Anda di halaman 1dari 16

LATAR BELAKANG

PENDAHULUAN Imunitas atau kekebalan adalah sistem mekanisme pada organisme yang melindungi tubuh terhadap pengaruh biologis luar dengan mengidentifikasi dan membunuh patogen serta sel tumor. Sistem ini mendeteksi berbagai macam pengaruh biologis luar yang luas, organisme akan melindungi tubuh dari infeksi, bakteri, virus sampai cacing parasit, serta menghancurkan zat-zat asing lain dan memusnahkan mereka dari sel organisme yang sehat dan jaringan agar tetap dapat berfungsi seperti biasa. Deteksi sistem ini sulit karena adaptasi patogen dan memiliki cara baru agar dapat menginfeksi organisme. Sistem kekebalan tubuh melindungi organisme dari infeksi dengan lapisan pelindung kekhususan yang meningkat. Pelindung fisikal mencegah patogen seperti bakteri dan virus memasuki tubuh. Jika patogen melewati pelindung tersebut, sistem imun bawaan menyediakan perlindungan dengan segera, tetapi respon tidak-spesifik. Sistem imun bawaan ditemukan pada semua jenis tumbuhan dan binatang.Namun, jika patogen berhasil melewati respon bawaan, vertebrata memasuki perlindungan lapisan ketiga, yaitu sistem imun adaptif yang diaktivasi oleh respon bawaan. Disini, sistem imun mengadaptasi respon tersebut selama infeksi untuk menambah penyadaran patogen tersebut. Respon ini lalu ditahan setelah patogen dihabiskan pada bentuk memori imunologikal dan menyebabkan sistem imun adaptif untuk memasang lebih cepat dan serangan yang lebih kuat setiap patogen tersebut ditemukan. System imun dibedakan mejadi dua, yaitu sistem kekebalan alami (imun non spesifik) dan sistem kekebalan didapat (spesifik). Sistem kekebalan alami yaitu pertahanan tubuh terdepan dalam menghadapi serangan berbagai

mikroorganisme atau benda asing lain (respon langsung terhadap antigen). Sistem imun didapat yaitu hanya dapat menghancurkan benda asng yang sudah dikenal sebelumnya.

Komponen komponen system imun non spesifik ada empat, yaitu pertahanan fisik atau mekanik, pertahanan biokimia, pertahanan humoral, dan pertahanan seluler.

TUJUAN DAN MANFAAT 1. Mengetahui dan memahami sistem respon imun secara spesifik dan non spesifik 2. Mengetahui dan memahami hipersensitivitas Tinjauan pustaka Pengertian Hipersensitifitas merupakan peningkatan reaktifitas atau sensitifitas terhadap antigen yang pernah dipanjakan atau dikenal sebelumnya (Ratna Sitompul,2009). Hipersensitifitas (atau reaksi hipersensitiftas) adalah reaksi berlebihan,tidak diinginkan (merusak,menghasilakan ketidaknyamanan,dan terkadang berakibat fatal) yang dihasilkan oleh sistem kekebalan normal (Abdul Gafar,2010) Pembagian Reaksi Hipersensitifitas Reaksi hipersensitiftas dapat dibagi menjadi 2 bagian,antara lain : reaksi hipersensitiftas menurut waktu timbulnya reaksi (Reaksi cepat,reaksi intermediet dan reaksi lambat) dan reaksi hipersensitifitas menurut Gell dan Coombs (Tipe I,Tipe II,Tipe II dan Tipe IV).

Sumber: http://id.shvoong.com/exact-sciences/veterinary/2243110hipersensitifitas/#ixzz2AX15bFxs
REAKSIHIPERSENSITIVITAS

olehDr. Hendra Sutardi Respons imun (nonspesifik maupun spesifik) padaumumnya berfungsi protektif, tetapi dapat menimbulkanakibat buruk dan penyakit yang disebut hipersensitivitas.Jadi hipersensitivitas atau alergi menunjukkan suatukeadaan dimana respons imun mengakibatkan reaksiyang berlebihan sehingga menimbulkan kerusakan pada jaringan tubuh hospes.Komponen-komponen sistem

imun yang bekerja padaproteksi adalah sama dengan yang menimbulkan reaksihipersensitivitas. Reaksi ini secara khas terjadi pada orang tertentu setelahkontak kedua kali-nya dengan suatu antigen khusus(alergen). Kontak pertama merupakan peristiwa awal yangdiperlukan dan menginduksi sensitisasi terhadap alergenitu REAKSI HIPERSENTIVITASMENURUT WAKTU Reaksi cepat : Terjadi dalam hitungan detik, menghilangdalam 2 jam. Antigen yang diikat Ige padapermukaan sel mast menginduksipelepasan mediator vasoaktif.Manifestasi reaksi cepat berupa anafilaxissistemik atau anafilaxis lokal seperti asma,pilek-bersin, urtikaria dan eksim. Reaksi intermediat : Terjadi setelah beberapa jam dan menghilang dalam 24 jam. Reaksi ini melibatkan pembentukan kompleks imun Ig G dan kerusakan jaringan melalui aktivasi komplemen.Manifestasinya dapat berupa : 1.Reaksi transfusi darah, eritroblastosisfoetalis dan anemia hemolitik autoimun. 2.Reaksi Arthus lokal dan reaksi sistemik yaituserum sickness, vaskulitis nekrotis, glomerulonefritis,artritis rematoid dan LES (lupus eritematosis sistemik) Reaksi lambat Reaksi lambat terlihat sampai sekitar 48 jam setelah pajanan dengan antigen.Pada DTH yang berperan adalah sitokinyang dilepas sel T yang mengaktifkanmakrofag dan menimbulkan kerusakan jaringan. Contoh : dermatitis kontak, reaksiMycobacterium tuberculosis dan reaksipenolakan graft. PEMBAGIAN REAKSIHIPERSENSITIVITAS MENURUTMEKANISME Reaksi hipersensitivitas oleh Robert Coombs dan Philip Gell (1963) dibagi dalam 4 tipe reaksi berdasarkankecepatan dan mekanisme imun yang terjadi yaitu tipe I, II,III dan IV. Tipe I: Hipersensitivitas cepat (Anafilaktik) Tipe II : Hipersensitivitas sitotoksik Tipe III : Hipersensitivias kompleks imun Tipe IV : Hipersensitivitas lambat (berperantara sel)

Catatan : Tipe I, II, III berperantara antibodi Tipe I : Hipersensitivitas cepat(anafilaktik) Hipersensitivitas cepat timbul sebagai reaksi jaringan yang terjadi dalam beberapa menitsetelah antigen (alergen) bergabung denganantibodi yang sesuai. Pada reaksi tipe Ialergen yang masuk ke dalam tubuhmenimbulkan respons imun berupa produksi IgE dan penyakit alergi seperti rinitis alergi,asma dan dermatitis atopi. Urutan kejadian reaksi tipe I

spesifik padapermukaan sel mast dan basofil.

yang spesifik ryaitu waktu terjadinya responsyang kompleks (anafilaksis) sebagai efekmediator-mediator yang dilepas sel mastdengan aktivitas farmakologik.

HIPERSENSITIVITAS Hipesensitivitas adalah respon imun yang berlebihan dan yang tidak diinginkan karenamenimbulkan kerusakan jaringan tubuh. Reaksi tersebut oleh Gel dan Coomb dibagi dalam4 tipe reaksi berdasarkan kecepatan dan mekanisme imun yang terjadi. Reaksi ini dapatterjadi sendiri-sendiri, tetapi dalam klinik dua atau lebih reaksi dalam berlangsungbersamaan. Reaksi Tipe I, II, dan III terjadi karena interaksi antara antigen denganantibody sehingga termasuk reaksi humoral, sedangkan reaksi tipe IV terjadi karenainteraksi antara antigen dengan reseptor yang terdapat pada permukaan limfosit T danmengaktifkan limfosit T sehingga termasuk reaksi seluler.Manifestasi Hipersensitif beberapa diantaranya adalah: Kulit : urtikaria, dermatitis atopi GIT : nyeri abdomen, mua,muntah, diare. Pernafasan: Asma, Rinitis. Cardiovascular: Syok anafilaktik.

HIPERSENSITIVITAS TIPE 1

Salah satu mekanisme efektor yang kuat adalah reaksi yang terjadi akibat stimulasimastosit jaringan dan basofil yang diperantarai IgE yang sebelumnya telah melekat padapermukaan mastosit atau basofil, maka hal itu akan menyebabkan dilepaskannya berbagaimediator oleh mastosit dan basofil yang secara kolektif mengakibatkan peningkatanpermeabilitas kapiler, vasodilatasi, kontraksi otot polos bronkus dan saluran cerna sertainflamasi local. Reaksi ini disebut reaksi hipersensitivitas tipe segera (immediate) karenaterjadi sangat cepat, yaitu hanya beberapa menit setelah paparan. Dalam bentuk sistemik ekterm, yang dikenal sebagai reaksi anafilaksis, mediator yang dihasilkan oleh mastositdan basofil dapat menyebabkan penyempitan saluran nafas hingga asfiksi ataumenyebabkan kolaps kardiovaskuler dan berakibat kematian. Individu yang menunjukkankecenderungan untuk reaksi hipersensitivitas tipe segera disebut individu atopik danbiasanya menunjukkan reaksi alergi segera setelah terpapar pada antigen lingkungan.Penyakit-penakit yang timbul segera sesudah tubuh terpajan dengan alergen adalah asmabronkial, rinitis, urtikaria, dan dermatitis atopik. Di samping histamin, mediator lain sepertiprostalglandin dan leukotrin (SRS-A) yang dihasilkan metabolisme asam arakidonat,berperan pada fase lambatdari reaksi tipe 1 yang sering timbul beberapa jam setelah kontak dengan alergen. (Baratawidjaya, KG, et Iris Rengganis. 2009.) Reaksi Hipersensitivitas tipe I disebut juga reaksi alergi. Alergi bisa karena bermacammacam alergen misalnya makanan, debu, pollen, dan lainlain.Karakteristik makanan yang dapat menjadi allergen: Protein-protein penginduksi sel T Aktivitas enzyme protease Molekul dengan BM tinggi Peptide-peptida yang bisa mengikat MHC. (Prof. Harsono Salimo. 2009)

REAKSI HIPERSENSITIVITAS TIPE II Penggolongan reaksi hipersensitivitas semula didasarkan atas perbedaan mekanismekerusakan jaringan yang diakibatkannya. Reaksi hipersensitivitas tipe II melibatkan IgGdan IgM. Antibodi yang ditujukan kepada antigen permukaan sel atau jaringan berinteraksidengan komplemen dan berbagai jenis sel efektor untuk merusak sel sasaran. Setelahantibody melekat pada permukaan sel, antibody akan mengikat dan mengaktivasikomponen C1 komplemen. Konsekuensinya adalah : a)Fragmen komplemen (C3a dan C5a) yang dihasilkan oleh aktivasi komplemen akanmenarik makrofag dan PMN ke tempat tersebut, sekaligus menstimulasi sel

mastositdan basofil untuk memproduksi molekul yang menarik dan mengaktivasi sel efektorlain. b) Aktivasi jalur klasik komplemen mengakibatkan deposisi C3b, C3bi, dan C3d padamembran sel sasaran. c) Aktivasi jalur klasik dan jalur litik menghasilkan C5b-9 yang merupakan membraneattack complex (MAC) yang kemudian menancap pada membran sel. d) Sel-sel efektor, yaitu makrofag, neutrofil, eosinofil, dan sel NK, berikatan padakompleks antibodi melalui reseptor Fc atau berikatan dengan komponen komplemenyang melekat pada permukaan sel tersebut. Pengikatan antiboi pada reseptor Fcmerangsang fagosit untuk memproduksi lebih banyak leukotrien dan prostaglandin,yang merupakan molekul-molekul yang berperan pada respons inflamasi. Sel-selefektor yang telah terikat kuat pada membran sel sasaran menjadi teraktivasi danakhirnya dapat menghancurkan sel sasaran. e) Isotip antibodi yang berbeda-beda mempunyai kemampuan yang tidak sama dalammenginduksi reaksi ini, bergantung pada kemampuan masing-masing untuk mengikatC1q atau kemampuan berinteraksi dengan reseptor Fc pada oermukaan sel sasaran.Fragmen-fragmen komplemen atau IgG dapat bertindak sebagai opsonin yang melapisipermukaan sel pejamu atau mikroorganisme, dan fagosit akan menelan partikel-partikelyang di opsonisasi. Mekanisme sel sasaran oleh selsel efektor pada reaksihipersensitivitas tipe II, merefleksikan cara sel-sel itu menyingkirkan pathogen dalamkeadaan normal.Mekanisme sitolisis oleh sel efektor sebenarnya menggambarkan fungsi sel efektor dalamkeadaan normal bila menghadapi kuman pathogen. Mekanisme sitolisis dengan bantuanantibodi yang dikenal sebagai ADCC bermanfaat untuk membantu sel sitotoksik menghancurkan sel sasaran yang berukuran terlalu besar untuk difagositosis. Selain itumekanisme sitolisis dengan bantuan antibodi bermanfaat untuk menghancurkan selpatologis.

Contoh reaksi tipe II adalah destruksi sel darah merah akibat reaskis transfusidan penyakit anemia hemolitik pada bayi dan dewasa. Sebagian kerusakan jaringan padapenyakit autoimun seperti miastenia gravis dan tirotoksikosis juga ditimbukan melaluimekanisme ini. Anemia hemolitik dapat ditimbulkan oleh obat pinicilin, kinin dansulfonamid

REAKSI HIPERSENSITIVITAS TIPE III

Terjadi akibat endapan komplek antigen-antibodi dalam jaringan atau pembuluh darah.Antibodi di sini biasanya jenia IgG atau IgM. Kompleks tersebut mengaktifkankomplemen yang kemudian melepaskan berbagai mediator terutama macrophagechemotactic factor. Makrofag yang dikerahkan ke jaringan tersebut akan merusak jaringansekitar tempat tersebut. Antigen dapat berasal dari infeksi kuman patogen yang persisten(malaria), bahan yang terhirup (spora jamur yang menimbulkan alveolitis ekstrensik alergi)atau dari jaringan sendiri (penyakit autoimun). Infeksi tersebut disertai dengan antigendalam jumlah yang berlebihan, tetapi tidak disertai dengan respon antibodi efektif.Antigen dan antibodi bersatu membentuk kompleks imun. Selanjutnya kompleks imunmengaktifkan C yang melepas C3a dan C5a dan merangsang basofil dan trombosit melepasberbagai mediator seperi histamin yang meningkatkan permeabilitas vaskular.Dalam keadaan normal, kompleks imun dimusnahkan oleh sel fagosit mononuklear,terutama dalam hati, limpa, dan paru tanpa bantuan komplemen. Dalam proses tersebut,ukuran kompleks imun merupakan faktor penting . Pada umumnya kompleks yang besar,mudah dan cepat dimusnahkan dalam hati. Komples yang alrut terjadi bila antigenditemukan jauh lebih banyak daripada antibodi yang sulit untuk dimusnahkan dan olehkarena itu dapat lebih lama ada dalam sirkulasi. Kompleks imun yang ada dalam sirkulasimeskipun untuk jangka waktu yang lama, biasanya tidak aberbahaya. Permasalahannyaakan timbul bila kompleks imun menembus dinding pembuluh darah dan mengendap di jaringan. Gangguan fungsi fagosit diduga dapat merupakan sebab mengapa kompleks imunsulit dimusnahkan. (Baratawidjaya, Karnen Garna. 2006.) REAKSI HIPERSENSITIVITAS TIPE IV atau Delayed Type Hypersensitivity (DTH), juga dikenal sebagai Cell Mediated Immunityatau reaksi imun seluler. Ada golongan reaksi Cell Mediated Immunity yang lain yangdikenal sebagai Cell Mediated Cytotoxicity (CMC). Mekanisme kedua reaksi tersenbutadalah seluler. Pada kedua reaksi tersebut tidak ada peran antibodi. Sel APC yangmemproses dan mempresentasikan peptide mikroba melalui jalur eksogen yang MCH-IIdependen, sedangkan yang melalui jalur endogen adalah MCH-I dependen.Timbul lebih dari 24 jam setelah tubuh terpajan dengan antigen. Penyakit yang ditimbulkandari reaksi ini adalah Diabetes insulin dependen (tipe1), artritis reumatoid, skerosismultiple, neuritis perifer, miokarditis eksperimental autoimun,dan infeksi (Rengganis,2006 Baratawidjaya, Karnen Garna et Iris Rengganis. 2009. Imunologi Dasar Edisi ke delapan. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Rengganis, Iris. 2007. Imunologi Dasar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II Edisi IV.Jakarta: FK UI

Bab II Pembahasan

sistem imun adalah sistem perlindungan pengaruh luar biologis yang dilakukan oleh sel dan organ khusus pada suatu organisme. Jika sistem kekebalan bekerja dengan benar, sistem ini akan melindungi tubuh terhadap infeksi bakteri dan virus, serta menghancurkan sel kanker dan zat asing lain dalam tubuh. Jika sistem kekebalan melemah, kemampuannya melindungi tubuh juga berkurang, sehingga menyebabkan patogen, termasuk virus yang menyebabkan demam dan flu, dapat berkembang dalam tubuh. Sistem kekebalan juga memberikan pengawasan terhadap sel tumor, dan terhambatnya sistem ini juga telah dilaporkan meningkatkan resiko terkena beberapa jenis kanker. fungsi sistem imun : 1. Melindungi tubuh dari invasi penyebab penyakit; menghancurkan & menghilangkan mikroorganisme atau substansi asing (bakteri, parasit, jamur, dan virus, serta tumor) yang masuk ke dalam tubuh 2. Menghilangkan jaringan atau sel yg mati atau rusak untuk perbaikan jaringan. 3. Mengenali dan menghilangkan sel yang abnormal Sasaran utama: bakteri patogen & virus. Leukosit merupakan sel imun utama (disamping sel plasma, makrofag, & sel mast) Respons Imun Tahap: 1. Deteksi & mengenali benda asing 2. Komunikasi dgn sel lain untuk berespons 3. Rekruitmen bantuan & koordinasi respons 4. Destruksi atau supresi penginvasi Pertahanan tubuh ada 2 yaitu : 1. Non spesifik ,natural atau sudah ada dalam tubuh (pembawaan ) merupakan pertahanan tubuh terdepan dalam melawan mikroorganisme disebut nonspesifik karena tidak ditujukan terhadap mikroorganisme tertentu meliputi : 2. adaptasi atau yang muncul ( diperoleh) atau spesifik mempunyai kemampuan untuk mengenal benda asing.

sistem imun spesifik dapat bekerja sendiri untuk menghancurkan benda asing yang berbahaya, tetapi umumnya terjalin kerjasama yang baik antara antibodi, komplemen , fagosit dan antara sel T makrofag. sistem imun spesifik ada 2 yaitu; a. sistem imun spesifik humoral b. sistem imun spesifik selular ImunoglobulinG (IgG) Adalah reaksi imun yang diproduksi terbanyak sebagai antibodi utama dalam proses sekunder dan merupakan pertahanan inang yang penting terhadap bakteri yang terbungkus dan virus.Mampu menyebar dengan mudah ke dalam celah ekstravaskuler dan mempunyai peranan penting menetralisir toksin kuman, serta melekat pada kuman sebagai persiapan fagositosis.Merupakan proteksi utama pada bayi terhadap infeksi selama beberapa minggu pertama setelahlahir, dikarenakan mampu menembus jaringan plasenta. IgG yang dikeluarkan melalui cairankolostrum dapat menembus mukosa usus bayi dan menambah daya kekebalan.IgG mempunyai dua tempat pengikatan antigen yang sama (divalen) dan dikenal 4 subkelas,yaitu IgG1 IgG1, IgG2, IgG3 dan IgG4. Perbedaannya terletak pada rantai-H dengan beberapafungsi biologis serta jumlah dan lokasi ikatan disulfida. IgG1 merupakan 65% dari keseluruhanIgG. IgG2 berguna untuk melawan antigen polisakarida dan menjadi pertahanan yang penting bagi inang untuk melawan bakteri yang terbungkus. Imunoglobulin A (IgA) Adalah Imunoglobulin utama dalam sekresi selektif, misalnya pada susu, air liur, air mata dandalam sekresi pernapasan, saluran genital serta saluran pencernaan atau usus ( Corpo Antibodies ).Imunoglobulin ini melindungi selaput mukosa dari serangan bakteri dan virus. Ditemukan pulasinergisme antara IgA dengan lisozim dan komplemen untuk mematikan kuman koliform. Jugakemampuan IgA melekat pada sel polimorf dan kemudian melancarkan reaksi komplemenmelalui jalan metabolisme alternatif. Imunoglobulin M (IgM) Imunoglobulin utama yang pertama dihasilkan dalam respon imun primer. IgM terdapat padasemua permukaan sel B yang tidak terikat. Struktur polimer IgM menurut Hilschman adalah lima subunit molekul 4-peptida yang dihubungkan oleh rantai-J. Pentamer berbobot molekul900.000 ini secara keseluruhan memiliki sepuluh tempat pengikatan antigen Fab sehingga bervalensi 10, yang dapat dibuktikan dengan reaksi Hapten. Polimernya berbentuk bintang,tetapi apabila terikat pada permukaan sel akan berbentuk kepiting.Disebabkan bervalensi tinggi, maka antibodi ini paling sering bereaksi di antara semuaImunoglobulin, sangat efisien untuk reaksi aglutinasi dan reaksi sitolitik, pengikatan komplemen,

reaksi antibodi-antigen yang lain dan karena timbulnya cepat setelah terjadi infeksi dan tetaptinggal dalam darah, maka IgM merupakan daya tahan tubuh yang penting untuk bakteremia danvirus. Antibodi ini dapat diproduksi oleh janin yang terinfeksi. ImunoglobulinE (IgE) Didalam serum ditemukan dalam konsentrasi sangat rendah. IgE apabila disuntikkan ke dalamkulit akan terikat pada Mast Cells dan Basofil. Kontak dengan antigen akan menyebabkandegranulasi dari Mast Cells dengan pengeluaran zat amin yang vasoaktif. IgE yang terikat ini berlaku sebagai reseptor yang merangsang produksinya dan kompleks antigen-antibodi yangdihasilkan memicu respon alergi Anafilaktik melalui pelepasan zat perantara.Pada orang dengan hipersensitivitas alergi berperantara antibodi, konsentrasi IgE akanmeningkat dan dapat muncul pada sekresi luar. IgE serum secara khas juga meningkat selamainfeksi parasit cacing. ImunoglobulinD (IgD) Antibodi ini fungsi keseluruhannya belum diketahui secara jelas. Dalam serum IgD ditemukandalam jumlah yang sangat sedikit dan IgD merupakan antibodi inti sel. Zat ini juga terdapat padasel penderita leukemia getah bening.Telah dibuktikan pula bahwa IgD dapat bertindak sebagai reseptor antigen apabila berada pada permukaan limfosit B tertentu dalam darah tali pusar janin dan mungkin merupakan reseptor pertama dalam permulaan kehidupan sebelum diambil alih fungsinya IgM dan Imunoglobulinlainnya, setelah sel tubuh berdiferensiasi lebih jauh Reaksi Hipersensitivitas Definisi Reaksi hipersensitivitas adalah reaksi imun yang patologik, terjadi akibat respon imun yang berlebihan sehingga menimbulkan kerusakan jaringan tubuh. Reaksi yang terjadi dibawa, baik melalui imunitas humoral (antibodi) maupun CMI (limfosit-T yang sensitif). Pada sebagian besar keadaan, reaksi

hipersensitivitas disebabkan oleh antigen asing, seperti serbuk bunga, jamur, substansi makanan, dan obat-obatan. Klasifikasi reaksi hipersensitivitas Jenis-jenis penyakit hipersensitivitas terdiri atas berbagai kelainan yang heterogen. Penyakit hipersensitivitas dibagi menurut tipe respon imun dan mekanisme efektor yang menimbulkan kerusakan sel dan jaringan. Reaksi hipersensitivitas menurut waktu

Dapat dibagi menurut waktu terjadinya reaksi, yaitu reaksi cepat, intermediet, dan lambat. 1. Reaksi cepat Terjadi dalam hitungan detik, serta hilang dalam waktu 2 jam. Antigen yang diikat IgE pada permukaan sel mast menginduksi pelepasan mediator vasoaktif. Manifestasinya dapat berupa anafilaksis sistemik atau anafilaksis lokal seperti pilek, bersin, asma, urtikaria, dan eksema. 2. Reaksi intermediet Terjadi setelah beberapa jam dan hilang dalam 24 jam. Reakis ini melibatkan pembentukan kompleks imun IgG dan kerusakan jaringan melalui aktivasi komplemen. Reaksi intermediet diawali oleh IgG yang disertai kerusakan jaringan pejamu oleh sel netrofil atau sel NK. Manifestasinya berupa: a. Reaksi transfusi darah, eritroblastosis fetalis dan anemia hemolitik autoimun.

b. Reaksi arthus lokal dan reaksi sistemik seperti serum sickness, vaskulitis nekrotis, glomerulonefritis, artritis reumatoid, dan LES. 3. Reaksi lambat Terlihat sampai sekitar 48 jam setelah pajanan dengan antigen. Terjadi akibat aktivasi sel Th. Pada DTH yang berperan adalah sitokin yang dilepas sel T yang mengaktifkan makrofag dan menimbulkan kerusakan jaringan. Manifesstasi klinisnya yaitu dermatitis kontak, reaksi mikobakterium tuberkulosis dan reaksi penolakan tandur. Reaksi hipersensitivitas menurut mekanisme Reaksi hipersensitivitas oleh Robert Coombs dan Philip HH Gell pada tahun 1963 dibagi dalam 4 tipe reaksi berdasarkan kecepatan dan mekanisme imun yang terjadi, yaitu tipe I, II, III, IV. 1. Reaksi hipersensitivitas tipe I Disebut juga reaksi cepat atau reaksi anafilaksis atau reaksi alergi. Timbul segera setelah tubuh terpajan dengan alergen. Mekanisme terjadinya reaksi hipersensitivitas tipe I mulanya antigen masuk ke tubuh dan merangsang sel B untuk membentuk IgE dengan bantuan sel Th. IgE diikat oleh sel mast atau basofil melalui reseptor Fc. Apabila tubuh terpajan ulang dengan antigen yang sama,

maka antigen tersebut akan diikat oleh IgE yang sudah ada pada permukaan sel mast atau basofil. Akibat ikatan tersebut, sel mast atau basofil mengalami degranulasi dan melepas mediator. Senyawa vasoaktif yang dilepaskan oleh sel mast atau basofil, yaitu: Histamin Faktor kemotaktik eosinofilik

Senyawa lain yang juga dilepaskan yaitu substansi reaksi lambat anafilaksis yang disintesis oleh sel. Substansi tersebut terdiri atas: Prostaglandin Leukotrin Tromboksan Faktor pengaktif trombosit

Efek kombinasi dari senyawa-senyawa ini menimbulkan pelebaran pembuluh darah, peningkatan permeabilitas pembuluh darah, edem (pembengkakan yang disebabkan oleh masuknya serum ke dalam jaringan), dan masuknya eosinofil yang khas pada respons atopik lokal. Pada kasus asma, menyebabkan sekresi berlebihan dan kelenjar mukus bronkus dan spasme bronkus. Urutan kejadian reaksi tipe I adalah sebagai berikut: Fase sensitasi, yaitu waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan IgE sampai diikatnya oleh reseptor spesifik pada permukaan sel mast atau basofil. Fase aktivasi, yaitu waktu yang diperlukan antara pajanan ulang dengan antigen yang spesifik dan sel mast melepas isinya yang berisikan granul yang menimbulkan reaksi. Fase efektor, yaitu waktu terjadi respon yang kompleks sebagai efek mediator-mediator yang dilepas sel mast dengan aktivitas farmakologik. Contoh yang sering dari hipersensitivitas tipe I ialah demam, pilek, eksema pada masa kanak-kanak, dan asma ekstrinsik. Diagnosis hipersensitivitas tipe I biasanya dibuat dengan memperlihatkan adanya hubungan antara pemaparan antigen dalam lingkungan tertentu dan timbulnya gejala pada waktu anamnesis yang teliti. 2. Reaksi hipersensitivitas tipe II

Disebut juga reaksi sitotoksik atau sitolitik, terjadi karena dibentuk antibodi jenis IgG atau IgM terhadap antigen yang merupakan bagian sel pejamu. Antibodi tersebut dapat mengaktifkan sel yang memiliki reseptor Fc-R. Sel NK dapat berperan sebagai sel efektor dan menimbulkan kerusakan melalui ADCC. Karakteristik hipersensitivitas tipe II ialah pengrusakan sel dengan mengikat antibodi yang spesifik pada permukaan sel. Kerusakan sel yang terjadi utamanya bukan merupakan hassil pengikatan antibodi, ini tergantung pada bantuan limfosit lainnya atau makrofag atau pada sistem komplemen. Manifestasi yang sering dari reaksi hipersensitivitas reaksi ini melibatkan sel-sel darah, sel jaringan lainnya dapat juga diikutsertakan. Misalnya saja pada anemia hemolitik autoimun dan trombositopenia. 3. Reaksi hipersensitifitas tipe III Disebut juga reaksi kompleks imun. Terjadi bila kompleks antigenantibodi ditemukan dalam sirkulasi atau dinding pembuluh darah atau jaringan dan mengaktifkan komplemen. Antibodi yang berperan biasanya jenis IgM atau IgG. Kompleks imun akan mengaktifkan sejumlah komponen sistem imun. Komplemen yang diaktifkan melepas anafilaktosis yang memacu sel mast dan basofil melepas histamin. Mediator lainnya dan MCF mengerahkan polimorf yang melepas enzim proteolitik dan protein polikationik. Komplemen juga

menimbulkan agregasi trombosit yang membentuk mikrotombi dan melepas amin vasoaktif, selain itu komplemen mengaktifkan makrofag yang melepas IL-1 dan produk lainnya. Bahan vasoaktif yang dibentuk sel mast dan trombosit menimbulkan vasodilatasi, peningkatan permeabilitas vaskular, dan inflamasi. Neutrofil ditarik dan mengeliminasi kompleks. Bila neutrofil terkepung di jaringan akan sulit untuk memakan kompleks dan akan melepas granulnya (angry cell). Kejadian ini menimbulkan banyak kerusakan jaringan. Makrofag yang dikerahkan ke tempat tersebut melepas berbagai mediator, antara lain enzimenzim yang dapat merusak jaringan sekitarnya. Manifestasi klinisnya antara lain lupus eritamatosis sistemik, penyakit serum, artritis reumatoid, infeksi malaria, virus, dan lepra.

4. Reaksi hipersensitivitas tipe IV Terjadi setelah 12 jam. Hipersensitivitas tipe ini dibagi dalam Delayed Type Hypersensitivity yang terjadi melalui sel CD4 dan T Cell Mediated Cytolysis yang terjadi melalui sel CD8. Delayed Type Hipersensitivity (DTH) Pada DTH, sel CD4 Th1 mengaktifkan makrofag yang berperan sebagai sel efektor. CD4 Th1 melepas sitokin yang mengaktifkan makrofag dan menginduksi inflamasi. Pada DTH, kerusakan jaringan disebabkan oleh produk makrofag yang diaktifkan seperti enzim hidrolitik, oksigen reaktif intermediat, oksida nitrat, dan sitokin proinflamasi. DTH dapat juga terjadi sebagai respon terhadap bahan yang tidak berbahaya dalam lingkungan seperti nikel yang menimbulkan dermatitis kontak. Pada keadaan yang paling menguntungkan DTH berakhir dengan hancurnya mikroorganisme oleh enzim lisosom dan produk makrofag lainnya seperti peroksid radikal dan superoksid. DTH dapat merupakan reaksi fisiologik terhadap patogen yang sulit disingkirkan misalnya M. Tuberkulosis. T Cell Mediated Cytolysis Dalam T Cell Mediated Cytolysis, kerusakan terjadi melalui sel CD8 yang langsung membunuh sel sasaran. Penyakit yang ditimbulkan hipersensitivitas selular cenderung terbatas kepada beberapa organ saja dan biasanya tidak sistemik. Manifestasi klinisnya antara lain dermatitis kontak, diabetes insulin dependen, artritis reumatoid, sklerosis multipel, infeksi, dll.

KESIMPULAN

Alergi atau hipersensitivitas adalah kegagalan kekebalan tubuh di mana tubuh seseorang menjadi hipersensitif dalam bereaksi secara imunologi terhadap bahan-bahan yang umumnya nonimunogenik. Dengan kata lain, tubuh manusia bereaksi berlebihan terhadap lingkungan atau bahan-bahan yang oleh tubuh dianggap asing atau berbahaya. Bahan-bahan yang menyebabkan hipersensitivitas tersebut disebut allergen. Reaksi hipersensitivitas non spesifik yaitu Respon imun nonspesifik umumnya merupakan imunitas bawaan (innate immunity) dalam arti bahwa respon zat asing dapat terjadi walaupun tubuh sebelumnya tidak pernah terpapar pada zat tersebut, sedangkan respon imun spesifik merupakan respon didapat (acquired) yang timbul terhadap antigen tertentu. Reaksi hipersensitivitas spesifik adaalah system kekebalan yang diaktifkan oleh kekebalan tubuh nonspesifik dan merupakan system pertahanan tubuh yang ketiga. Ciricirinya: Bersifat selektif terhadap bendaasing yang masuk ke dalam tubuh. Sistem reaksi ini tidak memiliki reaksi yang sama terhadap semua jenis benda asing, Memiliki kemampuan untuk mengingat infeksi sebelumnya, Melibatkan pembentukan sel-sel tertentu dan zat kimia ( antibody ), Perlambatan, waktu antara eksposur dan respon maksimal. Reaksi hipersensitivitas menurut waktu :

Reaksi cepat : Terjadi dalam hitungan detik, menghilangdalam 2 jam. Antigen yang diikat Ig e padapermukaan sel mast menginduksi pelepasan mediator vasoaktif.Manifestasi reaksi cepat berupa anafilaxissistemik atau anafilaxis lokal seperti asma,pilek-bersin, urtikaria dan eksim. Reaksi intermediat : Terjadi setelah beberapa jam dan menghilang dalam 24 jam. Reaksi ini melibatkan pembentukan kompleks imun Ig G dan kerusakan jaringan melalui aktivasi komplemen. Reaksi lambat: Reaksi lambat terlihat sampai sekitar 48 jam setelah pajanan dengan antigen.Pada DTH yang berperan adalah sitokinyang dilepas sel T yang mengaktifkanmakrofag dan menimbulkan kerusakan jaringan. Contoh : dermatitis kontak, reaksiMycobacterium tuberculosis dan reaksipenolakan graft. Reaksi Hipersensitivitas menurut mekanisme : Reaksi hipersensitivitas oleh Robert Coombs dan Philip Gell (1963) dibagi dalam 4 tipe reaksi berdasarkankecepatan dan mekanisme imun yang terjadi yaitu tipe I, II,III dan IV. Tipe I: Hipersensitivitas cepat (Anafilaktik) Tipe II : Hipersensitivitas sitotoksik Tipe III : Hipersensitivias kompleks imun Tipe IV : Hipersensitivitas lambat (berperantara sel)

Anda mungkin juga menyukai