Anda di halaman 1dari 5

TOLAK UKURTOKSISITAS

Toksikologi merupakan ilmu yang mempelajari dan mencakup berbagai efek kualitatif maupun kuantitatif zat beracun dalam diri makhluk hidup. data kualitatif dan kuantitafif biasanya diperoleh dari hasil uji ketoksikan zat beracun pada sekelompok hewan tertentu, dan diterapkan guna memperkirakan resiko timbulnya kejadian sesuatu efek toksik pada diri manusia. Tolok Ukur Ketoksikan Kuantitatif Dasar Pemikiran : Pernyataan Paracelsus (1493-1541): Pada hakekatnya tidak ada zat kimia yangtidak beracun; yang membedakan antararacun atau tidak adalah takaranpemejanannya Kekerabatan antara kondisi pemejanan(ubahan bebas) dan wujud efek/responstoksik (ubah tergantung) Tolak ukur kuantitatif utama : 1. Kekerabatan antara dosis dan responsatau waktu dan respons banyak digunakan

2. Kekerabatan antara dosis dan efek atauwaktu dan efek. http://www.scribd.com/doc/46150897/Presentasi-Toksikologi-Part-2

TERAPI ANTIDOT Adalah : Suatu tatacara yang secara khusus ditujukan untuk membatasi intensitas efek toksik zat kimia atau untuk menyembuhan si penderita dari efek toksik yang ditimbulkanya, sehingga mencegah bahaya selanjutnya. TUJUAN TERAPI Membatasi penyebaran racun di dalam tubuh dan meningkatkan pengakhiran aksi racun didalam tubuh SASARAN TERAPI Penurunan atau penghilangan efek toksik Tindakan pertama dalam penanganan kasus keracunan akut zat kimia adalah TERAPI SUPORTIF, yakni memelihara fungsi vital seperti : Pernafasan buatan mekanis untuk memelihara oksigenasi

Pemeliharaan sirkulasi darah, keseimbangan elektrolit Pemeliharaan fungsi ginjal

TERAPI KERACUNAN ABC Airway: intubasi Breathing: oksigen, mask Circulation: koreksi cairan, keseimbangan asam-basa & tekanan darah Pencegahan absorpsi lebih lanjut: Bila melalui kulit, cuci dengan air & sabun Bila melalui inhalasi, letakkan di ruangan yang segar Bila ditelan: Rangsang muntah: sentuh tenggorokan (tidak boleh pada keracunan zat korosif & minyak tanah, tidak sadar) Bilas lambung: hanya bila pasien sadar, dalam 4 jam setelah zat kimia ditelan Pencahar Norit (arang aktif) 1 gr/kg Pemberian Antidotum: Antidotum mekanis Antidotum kimia Antidotum fisiologis Sesuai gejala: Bila kejang, berikan antikejang Bila syok, berikan cairan IV Bila infeksi, berikan antibiotika Tindakan lain: Transfusi total Dialisis Diuresis paksa KERACUNAN CO & CO2 Gejala: Mual, frekuensi nafas & denyut jantung meningkat, nyeri kepala, konfusio, penurunan kesadaran Penatalaksanaan: Jauhkan dari sumber CO Berikan oksigen KERACUNAN ALKOHOL

Gejala: Mual, muntah, depresi SSP Penatalaksanaan: Berikan terapi simtomatik Berikan tiamin KERACUNAN INSEKTISIDA Gejala: Anoreksia, sakit kepala, pusing, lemah, tremor lidah dan kelopak mata, miosis, penglihatan kabur, mual-muntah, hipersalivasi, lakrimasi, kram perut , diare, sesak, sianosis, kejang, koma Penatalaksanaan: Kumbah lambung Injeksi atropin sulfat iv sampai atropinisasi Simtomatik/suportif KERACUNAN SIANIDA Gejala: Nyeri kepala, mual, muntah, sianosis, kejang, koma Penatalaksanaan: Natrium tiosulfat Natrium nitrit Dasar dalam menangani kasus keracunan : Mencegah pemaparan yang lebih lanjut terhadap racun Mengeluarkan racun yang belum diabsorbsi Penggunaan antidotum Mengeluarkan racun yang sudah sempat diabsorbsi Pengobatan simptomatik http://farmakologi.files.wordpress.com/2010/02/toksikologi.pdf Penggunaan antidotum Antidotum mekanis mis : - banyak makan - albumin telur - zat arang Antidotum kimia mis : - Asam lemah dan basa lemah - Jeruk nipis - PK - Antidotum universal Antidotum fisiologis mis : - fisostigmin atau neostigmin - bemegrid Alfi Yasmina

- nalorfin - barbiturate Antidotum Dimerkaprol (2,3-dimerkaptopropanol) - diberikan dalam lar. 10% minyak kacang - bekerja dengan cara mencegah pengikatan logam - indikasi : As, Hg, Cd, Pb pada anak2 - efek samping : hipertensi dan takikardi, sakit kepala, mual muntah, dll Penisilamin (D- dimetil sistein) - D-isomer relatif kurang toksik dibandingkan L-isomer - indikasi : Cu, terapi tambahan pada keracunan Pb, Hg, As - efek samping : defisiensi piridoksin, reaksi alergi (bagi pasien alergi penisilin) Polidentat 1. Dinatrium Kalsium Edetat - indikasi : Pb - efek samping : toksik terhadap ginjal - kedinginan, demam, mual, muntah, dll 2. Trientin (trietilentretamin HCl) - indikasi : Cu - efek samping : bersifat teratogenik 3. Deferoksamin - indikasi : Fe, toksisitas Al pada gagal ginjal - efek samping : syok hipotensif, neurotoksisitas, dll Zat-zat beracun Timah hitam (Pb) Darah :anemia mikrositik hipokromik sering terjadi Sistem saraf : neuropati perifer, ensefalopati Ginjal : kerusakan interstisial pada ginjal, gout akut, kerusakan ginjal dan hipertensi Organ reproduksi : penurunan fertilitas pada wanita, strelisasi dan atrofi pada pria Sal.pencernaan : hilang nafsu makan, nyeri kolik abdomen dan konstipasi Arsen (As) Bersifat korosif pada lapisan epitel sal.pernafasan dan sal.cerna, kulit dan

jaringan lain Akut :mual yang hebat, muntah, nyeri abdomen, iritasi kulit, laryngitis dan bronchitis Kronik : perforasi septum nasal, iritasi kulit, neuropati sensori, rambut rontok, depresi sumsum tulang, dll Merkuri (Hg) Akut : Nyeri dada dan nafas pendek, rasa logam pada lidah, mual dan muntah. Kerusakan ginjal akut dapat ditemukan kemudian Kronik : Gingivitis, perubahan warna gusi dan rontoknya gigi Pengobatan Timah hitam (Pb) Segera hentikan pemaparan Keracunan berat digunakan kalsium dinatrium EDTA secara iv dosis 8 mg/kgBB, pada anak2 digunakan dimerkaprol 2,5 mg/kgBB secara im Arsen (As) Menjauhkan penderita dari paparan Induksi muntah atau bilasan lambung, pada kasus berat diberikan dimerkaprol 35 mg/kgBB secara im setiap 4 jam selama 48 jam, diteruskan setiap 12 jam selama 10 Hari Merkuri (Hg) Hentikan paparan pada penderita Dimerkaprol diberikan 3-5 mg/kgBB secara im selama 4-48 jam, kemudian setiap 12 jam selama 10 hari Bila ditemukan kerusakan ginjal, diperlukan hemodialisis http://farmakologi.files.wordpress.com/2008/11/toksikologi-dasar-pskm.pdf Rina Astiyani Jenah Ssi,Apt