Anda di halaman 1dari 5

Myalgia adalah suatu keadaan dimana badan terasa pegal-pegal, mulai diakibatkan oleh olah raga yang menyebabkan

tubuh merengang terlalu banyak. Leptospirosis adalah penyakit akibat bakteri Leptospira sp yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Leptospirosis dikenal juga dengan nama Penyakit Weil, Demam Icterohemorrhage, Penyakit Swineherds, Demam pesawah (Ricefield fever), Demam Pemotong tebu (Cane-cutter fever), Demam Lumpur, Jaundis berdarah, Penyakit Stuttgart, Demam Canicola, penyakit kuning non-virus, penyakit air merah pada anak sapi, dan tifus anjing. Cara Penularan Leptospirosis merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui air (water borne disease). Urin (air kencing) dari individu yang terserang penyakit ini merupakan sumber utama penularan, baik pada manusia maupun pada hewan. Kemampuan Leptospira untuk bergerak dengan cepat dalam air menjadi salah satu faktor penentu utama ia dapat menginfeksi induk semang (host) yang baru. Hujan deras akan membantu penyebaran penyakit ini, terutama di daerah banjir. Gerakan bakteri memang tidak mempengaruhi kemampuannya untuk memasuki jaringan tubuh namun mendukung proses invasi dan penyebaran di dalam aliran darah induk. MENGENAL LEPTOSPIROSIS [Defenisi] Leptospirosis adalah penyakit infeksi akut yang dapat menyerang manusia maupun hewan yang disebabkan kuman leptospira. Gejala klinis leptospirosis mirip dengan penyakit infeksi lainnya seperti influensa, meningitis, hepatitis, demam dengue, demam berdarah dengue dan demam virus lainnya, sehingga seringkali tidak terdiagnosis. Keluhan-keluhan khas yang dapat ditemukan, yaitu: demam mendadak, keadaan umum lemah tidak berdaya, mual, muntah, nafsu makan menurun dan merasa mata makin lama bertambah kuning dan sakit otot hebat terutama daerah betis dan paha. Penyakit ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, terutama di daerah beriklim tropis dan subtropis, dengan curah hujan tinggi (kelembaban), khususnya di negara berkembang, dimana kesehatan lingkungannya kurang diperhatikan terutama. pembuangan sampah. International Leptospirosis Society menyatakan Indonesia sebagai negara insiden leptospirosis tinggi dan peringkat tiga di dunia untuk mortalitas. [Sumber Penularan] Hewan yang menjadi sumber penularan adalah tikus, babi, kambing, domba, kuda, anjing, kucing, serangga, burung, kelelawar, tupai dan landak. Sedangkan penularan langsung dari manusia ke manusia jarang terjadi. Penularan langsung dapat terjadi melalui darah, urin atau cairan tubuh lain yang mengandung kuman leptospira masuk ke dalam tubuh pejamu. Penularan juga bisa berasal dari hewan ke manusia, mislanya akibat kecelakaan kerja, terjadi pada orang yang merawat hewan atau menangani organ tubuh hewan misalnya pekerja potong hewan, atau seseorang yang tertular dari hewan peliharaan. Selain itu bisa terjadi penularan dari manusia ke manusia lain, meskipun jarang terjadi. Hal ini bisa terjadi melalui hubungan seksual pada masa konvalesen atau dari ibu penderita leptospirosis ke janin melalui sawar plasenta dan air susu ibu.Penularan tidak langsung terjadi melalui genangan air, sungai, danau, selokan saluran air dan lumpur yang tercemar urin hewan seperti tikus, umumnya terjadi saat banjir. Wabah leptospirosis dapat juga terjadi pada musim kemarau karena sumber air yang sama dipakai oleh manusia dan hewan. [Cara Penularan] Manusia terinfeksi leptospira melalui kontak dengan air, tanah atau tanaman yang telah dikotori oleh air seni hewan yang menderita leptospirosis. Bakteri masuk ke dalam tubuh manusia melalui selaput lendir (mukosa) mata,

hidung, kulit yang lecet atau atau makanan yang terkontaminasi oleh urine hewan terinfeksi leptospira. Masa inkubasi selama 4 19 hari. Penularan penyakit ini bisa melalui tikus, babi, sapi, kambing, kuda, anjing, serangga, burung, landak, kelelawar dan tupai. Di Indonesia, penularan paling sering melalui hewan tikus. Air kencing tikus terbawa banjir kemudian masuk ke dalam tubuh manusia melalui permukaan kulit yang terluka, selaput lendir mata dan hidung. Bisa juga melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi setitik urin tikus yang terinfeksi leptospira, kemudian dimakan dan diminum manusia. Urin tikus yang mengandung bibit penyakit leptospirosis dapat mencemari air di kamar mandi atau makanan yang tidak disimpan pada tempat yang aman. Sejauh ini tikus merupakan reservoir dan sekaligus penyebar utama penyebab leptospirosis. Beberapa jenis hewan lain seperti sapi, kambing, domba, kuda, babi, anjing dapat terserang leptospirosis, tetapi potensi hewan-hewan ini menularkan leptospirosis ke manusia tidak sehebat tikus. [Faktor risiko] Faktor risiko terinfeksi kuman leptospira, bila kontak langsung / terpajan air dan rawa yang terkontaminasi yaitu kegiatan yang memungkinkan kontak dengan lingkungan tercemar kuman keptospira, misalnya saat banjir, pekerjaan sebagai tukang kebun, petani, pekerja rumah potong hewan, pembersih selokan, pekerja tambang, mencuci atau mandi di sungai/ danau, dan kegiatan rekreasi di alam bebas serta petugas laboratorium. Peternak dan dokter hewan. yang terpajan karena menangani ternak, terutama saat memerah susu, menyentuh hewan mati, menolong hewan melahirkan, atau kontak dengan bahan lain seperti plasenta , cairan amnion dan bila kontak dengan percikan infeksius saat hewan berkemih. Kuman leptospira masuk ke dalam tubuh pejamu melalui luka iris/ luka abrasi pada kulit, konjungtiva atau mukosa utuh yang melapisi mulut, faring, osofagus, bronkus, alveolus dan dapat masuk melalui inhalasi droplet infeksius dan minum air yang terkontaminasi. Infeksi melalui selaput lendir lambung, jarang terjadi, karena ada asam lambung yang mematikan kuman leptospira. [Gejala Klinis] Gejala leptospirosis meliputi demam ringan atau tinggi yang umumnya bersifat remiten nyeri kepala menggigil mialgia, mual, muntah dan anoreksia nyeri kepala dapat berat, mirip yang terjadi pada infeksi dengue, disertai nyeri retro-orbital dan fotopobia Nyeri otot terutama di daerah betis sehingga pasien sukar berjalan, punggung dan paha. Sklera ikterik (gambar 2) dan conjunctival suffusion (gambar 3) atau mata merah dan pembesaran kelenjar getah bening, limpa maupun hati. Kelainan mata berupa uveitis dan iridosiklitis. Manifestasi klinik terpenting leptospirosis anikterik adalah meningitis atau radang selaput otak aseptik yang tidak spesifik sehingga sering tidak terdiagnosis. Gejala klinik menyerupai penyakit-penyakit demam akut lain, oleh karena itu pada setiap kasus dengan keluhan demam, harus selalu dipikirkan leptospirosis sebagai salah satu diagnosis bandingnya, terutama di daerah endemik. Leptospirosis ringan merupakan penyebab utama fever of unknown origin (demam yang tidak diketahui penyebabnya) beberapa negara Asia seperti Thailand dan Malaysia. Mortalitas pada leptospirosis anikterik hampir nol, meskipun pernah dilaporkan kasus leptospirosis yang meninggal akibat perdarahan masif paru dalam suatu wabah di Cina. Tes pembendungan terkadang positif, sehingga pasien leptospirosis anikterik pada awalnya di diagnosis sebagai pasien dengan infeksi dengue.

Pada leptospirosis ikterik, pasien terus menerus dalam keadaan demam disertai sklera ikterik, pada keadaan berat terjadi gagal ginjal akut, ikterik dan manifestasi perdarahan yang merupakan gambaran klinik khas penyakit Weil. [Komplikasi Leptospirosis ] Komplikasi penyakit leptospirosis bisa mempengaruhi beberap organ vital. Pada hati bisa menyebabkan kekuningan yang terjadi pada hari ke 4 dan ke 6 akibat gangguan hati. Pada ginjal bisa menyebabkan gagal ginjal yang dapat menyebabkan kematian. Pada jantung bisa menimbulkan keluhan jantung berdebar tidak teratur, jantung membengkak dan gagal jantung yang dapat mengikabatkan kematian mendadak. Pada paru-paru bisa menyebabkan batuk darah, nyeri dada, sesak nafas. Selain itu juga bisa terjadi perdarahan karena adanya kerusakan pembuluh darah dari saluran pernafasan, saluran pencernaan, ginjal, saluran genitalia, dan mata (konjungtiva). Sedangkan pada wanita hamil bisa berpotensi menyebabkan keguguran, prematur, bayi lahir cacat dan lahir mati. [Penanganan] Pengobatan dini sangat menolong karena bakteri Leptospira mudah mati dengan antibiotik yang banyak di jumpai di pasar seperti Penicillin dan turunannya (Amoxylline), Streptomycine, Tetracycline, Erithtromycine. Bila terjadi komplikasi angka lematian dapat mencapai 20%. Segera berobat ke dokter terdekat. Mengenal Penyakit Hingga Penyebab Disentri Disentri mengacu pada gangguan pencernaan yang ditandai dengan peradangan usus, terutama usus besar. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan disentri karena setiap episode diare di mana darah hadir dalam tinja berair. Disentri tersebar di antara manusia melalui makanan dan air yang terkontaminasi. Setelah seseorang terinfeksi, organisme menular tinggal di usus dan dilewatkan dalam tinja orang yang terinfeksi. Dengan beberapa kasus, hewan juga bisa terinfeksi penyakit disentri dan menyebarkan penyakit ke manusia. Bakteri penyebab disentri umum antara lain kontak dengan bakteri Shigella dan beberapa jenis Escherichia coli (E. coli). Penyebab lain bakteri yang kurang umum dari diare berdarah termasuk infeksi Salmonella dan Campylobacter. Disentri dikaitkan dengan kondisi lingkungan dimana sanitasi yang buruk adalah lazim. Disentri amebic, disebabkan oleh parasit Entamoeba histolytica, yang paling sering ditemukan di daerah tropis dengan kondisi kehidupan yang ramai dan sanitasi yang buruk. Cara Mengetahui Seseorang terinfeksi Disentri Disentri adalah gangguan umum tetapi berpotensi serius pada saluran pencernaan yang terjadi di seluruh dunia. Hal ini dapat disebabkan oleh sejumlah agen menular mulai dari virus dan bakteri untuk cacing protozoa dan parasit; mungkin juga hasil dari iritasi kimia dari usus. Tanda-tanda dan gejala disentri dapat bertahan 5-7 hari atau bahkan lebih lama. Perjalanan penyakit bervariasi antara individu, dimana beberapa orang yang menderita penyakit disentri memiliki gejala ringan, sedangkan yang lain mungkin mengalami diare berat dengan atau tanpa muntah yang dapat menimbulkan risiko dehidrasi. Untungnya disentri dapat dengan mudah diobati dengan antibiotik dan obat antiparasit. Penyakit disentri jika tidak diobati dapat menyebabkan dehidrasi yang parah. Dehidrasi berat dan ketidakseimbangan elektrolit menyebabkan syok atau koma dan dapat mengancam nyawa. Perawatan medis segera harus dilakukan dan perlu menjadi catatan untuk tidak membiarkan penyebab disentri terus menerus berkembang biak. Jika Anda atau seseorang yang di sekitar terlihat menunjukkan gejala dehidrasi berat seperti kebingungan, kehilangan kelesuan, kesadaran, kulit dingin, atau penurunan pengeluaran urin, maka perlu diwaspadai infeksi

penyakit disentri. Tindakan terbaik adalah mencari perawatan medis segera jika terdiagnosis diare dan muntahmuntah dan percaya bahwa ada kemungkinan telah terpapar makanan yang terkontaminasi atau air. Infeksi Penyakit Disentri Amoeba Disentri amoeba (amoebiasis) adalah infeksi usus (usus) yang disebabkan oleh amoeba Entamoeba histolytica yang dapat menyebabkan diare bercampur dengan darah. Ada beberapa spesies yang berbeda amoeba, tapi yang paling berbahaya salah satunya seperti Entamoeba histolytica (penyebab penyakit disentri amoeba) yang hidup terutama di daerah tropis. Spesies ini mampu melalui dinding usus dan menyebar melalui aliran darah untuk menginfeksi organ lain, seperti hati, paru-paru dan otak. Walaupun penyebab penyakit disentri amoeba (Entamoeba histolytica) tergolong jenis spesies amoeba berbahaya, namun mikroorganisme ini menyebabkan gejala kronis yang ringan seperti tinja longgar atau berair, sakit perut, kram, kelelahan, sembelit (intermitten), diare dengan pembengkakan perut dan perut kembung. Yang Khas dari Disentri Amoeba Amoeba adalah parasit yang ditemukan dalam makanan atau minuman yang tercemar. Mereka memasuki tubuh melalui mulut ketika makanan atau minuman yang tercemar ditelan, masuk kedalam system pencernaan tinggal di usus dan menyebabkan infeksi. Entamoeba histolytica sebagai penyebab disentri amoeba bisa eksis dalam dua bentuk dalam makanan yang terkontaminasi dan minuman, yaitu sebagai amoeba bebas (dikenal sebagai trophozoites) dan sebagai infektif kista, yang merupakan sekelompok amoeba dikelilingi oleh dinding pelindung yang telah berlalu (dikeluarkan) dalam tinja (manusia atau hewan). Jika seseorang menelan makanan yang terkontaminasi yang berisi amoeba bebas (trofozoit), hampir tak ada sesuatu yang mungkin terjadi karena mereka biasanya meninggal di dalam perut kerana tingkat keasaman sistem pencernaan (misalnya di lambung). Di sisi lain, kista sangat tahan terhadap isi asam lambung, dan makanan yang terkontaminasi dengan kista merupakan risiko infeksi asli sehingga dapat mengiritasi system pencernaan atau membuat seseorang terserang disentri amoeba. Disentri amoeba diteruskan oleh kebersihan atau sanitasi yang buruk, di mana makanan yang terkontaminasi dan minuman yang dikonsumsi tanpa pemanasan yang memadai (tidak masak). Disentri amoeba mungkin tidak menunjukkan gejala apapun selama jangka waktu yang lama (berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun). Tapi orang yang terinfeksi masih mengekskresikan kista dan, akibatnya, menginfeksi lingkungan mereka. Ketika serangan disentri amoeba, mereka merusak dinding usus besar sehingga menyebabkan ulserasi dan perdarahan. Disentri merupakan radang di pencernaan, terutama di bagian usus besar, yang menyebabkan terjadinya diare parah berlendir dan/atau darah di tinja, serta mengalami demam dan sakit perut. Bila tidak dirawat, disentri menjadi fatal. PENYEBAB Disentri dapat disebabkan oleh virus, bakteri, protozoa atau parasit. Patogen ini masuk ke usus besar melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi atau kontak antara mulut dengan tangan atau obyek terkontaminasi.

Bakteri Shigella contohnya, mengeluarkan enterotoksin yang mematikan dan merusak jaringan usus, hal ini dikenal juga sebagai disentri basilus atau Marlow Syndrome. Virus penyebab disentri menyerang sel usus dan menggunakan metabolisme sel tersebut untuk memperbanyak diri yang berakibat sel tersebut akhirnya mati. Amoeba Entamoeba histolytica bisa mengakibatkan disentri amoeba yang dapat berakibat fatal. GEJALA Gejala yang tampak pada penderita disentri dapat berbagai macam dari yang tidak tampak gejala sampai yang parah. Pada kondisi parah, penderita dapat mengeluarkan seliter cairan per jam. Gejala yang sering dikeluhkan adalah: mual, sakit perut, diare yang encer dan sangat bau yang disertai oleh lendir dan darah, nyeri di sekitar anus, demam. Kadang kala gejala berikut pun dilaporkan: muntah-muntah, berat badan turun drastis, pegal-pegal. Pada kasus tertentu yang jarang terjadi, parasit amoeba masuk ke dalam pembuluh darah (sepsis) dan menyebar di luar usus. Pada kasus seperti ini dapat mengakibatkan infeksi yang serius di organ lain seperti otak, paru-paru dan hati. PENCEGAHAN Untuk mencegah terjangkiti disentri, lakukan hal-hal berikut: Cuci tangan setelah menggunakan toilet, bersentuhan dengan orang yang terjangkiti disentri. Cuci tangan sebelum memasak dan makan, sebelum memegang bayi, sebelum menyuapi orang lain. Sebisa mungkin tidak bersentuhan dengan orang yang terjangkiti disentri Cuci baju sepanas mungkin. Jangan menggunakan handuk milik pasien. PENANGANAN Pada penderita disentri harus dicermati kondisinya agar tidak mengalami dehidrasi. Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan oralit. Bila hal ini tidak dapat dilakukan, maka pemberian cairan dapat dilakukan dengan infus di rumah sakit.