Anda di halaman 1dari 9

MAKALAH BIOTEKNOLOGI KLONING DOLLY

Dosen Pengampu Prof.Dr.rer.nat.Sajidan, M, Si.

Disusun oleh KELOMPOK 3 1 2 3 4 5 ADHIN SETYO WINARKO KELIK ADI CAHYONO MAIA ISTANTI RINA RUSDIANA WAHYUTI MAYANGSARI X430701 1 X430703 8 K430703 6 X430704 8 K430701 2

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA 2009 A. Latar Belakang Cloning berasal dari kata yunani kuno, clone yang berarti ranting atau cangkokan. Dalam bahasa Inggris, clone (klona) digunakan untuk menyebut sekelompok makhluk hidup yang dilahirkan tanpa proses seksual. Istilah clone (klona) pertama diusulkan oleh Herbert Webber (1903). Klon adalah sekumpulan organisme identik yang berasal dari satu sumber. Teknik cloning merupakan bagian terpenting dari teknologi DNA rekombinan. Teknik ini meliputi tiga tahap yaitu insersi atau ligasi, transformasi dan seleksi. Insersi atau ligasi adalah pemasukan atau penyisipan DNA yang diinginkan kedalam suatu vektor, transformasi adalah memasukkan DNA rekombinan ke dalam suatu komponen (misal, E. coli), sedangkan seleksi adalah pemilihan sel-sel yang mengandung DNA rekombinan (Widiyanti, 2008). Pada tahun 1952, Robert Brigs dan Thomas J. King (AS) mencoba teknik cloning pada katak. Sepuluh tahun kemudian (1962) John B. Gurdon juga mencoba teknik cloning pada katak, namun percobannya menghasilkan banyak katak yang abnormal atau cacat. Gurdon kemudian menyempurnakan percobaannya seperti berikut : Pertama-tama dia mentransplantasikan inti sel kulit ke dalam sel telur yang intinya sudah dikeluarkan atau dihilangkan, kemudian menumbuhkannya sampai terbentuk embrio. Kemudian dia memisahkan sel-sel embrio itu dan mentransplantasikan inti sel embrio itu ke dalam sel telur katak lain yang inti selnya sudah dibuang. Individu hasil kloning tumbuh dari sel telur itu. Percobaan ini menghasilkan banyak katak yang tumbuh normal dan perkembang menjadi dewasa. Pada tahun 1986 Steen Willadsen (Inggris) mengklona sapi dengan tujuan komersial dengan metode transfer inti. Dia bekerja sama dengan lembaga Grenada Genetics. Pada tahun 1996, Ian Willnut mengklon domba. Dia menggunakan sel kelenjar susu domba finn dorset sebagai donor inti sel dan sel telur domba blackface sebagai resepien. Sel telur domba blackface dihilangkan intinya dengan cara menghisap

nukleusnya keluar dari selnya menggunakan pipet mikro. Kemudian, sel kelenjar susu domba findorset difusikan dengan sel telur blackface yang tanpa nukleus. Hasil fusi ini kemudian berkembang menjadi embrio dalam tabung percobaan dan kemudian dipindahkan ke rahim domba blackface. Kemudian embrio berkembang dan lahir dengan ciri-ciri sama dengan finn dorset. Domba hasil kloning ini diberi nama Dolly. Dolly disuntik mati pada tanggal 14 februari 2003 karena menderita berbagai penyakit yang sulit disembuhkan. Perlu diperhatikan bahwa Willnut melakukan 227 percobaan cloning. Sekian banyak percobaan, hanya 29 yang berhasil menjadi embrio domba yang dapat ditransplantasikan ke rahim domba, dan hanya satu yang berhasil dilahirkan menjadi domba normal. Dengan demikian, tingkat keberhasilan cloning domba masih sangat rendah.
B. Sejarah Kloning dan Fertilisasi Buatan

Domba Dolley bukanlah kasus yang pertama kali dalam hal ini. Banyak sekali eksperimen dan riset yang telah dilakukan oleh para ilmuwan. Hanya saja, kasus kloning domba Dolley yang paling banyak diekspos oleh media, sehingga ia dianggap sebagai satu keberhasilan dan kemajuan ilmu pengetahuan yang tiada duanya. Untuk menekankan hal di atas, berikut ini beberapa urutan (daftar) sejarah kloning: a. Tahun 1938, seorang genolog (ahli tentang gen) berkebangsaan Jerman, Hans Samyan mengadakan sebuah eksperimen penggabungan benih sel (embrio) seekor katak dengan sel indung telur (ovary) yang dicabut (dicopot/dibuang) sel benihnya. b. Tahun 1944, sebuah keberhasilan dalam mengadakan pembuahan (fertilisasi) di luar rahim. c. Tahun 1949, penemuan metode penggunaan gliserol untuk memelihara/menjaga sperma, dengan cara dibekukan (dikentalkan). d. Tahun 1951, sebuah keberhasilan dalam menciptakan kehamilan pada seekor sapi, dengan cara memasukkan sperma ke dalam rahim sapi yang lain.

e. Tahun 1952, kelahiran seekor domba dengan menggunakan sperma yang dibekukan/dikentalkan.
2

f. Tahun 1952, sebuah keberhasilan awal dalam proses kloning seekor katak. Ini merupakan usaha pertama dalam masalah kloning dengan menggunakan sel-sel gen (cells of gene) dengan menggunakan sel tubuh yang sudah dewasa, seperti yang terjadi pada domba Dolley. g. Tahun 1953, pembuahan (fertilisasi) sel telur wanita pertama dengan menggunakan sperma yang telah dibekukan/dikentalkan yang diperoleh dari sebuah bank sperma. Kemudian wanita tersebut mengandunghamil sebagaimana biasa wanita hamildan akhirnya melahirkan seorang anak. h. Tahun 1959, kelahiran seekor kelinci melalui proses bayi tabung. i. Tahun 1962, seorang researcher (al baahits, peneliti), Jhon Garden, mengkloning katak pertama-yang berhasil dengan sempurna- dari seekor brudu (cebong, anak katak) yang sudah dewasa. j. Tahun 1970, keberhasilan proses kloning dua ekor tikus dari gen yang dibuahi (feritized gene). k. Tahun 1972, kelahiran domba pertama dari gen yang dibuahi dan

dibekukan/dikentalkan. l. Tahun 1978, kelahiran bayi tabung pertama, yang diberi nama Louis Brown di Inggris melalui usaha Dr.Setbeto dan Dr.Edward. m. Tahun 1979, keberhasilan kloning kambing untuk pertama kalinya, dari sel sperma dan sel telur (ovum) melalui proses kloning secara aseksual. n. Tahun 1984, kelahiran bayi Australia pertama, Zewiy dari sel telur yang dibuahi dan dibekukan.

o. Tahun 1993, keberhasilan proses percobaan kloning pertama pada gen manusia di universitas George Washington di Amerika dari sperma yang telah sempurna dan dibuahi dari beberapa sel sperma yang fertil dan memiliki sel telur (ovum) oleh usaha Dr. Scilman dan Dr. Haul. Namun, bayi tersebut hanya dapat hidup selama enam hari. p. Tahun 1996, kesuksesan awal dalam kloning tanpa melalui proses seksual.Tahun ini 3 juga awal lahirnya kloning domba Dolley. q. Kelahiran anak kembar pertama dari kera Rezos yang diberi nama Neto dan Deto. Keduanya merupakan hewan mammalia (menyusui) yang mirip dengan manusia. Keberhasilan ini diumumkan pada bulan Maret tahun 1997-beberapa minggu setelah keberhasilan kloning domba Dolley. C. PEMBAHASAN Dolly adalah anak domba yang lahir tanpa kurang suatu apapun, walaupun itu bermula dari sebuah sel telur kosong yang diisi dengan nukleus sel kelenjar susu ibunya. Sejak lahirnya domba Dolly tanggal 5 Juli 1996 di Roslin Institute, Edinburgh, Skotlandia, kata "kloning" tiba-tiba melanda dunia. Kata ini sebenarnya sudah lama dipakai dalam bidang biologi, namun tidak pernah dipublikasikan sedemikian maraknya sampai foto anak domba kecil dari jenis Finn Dorset ini ada di setiap halaman muka surat kabar terkemuka di dunia. Tidak seperti domba normal lainnya yang memiliki separuh informasi genetika si ayah dan separuh dari si ibu, setiap sel di tubuh Dolly menyimpan kode genetis yang sama persis dengan ibunya. Bisa juga dikatakan Dolly adalah kembar dari si ibu yang terlambat lahir 6 tahun lamanya (sama dengan umur si ibu pada saat itu). Namun setelah hidup hanya 6 tahun (umur domba biasanya mencapai 11-12 tahun), Dolly mati muda disebabkan penyakit paru-paru yang biasanya menyerang domba-domba yang lanjut usia. Dolly juga mengidap penyakit arthritis, mengerasnya sendi-sendi dan engsel tulang , lagi-lagi penyakit yang biasa ditemukan pada domba yang sudah mulai uzur. Mekanisme Kloning Dolly Teknologi transfer inti sel atau kloning menurut Robinson (2001) merupakan produksi satu atau lebih tanaman atau hewan individual yang secara genetik identik debgan tanaman atau hewan yang lainnya. Klon sendiri diartikan sebagi sekumpulan organisme yang identik yang diturunkan dari suatu induk tunggal (Voet an Voet 1995).

Teknologi transfer inti sel dibagi menjadi dua jenis atau tipe berdasarkan tujuan yang ingin dicapainya, yaitu teknologi transfer inti sel reproduktif cloning dan teknologi transfer inti sel therapeutic (Robinson, 2001). Teknologi therapeutic cloning (cloning untuk pengobatan) adalah kita memproduksi sel yang dapat berkembang menjadi berbagai jenis sel untuk seluruh organ tubuh, atau memproduksi sel yang dapat berkembang menjadi individu baru. Cloning Dolly termasuk teknologi transfer inti sel reproduktif cloning. Pada tipe reproduktif, DNA yang berasal dari sel telur menusia atau hewan dihilangkan dan diganti dengan DNA yang berasal dari sel somatik (kulit, rambut, dan lain-lain) hewan atau manusia dewasa yang lain. Berikut ini disajikan gambar dan tahap mekanisme kloning :

Gambar mekanisme kloning Dolly Tahap mekanisme kloning Dolly :

a. Sel kelenjar susu domba finn dorset sebagai donor inti dan sel telur domba blackface sebagai resepien. b. Sel telur domba blackface dihilangkan intinya dengan cara menghisap nukleusnya keluar dari selnya menggunakan pipet mikro. c. Kemudian, sel kelenjar susu domba finn dorset difusikan dengan sel telur blackface yang tanpa nukleus dengan mengunakan arus listrik. d. Hasil fusi ini kemudian berkembang menjadi embrio dalam tabung percobaan dan kemudian dipindahkan kerahim domba blackface. e. Kemudian embrio berkembang di dalam rahim domba blackface sampai siap dilahirkan. f. Setelah mengandung normal, klon lahir dengan ciri-ciri sama yang dimiliki domba donor intinya yaitu finn dorset. Yang kemudian di beri nama Dolly. Penelitian sesudah kematiannya, menunjukkan bahwa Dolly memiliki telomer yang lebih pendek daripada domba normal seusianya. Telomer adalah bagian yang melindungi ujung-ujung kromosom (bundelan rantai DNA) yang memendek setiap kali sebuah sel membelah, atau boleh dikatakan setiap saat individu itu bertumbuh. Dolly dikloning dari domba yang berusia 6 tahun dan hasil penelitian ini seolah-olah menunjukkan bahwa tubuh Dolly sudah berumur 6 tahun pada saat dilahirkan. Dolly si domba, mamalia pertama di dunia yang terlahir melalui proses kloning, mati pada Jumat (14/2). Domba yang baru berusia enam tahun dan berita kelahirannya menjadi berita utama sejumlah media massa itu disuntik mati akibat penyakit yang dialami pada paru-parunya. Dolly telah mati. Saya dapat memastikan itu, kata juru bicara Institut Roslin di Skotlandia, institut yang menciptakan Dolly enam tahun lalu. Dr Harry Griffin, kepala institut, mengatakan bahwa infeksi pada paru-paru jamak dialami oleh domba dewasa. Domba dapat hidup hingga 11 atau 12 tahun dan infeksi paru-paru biasa menyerang domba-domba yang telah tua, terutama lagi dipelihara di dalam domba-domba yang

kandang tertutup, kata dia. Dolly telah disuntik mati untuk menghilangkan beban penyakitnya, dan Griffin berjanji akan memberikan laporan apabila ada temuan-temuan yang signifikan sesudahnya (Tempo Interaktif, Jakarta). Kelemahan cloning Dolly, Hingga saat ini kita lebih banyak mendengar hal-hal negatif dari kasus-kasus kloning. Rata-rata hasil kloning memiliki penyakit fatal seperti kebutaan, gagal fungsi organ tubuh, sakit paru-paru. Bahkan saking parahnya, si hewan sakit terpaksa disuntik mati (euthanasia). Domba kloning yang beken ini terpaksa dibunuh karena menderita sakit paru-paru akut yang susah disembuhkan. Dolly juga menderita arthritis dan reumatik yang umumnya dialami makhluk berusia lanjut. Setelah diselidik, ternyata sel stem Dolly diambild ari domba yang sudah berusia 6 tahun. Itu artinya ketika lahir, sebenarnya Dolly sudah berumur enam tahun. Karena usia makhluk diukur berdasar usia sel tubuhnya. Jadi wajar saja, meski masih balita, Dolly sudah mengalami-sakitdomba-lanjut-usia. Meski demikian, harapan terhadap kloning ini ada. Teknik ini diharapkan bisa menyelamatkan hidup lebih banyak manusia di masa yang akan datang. Organ-organ tubuh bisa ditranplantasi dengan teknik ini. Bagi yang gagal ginjal, bisa mengkloning ginjalnya untuk kebutuhan pencangkokan ginjal. Untuk yang sakit leukimia, bisa mengkloning tulang sumsum untuk mengobatinya. Selain itu juga ada harapan, untuk penyakit-penyakit yang sampai kini susah dicari obatnya seperti AIDS, bisa dicari penyembuhannya melalui teknik kloning. Efek positif inilah yang membuat organisasi Clonaid, sebuah sekte yang berharap dapat hidup lama, gencar mengampanyekan kloning. Menurut mereka, berkat kloning manusia bisa hidup setidaknya selama 150-180 tahun. Sebab, menurut penelitian, diketahui, telomer (usia hidup sel yang berarti juga usia hidup makhluk) berkemungkinan bisa diperpanjang. Eksperimen yang dilakukan Advanced Cell Technology pada sapi menunjukkan, telomer sapi kloning mereka lebih panjang 3,5 hingga 5 kali dari sapi normal. Itu artinya peningkatan umur sel mencapai 50%. Bila sapi normal usia hidupnya sekitar 20 tahun, usia sapi eksperimen ini (berdasarkan panjang telomernya) diperkirakan 28 tahun. Diperkirakan, hal seperti ini pun bisa diberlakukan terhadap kloning manusia. DAFTAR PUSTAKA Widiyanti, Tuti dan Y. Ulung Anggraito. 2008. Diktat Biologi Molekular. Semarang : UNNES.
7

Wuragil/Reuters/BBC. Tempointeraktif Dolly. Domba Hasil Kloning, Akhirnya Mati Muda, 16 Februari 2003.
http://budidaryono.blog.ugm.ac.id/2009/10/08/dilema-di-balik-upaya-kloning-padamanusia/

http://www.shantybio.transdigit.com/?Biologi_-_Genetika:Kloning_Domba_Dolly http://id.shvoong.com/exact-sciences/biology/1769019-kenapa-domba-kloning-berumurpendek/ http://priyonoscience.blogspot.com/2009/04/dampak-penggunaan-hewan-hasilrekayasa.html http://www.synapses.co.uk/science/clone.html http://www.manitoulin.com/cloning/cloning_dolly.htm