingat mereka dengan jelas. Hans dan Konrad, dua bersaudara dari Bavaria yang membantu di pangkalan barang bekas, muncul di pintu masuk bengkel. Mereka menggenggam topi mereka di tangan dan menyeret kaki mereka. Hans berdehem. "Jupe, Pete, Bob. Konrad dan aku ingin mengucapkan turut berduka cita atas kepergian Mr. Hitchcock." "Ya," kata Konrad memerlukannya." tulus, "apapun akan kami lakukan jika kalian

"Terima kasih, Hans, terima kasih, Konrad," kata Jupe pelan. "Kami menghargainya." "Baiklah," kata Hans. "Kalau ada yang kalian butuhkan, cukup bersiul saja." Dan kedua pemuda berambut pirang itu pergi dengan sedih, kepala mereka tertunduk. ***** Beberapa hari kemudian anak-anak itu masih merasa sangat kehilangan. Untuk membantu mengalihkan pikiran mereka telah dengan suka rela membantu Paman Titus, Hans, dan Konrad mengganti lembaran seng yang menempel pada bagian dalam pagar pangkalan yang tinggi. Seng itu berfungsi sebagai atap yang melindungi barang-barang yang cukup berharga dari hujan dan panas matahari. Mereka sedang berjalan ke gerbang depan untuk mengambil lembaran seng terakhir ketika Bob melihat lampu merah di bengkel Jupiter berkedip-kedip. "Telepon di markas!" katanya. "Mungkin sebuah kasus!" Ketiga anak itu melupakan lembaran seng itu dan berlarian menuju karavan tua. "Gunakan Pintu Empat karena kita berada di sisi jauh markas," kata Jupiter. Pintu Empat adalah salah satu dari banyak jalan rahasia yang mereka gunakan untuk keluar masuk karavan yang tersembunyi itu. Darurat Satu, Lorong Dua, dan Gampang Tiga adalah jalan-jalan yang lain. Mereka berlari melalui selasela tumpukan barang bekas yang membentuk lorong yang rumit dan masuk ke markas melalui dinding samping. Jupiter menyambar telepon. "Trio Detektif," katanya kehabisan nafas. "Dengan Jupiter Jones."

"Selamat siang, Jones. Namaku Reginald Clarke," kata sebuah suara yang sangat dalam dan penuh ketegasan. "Mudah-mudahan kau bisa meluangkan sedikit waktu." Jupiter bergegas menyalakan pengeras suara yang terhubung ke telepon, yang terdiri dari sebuah radio tua dan mikrofon. Sekarang ketiga anak itu dapat mendengar pembicaraan yang sedang berlangsung. "Reginald Clarke, produser film itu?" tanyanya heran. "Itulah aku," kata Mr. Clarke. "Aku sadar kita belum pernah bertemu namun aku adalah sahabat Alfred Hitchcock ... kau tahu kami bekerja sama dalam beberapa film. Aku ingin mengucapkan belasungkawa yang sedalam-dalamnya." Terima kasih, sir," kata Jupiter. "Anda begitu baik." Suara bariton Reginald Clarke yang dalam diam sejenak kemudian berlanjut. "Ada alasan kedua mengapa aku menelepon, itu jika Trio Detektif masih beroperasi." "Ya, masih," kata Jupiter. "Apa yang bisa kami lakukan untuk Anda?" "Persoalannya cukup pelik," kata Reginald Clarke. "Sebaiknya kita tidak membicarakannya di telepon. Bisakah kalian datang ke kantorku di World Studios pukup sembilan besok pagi?" Jupiter menatap Bob dan Pete, keduanya mengangguk setuju. "Kami akan ada di sana, Mr. Clarke. Jam sembilan tepat!" "Bagus," suara produser itu menggelegar. "Sampai jumpa." "Sampai jumpa, sir," kata Jupiter. Ia memutuskan hubungan dan menatap Bob dan Pete. "Waduh, apa kira-kira yang akan dibicarakan oleh Mr. Clarke ya?" "World Studios," kata Pete sambil mengangkat patung dada Alfred Hitchcock yang terbuat dari marmer dari tempat terhormatnya di atas lemari arsip. "Jangan-jangan ada hubungannya dengan Mr. Hitchcock." "Rasanya kita harus menunggu sampai besok untuk mengetahuinya," kata Bob. "Sekarang aku sebaiknya pergi ke perpustakaan. Aku hampir terlambat dan menurut Miss Bennett setengah dari buku-buku yang ada di perpustakaan perlu dikembalikan ke raknya! Sampai jumpa besok pagi di gerbang depan." "Sampai besok, Bob," kata Jupiter dan Pete sementara rekan mereka menghilang ke dalam Lorong Dua, sebuah tingkap di lantai yang membuka ke sebuah pipa di bawah markas.

"Ayo, Pete," Jupiter menghela nafas. "Kembali bekerja. Boleh jadi Paman Titus sedang kebingungan memikirkan ke mana kita telah menghilang." Dengan murung Pete mengembalikan patung dada itu ke atas lemari arsip dan mematikan lampu sambil keluar.

BAB II TANTANGAN DARI KUBUR


Keesokan paginya anak-anak itu berdiri menunggu di luar gerbang besar Jones Salvage Yard. Masing-masing telah mandi sebersih-bersihnya dan mengenakan pakaian terbagus mereka, seperti yang tiap kali mereka lakukan jika hendak mengunjungi World Studios untuk menemui Alfred Hitchcock. "Ini dia Worthington," kata Jupiter. Worthington adalah seorang supir sempurna berkebangsaan Inggris yang bertanggung jawab atas Rolls Royce bersepuh emas yang dimenangkan Jupiter dalam suatu lomba beberapa waktu yang lalu. Berkat kedermawanan seorang klien bernama August August, mereka telah mendapatkan hak untuk menggunakan mobil mewah itu tanpa batas waktu. Mobil itu memberi kesan tersendiri setiap kali mereka mengunjungi World Studios untuk meminta Alfred Hitchcock menuliskan kata pengantar untuk sebuah kasus. Worthington menoleh di tempat duduk pengemudi ketika anakanak itu masuk. "Selamat pagi, Tuan-tuan," katanya. "Sebelum ini saya khawatir bahwa jasa transportasi yang saya sediakan untuk pemakaman Mr. Hitchcock akan menjadi tugas saya yang terakhir bagi Anda. Saya sangat gembira bahwa saya telah salah." "Tidak mungkin, Worthington," kata Pete. "Bahkan sekarang kita akan pergi ke World Studios untuk mengunjungi seorang produser film yang lain." "Bagus sekali, Master Pete," Worthington tersenyum. "Ke World Studios!" Sebentar kemudian mobil hitam mengagumkan itu meluncur masuk melalui gerbang studio besar tersebut. Ernie, penjaga gerbang, telah mengenal mobil itu dan melambai menyilakan mereka lewat sambil tersenyum. Worthington membawa mobil itu ke sebuah kantor dengan "R. CLARKE" tertulis di pintu dengan huruf-huruf rapi. Anak-anak keluar dari mobil dan Jupuiter mengetuk pintu, kemudian masuk. Di tempat penerima tamu duduk Henrietta Larson, sekretaris pribadi Mr. Hitchcock sebelum kepergiannya. Anak-anak itu masih ingat kesulitan yang mereka hadapi ketika mereka berusaha melewati Si Angkuh Henrietta untuk

menemui Mr. Hitchcock pertama kalinya. Sekarang nampaknya ia akan menjadi sekretaris Mr. Clarke. "Selamat pagi, Henrietta," kata Jupiter. "Mr. Clarke ada? Kami ada janji dengannya pukul sembilan." Henrietta sedang mengeluarkan barang-barang dari sebuah kotak kecil. Jupiter dapat melihat bahwa ia baru saja memindahkan benda-benda pribadinya dari meja lamanya di kantor Mr. Hitchcock. Hal itu jelas telah membuat gadis itu merasa tertekan dan ia mengusap matanya dengan saputangan. "Ya, tentu saja," katanya terisak. "Silakan langsung masuk." Anak-anak merasa kasihan terhadapnya. Tanpa bersuara mereka berjalan ke pintu. "Jupiter, Peter, Robert ...," katanya. Ketiga anak itu menoleh. "Senang bertemu dengan kalian lagi." Mereka tersenyum. "Senang bertemu denganmu lagi, Henrietta," kata Bob. "Kami gembira engkau sekarang bekerja untuk Mr. Clarke." Mereka memasuki ruangan kantor yang luas itu, Reginald Clarke, produser film ternama itu, duduk di belakang sebuah meja kayu yang sangat besar. Ia sedang berbicara di telepon, maka anak-anak duduk dengan tenang dan menunggunya selesai. Sebentar kemudian ia meletakkan telepon dan berpaling menatap mereka. "Selamat pagi, Teman-teman. Terima kasih telah datang menemuiku." "Suatu kehormatan bagi kami, Mr. Clarke," kata Jupiter. "Apa yang bisa dilakukan Trio Detektif untuk Anda?" "Hmmm," gumam pria bertubuh besar itu, "sebenarnya bukan apa yang bisa kalian lakukan untukku," katanya. "Lebih tepat dikatakan apa yang bisa kalian lakukan untuk Mr. Hitchcock." Anak-anak menatapnya dengan bingung dan Mr. Clarke terkekeh. "Tidak terlalu membingungkan sebenarnya ... paling tidak belum!" katanya. "Keluarga Mr. Hitchcock yang sebenarnya memerlukan bantuan." "Apapun yang dapat kami lakukan, kami siap," kata Jupiter. "Hanya itulah yang dapat kami tawarkan."

Produser itu memandang mereka dengan suram dan mengangguk. "Memang kuharap kau akan berkata demikian," katanya akhirnya. "Hari ketika sahabat karibku Alfred Hitchcock meninggal adalah hari yang menyedihkan namun ialah yang tertawa paling akhir ... dari dalam kubur!" "Waduh!" kata Pete. "Aku tidak terlalu suka mendengarnya!" Mr. Clarke terkekeh lagi. "Kau pastilah Pete," katanya. "Meskipun ini adalah kali pertama kita bertemu, aku merasa aku telah mengenal kalian. Hitch sering berbicara tentang kalian dan beberapa kali menyinggung petualangan yang kalian bawa ke mejanya. Nah, sekarang aku punya sebuah petualangan terakhir dari mejanya jika kalian punya keberanian untuk menerimanya." "Jika melibatkan Mr. Hitchcock, kami akan menerimanya," kata Jupiter dengan segera. "Kami berutang banyak kepadanya." "Bagus," kata Reginald Clarke. "Dan sekarang inilah misterinya. Sebelum meninggal, Hitch telah menuliskan surat wasiatnya yang meninggalkan sebagian besar miliknya untuk keluarganya, khususnya Patricia, putri tunggalnya. Bagi Hitch keluarga selalulah yang utama dan kini mereka takkan kekurangan apaapa lagi. Bagaimanapun, Hitch jugalah seseorang yang gemar bercanda. Menurutku, persahabatannya dengan kalian bertiga memainkan peranan besar dalam hal itu. Ia menyukai misteri. Dan semakin misterius semakin bagus kalau boleh kutambahkan! Nah, mungkin sifatnya yang gemar bercanda yang membuatnya menambahkan paragraf kecil ini pada halaman terakhir surat wasiatnya." Mr. Clarke mendorong setumpuk kertas melintasi mejanya dan anak-anak berkerumun mendekat untuk mengamatinya. Itu adalah fotokopi dari surat wasiat Alfred Hitchcock. Mr. Clarke melanjutkan sementara anak-anak mempelajari dokumen itu. "Aku mendapatkannya dari putri Hitch, Patricia. Ia sama sekali tidak mengerti maksudnya dan ia memintaku untuk menghubungi tiga remaja yang mengenal ayahnya dan senang menyelesaikan teka-teki. Nah, sekarang kalian ada di sini dan inilah surat wasiatnya. Ada pendapat?" Jupiter menggaruk kepalanya dan kelihatan agak kesal. "Maaf, sir," katanya lambat-lambat. "Saya tidak yakin bagian mana yang harus kami lihat. Semua nampak seperti bahasa resmi yang digunakan para pengacara." Reginald tersenyum dan mencondongkan badannya. Produser itu menunjuk ke sebuah paragraf pendek di bagian paling bawah surat wasiat, paragraf yang sebelumnya tidak mereka lihat. Bunyinya:

"Article 33: Skip the H20 and within my estate youll find the Crate that leads you to the paddy wagon. Follow the clues and pay your dues and the 2nd of 55 will reward you." "Benda 33: langkahi H2O dan di dalam tanah milikku kau akan menemukan peti yang akan membawamu ke gerobak bergembok. Ikuti petunjuk, lakukan kewajibanmu, dan yang kedua dari 55 akan memberimu penghargaan." *) "Ya ampun!" seru Bob. "Apa maksudnya itu?" Mata Jupiter berbinar-binar sementara ia membaca pesan aneh itu. "Sepertinya ia meninggalkan ini hanya untuk kita!" serunya. "Apakah Anda keberatan jika kami menyalinnya, Mr. Clarke?" "Sama sekali tidak," kata sang produser dengan mata bersinar. "Aku punya perasaan kalian akan sering mengacu ke paragraf itu selama beberapa waktu setelah ini." Bob segera mengeluarkan sebuah buku catatan kecil dan pensil dari saku belakangnya dan mulai menyalin pesan aneh itu. Jupiter hampir-hampir melupakan sekelilingnya karena bergairah. "Kita bisa langsung mulai! Sudah jelas kita harus mengunjungi tanah milik Mr. Hitchcock, seperti yang dikatakan kalimat pertama. Apakah Anda tahu kediaman pribadi Mr. Hitchcock, Mr. Clarke?" "Ya," kata produser film itu. "Bahkan aku telah memberi petunjuk arah kepada Worthington dan putri Hitch, Patricia, menunggu kedatangan kalian pada pukul setengah sepuluh." "Waduh, lima belas menit lagi!" kata Pete. "Kita harus buru-buru!" Anak-anak mengucapkan terima kasih kepada produser besar itu dan bergegas keluar dari kantornya. Reginald Clarke hanya dapat tersenyum. Ia merasa akan sering melihat Trio Detektif untuk beberapa waktu selanjutnya.

BAB III LANGKAHI H2O


Limat menit sebelum waktu yang telah ditentukan Worthington mengemudikan Rolls Royce melewati jalan masuk dengan batu bata sebagai pembatasnya, menuju sebuah rumah sederhana dengan gaya peternakan. Tanaman yang terawat rapi mengelilingi rumah itu dan pohon-pohon pisang berdaun lebat serta bunga mawar menghiasi bagian tengah jalan masuk yang melingkar.

"Wah, jelas tidak seperti yang kubayangkan," kata Pete. "Kubayangkan Mr. Hitchcock tinggal di suatu tempat yang lebih misterius." Jupiter setuju dengannya. "Kuakui bukan tempat seperti ini yang dalam benakku akan dipilih oleh seorang raja kengerian sebagai tempat tinggal. Sepertinya di luar studio ia hidup normal seperti orang-orang lain." Trio Detektif keluar dari mobil dan membunyikan bel rumah yang dulu ditinggali Alfred Hitchcock. Pintu dibuka dengan segera oleh seorang wanita separuh baya yang masih nampak cantik dan, cukup mengejutkan bagi anakanak itu, sangat mirip dengan sang sutradara. Wanita itu mengenakan baju sederhana bermotif bunga dan seuntai kalung mutiara dan matanya yang berwarna biru terang nampak semakin terang sebagai efek dari rambut merahnya yang tertata rapi. "Miss Hitchcock kalau saya tidak salah?" kata Jupiter. "Tepatnya Mrs. O'Connell sekarang," kata wanita itu sambil tersenyum hangat. "Tapi kalian boleh memanggilku Patricia. Dan kau pastilah Jupiter, Pete, dan Bob. Ayah sering membicarakan kalian ... sungguh menyenangkan akhirnya kita dapat bertatap muka. Silakan masuk." Anak-anak berterima kasih dan masuk ke sebuah ruangan bercahaya remangremang yang begitu penuh dengan foto sehingga mereka hampir-hampir tidak dapat melihat dindingnya. Ada foto-foto Alfred Hitchcock di lokasi pengambilan film, foto-foto keluarganya, foto-fotonya bersama para bintang film. Bahkan ada foto Mr. Hitchcock yang masih sangat muda berjabatan tangan dengan Stephen Terrill, seorang aktor dari era film bisu yang pernah ditemui anak-anak ketika mereka mengungkap Misteri Puri Setan! Sebagian besar dari foto-foto berbingkai itu dibubuhi tanda tangan dengan beberapa kalimat terima kasih kepada sang sutradara besar. "Ayah begitu mencintai film," kata Patricia dengan bangga. "Itulah seluruh hidupnya. Ia tidak pernah nampak lebih bergairah daripada ketika ia sedang menakut-nakuti orang dengan salah satu filmnya." Ia memandang dinding penuh foto itu dengan sedih selama beberapa saat, kemudian menggeleng. "Sungguh berat bagi kami sejak kepergiannya. Dan kini dengan teka-teki yang ditulisnya di surat wasiat ... tidak seorang pun dapat berpikir jernih di tengah segala kesibukan untuk pemakamannya. Terus terang, aku tidak tahu apa yang Ayah coba katakan. Aku sungguh berharap kalian dapat menolong." "Sudah pasti kami akan berusaha semampu kami, ma'am," kata Jupiter meyakinkan. "Jika Anda tidak keberatan, kami ingin segera mulai." "Tentu saja, Anak-anak," wanita itu tersenyum. "Kalian punya salinan surat wasiat itu?"

Jupiter mengangguk. "Bob telah menyalin bagian yang kami perlukan," katanya. "Mari kita lihat apa bunyinya, Data." Bob mengeluarkan buku catatannya dari saku belakang dan membalik-balik halaman sampai menemukan pesan misterius itu. Mereka semua membacanya dengan cermat. "Article 33: Skip the H20 and within my estate youll find the Crate that leads you to the paddy wagon. Follow the clues and pay your dues and the 2nd of 55 will reward you." "Benda 33: langkahi H2O dan di dalam tanah milikku kau akan menemukan peti yang akan membawamu ke gerobak bergembok. Ikuti petunjuk, lakukan kewajibanmu, dan yang kedua dari 55 akan memberimu penghargaan." "Demi belalang!" seru Pete. "Sepertinya setiap kali kubaca, semakin aneh!" "Menurutku kita bisa mengasumsikan dengan aman bahwa pikiran Mr. Hitchcock masih normal menjelang kepergiannya," kata Jupiter. "Seandainya ini hanyalah igauan seseorang yang tidak waras lagi, ia cukup mengatakannya saja. Tapi bersusah payah menuliskannya di dalam surat wasiat ... ia pasti punya suatu permainan dalam pikirannya." "Memang seperti Ayah," kata Patricia. Ia duduk di sofa dan mengusap keningnya seolah-olah merasa pening. "Memang hal seperti inilah yang kuduga akan dilakukannya. Pasti sekarang ia sedang tertawa di dalam kuburnya menyaksikan kebingungan kita." "Langkahi H2O," kata Jupiter kepada dirinya sendiri. "H2O adalah air tapi aku tidak yakin apa maksudnya di sini. Bagaimanapun, 'di dalam tanah milikku kau akan menemukan peti' nampak cukup jelas. Maksudnya 'di rumahku kau akan menemukan sebuah kotak.' Meskipun kita masih harus memikirkan apa yang dimaksud dengan 'gerobak bergembok' dalam teka-teki ini." "Apa itu gerobak bergembok?" tanya Pete. Sebuah suara dengan aksen Inggris yang jelas berbicara dari ujung ruangan. "Itu adalah sebuah istilah kuno untuk sebuah kendaraan berterali yang digunakan polisi untuk membawa para tahanan." Anak-anak menoleh dan melihat seorang anak lelaki yang tinggi dan berambut hitam, kira-kira berumur tujuh belas tahun, masuk ke dalam ruangan. Patricia berdiri dan memeluk remaja itu. "Benjamin!" katanya. "Aku sungguh gembira kau datang. Anak-anak, ini keponakanku Benjamin Hitchcock. Ia datang jauh-jauh dari Inggris untuk menghadiri pemakaman kakeknya."

"Apa kabar?" katanya sopan. "Panggil saja Ben. Sekarang ... apa maksudnya semua ini?" Jupiter berdiri tegak dan nampak sangat serius -- seperti yang selalu dilakukannya jika ia ingin dianggap serius. "Kami telah disewa oleh bibimu untuk mengungkap sebuah teka-teki yang ditinggalkan kakekmu di dalam surat wasiatnya," ia menjelaskan dengan sikapnya yang paling profesional. "Disewa?" kata Ben. "Aku kurang mengerti maksudmu." Jupiter mengeluarkan sebuah kartu nama berukuran besar yang dicetaknya menggunakan mesin cetak tua yang ada di pangkalan. Anak-anak tidak pernah bepergian tanpa membawa kartu nama itu. Bunyinya:
TRIO DETEKTIF "Kami Menyelidiki Apa Saja" ???

Penyelidik Pertama...........Jupiter Jones Penyelidik Kedua............Peter Crenshaw Catatan dan Riset..............Bob Andrews

Beb Hitchcock mengamati kartu nama itu, membolak-baliknya di tangannya. "Bolehkah aku bertanya apa maksud ketiga tanda tanya ini?" tanyanya. Pete dan Bob saling menyeringai. Semua orang pasti bertanya apa maksud tanda tanya itu. Itu adalah ide Jupe untuk membantu orang-orang mengingat nama Trio Detektif. "Ketiga tanda tanya itu mewakili misteri yang tak terpecahkan, pertanyaan yang tak terjawab, dan keanehan apapun," kata Jupiter Jones, "yang kami berusaha selesaikan. Karena itu, tanda tanya adalah lambang kami. Seperti kau lihat, semboyan kami adalah 'Kami Menyelidiki Apa Saja.' Saat ini kami sedang menyelidiki sebuah paragraf misterius di dalam surat wasiat kakekmu. Ini dia ...." Ia menyerahkan buku catatan Bob kepada Ben, yang membacanya sambil berkerut. "Wah! Apa pula maksudnya ini?" serunya. "Nampaknya sama sekali tak bermakna!"

"Mungkin kau bisa membantu kami mengetahui maknanya, Ben," kata Jupiter. "Seperti yang kukatakan tadi, baris pertama nampak cukup jelas ... selain bagian 'langkahi H2O'. Pasti ada semacam kotak atau peti yang tersembunyi di rumah ini atau di halaman. Kemungkinan sesuatu yang mengambang." "Wah, Jupe," kata Bob, "itu tidak terlalu spesifik. Bagaimana kita tahu kalau kita telah menemukannya?" Jupe mencubiti bibir bawahnya dengan ibu jari dan telunjuknya -- suatu kebiasaannya yang menandakan ia sedang menyuruh otaknya bekerja keras. "Dugaanku itu pastilah sebuah kotak khusus, sesuatu yang nampak janggal dibandingkan bagian rumah ini yang lain. Patricia, apakah Anda tahu adanya kotak yang mungkin dimaksud dalam teka-teki ini?" "Maaf, Jupiter," katanya menggeleng. "Aku tidak yakin apa saja yang diletakkan ayahku di sekitar rumah ini. Mungkin kita akan tahu saat kita melihatnya." "Saya rasa demikian," kata Jupiter setuju. "Bagaimanapun, mari kita berpencar dan mulai mencari. Pete dan Ben, kalian mencari di lantai ini. Bob dan Patricia, kalian mencari di lantai bawah. Aku akan mencari di luar dan di garasi. Kalau kalian melihat sesuatu yang nampak seperti peti yang kita cari, bawalah masuk ke ruang tamu dan letakkan di atas meja. Kita bertemu lagi di sini dalam sejam." Maka regu pencari pun berpencar. Mereka mencari di bawah bantal-bantal, di belakang foto-foto, di lemari-lemari. Bob dan Patricia menurunkan buku-buku dari raknya dan menggeledah laci-laci meja. Pete dan Ben mencari di setiap jengkal lantai, bahkan mengintip ke dalam perapian dan di loteng kecil yang berfungsi sebagai gudang. Akhirnya satu jam telah berlalu dan mereka berkumpul kembali di ruang tamu. Jupiter masuk melalui pintu sorong, nampak kecewa dan kotor, dan jelas-jelas kesal karena tidak ada kotak apapun di atas meja. "Aku mencari di seluruh halaman dan di garasi," katanya tersengal-sengal, menjatuhkan diri di sofa. "Jika memang ada kotak di luar sana, pastilah terkubur di bawah tanah." Kegiatan fisik bukanlah pilihan utama Jupiter. Remaja gempal itu lebih memilih mengasah otaknya daripada badannya. "Waduh!" seru Pete. "Kau kan tidak berpikir Mr. Hitchcock benar-benar mengubur harta di halaman luar sana, Pertama?" Jupiter menggenggam buku catatan yang berisi pesan aneh itu di depan badannya dan berdiri, berjalan mondar-mandir. "Tidak," katanya kemudian, "sepertinya tidak tersirat apapun tentang sesuatu yang terkubur."

"Mungkin bagian 'langkahi H2O' adalah petunjuk di mana kita akan menemukan kotak itu," usul Bob. "Deduksi yang bagus sekali, Data," kata Jupiter tegas -- ia sendiri baru hendak mengatakan hal yang sama. "Kurasa kita harus memecahkan bagian itu dahulu sebelum melanjutkan." "Mungkin maksudnya melangkahi sebongkah batu," usul Ben. "Kalian tahu, seperti yang ada di kolam." "Yah," kata Pete. "Kolam adalah H2O! Apakah ada semacam kolam di sini, Patricia?" "Setahuku tidak," katanya. "Meskipun di belakang rumah ini ada sebuah lapangan golf. Pasti ada semacam kolam penghalang di sana ... meskipun demikian aku tidak pernah tahu Ayah bermain golf atau olahraga lainnya, jadi sepertinya tidak mungkin." Jupiter setuju dengannya. "Tidak, aku yakin maksudnya pasti sesuatu yang berkenaan dengan air di tanah miliknya." Ia mulai berjalan mondar-mandir lagi dan ruangan itu menjadi hening sementara mereka masing-masing berusaha menduga apa yang dimaksud dengan 'langkahi H2O'. Sekonyong-konyong mata Jupiter berbinar-binar dan ia menepuk dahinya sendiri dengan telapak tangan. "Tentu saja!" serunya. "Patricia, apakah ayah Anda memiliki tanah lagi selain rumah ini? Lebih khusus lagi, apakah ia memiliki tempat tinggal di sebuah negara lain?" Patricia berpikir sejenak namun kemudian Ben berseru. "Ya ampun! Paman Alfred memiliki sebuah rumah musim panas di Inggris, ingat, Bibi Patty? Tempat ia dan Bibi Alma berlibur kadang-kadang!" "Oh, tentu saja!" seru wanita itu. "Ben benar! Ayah memang memiliki sebuah rumah di luar London. Aku sama sekali lupa!" "Apa artinya itu berkaitan dengan teka-teki ini, Jupe?" tanya Bob. Jupiter nampak penuh kemenangan. "Apa maksudnya 'skip' -- 'melangkahi' sesuatu?" tanyanya. "Menyeberangi ... atau mungkin melintasi," jawab Pete. "Dan apakah H2O?" tanya Jupiter berbangga hati.

"Air!" seru Bob. "Seberangi air! Itulah maksud bagian pertama teka-teki itu! Seberangi air ... maksudnya lautan ... dan di dalam tanah milikku kau akan menemukan peti!" "Ben, berapa lama lagi kau akan pulang ke Inggris?" tanya Jupiter cepat. "Dua hari lagi," jawab remaja Inggris itu. "Begitu urusan resmi Bibi Patty telah beres." "Jupe, apakah kau memikirkan yang kupikir kau pikirkan?" tanya Pete. "Apa yang kau pikirkan, Jupiter?" tanya Patricia Hitchcock O'Connell. "Trio Detektif akan meneruskan penyelidikan ini ke seberang Samudra Atlantik," jawab remaja gempal itu. "Di sanalah harta itu tersembunyi dan ke sanalah kita harus pergi!" "Tapi bagaimana dengan orangtua kalian?" kata Patricia. "Jelas kalian tidak bisa pergi ke Inggris sendirian!" "Kami tidak akan sendirian," kata Bob. "Kami akan bersama Ben! Di samping itu, sekarang kami sedang di tengah liburan musim panas. Saya yakin orangtua kami akan setuju jika kami katakan bahwa kami sedang membantu keluarga Mr. Hitchcock!" Patricia memikirkan hal ini sejenak. "Jika kalian mendapatkan izin dari orangtua kalian," katanya, "aku akan membayar ongkos perjalanan kalian dan bertindak sebagai pengawas selama kalian di luar negeri." Jupiter mengangkat tangan dan menggelengkan kepala. "Kami tidak dapat membiarkan Anda melakukan itu," katanya. "Tiket pesawat ke Inggris akan sangat mahal. Dengan tabungan hasil kami bekerja di pangkalan, hanya seorang dari kami dapat pergi." "Aku memaksa!" kata wanita itu keras kepala. "Jika ini adalah rencana Ayah, maka seluruh Trio Detektif akan pergi! Lagipula uang tidak akan menjadi masalah dengan warisan yang ditinggalkannya untukku." Jupiter memandang Ben seolah-olah meminta pertolongan namun remaja jangkung itu hanya melipat tangan di depan dada tanda setuju dengan bibinya. Akhirnya detektif gempal itu memandang Bob dan Pete, lalu mengangkat bahu. "Baiklah," senyumnya, "mari kita minta izin!" Anak-anak dan Ben bergegas menuju pintu dan Rolls Royce yang telah menunggu. Ketika mereka masuk ke bagian dalam mobil yang mewah itu,

Jupiter berbicara. "Wah, Ben," katanya, "kalau bibimu Patricia telah memutuskan sesuatu, tidak ada yang bisa mengubahnya! Sungguh mudah untuk melihat bahwa ia benar-benar mirip ayahnya ... Alfred Hitchcock!"

BAB IV TRIO DETEKTIF DI INGGRIS


Dua hari kemudian pesawat Trio Detektif melakukan pendaratan di Bandara Heathrow, London. Anak-anak dengan mudah memperoleh izin dari orangtua mereka begitu mereka menjelaskan bahwa mereka sedang menolong putri Alfred Hitchcock. Tidak ada kejadian menarik selama penerbangan, selain goncangan kecil akibat badai yang mendekati London, yang hampir saja membuat Pete mabuk udara. Akhirnya pesawat itu mendarat dan mereka berlima masuk ke sebuah limousine yang sudah menanti, mengobrol penuh semangat. Ben Hitchcock sudah tidak sabar menunjukkan kota bersejarah itu dengan segala atraksinya kepada Trio Detektif. "Apakah sebaiknya kita menghabiskan hari ini melihat-lihat kota, Temanteman?" ia bertanya kepada teman-teman barunya dengan bergairah. "Sudah lama aku ingin melihat Menara London!" seru Bob. "Aku ingin melihat Big Ben!" seru Pete. "Aku ingin melihat tempat tinggal kedua Mr. Hitchcock yang berada di luar London," kata Jupe tegas. "Kita akan punya waktu untuk melihat-lihat begitu kita telah berhasil memecahkan teka-teki ini. Kita hanya ada di sini seminggu, jadi mari kita manfaatkan sebaik-baiknya." Pete menyikut Ben. "Biasakan kalah suara dari Jupe," katanya. "Aku dan Bob selalu mengalaminya!" "Jadi begitulah demokrasi yang sebenarnya di Amerika," canda Ben. Anak-anak dan Patricia tertawa sementara limousine meluncur masuk ke kabut London yang dingin. Satu jam kemudian mobil itu telah keluar dari kota yang sibuk itu tepat ketika matahari mulai terbenam. Dengan cahaya kilat yang sebentar-sebentar menyambar anak-anak dapat melihat bahwa mereka telah memasuki suatu jalan pedesaan dengan rumah-rumah sederhana. Kebisingan kota telah digantikan oleh suasana yang lebih asri dan tenang. "Sungguh aneh rasanya berjalan di sisi yang salah dari jalan," kata Pete.

"Itulah yang kurasakan ketika berada di negaramu," kata Ben. "Di sini sisi kiri -the left side -- adalah sisi yang benar -- the right side." "Rumah musim panas Ayah ada di jalan ini juga," kata Patricia. "Tidak akan lama lagi." Limousine berbelok memasuki sebuah jalan tanah yang sempit dan dijaga oleh semak-semak yang terpangkas rapi dalam wujud singa. Ketika mereka mendekati rumah itu, Pete menahan nafas. "Nah, inilah yang ada di bayanganku tentang rumah Mr. Hitchcock!" serunya. Jupe dan Bob berdesakan melihat melalui jendela di sebelah Pete. Rumah di depan mereka sebenarnya sama sekali tidak seperti rumah ... jauh lebih menyerupai sebuah puri! Dinding-dindingnya yang tinggi tersusun dari batubatu halus berwarna abu-abu dan tertutup tumbuhan merambat yang tebal. Jendela-jendelanya merupakan mosaik yang nampak seolah-olah berasal dari sebuah gereja kuno berabad-abad yang lalu. Di bawah langit yang berwarna ungu suram dan di tengah kabut yang bergulung-gulung mudah saja bagi anakanak untuk membayangkan segala macam hantu dan roh yang berkeliaran di balik dinding-dinding rumah besar itu. "Jupe, Pete, Bob ... selamat datang di Puri Hitchcock," Ben menyeringai. "Aku lebih suka kediamannya yang satu lagi," Pete menggigil. "Yang ini memberiku kesan seram!" Di kejauhan kilat menyambar seolah-olah setuju dengan Penyelidik Kedua. Patricia menepuk bahu Pete sementara mereka keluar dari mobil. "Ayah selalu berkata bahwa rumah ini berhantu namun sebenarnya tidak seburuk kelihatannya," katanya menenangkan. "Di dalam sebenarnya cukup nyaman. Lihat saja nanti." "Rumah ini memang berhantu!" sebuah suara dengan aksen Inggris yang kental menggeram di tengah kegelapan. "Siapa itu?" Patricia yang kaget berseru. "Winston, kaukah itu?" Dari sudut rumah muncul seorang pria kira-kira berumur lima puluh tahun dengan kumis lebat, berjalan terpincang-pincang. Ia mengenakan semacam topi tak berbentuk di kepalanya dan menggenggam sebatang tongkat berliku di tangan kanannya. Cambangnya lebat dan menyatu dengan berewok tipis hitam beruban yang menutupi wajahnya. Ia menuding dengan tongkatnya ke arah mereka.

"Rumah ini memang berhantu! Arwah Molly Thibidoux, seorang pelayan yang menggantung diri dari pohon willow besar di belakang rumah, lebih dari seratus tahun yang lalu," katanya serak. "Tunangannya meninggalkannya demi seorang wanita lain. Karena sedih Molly muda bunuh diri. Sekarang arwahnya berkeliaran di dinding-dinding Puri Hitchcock, menunggu tunangannya kembali ke pelukannya!" "Jebediah O' Connell!" tukas Patricia. "Hentikan omong kosong itu sekarang! Begitukah caramu menyambut tamu-tamu kita?" "Tentu saja aku akan menyambut tamu kita," Jebediah O'Connell mencibir, "namun demi keselamatan mereka sendiri aku memperingatkan mereka tentang hantu itu! Ia adalah yang berbahaya! Orang Jerman menyebutnya poltergeist -hantu yang suka membuat keributan!" Patricia menoleh ke arah anak-anak sambil bertolak pinggang. "Jangan pedulikan sepupuku Jeb," perintahnya. "Ia adalah pembuat onar nomor satu dan hanya berusaha menakut-nakuti kalian ... ia tidak suka akan anak-anak." "Ini kataku," bisik Ben kepada Jupiter. "Sejujurnya aku tidak mempercayai Paman Jeb. Ingat kata-kataku ini, ia punya maksud tidak baik!" "Mari, Anak-anak," kata Patricia, "masukkan barang-barang kalian." "Gagasan yang baik," kata Jupe setuju. "Saya berharap bisa ada kemajuan dalam teka-teki ayah Anda sebelum kita tidur." "Ah, teka-teki yang kocak," kata Jebediah sambil mengikuti mereka ke dalam. Lelaki aneh itu menutup pintu oak besar di belakang mereka, menimbulkan bunyi gemuruh yang membuat mereka semua terlompat. "Kita sebaiknya memberi tahu arwah itu bahwa kalian ada di sini," ia menyeringai licik. Patricia menatap sepupunya dengan marah. "Cukup sudah, Jebediah! Kau tidak pernah tahu kapan kau telah melampaui batas." Jeb mengangkat bahu, memasukkan tangannya ke dalam saku, dan terpincangpincang menaiki tangga. "Aku akan ada di kamar seandainya kalian nanti terbangun oleh sesuatu," gumamnya. "Hidup atau mati!" "Maaf, Anak-anak," kata Patricia. "Tidak perlu minta maaf, ma'am," jawab Jupiter. "Kami juga tidak percaya akan hantu, benar kan, Teman-teman?" "Jupe benar," kata Bob tersenyum. "Kami tidak semudah itu ditakut-takuti ... benar kan, Pete?"

"Apa katamu lah," kata Pete, suaranya gemetar. "Mungkin aku takkan bisa tidur sampai kita ada di pesawat lagi!" "Ah, tidur," kata Ben mengantuk. "Entahlah dengan kalian, Teman-teman, namun aku benar-benar lelah." "Jet-lag," kata Jupiter sambil menguap. "Perubahan wilayah waktu telah membuat pola tidur kita berantakan. Sekarang baru setengah sembilan namun kurasa kita harus menunggu hingga besok untuk mencari tahu apa yang dimaksud oleh baris berikutnya dalam teka-teki," katanya enggan. "Ayo, Teman-teman, kita tidur." Anak-anak dan Ben meraih bawaan masing-masing dan berbaris menaiki tangga lebar yang diterangi cahaya samar-samar. Mereka baru separuh jalan ketika sebuah teriakan membuat mereka berhenti seketika. "Seperti suara Jebediah!" seru Ben. Anak-anak menjatuhkan tas-tas mereka dan berlari ke lantai dua, diikuti oleh Patricia. Di tengah-tengah tangga antara lantai dua dan tiga mereka menemukan Jebediah O'Connell terduduk. Kilat menyambar dan pria itu meringkuk seperti anak kecil. "Hantu!" katanya tersengal-sengal, menunjuk dengan jari gemetar ke tangga gelap yang menuju ke lantai tiga. "Aku melihat hantu itu di atas tangga ini ... berpendar di kegelapan dengan seutas tali di lehernya!" Patricia nampak sangat marah. "Sepupu, jika ini adalah semacam permainan ...." "Bukan, Sepupu Patty!" tukasnya, menuding ke atas lagi. "Aku benar-benar melihatnya!" "Ada apa di lantai tiga, ma'am?" tanya Jupiter kepada Patricia. "Orangtuaku jarang naik ke lantai tiga," kata wanita itu. "Hanya untuk tempat menyimpan barang. Bahkan tidak ada pemanas di atas sana." Ia mencoba saklar lampu di dasar tangga namun tangga besar itu tetap gelap. "Rusak. Mungkin bola lampu di atas tidak pernah diganti selama bertahun-tahun." "Anda punya senter?" tanya Jupiter, naik beberapa anak tangga menuju ke kegelapan.

"Akan kuambilkan," Ben menawarkan diri. Remaja itu berlari menuruni tangga. Mereka mendengar pintu lemari dibuka dan ditutup di dapur dan kemudian langkah-langkah berlari menaiki tangga. "Aku cuma menemukan satu," katanya sambil menyerahkan senter kepada Jupiter. "Tapi ini ada beberapa batang lilin." Mereka menyalakan lilin dan, dengan Jupiter memimpin di depan, maju menaiki anak tangga yang berderit. Di luar kilat dan guruh menyambar dan menggelegar, membuat mereka tidak ingin jauh-jauh dari yang lain. Setengah jam kemudian mereka telah memeriksa lantai tiga dengan seksama dan tidak menemukan apa-apa selain kotak-kotak berdebu dan peti-peti bersarang laba-laba. Mereka memeriksa peti-peti itu untuk memastikan tidak ada yang bersembunyi di dalam namun peti-peti itu terkunci atau berisi pakaian. "Jika tadi ada yang menaiki tangga, ia pastilah masih di sini," kata Bob. "Karena tidak ada jalan keluar lain selain melalui tangga." "Kecuali kalau ia adalah hantu!" kata Pete. "Ya," kata Jebediah setuju. "Seperti yang kukatakan tadi!" "Tidak ada yang namanya hantu," kata Jupiter keras kepala. "Pastilah ada jalan keluar lain di sini. Suatu jalan rahasia. Ben, Patricia, kalian tahu akan adanya jalan rahasia di rumah ini?" "Aku tahu ada beberapa," kata Patricia. "Dulu aku sering bermain dengan jalanjalan rahasia itu ketika masih kecil. Tapi itu sudah demikian lama, aku bahkan tidak bisa mengingat lagi letaknya. Kita harus bertanya kepada Julia, pelayan Ayah. Ia sudah bekerja di sini selama hampir tiga puluh tahun. Jika memang ada jalan rahasia di lantai ini, ia tentunya tahu." "Besok pagi-pagi kita tanya dia," kata Jupiter memutuskan. "Sekarang mari benar-benar tidur. Aku sudah tidak kuat lagi menahan kantuk!" "Siapa yang mengantuk?" kata Pete. "Kurasa meskipun aku ingin, aku takkan bisa tidur!" Namun Pete salah. Begitu kepala mereka menyentuh bantal, dengan cepat mereka terlelap.

BAB V DI MANA PETI ITU?

Keesokan paginya anak-anak terbangun oleh bau harum telur dan daging goreng. Mereka cepat-cepat berpakaian dan turun ke dapur. Ben dan Patricia sudah mulai makan di sana. "Selamat pagi!" kata Ben riang. "Sepertinya kalian tidur nyenyak. Tidak bermimpi buruk kuharap, Pete." "Hanya satu ... tentang sarapan sudah dibereskan sebelum aku bangun!" Penyelidik Dua yang jangkung tertawa. Seorang wanita gemuk dengan raut wajah tegas dan seragam pelayan meletakkan sepiring telur dan menuangkan jus jeruk ke dalam gelas-gelas tinggi di hadapan mereka. "Anak-anak, perkenalkan Julia Abernathy," kata Patricia. "Ia telah bekerja untuk ayahku selama hampir tiga puluh tahun. Suaminya, Winston, adalah kepala pelayan kami. Mereka menikah tahun lalu, di rumah ini juga." "Benar," kata Julia muram. "Sungguh menyedihkan hari ketika Mr. Hitchcock meninggal dunia. Winston bahkan tidak sempat bertemu dengannya. Dan kini masa depan kami di rumah ini tidak jelas." Ia berdiri diam selama beberapa saat, mengaitkan jari-jarinya, lalu kembali ke dekat kompor. "Rumah ini akan dijual sebulan lagi," kata Patricia menjelaskan dengan pelan. "Kami dengan senang hati akan mempertahankan Keluarga Abernathy sebagai bagian dari tanah ini namun kami tidak dapat menjanjikan pemilik baru yang belum memiliki pelayan. Julia tinggal di pondok pelayan di belakang sejak ayahku membeli puri ini." Tepat pada saat itu seorang pria jangkung dengan jas hitam memasuki ruangan. Wajahnya tirus dan hidung bengkok seperti elang. Rambutnya mulai beruban dan bagian atas kepalanya botak sama sekali. Ia membungkuk ke arah anakanak dan kemudian tersenyum hangat. "Selamat pagi, Tuan-tuan," katanya dengan logat Inggris yang terpelajar. "Nama saya Winston dan saya siap melayani Anda selama Anda tinggal di Puri Hitchcock." "Selamat pagi, Winston," jawab Jupiter. "Kau baik sekali. Bolehkah aku bertanya sesuatu?" "Tentu saja, sir," jawab Winston. "Apakah kau tahu tentang adanya jalan rahasia di lantai tiga rumah ini? Mungkin dinding atau pintu palsu?"

Kepala pelayan itu menegakkan tubuhnya seolah-olah bersiap memberikan kuliah yang dihapalnya dan telah dilakukannya beratus-ratus kali sebelumnya. "Setiap lantai memiliki sebuah kamar tersembunyi," katanya menjelaskan. "Rancangan rumah ini mengikuti sebuah puri tua tempat sang raja memiliki ruangan rahasia untuk bersembunyi jika sewaktu-waktu mereka diserang. Sang raja ingin memastikan bahwa di lantai mana pun keluarganya berada, mereka akan memiliki tempat berlindung yang aman untuk bersembunyi dari musuh. Meskipun demikian, setahu saya tidak ada ruangan rahasia di lantai tiga. Satusatunya yang menghubungkannya dengan lantai yang lain, selain tangga, adalah lubang makanan, yang digunakan untuk mengangkat makanan dari dapur dan menurunkan piring-piring kotor." "Begitu," kata Jupiter Jones. "Ada lagi, sir?" tanya sang kepala pelayan. "Satu hal lagi," kata Penyelidik Pertama. "Sejak kau mulai bekerja di Puri Hitchcock, pernahkah kau melihat penampakan apapun atau hantu di rumah ini?" "Anda pasti mengacu ke Molly Thibidoux, pelayan Prancis malang yang menggantung diri di sebatang pohon," Winston tertawa riang. "Demi Tuhan, tidak. Itu hanyalah sebuah cerita tua, diceritakan untuk membangun suasana rumah ini, seperti yang dilakukan Mr. Hitchcock dalam film-filmnya." Jupiter baru hendak menanyai Julia kalau wanita itu pernah melihat hantu di Puri Hitchcock ketika ia dipotong oleh suara pertengkaran yang terdengar mendekati dapur. "Demi Tuhan!" kata Patricia. "Aku sama sekali lupa akan Keluarga Fitchhorns!" "Siapa?" tanya Pete. "Kalian pasti belum pernah bertemu dengan orang seperti Timothy dan Stella Fitchhorn," kata Ben. "Mereka mengaku sebagai saudara jauh Bibi Patty dan datang dari Skotlandia untuk menuntut bagian mereka atas harta itu." Jupiter, Pete, dan Bob memandang dengan mata terbelalak ke arah Keluarga Fitchhorn yang membawa pertengkaran mereka masuk ke dapur. Timothy Fitchhorn adalah seorang pria yang gemuk dan tak henti-hentinya berkeringat. Matanya berbinar-binar di balik kacamata berbingkai gading. Berulang kali rambutnya jatuh menutupi matanya dan berulang kali ia mendorongnya kembali ke atas. Ia mengenakan jas bergaris-garis yang terlalu sempit dan celana panjang yang terlalu pendek.

Di mata anak-anak, pria itu benar-benar kebalikan dari istrinya yang tak hentihentinya mengeluh. Stella Fitchhorn mengenakan jas bergaris-garis yang identik dengan suaminya -- meskipun dengan ukuran yang pas. Stella adalah seorang wanita bertubuh pendek -- lebih pendek daripada anak-anak -- dan kurus sekali. "Tidak pernah!" jeritnya. "Kau selalu mempermasalahkan caraku mengemudi!" teriak suaminya, tidak menyadari kehadiran anak-anak di meja. "Bukan salahku mereka berjalan di sisi yang salah di negeri ini." Stella Fitchhorn sudah siap untuk membalas ketika ia menyadari orang-orang yang duduk di meja. "Oh," katanya. "Patricia, senang bertemu denganmu lagi. Dan kau juga, Ben!" Namun ketika melihat Trio Detektif ia nampak bingung. "Tapi siapa anak-anak ini?" "Pemburu uang pasti," tuduh Mr. Fitchhorn. "Aku berhak atas bagianku dan apapun yang terjadi aku akan mendapatkannya!" katanya tegas. Jupiter, yang melihat emosi Patricia nyaris meledak, bergegas mengambil alih. "Yakinlah bahwa kami bukanlah pemburu uang," katanya. "Kami adalah temanteman Ben dari Amerika yang sedang berlibur di sini. Dari Rocky Beach, California, tepatnya. Saya dengar kalian datang dari Skotlandia," katanya tenang, "bolehkah saya tahu dari daerah mana?" "Chestershire," kata Timothy Fitchhorn. "Braxton," kata Stella Fitchhorn pada saat yang sama. Mereka saling berpandangan dan Stella terbatuk. "Maksudnya kami tinggal di Braxton sebelum pindah ke Chestershire, benar kan, Sayang?" "Benar," kata suaminya. "Bagaimanapun," katanya sambil mendorong rambutnya yang berminyak kembali ke tempatnya, "aku punya hak secara hukum atas harta yang ditemukan di tanah ini selagi kalian ada di sini. Tidak ada peraturan 'hak milik yang menemukan' di negara ini." "Maksud Anda, ada harta karun terkubur di tanah ini?" tanya Bob polos. "Waduh, kita harus mulai menggali, Teman-teman!" "Ya," sambut Pete, berusaha menyembunyikan senyum. "Kau punya sekop, Ben?" Timothy Fitchhorn nampak seolah-olah siap meledak. Ia mengusap alisnya dengan saputangan dan menatap marah ke arah anak-anak. "Dengar!" katanya. Namun anak-anak tidak mendengarkan. Mereka permisi dari meja dan berlari keluar dapur, berusaha keras untuk tidak tertawa terbahak-bahak.

"Gurauan yang sungguh kejam, Bob," Jupiter tertawa sementara anak-anak berlari menuju ruang tamu yang besar. "Tapi sungguh perlu!" Ben terkekeh. "Kita harus hati-hati akan perburuan harta karun kita dengan adanya kedua orang itu." "Sudah jelas!" kata Pete. "Jadi di mana menurutmu kita harus mulai mencari harta itu, Pertama?" ia bertanya kepada Jupiter. Jupiter segera berubah serius. Ia mencubit bibir bawahnya dan berpikir sejenak. "Kita telah sepakat bahwa kita harus menemukan semacam peti," katanya. "Namun mari kita baca petunjuk itu sekali lagi, siapa tahu kita mendapat ide baru." Bob mengeluarkan buku catatannya dan membuka halaman yang berisi tekateki itu. Anak-anak itu berkerumun untuk membaca paragraf aneh itu sekali lagi. "Article 33: Skip the H20 and within my estate youll find the Crate that leads you to the paddy wagon. Follow the clues and pay your dues and the 2nd of 55 will reward you." "Benda 33: langkahi H2O dan di dalam tanah milikku kau akan menemukan peti yang akan membawamu ke gerobak bergembok. Ikuti petunjuk, lakukan kewajibanmu, dan yang kedua dari 55 akan memberimu penghargaan." "Kalian tahu, selama ini aku berpikir-pikir," kata Bob. "Mungkin yang kita cari sebenarnya sama sekali bukan sebuah peti." "Apa maksudmu, Data?" tanya Jupiter sambil membaca paragraf itu lagi. Bob Andrews menggaruk kepala dan kembali membaca petunjuk itu. "Aku bertanya-tanya -- mengapa kata 'peti' -- Crate -- ditulis dengan huruf C besar," katanya. "Kata-kata yang lain ditulis biasa saja namun kata yang satu ini diawali dengan huruf besar seolah-olah merupakan nama sesuatu." "Mungkin kita harus mencari sesuatu di rumah ini dengan tulisan 'Crate' di atasnya," usul Pete. "Atau seseorang bernama Crate." Jupiter kembali mencubiti bibirnya. "Jika kita harus mencari seseorang, tekateki itu akan berbunyi 'find Crate'. Namun jelas-jelas tertulis 'find THE Crate'." "Kecuali kalau kakekku sengaja melakukannya, hanya untuk membingungkan kita," kata Ben.

"Mungkin saja," kata Jupiter mengakui. "Apakah kau atau bibimu Patricia mengenal salah seorang teman Mr. Hitchcock yang bernama Crate?" Ben menggeleng. "Aku harus bertanya kepada Bibi Patty," katanya. "Namun jika ia adalah seseorang yang dikenal kakekku dari dunia film, hampir pasti kita akan bisa menemukannya di ruangan yang digunakan Kakek sebagai kantor." "Bisakah kita mencari di sana?" tanya Pete. "Ruangan itu selalu dikunci namun aku bisa meminta kuncinya dari Bibi Patty." Anak-anak mengikutinya sementara ia mengambil kunci dari bibinya, kemudian mereka berbaris sepanjang koridor sempit menuju ke sebuah pintu besar dari kayu oak, kantor pribadi Alfred Hitchcock. Ben memasukkan anak kunci namun sebelum sempat memutarnya, ia menegang. "Ada apa?" tanya Pete. "Salah kunci?" "Tidak," kata Ben pelan. "Pintu ini telah dibuka sebelumnya ... lihat!" Ia mendorong dengan tangannya dan di depan mata mereka pintu itu terbuka perlahan. Jupe menunduk untuk memeriksa lubang kunci. "Ada yang membobol kunci ini," katanya. "Dan belum lama. Lihatlah goresan-goresan di sekitar lubang kunci ini, masih baru. Sepertinya seseorang telah menggunakan peniti atau obeng kecil untuk membuka pintu." "Dan lihatlah kekacauan yang mereka tinggalkan!" kata Bob, menunjuk ke meja besar yang ada di tengah ruangan. Kertas-kertas berserakan di atas meja, beberapa lembar bahkan jatuh ke lantai. Map-map telah ditarik keluar dari lemari arsip dan laci-laci meja itu terbuka sebagian. "Sudah jelas ada seseorang di rumah ini yang berusaha mendahului kita," kata Jupiter. "Keluarga Fitchhorn!" desis Ben. "Tunggu sampai kulaporkan kepada Bibi Patty! Ia akan mengusir mereka sebelum makan siang!" Jupiter menggelengkan kepala. "Kita tidak punya bukti. Mungkin saja sepupu bibimu Jeb, atau Winston dan Julia." "Bukan Julia," kata Ben. "Ia sudah terlalu lama tinggal di sini untuk melakukan perbuatan semacam ini. Namun Jebediah mungkin sekali. Dasar pembuat onar!"

Selagi Ben berbicara, Jupiter telah berjalan mendekati dinding. Panel kayu dengan ukiran tangan setinggi kira-kira satu meter menutupi bagian bawah dinding namun bagian atasnya hingga ke langit-langit penuh dengan foto-foto berbingkai, seperti di rumah Mr. Hitchcock di Hollywood. "Ada apa, Pertama?" tanya Bob. "Aku baru ingat sesuatu," kata Jupiter pelan. "Sebuah film hasil karya Mr. Hitchcock beberapa tahun yang lalu. Ceritanya tentang seorang pria yang telah dengan salah dituduh membunuh dan adegan klimaksnya yang mengambil tempat di sebuah ruang pengadilan besar menggambarkan bintang film itu menuding ke arah pembunuh sebenarnya." "Apa hubungannya itu dengan adanya seseorang yang membobol kantor Mr. Hitchcock?" tanya Pete. "Bukan kantor ... teka-teki!" kata Jupiter. "Ya, aku ingat sekarang," kata Bob bersemangat. "Film itu berjudul 'The Fine Art of Murder' dan dibintangi oleh Creighton Duke! Mungkinkah ia adalah 'Crate' yang dimaksud?" Jupiter mengamati ratusan foto yang menutupi dinding-dinding ruangan. "Berpencar!" perintahnya. "Cari foto Creighton Duke!" Masing-masing memeriksa satu dinding dan mulai memeriksa setiap foto dengan seksama. Beberapa menit kemudian Ben berseru penuh kemenangan. "Aku menemukannya!" Trio Detektif bergegas mendekat untuk mengamati foto hitam putih itu. Foto itu diambil dari adegan klimaks 'The Fine Art of Murder'. Creighton Duke, yang berperan sebagai pria yang telah salah dituduh, berdiri di ruang sidang sambil menunjuk ke arah pembunuh yang sebenarnya. Foto itu dibubuhi tanda tangan dengan tinta hitam. Bunyinya: "Untuk Hitch -- aku tidak melakukannya! Temanmu, Crate." "Ini pastilah Crate yang dimaksud dalam teka-teki," kata Jupiter. "Sekarang mari kita lihat ke mana Creighton Duke menuding. Semestinya ia akan membawa kita ke foto sebuah gerobak bergembok!" Anak-anak mengikuti arah yang ditunjuk sang aktor, foto-foto di dinding seberang. Mereka mengamati setiap foto dengan seksama namun tidak ada yang nampak seperti gerobak. "Pasti ada di sini!" kata Pete. "Mari kita periksa sekali lagi."

"Sebentar," kata Jupiter, mengangkat tangan. "Mari kita pikirkan secara logis. Mr. Hitchcock telah menunjukkan kepada kita bahwa ia sanggup bermain dengan kata-kata. Mungkin ini satu lagi tipuannya. Apa lagi yang mungkin dimaksud dengan gerobak bergembok -- paddy wagon?" Anak-anak berdiam diri di dalam kantor yang berantakan itu selama beberapa saat, masing-masing berpikir keras. "Mungkinkah sebuah ambulans?" saran Pete. "Atau semacam mobil polisi?" kata Bob. "Pemadam kebakaran?" usul Ben. "Sebentar, sebentar!" seru Jupiter. "Sepertinya aku tahu, suatu permainan kata yang sungguh bagus!" katanya. "Ben, bibimu bernama Patricia, benar?" "Benar," jawab remaja Inggris itu. "Tapi kau tidak selalu memanggilnya dengan nama itu kan?" desak Jupe. "Kadang-kadang aku memanggilnya Bibi Patty," katanya, "namun apa hubungan ... oh!" Raut wajah Ben menunjukkan bahwa ia mulai mengerti arah pembicaraan Jupe. "Patty," serunya, "bunyinya mirip dengan 'PADDY wagon'!" "Tepat," sambut Jupe. "Creighton Duke pastilah menunjuk ke arah sebuah foto yang menggambarkan bibimu Patricia, kemungkinan sebagai seorang gadis kecil di dalam sebuah gerobak!" "Dan inilah dia!" seru Bob. Mereka berkerumun di depan foto yang dimaksud. Di dalam foto itu seorang gadis kecil yang mengenakan gaun putih berenda-renda dan mendekap sebuah boneka duduk di dalam sebuah gerobak berwarna merah. Di sisi gerobak itu terdapat tulisan berwarna putih, "GEROBAK PATTY". "Kita telah menemukannya!" kata Ben begairah. "Gerobak bergembok dari tekateki." Penuh semangat Jupiter meraih bingkai foto itu dan berusaha menariknya dari dinding. Saat itu terdengar bunyi "klik" yang kencang dan setengah meter dari panel kayu yang menghiasi dinding terbuka seperti sebuah pintu kecil. "Foto itu adalah sebuah kunci untuk membuka pintu rahasia," kata Jupe kagum. "Hebat! Ayo, mari masuk dan melihat ada apa di balik pintu ini!" Jalan rahasia itu kecil dan sempit pada awalnya namun kemudian melebar setelah beberapa meter sehingga mereka hampir-hampir dapat berdiri tegak.

Tidak ada lampu, maka mereka berusaha melihat dengan menggunakan cahaya yang masuk dari pintu kecil itu. "Ada undakan di sini," kata Jupiter. "Jalan rahasia ini pastilah menuju ke salah satu tempat di lantai dua." Tepat pada saat itu terdengar benturan di belakang mereka dan anak-anak berada di dalam kegelapan total. "Seseorang telah menutup pintu!" teriak Ben terkejut. "Cepat, kembali ke tempat kita masuk!" perintah Pete. Mereka bergegas kembali ke pintu sempit itu namun segera menyadari bahwa pintu itu terkunci dari luar. "Tidak ada pegangan untuk membuka pintu di sisi ini," kata Bob. "Kita terjebak!"

BAB VI TERJEBAK!
"Hei, keluarkan kami!" teriak Pete. "Ssst! Diam!" desis Jupe. "Dengar ... aku dapat mendengar langkah-langkah kaki di kantor." Anak-anak menahan nafas. Samar-samar terdengar suara langkah kaki di koridor yang panjang. "Kau dengar bagaimana suara langkah kaki itu?" tanya Jupiter, menyuarakan pikirannya. "Apa maksudmu?" bisik Pete di tengah kegelapan. "Kedengarannya seperti langkah kaki biasa." "Tidak," kata Jupiter, "ada yang aneh. Sepertinya langkah yang satu terdengar lebih berat daripada yang lain." Bob dan Pete telah mengenal Jupiter Jones dengan baik dan mereka tidak mau berdebat dengannya tentang sesuatu yang menyangkut ingatan. Otak Jupiter nyaris dapat merekam segala sesuatu yang terjadi dan ia jarang sekali melupakan hal-hal kecil sekalipun.

"Benar," kata Ben. "Sepertinya seseorang berjalan terpincang-pincang." "Atau dengan tongkat!" kata Bob. Pete berseru, "Jebediah yang mengurung kita!" "Atau seseorang yang ingin kita menyangka Jebediah," koreksi Jupiter. Di dalam kegelapan otak Penyelidik Pertama berputar kencang. "Ben, bagaimana tepatnya Jebediah menjadi pincang?" Ben berpikir sejenak. "Sepertinya Bibi Patty pernah berkata akibat kecelakaan mobil bertahun-tahun yang lalu. Kurasa kakinya benar-benar hancur. Mengapa kau bertanya, Jupiter?" "Karena meskipun Jebediah menggunakan tongkat, ia masih dapat bergerak dengan cukup lincah. Siapapun yang mengurung kita di sini berjalan menjauh dengan sangat lambat, seolah-olah dengan sengaja agar kita mendengar. Aku sama sekali tidak yakin itu adalah Jebediah!" "Tapi mengapa ada orang yang mau berpura-pura sebagai Sepupu Jeb?" tanya Ben. "Mungkin sekali untuk mengalihkan kecurigaan terhadapnya," kata Jupiter, "sekaligus membelokkan penyelidikan kita." "Aku memilih untuk mendiskusikan hal ini nanti saja," kata Pete tidak sabar. "Aku merasa lebih enak jika dapat melihat tanganku di depan mukaku." "Aku setuju dengan Pete," kata Bob. "Semakin cepat kita keluar dari sini semakin baik." "Baiklah," Jupiter mengalah. "Kemungkinan ada semacam mekanisme untuk membuka pintu itu dari dalam sini, mari kita coba dulu." Bob meraba-raba permukaan pintu yang halus. "Tidak ada pegangan pintu," katanya cemas. "Mungkin ada namun kita takkan menemukannya dalam kegelapan. Mari kita menaiki tangga dan mencoba pintu di ujung satunya." "Baik," kata Penyelidik Pertama. "Berpegangan pada ikat di depan kalian ... siapa tahu." "Siapa tahu apa?" tanya Pete gugup. Dengan Jupiter di depan, anak-anak menaiki undakan yang curam itu dengan hati-hati. Sekitar dua puluh anak tangga kemudian mereka sampai ke suatu

dataran dan langit-langit kembali merendah. Sambil merangkak anak-anak mencapai pintu rahasia di ujung satunya. "Di sini pun aku tidak menemukan pegangan pintu," kata Jupiter, berusaha menyembunyikan rasa cemas. "Tapi aku bisa melihat cahaya melalui retakan di pintu. Mungkin dua di antara kita bisa mendobraknya." "Biar kubantu," kata Ben. "Mari kita dorong pada hitungan ketiga." "Hitungan ketiga," ulang Jupiter. "Siap? Satu, dua, tiga!" secara serempak mereka membenturkan bahu ke pintu kecil itu. Terdengar bunyi kayu pecah di sisi sebaliknya dan kemudian udara segar beserta cahaya masuk ke dalam lorong. Jupiter dan Ben berjatuhan ke lantai. "Berhasil!" seru Pete dan Bob serempak. Anak-anak merangkak keluar dari jalan rahasia itu dan memandang berkeliling. Ruangan tempat mereka berada nampak seperti perpaduan antara bioskop dan museum. Benda-benda dari beberapa film Alfred Hitchcock yang termasyur memenuhi ruangan sementara di ujung ruangan sebuah layar film yang besar memenuhi dinding. Berbaris-baris kursi bioskop yang mewah mengisi bagian tengah ruangan. Tali pemisah berwarna merah tergantung pada tiang-tiang kuningan, persis seperti sebuah bioskop yang sebenarnya. "Ini ruangan proyektor milik kakekku!" seru Ben. "Bibi Patty pernah bercerita kepadaku tentang ruangan ini namun aku belum pernah masuk ke dalam. Pintunya selalu dikunci." Jupe, yang selalu membanggakan diri atas pengetahuannya yang mendalam mengenai film dan teater, ternganga melihat segala tanda mata yang berjajar di ruangan. "Lihatlah ini!" katanya. "Ini adalah miniatur Mount Rushmore yang digunakan dalam film 'North By Northwest'! Dan yang di sana itu adalah gagak mekanik yang digunakan dalam 'The Birds'! Dan mesin pemutar lagu ini dari 'Diabolical'." "Apa ini?" tanya Pete, mengangkat sebuah botol anggur berisi semacam pasir. "Itu dari film 'Notorious'," kata Ben dengan kagum. "Dalam film pasir hitam itu adalah uranium. Sebuah film yang hebat!" Bob sedang berada di ujung ruangan untuk mengamati tirai kamar mandi dan seperangkat pisau ketika sesuatu di lantai menarik perhatiannya. "Oh, Ben," katanya.

"Ya, Bob, apa yang kau temukan di sana?" "Kau bilang ruangan ini selalu terkunci?" "Setiap saat," kata Ben. "Ada apa?" Bob menelan ludah dan menunjuk ke benda yang menarik perhatiannya. Beberapa serpihan kayu tergeletak di lantai dekat kaki Bob! "Seseorang telah mendahului kita lagi," katanya. Jupiter berlari mendekat dan memeriksa pintu. Tertutup namun tidak terkunci. "Pintu ini telah dicongkel ... sepertinya dengan menggunakan linggis," remaja gempal itu melaporkan. "Seseorang berusaha masuk ke ruangan ini dengan terburu-buru. Kemungkinan setelah mengunci kita di dalam lorong rahasia!" "Berarti mereka mungkin saja telah menemukan harta itu sekarang!" seru Ben. "Tidak, kecuali mereka telah memecahkan bagian terakhir teka-teki!" kata Jupiter. "Bob, mari kita lihat catatanmu lagi." Sekali lagi anak-anak membaca pesan itu. "Article 33: Skip the H20 and within my estate youll find the Crate that leads you to the paddy wagon. Follow the clues and pay your dues and the 2nd of 55 will reward you." "Benda 33: langkahi H2O dan di dalam tanah milikku kau akan menemukan peti yang akan membawamu ke gerobak bergembok. Ikuti petunjuk, lakukan kewajibanmu, dan yang kedua dari 55 akan memberimu penghargaan." "Creighton Duke -- 'peti' kita -- telah membawa kita ke foto bibimu Patricia," kata Jupiter, menyuarakan pikirannya. "Kita telah mengikuti petunjuk dan tiba di ruang proyektor Mr. Hitchcock. Sekarang kita harus melakukan kewajiban kita dan yang kedua dari 55 akan memberi kita penghargaan." "Kita memang telah mengikuti petunjuk," kata Pete. "Tapi apa maksudnya 'melakukan kewajiban'?" "Mungkin membayar semacam iuran keanggotaan -- pay your dues," kata Ben. "Kita harus membayar iuran untuk tetap menjadi anggota klub. Bagaimana, Jupiter?" Jupiter berdiri tenang, mencubiti bibir bawahnya penuh konsentrasi. Matanya menyapu ruangan, berusaha mencari hubungan antara teka-teki itu dan bendabenda yang berasal dari film. Tapi akhirnya Bob yang menemukannya.

"Wah!" serunya. "Sepertinya aku tahu!" Detektif berbadan kecil itu masuk kembali ke lorong rahasia melalui pintu kecil di dinding. Ia menutup pintu dan membukanya lagi sementara yang lain berusaha memahami tindakannya. "Rasanya aku tidak mengerti, Data," kata Jupiter sambil mengerutkan kening. "Benda apa yang pertama kali kulihat ketika aku membuka pintu rahasia ini?" tanyanya. "Mesin pemutar lagu! Apa yang kita lakukan dengan sebuah mesin pemutar lagu?" "Kita memasukkan koin untuk menyuruhnya memainkan lagu!" seru Ben. "Itulah kewajiban yang harus kita lakukan!" Jupiter Jones nampak agak kesal karena bukan ia yang memecahkan bagian teka-teki itu namun ia menyelamati Bob dengan sportif. "Deduksi yang hebat, Data," katanya. Wajah Bob nyaris bersinar akibat pujian Jupe. Tidak sering Penyelidik Pertama mengakui bahwa seseorang telah mendahuluinya memecahkan masalah. "Kalau begitu yang kedua dari 55 pastilah sesuatu yang berhubungan dengan mesin pemutar lagu," kata Pete. "Mr. Hitchcock pastilah memaksudkan baris kedua atau bait kedua dari lagu nomor 55 sebagai petunjuk selanjutnya!" Jupiter dengan cepat menyalakan mesin itu dan menekan nomor 55 di layar. Anak-anak dengan bergairah menunggu mulainya lagu itu. Tidak terjadi apa-apa. "Ada yang tidak beres," kata Jupiter. Ia menekan nomor 55 lagi dan menunggu. "Mengapa lagu itu tidak dimainkan?" seru Pete. Jupiter berlutut dan memeriksa mesin itu. Jemarinya menemukan sebuah tuas kecil yang membuka bagian depan mesin. Ia membukanya dan mengangkat bagian depan mesin itu. Nampaklah berbaris-baris piringan hitam antik. "Seperti yang kutakutkan," kata Jupiter muram. "Nomor 55 tidak ada!"

BAB VII HARTA TERSEMBUNYI


"Bagaimana kita bisa tahu yang kedua dari 55 jika lagu nomor 55 tidak ada?" tanya Pete putus asa.

Keempat anak itu berdiri mengelilingi mesin pemutar lagu di ruang proyektor Alfred Hitchcock, menatap tempat piringan hitam yang kosong itu dengan tidak percaya. "Nampaknya kita telah kalah, Teman-teman," kata Ben sedih, menutup bagian depan mesin itu. "Bagaimanapun juga, usaha yang bagus. Kalian benar-benar detektif hebat, bisa sampai sejauh ini. Kalian patut mendapatkan pujian." Orang biasa akan menyerah kalah saat itu juga. Namun Jupiter Jones sama sekali bukan orang biasa. Ia mengerutkan kening sambil menatap mesin pemutar lagu itu, merasa yakin ada yang terlewatkan. Sesuatu yang jelas. Ketika akhirnya ia mendapatkannya, ia tersenyum bangga. "Dari raut wajah Jupe," kata Bob, menyadari senyuman Jupiter, "aku berani mengatakan Trio Detektif belum lagi kalah!" "Kau menemukan sesuatu, Jupiter?" tanya Ben penuh harap. "Penjahat itu tidak sepintar sangkaan mereka," kata Jupiter. "Ia mengambil piringan hitam itu ... namun sama sekali lupa akan cara kerja mesin pemutar lagu." "Coba tolong jelaskan lagi, Pertama," keluh Pete. Penyelidik Pertama yang gempal mengusap permukaan kaca mesin pemutar lagu, seolah-olah mengatakan bahwa Pete dan Bob -- seperti dirinya -seharusnya bisa menemukan petunjuk itu dengan mudah. Ketika mereka hanya menatap kosong, ia mendesah. "Pencuri itu harus mengangkat bagian depan mesin ini untuk mengambil piringan hitam," Jupiter menjelaskan dengan sabar. "Saat itu ia lupa bahwa di kaca penutup ini terdapat daftar lagu ... dan nomor urutnya!" "Tentu saja!" kata Bob. Petunjuk memang jelas setelah dijelaskan oleh Jupiter. "Tanpa daftar lagu kita hanya bisa menebak-nebak lagu apa yang dimainkan saat itu. Lagu nomor 55 ada di dalam daftar lagu ini!" Remaja ramping berkacamata itu menelusuri daftar lagu dengan jarinya sampai ia menemukan nomor 55. "Ini dia!" serunya. "'Harta Tersembunyi' oleh sebuah grup musik bernama 'Denny Lynds & The Gail Force Winds'." "Kita harus mencari lagu itu!" perintah Jupiter. "Dengan segera!" "Ben, apakah ada toko musik di dekat sini tempat kita dapat menemukan lagu itu?" tanya Pete. Remaja Inggris itu berpikir sejenak. "Yang paling dekat ada di Picadilly Circus," katanya kemudian. "Kita dapat menggunakan mobilku untuk pergi ke kota!"

Pete nampak bergairah. "Akhirnya kita bisa juga melihat pemandangan!" "Sayangnya tidak," kata Jupiter sambil menggelengkan kepala. "Kau dan Bob tinggal di sini." "Mengapa selalu harus kau yang dapat bersenang-senang?" tanya Pete setengah bercanda. "Karena harus ada yang mengawasi Jebediah dan Keluarga Fitchhorn," Jupiter menjelaskan. "Seseorang telah mendahului kita ke semua petunjuk ... namun kita pastilah tidak tertinggal terlalu jauh karena mereka repot-repot mengunci kita di lorong rahasia itu." "Jupe benar," kata Bob setuju. "Tapi marilah kita berangkat bersama-sama. Lalu ketika kita sudah cukup jauh dari rumah, Pete dan aku dapat menyelinap kembali ke rumah ini. Mungkin si pencuri akan beraksi ketika ia menyangka kita sedang pergi." "Ide yang bagus, Data," kata Jupiter. "Mari kita umumkan bahwa kita akan pergi melihat-lihat di kota dan tidak akan ada di sini selama beberapa jam." Anak-anak meninggalkan ruang proyektor dan berbaris menuruni tangga. Di bawah mereka bertemu dengan Patricia. "Aku mencari-cari kalian, Anak-anak!" katanya. "Ada kemajuan dengan teka-teki itu?" "Sayangnya tidak," kata Jupiter kuat, mengedipkan mata ke arah Patricia. "Kami menghadapi jalan buntu, maka kami memutuskan untuk pergi ke London, melihat-lihat atraksi turis di sana." Putri Alfred Hitchcock itu dengan segera mengerti dan membalas kedipan Jupiter. "Wah, sayang sekali," katanya. "Mungkin sedikit udara segar bisa menjernihkan pikiran kalian dan nanti bisa ada kemajuan dalam teka-teki ayahku." Anak-anak mengenakan jaket mereka dan berjalan menuju pintu. "Kami akan naik mobilku, Bibi Patty," Ben berseru sambil menoleh ke belakang. "Kami akan berusaha kembali sebelum makan malam!" "Bersenang-senanglah, Anak-anak!" seru wanita itu di belakang mereka. "Dan hati-hati di jalan, Benjamin!"

Mobil Ben adalah sebuah Silver Cloud yang mulus, dengan atap yang bisa dibuka dan empat tempat duduk. Pete bersiul sambil mengusap-usap kap mesinnya yang mengkilap. "Kau yakin Bob dan aku tidak dapat ikut?" pintanya memelas. Jupiter menyeringai. "Begitulah. Tapi aku berjanji Ben dan aku akan bersenangsenang demi kalian berdua." "Lucu sekali!" kata Pete mencibir. "Jangan lupa bahwa kalian sedang menangani sebuah kasus!" tambah Bob sambil masuk ke dalam mobil sport itu. Mobil itu meraung hidup dan anak-anak memasang sabuk pengaman mereka. "Mari kita pergi!" seru Ben. Dan dengan sedikit tanah berhamburan mobil itu meluncur ke jalan. Ketika mereka sudah di luar jangkauan penglihatan dari Puri Hitchcock, Ben menghentikan Silver Cloud itu di tepi jalan. "Ada jalan setapak melintasi hutan di sana itu yang digunakan para pemburu musim berburu," ia memberi petunjuk kepada Bob dan Pete sementara mereka keluar dari jok belakang mobil. "Berjalanlah di sebelah kanan dan jalan itu akan membawa kalian kembali ke rumah. Dari situ kalian bisa menggunakan pintu masuk Abernathy untuk menyelinap masuk." "Satu dari kalian mengamati Jebediah sementara yang satunya mengawasi Keluarga Fitchhorn," usul Jupiter. "Dan hati-hati," tambahnya. "Dan kalian jangan sampai terlalu banyak bersenang-senang," tukas Pete. Dan Silver Cloud pun meluncur menjauh, meninggalkan kedua detektif itu di tepi jalan. "Sungguh menguntungkan menjadi Penyelidik Pertama!" protes Pete. Bob tersenyum dan menepuk punggung temannya. "Ayo," katanya, "mulai berjalan." Rumah nampak sepi ketika Bob dan Pete tiba. Dengan hati-hati mereka mengamati halaman belakang untuk memastikan tidak ada orang yang melihat. Pete mendesis, "Lihat!"

Jebediah O'Connell sedang berkeliaran di halaman, mencungkil beberapa batu taman dengan tongkatnya dan melihat ke baliknya. Lelaki berkumis lebat dan bertopi aneh itu meletakkan tangannya di atas sebuah jam matahari dan membungkuk untuk mengamati sesuatu di tanah. "Kira-kira apa yang dicarinya?" bisik Bob. "Kau tinggal saja di sini dan mencari tahu," kata Pete. "Aku akan mencari Fitchhorn." "Tidak akan terlalu sulit," Bob menyeringai. "Ikuti saja suara pertengkaran!" "Terima kasih atas petunjuknya," gumam Pete. "Sampai ketemu nanti." Penyelidik Kedua menunggu sampai Jebediah membelakanginya, kemudian berlari menuju pintu masuk pelayan di bagian belakang rumah. Bob memandangi temannya masuk ke dalam dan kemudian berusaha mencari posisi yang nyaman di balik sebatang pohon yang telah tumbang, mengawasi dan menunggu tindakan si licik Jebediah O'Connell selanjutnya. Di dalam rumah Pete bergerak seperti sesosok bayang-bayang. Ia menyelinap dari satu ruangan ke ruangan yang lain, setiap beberapa saat berdiam diri untuk mendengarkan. Rumah itu terasa terlalu sunyi. Ia mulai bertanya-tanya jika Keluarga Fitchhorn telah pergi ketika bunyi sebuah pintu berderit di engselnya membuatnya menahan nafas dan ototnya menegang. Pete mengambil kesimpulan bahwa suara itu berasal dari ruangan kecil di dekat dapur yang digunakan untuk menyimpan bahan makanan kering dan kalengan. Ia berjingkat menuju dapur dan memandang sekilas. Pintu menuju tempat penyimpanan anggur terbuka! Pete menggigit bibir dan memandang berkeliling. Di manakah Bob saat dibutuhkan? Remaja kekar itu ragu-ragu sejenak dan kemudian beringsut menuju pintu dan mendengarkan lagi. Ia merasa mendengar seseorang bergerak di bawah sana namun tidak yakin. Setelah menarik nafas panjang, Pete menyelinap menuruni tangga batu yang dingin. Bau udara yang lembab dan sumpek menghantamnya, membuatnya mengerutkan hidung.

Ada sebuah bola lampu yang menyala di bawah tangga namun bagian lagi ruang bawah tanah itu diselimuti bayang-bayang gelap yang membuat bulu kuduk Pete berdiri. Pipa-pipa dalam berbagai ukuran bersimpang siur di langit-langit dan batu-batu tua serta semen tersusun membentuk dinding. Ia mulai berpikir untuk kembali dan menemui Bob ketika terdengar lagi bunyi pintu berderit yang membuatnya terpaku. Ada seseorang di bawah sana! Pete Crenshaw mengumpulkan segala keberaniannya dan memaksa diri menyusuri rak-rak berdebu yang dipenuhi toples-toples acar dan botol-botol anggur milik Puri Hitchcock yang tak terhingga jumlahnya. Sebuah pintu kayu yang memudar dimakan usia berdiri di ujung ruangan. Pete menelan ludah dan dengan hati-hati mendekatinya. Sebuah sarang laba-laba menyapu mukanya dan hampir saja ia terpekik kaget. Remaja jangkung itu kemudian mendengar bunyi gemeletuk dan menyadari bahwa ia membayangkan suara giginya sendiri beradu. Ia merapatkan rahang dan berusaha memikirkan tindakan yang akan diambil Jupiter Jones dalam situasi seperti ini. Pete ragu-ragu sejenak di depan pintu yang terbuka itu, sekali lagi berhenti untuk mendengarkan. Terdengar suara air menetes di suatu tempat di dalam kegelapan. Sambil berusaha melihat ke dalam bayang-bayang, ia berjalan dengan lambat melalui ambang pintu. Hanya tiga anak tangga yang dapat dilihatnya, turun menuju sebuah ruangan kecil. Pete berdiam diri di atas tangga dan menunggu ... satu-satunya suara yang terdengar adalah debar jantungnya. Tiba-tiba ada tangan yang mendorong punggungnya dengan kasar dan sambil terpekik Pete terjatuh dengan kepala dahulu ke dalam kegelapan! Penyelidik Kedua yang atletis itu bangga akan kecekatannya dan ia berusaha mengendalikan jatuhnya -- mendarat di lantai batu yang aus sambil membalikkan badan untuk melihat si penyerang. Tapi yang dilihatnya membuat darahnya seolah-olah kering! Tepat sebelum pintu tua itu terbanting tertutup dan membuatnya berada di dalam kegelapan total, Pete Crenshaw sempat melihat seorang wanita bergaun Victoria yang menggenggam tali melingkar di tangan!

BAB VIII DI MANA PETE?

Bob Andrews menarik jaketnya menutupi kepala dan menggerutu. Yang satu jam yang lalu mulai sebagai gerimis kecil telah berubah menjadi hujan dan kini sepertinya akan menjadi sangat lebat. Jebediah O'Connell masih tetap berkeliaran di halaman, kini dengan payung di atas kepalanya, berhenti di sana sini untuk mengamati sesuatu atau mencungkil sesuatu dengan tongkatnya. Bob bertanya-tanya jika nasib Pete lebih beruntung di dalam. Paling tidak ia kering! Bob melihat arlojinya. Jam makan siang telah lama lewat dan kini perutnya memprotes. Bob menimbang-nimbang godaan untuk menyudahi pengawasannya terhadap Jebediah sehingga ia dapat masuk, mengeringkan badan, dan makan sesuatu. Tidak, Jupe tidak akan menerimanya, pikir anak itu. Lebih baik tetap berkeliaran di hutan, membuntuti Sepupu Jeb berjalan tanpa henti di bawah siraman hujan. Remaja bertubuh kecil itu menggigil dan berusaha menahan giginya agar tidak bergemeletuk. Ia menerima keadaan bahwa ia harus tetap kedinginan, kelaparan, dan menderita hingga Jupe dan Ben kembali dari London. Mujur bagi Bob, ia hanya perlu menunggu sejam lagi. Dari pos pengamatannya di antara pepohonan, Bob melihat Silver Cloud Benjamin Hitchcock, kini dengan atap terpasang, meluncur masuk dan berhenti. Sambil berhati-hati agar tidak terlihat oleh Jebediah, ia mengitari rumah untuk menemui teman-temannya. "Ada kemajuan?" tanyanya. Jupe mengacungkan sebuah kantung kertas kecil di tangannya sementara mereka berlari ke dalam. "Mereka mengizinkan kami mendengarkannya di toko," katanya. "Namun aku memutuskan untuk membelinya juga untuk berjaga-jaga." Ketika anak-anak sedang menanggalkan jaket mereka yang basah, Patricia O'Connell muncul, nampak cemas. "Aku gembira kalian telah pulang, Anak-anak," katanya. Ben merasa ada sesuatu yang mengganggu pikiran bibinya dan nampak waswas. "Ada apa, Bibi Patty? Ada sesuatu yang terjadi?" Wanita cantik itu tersenyum dan nampak agak malu. "Tidak, tidak, tidak ada apa-apa," katanya. "Hanya saja ... semenjak kalian pergi, aku mendengar suara-suara di rumah ini." "Maksud Anda hantu, ma'am?" tanya Bob bersemangat.

"Oh, tidak!" kata wanita itu, memaksakan untuk tertawa. "Aku yakin bukan sesuatu semacam itu. Kurasa hanya karena sudah lama aku tidak berada sendirian di dalam rumah besar ini dan ... aku tidak tahu di mana Keluarga Fitchhorn dan aku tidak melihat Sepupu Jeb selama berjam-jam! Aku berusaha tidur siang namun tetap saja suara-suara aneh itu terdengar." "Sepupu Anda Jeb ada di halaman," kata Bob memberi tahu. "Ia ada di luar sana selama berjam-jam." Jupiter mengusap dagunya dan berpikir. "Bisakah Anda menunjukkan kepada kami tempat Anda berada ketika terakhir kali mendengar suara-suara itu?" "Di dapur," kata Patricia. Anak-anak mengikutinya ke sana, kemudian berdiam diri, mencoba menangkap suara hantu yang misterius. Patricia nampak makin malu. "Aku mendengar suara aneh mengetuk-ngetuk -seperti di dalam pipa -- dan aku bahkan berani bersumpah telah mendengar suatu suara beberapa kali." Ia memandang anak-anak dengan malu-malu. "Apapun itu, nampaknya sekarang sudah tidak ada." Jupe tersenyum kepadanya. "Kami baru saja hendak mengadakan rapat, bagaimana jika Anda bergabung?" usulnya, berusaha membuat Patricia merasa nyaman. "Adakah tempat yang memungkinkan kita berbicara dengan tenang?" "Perpustakaan," kata wanita itu. "Lewat sini." Perpustakaan itu adalah sebuah ruangan besar dengan cahaya temaram yang dipenuhi buku-buku dan bayang-bayang. Dinding-dindingnya yang tertutupi buku-buku menjulang tinggi ke langit-langit yang melengkung. Samar-samar tercium bau kertas tua dan anak-anak teringat akan perpustakaan umum di Rocky Beach, tempat Bob bekerja paruh waktu. Sebuah bola dunia yang besar sekali berada di salah satu sudut ruangan dan sebuah tangga tinggi beroda memungkinkan orang mencapai rak-rak buku tertinggi yang berdiri sepanjang tiga dinding ruangan. Salah satu sudut bersih dari buku. Di sudut ini terdapat sebuah jendela besar dari kaca berwarna-warni yang dengan jelas menggambarkan seorang ksatria dengan baju besi berwarna biru, duduk di atas punggung seekor kuda bermata delima. Sepotong kaca di bagian bawah jendela, berbentuk sebuah gulungan naskah, bertuliskan "Ksatria Templar" dalam huruf-huruf Inggris Kuno. Patricia menyingkapkan tirai tebal berenda dan secercah cahaya masuk ke dalam ruangan kelam itu, memperjelas lukisan di jendela.

Bob bersiul. "Aku tidak akan suka membersihkan jendela itu. Ksatria itu menatap kita lekat-lekat." "Dan kuda itu juga tidak lebih ramah," tambah Ben sambil menggigil. "Kurasa kita sudah hampir menyelesaikan teka-teki ini," potong Jupe. "Namun kita harus bergerak dengan cepat. Sepertinya ada pihak lain di dalam rumah ini yang juga sangat ingin menemukan harta itu." "Jadi itu yang kau maksud dengan kerlinganmu tadi," kata Patricia. "Kau punya dugaan siapa itu, Jupiter?" Jupe mengintip keluar melalui salah satu potongan kaca yang bening ke arah awan pembawa badai yang berarak-arak mendekat. Dari tempatnya berdiri ia dapat melihat halaman dengan jam matahari dan Jebediah di salah satu ujungnya. "Apa yang Anda ketahui tentang Keluarga Fitchhorn, Patricia?" tanyanya. "Dan apa yang Anda ketahui tentang sepupu Anda Jebediah?" Patricia duduk di lengan sebuah kursi besar yang terbuat dari kulit dan mendesah, mengusap keningnya kembali. "Keluarga Fitchhorn tiba di sini bersama seorang pengacara yang meragukan ketika aku sedang berada di Hollywood untuk pembacaan surat wasiat ayahku. Mereka menunjukkan beberapa dokumen kepada Julia dan mengaku sebagai sanak saudara serta berhak atas sebagian tanah ini. Sebelumnya aku telah merasa bahwa kepergian ayahku akan mendatangkan beberapa orang semacam mereka, jadi aku tidak terlalu memikirkannya. Sudah banyak hal di dalam pikiranku, maka kusuruh Julia membiarkan mereka tinggal sampai aku tiba. Saat itu kuharap mereka akan bosan sendiri dan akhirnya pergi." "Dan bagaimana dengan sepupu Anda?" tanya Jupiter. Patricia mendesah kembali. "Jebediah adalah seorang pria yang aneh. Ia nampak cukup jujur. Ia pensiun dini karena kakinya dan membantu-bantu di rumah ini sebagai tukang kebun. Kuizinkan dia tinggal di sini sebagai bayarannya. Ia nampak cukup puas akan perjanjian itu ... namun kadangkadang ia berubah murung dan mengurung diri. Lalu ia akan menghilang selama beberapa hari tanpa mengatakan apa-apa." Terdengar ketukan lembut di pintu dan Winston masuk membawa sebuah nampan. "Saya membawakan teh untuk Anda, madam." "Kau sungguh baik, Winston," Patricia tersenyum. "Anak-anak baru saja berkata bahwa mereka hampir menyelesaikan teka-teki itu." "Hebat! Apakah semua anak Amerika sepandai kalian?" membungkukkan badan. "Namun bukankah kalian datang bertiga?" Winston

"Waduh, benar!" seru Bob. "Pete telah hilang berjam-jam!" Jupiter nampak cemas. "Maksudmu kau tidak melihatnya sejak Ben dan aku pergi ke London?" "Tidak sejak kami berpencar," jawab Bob. "Mungkin sebaiknya kita mencari Master Pete," saran Winston. "Mungkin ia tersesat di halaman. Tanah ini luas sekali ... orang bisa tersesat selama berhari-hari di tengah hutan!" Jupiter hendak mengusulkan agar mereka berpencar untuk mencari Pete ketika tiba-tiba ia terdiam. "Sebentar," desisnya. "Dengarkan!" Mereka berdiri diam dan menunggu selama beberapa saat dalam keheningan yang mencekam. "Rasanya saya tidak mendengar apa-apa, Master Jupiter," kata Winston akhirnya. "Sebentar lagi gelap. Jika Master Pete ada di hutan ...." "Tunggu ... sst!" bisik Jupiter lagi. "Kalian dengar itu?" Mereka mendengarkan kembali. Kali ini samar-samar mereka dapat mendengar suara ketukan yang sepertinya datang dari lantai. "Aku mendengarnya!" seru Ben. "Seperti seseorang memukul-mukul pipa." "Itulah suara yang kudengar!" kata Patricia. "Itu sinyal SOS!" seru Bob. "Pasti Pete yang berusaha memberi tanda kepada kita!" "Di mana Pete bisa menemukan pipa?" tanya Jupiter cepat. "Di ruang penyimpan anggur!" seru Winston. "Ikuti saya, Tuan-tuan!" Kepala pelayan bertubuh ramping itu berlari keluar dari perpustakaan, diikuti oleh anak-anak dan Patricia. Ia membawa mereka ke gudang kecil di dekat dapur, membuka pintu, dan mereka menuruni tangga batu. Winston meraba-raba di dalam kegelapan sampai menemukan seutas tali untuk menyalakan bola lampu di dasar tangga. Ketika ia menyalakannya, anak-anak dapat melihat jaringan pipa bersimpang siur di sepanjang langit-langit yang rendah ... sepertinya mustahil untuk mengetahui yang mana yang dipukul Pete! "Ketukan itu semakin kuat sekarang," kata Jupiter.

"Lewat sini!" kata Winston. Pria jangkung berjas itu melintasi ruangan besar penyimpan anggur itu dengan ahli, baris demi baris botol anggur, hingga akhirnya ia mencapai sebuah pintu. Dengan cekatan ia membuka sebuah gerendel besar dan membuka pintu yang berat itu, menyebabkan engselnya berderit. Di balik pintu itu Pete Crenshaw menggenggam sebuah pipa besi seperti sebuah pemukul baseball! Matanya tertutup dan ia keluar sambil mengayunkan pipanya, nyaris menghantam kepala Winston! "Kau tidak akan bisa menangkapku, Hantu!" teriaknya. Jupiter menyambar pergelangan tangan Pete dan mencegahnya meremukkan tengkorak Winston. "Pete!" serunya. "Pete, ini kami!" Penyelidik Kedua yang kekar itu mengejapkan matanya beberapa kali sebelum melonggarkan genggamannya pada pipa. "Wah, aku sungguh gembira bertemu denganmu!" katanya lemah. Jupe mengambil pipa dari tangan Pete dan melemparkannya kembali ke dalam ruangan. "Apa yang terjadi?" tanyanya. "Bagaimana kau bisa terkurung di dalam situ?" "Bawa aku ke bawah cahaya matahari yang hangat dan akan kuceritakan semuanya," kata Pete. Mereka membawa teman mereka yang kelelahan ke tangga batu namun Jupiter berhenti di bawah dengan suatu pikiran di wajahnya. "Ada apa, Pertama?" tanya Bob. "Ini bukan waktunya untuk deduksi," erang Pete. "Aku harus makan sesuatu sebelum mati kelaparan!" "Baiklah," kata Jupe. "Kurasa kau benar." Mereka pergi ke lantai dua dan berkumpul di perpustakaan. Winston bergegas pergi ke dapur dan kembali dengan sebuah nampan berisi daging tebal, roti keju, dan soda jeruk. "Sepertinya kau harus mengambilkan satu nampan lagi untuk yang lain!" canda Pete sambil menggigit roti. "Aku belum makan sejak sarapan!" "Sementara Pete memulihkan diri dari kelaparan," kata Jupiter, diikuti sebuah gigitan besar pada rotinya, "Ben dan aku akan menceritakan apa yang kami

temukan dari piringan hitam itu. Setelah itu Pete dapat memberi tahu kita bagaimana ia bisa terkurung di ruang penyimpan anggur." "Saya jadi ingat, madam," kata Winston. "Saya tadi hendak memberi tahu Anda bahwa pintu ruang proyektor telah dibobol. Saya telah memperbaiki kuncinya namun Anda mungkin ingin memeriksanya sendiri." Ia berdehem dan nampak agak sungkan. "Saya tahu saya tidak pantas mengatakan ini, namun saya merasa wajib memberi tahu Anda bahwa saya melihat Mr. Fitchhorn di lantai atas," tambahnya kemudian. "Terima kasih, Winston," kata Patricia. "Kurasa Keluarga Fitchhorn sudah waktunya pergi," katanya tegas. "Dan mereka tidak akan mendapatkan satu sen pun uang ayahku!" "Kami akan mendapatkan yang merupakan hak kami yang sah!" sebuah suara menggeram dari pintu.

BAB IX JAM DAN JAM LAGI


"Fitchhorn!" seru Pete. "Sekarang kita tidak bisa mendiskusikan petunjuk dari piringan hitam itu!" Lelaki berbadan bulat itu melangkah dengan penuh ancaman ke dalam perpustakaan, diikuti oleh istrinya yang kurus kering. "Kau punya petunjuk baru lagi?" ia bertanya kepada Jupiter. "Apakah itu, Nak? Ayo bicara!" "Jangan, Jupe!" kata Bob marah. "Mereka membobol ruang proyektor dan mencuri piringan hitam itu ... dan sekarang mereka tidak dapat memecahkan petunjuknya!" "Kami tidak pernah berbuat demikian, Anak Muda!" kata Stella Fitchhorn dengan suaranya yang melengking. "Betapa kurang ajarnya anak muda zaman sekarang!" Seolah-olah menegaskan perkataannya, ia mengeluarkan saputangan dan membersihkan hidungnya yang seperti paruh, mengeluarkan suara keras. Timothy Fitchhorn menatap istrinya dengan marah. "Sudah kukatakan biar aku yang bicara!" geramnya. "Sekarang lebih baik kau katakan apa yang kau tahu, Nak. Jika kita bekerja sama, kita mungkin bisa memecahkan teka-teki si Tua Hitch malam ini juga!" "Saya sangat meragukan kejujuran pria ini, madam," kata Winston. "Saya duga ia berniat mengambil seluruh harta itu begitu ditemukan."

"Dengar, kau pelayan tak tahu diuntung," ancam Mr. Fitchhorn, "kau digaji sebagai pelayan -- bukan konsultan! Lebih baik kau mengurusi urusanmu sendiri!" "Cukup!" teriak Patricia. Bob melihat bahwa wanita itu gemetar dan nyaris tidak dapat menahan air mata. "Jupiter, katakan apa yang kau tahu dan kita semua akan mencari bersama-sama. Dengan demikian tidak seorang pun dapat menguasai apapun yang disembunyikan ayahku." Tiba-tiba sebuah suara lain terdengar dari pintu. "Kudengar teriakan," kata Jebediah. "Apakah kalian sedang berpesta dan tidak mengundang Jebediah Tua?" "Saya senang Anda ada di sini," kata Jupiter Jones. "Sekarang setelah kita semua berkumpul, kita bisa mendiskusikan petunjuk terakhir Mr. Hitchcock." "Oh. omong kosong itu lagi," Sepupu Jeb mencibir. "Kalian boleh memiliki bagianku dari harta itu, aku tidak peduli. Mungkin sekali semua ini kelakar belaka, mengingat selera humor Mr. Hitchcock." "Kalian semua dengar apa yang dikatakannya!" kata Mrs. Fitchhorn dengan lengkingannya, "ia tidak peduli akan bagiannya!" "Diam!" tukas Timothy Fitchhorn. "Baiklah, Nak, apakah petunjuk terakhir dari piringan hitam itu?" "Jupe, kau yakin akan ini?" tanya Pete. "Aku tidak yakin ini adalah ide yang bagus, Bibi Patty," bisik Ben. Jupiter berdiri di depan kaca jendela yang berwarna-warni dengan tangan di pinggang. "Rumah ini besar," katanya kemudian. "Namun tidak terlalu besar sehingga seseorang bisa bertindak tanpa diketahui yang lain untuk waktu yang lama. Daripada masing-masing berkeliaran sendiri-sendiri, lebih baik kita semua bekerja sama." Timothy Fitchhorn mengusap-usapkan kedua telapak tangannya penuh semangat. "Keputusan yang bijak, Nak," ujarnya. "Sekarang, ada apa di piringan hitam itu?" Jupiter menegakkan tubuhnya -- ia tidak dapat menahan godaan untuk menikmati perhatian yang terpusat kepadanya, hal itu sudah mendarah daging. "Bait kedua dari lagu 'Harta Tersembunyi' oleh Denny Lynds & The Gail Force Winds berbunyi:

"Waktu telah berhenti tanpamu, Aku seperti Adam tanpa Hawa, Aku akan terus mencari di dunia ini, Hingga aku telah menguburkan kesedihanku." Mata Timothy Fitchhorn berbinar-binar penuh gairah. "Aku berani bertaruh, bagian tentang 'waktu yang telah berhenti' bermakna sebuah jam yang tidak berfungsi lagi!" serunya sambil mengusap keringat di dahinya dengan saputangan. "Pasti ada satu di salah satu tempat di rumah ini!" Ben melompat bangkit. "Bibi Patty, Bibi tahu jam yang tidak berfungsi lagi?" "Pasti ada berlusin-lusin jam di rumah ini," katanya putus asa, "beberapa di antaranya pasti tidak berfungsi lagi!" "Kita harus memeriksa satu per satu," kata Jupiter. "Dan kita harus memeriksa bersama-sama. Ini satu-satunya jalan!" "Ide yang bagus, Nak," Mr. Fitchhorn setuju, mendorong rambutnya kembali ke tempat semula dengan tangannya yang gemuk. "Mari mulai dengan jam besar ini!" Para pemburu harta karun itu berkerumun di sekitar jam besar yang ada di perpustakaan sementara Winston dan Pete memeriksanya dengan seksama. "Menurutku jam ini tepat waktu," kata Pete. "Rasanya ini jam yang salah." "Ke ruangan sebelah!" seru Mr. Fitchhorn dengan cepat. Satu per satu, semua jam di rumah itu mereka periksa. Hari telah larut ketika mereka tiba di ruang bilyar di lantai dua, satu-satunya ruangan yang belum mereka periksa. Mereka merasa frustrasi atas keberhasilan yang tak kunjung tiba. "Ada dua jam di ruangan ini," kata Bob. "Satu jam dinding dan satu lagi jam besar yang berdiri di lantai." Jam besar itu mulai berdentang, menunjukkan tengah malam, sementara Bob dan Ben mencopot jam yang lebih kecil dari dinding. Ketika jam yang besar berdentang untuk terakhir kalinya, Jupiter duduk dengan tegak seolah-olah digigit oleh sesuatu. Ia menatap jam antik itu. "Hei," kata Pete, "ada apa denganmu?" Jupiter bergegas mendekati jam itu dan mulai meraba-raba. "Bantu aku, Pete," katanya. Yang lain menyadari gairah remaja gempal itu dan berkerumun di sekitar jam.

"Kau menemukan sesuatu, Jupiter?" tanya Ben penuh harap. "Ingat, kami juga berhak!" Stella Fitchhorn mengingatkan orang-orang. "Jangan berkata apa-apa lagi!" suaminya memperingatkan. "Kecuali ada yang namanya 'jam tiga belas'," kata Jupiter melalui bahunya, "kurasa harta kita ada di dalam jam ini!" "Wah!" kata Bob. "Aku sama sekali tidak menyadari jam ini berdentang tiga belas kali!" Jupiter telah membuka pintu kaca tempat bandul jam. Jari-jarinya akhirnya menemukan sebuah tombol jauh di belakang. "Dapat!" serunya. Jarinya yang gempal menekan tombol itu dan terdengar suara 'klik' seperti kunci yang terbuka. Jam besar itu bergerak maju beberapa inci. "Jam ini berengsel!" kata Jupiter kagum. "Suatu hasil karya yang hebat. Jam ini tergantung pada sebuah bingkai besi yang tertanam di dinding!" Penyelidik Pertama yang gempal membuka jam yang berfungsi sebagai pintu itu, menampakkan suatu ruangan kecil yang tidak lebih besar daripada sebuah lemari. Ruang berdinding batu bata itu tidak berisi apa-apa kecuali sebuah landasan yang di atasnya terdapat patung dada Alfred Hitchcock, serupa dengan yang dimiliki anak-anak di markas. Di bawah patung dada itu terdapat sebuah amplop, tersegel oleh lilin dengan tulisan "???" di atasnya. Jupiter mengambil amplop itu, matanya bersinar-sinar. Namun ketika ia membalikkan surat di tangannya untuk membuka segel lilin itu, raut wajahnya berubah aneh. "Ada apa, Pertama?" tanya Bob. "Ayolah, Jupe," desak Pete, "buka!" Timothy dan Stella Fitchhorn nyaris melompat-lompat kegirangan. "Ya, Nak," lelaki gendut itu menyeringai dan menjilat bibirnya, "buka!" Jupiter mengacungkan amplop itu di depan mukanya. "Amplop ini sudah dibuka!"

BAB X SURAT YANG TELAH DIBUKA


"Apa maksud Anda?" tanya Winston. "Amplop itu tersegel!" "Jelaskan, Nak," tuntut Timothy Fitchhorn. "Aku mulai tidak sabar dengan segala aksi Sherlock Holmes-mu!" "Dari mana kau tahu surat itu sudah dibuka sebelumnya, Jupiter?" tanya Ben. "Lihatlah," kata Jupe. Orang-orang berdesak-desakan dan memandangi lilin segel itu. "Kuasumsikan surat ini dari Mr. Hitchcock dan ia telah menyegelnya dengan lilin berwarna merah tua. Nah, jika lilin berwarna diletakkan di atas kertas, akan ada bekasnya," katanya menjelaskan. "Siapapun yang telah membuka surat ini telah menyegelnya kembali dengan lilin yang berbeda, warna merahnya lebih muda ... tidak sepenuhnya menutupi bekas lilin yang pertama dilekatkan Mr. Hitchcock." Stella Fitchhorn mengeluarkan saputangan putih dan membersihkan hidung. "Dan semua ini membuktikan apa?" ia mendengus dengan angkuh. "Sederhana saja, seseorang di rumah ini telah menemukan harta itu," jawab Jupiter. Wanita yang mirip burung itu meletakkan tangannya di leher dan merapatkan bibir. "Tapi, tapi, kami berhak ...," ia tergagap. Winston melangkah ke samping Patricia dan berdehem. "Madam, kalau saya boleh mengusulkan, paling tidak mari kita buka amplop itu dan lihat yang tertulis di dalamnya." Patricia ragu-ragu sejenak, melirik Keluarga Fitchhorn seolah-olah mereka adalah musuh yang berbahaya. Akhirnya ia menghela nafas dan mengangguk ke arah Jupiter. "Silakan, Jupe," katanya, "mari kita lihat apa yang dikatakan ayahku. Aku udah nyaris tidak tahan lagi akan teka-teki ini. Mari kita selesaikan secepatnya!" Jupiter mengangguk dan menyelipkan ibu jarinya di tepi segel lilin itu, membelahnya menjadi dua. Dengan hati-hati dikeluarkannya secarik naskah yang bagus dari dalam amplop. Kertas itu terlipat tiga kali. Ia meletakkannya di atas meja bilyar dan meratakannya. Mereka semua berdesak-desakan untuk membacanya. Surat itu berbunyi:

"???, Aku akan sangat heran jika bukan kalian yang membaca ini -- jika asumsiku benar, maka kalian pasti tahu bahwa surat ini telah disegel dengan lilin. Jika segel itu rusak atau surat ini tidak beramplop lagi, berarti seseorang telah mendahului kalian! Bagaimanapun juga kalian tidak kehilangan apa-apa! Karena jika kalian membaca ini, maka aku harus berkata ... 'ck, ck, ck!' Penafsiran kalian akan segala petunjuk itu tidak sesuai dengan reputasi kalian! Kalian tidak berpikir misteri ini akan sesederhana itu, bukan? Tentu saja kuharap tidak! Pelajari petunjuk-petunjuk itu lagi dan kali ini ... ingatlah dengan siapa kalian berurusan! A. J. H."

"Demi Tuhan!" kata Pete. "Sama sekali bukan harta yang kita cari!" "Karena itulah si pencuri menyegel kembali amplop ini," gumam Jupiter dengan serius. "Siapapun yang telah membuka surat ini tidak dapat memecahkan petunjuk terakhir ... dan membutuhkan kita untuk melakukannya!" Orang-orang di sekitar meja bilyar saling berpandangan seolah-olah mencurigai si pencuri ada di antara mereka saat itu juga. "Kita tunda pencarian sampai pagi," Jupiter memutuskan. "Besok pagi kita akan menelusuri kembali petunjuk dari mesin pemutar lagu dan melihat ke mana kita dibawanya." "Baiklah," Winston menguap, "dengan seizin Anda, madam, saya akan pergi tidur." "Tentu saja," kata Patricia. "Kita semua sebaiknya tidur. Hari yang panjang." "Dua kali lebih panjang untukku!" kata Pete. "Tidak setiap hari ada hantu mengurung kita di ruang bawah tanah!" "Apa?" seru yang lain serempak. "Oh ya," kata Pete malu-malu, "kita terlalu terpaku pada petunjuk dari piringan hitam itu sehingga aku lupa menceritakan kisahku."

"Katamu kau dikurung oleh hantu?" tanya Jupiter tidak percaya. "Aku tahu apa yang akan kau katakan," erang Pete, "kau akan berkata bahwa itu hanyalah khayalanku dan tidak ada yang namanya hantu dan aku tentu telah asal mengambil keputusan." Ia melanjutkan dengan menceritakan apa yang diingatnya sebelum ia ditinggal sendirian di dalam ruangan gelap tempat menyimpan anggur. "Aku tahu apa yang kulihat dan yang kulihat mengenakan gaun dan menggenggam tali bersimpul dan berpendar!" katanya mengakhiri. "Luar biasa," kata Winston. "Yah," timpal Timothy Fitchhorn datar, "khayalan yang luar biasa. Aku tidur sekarang!" Istrinya mengangguk dengan mengantuk. "Aku naik ke kamar juga. Kalian sebaiknya juga, Anak-anak." "Tidak ada yang mempercayaiku," gerutu Pete. "Aku percaya ada yang aneh di rumah ini," kata Patricia tidak enak. "Dan malam ini aku akan tidur dengan lampu menyala." "Aku akan tidur di lantai di kamar Bibi Patty jika dengan demikian Bibi akan merasa aman," Ben menawarkan. "Aku akan merasa jauh lebih aman," bibinya mengaku. Jupiter berusaha berpikir logis tentang hantu Pete. "Dalam situasi seperti itu, pikiranmu bisa mempermainkanmu," katanya menguliahi. "Mungkin saja kau hanya melihat apa yang diinginkan oleh pikiranmu." "Atau mungkin saja kau tidak mau mengakui bahwa benar-benar ada hantu di rumah ini!" Pete menyeringai ke arah temannya yang kelebihan berat badan itu. "Hantu atau bukan, kita harus berjaga sepanjang malam," kata Jupiter, menguap sambil menutupi mulutnya dengan telapak tangan. "Kita bergantian setiap tiga jam." "Biar aku duluan," kata Bob suka rela. "Sekarang ada dua hal yang ingin kulihat di Inggris ... Menara London dan hantu Pete!"

BAB XI JEJAK KAKI TUNGGAL

Keesokan harinya pagi-pagi benar Pete dan Bob terbangun oleh guncangan kuat Jupiter. "Ada apa ...?" gumam Pete setengah tertidur. "... masih ingin tidur, mom ...." "Pete!" Jupiter berbisik di telinganya. "Pete, Bob, bangun!" Bob menggeliat. "Jam berapa ini?" ia menguap, meraih kacamatanya dan melihat ke luar jendela. "Matahari pun belum terbit, Jupe." "Ada dua kejadian penting," Jupiter Jones berbisik dengan dramatis. "Kejadian apa?" tanya Pete. "Kau menemukan bahwa kau menderita insomnia?" "Salah satunya aku yakin telah memecahkan teka-teki dari piringan hitam itu," kata Jupiter, tidak menghiraukan sindiran Pete. "Dan yang satunya lagi?" tanya Bob. "Seseorang berkeliaran di lantai bawah! Kenakan sepatu kalian dan ikuti aku. Mungkin kita bisa menangkap hantu sebelum sarapan." "Tidak bisakah kita menunggu matahari terbit sebelum berburu hantu?" gerutu Pete. Anak-anak menyelinap diam-diam sepanjang koridor dan berjingkat-jingkat menuruni tangga. Ketika mereka berada separuh jalan, Jupiter bertiarap dan mengintip melalui sisi tangga. Dari tempatnya berada ia dapat melihat sesosok bayang-bayang mengendap-endap di ruangan lantai dasar yang besar. "Siapapun itu, ia sedang mencari sesuatu," desis Jupiter. "Kau tahu siapa dia?" tanya Bob. "Negatif -- bisa siapa saja. Kita akan mendekat untuk melihat lebih jelas." "Aku sudah khawatir kau akan berkata demikian," kata Pete. "Apakah sebaiknya kita bangunkan Ben?" tanya Bob. Jupiter menggeleng. "Biarkan dia tidur, seharian nanti ia akan sangat sibuk." Tanpa repot-repot menjelaskan, Jupiter berdiri dan meraih pegangan tangga. Trio Detektif bergerak menuruni tangga yang besar itu, berhati-hati agar tidak menimbulkan suara. Ketika mereka tiba di anak tangga paling bawah, Pete

tanpa sengaja menginjak papan yang longgar, menimbulkan bunyi seperti sebatang paku berkarat dicabut dari kayu. Pete menunduk dan menahan nafas. "Terlambat!" bisik Jupiter. "Mereka telah mendengarnya. Ayo!" Ketiga anak itu berlari menyerbu ke ruangan yang besar itu namun berhenti mendadak ketika mereka melihat ruangan itu kosong dan sunyi. Mereka menunggu suara yang mungkin memberi petunjuk tempat si penyelinap berada. Kemudian mereka mendengar sesuatu yang dikenali Pete. "Pintu menuju ke tempat menyimpan anggur," bisiknya. "Di dapur." "Kau yakin?" desak Bob. "Percayalah, Data, aku berharap takkan pernah mendengar bunyi itu lagi!" "Ke dapur!" Jupiter memberi aba-aba. Dengan Pete memimpin di depan, mereka bergegas menuju dapur dan melihat pintu ke ruang bawah tanah sedikit terbuka. "Kita telah memerangkap mereka di bawah sana," kata Jupiter senang. "Bob, ambil senter dan lilin dari lemari." Bob berlari ke lemari di bawah tempat cuci piring di dapur dan mengambil senter besar dan dua batang lilin. Ia bergegas menyalakan lilin-lilin itu dan memberikan sebatang kepada Pete. Bergerak berdekatan, mereka mulai menuruni tangga. "Tetap berdekatan," kata Jupiter. "Aku baru saja hendak mengatakan hal yang sama," gumam Pete melalui selasela giginya. Mengendap-endap seperti tikus, ketiga sahabat itu memeriksa rak-rak yang berdebu baris demi baris. Ketika mereka sampai di baris terakhir, Jupiter menunjuk tanpa bersuara ke arah pintu besar yang menuju ke ruangan tempat Pete terkurung sebelumnya dan menganggukkan kepala. "Di dalam situ," gumamnya. Pete dan Bob menelan ludah dan balas mengangguk. Dengan Jupiter di depan mereka mendekati pintu besi itu. Pete meraih sebuah botol anggur dari rak terdekat dan memberikannya kepada Bob. Kemudian ia mengambil satu lagi untuk dirinya sendiri. Ia merasa lebih enak dengan senjata di genggamannya, seandainya benar-benar ada makhluk seram penghisap darah di balik pintu.

Pada hitungan ketiga, Jupiter memberi isyarat. Tanpa bersuara ia menghitung dengan jari, ketika ia mencapai angka tiga, Penyelidik Pertama yang berat itu menggenggam pegangan pintu besi dan menariknya dengan sekuat tenaga. Sambil berteriak ketiga anak itu menuruni ketiga anak tangga dan menyerbu ke ruangan yang dingin dan lembab itu. Kosong. Jupiter menyorotkan senternya ke sekeliling ruangan kecil itu dengan tidak percaya. Rak-rak berdebu, penuh berisi barang bekas dan kotak dalam berbagai ukuran berbaris di dinding di sekeliling ruangan. Sepertinya si penyusup telah menghilang begitu saja. "Ia pasti ada di sini!" kata Jupiter keras kepala. "Cari pintu tersembunyi." Pete menggeleng. "Jika memang ada pintu rahasia di sini, Jupe, aku pasti telah menemukannya!" "Waktu itu gelap dan kau sedang dalam keadaan tertekan," kata Jupiter. "Tentulah sulit sekali bagi siapapun untuk melakukan pencarian yang seksama." "Biasanya selalu ada tuas atau gerendel untuk pintu semacam itu," kata Bob. "Cari sesuatu di rak-rak ini yang kelihatannya tidak pada tempatnya." Anak-anak mulai menariki benda-benda di atas rak-rak yang berdebu itu. Keberuntungan tidak beserta mereka sampai Bob tiba di sebuah rak kecil di sudut ruangan yang nampak agak berbeda. Rak-rak yang lain hampir menyentuh langit-langit yang rendah dan kira-kira satu setengah meter panjangnya. Namun rak yang satu ini hanya sekitar setengah meter. Bob berusaha mengangkat sebuah jambangan dari rak paling atas dan memekik tertahan. Jupiter Jones dengan segera berada di sebelah temannya. "Ada apa, Data?" "Ini dia!" seru Bob. "Lihat!" Remaja bertubuh kecil itu berusaha menarik sebuah kipas angin antik dari atas rak namun benda itu tidak bergerak. "Segala sesuatu di atas rak ini dipaku atau dilem!" "Cari suatu mekanisme pengunci," desak Jupiter. Tidak perlu waktu lama bagi Bob untuk menemukannya. Ketika sebuah kaleng kecil berisi mur dan baut diputar, suatu mekanisme di dalam dinding membuka suatu kunci dan seluruh rak itu terayun pada suatu engsel, terbuka seperti pintu.

Udara dingin dan lembab berhembus ke arah mereka sementara Jupe menyorotkan senternya ke lubang misterius itu. Suatu lorong sempit berdinding batu-batu berlumut menuju ke undak-undakan yang terbuat dari batu kali. "Dinding ini merupakan bagian dari fondasi," kata Jupiter. "Undak-undakan itu pastilah menuju keluar rumah. Dan lihatlah sarang laba-laba ini, ada yang mengusiknya. Si 'hantu' jelas telah menggunakan lorong ini untuk melarikan diri. Bob, tinggal di ruangan ini sampai aku berhasil membuka pintu keluar -jangan sampai kita terkurung di lorong lagi." Bob memandang ke belakang dengan gugup. Sebelumnya tidak terpikir olehnya bahwa hantu itu mungkin saja masih berada di suatu tempat di ruangan itu. "Jangan cemas, Data, sarang laba-laba ini telah rusak, jadi dia tentu telah melewati pintu ini," kata Jupiter menenangkan. Remaja gempal itu menaiki tangga sampai mencapai sebuah pintu kecil di langit-langit. Ia mendorong dengan bahunya sampai tingkap itu terbuka. Sekali lagi hembusan udara dingin menerpa Pete dan Bob. "Tingkap ini memang menuju keluar," lapor Jupiter. "Ayo, Teman-teman." Pete dan Bob bergegas menaiki tangga dan memandang berkeliling. Kabut dingin bergulung-gulung dan matahari baru saja mulai muncul, menandai awal hari yang baru. Bob mengamati tingkap yang berukuran satu kali satu meter di tanah itu dan melihat bahwa di atasnya telah dilekatkan sepetak tanah berumput sehingga tersamar dengan sempurna di antara rumput halaman. "Kita tidak akan tahu ada pintu rahasia di sini bahkan jika kita berdiri tepat di atasnya," katanya penuh kekaguman. "Kita ada di belakang rumah," bisik Pete. Ia menatap bangunan dari batu yang angker itu. Rumah itu menjulang di atas mereka -- seolah-olah mengancam akan menelan mereka. "Lihat ini," kata Jupiter, menunjuk ke tanah di dekat pintu rahasia. Pete dan Bob menatap tanah di dekat mereka dengan cermat. Tidak salah lagi, di atas rumput yang basah oleh embun terdapat sebuah jejak sepatu berukuran besar! "Tapi hanya ada satu!" kata Pete. "Mana yang lainnya?" Jupiter menyingkir dari atas tingkap dan meletakkan kakinya tepat di atas jejak sepatu itu. Jauh lebih besar daripada miliknya. Ia menyeimbangkan badan di atas satu kaki selama beberapa saat dan kemudian melompat ke samping, ke atas jalan batu sejauh beberapa langkah dari jejak itu.

"'Hantu' kita berdiri di atas satu kaki cukup lama untuk menutup tingkap," Jupiter menjelaskan. "Kemudian melompat ke jalan batu ini sehingga tidak meninggalkan lebih banyak jejak dari yang perlu. Tindakan seorang kriminal yang berpengalaman." Pete dan Bob keluar dari pintu rahasia itu dan menutupnya kembali. Mereka berdiri di jalan batu, menggigil di tengah udara pagi yang berkabut. "Ke mana jalan ini menuju?" tanya Pete. "Aku kemarin ada di belakang sini seharian," seru Bob, "aku tahu ke mana perginya! Pondok Abernathy!" "Mari," kata Jupiter tegas, "waktunya membangunkan Keluarga Abernathy!"

BAB XII RENCANA JUPITER


Trio Detektif mengikuti jalan batu yang menuju ke kediaman Abernathy namun sebelum mereka mencapai pintu depan, Jupiter berhenti mendadak. "Wah," katanya, "apa ini?" Remaja gempal itu menunduk dan memungut sepotong kain putih. "Saputangan!" kata Bob. Jupiter membolak-balik benda itu di tangannya dan mengamatinya dengan cermat. "Saputangan berinisial," katanya, menunjukkan benda itu untuk diamati Pete dan Bob. Dengan jelas mereka dapat melihat sulaman rapi membentuk huruf "S. F." "Stella Fitchhorn!" kata Pete menatapnya. Namun Jupiter menggeleng. "Jejak kaki itu terlalu besar," ia mengingatkan teman-temannya. "Kalian ingat, dia sangat mungil dan jejak kaki itu lebih besar daripada milikku." "Mr. Fitchhorn?" tanya Bob. Jupiter mencubiti bibir bawahnya dan terdiam sejenak. "Mungkin saja," hanya itu yang dikatakannya. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Penyelidik Pertama berpaling dengan mendadak dan berlari kecil menuju ke pintu belakang Puri

Hitchcock, meninggalkan Bob dan Pete yang saling berpandangan sambil terbengong-bengong. Ketika mereka akhirnya menemukannya di kamar atas, Jupiter sedang terburuburu memasang film ke kamera foto yang dibawanya di dalam koper. "Aku harus meminta Ben mengantarkanku ke London lagi hari ini," katanya. "Kau punya suatu rencana," tebak Bob. "Benar. Tapi tidak ada waktu untuk menjelaskan. Ikuti saja permainanku. Ben dan aku akan berangkat setelah sarapan. Mudah-mudahan kami akan sudah kembali sebelum malam tiba." Bob dan Pete telah terbiasa akan Jupiter Jones yang suka berahasia ketika mendapat ide atau rencana. Memang demikianlah cara kerja anak itu. Jupe sama sekali tidak suka jika terbukti salah akan apapun, maka seringkali ia menutup mulut hingga ia yakin benar. Orang lain yang tidak terlalu mengenalnya mungkin saja akan tersinggung dengan sikapnya itu. "Dan apa yang harus Bob dan aku lakukan sepanjang hari?" tanya Pete. "Biar kuberi tahu satu hal ini -- aku tidak akan mendekati ruang bawah tanah itu! Setahuku tempat itu adalah tempat berkumpulnya monster-monster London!" "Jangan jauh-jauh dari Patricia," perintah Jupiter. "Menurutku tidak akan terjadi apa-apa padanya namun lebih baik tidak mengambil resiko. Dan awasi Sepupu Jeb, Keluarga Fitchhorn, dan Abernathy. Saat ini mereka semua adalah tersangka!" Jupiter menutup bagian belakang kameranya dan memutar film sambil menuruni tangga. ***** Dapur bermandikan cahaya matahari dan penuh kesibukan. Patricia, yang mengenakan mantel kamar dan sandal, sedang menuangkan kopi untuk sepupunya Jebediah sementara Julia menyendokkan tumpukan telur ke atas piring Keluarga Fitchhorn. Winston memasuki ruangan sambil mengepit koran pagi. Ia membuka lipatan koran itu dan meletakkannya di hadapan Timothy Fitchhorn, kemudian berpaling ke arah anak-anak. "Selamat pagi, Tuan-tuan," katanya mengembangkan senyum. "Mau tidak mau saya mendengar kesibukan di depan pintu depan saya tadi pagi -- mudahmudahan semua beres?"

Bob dan Pete dengan cepat menyadari bahwa Penyelidik Pertama telah kembali berakting. Jupiter pernah menjadi seorang aktor ketika ia masih sangat kecil dalam sebuah acara televisi berjudul "Berandal Cilik" dan ia memerankan seorang tokoh yang dikenal dengan julukan "Baby Fatso." Ketika itu ia adalah seorang aktor yang berbakat dan hingga kini ia masih bisa berakting dengan bagus -- jika ia mau. Ketika memasuki dapur, ia membiarkan bahunya menggantung dan wajahnya menatap kosong, secara efektif memberi kesan bahwa ia adalah seorang anak yang terbelakang. Jupiter memandang kepala pelayan itu dengan tatapan bodoh. "Oh, maaf jika kami membangunkanmu," ia menguap, duduk di meja makan. "Kami kira hantu itu lagi namun ternyata hanya Pete yang berjalan dalam tidurnya." "Huh?" kata Pete. Namun sebelum ia dapat berkata apa-apa lagi, Penyelidik Kedua yang langsing itu merasa pergelangan kakinya ditendang dengan keras oleh Jupiter di bawah meja. "Aduh! Oh, ya, kadang-kadang aku memang begitu," katanya malu-malu. "Wah," kata Jebediah, menyapu remah-remah dari kumisnya yang jarangjarang, "jangan terlalu yakin, Teman-teman. Molly Tua itu adalah hantu yang pintar." Ia menuding Jupiter dengan tongkatnya. "Kau tidak ingin berkeliaran di sekitar rumah setelah gelap -- kuperingatkan kau sekarang!" "Aku tidak tahu soal Pete," kata Patricia, "namun aku tidur seperti seekor beruang untuk pertama kalinya setelah berhari-hari!" "Ben," kata Jupiter sedih, "sekarang semua itu tidak ada artinya lagi. Sepertinya kami telah datang jauh-jauh tanpa guna. Kita tidak dapat memecahkan sandi terakhir dari mesin pemutar lagu itu. Kurasa sekarang kita melihat-lihat saja dan mengambil beberapa gambar. Sayang sekali Bob tidak enak badan dan tidak dapat ikut dengan kita." Giliran Bob yang menerima tendangan di bawah meja. Ia berdehem dan berusaha nampak sakit. "Oh, ya. Pasti akibat udara dingin ini," ia terbatuk. "Sepertinya aku harus tinggal di sini." Patricia nampak cemas. "Sebaiknya kau beristirahat, Bob. Besok adalah hari terakhirmu di sini dan kau tidak ingin sakit selama perjalanan pulang ke Amerika, sungguh tidak nyaman." Di seberang meja Timothy Fitchhorn menumpahkan kopinya di atas koran pagi. tersedak dan bergegas berdiri,

"Oh, sialan!" umpatnya. "Aku membuatnya berantakan. Winston, sekali ini saja buatlah dirimu berguna dan bantu aku membersihkan ini!"

"Tentu saja, sir," kata kepala pelayan itu dengan sabar. Pete dan Bob memandang pria gemuk dan kepala pelayan itu sambil tersenyum namun ketika Bob menoleh ke arah Jupiter, ia melihat temannya itu menatap dengan serius. Jupe berpaling ke arahnya dan bergegas mengalihkan pandangan, mengangguk ke arah koran. Bob mengerti dengan segera dan diamdiam balas mengangguk. "Kurasa aku lebih baik beristirahat sekarang," kata remaja bertubuh kecil itu, berdiri dari kursinya dan menepuk bahu Pete. "Kau sungguh baik, Pete, suka rela menemani aku." "Tentu saja," jawab Pete, sedikit kebingungan. "Hanya itu yang bisa kulakukan, Sahabatku." Kedua penyelidik itu permisi dari meja makan dan menuju ke lantai atas. Sementara itu Jupiter telah menyiapkan kameranya yang dilengkapi dengan lampu kilat. Ia dengan cepat mengambil gambar Winston dan Timothy Fitchhorn, yang terlalu sibuk membersihkan meja dan tidak menyadarinya. Selanjutnya ia berpaling ke arah Patricia dan mengambil gambarnya. Wanita itu mengangkat tangan menutupi wajahnya dan tertawa. "Jupiter Jones! Aku bahkan belum sempat berdandan!" "Tidak apa-apa," kata remaja itu tersenyum, memutar film. "Saya hanya perlu menghabiskan sisa film ini sehingga nanti saya bisa memasang yang baru ketika berjalan-jalan dengan Ben." Ia berpaling dan mengambil gambar Ben, yang menampilkan wajah kocak. "Bagus sekali!" seru Jupiter. Ia memutar film dan mengambil gambar Sepupu Jebediah dan Stella Fitchhorn. Mrs. Fitchhorn nampak terkejut dan Jebediah menatap marah. "Aku tidak suka difoto, Nak!" gerutunya. "Maaf, sir," kata Jupiter, berdiri dari kursinya. "Nah, Ben, sebaiknya kita pergi sekarang jika kita ingin melihat semua yang sudah kurencanakan. Kurasa kita mulai dengan Big Ben, lalu menuju ke Menara London. Aku juga ingin melihat kediaman Arthur Conan Doyle bila waktu mengizinkan." Sambil berjalan di koridor ia terus-menerus mengoceh, seolah-olah benar-benar bersemangat akan perjalanan wisata ini. "Ingat, Anak-anak," kata Patricia, "kalian harus mengenakan sabuk pengaman!"

"Tentu, Bibi Patty," kata Ben sambil mengenakan jaketnya. Ia tidak sempat berkata apa-apa lagi karena Jupiter telah berada di luar dan melompat masuk ke Silver Cloud yang berkilauan. "Wah, mengapa terburu-buru sekali?" tanyanya. "Banyak waktu untuk melihat semuanya." "Kita bukan pergi berwisata," kata Jupiter menjelaskan. "Itu hanyalah alasan untuk pergi dari rumah." Ia mengangkat kameranya dan mengambil gambar Ben sekali lagi. "Inilah alasan yang sebenarnya. Kita harus mencuci film ini dan mencetaknya ... secepatnya!"

BAB XIII BERITA DI HALAMAN MUKA


Ketika mereka telah menutup pintu kamar, Bob berpaling dengan cepat ke arah Pete. "Kita harus mendapatkan koran itu!" serunya. Pete menatap temannya seolah-olah ia telah kehilangan kelereng. "Ada apa sih?" tanyanya. "Itu hanyalah koran. Ayahmu seorang reporter ternama untuk salah satu koran terbesar di California. Ia bisa memberimu koran apapun di dunia!" "Bukan untuk kenang-kenangan," Bob menjelaskan dengan sabar. "Timothy Fitchhorn melihat sesuatu di halaman depan yang membuatnya panik. Itulah sebabnya ia menumpahkan kopi ke atasnya. Supaya ia dapat menghancurkannya sebelum kita dapat melihat sesuatu itu!" "Wah!" seru Pete. "Kau mengetahui semua ini dari secangkur kopi yang tumpah? Kau mulai berubah menjadi seorang Jupiter Jones ... dan dunia ini tidak butuh hal itu!" "Jupe melihatnya lebih dahulu," Bob mengakui, "namun sudah jelas ada sesuatu dalam koran itu ... dan kita harus mencari tahu apa itu!" Pete duduk di atas ranjangnya. "Tapi bagaimana? Kau kan harus berada di sini sepanjang hari, beristirahat di tempat tidur, ingat?" Bob menggeleng dan menyeringai. "Aku memang seharusnya sakit dan berada di sini sepanjang hari. Kau, sebaliknya, benar-benar sehat!" Penyelidik berwajah serius itu membuka kunci jendela dan mendorongnya terbuka. Pete pergi ke sampingnya di jendela dan menelan ludah. Tidak kurang dari delapan meter menuju ke tanah di bawah.

Pete menatap Bob tanpa ekspresi. "Ada ide cemerlang lainnya, Anak Pintar?" Bob mengamati dinding batu di luar jendela yang ditutupi tanaman merambat dan mengerutkan kening. "Tadinya aku berharap ada semacam pipa air yang bisa kau panjat." Ia berpikir sejenak dan menjentikkan jarinya. "Seprai!" Pete mencibir. "Aku mengharapkan sesuatu yang sedikit lebih kokoh." "Mau tidak mau. Ayo, mari mulai menyambung seprai-seprai ini." Dua puluh menit kemudian mereka telah membuat semacam tali panjang dari tiga buah seprai. Bob mengikat salah satu ujungnya ke tiang tempat tidur yang terdekat dengan jendela dan kemudian melemparkan ujung lainnya keluar. "Turun kau!" senyumnya. "Sepertinya kau terlalu menikmati penyakitmu itu," gerutu Pete. "Di mana aku bisa mendapatkan surat kabar begitu aku tiba di bawah?" "Coba tetangga terdekat. Ikuti saja jalan setapak yang kita lewati waktu itu ... jalan itu memotong hutan dan berakhir di tanah tetangga tidak terlalu jauh dari sini." "Dan apa yang akan kau lakukan sementara aku pergi?" tanya Pete. Bob melemparkan tubuhnya ke atas ranjang dan meletakkan tangan di bawah kepalanya yang berambut pirang. Senyuman lebar menghiasi wajahnya. "Istirahat adalah obat yang paling manjur!" Pete menghela nafas dan melangkah melewati ambang jendela. "Aku akan kembali satu jam lagi," katanya dan mulai memanjat turun melalui jalinan seprai. Dalam perjalanan turun Pete melewati sebuah jendela di perpustakaan. Berhati-hati agar tidak terlihat, ia berhenti sejenak untuk mengintip, menudungi matanya dengan tangan. Di balik kaca jendela yang berwarna-warni itu ia dapat melihat seseorang mengendap-endap di balik bayang-bayang ruangan yang penuh buku itu! Pete menyipitkan matanya, berusaha melihat dengan lebih baik ketika tiba-tiba ia merasa talinya tersentak! Ia mendongak cepat namun terlambat. Hanya cukup waktu bagi Pete untuk melihat bahwa salah satu simpul terlepas sebelum ia terjatuh setinggi tiga meter yang tersisa. Ia menahan teriakannya dan bersiap-siap menghadapi benturan!

Remaja atletis itu mendarat sambil menggeram, seprai itu jatuh menutupi kepalanya sementara ia duduk. Merasa kesal, Pete bergegas menggulung seprai itu dan menyembunyikannya di semak-semak terdekat. Kemudian, berhati-hati agar tidak terlihat, ia berlari melintasi halaman menuju ke hutan. Ketika ia mencapai perlindungan di balik pepohonan, Pete berhenti lagi. Kali ini ia melihat bahwa Jebediah O'Connell sekali lagi berada di kebun, menusuknusuk tanah dengan tongkatnya secara mencurigakan. Apa yang dicarinya, pikir Pete. Paling tidak sekarang ia tahu bukan Sepupu Jeb yang berkeliaran di perpustakaan! Pete berusaha menyatukan potongan-potongan teka-teki itu di benaknya sementara ia berlari melintasi hutan. Ia gembira Jupe mempunyai sebuah rencana karena ia sendiri tidak dapat berbuat apa-apa dengan petunjuk yang membingungkan dan para tersangka yang ada dalam kasus ini! Beberapa menit kemudian Pete Crenshaw yang kehabisan nafas melihat rumah tetangga terdekat. Ia berhenti sejenak untuk memulihkan nafas dan kemudian berjalan melewati jalur yang menuju ke pintu depan. Setelah mengetuk dengan kuat, remaja jangkung itu menunggu dan menunggu. Setelah beberapa menit Pete mulai tidak sabar. Tidak ada orangkah? Ia mengetuk lagi, lebih kuat kali ini. Ia berharap susah payahnya datang ke sini tidak sia-sia. Akhirnya pintu lambat-lambat dibuka oleh seorang wanita tua bertongkat. "Ada yang bisa kubantu, Anak Muda?" "Selamat pagi, ma'am," kata Pete. "Saya adalah tamu tetangga sebelah Anda, Mrs. Hitchcock O'Connell ... saya ...." "Ah," wanita tua itu tersenyum bangga, "orang-orang baik, Keluarga Hitchcock." Ia menarik nafas dan nampak sedih. "Sungguh menyedihkan. Kami telah bertetangga selama tiga puluh tahun. Ia selalu berkata bahwa rumah itu berhantu, kau tahu. Tapi kami tidak pernah mempercayai hal-hal semacam itu. Kurasa ia hanya ingin menakut-nakuti kami. Bayangkan! Alfred Hitchcock berusaha menakut-nakuti tetangganya!" Wanita tua itu terkekeh. "Jelas aku akan kehilangan mereka. Aku ingat suatu kali ...." Pete berdehem. Jelas wanita ini kesepian di dalam rumahnya yang besar dan sungguh gembira menemukan seseorang untuk diajak berbicara. Pete berharap ia dapat tinggal dan berbincang-bincang lebih banyak mengenai Mr. Hitchcock namun ia merasa harus cepat kembali. "Maaf, ma'am ... tapi saya ... oh ...."

"Ya," wanita itu tersenyum, kerutan-kerutan dalam di wajahnya bermunculan. "Kalian para remaja selalu terburu-buru. Selalu saja ada petualangan. Aku masih ingat ketika aku muda, kau tahu. Baiklah, apa yang bisa kubantu?" Pete menjelaskan masalah surat kabar yang tertumpahi kopi dan bertanya kalau mereka dapat meminjam edisi London Times milik wanita itu, sekiranya ia telah selesai membacanya. "Tentu saja, tentu saja," kata wanita itu. "Biar kuambilkan. Sebentar saja." Pete menunggu dengan sabar di depan pintu. Ia mulai bertanya-tanya, berapa lama 'sebentar saja' itu karena sepertinya wanita itu telah pergi selama berabad-abad. Ia mulai berpikir bahwa wanita tua itu takkan kembali ketika akhirnya ia mendengar suara langkah kaki terseret kembali ke pintu depan. "Ini dia, Anak Muda." "Terima kasih, ma'am," kata Pete sopan. "Terima kasih banyak." Wanita tua itu tersenyum hangat ke arah Pete, matanya berbinar-binar. "Oh, tidak apa-apa. Tolong sampaikan salam untuk Patricia dari Miss Ashley." Pete berjanji menyampaikannya dan berbalik. Ia sudah hendak berkata selamat tinggal kepada wanita tua yang ramah itu ketika suatu ide muncul di benaknya dan ia kembali berpaling. "Maaf, Miss Ashley ... bolehkah saya bertanya?" "Dengan senang hati," jawab wanita itu riang. "Apa yang ingin kau ketahui, Nak?" "Saya bertanya-tanya ...," Pete berhenti, memikirkan cara yang tepat untuk menyampaikan pertanyaannya. "Saya bertanya-tanya, selama Anda mengenal Keluarga Hitchcock, pernahkah mereka menyebut-nyebut seorang saudara bernama Jebediah? Kemungkinan seorang sepupu dari Patricia." Wanita tua itu berpikir sejenak dan kemudian menggelengkan kepala. "Seingatku tidak," katanya. "Hitch dan istrinya Alma sering membicarakan keluarga mereka -- keluarga bagi mereka sangatlah penting, kau tahu. Selalu ada sanak saudara yang datang bertamu ketika mereka tinggal di sini selama musim panas. Aku yakin aku pasti akan ingat jika pernah mendengar seorang sepupu bernama Jebediah. Nama yang unik." Pete berterima kasih atas informasi dan surat kabar itu dan berpaling untuk pergi.

"Jangan lupa menyampaikan salam untuk Patricia," kata wanita itu dari belakangnya. Pete berjanji dan berlari kecil kembali ke arah hutan dengan koran itu di bawah lengannya. Ketika ia tiba kembali di Puri Hitchcok, ia melihat bahwa Jebediah masih berkeliaran di halaman, mencari-cari sesuatu dengan tongkatnya. Pete mengingat-ingat hal itu sementara ia mengambil seprai dari semak-semak dan berseru pelan ke atas, memanggil Bob. Kepala Bob muncul dari jendela kamar. Pete menunjukkan seprai di tangannya, lalu memberi isyarat dengan tangannya agar Bob membuat simpul-simpul yang lebih erat kali ini. Ia melemparkan gulungan seprai itu ke atas ke tangan Bob yang menunggu dan menunggu dengan gelisah di balik semak. Ketika Bob melemparkan tali seprai itu kembali ke bawah, Pete menyelipkan surat kabar itu ke celananya dan mulai memanjat. Ia berhenti lagi di jendela perpustakaan namun kali ini suasana di dalam ruangan luas itu nampak tenang. Ia meneruskan memanjat sampai ke atas dan kemudian menarik seprai itu. "Jebediah ada di kebun mencari-cari sesuatu sepanjang hari," lapor Pete. "Dan wanita yang memberiku koran ini berkata ia tidak pernah mendengar ada seorang saudara bernama Jebediah! Aku juga melihat seseorang mengendapendap di perpustakaan!" "Mari kita lihat koran itu!" kata Bob bersemangat. "Wah!" seru Pete. "Aku lupa sama sekali tentang halaman muka!" Dengan cepat ia mengambil koran itu dan membukanya di atas ranjang. Mata mereka berdua terbelalak ketika mereka melihat foto yang terpampang di halaman muka. Di bawah berita berjudul "Penipuan Besar-Besaran" terdapat sebuah foto buram yang diambil dari sebuah kamera pengawas, menampilkan dua orang yang sedang meninggalkan bank. Yang satu adalah seorang pria gemuk. Yang lainnya adalah seorang wanita kurus pendek. Kualitas foto itu buruk namun kemiripan yang nampak tak mungkin salah lagi! "Keluarga Fitchhorn!" seru mereka berdua serempak. Di bawah foto kabur itu terdapat keterangan singkat. Bunyinya:

"PENIPUAN BESAR-BESARAN" "Dua penipu yang telah dikenal terlihat meninggalkan sebuah bank di Liverpool minggu lalu. Pasangan itu, dengan alias Thomas dan Shirley Fidgewick, dicari

sehubungan dengan beberapa kasus penipuan dan pencucian uang. Berita ada di Halaman 6 ...."

"Tunggu sampai Jupe melihatnya!" seru Pete. "Kita beri tahu saat ia pulang nanti bahwa kita telah menyelesaikan misteri ini tanpanya!" Bob tersenyum lebar. "Wah, aku tidak sabar untuk melihat wajahnya! Ia pasti akan sangat terkejut ketika kita beri tahu bahwa kita telah mengetahui bahwa Keluarga Fitchhorn-lah yang selama ini mendahului kita!" "Waduh," kata Pete, menggelengkan kepala dengan ragu, "jika merekalah yang ada di balik semua ini, siapa yang berperan sebagai hantu? Lelaki itu terlalu besar dan yang wanita terlalu kecil. Kecuali ... kecuali kalau hantu itu memang benar-benar ada!" "Kurasa kau tahu pasti apa yang akan dikatakan Jupe mengenai hal itu, Dua!" Bob tertawa. Sementara menunggu kedatangan Jupiter, Pete turun ke lantai dasar beberapa kali untuk mengecek keadaan Patricia dan memastikan wanita itu tidak diganggu oleh Keluarga Fitchhorn. Kedua anak itu membanggakan keberhasilan mereka hingga pukul lima ketika mereka turun untuk makan malam. Bob menyatakan bahwa ia masih merasa kurang enak badan dan akan membawa makanannya kembali ke kamar. Pete, yang ingin mengawasi Keluarga Fitchhorn yang licik, memutuskan untuk berada di dekat Patricia selama sisa malam itu. Guruh mengguncang rumah besar itu dan awan badai muncul bergulung-gulung ketika hari mulai gelap. Pete dan Patricia sedang duduk di depan pesawat televisi di ruang keluarga ketika lampu berkedip-kedip. "Kuharap anak-anak itu pulang segera," wanita itu berkata dengan suara cemas. "Aku tidak suka mereka bermobil di tengah hujan. Ben sangat bertanggung jawab namun kecelakaan bisa saja terjadi." "Jangan khawatir," kata Pete menenangkan. "Mereka Ben dan Jupe, mereka akan baik-baik saja." Patricia tersenyum ke arah Pete sementara hujan mulai tercurah, menghantam kaca-kaca jendela yang tinggi. Pete baru saja hendak melemparkan sebatang lagi balok kayu ke perapian ketika ia berhenti mendadak ... bulu kuduknya berdiri tegak. Sebuah jeritan yang panjang dan melengking membelah malam!

BAB XIV MENUJU KEDUTAAN BESAR


Ketika Ben dan Jupiter meninggalkan Puri Hitchcock dengan mobil Silver Cloud Ben, remaja yang lebih tua itu berasumsi mereka benar-benar akan melihatlihat pemandangan. Jupe dengan cepat menggeleng dan mulai mencari-cari peta di tempat menyimpan barang. "Kusangka kau telah menyerah terhadap kasus itu," kata Ben. Jupiter menyeringai ke arah pemuda jangkung itu sementara ia membuka peta London. "Sama sekali tidak!" Ben nampak bingung. "Kalau kita tidak akan melihat-lihat Gedung Parlemen, lalu ke mana kita pergi?" Penyelidik gempal itu mengacungkan kameranya. "Pertama-tama kita harus mencuci cetak film di dalam kamera ini. Lalu kita pergi ke Kedutaan Besar Amerika," katanya, "dan secepat-cepatnya tanpa melanggar peraturan!" Dengan Jupiter berperan sebagai penunjuk jalan, Ben dengan ahli mengemudikan mobil lincah itu melalui jalan-jalan London yang sibuk. Satu jam setelah meninggalkan rumah Ben menghentikan Silver Cloud itu di depan bangunan besar berwarna putih, Kedutaan Besar Amerika. Jupiter melihat sebuah toko kecil di seberang jalan dengan tanda "Foto Satu Jam." "Ada toko foto di seberang jalan. Temui aku di sana setelah kau memarkir mobil!" Sementara Ben mencari tempat parkir, Jupiter berlari menyeberangi jalan London yang ramai menuju ke toko kecil itu. Ternyata mereka hanya perlu menunggu selama sekitar empat puluh lima menit sebelum foto-foto besar berukuran 20 kali 25 cm itu siap. Jupiter memasukkannya ke dalam sebuah amplop besar dan kedua anak itu bergegas keluar. Pilar-pilar raksasa dan bendera Amerika berukuran besar menandai jalan masuk ke gedung kedutaan yang mengagumkan itu. "Mari," kata Jupe, "kita tidak boleh membuang-buang waktu!" Remaja berbadan besar itu berlari menaiki tangga menuju pintu masuk. Ben berada tepat di belakangnya. Ketika kedua anak itu sampai di pintu depan, mereka dihentikan oleh seorang petugas bersenjata yang meminta mereka menunjukkan paspor. Jupiter, yang pernah pergi ke luar negeri sebelumnya, sudah mengantisipasi hal ini dan menyiapkan paspornya. Ia mengeluarkan buku kecil birunya dan menunjukkannya kepada sang penjaga. Kemudian ia menjelaskan bahwa Ben adalah warganegara Inggris. Ben diminta menunjukkan SIM-nya untuk membuktikan. Ketika kedua remaja itu diperbolehkan masuk, mereka harus mengulangi proses yang sama dengan paspor Jupiter lagi di meja penerima

tamu. Kemudian mereka diminta berjalan melalui semacam ambang pintu yang aneh, yang berbunyi dan berdengung sementara mereka lewat. "Tolong keluarkan semua benda logam dari saku kalian," kata seorang wanita berwajah tegas yang mengenakan seragam militer. "Juga arloji dan perhiasan." Kedua anak itu melakukan yang disuruh dan mereka akhirnya diperbolehkan masuk. Sementara mereka mengenakan kembali arloji di pergelangan tangan masing-masing, Ben menggeleng bingung. Ia harus mengakui bahwa ia sama sekali tidak tahu apa-apa. "Aku yakin kau punya rencana, Jupiter," katanya, "namun aku sama sekali tidak punya gambaran mengenainya!" "Tidak ada waktu untuk menjelaskan," kata detektif tembam itu, "kita harus mencari delegasi Amerika Serikat yang dapat menolong kita!" Mereka memandang berkeliling ruangan kedutaan yang besar dan berdinding marmer itu. Akhirnya Ben berseru. "Itu dia! Di pojok sebelah sana!" Jupiter mengikuti pandangan Ben ke sebuah tanda yang bertuliskan "Urusan Internasional." Kedua anak itu bergegas menuju ruangan itu dan masuk. Begitu berada di dalam kantor Urusan Internasional, mereka disambut oleh seorang pria berwajah serius yang mengenakan jas dan dasi dan duduk di belakang meja. Papan namanya terbaca "Agen R. Arthur - Amerika Serikat / Perserikatan Bangsa-Bangsa." Ia menatap kedua anak itu seolah-olah mereka baru saja berbuat suatu kenakalan. "Ada yang bisa kubantu, Anak-anak?" tanyanya curiga. Jupiter menegakkan tubuh dan mendongakkan dagu. Dengan suara yang jelas dan berwibawa yang membuatnya nampak lebih tua, ia berkata kepada Agen R. Arthur. Ben menatap akting Jupiter dengan kagum. "Tentu saja saya harap ada yang bisa Anda bantu," kata Jupe tegas. "Saya perlu bertemu seorang delegasi dari negara Varania. Masalah darurat!" Petugas berpakaian rapi itu mengangkat alisnya. "Varania? Aku tidak pernah mendengarnya. Kau yakin maksudmu bukan Bavaria?" "Sangat yakin," tukas Jupier. Agen R. Arthur mengangkat bahu. "Baiklah, Nak. Kalau itu maumu." Dengan ibu jarinya ia menelusuri suatu indeks tebal dan membalik-balik halamannya. Setelah beberapa saat akhirnya ia bergumam. "Ya ampun," katanya, "benarbenar ada yang namanya Varania. Pasti sebuah negara kecil!" Petugas itu mengangkat salah satu telepon di mejanya dan berkata singkat. Setelah lama berdiam diri akhirnya ia meletakkan gagang telepon.

"Baiklah, Nak. Seorang delegasi dari Varania akan turun ke lobi sekitar sepuluh menit lagi. Kuharap ini bukan sebuah permainan!" "Saya jamin ini bukanlah sebuah permainan," kata Jupiter tenang. "Terima kasih, sir." Kedua anak itu meninggalkan kantor Urusan Internasional dan duduk menunggu di sebuah bangku. Ketika sepuluh menit telah berlalu, mereka didekati oleh seorang pria berkulit gelap yang mengenakan jas coklat tanpa cela. Di kerahnya ia mengenakan sebuah pin berbentuk bendera Varania dan sebuah lencana berbentuk seekor laba-laba perak. Ia membungkuk ke arah anak-anak sebagai salam dan kemudian berkata dengan aksen Varania yang kental. "Aku Duke Antony. Kalian anak-anak yang ingin menemui seorang delegasi dari Varania?" Jupiter dan Ben balas membungkuk dan kemudian Jupe berdehem. "Saya mengharapkan bantuan Pangeran Djaro dari Varania atas suatu masalah yang sangat penting!" Yang dimaksud Jupiter adalah putra mahkota Varania, yang telah berteman dengan Trio Detektif dalam Misteri Laba-Laba Perak berbulan-bulan yang lalu. Dalam kasus itu mereka telah membantu mengembalikan lambang negara yang telah dicuri -- kalung laba-laba perak -- dan menolong Pangeran Djaro mengatasi usaha kudeta menggulingkan tahtanya. Duke Antony tersenyum hangat namun kemudian menggelengkan kepala. "Maaf, aku tidak bisa begitu saja menghubungi Pangeran dan berkata bahwa ada dua orang anak yang ingin bermain James Bond," katanya dengan sabar. "Tidak, tidak. Tidak bisa begitu. Sekarang kuucapkan selamat jalan." Delegasi Varania itu berpaling untuk pergi namun Jupiter belum lagi selesai. "Maaf, sir," katanya berwibawa, "namun seandainya Anda mau berbaik hati untuk menghubungi Pangeran bahwa Jupiter Jones ingin bicara ... salah satu dari tiga anak Amerika yang membantu menemukan Laba-Laba Perak dan membunyikan lonceng kebesaran Pangeran Paul beberapa bulan yang lalu ... saya positif beliau akan mau berbicara dengan saya." Pria berkulit gelap itu ragu-ragu, kemudian berpaling kembali, nampak bimbang. "Kau adalah anak Amerika yang menolong Pangeran Djaro menyelamatkan Kerajaan?" tanyanya tak percaya. "Saya salah satunya," jawab Jupiter. "Kalau tidak, bagaimana saya bisa tahu bahwa lonceng itu dibunyikan untuk memanggil bala bantuan bagi sang

Pangeran? Masalah itu tidak pernah dipublikasikan atas dasar kepentingan nasional." Duke Antony menyipitkan matanya dan menggigit bibir. Jelas ia tidak ingin mengganggu Pangeran. Akhirnya ia mengangguk. "Ikuti aku," katanya. "Akan kuhubungkan kalian dengan saluran langsung ke Istana." Ben menyeringai ke arah Jupe. Anak gempal itu benar-benar bisa nampak penting jika ia mau! Mereka mengikuti delegasi Varania itu menaiki tangga demi tangga dan akhirnya ke sebuah kantor kecil yang penuh sesak di ujung gedung kedutaan. Ruangan kecil itu tidak cukup untuk tiga orang, maka Ben menunggu di koridor sementara Duke Antony menghubungkan Jupiter. Di dalam kantor Jupiter melihat map-map yang nampak resmi tertumpuk tinggi di atas lemari arsip yang sudah ketinggalan zaman. Peta-peta menutupi dinding dan sebuah bendera besar bergambar seekor laba-laba tergantung di atas pintu. Di antara benda-benda di atas meja Duke terdapat dua pesawat telepon. Satu hitam, yang lain merah. Delegasi itu mengangkat yang merah dan menekan sebuah tombol di bagian depan. Setelah menunggu sejenak, Duke Antony mengatakan sesuatu dan kemudian memberikan gagang telepon kepada Jupiter. ***** Sementara Ben menunggu Jupiter menelepon, ia menghabiskan waktu dengan berusaha mengenali semua bendera negara-negara yang mewakili perwakilan di Kedubes Amerika Serikat, masing-masing tergantung di balkon lantai dua. Setelah hampir tiga puluh menit, Jupiter keluar dari kantor itu. Ia tersenyum lebar. Duke Antony keluar setelahnya, memegang amplop manila Jupe yang berisi foto-foto. Ia mengunci pintu kantor dan kemudian berpaling ke arah Jupiter. "Aku akan memproses foto-foto ini secepatnya," katanya penuh hormat. "Dan aku minta maaf setulus-tulusnya karena telah bersikap kasar terhadap seorang anggota kehormatan Ordo Laba-laba Perak." "Tidak apa-apa," jawab Jupiter. "Berapa lama sampai kita bisa menemukan sesuatu tentang foto-foto itu?" Duke Antony berpikir sejenak. "Perkiraanku prosesnya akan makan waktu dua, mungkin tiga jam. Bisa diterima?" "Ya," jawab Jupiter.

"Jika demikian silakan ikuti aku," kata Duke, memimpin mereka menuruni tangga. Ketika mereka sampai di sebuah pintu bertuliskan "INTERPOL", Duke meminta mereka menunggu di luar. "Dua atau tiga jam," janjinya, kemudian masuk ke ruangan. Jupiter dan Ben duduk di sebuah bangku dan bersiap-siap untuk menunggu lama. "Ada apa?" tanya Ben. "Apa itu 'Interpol'? Dan bagaimana caranya kau kenal dengan putra mahkota Varania?" Jupiter menjelaskan kepada Ben bagaimana Trio Detektif telah bertemu dengan Pangeran Djaro di California dan kejadian-kejadian seru yang terjadi kemudian. "Ketika aku bicara dengan Pangeran tadi, aku minta tolong agar ia meminta Duke Antony memproses foto-foto itu melalui kantor Interpol di Kedubes Amerika." "Tapi apa itu Interpol?" tanya Ben. Jupiter menarik nafas dalam-dalam. "Interpol adalah singkatan dari 'International Criminal Police Organization' -- 'Organisasi Polisi Kriminal Internasional.' Didirikan di Austria pada tahun 1923 namun kemudian dipindahkan ke Prancis. Hampir semua negara ambil bagian -- Interpol adalah semacam kerja sama antar kepolisian berbagai negara. Kuambil gambar Keluarga Fitchhorn dan Jebediah dengan sengaja agar bisa diperiksa melalui basis data Interpol. Dengan demikian kita bisa tahu kalau mereka adalah penjahat yang dicari-cari." "Menakjubkan!" kata Ben kagum. "Sekarang kita hanya bisa menunggu," Jupiter mendesah. "Dan berharap harta itu masih di tempatnya ketika kita pulang nanti!"

BAB XV HANTU DATANG LAGI!


Pete menjatuhkan balok kayu yang hendak dilemparkannya ke perapian ketika suatu jeritan yang mengerikan membelah kesunyian di dalam rumah batu tua itu. "Seperti suara Julia!" seru Patricia. "Mari," kata Pete, melesat keluar melalui pintu. Ia berlari sepanjang koridor dan menyerbu masuk ke dapur, jantungnya berdebar kencang. Penyelidik Kedua memandang berkeliling ruangan, bersiap-siap melihat sang hantu lagi. Namun yang dilihatnya adalah Julia Abernathy terbaring pingsan di lantai dapur.

"Ya ampun!" serunya, berlari ke samping pelayan itu. Patricia bergegas masuk ke dapur dan mengangkat tangan menutupi mulutnya, terkejut. "Ia tidak apa-apa?" tanyanya, kehabisan nafas. "Sepertinya demikian," kata Pete. "Saya rasa ia pingsan." Pete mengangkat kaki pelayan itu ke atas sebuah balok injakan di dekatnya dan dengan lembut memijat pergelangan tangan wanita itu. Pelayan gemuk itu mengerang dan matanya terkejap-kejap. Bob masuk ke dalam ruangan dan ternganga terkejut melihat pelayan yang terlentang di lantai itu. "Ada apa?" serunya dengan mata terbelalak. "Aku mendengar jeritan!" Patricia menggeleng. "Aku tidak tahu, pasti ada sesuatu yang menakutkannya ... ia pingsan!" Begitu saja!" Bob menyadari bahwa Patricia berusaha agar tidak gemetar. Jelas wanita itu tidak menyukai perkembangan yang terjadi. "Sebaiknya Anda duduk, Patricia," katanya menenangkan. "Akan kubuatkan secangkir teh." "Terima kasih, Bob," kata wanita itu berterima kasih, duduk di meja dapur. Sekarang giliran Timothy dan Stella Fitchhorn masuk ke dapur, diikuti oleh Jebediah O'Connell, yang basah kuyup. "Kami mendengar jeritan," geram Mr. Fitchhorn. "Apa yang terjadi? Ada masalah?" "Oh, Julia terluka!" seru Jebediah, matanya terbelalak. Pria berkumis lebat itu berjalan terpincang-pincang ke sisi wanita itu. "Kau tidak apa-apa, Nyonya? Kau terluka?" Pete membantu wanita itu duduk. Pelayan itu mengejapkan mata beberapa kali, seolah-olah tidak sadar. "Oh," kata Julia Abernathy, "demi Tuhan, apa yang kulakukan di lantai seperti ini?" "Kau pingsan, Julia," kata Patricia menjelaskan. "Kau tidak apa-apa? Kau terluka?" "Saya merasa ada benjolan di belakang kepala saya namun tidak serius, madam," Pelayan itu mengusap-usap benjolan itu dengan jemarinya selama beberapa saat. Tiba-tiba ketakutan muncul di wajahnya dan ia berdiri.

"Saya ingat sekarang," serunya, menunjuk ke arah pintu menuju tempat menyimpan anggur dengan jari yang gemetar. "Di situ," katanya muram, "saya melihat hantu Molly Thibidoux di balik pintu ... benar-benar saya melihatnya dengan jelas! Saya hendak turun untuk mengambil toples acar ketika saya membuka dan ia ada di dasar tangga ... berpendar di kegelapan!" Bob dan Pete saling berpandangan dan kemudian menatap Patricia, yang hanya bisa duduk tanpa daya. "Sudah kuperingatkan kalian akan hantu itu!" seru Jebediah, mengayun-ayunkan tongkatnya seperti orang gila. "Kuperingatkan kalian namun tidak ada yang mendengarkan Si Tua Jeb! Kalian menganggapku gila! Sekarang Julia yang malang telah ditakutinya setengah mati!" Tukang kebun pincang itu sekonyong-konyong berpaling ke arah Keluarga Fitchhorn dan mendesis dengan suara mengancam. "Kalau kutemukan kalian terlibat dalam hal ini, akan kupukuli kepala kalian dengan tongkatku!" "Jebediah!" seru Patricia marah. "Mengejutkan!" jerit Stella. "Sungguh mengejutkan bahwa sanak saudara diperlakukan seperti ini!" "Hei, kau ...," geram Timothy Fitchhorn, mendekati Sepupu Jeb. "Hati-hati kau, tua bangka! Cukup sudah kudengar darimu malam ini!" Jebediah O'Connell mulai menggulung lengan bajunya, matanya menyipit. "Mungkin sebaiknya kita selesaikan masalah ini seperti laki-laki," ancamnya. Bob dan Pete memandang dengan takjub sementara Timothy Fitchhorn mengusap alisnya dengan saputangan. "Aku tidak takut padamu, kau ... kau orang Scot kurang ajar!" "Cukup sudah!" Semuanya terlompat ketika suatu suara dengan tegas berseru dari pintu dapur. "Tidak akan ada perkelahian di rumah ini!" "Winston!" Julia terisak, berlari mendapatkan suaminya. "Hantu itu ... ada di sini! Kulihat dengan mata kepalaku sendiri di tangga menuju ruang bawah tanah! Ia mengenakan gaun tua dan mengacungkan tali berjerat ke arahku dan wajahnya berpendar seperti sang Maut!" Sementara kepala pelayan itu merangkul istrinya yang ketakutan, Bob mengamati bahwa Winston juga basah kehujanan. Mungkin karena ia harus

berlari dari pondok kediaman pelayan ke rumah utama, tebak penyelidik bertubuh kecil itu. Kilat dan guruh menyambar di luar, menyebabkan lampu-lampu rumah berkedip-kedip lagi. Julia menjerit dan membenamkan mukanya di bahu Winston. "Tenang, tenang," kata pria itu dengan lembut, merangkul bahu istrinya. Winston berbicara kepada istrinya dengan suara pelan. "Kau sungguh terkejut, Sayang. Biar kubawa kau kembali ke pondok sehingga kau dapat berbaring. Akan kusiapkan es untuk mengompres benjolan di kepalamu itu." "Oh, terima kasih, Sayang," bisik Julia. "Jika Anda mengizinkan, saya terpaksa meninggalkan makan malam, Nyonya," kata Julia kepada Patricia. "Saya rasa saya tidak akan dapat memasak apapun malam ini." Patricia berkata, "Tentu saja," dengan suara lembut. "Biar kuurus segalanya, Julia. Kau beristirahat saja sejenak." Sementara Winston memapah Julia keluar dari ruangan, Jebediah O'Connell melemparkan pandangan marah untuk terakhir kalinya ke arah Timothy Fitchhorn dan bergegas keluar. Fitchhorn menatap anak-anak dengan kesal, kemudian menegakkan kerah mantelnya dan keluar ruangan, diikuti oleh istrinya. "Aku tidak tahu kalau aku bisa bertahan dengan semua ini," erang Patricia, menutupi mukanya dengan tangan. "Kurasa aku tidak akan dapat tinggal sebulan lagi di sini hingga rumah ini terjual!" Pete menatap Bob dan menghela nafas. "Kurasa ini berarti kita harus kembali mencari hantu itu di bawah. Ayo ...." Pete menarik lengan Bob namun remaja yang lebih kecil itu tidak bergerak. "Hei," kata Pete, "ada apa denganmu, Data?" Bob terdiam selama beberapa saat, seperti tengah berpikir keras. Kemudian ia berkata pelan. "Kurasa mungkin saja kita telah salah tentang Keluarga Fitchhorn." "Ada apa dengan Keluarga Fitchhorn?" tanya Patricia. "Apa maksudmu, Bob?" Bob menunjukkan halaman muka koran yang sejak tadi dipegangnya. Patricia tersentak ketika melihat foto buram Keluarga Fitchhorn meninggalkan bank. "Penjahat!" katanya geram. "Penipu yang berusaha mengambil uang ayahku! Mereka tidak akan mendapatkan satu sen pun! Tidak satu pun!" Wanita itu

membenamkan wajahnya ke dalam telapak tangannya dan mulai terisak. Bob meletakkan tangan di bahu wanita itu untuk menenangkan. "Apa maksudmu, kita mungkin saja salah tentang Keluarga Fitchhorn?" tuntut Pete, menunjuk ke arah surat kabar. "Semuanya tercetak hitam di atas putih di sana!" Namun sebelum Bob sempat menjelaskan, mereka mendengar pintu depan tertutup. Beberapa saat kemudian Jupiter dan Ben masuk ke dapur, basah kuyup dan bertelanjang kaki! "Apa yang terjadi?" seru Patricia dengan suara cemas. "Kalian tidak apa-apa, Anak-anak?" "Kami baik-baik saja, Bibi Patty," Ben tersenyum. "Bahkan kami lebih baik dari sekedar baik-baik saja! Jupiter telah menemukan siapa hantu kita itu!" Pete meloncat bangkit dengan senyuman lebar di wajahnya. "Namun tidak sebelum Bob dan aku menemukannya!" katanya penuh kepuasan. "Tebak apa yang kami temukan mengenai Keluarga Fitchhorn!" "Sebentar ... jangan beri tahu aku!" kata Jupe dramatis. Ia mencubiti bibir bawahnya seolah-olah berkonsentrasi sepenuhnya. "Tunggu ... aku melihatnya! Sebentar ... dapat!" serunya. "Timothy dan Stella Fitchhorn adalah sepasang suami-istri penipu yang telah membohongi orang-orang di seluruh Eropa!" Pete dan Bob saling berpandangan dengan takjub, mulut mereka ternganga. "Bagaimana kau tahu?" seru Pete kagum. Kemudian ia merasa mengerti. "Kalian pasti telah menemukan surat kabar yang lain!" Jupiter menyeringai ke arah Penyelidik Kedua dan menepuk bahunya. "Kujamin bahwa aku tidak menemukan surat kabar lain, Pete," ia tertawa, mengeluarkan sebuah amplop yang sedikit basah dari balik kemejanya. "Dan itu tadi juga bukan pembacaan pikiran!" "Itulah alasan kami pergi ke London," kata Ben menjelaskan. "Jupiter memegang kunci kasus ini di dalam amplop itu!"

BAB XVI BOB MENUDUH


"Keluarga Fitchhorn adalah sang hantu?" seru Patricia. "Atau orang lain lagi?"

Jupiter menggeleng. "Saya belum punya bukti nyata ... namun saya rasa saya bisa mendapatkannya!" "Bagaimana, Jupe?" tanya Pete. Jupiter meraih sebuah apel dari keranjang buah di atas meja dapur dan menggigitnya seperti orang kelaparan. Ia tersenyum lebar dan menerangkan sambil mengunyah. "Dengan cara mengumpulkan semua orang di rumah ini di perpustakaan, sehingga kita dapat mengungkap 'hantu' ini!" katanya dengan dramatis. "Data, Dua ... beri tahu semua orang agar berkumpul di perpustakaan dalam waktu lima menit." "Paling tidak katakan padaku apa yang terjadi pada sepatu dan kaos kakimu," kata Patricia. "Penuh lumpur sehingga tidak dapat dipakai di dalam, Bibi Patty," jawab Ben. "Ketika Jupiter dan aku ada di jalan, kami melihat seseorang tersorot lampu mobilku, sedang mengendap-endap di sekitar kebun. Tentu saja kami turun dan mengejar ... Jupiter akan menceritakan lanjutannya di perpustakaan nanti." "Baiklah, Jupe," kata wanita itu, mengangkat tangan. "Silakan pimpin!" Dalam lima menit seluruh penghuni rumah kecuali Julia telah berkumpul di perpustakaan yang lembab. Jupiter berjalan mondar-mandir di depan jendela. Ia memegang amplop besar itu di satu tangan dan apel di tangan yang lain, sementara lampu-lampu berkedip setiap kali kilat menyambar di luar. "Winston, tolong ambilkan beberapa batang lilin," kata Patricia. "Siapa tahu lampu mati nanti." "Baiklah, madam," pria itu membungkuk. Kepala pelayan yang jangkung itu meninggalkan ruangan dan segera kembali dengan beberapa batang lilin. Ia meletakkannya di sekeliling perpustakaan dan menyalakannya dengan sekotak korek api. Patricia tersenyum, nampak sedikit tersipu. "Terima kasih, Winston. Rasanya aku tidak ingin berada dalam kegelapan pada malam seperti ini." "Tentu saja, madam," kepala pelayan itu menyetujuinya. Timothy Fitchhorn menuangkan brandy ke sebuah gelas kristal dan mendorong rambutnya. "Baiklah, Nak, kuharap ini hal yang penting," katanya tidak sabar. Lelaki gemuk itu meletakkan tangannya di atas dinding perapian dan menenggak habis minumannya.

"Ya," kata istrinya, membersihkan hidungnya dengan saputangan berenda, menimbulkan suara nyaring, "kami tidak dapat menonton acara televisi kesukaan kami!" "Ah," kata Jebediah, "seseorang harus berada di dekat Julia yang malang. Tidak baik meninggalkannya sendirian pada malam seperti ini." "Sebenarnya," kata Jupiter, "ia berada di tempat yang paling aman saat ini." Winston tengah memutar-mutar bola dunia besar di sudut ruangan tanpa tujuan. Ia sekonyong-konyong mengangkat wajah dan menatap Jupiter. "Apa maksud Anda, Anak Muda?" tukasnya. "Saya rasa Jebediah benar. Mungkin sebaiknya saat ini juga saya jemput istri saya." Jupiter berhenti mondar-mandir dan berdiri di tengah ruangan. "Sederhana saja, ia aman di pondok pelayan karena saat ini si 'hantu' ada di dalam ruangan ini juga!" Mereka semua memandang berkeliling, seolah-olah hantu Molly Thibidoux sedang menyelinap di belakang mereka, siap menjerat leher mereka dengan tali gantungannya yang dingin. Kilat dan guruh menyambar ... dan ketika lampu-lampu di perpustakaan berkedip-kedip, semua orang di dalam ruangan itu menahan nafas. Jupiter nampak paling ketakutan. Mendengar suara guruh, ia dengan kikuk menjatuhkan apel di tangannya. Apel itu jatuh ke lantai di depan Winston. "Maaf," katanya tersipu-sipu. Detektif yang kelebihan berat badan itu berlutut untuk mengambil apel itu dan tersenyum. "Sepertinya aku sedikit terkejut," katanya. "Apakah kau akan membuat kami penasaran sepanjang malam, Jupe?" kata Pete tidak sabar. "Di mana hantu itu?" "Baiklah, Dua," ia mengangguk. "Tapi marilah kita mulai dari awal sampai akhirnya kita sampai pada hantu itu, bagaimana?" "Lebih baik kau segera mulai," ancam Timothy Fitchhorn, "atau aku pergi!" "Sekali ini aku setuju dengan si tolol itu," tukas Jebediah. Jupiter tidak menghiraukan mereka dan menarik nafas dalam-dalam. "Hal pertama yang perlu kita bicarakan adalah petunjuk terakhir dari piringan hitam itu ... 'Harta Tersembunyi.' Jika kalian ingat, bait kedua berbunyi: 'Waktu telah berhenti tanpamu, aku seperti Adam tanpa Hawa, aku akan terus mencari di dunia ini, hingga aku telah menguburkan kesedihanku.'"

"Surat Mr. Hitchcock mengatakan bahwa kita telah salah tentang maknanya," ingat Bob. "Namun pagi ini kau berkata bahwa kau telah tahu arti yang sebenarnya," tambah Pete. Jupiter menyeringai ke arah rekan-rekannya. "Memang ... dan demikian juga halnya dengan seseorang lain! Kalau kita perlakukan masing-masing baris sebagai teka-teki tersendiri, jawabannya menjadi jelas. 'Waktu telah berhenti tanpamu' telah membuat kita mengambil kesimpulan yang salah ketika itu. Jelas itu menunjukkan sebuah alat penunjuk waktu namun kita terlalu terburuburu. Baris-baris selanjutnya memberi tahu kita alat apa yang harus kita cari!" "Nah, yang mana itu?" kata Stella Fitchhorn penuh semangat. Wajah Jupiter menampakkan kemenangan. "Cukup sederhana," katanya. "Baris kedua memberi tahu kita! 'Aku seperti Adam tanpa Hawa.' Nah, menurut Kitab Kejadian -- buku pertama dalam Alkitab -- di mana Adam dan Hawa tinggal?" "Aku tahu!" seru Pete. "Taman Firdaus!" "Tepat sekali," kata Jupiter. "Jika baris pertama maksudnya 'alat penunjuk waktu,' kita dapat mengambil kesimpulan bahwa yang kedua maksudnya 'kebun.'" Patricia nampak bingung. "Tapi alat penunjuk waktu macam apa yang mungkin ada di kebun?" tanyanya. "Sebuah jam akan rusak di sana." "Sebuah jam yang sebenarnya jelas akan rusak," kata Jupiter setuju. "Tapi sebuah jam marmer tidak akan!" Tiba-tiba mata Jebediah berbinar-binar. "Ya ampun, kurasa aku tahu apa yang dimaksud si gendut ini ... maksud Mr. Hitchcock adalah jam matahari di kebun! Itu adalah sebuah alat penunjuk waktu dan tidak lagi berfungsi. Batang logam yang menghasilkan bayang-bayang patah beberapa tahun yang lalu. Itulah yang dimaksud dengan 'waktu telah berhenti tanpamu'!" Keluarga Fitchhorn dan Jebediah berlari menuju jendela dengan kaca berwarna yang menghadap ke kebun. Pete, Bob, dan Patricia berkerumun di belakang mereka. "Terlalu gelap untuk melihat apa-apa," kata Pete, menaungi matanya dengan kedua tangan. "Kita harus keluar." Jupiter tersenyum kepada Ben dan menggeleng. "Sama sekali tidak perlu," katanya. "Seseorang telah berhasil memecahkan kedua baris terakhir bait itu.

Setelah kita mengetahui polanya, cukup sederhana. 'Aku akan terus mencari di dunia ini, hingga aku telah menguburkan kesedihanku' maksudnya 'cari sesuatu yang terkubur.'" "Dan seseorang telah melakukannya!" seru Ben Hitchcock. Lampu-lampu di perpustakaan berkedip lagi ... padam sedikit lebih lama kali ini. "Tapi siapa?" tanya Patricia. Jupiter Jones berdiri di tengah-tengah perpustakaan nampak seangkuh seekor merak. Ia menegakkan badannya sepenuhnya. "Seseorang yang tahu setiap jengkal rumah ini. Orang yang sama yang tidak pernah kelihatan ketika sang 'hantu' muncul," katanya. "Keluarga Fitchhorn!" seru Patricia. "Merekalah yang berusaha menakut-nakuti kita sehingga mereka dapat menemukan harta itu!" Timothy Fitchhorn maju selangkah. "Jaga mulutmu, Nyonya," geramnya. "Aku tidak bisa digertak begitu saja!" Wajah Stella Fitchhorn merah padam. "Beraninya kau berkata demikian kepada sanak saudara!" jeritnya. "Kami tahu kalian bukan saudara!" kata Pete panas. "Kami melihat koran itu!" Timothy Fitchhorn tidak dapat berkata-kata. Ia mengusap butiran-butiran keringat di alisnya dengan saputangan dan tergagap. "Aku ... aku tidak tahu apa yang kau katakan. Koran ... koran apa?" Bob melemparkan surat kabar itu ke atas meja kopi sehingga semua dapat mengamatinya. "Koran yang Anda tumpahi kopi sehingga kami tidak sempat melihatnya. Koran yang mengatakan bahwa Anda dan istri Anda adalah penipu yang telah membodohi orang-orang di seluruh Eropa!" "Itu ... itu bisa jadi siapa saja!" kata Stella Fitchhorn dengan gugup. "Siapapun!" Timothy Fitchhorn menatap istrinya dengan marah. "Sudah kukatakan biar aku yang bicara!" Dengan tenang ia merapikan jaketnya dan mengusap rambutnya yang berminyak. "Foto itu tidak membuktikan apa-apa. Kami tidak melakukan kejahatan apapun di sini ... dan yang pasti kami tidak menyamar sebagai hantu. Ide apa itu? Apa yang bisa didapat dengan menyamar sebagai hantu?" Pete maju selangkah. "Untuk menakut-nakuti kami sehingga meninggalkan rumah," tuduhnya, "sehingga kalian dapat mencari harta itu tanpa ada yang tahu! Sayang sekali kalian tidak memperhitungkan bahwa Trio Detektif tidak

semudah itu ditakut-takuti." Ia memandang Bob dan Jupiter dan tersenyum kecut. "Paling tidak dua dari tiga." Kilat menyambar lagi, kali ini sangat dekat. Lampu-lampu berkedip dan butiran hujan menghantam kaca jendela dengan brutal. Jupiter bersuara. "Mr. Fitchhorn benar," katanya tenang. "Bukan mereka yang menyamar sebagai hantu." Semua berpaling ke arah Jupiter. "Apa?" seru Patricia. "Jika hantu itu bukanlah mereka ... lantas siapa?" Sekonyong-konyong Bob berdiri dan berdehem. "Bolehkah aku menebak, Jupe?" Jupiter, nampak agak terkejut, mengangguk dengan enggan. Remaja gempal itu sudah jelas suka menjadi pusat perhatian namun ia merasa perlu memberi Bob kesempatan yang adil jika memang ia tahu jawabannya. Pete menggaruk-garuk kepalanya dengan bingung. "Mengapa hanya aku yang tidak tahu apa yang tengah terjadi di sini?" Bob tersenyum dan menuding. "Hantu itu tak lain dan tak bukan adalah sang kepala pelayan ... Winston!"

BAB XVII JANGAN BERGERAK!


Kepala pelayan jangkung berkebangsaan Inggris itu duduk tegak seolah-olah baru saja disengat lebah. "Apa maksudnya ini?" serunya. "Benar-benar suatu penghinaan! Ide bahwa saya bersekongkol untuk merugikan majikan saya sendiri benar-benar konyol!" Patricia menatap Jupiter dengan takjub. "Aku terpaksa setuju dengan Winston," katanya tajam, "ini pastilah suatu kesalahan!" "Aku sudah tahu dia pasti punya maksud tidak baik," ejek Jebediah, mendekati kepala pelayan itu dengan tongkat di tangan. "Sejak semula aku tidak percaya padamu. Memanfaatkan Julia yang malang seperti itu!" Winston Abernathy memberi Jupiter tatapan yang mematikan. "Sebaiknya Anda jelaskan, Anak Muda. Sementara itu saya akan menyusun surat pengunduran diri saya," katanya, menatap Patricia. "Saya belum pernah dihina seperti ini seumur hidup!"

Dengan tenang Jupiter membuka amplop besar yang selama ini dipegangnya dan mengeluarkan dua foto berukuran 20 kali 25 cm -- satu menggambarkan Stella Fitchhorn dan Jebediah O'Connell, yang lainnya Timothy Fitchhorn dan Winston. Ia melemparkannya ke atas meja kopi. Kilat menyambar sementara semuanya menatap foto-foto itu. Lampu berkedip kembali dan angin melolong dan meraung di luar jendela. "Ben dan aku pergi ke London dan meminta foto-foto ini dicocokkan dengan basis data Interpol di Kedubes Amerika Serikat. Kuakui bahwa tadinya niatku yang sebenarnya adalah memeriksa latar belakang Keluarga Fitchhorn dan Mr. O'Connell. Kuduga mereka penjahat namun foto Mr. Fitchhorn dan Winston-lah yang benar-benar berharga! "Ketika aku mengambil gambar Mr. Fitchhorn, Winston sedang berlutut di sampingnya, membantu membersihkan kopi yang ditumpahkan Fitchhorn untuk menyembunyikan foto di surat kabar. Ketika Interpol memeriksa foto-foto itu, mereka tidak hanya melihat latar belakang Keluarga Fitchhorn dan Jebediah namun juga Winston Abernathy. Dan yang mereka temukan benar-benar mengejutkan! "Saya khawatir kepala pelayan Anda telah sukses berkarir dengan menikahi wanita-wanita pelayan seperti Julia sehingga ia mendapatkan akses ke rumahrumah orang-orang terkaya di Eropa. Ia dicari di Belanda, Irlandia, Prancis, dan banyak lagi negara lain atas penipuan yang sama. "Kurasa bisa disimpulkan," tambah Jupiter, "bahwa Winston dan Keluarga Fitchhorn saling mengenal ... namun bukannya saling membuka rahasia, menghilangkan kesempatan mereka mendapatkan harta itu, mereka memutuskan untuk tetap diam dan bekerja sama. Kuduga itulah sebabnya Winston meletakkan koran itu di depan Mr. Fitchhorn ... untuk memberi tahu bahwa polisi telah mencium jejaknya dan juga untuk mengamankan rahasianya sendiri. Karena jika Keluarga Fitchhorn tertangkap, pastilah mereka akan membuka rahasia Winston juga!" Patricia nampak muram. Ia mendesak kepala pelayan itu. "Benarkah ini, Winston? Kau berencana untuk merampok kami?" "Sama sekali tidak!" seru kepala pelayan itu. "Seandainya memang demikian pun, anak-anak jahat ini sama sekali tidak punya bukti! Bagaimana kau hendak membuktikan tuduhan tak berdasar ini, Anak Muda?" Penyelidik Pertama yang gempal itu menyilangkan lengannya dan mengangkat bahu, seolah-olah jawabannya sejelas hidung di mukanya. "Dengan mengamati sepatumu," katanya sambil lalu. Semua mata di ruangan itu menatap ke bawah ke sepatu kepala pelayan itu.

Sepatu itu penuh lumpur! "Saya berlari dari pondok ketika mendengar Julia menjerit," katanya menjelaskan. "Semua orang tahu bahwa di luar hujan." "Tapi ada jalan batu dari pondok menuju pintu belakang," balas Jupiter. "Dan yang lebih penting, ketika Ben dan aku berada di jalan masuk di dalam mobil, kami melihat seseorang di kebun tersorot lampu mobil ... tepat di tempat jam matahari itu berada!" "Itulah sebabnya Jupe dan Ben harus membuka sepatu dan kaos kaki mereka!" seru Bob. "Benar sekali," kata Jupiter. "Ben dan aku mengejar ke dalam kebun yang penuh lumpur tapi tanpa senter terlalu gelap untuk melihat apa-apa. Bagaimanapun, kilat memberi sedikit penerangan untuk melihat bahwa jam matahari itu telah terguling dan sesuatu yang besar dan bulat telah diambil dari bawah tanah! "Kau berhati-hati agar tetap berada di atas jalan batu, sehingga tidak meninggalkan jejak kaki menuju ke pintu pondokmu. Malam ini hujan dan jejak kaki hanya akan bertahan sebentar saja namun kami berada tepat di belakangmu. Kau tidak mungkin tahu bahwa kami tidak punya senter, sehingga kau tidak mau mengambil resiko bahwa kami akan dapat mengikuti jejak kaki yang berlumpur ke pintu pondok. Tepat kebalikan yang terjadi pagi sebelumnya ketika kau berusaha tetap berada di rumput yang berembun. "Kuakui bahwa aku masih belum yakin siapa yang menjadi hantu ketika Ben dan aku masuk. Terutama karena aku melihat bahwa baik pakaian Jebediah maupun Winston basah. Lalu aku ingat bahwa Jebediah sering kali berjalan-jalan di bawah hujan -- tapi tidak pernah melewati kebun yang berlumpur! Yang pertama kulakukan ketika melihatnya adalah memeriksa sepatunya. Sepatu Sepupu Jeb basah namun tidak berlumpur." Jebediah menganggukkan kepala. "Benar," katanya, "angin meniup payungku sehingga membuka terbalik. Aku basah kuyup sampai ke tulang saat kudengar jeritan Julia yang malang dan aku pun lari ke dalam!" Jupiter mengangguk dan melanjutkan. "Ketika kita semua berkumpul di sini, kuputuskan untuk 'secara tidak sengaja' menjatuhkan sesuatu ke dekat Winston sehingga aku dapat memeriksa sepatunya. Ketika kulihat penuh lumpur, aku tahu bahwa aku telah menemukan orang yang tepat -- atau 'hantu' yang tepat." Winston nampak sangat marah. "Itu tetap saja tidak membuktikan apa-apa!" cibirnya. "Seluruh cerita Anda didasarkan pada bukti-bukti lemah dan kebetulan belaka!"

Sekarang Bob yang bersuara. "Jika memang Jupe salah, bagaimana kau tahu bahwa kepala Julia telah terbentur ketika ia pingsan di dapur?" Winston tergagap. "Oh ... oh ... jangan membuat-buat! Saya ada di sana ketika itu! Semua melihat saya!" Bob menggeleng. "Tidak, kau tidak ada di sana. Kudengar Julia menjerit ketika aku ada di lantai atas. Ketika aku berlari masuk ke dapur, Pete ada di sampingnya dan Patricia berdiri di dekat meja." "Benar!" kata Pete. "Aku ingat sekarang! Keluarga Fitchhorn dan Sepupu Jeb berlari masuk tepat setelah Bob. Namun Winston tidak ada sampai setelah Julia berkata kepalanya terbentur!" "Kau tahu," tuduh Bob, "karena kau saat itu sedang berdiri di bawah tangga ruang bawah tanah! Mungkin sedang menanggalkan kostum hantu." Jupiter mendesak kepala pelayan itu. "Semua potongan teka-teki mulai menyatu sekarang. Kau berhasil memecahkan teka-teki piringan hitam itu -tapi terlambat! Kau tahu Ben dan aku akan kembali sewaktu-waktu, maka kau harus beraksi dengan cepat! Kau mengalihkan perhatian dengan berdandan sebagai hantu dan menakut-nakuti istrimu sendiri. Ketika semua orang datang, kau mencopot kostum dan berlari keluar melalui jalan keluar rahasia di ruangan di balik bilik bawah tanah. Setelah itu kau berjalan secara tidak langsung menuju jam matahari di kebun. Dan kau hampir saja berhasil kalau saja Ben dan aku tidak kembali tepat pada saat kau sedang mengeluarkan kotak itu dari dalam tanah!" Jupiter menatap kepala pelayan itu dengan masam. "Ya, kau baru saja hendak melarikan diri ketika Ben dan aku masuk ke halaman dan lampu mobil menyorotmu. Kau ketakutan -- namun hanya sesaat! Kau tidak mungkin punya waktu untuk menyembunyikan harta itu dengan baik. Aku yakin jika kita menggeledah pondok Abernathy, kita akan menemukan apapun yang tadinya terkubur di bawah jam matahari itu. Dan mungkin sekali gaun, rambut palsu, dan tali jerat juga!" Kemarahan merambati wajah kepala pelayan jangkung itu. "Berandal cilik kurang ajar! Cukup sudah kudengar celotehanmu!" Sekonyong-konyong kepala pelayan itu telah menggenggam sepucuk pistol kecil di tangannya. Ia mengacungkannya dengan putus asa. "Jangan bergerak!" teriaknya serak. "Winston!" seru Patricia terkejut. "Teganya kau!"

"Lebih mudah dari yang Anda pikir!" ejek kepala pelayan itu. "Yang paling sukar adalah mencari muka dan menelan segala ocehan dan keluhanmu setahun ini sementara aku mencari tahu lokasi semua lemari besi di rumah ini! Pekerjaan ini terbukti lebih rumit dari yang kebanyakan -- namun bagaimana mungkin aku melewatkan sebuah tantangan dari Alfred Hitchcock?" Ia mengacungkan pistolnya dengan gerakan mengancam dan mengangguk ke arah pintu. "Semua keluar!" perintahnya. "Aku mau semua orang masuk ke bilik!" "Timothy, lakukan sesuatu!" jerit Stella Fitchhorn histeris. "Ia hendak kabur dengan harta karun itu!" "Diam kau!" tukas Fitchhorn. "Kau ingin kita ditembak?" "Lakukan perintahnya," kata Jupiter dengan berani. Penyelidik Pertama mengangkat tangan ke atas kepala dan berjalan lambat-lambat menuju pintu. Ia segera diikuti oleh Bob dan Pete, yang menatap pemimpin mereka dengan heran. Bukan watak Jupiter Jones untuk menyerah dengan begitu mudah. "Kau akan mendapatkan balasan atas apa yang kau lakukan terhadap Julia!" kutuk Jebediah. "Biarpun aku harus mencari ke seluruh penjuru Eropa, akan kulacak dan kutemukan kau!" "Masuk ke bilik," perintah Winston. "Tidak ada gunanya mengancam seorang pria yang bersenjata!" Dilambaikannya pistolnya lagi. "Jika ada yang berbuat aneh-aneh, akan kulubangi dia!" Mereka berbaris tanpa perlawanan sepanjang koridor, masuk ke dapur yang terang. "Buka pintu, Sherlock!" geram Winston kepada Jupiter, menunjuk ke arah pintu yang menuju ruang bawah tanah. Jupiter melakukan yang disuruh. "Sekarang turuni tangga itu -- semuanya! Jangan macam-macam atau kutembak!" Para tawanan itu perlahan-lahan menuruni anak-anak tangga menuju ke bilik bawah tanah yang mencekam. "Sekarang copot bola lampu itu dan lemparkan ke arahku!" perintah si kepala pelayan.

Sekali lagi Jupiter melakukan yang disuruh. Ia mencopot satu-satunya bola lampu dan melemparkannya ke tangan Winston yang telah teracung. Winston Abernathy membiarkan bola lampu itu jatuh di tangga batu, pecah menjadi ratusan kepingan. "Tidak usah bersusah payah mencoba jalan rahasia itu," tawanya, "sudah kukunci dari luar. Kalian akan senang mendengar bahwa aku telah memberi Julia obat tidur yang kuat, sehingga ia tidak akan bangun sampai besok siang paling tidak!" Dan kepala pelayan jangkung itu pun membanting pintu bilik hingga tertutup! Mereka terperangkap -- diselimuti kegelapan ruang bawah tanah yang mencekam!

BAB XVIII HANTU MOLLY THIBIDOUX


Stella Fitchhorn mengeluarkan suatu jeritan melengking ketika pintu ruang bawah tanah itu dibanting tertutup, lalu mulai terisak dengan histeris. "Aku tidak tahan berada di dalam kegelapan!" isaknya. "Aku claustrophobic -fobia akan ruangan tertutup! Timothy, kau harus mengeluarkanku dari sini sekarang!" "Oh, diamlah!" tukas suaminya. Trio Detektif mendengar lelaki gemuk itu menaiki undakan, pecahan kaca berderik terinjak kakinya. Pria itu membenturkan bahunya ke pintu. Pintu itu tetap terkunci, tidak bergerak sedikit pun. Setelah mencoba beberapa kali, ia menyerah. "Digerendel dari luar. Pintu itu tidak akan bergerak sampai Julia membuka kuncinya besok," katanya terengah-engah. Lalu ia berbicara kepada Jupiter. "Kalau kau punya ide cemerlang, Jones, sekaranglah waktu yang tepat." Dengan aneh Jupiter tetap diam. Dari suatu tempat di kegelapan Pete bersuara, "Hei, mungkin sebaiknya kita berusaha menemukan pintu rahasia di bilik belakang. Mungkin Winston hanya menggertak bahwa pintu itu terkunci." "Pintu rahasia katamu?" kata Jebediah. "Tidak mengejutkan, di rumah ini. Jika kita tetap bersama-sama dan menyusuri rak-rak ini, kita bisa menemukannya tanpa banyak kesulitan." "Sepertinya gagasan yang bagus," kata Patricia. "Semakin cepat kita keluar dari ruangan ini, semakin baik. Apa pendapatmu, Jupiter? Jupiter?"

"Hei, Jupe," kata Bob gelisah. "Kau masih ada di sini?" "Sssttt!" desis Jupiter dari puncak anak tangga. "Dengar!" Mereka berkerumun di dekat pintu tebal di atas tangga dan menajamkan telinga. Selama beberapa saat tidak terdengar suara apapun. Kemudian mereka mendengar benturan dan langkah kaki teredam. "Seseorang berkeliaran di atas sana!" bisik Ben. "Pastilah Winston," desis Bob. "Mengapa ia perlu waktu begitu lama untuk melarikan diri?" "Mungkin ia belum menemukan harta itu sebenarnya," tebak Patricia. "Mungkin ia sedang memeriksa rumah sekali lagi." Di dalam kegelapan mereka saling merapatkan diri di undak-undakan. Mereka menahan nafas, mendengarkan dengan seksama, berusaha menangkap suara sang penyelinap. Sekonyong-konyong suatu jeritan menyeramkan membuat bulu kuduk mereka meremang, diikuti dengan keheningan. "Ya ampun!" Pete berteriak tertahan. "Itu suara Winston!" "Hantu itu ... hantu si tua Molly Thibidoux menangkapnya!" bisik Jebediah penuh kemenangan. "Balasan setimpal bagi si penjahat itu atas perbuatannya terhadap Julia yang malang." "Aku mendengar sesuatu yang lain," kata Ben tiba-tiba. "Langkah-langkah kaki itu lagi! Dan menuju ke sini!" Sekonyong-konyong timbul desakan dalam kegelapan yang mencekam untuk menjauh dari pintu. Pete berada paling depan. "Aku sudah melihat hantu itu sekali," Penyelidik Kedua berseru cemas. "Dan itu sudah terlalu banyak!" Ia mulai meraba-raba untuk menuruni tangga namun Jupiter menahan lengannya. "Tunggu, Dua. Biarlah 'hantu' kita membukakan pintu untuk kita!" "Apa?!" semuanya berteriak serempak. Namun Jupiter tetap berdiri tenang di puncak tangga.

"Ini bukan waktunya main-main, Jupiter! kata Patricia dengan suara gemetar. "Siapapun yang ada di atas sana mungkin saja sudah putus asa. Bahkan berbahaya!" "Saya rasa tidak," kata Jupiter. "Bahkan, saya yakin ia adalah hantu yang baik." "Bagaimana kau tahu, Jupe?" tanya Bob. Namun Jupiter tetap berdiam diri dengan misterius. "Aku benar-benar berharap kau tahu apa yang kau lakukan, Pertama," kata Pete cemas. Mereka mendengarkan sekali lagi. Langkah-langkah kaki berhenti tepat di depan pintu bilik. Kini hantu Molly Thibidoux, pelayan yang menggantung diri di pohon willow di hutan lebih dari seratus tahun yang lalu, membuka gerendel pada pintu berat itu. Dengan deritan panjang yang membuat darah Pete serasa membeku, pintu itu terbuka perlahan-lahan. Mereka berdiri di tangga dengan mata terbelalak sementara pintu terayun membuka. Patricia menarik nafas dan memejamkan mata ketika ia melihat wajah penyelamat mereka yang berpendar. Stella Fitchhorn mengerang dan jatuh pingsan ke dalam pelukan suaminya. "Hantu ... hantu itu benar-benar ada!" Ben dan Bob tergagap. Mulut Jebediah O'Connell terbuka dan terkatup seolah-olah digerakkan dengan seutas benang. "Demi petir ...," hanya itu yang bisa dikatakannya. Nampaknya memang demikian! Di atas tangga berdiri sesosok wanita yang mengenakan gaun Victoria -- menggenggam tali gantungan! "Tidak!" seru Pete, berusaha menjauh dari hantu itu. Namun Jupiter dengan keras kepala tetap menggenggam lengan temannya itu. Tiba-tiba secercah cahaya menyinari wajah sang hantu. Molly Thibidoux punya senter! Lebih mengejutkan lagi, gadis itu berkumis! "Tepat pada waktunya, Duke Antony," senyum Jupe. 'Hantu' itu melepaskan rambut palsu dari kepalanya dan menyeka cat muka yang berpendar dengan sehelai saputangan. Duke membalas senyuman Jupiter. "Ordo Laba-laba Perak selalu siap membantu teman-teman Pangeran Djaro!"

"Laba-laba Perak?" teriak Pete. "Pangeran Djaro?" timpal Bob. "Apa yang terjadi, Pertama?" "Mari kita keluar dari ruangan ini dan melihat harta Mr. Hitchcock," kata Jupiter, matanya berbinar-binar penuh semangat. "Lalu akan kujelaskan semuanya." Pada saat itu semua lampu di rumah itu kembali menyala. Mereka harus menutupi mata beberapa saat dari cahaya yang menyilaukan. "Ah," kata Duke Antony. "Sepertinya listrik telah menyala kembali. Sambaran kilat mematikannya pada saat aku menjalankan rencanamu, Jupiter. Karena itulah terjadi sedikit kelambatan. Menurutku, hal itu pastilah membuat peran hantuku jauh lebih meyakinkan. Aku tidak yakin Winston telah melihatku ketika ia mulai menjerit ... namun pasti demikianlah adanya. Bagaimanapun, kurasa selama berbulan-bulan Winston Abernathy takkan bisa tidur tanpa lampu!" Sementara mereka dengan lega menaiki undak-undakan untuk keluar dari ruang penyimpan anggur, Duke Antony meletakkan tangan di atas bahu Timothy Fitchhorn yang lebar. "Tidak secepat itu," katanya. "Apa maksudnya ini?" geram Fitchhorn. "Tarik tanganmu sekarang juga atau aku akan mengajukan tuntutan! Ini penyerangan dan pelecehan!" Duke Antony menggelengkan kepala dengan serius. "Sebaliknya," katanya dengan suara seorang diplomat, "atas nama Pangeran Djaro, putra mahkota Varania, saya nyatakan Anda dan istri Anda ditahan." Stella Fitchhorn membelalakkan mata dan memandang berkeliling dengan bingung. "Pangeran Siapa?" katanya. "Varania?" Timothy Fitchhorn mencibir. "Kau tidak punya wewenang apa-apa di sini! Ini Inggris kalau kau tidak tahu, bodoh!" "Saya yakinkan Anda bahwa saya punya wewenang," Duke menjelaskan dengan tenang. "Seandainya pun tidak, bapak-bapak ini jelas punya!" Mata Keluarga Fitchhorn terbelalak ketika beberapa orang polisi Inggris masuk ke dalam ruangan dan mengepung mereka. Dua orang petugas dengan cepat memasangkan borgol ke tangan Keluarga Fitchhorn dan menggiring mereka keluar.

Sementara Trio Detektif menyaksikan drama yang berlangsung atas Keluarga Fitchhorn, Jupiter melihat bahwa Winston dijaga oleh seorang petugas polisi. Sehelai selimut wol menutupi bahu kepala pelayan jahat itu dan ia gemetar tanpa sadar -- menggumamkan sesuatu tentang hantu dengan tali berjerat yang muncul dari bayang-bayang. Wajahnya yang tirus dan mirip elang nampak pucat pasi mengingat hal itu. Jupiter terkekeh dan menggelengkan kepala sementara ia memimpin orangorang menuju pintu belakang Puri Hitchcock. "Menurut perasaanku, Winston Abernathy takkan menyamar menjadi hantu untuk beberapa lama!" ***** Setelah urusan dengan para penjahat itu beres, Duke Antony bergabung dengan yang lain, berlari di bawah hujan menuju pondok kediaman Keluarga Abernathy. Hanya sebentar mereka harus mencari sebelum Ben menemukan sebuah wadah besi yang disembunyikan di bawah ranjang Winston. Wadah itu bundar dengan diameter sekitar 75 cm dan tinggi 30 cm, masih basah dan berlumpur. "Digembok," kata Ben. Jebediah sedang merawat Julia, menanggalkan sepatu wanita yang sedang tidur itu dan menaikkan selimut sampai ke dagunya. "Ada pemotong baut di tempatku menyimpan peralatan, yang kita lewati tadi," katanya. "Kau bisa memakainya untuk memotong gembok itu." Pete berlari keluar untuk mengambilnya dan kembali beberapa detik kemudian. Ia menyerahkan alat itu kepada Jupiter, yang dengan cepat memotong gembok. Mereka berkerumun penuh gairah sementara Jupiter membuka warisan Alfred Hitchcock itu. Namun ketika mereka melihatnya, kening mereka berkerut kebingungan. Benda itu bukanlah uang atau emas atau permata berkilauan atau bahkan harta karun perompak. "Rol film!" seru Bob. Bob benar. Di dalam wadah itu terdapat beberapa gulungan film untuk diputar di bioskop. Secarik kertas direkatkan di gulungan paling atas. Jupiter bergegas mengambil dan membukanya. Ia membaca keras-keras.

"Selamat!

"Merupakan harapanku yang tulus bahwa surat ini akhirnya jatuh ke tangan yang kuinginkan. Jika memang demikian, sudah sepatutnya pujian kuberikan kepada putriku, Patricia, dan ketiga pria muda itu. Kalian telah membuktikan reputasi kalian. Jika surat ini tidak berada di tangan kalian ... yah, siapapun yang menemukan surat ini, harta ini milikmu sekarang! "Soal harta itu -- kalian mungkin bertanya-tanya benda apa yang sedang kalian tatap ini. Kurasa penjelasan sudah sewajarnya. Seperti kalian tahu, film adalah hidupku. Aku telah bergelut di bidang industri film sampai fisikku tidak memungkinkan lagi. Film terakhirku kumaksudkan untuk menjadi karya terbaikku, 'lagu angsa'-ku -- meminjam istilah balet. Judulnya kurencanakan 'Malam Pendek,' dan bintangnya tidak lain adalah sahabatku, Creighton Duke. Ini adalah film yang kubiayai sendiri, tanpa bantuan sama sekali dari sebuah studio besar. Sebuah mimpi, jika boleh kutambahkan, yang telah lama kuinginkan menjadi kenyataan. Milikku sendiri. Dan aku bisa melakukan apapun yang aku mau dengannya. Perjanjian kerahasiaan disusun dan ditandatangani oleh seluruh bintang dan kru yang terlibat. Meskipun telah banyak spekulasi mengenainya, publik tidak pernah tahu akan adanya film Hitchcok terakhir yang "hilang" ... sampai sekarang. "Sayang sekali, aku jatuh sakit tepat pada saat pengambilan gambar utama hampir selesai. Ketika kutulis ini, aku menyadari sepenuhnya bahwa aku takkan bisa menyelesaikan film terakhirku. Seperti yang bisa kalian bayangkan, ketika aku menyadari bahwa 'Malam Pendek' akan jatuh ke tangan sebuah studio sepeninggalku, aku merasa terganggu. Kupikirkan bermacam cara untuk menangani dilema ini namun akhirnya ide Crate lah yang membuat kami menyusun rencana ini. Suatu cara untuk menghindari kekacauan dan suatu cara untuk mengucapkan selamat tinggal kepada mereka yang aku tahu pasti akan mencarinya. "Selain beberapa gambar latar, musik, suara dan efek khusus, dan beberapa kekurangan teknis lainnya, film ini telah selesai. Aku yakin film ini akan aman di tangan putriku dan Trio Detektif. Kalian mendapat izinku untuk berbuat apapun atasnya sesuai keinginan kalian. "Sekarang kurasa tidak ada lagi yang perlu kuucapkan selain selamat tinggal. Kuharap kalian, Anak-anak, merasakan ketegangan dan hiburan dalam menyelesaikan misteri warisan Hitchcock, sama seperti yang kurasakan ketika menyusunnya! "Dan kini, aku harus mengucapkan selamat tinggal. "ALFRED J. HITCHCOCK "N.B. Kuharap kalian memaafkanku karena aku telah meminjam elemen jam matahari dari salah satu kasus kalian. Aku selalu merasa itu adalah tempat

persembunyian yang hebat dan tidak tahan untuk tidak menggunakannya dalam misteriku sendiri!"

Mata Jupiter berkaca-kaca sementara ia menyentuh gulungan-gulungan film itu dengan ujung-ujung jarinya. Ia merasa aneh selama beberapa saat, seolah-olah ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokannya. Pikiran bahwa Trio Detektif takkan pernah bertemu lagi dengan pembimbing mereka, Alfred Hitchcock, membuatnya tak mampu berkata-kata ... suatu keadaan yang jarang terjadi atas Jupiter Jones! Akhirnya ia melegakan tenggorokannya dan berpaling menatap yang lain. Penyelidik Pertama yang gempal itu menampilkan senyum lebar di wajahnya. "Siapa yang mau menonton film?"

BAB XIX REGINALD CLARKE MENGAJUKAN BEBERAPA PERTANYAAN


Dua minggu kemudian Trio Detektif sekali lagi duduk berseberangan meja dengan Reginald Clarke, produser film kenamaan itu, di kantornya yang luas di World Studios. "Kepala pelayan yang melakukannya?" kata pria itu dengan suaranya yang menggelegar sambil memukulkan telapak tangan ke atas catatan Bob. "Demi petir, aku yakin Hitch pasti akan sangat puas dengan penyelesaian itu!" Ketiga anak itu mengangguk serempak. "Winston Abernathy bukanlah nama asli kepala pelayan itu," kata Jupiter menjelaskan. "Ia menggunakan beberapa alias. Nama aslinya adalah Mortimer Vincent Carey. Ia adalah seorang pencuri ulung dan penuh percaya diri, dicaricari atas tuduhan pencurian yang terhitung jumlahnya di sepuluh negara yang berbeda." "Dan kini semuanya berebut untuk menghukumnya!" tambah Bob. "Tentu saja!" geram produser itu. "Rencana Winston adalah menyamar sebagai hantu dan menakut-nakuti semua orang sehingga lari dari rumah dan ia dapat mencari harta itu. Tapi katakan padaku, Jones Muda, kapan pertama kalinya kau mencurigai kepala pelayan itu?" Jupiter bergerak sedikit tidak nyaman di kursinya. "Saya seharusnya sudah curiga pada Winston ketika saya tahu bahwa ia baru bekerja di sana selama

setahun -- bukan tiga puluh tahun seperti istrinya. Bagaimanapun, petunjuk pertama saya dapatkan dari Pete." "Oh ya?" tanya Pete terkejut. "Menurut saya aneh," lanjut Jupiter, "bahwa Winston tahu dengan tepat ke mana harus mencari di dalam ruangan menyimpan anggur yang sangat luas itu ketika kami sedang mencari-cari Pete. Pete memukul-mukul pipa dan menurut pengamatan saya di sana ada banyak sekali pipa di langit-langit. Pete bisa ada di mana saja namun Winston membawa kami langsung ke pintu itu ... ia telah tahu di mana Pete berada karena ialah yang telah mengurungnya di sana!" "Ia juga menyarankan agar kita mencari Pete di hutan," tambah Bob. "Mungkin supaya kami semua keluar dari rumah sehingga ia dapat mencari jam yang disebutkan di dalam teka-teki itu." "Hm," gumam Reginald Clarke. "Namun jam itu bukanlah alat penunjuk waktu yang dimaksud. Di bawah jam mataharilah rol-rol film itu ditemukan." "Benar," kata Jupiter. "Kami kira Winston sedang mencari-cari jam di dalam teka-teki itu di ruangan bawah tanah ketika ia mendengar Pete menuruni tangga. Ruangan itu adalah tempat ia menyembunyikan kostum hantunya, maka ia bergegas mengenakan gaun dan rambut palsu dan menyapukan cat yang berpendar di dalam kegelapan ke wajahnya, sehingga Pete tidak akan mengenalinya. Setelah mengunci Pete di ruangan itu, ia bebas mencari. Pencariannya berakhir di jam besar di ruang bilyar. Ia membuka segel pada surat Mr. Hitchcock, mengira bahwa ia telah menemukan harta itu. Ketika ia melihat bahwa itu bukanlah jam yang benar, ia terpaksa menunggu kami mengungkapkan arti yang sesungguhnya." "Menakjubkan," kata sang produser. "Dan memang itulah yang kalian lakukan! Namun nampaknya ada sebuah kemunculan hantu yang tidak kau jelaskan. Siapa atau apa sebenarnya yang dilihat Jebediah di puncak tangga pada malam pertama kalian di Puri Hitchcock?" "Itu Winston," kata Bob. "Ia mengaku bahwa ia berusaha menakut-nakuti kami agar tidak tinggal di Puri Hitchcock. Lubang makanan di lantai tiga sebenarnya adalah pintu rahasia yang dibuat Winston sendiri. Ia menggunakan tali untuk turun ke bilik bawah tanah tempat ia dapat melepaskan samaran hantunya tanpa terlihat." Produser kenamaan itu menatap Bob dengan sangsi. "Karena kasus Winston si kepala pelayan sepertinya telah terpecahkah dengan begitu memuaskan, jawab ini, Andrews Muda ... apa sebenarnya yang dilakukan Jebediah O'Connell dengan berkeliaran di kebun sepanjang hari?"

Bob menyeringai dan nampak malu. "Kami melupakan fakta bahwa ia adalah tukang kebun di rumah itu. Pekerjaannya adalah menjaga agar pekarangan tetap terawat dan mencabuti rumput liar di kebun. Namun sebenarnya ada alasan lain sehingga ia banyak menghabiskan waktu di luar sana." Mr. Clarke memandang Bob dengan alis terangkat. "Dan apakah itu?" tanyanya. "Jebediah O'Connell diam-diam jatuh cinta kepada si pelayan, Julia!" Pete terkekeh. "Sepupu Jeb tidak pernah mempercayai Winston. Ia selalu mengamati tindak-tanduk si kepala pelayan, berusaha menangkap basah orang itu!" "Ah, cinta sejati dapat ditemukan di tempat-tempat paling aneh," komentar Mr. Clarke, menggelengkan kepala. "Dan apakah Sepupu Jeb tetap merahasiakan perasaannya terhadap Julia Abernathy itu?" Jupiter menyeringai. "Tidak. Ia mengungkapkannya. Namun mereka akan menunggu sampai Julia dapat membatalkan pernikahannya dengan Winston, maksud saya Mortimer, sebelum mulai memadu kasih." "Baiklah. Baiklah," Reginald Clarke terkekeh. "Dan sampailah kita pada pasangan paling mencurigakan, Timothy dan Stella Fitchhorn. Duet paling tidak cocok jika dilihat dari penampilan luar." "Ya, sir," Jupiter mengangguk. "Tentu saja mereka pun menggunakan nama samaran. Nama asli mereka adalah Nicholas J. West dan Marcia Brandel. Dan mereka bahkan sama sekali bukan suami-istri!" "Mereka bekerja sebagai suatu tim," katanya. "Bersama-sama mereka telah membodohi orang-orang di seluruh Eropa dan America dan mengumpulkan berjuta-juta dolar. Mereka menganggap warisan Hitchcock sebagai tantangan terbesar. Bagaimanapun juga, mereka menemukan bahwa mereka tidak terlalu berbakat dalam memecahkan teka-teki seperti dalam bermulut manis dan menipu orang dengan dokumen palsu." "Mereka perlu kami untuk memecahkan teka-teki itu bagi mereka!" kata Pete. "Mereka mengharapkan uang atau emas sebagai harta itu namun Duke Antony dan polisi London menangkap mereka sebelum mereka tahu yang sebenarnya!" Reginald Clarke tertawa terbahak-bahak. "Kubayangkan mereka pun akan melalui masa-masa sulit. Tentu saja kuharap sel mereka tidak bersebelahan. Pertengkaran mereka yang terus menerus akan membuat marah para narapidana yang lain!" Anak-anak tertawa membayangkannya.

"Kuasumsikan kau mengatur dengan Pangeran Djaro dari Varania untuk meminta Duke Antony mengundang polisi London ke tanah Hitchcock." "Ya, sir," Jupiter mengiyakan. "Duke Antony dan polisi berangkat dari London sekitar dua puluh menit setelah Ben dan saya. Namun mereka diperlambat oleh badai yang ganas itu. Itulah sebabnya Winston sempat menyulitkan kami dengan pistolnya, yang ternyata hanyalah pistol angin sederhana. Saya tidak menyangka demikian namun saya pun tidak takut dibuatnya." "Saya jelas ketakutan ketika melihat Duke Antony berpakaian sebagai hantu!" seru Pete. "Begitu," kata Mr. Clarke. "Satu lagi rencanamu dan Duke?" tanyanya kepada Jupiter. "Ya, sir. Saat itu saya hampir yakin bahwa hantu itu adalah Winston. Pemeriksaan terhadap latar belakang Jebediah tidak menghasilkan apa-apa, sebaliknya pemeriksaaan terhadap Winston telah menghasilkan beberapa halaman catatan kriminal. "Pete sempat memandang hantu itu cukup lama. Berdasarkan gambarannya, Timothy Fitchhorn terlalu besar untuk menjadi hantu itu dan istrinya terlalu pendek. Maka, yakin bahwa Winston yang menyamar sebagai si Molly tua, saya meminta Duke Antony mampir di sebuah toko kostum sebelum pergi ke Puri Hitchcock untuk mendapatkan gaun, rambut palsu, cat wajah, dan tali berjerat. Itu sebabnya ia lebih lambat dua puluh menit daripada Ben dan saya." "Senjata makan tuan," produser besar itu tertawa. "Kau benar-benar punya bakat untuk menampilkan sesuatu yang dramatis, Jones Muda." "Memang itulah yang saya pikirkan, sir," kata Jupiter, nampak puas. "Namun, seperti tertera dalam catatan Bob, saya tidak menyangka akan melihat Winston dan Jebediah basah kuyup ketiksa saya tiba di rumah. Sudah jelas seseorang ada di kebun ketika Ben dan saya masuk ke halaman. Saya pikir saya mungkin saja salah tentang Winston sampai akhirnya saya memeriksa sepatunya yang penuh lumpur." "Pengamatan bagus yang terbukti sungguh berguna," kata Mr. Clarke. "Sepertinya semua kejadian telah dijelaskan dengan baik. Namun katakan kepadaku, apa yang akan terjadi terhadap film terakhir Hitch, 'Malam Pendek'?" Pete menjawab pertanyaan itu. "Patricia berkata bahwa ia akan memakai sebagian uang yang ia warisi untuk membiayai penyelesaian film itu, yang nantinya semua pemasukannya akan digunakan untuk amal. Dan ia ingin tahu jika Anda mau bertindak sebagai penasihat teknis!"

"Aku?" kata Reginald Clarke terkejut. "Aku akan merasa sangat tersanjung dapat mengerjakan film Hitchcock terakhir," katanya. "Benar-benar tersanjung." Anak-anak hendak beranjak untuk pergi ketika Reginald Clarke berbicara. "Tidak secepat itu," katanya menggelegar, matanya berbinar-binar. "Ada satu lagi pertanyaan yang perlu dijelaskan!" "Apa ... apa itu, Mr. Clarke?" kata Pete. "Tentang Molly Thibidoux," katanya, menyeringai ke arah anak-anak. "Duke Antony berkata bahwa Winston berteriak penuh kengerian sebelum melihatnya berkostum hantu. Apakah itu berarti arwah gadis itu memang benar tinggal di balik dinding-dinding Puri Hitchcock?" Jupiter nampak tersinggung. "Tentu saja tidak," katanya keras kepala. "Ada banyak cermin dan lukisan berbaris di dinding-dinding Puri Hitchcock. Winston pasti telah melihat bayangan 'hantu' Duke di salah satu cermin. Tidak ada yang namanya hantu ... apapun yang dikatakan Winston dan Pete kepada Anda!" Reginald Clarke tertawa terbahak-bahak. "Hebat! Kalian boleh saja punya keyakinan masing-masing, misalnya terhadap hal-hal paranormal! Bagaimanapun, ini adalah misteri yang bagus dari sang Raja Ketegangan sendiri. Aku yakin Alfred Hitchcock akan senang mengetahui bahwa kalian tidak hanya menemukan hartanya yang tersembunyi, namun sekaligus juga menangkap tiga penjahat kelas kakap!" Anak-anak menerima pujian produser besar itu dengan bangga, lalu berterima kasih atas waktu yang telah diberikan. Sementara Trio Detektif berbaris keluar dari kantornya, Reginald Clarke bersandar di kursinya sambil tersenyum tipis. Petualangan yang cukup seru, pikirnya ... "Misteri Warisan Hitchcock." Cukup seru.

KATA PENUTUP DARI REGINALD CLARKE


Aku merasa perlu menambahkan beberapa patah kata untuk menutup kisah ini, sehingga jelas bagi para pembaca setia Trio Detektif posisiku di dalam petualangan-petualangan mereka. Mereka memang telah memintaku untuk menuliskan kata pengantar untuk kasus ini, juga kasus-kasus yang akan datang, setelah kepergian sahabat dan pembimbing mereka, Alfred Hitchcock. Namun karena aku hendak memulai produksi sebuah drama sejarah yang memakan biaya besar, aku dengan sangat menyesal terpaksa menolak untuk saat ini. Kuyakinkan kalian bahwa aku sungguh-sungguh ingin mengisi peran besar Mr. Hitchcock seandainya saja situasi dan kondisinya berbeda.

Dan ternyata tidak lama setelah itu anak-anak bertemu dengan satu lagi tokoh misteri yang hebat, penulis buku dan skenario Hector Sebastian, dalam salah satu dari kasus-kasus mereka selanjutnya. Anak-anak muda itu telah menemukan pembimbing baru mereka, sehingga dengan rendah hati aku mengundurkan diri. Dalam hubungannya dengan karir Trio Detektif, beberapa kasus menarik yang melibatkan diriku dan beberapa tokoh lain telah terjadi dalam selang waktu antara kepergian Hitch dan kemunculan Hector Sebastian. Kasus-kasus yang tidak pernah diterbitkan atau dibaca ... sampai saat ini! Jupe, Pete, dan Bob berharap kalian menikmati "harta tersembunyi" ini dan mereka berjanji padaku bahwa masih ada lagi yang akan datang! REGINALD CLARKE ***** KETERANGAN TAMBAHAN DARI FXRBDS Demi kelangsungan cerita ini penulis dengan sengaja memasukkan beberapa hal fiktif yang tidak sesuai dengan kenyataan sebenarnya. Berikut adalah beberapa hal yang menarik untuk diketahui, berkaitan dengan cerita Misteri Warisan Hitchcock ini dan fakta sebenarnya. Pada kenyataannya Patricia Hitchcock adalah anak tunggal dari pasangan Alfred dan Alma Hitchcock. Hingga kini ia masih hidup. Alma Reville Hitchcock adalah istri Alfred Hitchcock, yang sebenarnya hidup lebih lama daripada suaminya. Tidak ada alasan bagi Alfred Hitchcock untuk menyembunyikan warisannya dan bagi Trio Detektif untuk mencari harta itu seandainya janda Alfred masih hidup, maka penulis dengan sengaja menghilangkan fakta ini. Ben Hitchcock adalah tokoh fiktif semata-mata yang diperkenalkan penulis untuk menjembatani hubungan Patricia dan Trio Detektif. Patricia tidak punya saudara kandung dan demikian pula halnya dengan Alfred Hitchcock. Alfred Hitchcock memang tinggal di sebuah rumah sederhana bergaya peternakan, yang bersebelahan dengan suatu lapangan golf. Jika tidak sedang membuat film, ia berlibur di tempat tinggalnya di Inggris. Tempat tinggal di Inggris ini sendiri bukanlah sebuah puri yang penuh misteri seperti di dalam cerita ini. Beberapa nama penulis cerita Trio Detektif ditampilkan dalam cerita ini secara sambil lalu. Dennis Lynds, yang menggunakan nama samaran William Arden dan menulis sebagian besar buku Trio Detektif, muncul sebagai "Denny Lynds & The

fotoselebriti.net

Gail Force Winds," artis yang piringan hitamnya merupakan petunjuk. Robert Arthur, pencipta Trio Detektif, muncul sebagai "Agen R. Arthur" di Kedubes Amerika Serikat. M. V. Carey, satu-satunya wanita yang pernah menuliskan kisah Trio Detektif, muncul sebagai "Mortimer Vincent Carey," nama asli Winston sang kepala pelayan. Nick West, yang hanya menulis dua buku, dan Marc Brandel, yang menulis tiga buku pasca-Hitchcock, muncul sebagai "Nicholas J. West dan Marcia Brandel," nama asli pasangan Fitchhorn.