Anda di halaman 1dari 13

Pengaruh Neutropenia terhadap Terjadinya Penyakit Periodontal Maulia Septiari (04101004013) Dosen pembimbing : drg. Shanty Chairani, M.

Si

Abstrak Neutropenia didefinisikan sebagai pengurangan mutlak jumlah neutrofil dalam sirkulasi darah di katakan neutropenia apabila memiliki jumlah neutrofil dibawah 1,5 G / l pada anak di atas 1 tahun, dan di bawah 2 G / l pada anak usia antara 2 dan 12 bulan. Neutrofil merupakan sel utama yang bertanggung jawab untuk pertahanan host perhadap infeksi bakteri. Kehilangan pertahanan neutrofil seperti yang terjadi pada neutropenia memodifikasi periodontitis terutama melalui pengaruhnya terhadap kekebalan tubuh yang normal dan pertahanan terhadap terjadinya inflamasi. Makalah ini memfokuskan pengaruh dari nutropenia terhadap pertahanan host pada jaringan periodontal dimana jaringan ini selalu terpapar bakteri. Sejumlah gangguan sistemik meningkatkan kerentanan pasien terhadap penyakit periodontal, dimana keadaan tersebut berkembang lebih cepat dan lebih agresif. Jika kadar PMNs menurun hebat, maka akan terjadi hiperplasia peradangan secara menyeluruh dan eritema. Jika dibiarkan, dan diperburuk dengan adanya faktor lokal seperti plak, karang gigi akan mengakibatkan hilangnya tulang alveolar, goyangnya gigi dan tanggalnya gigi secara dini. Lesi oral pada neutropenia terdiri dari ulserasi yang biasanya melibatkan mukosa gingiva, mungkin karena kolonisasi bakteri yang besar pada area itu dan trauma kronis yang diterima. Kata kunci: neutropenia, periodontitis, neutropil, penyakit sistemik Pendahuluan Periodontitis adalah infeksi bakteri kronis pada struktur pendukung gigi. Respon host terhadap infeksi merupakan faktor penting dalam menentukan tingkat dan keparahan penyakit periodontal. Faktor sistemik memodifikasi periodontitis terutama melalui pengaruhnya

terhadap mekanisme kekebalan dan inflamasi normal. Beberapa kondisi dapat menimbulkan kejadian yang mengakibatkan prevalensi meningkat dari keparahan gingivitis dan periodontitis. Efek dari sejumlah besar penyakit sistemik pada periodontitis tidak jelas dan sering sulit untuk dihubungkan dengan kausal penyakit seperti menjadi gingivitis atau periodontitis. 1 2

Sejumlah gangguan sistemik meningkatkan kerentanan pasien terhadap penyakit periodontal, dimana juga berkembang lebih cepat dan lebih agresif. Faktor-faktor yang mendasari terutama terkait dengan perubahan dalam kekebalan tubuh, endokrin dan status jaringan tulang.1 Perubahan ini terkait dengan patologi yang berbeda dan sindrom yang dihasilkan pada penyakit periodontal baik sebagai manifestasi primer atau sebagai kondisi yang memperparah kondisi yang sudah ada sebelumnya yang disebabkan faktor lokal. Di sinilah peran plak bakteri diperdebatkan.3 Beberapa penulis menganggap bahwa penyakit periodontal tidak dapat diinduksi tanpa kehadiran plak dan karang gigi, dan menyarankan bahwa kecenderungan sistemik hanya mempercepat kehancuran yang disebabkan oleh agen bakteri. Namun, yang lainnya menganggap bahwa tidak ada bukti yang konsisten menunjukkan bahwa plak bakteri nonspesifik menyebabkan proses semacam ini, karena tidak ada hubungan sebab-akibat didirikan antara jenis plak bakteri dan tingkat keparahan kerusakan periodontal.1 2 6 Mikrobiota dalam plak gigi sebagai inisiator penyakit periodontal tapi apakah itu mempengaruhi dalam sebuah kasus yang berbeda, apa bentuk penyakit dan bagaimana

perkembangannya tergantung pada pertahanan host. Pengembangan dan evolusi dari penyakit periodontal sebagian besar tergantung pada respon kekebalan host, integritas jaringan, imunitas humoral dan seluler, dan pada endokrin tertentu dan faktor gizi. Faktor lain juga telah berhubungan dengan penyakit periodontal, seperti usia, lokasi dalam mulut yang lebih rentan terhadap infeksi (gigi seri dan geraham pertama terkait flora tertentu), dan spesies bakteri beton (Captosinofaga, Actinomyces naeslundi, Actinobacillus actinomycetemcomitans) 1 2 3 Faktor sistemik memodifikasi periodontitis terutama melalui pengaruhnya terhadap kekebalan tubuh yang normal dan pertahanan terhadap terjadinya inflamasi. Contoh dari faktor sistemik adalah penurunan angka atau fungsi leukosit polimorfonuklear (PMN) yang menghasilkan tingkat penyerangan bakteri meningkat, dan tingkat keparahan periodontal terahadap kehancuran (neutropenia).1 2 Neutropil merupakan sel utama yang bertanggung jawab untuk pertahanan host perhadap infeksi bakteri. Kehilangan pertahanan neutrofil, baik karena jumlah kekurangan atau fungsi, sangat penting sebagai predisposisi dalam infeksi bakteri seperti periodontitis. Neutropenia terjadi akibat penurunan kehadiran neutrofil (SCN atau IGA), atau dengan perubahan dalam fungsi sel-sel ini. Pasien predisposisi SCN atau IGA sangat rentan terhadap

infeksi bakteri dan jamur, karena terjadinya penurunan kehadiran neutrofil mengubah kapasitas pertahanan tuan rumah. Selain itu, penurunan terlihat dalam produksi koloni merangsang faktor granulosit dan juga dapat diamati - dengan kemotaksis neutrofil yang berubah terkait dengan infeksi kronis berulang.7 Neutropenia Neutropenia seperti anemia bukan merupakan penyakit tapi merupakan tanda dari suatu kelainan. Infeksi seperti hepatitis A dan B, parvovirus, HIV dan cytomegalovirus dihubungkan dengan neutropenia. Adapaun etiologi dari neutropenia meliputi1 3 4 6 8 9 : 1. Malnutrisi Penurunan jumlah neutrofil dikaitkan dengan defisiensi vitamin b12 dan asam folic, 2. menstrual cycle, 3. adanya certain infeksi menyebabkan neutropenia karena adanya perpindahan migrasi ke jaringan yang rusak (Direct toxic efek dari mikroorganisme), 4. inveksi virus, hepatitis A dan B, parvovirus, HIV-1 dan cytomegalovirus, 5. congenital (bawaan). Contoh, kostmann sindrome, Schwaman Diamond Syndrome, dyskeratosis, congenital, cartilage hair syndrpome, severe congenital neutropenia 6. Radiasi kemoterapy 7. Obatan-obatan seperti benzene dan alcohol. Increasingly, more commonly used drugs such as antibiotic, analgesic, and antihistamine diidentifikasikan sebagai penyebab yang berpotenssi menyebabkan neutropenia. Namun, penyebabnya tidak berhubungan dengan dosisnya tetapi immunologic reaction yang mempengaruhi sumsung tulang. Atau inherited atau bawaan untuk metabolize obat tersebut secara tepat. 8. Obat-obatan : obat antimetabolik, antibiotik, sitotoksik dan idiosyncrasi. Obat-obatan ini berinterferensi dengan DNA sintesis, protein sintesis atau mitosis. Obat-obat pada cancer kemoterapi, benzene dan alkohol yang menyebabkan toksik neutropenia. Dapat meningkat pada penggunaan berlebih analgesik, antibiotik dan antihistamin Obat-obat yang mempengaruhi produksi neutrofil 8 9: Antikanker kemoterapik agent ( nitrogen mustard, busulfan, chlorambucil, cyclophospamid ) Antibiotic ( penicillin, sulfonamides ) Phenotiazines

Tranquilizer Diuretics

Kekurangan vitamin B12 atau folat juga mengurangi produksi neutrofil. Virus yang berpengaruh dalam produksi neutrofil 1 6 9: Hepatitis A dan B Rubella Measles Respiratory Syncitial Virus Varicella HIV

Bakteri yang berpengaruh dalam produksi neutrofil 8 9: Thypiod TBC Brucellosis Tularemia Neutrofil memainkan peran penting dalam mekanisme pertahanan tuan rumah terhadap infeksi bakteri. Ada 3 umum pedoman yang digunakan untuk mengklasifikasikan tingkat keparahan neutropenia berdasarkan pada jumlah neutrofil absolut (ANC) yang diukur dalam sel per mikroliter darah7: (i) neutropenia ringan (1000 ANC <1500) - minimal risiko infeksi, (ii) neutropenia sedang (500 ANC <1000) - moderat risiko infeksi, (iii) neutropenia berat (ANC <500) berat risiko infeksi. Neutropenia didefinisikan sebagai pengurangan mutlak jumlah neutrofil dalam sirkulasi darah. Standar ini yang didapatkan dari pemeriksaan hematologi dengan cara menghitung sel mikroskopis, yang diperlukan untuk mengkonfirmasi gangguan teridentifikasi dalam penghitung sel otomatis dan terutama untuk memeriksa keadaan morfologi sel. Menurut hasil yang didapatkan seseorang di katakana menderita neutropenia apabila

memiliki jumlah neutrofil dibawah 1,5 G / l pada anak di atas 1 tahun, dan di bawah 2 G / l pada anak usia antara 2 dan 12 bulan.4 7 Pada bayi yang baru lahir jumlah neutrofil terdeteksi mengalami peningkatan selama dua bulan hidup pertama. Peningkatan jumlah selama 72 jam pertama, diikuti dengan penurunan bertahap sampai usia dua bulan. Pada neonatus jumlah neutrofil dilaporkan berkisar dari 12 G / l untuk 15 G / L, tergantung pada penelitian, sementara prematur (<32 minggu) dikaitkan dengan jumlah yang lebih rendah.4 Neutropenia dikatakan parah ketika di bawah 0,5 G / L dan kronis jika berlangsung lebih dari 3 bulan, hal tersebut belum dapat dikatakan apakah termasuk neutropenia intermiten atau neutropenia permanen. Penting untuk menekankan bahwa perubahan jumlah neutrofil merupakan fluktuasi fisiologis , yang dapat di temukan menjadi tidak beraturan dan dapat juga bersifat non random. Ada juga nycthemeral dan tergantung variasi musiman, yang dapat bertahan dalam situasi yang patologis. Dengan demikian, neutropenia idealnya harus dikonfirmasi pada tiga sampel per minggu selama 6-minggu.4 Neutropenia dikatakan permanen ketika hadir dalam semua sampel, ataupun berselang jika ada periode normal yang terdeteksi secara spontan, dan dikatakan siklik jika hal tersebut berulang terjadi sekitar setiap 21 hari sekali (neutropenia sinusoidal sempurna dengan siklus 21-hari sekali ini hampir tidak pernah terlihat dalam praktek).4 Hanya satu penelitian telah difokuskan pada periodisitas dalam pasien dengan diagnosis neutropenia "siklik", berdasarkan pada penghitungan seri. Jadi, lebih baik untuk menggunakan istilah "neutropenia permanen" dan "neutropenia intermiten", sementara mengingat bahwa ada sebuah kontinum antara dua ekstrem, sebagai proses patologis yang menyebabkan neutropenia mempengaruhi variasi periode dan kedalaman nadir. Neutropenia dikatakan "pusat" ketika tulang kompartemen sumsum habis, seperti yang ditunjukkan dari adanya kekurangan dalam tahap pematangan akhir (terutama <10% dari neutrofil matang) dan "pinggiran" jika pematangan neutrofil dalam ttulang sumsum normal (Gambar 1). 3 4 7 Monocytosis, hypereosinophilia dan hypergammaglobulinemia poliklonal

berhubungan dengan neutropenia

adalah berbanding terbalik dengan beratnya. Sebuah

kompensasi Peran monosit dapat menjelaskan klinis yang baik terhadap toleransi dari beberapa bentuk neutropenia konstitusional.5

Sumber : Jean Donadieu, Odile Fenneteau, Blandine Beaupain, Nizar Mahlaoui3 and Christine Bellann Chantelot. Congenital neutropenia: diagnosis, molecular bases and patient management. Donadieu et al. Orphanet Journal of Rare Diseases 2011, 6:26

Neutropenia merupakan penemuan yang relatif sering, sementara neutropenia bawaan sangat langka. Neutropenia kadang-kadang merupakan sebuah temuan sekunder pada pasien dengan gangguan yang lebih signifikan, yang dapat beresiko menjadi komplikasi dari infeksi. 4 Hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik dapat mengungkapkan etiologi tertentu dari suatu neutropenia, seperti infeksi virus atau hemopathy ganas, penyebab iatrogenik, atau defisiensi imun, penjamin investigasi khusus lebih lanjut.5 Dalam pengaturan mendesak non permanen, intermiten atau sifat regresif neutropenia yang harus ditentukan selama periode pengamatan beberapa minggu, jumlah infeksi dan perubahan jaringan (koreng, radang gusi, dll) harus dicatat, karena mereka dapat membantu dalam menentukan sumber etiologi penyebab neutropenia. Pemeriksaan sumsum tulang sering diperlukan untuk melihat suatu keganasan hemopathies, menentukan cellularity, menilai pematangan myeloid, dan mendeteksi tanda-tanda etiologi yang tepat.3 4 Granulopoiesis adalah proses fisiologis dari siirkulasi neutrofil yang diproduksi dan diatur. Polimorfonuklear neutrofil atau granulosit (disebut sebagai 'neutrofil') bertanggung jawab, bersama dengan sel monocytic, sebagai agen kekebalan terhadap bakteri dan jamur, berdasarkan fagositosis dan pelepasan protease, peptida antimikroba dan reaktif spesies oksigen. Neutrofil juga berperan dalam peradangan dan penyembuhan.4

Pematangan pada tahap promyelocyte sering terkait dengan sumsum tulang dan hypereosinophilia monocytosis. Secara morfologi, beberapa aspek yang benar-benar khas dari etiologi tertentu. Spesifik hemophagocytosis dari neutrofil adalah tanda neutropenia autoimun muda anak-anak, sedangkan granulasi sitoplasmik adalah sugestif dari penyakit Chediak Higashi.5 Congenital Neutopenia Pemeriksaan dekat literatur menunjukkan bahwa istilah "Neutropenia bawaan" tidak digunakan secara homogen. "neutropenia bawaan" dalam bentuk parah tidak terkait dengan imunologi atau kelainan ekstra hematopoietic, sementara definisi yang lebih luas mencakup semua situasi yang terdiri neutropenia kronis, dengan atau tanpa kelainan imunologi atau ekstra hematopoeitic. Dengan demikian, beberapa penulis mengaitkan penyakit penyimpanan glikogen Ib, sindrom Shwachman-Diamond, WHIM-sindrom, dan penyakit Barth dalam definisi neutropenia bawaan. 4 Dekripsi klinis Neutropenia pusat membawa risiko jauh lebih tinggi bagi terserangnya bakteri dan infeksi jamur daripada neutropenia perifer. Di neutropenia pusat risikonya rendah pada jumlah di atas 1 G / l, dan cukup meningkat antara 1 dan 0,2 G / l dan sangat tinggi di bawah 0,2 G / l. Risiko infeksi juga tergantung pada durasi neutropenia, dengan risiko infeksi jamur meningkat setelah beberapa minggu.4 Data diperoleh sekitar 30 tahun lalu di leukemia pasien dan baru-baru di cangkok sumsum tulang penerima. Pada penderita neutropenia di temukan infeksi khusus yang sangat bervariasi seperti 4 7 8 9 : Malaise ( sakit kepala, discomfort, muscle aches) Infeksi Swelling and pus minimal Fever Mucosa ulcers, tachycardia, acute pharingytis Limfadenopathy manifestasi rongga mulut Secara intraoral, terdapat perubahan-perubahan peradangan gusi dan ulserasi mukosa dengan karakteristik lebar, oval dan menetap.Tempat dan ukurannya pun juga bervariasi, kadang di gingiva cekat, kadang di lidah dan mukosa pipi.

Jika kadar PMNs menurun hebat, maka akan terjadi hiperplasia peradangan menyeluruh dan eritema. Jika dibiarkan, akan diperburuk dengan adanya faktor lokal seperti plak, karang gigi dan akan mengakibatkan hilangnya tulang alveolar, goyangnya gigi dan tanggalnya gigi secara dini. Lesi oral pada neutropenia terdiri dari ulserasi yang biasanya melibatkan mukosa gingiva, mungkin karena kolonisasi bakteri yang besar pada area itu dan trauma kronis yang diterima. Ulser tersebut mempunyai karakteristik kekurangan erythematous periphery. 6 8 9

Sumber: Theml H, Diem H, Haferlach T: Color Atlas of Hematology: Practical Microscopic and Clinical Diagnosis, 2nd ed, Thieme. 2004

Respon Neutrofil : Fagositosis dan pembunuhan intraseluler Neutropil merupakan sel utama yang bertanggung jawab untuk pertahanan host perhadap infeksi bakteri. Neutrofil mengenali bakteri melalui molekul diturunkan yang terikat pada permukaan bakteri (opsonins - IgG, C3b) dan memfagosit mikroorganisme melalui invaginasi dari membran plasma, yang membungkus mikroba melalui phagosome. Phagosomes mengalami fusi dengan organel lain untuk membentuk phagolysosomes, yang merupakan struktur khusus untuk membunuh mikroba melalui pengasaman muatan dan pelepasan anti bakteri molekul dari inti neutrofil. Untuk membunuh mikroba, neutrofil dapat menggunakan kedua oksigen-independent atau oksigen-dependent. Oksigen-dependent membunuh bakteri tergantung pada generasi oksigen reaktif intermediet (ROI,) melalui aksi dari sistem oksidase NADPH. Oksigen-independen membunuh bakteri bergantung pada armamentarium dari microbicidal molekul yang terkandung dalam tiga set inti neutrofil sitoplasma : primer (butiran azurophilic), sekunder (spesifik), dan gelatinase-containing. Tunggal , atau kombinasi sarana - oksigen beracun dan radikal nitrogen, peptida kationik yang mengganggu membran dari mikroba, dan enzim yang larut sebagai penyerang yang patogen sehingga menyebabkan kematian mikroba. 5

Peradangan merupakan pemulihan jaringan yang sehat. Karena peradangan akut ditandai dengan kelimpahan infiltrasi neutrofil, eliminasi, dan pemulihan angka normal leukosit jaringan, merupakan langkah penting dalam perkembangan ke arah perbaikan jaringan. Oleh karena itu, kerusakan normal neutrofil dari periodonsium secara teoritis merupakan predisposisi nonhealing peradangan kronis, seperti yang ditemukan dalam periodontitis. 5 8 Neutrofil dan inflamasi lesi periodontal Lesi periodontal ini ditandai dengan proporsi inflamasi sel dan struktur vascular yang besar. Neutrofil mendominasi pada awal lesi periodontal yang menjadi ciri radang gusi, namun proporsi relative neutrofil dalam inflamasi menyusup menurun selama masa transisi menjadi periodontitis sedangkan sel plasma dan limfosit dominan. Dilaporkan bahwa plasma sel menduduki 31% dari periodontititis yang lesi volume, sedangkan proporsi limfosit bervariasi antara 5% dan 10%. Makrofag dan neutrofil ditemukan pada kepadatan 1-2% dan fibroblas pada 5% (Berglundh & Donati 2005).5 Neutrofil dapat sangat penting selama transisi dari gingivitis menjadi periodontitis. Selain itu, neutrofil mungkin memainkan peran kunci dalam pathogenesis periodontitis dalam celah gingiva dan dalam epitel, dimana sel-sel tersebut merupakan sel inflamasi dominan. Pada awalnya respon neutropil tidak spesifik terhadap organisme plak gigi (baik patogen dan non-patogen) memungkinkan bakteri patogen, seperti Porphyromonas gingivalis, untuk berkembang biak dan menyerang, pengaturan panggung untuk transisi dari gingivitis menjadi periodontitis.5 Gangguan neutrofil sebagai predisposisi periodontitis Neutrofil adalah sel fagosit yang paling penting, melindungi host terhadap infeksi bakteri dan invasi. Gangguan yang mempengaruhi jumlah neutrofil atau fungsi sangat mempengaruhi individu terhadap infeksi. Gangguan neutrofil dapat dibagi kepada hal-hal yang mempengaruhi jumlah neutrofil, kemotaksis neutrofil, dan berbagai fungsi fisiologis neutrofil setelah bermigrasi ke lokasi peradangan. Penelitian secara alami menunjukan gangguan neutrofil dapat berhubungan dengan jalur biokimia yang menghasilkan manifestasi klinis dari penyakit.5 Demikian gangguan fungsional neutrofil mempengaruhi kulit berulang, pernapasan, dan infeksi periodontal. Hal tersebut merupakan fakta bahwa cacat kuantitatif atau kualitatif pada fungsi neutrofil dapat menyebabkan kerusakan periodontal yang parah, hal ini mendukung peran sentral dari sel-sel yang melindungi periodonsium di bidang kesehatan, ketika beban bakteri konstan hadir.
4

Identifikasi cacat molekul dalam biokimia

sel yang menyebabkan neutrofil dan disfungsi fisiologis dari sel-sel tersebut telah meningkatkan pemahaman kita tentang bagaimana diaktifkan neutrofil sehingga dapat aktif dalam situs inflamasi, dan bagaimana dapat menghasilkan produk beracun yang menghancurkan bakteri.5 Hubungan antara periodontitis parah dengan penurunan jumlah sirkulasi neutrofil didokumentasikan dengan baik dalam literatur. neutropenia kronik benigna, neutropenia idiopatik kronis, dan cogenital kronis neutropenia, semuanya terkait dengan periodontitis. Studi-studi intervensi mendukung pusat peran neutrofil dalam melindungi host dari kerusakan periodontal. Pada pengamatan hewan dengan deplesi neutrofil, mendukung peran pelindung neutrofil dalam periodontitis. Metotreksat neutropenia (7-9 minggu) meningkatkan resorpsi tulang alveolar secara segnifikan diinduksi lesi periodontal pada tikus. Metotreksat adalah inhibitor umum metabolisme folat dan akan menghambat kecepatan pembagian sel. Peningkatan ukuran lesi periodontal mungkin karena populasi sel lain, atau efek lainnya seperti efek anti-sitokin. 5 Individu dengan perhitungan neutrofil yang normal, namun memiliki gangguan fungsi neutrofil dapat juga cenderung dapat menyebabkan periodontitis. Salah satu yang contoh mencolok adalah defisiensi adhesi leukosit syndrome (LAD) (Meyle 1994). Dimana Selama prosesnya, neutrofil yang beredar ditangkap dan mulai bersatu bersama dinding di daerah yang terinfeksi, dengan menggunakan selektin adhesi molekul dan ligan masingmasing.
9

Sinyal dari dinding pembuluh yang terkena menginduksi adhesi neutrofil ke

dinding. Proses adhesi tergantung pada integrins, transmembran reseptor khusus untuk sel anchoring dengan matriks sekitarnya kesel lainnya. Neutrofil menyebar dan mulai berjalan di sepanjang dinding pembuluh sampai mereka menemukan situs optimal untuk ekstravasasi ke dalam jaringan. Gangguan rekrutmen kaskade sel darah putih secara kolektif disebut LAD. Secara klinis, ada penyimpangan dalam fungsi leukosit, dan pasien yang terkena memiliki infeksi bakteri berulang. 5 Mungkin contoh yang paling menonjol dari eksperiment cacat neutrofil yang dapat meningkatkan periodontitis pada hewan degan ditemukannya cacat dalam lisosomal terkait membrane protein-2 (LAMP-2). Terganggunya pematangan Phagosomal dan pembentukan phagolysosome pada neutrofil dari LAMP-2-pada tikus. Dalam penelitian tersebut terdapat perubahan-perubahan yang sangat mencolok terlihat kerusakan tulang alveolar pada awal kehidupan meskipun infiltrasi dari jumlah neutrofil ke periodonsium tinggi. Kekurangan

oksidatif neutrofil burst normal dalam LAMP-2- pada tikus, menunjukkan adanya bakteri melalui mekanisme non-oksidatif yang merupakan faktor predisposisi utama menjadi periodontitis pada hewan-hewan (Beertsen et al. 2008). 5 Pembahasan Kehilangan pertahanan neutrofil, baik karena jumlah kekurangan

atau fungsi, sangat penting sebagai predisposisi dalam infeksi bakteri seperti periodontitis.2 Neutropenia terjadi akibat penurunan kehadiran neutrofil (SCN atau IGA), atau dengan perubahan dalam fungsi sel-sel ini. Pasien predisposisi SCN atau IGA terhadap infeksi bakteri dan jamur, karena terjadinya penurunan kehadiran neutrofil mengubah kapasitas pertahanan tuan rumah.7 Selain itu, penurunan terlihat dalam produksi koloni merangsang faktor granulosit dan juga dapat diamati - dengan kemotaksis neutrofil yang berubah terkait dengan infeksi kronis berulang.3 6 Sebagai hasil dari fase neutropenia, temuan hematologis bisa mengungkapkan peningkatan jumlah trombosit, monosit, limfosit, eosinofil, dan retikulosit. Neutropenia merupakan predisposisi bagi ifeksi pernapasan atau muco-kutan bakteri dan dalam beberapa kasus dilaporkan hampir sama dengan otitis media dan infeksi saluran pernapasan atas. Hal ini menunjukan manifestasi yang serupa, tetapi kurang parah, bagi mereka sering dilaporkan oleh pasien yang menderita agranulositosis.2 Malaise umum, demam, limfadenopati, dan oral ulserasi adalah temuan yang sangat umum yang di temukan pada penderita neutropenia. Periodontitis yang parah dan ulserasi oral dilaporkan hadir dalam beberapa kasus yang di catat, sementara itu ulserasi mungkin merupakan manifestasi oral yang jarang ditemukan hanya sekitar 20% ditemukan pada pasien.2
3 9

Lesi mukosa dapat mempengaruhi setiap bagian dari mukosa oral selama fase

neutropenia dan menyebabkan nyeri dan perusakan yang sangat intens. Gingivitis dan periodontitis yang parah ditemukan pada pasien siklik neutropenia dan mungkin mempengaruhi dentitions permanen.9 Di literatur internasional, periodontitis parah terusmenerus dicatat pada penderita neutropenia siklik, sementara itu laporan kasus ini ditandai dengan adanya lesi periodontal yang menunjukkan bahwa penurunan yang signifikan dari neutrofil leukosit polymorphonucleate dapat dikaitkan dengan lesi periodontal yang sedang.4 Meskipun ada penurunan yang jelas dalam pertahanan tuan rumah disebabkan oleh penipisan neutrofil dalam familial neutropenia kronis, periodontitis tidak selalu dapat

terelakkan. Pada sebuah keluarga dengan keluarga neutropenia kronis jinak. Mereka menunjukkan bahwa, meskipun beberapa individu dalam keluarga ini mengalami

neutropenia, tidak semua dipengaruhi baik oleh infeksi berulang atau dengan inflamasi penyakit periodontal. Satu saudara dengan neutropenia yang bebas dari penyakit periodontal memiliki kebersihan mulut yang baik. Sedangkan saudaranya dengan neutropenia, memiliki kebersihan mulut yang buruk, memiliki keadaan mulut dengan edema gingiva dan awal generalisasi periodontitis. Temuan ini dapat dijelaskan oleh ekspresi variabel dari gangguan antara saudara kandung atau oleh interaksi lingkungan faktor (misalnya, kebersihan mulut) pada gangguan genetik.3 7 Dengan adanya perubahan imun seluler secara kualitatif ataupun kuantitatif, penyakit periodontal merupakan manifestasi awal baik secara lokal maupun umum dalam beberapa kasus yang berat terkait adanya plak dan / atau bakteri tertentu (neutropenia bawaan yang parah atau genetik infantil agranulositosis, Chediak-Higiashi sindrom, sindrom Down dan Papillon-Lefevre syndrome).1
2

Dengan adanya perubahan kekebalan humoral, kerusakan

periodontal dapat terjadi secara tidak langsung sebagai akibat dari perubahan dalam sistem lain. Dalam banyak kasus, tidak cukup untuk membuat pernyataan yang pasti tentang hubungan antara faktor-faktor sistemik tertentu dengan terjadinya periodontitis. 2 4 5 Kesimpulan Mikroba dalam plak gigi merupakan etiologi utama agen penyakit periodontal kronis inflamasi tetapi bentuk sebenarnya dari perkembangan penyakit tergantung pada pertahanan tuan rumah dalam hal ini. Gangguan sistemik atau faktor sistemik dapat mengubah pertahanan normal dari jaringan dimana mikroba timbul lebih agresif karena pertahanan host berkurang sehingga mempengaruhi pola penyakit periodontal. Individu dengan kekurangan neutropil kuantitatif (neutropenia) atau kualitatif (chemotactic atau fagositosis) menunjukan dampak yang berbeda bagi sistem imunitasnya. Individu dengan kekurangan neutrofil (nutropenia) menunjukkan kerusakan yang berat pada jaringan periodontal, hasil penelitian menunjukan bahwa PMN penting bagi komponen dari respon protektif host untuk gigi plak. Kekurangan kuantitatif umumnya disertai dengan penghancuran jaringan periodonsium dari semua gigi sedangkan cacat kualitatif sering berhubungan dengan kerusakan lokal yang hanya mempengaruhi yang periodonsium gigi tertentu.

Refrensi

1. Nualart-Grollmus ZC, Morales-Chvez MC, Silvestre-Donat FJ. Periodontal disease associated to systemic genetic disorders. Med Oral Patol Oral Cir Bucal 2007;12:E211-5. 2. DF Kinane, GJ Marshall. Periodontal manifestasion of systemic disease. Australia Dental Journal 2002; 46: (1) :2-12 3. Yukie Nakai, DDS, PhD Chikako Ishihara, DDS Sagiri Ogata, DDS Tsutomu Shimono, DDS, PhD. Oral Manifestations of Cyclic Neutropenia in a Japanese Child: Case Report With a 5-year Follow-up. Pediatric Dentistry journal. 2003:25:383-388 4. Jean Donadieu, Odile Fenneteau, Blandine Beaupain, Nizar Mahlaoui3 and Christine Bellann Chantelot. Congenital neutropenia: diagnosis, molecular bases and patient management. Donadieu et al. Orphanet Journal of Rare Diseases 2011, 6:26 5. Nussbaum G, Shapira L: How has neutrophil research improved our understanding of periodontal pathogenesis? J Clin Periodontol 2011; 38 (Suppl. 11): 4959. 6. Newman, et al. Carranzas clinical periodontology 10th edition. St. Louis, Missouri: Saunders Elsevier, 2006. 7. SergioMatarasso, Vincenzo Daniele, Vincenzo Iorio Siciliano, Michele D.Mignogna, Gianmaria Andreuccetti, and Carlo Cafiero. The Effect of Recombinant Granulocyte Colony-Stimulating Factor on Oral and PeriodontalManifestations in a Patient with Cyclic Neutropenia: A Case Report. Hindawi Publishing Corporation. International Journal of Dentistry. Volume 2009, Article ID 654239, 6 pages 8. Neville, Damm, Allen, Bouquot. 2002. Oral and Maxillofacial Pathology Second Edition. Philadelphia : WB Saunders Company. 9. Theml H, Diem H, Haferlach T: Color Atlas of Hematology: Practical Microscopic and Clinical Diagnosis, 2nd ed, Thieme. 2004