Anda di halaman 1dari 5

PEMETAAN TEMATIK GEOLOGI TEKNIK PALEMBANG DAN SEKITARNYA KABUPATEN MUSI BANYUASIN SUMATRA SELATAN

Oleh : Tri Endah Utami, Alwin Darmawan dan Hermawan

1. Wilayah administrasi Daerah kerja mencakup wilayah Kab. Musi Banyuasin dan Palembang. Secara geografis o o terletak pada koordinat 104150 - 105400 BT dan 1 3612 - 3 1059 LS, secara administratif di selatan dibatasi oleh wilayah Kab. Muara Enim, di sebelah timur Kab. Ogan Komering Ilir, mencakup 5 lembar peta topografi skala 1 : 250.000, yaitu Lembar Jambi, Palembang, Pangkalpinang, Lahat dan Toboali.

2. Sifat fisik dan keteknikan tanah dan batuan Lanau endapan Aluvium (Qa), berupa endapan sungai, terdiri dari lanau hingga lempung yang tersebar secara dominan di permukaan dan di bawahnya berupa lempung pasiran, tebal keseluruhan (data bor tangan) rata-rata mencapai 5,00 meter. Pada umumnya yang mendasari endapan aluvium di sekitar aliran S. Musi adalah batu lempung dari Formasi Airbenakat (Tma). Lanau, di beberapa tempat lempung, berwarna kuning kecoklatan hingga kuning keabuan, plastisitas sedang, teguh, setempat mengandung material organik. Di beberapa tempat nilai penetrometer saku (qu) antara 1,75 - 2,25 kg/cm2; nilai tekanan konus (nilai sondir) antara 6,00 2 15 kg/cm . Lempung berwarna merah kecoklatan hingga merah, setempat mengandung pasir hingga kerikil, plastisitas sedang - tinggi, teguh - kaku, nilai tekanan konus (nilai sondir) antara 2 10,00 - 20,00 kg/cm . Nilai tekanan konus pada batu lempung berkisar antara 10,00 - > 150,00 2 kg/cm . Secara umum formasi ini mempunyai tingkat kekuatan tanah dan batuan sangat rendah, penyebarannya setempat-setempat pada tekukan (meander) Air Musi dan di tengah daerah pemetaan di antara Air Calik dan Air Banyuasin. Hasil analisa laboratorium mekanika tanah dari contoh tanah di permukaan pada beberapa lokasi adalah: Gs= 2,520 -2,643; m= 3 2 1,599 - 1,639 g/cm ; Wn= 38,69 - 40,92 %; grup simbol MH; c= 0,159 - 0,279 kg/cm ; = 20,35 2 2 21,11; Cv= 0,00042 cm /det; Cc= 0,500; Cs= 0,115; = 0,75 kg/cm . Lempung Endapan Rawa (Qs),terdiri dari lempung hingga lanau yang tersebar secara dominan di permukaan, ke arah bawah terdapat lanau hingga lempung mengandung material organik, selanjutnya lempung dengan lensa pasir dan lempung yang lebih konsisten hingga kedalaman lebih kurang 20,00 m (data sondir dan bor tangan). Lempung hingga lanau, ketebalannya antara 2,00 - 3,00 m, berwarna kelabu kemerahan hingga kuning kemerahan, sangat lunak - teguh, plastisitas rendah - menengah, di beberapa tempat nilai penetrometer saku (qu) antara 0,75 2 2,25 kg/cm2 dengan nilai tekanan konus (nilai sondir) antara 1,00 - 25,00 kg/cm . Lanau hingga lempung, ketebalannya antara 3,00 - 6,00 m (data bor tangan) berwarna kelabu kecoklatan hingga kehitaman, mengandung pasir dan material organik, plastisitas rendah, sangat lunak 2 lunak, nilai tekanan konus (nilai sondir) antara 1,00 - 10,00 kg/cm . Lempung ketebalannya 1,00 - 4,00 m, berwarna kelabu putih hingga kelabu gelap, plastisitas rendah - sedang, sangat lunak 2 lunak, nilai tekanan konus (nilai sondir) antara 5,00 - 15,00 kg/cm dan lensa pasir ketebalan 0,50 - 2,00 m, berbutir halus - sedang, sangat lepas - lepas, nilai tekanan konus (nilai sondir) 2 antara 3,00 - 15,00 kg/cm . Terakhir yang paling bawah adalah lempung dengan ketebalan antara 2,00 sampai lebih dari 5,00 m, berwarna abu-abu, plastisitas sedang - tinggi, teguh 2 kaku, nilai tekanan konus (nilai sondir) antara 10,00 - 80,00 kg/cm . Secara umum formasi ini mempunyai tingkat kekuatan tanah dan batuan sangat rendah, penyebarannya paling luas yaitu melampar dari utara hingga tengah dan bagian timur daerah pemetaan. Hasil analisa laboratorium mekanika tanah dari contoh lempung hingga pasir di permukaan pada beberapa 3 lokasi adalah: Gs= 2,616 - 2,685; m= 1,507 - 1,709 g/cm ; Wn= 23,24 - 76,65%; grup simbol 2 2 CH, SP; c= 0,028 - 0,271 kg/cm ; = 5,93 - 24,68; Cv= 0,00044 - 0,00067 cm /det; Cc= 0,074 2 1,280; Cs= 0,009 - 0,195; = 0,80 - 1,50 kg/cm .

Batu Pasir Tufaan Formasi Kasai (Qtk), Formasi ini didominasi oleh batu pasir tufaan yang

berselingan dengan tufa dan terdapat sisipan lapisan bahan organik. Batu pasir tufaan umumnya melapuk menengah - tinggi, kuning kecoklatan, berbutir halus - kasar, berkomponen kuarsa, mineral hitam, batu apung dan kaca gunung api, kurang padu dan mudah hancur, tebal lapisan antara 0,50 - 0,80 m. Tufa umumnya melapuk tinggi, putih kecoklatan, berbutir halus kasar, terdiri dari komponen mineral hitam, pecahan batuan beku dan batu apung, kurang padu dan mudah hancur, tebal lapisan rata-rata 0,40 m. Bahan organik, terdiri material kayu, berukuran lempung hingga lanau, coklat kehitaman, lunak dan mudah hancur, tebal lapisan rata-rata 0,20 m. Secara umum formasi ini mempunyai tingkat kekuatan tanah dan batuan rendah, penyebarannya di bagian di tengah daerah pemetaan. Di bagian atas terdapat tanah pelapukan berupa lanau pasiran, tebal antara 0,50 - 1,00 m, berwarna kelabu kuning kecoklatan, mengandung material organik dan kerikil batuan dan kuarsa, berukuran 0,50 - 3,00 cm, membulat tanggung, plastisitas rendah, teguh, di beberapa tempat nilai penetrometer saku (qu) antara 2,00 2,75 kg/cm. Hasil analisa laboratorium mekanika tanah dari contoh lanau di 3 permukaan pada beberapa lokasi adalah: Gs= 2,645 2,648; m= 1,744 2,015 g/cm ; Wn=20,44 36,34 %; grup simbol CL - MH; c= 0,031 0,390 kg/cm; = 17,79 19,19. Batu Lempung Formasi Muaraenim (Tmpm),Formasi ini didominasi oleh batu lempung yang umumnya melapuk menengah - tinggi. Batu lempung berwarna abu-abu kemerahan sampai abu-abu putih, berlapis tidak jelas dan sebagian terdiri dari lapisan-lapisan tipis yang menyerpih, agak keras, terdapat urat-urat konkresi berwarna merah kehitaman, keras dan arahnya tidak beraturan. Secara umum formasi ini mempunyai tingkat kekuatan tanah dan batuan rendah, penyebarannya di bagian tengah dan baratdaya, meliputi daerah Talang Bahusin dan Tebing Abang. Di bagian atas terdapat tanah penutup berupa lanau dan lempung di bagian bawahnya (data pemboran tangan). Lanau, abu-abu kecoklatan sampai kemerahan, plastisitas sedang, teguh, mengandung kerikil batuan terkonkresi, berukuran 0,50 - 7,00 cm, segar, menyudut tanggung dan menghalus ke arah atas, tebal lapisan tanah antara 0,20 - 1,20 m. Di beberapa tempat nilai penetrometer saku (qu) antara 2,00 3,25 kg/cm, nilai tekanan konus (nilai sondir) antara 10,00 28,00 kg/cm. Lempung, merah keabuan, lunak - teguh, plastisitas sedang tinggi, mengandung kerikil terkonkresi, agak lapuk, berukuran 0,50 - 3,00 cm, menyudut tanggung, terdiri dari kayu dan batu, tebal lapisan tanah rata-rata 1,00 m. Di beberapa tempat nilai penetrometer saku (qu) antara 1,75 2,80 kg/cm, nilai tekanan konus (nilai sondir) antara 8,00 16,00 kg/cm. Hasil analisa laboratorium mekanika tanah dari contoh tanah di permukaan 3 pada beberapa lokasi adalah: Gs= 2,576; m= 1,655 g/cm ; Wn= 29,79%; Grup simbol CH; c= 2 2 0,376 kg/cm; = 14,39; Cv= 0,00054 cm /det; Cc= 0,195; Cs= 0,071; = 1,80 kg/cm . Batu Lempung dan Serpih Formasi Airbenakat (Tma), Formasi ini didominasi oleh batu lempung berselingan dengan serpih dan lanau yang sebagian bersifat tufaan. Batu lempung melapuk rendah - menengah, berwarna abu-abu kecoklatan hingga putih kemerahan, berlapis tidak jelas, agak keras hingga mudah patah. Lanau melapuk menengah, berwarna coklat kemerahan, agak keras. Serpih melapuk rendah, berlapis baik, berwarna abu-abu tua hingga abu-abu kecoklatan, agak keras - keras, terdapat perulangan sisipan tipis batuan terkonkresi (tebal antara 1,00 - 3,00 cm), berwarna merah kehitaman, keras sebagian mudah pecah dan dijumpai jalur urat konkresi yang memotong perlapisan. Secara umum formasi ini mempunyai tingkat kekuatan tanah dan batuan rendah - menengah, penyebarannya di bagian selatan memanjang dari barat ke timur, meliputi daerah sekitar Lubuk Karet, Lubuk Lancang, Talang Rimboalai, Pangkalan Panji, Pulau, Talangbetutu hingga Sukarami. Di bagian atas terdapat tanah penutup berupa lempung hingga lempung lanauan, tebal (data pemboran tangan) antara 0,50 - 2,00 m, berwarna kuning kecoklatan hingga coklat kemerahan, teguh, plastisitas rendah - sedang, mengandung kerikil terkonkresi, keras, berukuran 0,20 - 5,00 cm, menyudut tanggung, terdiri dari kayu dan batu, setempat dijumpai sisipan pasir dengan tebal kurang lebih 20,00 cm, berbutir sedang, coklat, padat dan material organik tebal kurang lebih 10,00 cm, berwarna abu-abu kehitaman, agak keras. Di beberapa tempat nilai penetrometer saku (qu) pada lempung lanauan antara 2,25 3,00 kg/cm, nilai tekanan konus (nilai sondir) antara 10,00 35,00 kg/cm. Nilai tekanan konus (nilai sondir) pada batu lempung hingga serpih berkisar antara 30,00 > 150,00 kg/cm. Hasil analisa laboratorium mekanika tanah dari contoh tanah di permukaan pada beberapa lokasi 3 adalah: Gs= 2,611 2,759; m= 1,618 1,817 g/cm ; Wn= 22,77 39,21 %; Grup simbol ML MH, CH; c= 0,009 0,439 kg/cm; = 10,74 21,10. Pada batu lempung adalah: Gs= 2,649; 3 m= 1,744 g/cm ; Wn= 32,46%; Grup simbol CH; c= 0,081 kg/cm; = 16,53. Batu Lempung Karbonat Formasi Gumai (Tmg), Formasi ini didominasi oleh batu lempung karbonat, yang ke arah bawah menjadi lanau hingga batu pasir halus gampingan dengan

sisipan batu pasir dan lempung. Batu lempung karbonat melapuk rendah - menengah, berwarna abu-abu putih sampai abu-abu kecoklatan, agak keras dan sebagian mudah hancur, terdapat perulangan sisipan tipis urat konkresi (tebal rata-rata 10,00 cm), berwarna merah kehitaman, keras. Lanau hingga batu pasir halus gampingan, berwarna putih kecoklatan, berlapis baik, terdapat torehan-torehan akibat proses pelarutan, terdapat sisipan batu pasir dan lempung. Batu pasir berbutir halus - sedang, tebal antara 10,00 - 20,00 cm, kuning kecoklatan, agak padu, agak keras, mengandung butiran kuarsa. Lempung, berwarna abu-abu kehijauan, agak keras, sebagian mudah pecah (menyerpih). Secara umum formasi ini mempunyai tingkat kekuatan tanah dan batuan menengah, penyebarannya di daerah Talang Jauh hingga Serdang dan di Air Batu. Di bagian atas terdapat tanah penutup berupa lempung lanauan, tebal (data pemboran tangan) antara 0,50 - 2,00 m, berwarna abu-abu kemerahan, plastisitas rendah- sedang, teguh, terdapat lapisan batuan terkonkresi, merah kehitaman, keras, tebal antara 15,00 - 30,00 cm, di beberapa tempat nilai penetrometer saku (qu) pada lempung lanauan antara 1,75 2,75 kg/cm dan nilai tekanan konus (nilai sondir) berkisar antara 4,00 > 30,00 kg/cm. Nilai tekanan konus (nilai sondir) pada batu lempung berkisar antara 10,00 > 150,00 kg/cm. Hasil analisa laboratorium mekanika tanah dari contoh tanah di permukaan pada beberapa lokasi 3 adalah: Gs= 2,648 2,745; m= 1,707 1,833 g/cm ; Wn= 20,65 21,62 %; Grup simbol CH ML; c= 0,036 0,075 kg/cm; = 22,79 26,39. Batu Pasir kuarsa Formasi Talangakar (Tomt), Formasi ini didominasi oleh batu pasir kuarsa yang berselingan dengan batu lempung. Pada batu pasir kuarsa terdapat sisipan batu pasir gampingan dan pada batu lempung terdapat sisipan batu pasir dan batu bara, sedangkan bawah terdapat batu pasir. Batu pasir kuarsa melapuk menengah - tinggi, berlapis kurang baik, berwarna abu-abu kecoklatan sampai kemerahan, berbutir halus- kasar, agak padu - padu, sebagian mudah hancur, mengandung kerikil kuarsa dan kerikil batuan terkonkresi, keras, membulat tanggung - menyudut tanggung, berukuran 0,50 - 5,00 cm, sisipan tipis batu pasir gampingan, abu-abu kehitaman, agak padat dan agak keras. Batu lempung, melapuk tinggi menengah, abu-abu terang sampai putih, agak keras, mengandung butiran kuarsa halus kasar, sisipan tipis batu pasir (tebal rata-rata 50,00 cm), kuning kecoklatan, berbutir halus kasar, mengandung kerikil kuarsa, agak padu, agak keras, sebagian mudah hancur, sisipan tipis batuan terkonkresi (tebal rata-rata 5,00 cm), keras dan setempat sisipan tipis gambut (tebal kurang lebih 15,00 cm), abu-abu kehitaman, mudah hancur. Batu pasir yang berada di bagian bawah melapuk menengah - rendah, padu, agak keras - keras, berbutir halus, memperlihatkan perlapisan tipis sejajar (laminasi), perlapisan tipis (tipis antara 2,00 - 20,00 cm), setempat terkekarkan kuat, terdapat perulangan sisipan tipis batuan terkonkresi (tebal antara 1,00 - 7,00 cm) dan inklusi batu pasir yang hampir membulat berukuran 20,00 - 60,00 cm. Secara umum formasi ini mempunyai tingkat kekuatan tanah dan batuan menengah, penyebarannya di sekitar Tanjunglaut dan Airbatu. Di bagian atas terdapat tanah pelapukan berupa lanau lempungan pasir lempungan, coklat kemerahan, tebal antara 0,50 - 3,00 m, teguh, plastisitas rendah sedang, mengandung kerikil kuarsa, berukuran 0,20 - 3,00 cm, membulat tanggung - membulat, setempat membentuk lapisan tipis kerikil kuarsa, di beberapa tempat nilai penetrometer saku (qu) antara 1,75 2,50 kg/cm. Hasil analisa laboratorium mekanika tanah dari contoh tanah di 3 permukaan pada beberapa lokasi adalah: Gs= 2,620 2,741; m= 1,717 1,948 g/cm ; Wn= 13,12 35,34%; Grup simbol CL, ML, SC - SM; c= 0,004 0,337 kg/cm; = 15,41 24,60. 3. Daya dukung tanah pondasi dan perosokan tanah Daya dukung pondasi dangkal pada masing-masing formasi adalah: pada endapan aluvial (Qa) 2 2 nilainya sekitar 9,60 ton/m , endapan rawa (Qs) nilainya berkisar antara 0,80 - 6,40 ton/m , 2 Formasi Muaraenim (Tmpm) nilainya sekitar 10,40 ton/m , Formasi Airbenakat (Tma) nilainya 2 berkisar antara 10,40 - 13,60 ton/m , Formasi Gumai (Tmg) nilainya berkisar antara 9,60 - 20,00 2 ton/m . Daya dukung pondasi dalam (tiang pancang) pada endapan rawa pada kedalaman 5,00 m berkisar antara 1,676 - 6,067 ton/tiang; kedalaman 10,00 m berkisar antara 1,458 - 21,404 ton/tiang; sedangkan pada kedalaman 15,00 m berkisar antara 9,336 - 54,560 ton/tiang. Penurunan muka tanah ( perosokan tanah ) pada endapan rawa berkisar antara 0,165 - 8,561 cm. 4. Masalah geologi teknik Tanah lunak dan penurunan tanah Merupakan lapisan tanah yang berupa lempung dan lanau yang mengandung material organik serta tanah organik (berada di bagian atas) dengan konsistensi sangat lunak - lunak, atau pasir yang mempunyai kepadatan relatif sangat urai - urai, yang mempunyai nilai tekanan konus (nilai

sondir) kurang dari 10 kg/cm . Secara alamiah mempunyai kadar air dalam tanah yang tinggi, letak muka air tanah dangkal dan juga kurang mengalami pembebanan, sehingga sifat mekanisnya buruk dan tidak mampu untuk memikul beban. Sifat lapisan tanah lunak ini gaya gesernya kecil, kemampatannya (kompresibilitas) besar dan koefisien permeabilitas yang kecil, sehingga apabila pembebanan konstruksi melampaui daya dukung kritis, maka akan terjadi kerusakan tanah pondasi. Tetapi meskipun intensitas beban itu lebih kecil dari daya dukung kritis, maka dalam jangka waktu yang lama besarnya penurunan akan bertambah. Gejala kerusakan tanah pondasi atau penurunan tidak hanya akan menyebabkan konstruksi itu tidak berfungsi, melainkan dapat mengakibatkan permukaan tanah di sekelilingnya menjadi naik atau turun dan terjadi penurunan muka air tanah atau penggenangan air (banjir).Untuk membangun di atas lapisan tanah lunak, masalah teknis yang dipertimbangkan adalah daya dukung (bearing capacity) dan penurunan (settlement). Hal ini sangat bergantung pada jenis konstruksi, bisa saja tidak memerlukan penyelidikan daya dukung, tetapi sebaliknya dalam menghadapi kemungkinan perbedaan penurunan tidak digunakan pondasi langsung, tetapi menggunakan pondasi tiang yang mencapai lapisan tanah keras, tentunya diperlukan biaya konstruksi yang lebih besar. Pada umumnya lapisan tanah lunak dijumpai di bawah lapisan paling atas (top soil), hal ini disebabkan lapisan paling atas yang ketebalannya rata-rata 1.00 meter dapat berupa tanah timbunan yang telah mengalami perkerasan baik adanya beban permukaan ataupun kadar airnya lebih kecil dari pada lapisan di bawahnya, sehingga lapisan di bagian atas relatif lebih keras. Berdasarkan pada pengamatan di lapangan, tanah lunak ini berupa lempung, lempung organik dan lempung lanauan, yang seluruhnya merupakan tanah endapan rawa. Fenomena tanah lunak ini cukup jelas, yaitu berdasarkan pada penyondiran dan pemboran tangan pada daerah yang dibangun oleh endapan rawa. Indikasinya dijumpai pada lokasi sondir S2 (Jl. Musi II) dari kedalaman 1,20 m hingga kedalaman 10,00 m (tebalnya 8,80 m); S3 (13 Hilir) dari muka tanah hingga kedalaman 6,00 m; S10 (Tanjunglaut) dari muka tanah hingga kedalaman 8,40 m; S13 (S. Patin Besar) dari muka tanah hingga kedalaman 15,60 m; S14 (Gasing) dari muka tanah hingga kedalaman 12,40 m; S15 (Tanjunglago) dari muka tanah hingga kedalaman 7,20 m; S18 (Tabuan) dari kedalaman 1,40 m hingga kedalaman 9,80 m( tebalnya 8,40 m); S20 (Pematang Palas) dari muka tanah hingga kedalaman 8,80 m; S21 (Rambutan) dari muka tanah hingga kedalaman 8,80 m; S22 (Parembahan) dari muka tanah hingga kedalaman 8,80 m; S23 (Penjemuran) dari muka tanah hingga kedalaman 12,40 m; S29 (A.Betung) dari kedalaman 1,40 m hingga kedalaman 9,80 m( tebalnya 8,40 m). Sejauh pengamatan tidak dijumpai akibat dari tanah lunak ini pada konstruksi bangunan, seperti badan jalan, jembatan, maupun rumah penduduk. Erosi Proses erosi yang terjadi berupa erosi permukaan dengan intensitas yang cukup kuat terutama terdapat di sekitar daerah Biuku, Pangkalan Balai dan Lubuk Lancang dengan tanah penutup berupa lempung lanauan, tebal antara 0,50 - 2,00 m, berwarna abu-abu kemerahan, plastisitas rendah- sedang, teguh, terdapat lapisan batuan terkonkresi, merah kehitaman, keras, tebal antara 15,00 - 30,00 cm dan bersifat membubur apabila kadar air dalam tanah berlebihan. Secara umum lereng yang terkena proses erosi kurang ditumbuhi oleh tanaman penguat tanah (vegetasi penutup sangat kurang). Tanah Pondasi Penumpu Badan Jalan Permasalahan tanah pondasi ini diperoleh dari kenampakan kondisi jalan negara di daerah antara Pangkalan Balai hingga Lubuk Lancang (sekitar Betung). Badan jalan di daerah tersebut mengalami kerusakan cukup parah, permukaan badan jalan terlihat bergelombang, ada bagian yang naik dan turun (differential settlement). Berdasarkan pengamatan di lapangan, badan jalan langsung bertumpu pada tanah dasar pondasi yang umumnya berupa batu lempung (Formasi Airbenakat), sedangkan tanah penutup berupa lempung lanauan teguh mengandung kerikil keras terkonkresi yang secara alami menumpang di atas batu lempung tersebut telah terkikis oleh proses erosi, terutama di bagian lembah. Hilangnya lapisan tanah penutup, mengakibatkan berkurangnya daya dukung tanah pondasi, di samping itu tidak terdapatnya lapisan tanah yang dapat bertindak sebagai drainase, sehingga mengakibatkan air akan terakumulasi pada bidang batas antara badan jalan dengan lapisan batu lempung, dengan demikian lapisan batu lempung menjadi lunak (kerusakan pada struktur tanah), dan juga tekanan air pori yang terjadi akan merusak badan jalan. Penyebab kerusakan lainnya adalah badan jalan sekaligus berfungsi sebagai tanggul saluran pembuang. Ketebalan tanah penutup yang secara alami kurang lebih 2,00 meter, diperkirakan akan cukup baik sebagai tanggul penumpu badan jalan, beban dapat terbagi rata (tereduksi) pada badan tanggul, sehingga

beban tidak langsung mempengaruhi lapisan dasar (batu lempung) dan disamping itu kekuatan geser tanah di dalam tanggul akan dapat terjaga oleh pengaruh naik dan turunnya kedalaman muka air tanah.