Anda di halaman 1dari 18

EKSTRAKSI KARAGINAN

Oleh : Nama NIM Rombongan Kelompok Asisten : Muh.Rezzafiqrullah R : B1J010231 : II :6 : Alkaf Ibrahim Aji

LAPORAN PRAKTIKUM FIKOLOGI

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN FAKULTAS BIOLOGI PURWOKERTO 2012

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Rumput laut merupakan tumbuhan laut yang belum dapat dibedakan antara akar, batang dan daunnya, olehkarena itu disebut thalophyta. Rumput laut memiliki banyak manfaat bagi kehidupan dengan banyaknya produk-produk rumput laut yang dapat di manfaatkan dalam bidang kesehatan, industry, pangan, kosmetik, dan sebagainya. Beberapa produk rumput laut antara lain: Agar, karagenan, dan furselaran diekstrak dari rumput laut merah (Rhodophyceae), sedangkan alginat diekstrak dari rumput laut coklat (Phaeophyceae). Secara alami terdapat tiga fraksi karagenan yaitu kappa-karagenan, lamda-karagenan, dan iota-karagenan. Disamping dari rumput laut, hidrokoloid hasil ekstraksi dapat juga diperoleh dari ekstrak tanaman seperti pectin dan ekstrak hewan seperti gelatin (Aslan, 1991). Mengingat bahwa rumput laut banyak tersebar di wilayah perairan kita serta merupakan sumber komoditi hasil laut, maka pihak pemerintah khususnya pemerintah kabupaten yang bersentuhan langsung dengan masyarakat perlu mengupayakan pengetahuan keterampilan para penduduk di wilayah pesisir (petani atau nelayan) untuk mengolah rumput laut menjadi bahan olahan seperti karaginan sehingga nantinya dapat meningkatkan sumber pendapatan masyarakat yang secara langsung juga meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD). Sumberdaya laut dan pesisir memberi kesejahteraan masyarakat sekitar 60% rakyat Indonesia yang hidup di kawasan pesisir (Coastal Zona). Penangkap ikan tradisional (Tradicional Fisher) merupakan bagian dari penduduk miskin (poor community) di Indonesia. Faktor-faktor penyebab kemiskinan masyarakat antara lain, pertumbuhan populasi penduduk yang relatif cepat, menurunnya luasan lahan pertanian yang tersedia, sifat perairan laut yang bisa digunakan oleh siapa saja (common property). Sebagai akibatnya, jumlah Tradicional Fisherman mengalami peningkatan sekitar 50% dibandingkan satu dekade terakhir. Sementara itu, sumberdaya laut belum terkelolah secara optimal, bahkan sumberdaya tersebut mengalami degradasi kualitas akibat adanya kelebihan tangkap (over fishing); dan cara penangkapan yang bersifat dekstruktif; adanya fenomena pendangkalan dan pencemaran yang berasal dari aktivitas manusia di kawasan hulu, seperti aktivitas industri pertanian, kehutanan, perikanan

budidaya dan pertambangan; pembangunan fisik di wilayah pantai (Physical Developtment of Beach Zone). Perusakan sumberdaya alam dan masalah lingkungan di zona pesisir telah mempengaruhi pola kehidupan masyarakat terutama nelayan tradisional. Rumput laut merupakan salah satu sumber devisa negara dan sumber pendapatan bagi masyarakat daerah pesisir pantai. Wilayah Indonesia yang sebagian besar terdiri atas perairan laut merupakan negara yang kaya akan komoditas rumput laut (Fikly, 2008). Karaginan sampai saat ini belum diolah di Indonesia, walaupun bahan baku yang digunakan (Eucheuma cottonii) untuk membuat karaginan banyak terdapat di Indonesia. Karaginan adalah campuran yang kompleks dari beberapa polisakarida. Ada tiga jenis karaginan, yaitu lamda, kappa, dan iota. Lamda dan kappa karaginan dapat diekstrak dari rumput laut jenis Chondrus crispus dan beberapa spesies Gigartina, sedangkan iota karaginan diekstrak dari Eucheuma spinosum. Karaginan banyak dimanfaatkan pada industri farmasi, kosmetik, makanan dan minuman seperti susu, keju, kecap, susu coklat, sirop, biscuit, dan es krim. Juga untuk pet food dan keramik (Fikly, 2008). Rumput laut yang tumbuh di perairan Indonesia tidak semuanya bermanfaat bagi manusia. Rumput laut yang bernilai ekonomis penting kebanyakan dari jenis Rhodophyta, khususnya Eucheuma sp. dan Gracillaria sp.. jenis rumput laut yang paling banyak dimanfaatkan dan dibudidayakan serta merupakan suatu usaha yang sangat bagus dalam dunia perdagangan adalah jenis rumput laut Eucheuma cotonii. Jenis rumput laut ini banyak dimanfaatkan karena penggunaannya sangat luas dalam bidang industri seperti industri makanan, kosmetik, obat-obatan bahkan sebagai komoditas ekspor. Selain jenis rumput laut penghasil agar-agar, terdapat juga jenis lain yang cukup potensial dan banyak di perairan Indonesia yaitu Eucheuma sp. yang dapat menghasilkan karaginan dan dapat dimanfaatkan dalam berbagai kegunanaan, dimana karaginan tersebut bersifat hidrocolloid, terdiri dari dua senyawa utama, senyawa pertama bersifat mampu membentuk gel dan senyawa kedua mampu menyebabkan cairan menjadi kental. Pemakaian karaginan diperkirakan 80% digunakan di bidang industri makanan, farmasi dan kosmetik. Pada industri makanan sebagai stabilizer, thickener, gelling agent, additive atau komponen tambahan dalam pembuatan coklat, milk, pudding, instant milk, makanan kaleng dan bakery (Aslan, 1991) untuk industri non food antara lain pada industri farmasi yaitu sebagai suspensi, emulsi, stabilizer

dalam pembuatan pasta gigi, obat obatan, mineral oil. Industri-industri lain misalnya pada industri keramik, cat dan lain-lain.

B. Tujuan

Tujuan dari praktikum ekstraksi karaginan ini adalah untuk mengetahui kadar air dan proses ekstraksi kandungan kimia dari rumput laut seperti alginat, karaginan dan agar-agar.

C.Tinjauan Pustaka

Rumput laut merupakan golongan alga yaitu tumbuhan berklorofil yang terdiri dari satu atau banyak sel dan berkoloni. Alga dapat dibedakan berdasarkan pigmentasinya. Selain berklorofil, alga juga mengandung zat warna lainnya seperti biru, keemasan, pirang, dan merah (Afrianto et al., 1993). Dalam dunia ilmu pengetahuan, rumput laut dikenal sebagai alga. Alga mempunyai bentuk yang bermacam-macam seperti benang atau tumbuhan tinggi. Ciri utamanya tidak dapat dibedakan antara organ akar, batang, dan daun. Alga bersifat autotrof yaitu dapat hidup sendiri tanpa tergantung kepada mahkluk lain. Proses pertumbuhan rumput laut sangat bergantung kepada sinar matahari untuk melakukan fotosintesis Alga dapat dibedakan berdasarkan pigmentasinya. Selain berklorofil, alga juga mengandung zat warna lainnya seperti biru, keemasan, pirang, dan merah (Afrianto, et al., 1993). Rumput laut yang dikonsumsi sebagai bahan pangan mempunyai beberapa nilai gizi tinggi didalamnya. Diantaranya mengandung sejumlah protein, vitamin, dan beberapa mineral essensial yang dibutuhkan manusia. Rumput laut mempunyai kandungan protein antara 4% sampai 25% dari berat kering. Kandungan asam amino dalam protein bervariasi bergantung pada faktor iklim, habitat, umur, bagian thalus, serta kondisi pertumbuhan seperti cahaya, nutrien, dan salinitas (Insan dan Widyartini, 2001). Karaginan merupakan suatu filakoid yang berupa polisakarida. Selain itu juga merupakan sumber hidrokoloid penting sehingga hasil ekstraksinya dapat digunakan sebagai penebal, pengemulsi, penstabil, pengental, dan pengikat substansi pada industri makanan, farmasi, kosmetik, tekstil, keramik, dan karet. Karaginan dipasaran merupakan tepung berwarna kekuning-kuningan. Karaginan mudah larut dalam air membentuk larutan kental atau jel yang tergantung dari proporsi fraksi kappa atau iota (Setyowati et al., 1998). Rumput laut penghasil karaginan yaitu Eucheuma cottonii, E. isiforme, E. spinosum, Gigartina, dan Gymnogongrus sp. (Poncomulyo et.al., 2006). Menurut Food Chemical Codex (1974), yang disebut karaginan minimal harus mengandung sulfat 18% dari berat kering, sedangkan agar-agar hanya mengandung sulfat 34%. Karaginan sampai saat ini belum diolah di Indonesia walaupun bahan baku yang dapat digunakan untuk membuat karaginan banyak terdapat di Indonesia antara lain Eucheuma spinosum. Seperti halnya agar-agar dan karaginan yang dapat dihasilkan

dari ganggang merah (Rhodophyceae), alginat yang dapat dihasilkan dari ganggang coklat jenis Sargassum banyak pula digunakan. Sampai saat ini jumlah rumput laut jenis ini sangat sedikit di Indonesia. Rumput laut penghasil karaginan (Carragenophyte), yaitu Eucheuma spinosum, Eucheuma cottonii, Eucheuma striatum, sudah dibudidayakan di Indonesia.

Pembudidayaan dilakukan di tempat-tempat yang kondisi arusnya relatif tenang, sehingga produktivitasnya dapat ditingkatkan. Wilayah Indonesia yang 70 persen berupa laut dan terdapat 17.500 pulau, merupakan negara yang kaya akan rumput laut. Rumput laut segar tidak dapat disimpan lama pada suhu ruang. Oleh karena itu, harus diolah menjadi bentuk rumput laut kering, tepung agar, tepung alginat, atau tepung karaginan (Soegiarto, et.al. 1999) E. cottonii dan E. spinosum merupakan rumput laut yang secara luas diperdagangkan, baik untuk keperluan bahan baku industri di dalam negeri maupun untuk ekspor. Sedangkan E. edule dan Hypnea sp hanya sedikit sekali diperdagangkan dan tidak dikembangkan dalam usaha budidaya. Hypnea biasanya dimanfaatkan oleh industri agar. Sebaliknya E. cottonii dan E. spinosum dibudidayakan oleh masyarakat. Dari kedua jenis tersebut E. cottonii yang paling banyak dibudidayakan karena permintaan pasarnya sangat besar. Jenis lainnya Chondrus spp., Gigartina spp., dan Iridaea spp tidak ada di Indonesia (Whistler, et.al., 1973). Pengolahan karaginan masih jarang dilakukan. Padahal prosesnya hampir sama dengan pengolahan agar-agar. Kalau pada waktu ekstrasi untuk mendapatkan agar-agar memakai asam, maka untuk mendapatkan karagenan memakai basa. Bila penanganan pascapanen telah sempurna, proses selanjutnya dapat dilakukan secara sederhana untuk skala rumah tangga dan dapat juga dilakukan untuk skala industri. Indonesia belum mempunyai standar mutu karaginan. Standar mutu yang dikenal adalah EEC Stabilizer Directive dan FAO/WHO Specification. Tepung karaginan mempunyai standar 99 % lolos saringan 60 mesh, tepung yang terendap alcohol 0,7 dan kadar air 15 % pada RH 50 dan 25 % pada RH 70. Karaginan dipasaran merupakan tepung berwarna kekunung-kuningan.

Karaginan mudah larut dalam air membentuk larutan kental atau gel yang tergantung dari proporsi fraksi kappa atau iota. Karaginan dalam dunia peridustrian berbentuk garam apabila bereaksi dengan sodium, natrium, kalsium dan potassium (Setyowati, 1998).

II. MATERI DAN METODE

A. Materi

Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah Eucheuma cottonii 70 gr, aquadest, H2O2 10%, HCl 0,2 N, NaCl 10 % , CH2COH 0,5%, KCl, kaporit 0,25%, asam cuka 0,5%, isopropyl alkohol, H2SO4, H2O Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah kertas pH, thermometer, pompa vacuum, pengaduk dan alat penjepit cawan, Erlenmeyer 2000 mL, cawan, blender, kain sarin ukuran 40-100 mesh, pipet, kompor, pengaduk, pipet, gelas ukur 50,100 dan 500 ml.

B. Metode

Dagram Alir Ekstraksi Karaginan Eucheuma cottonii 70 gram

Direbus selama 15 menit dengan perbandingan rumput laut dan air 1:15

Diblender

Diatur pH dengan larutan KOH 10% (hingga pH = 8)

Disaring dalam keadaan panas

Ditambah NaCl 0,05%

Filtrat dituang ke dalam alkohol 95%

Diaduk dan dibiarkan selama beberapa menit

Serat basah karaginan disaring dan direndam dengan alkohol 95% selama 30 menit

Serat basah karaginan yang lebih kaku disaring dan diperas lagi Dikeringkan dengan oven suhu 60oC sampai kering selama 15-20 jam

Rendemen dihitung

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

Rumput laut : Eucheuma cottonii 70 gram Produk kering : 12 gram Rendemen karaginan (%) =

B. Pembahasan Karaginan adalah senyawa hidrokoloid yang diekstraksi dari rumput laut merah jenis Eucheuma cottonii. Karaginan dapat digunakan untuk meningkatkan kestabilan bahan pangan baik yang berbentuk suspensi (dispersi padatan dalam cairan), emulsi (dispersi gas dalam cairan). Selain itu dapat digunakan sebagai bahan penstabil karena mengandung gugus sulfat yang bermuatan negatif disepanjang rantai polimernya dan bersifat hidrofilik yang dapat mengikat air atau gugus hidroksil lainnya (Suryaningrum, 2000). Karena sifatnya yang hidrofilik maka penambahan karaginan dalam produk emulsi akan meningkatkan viskositas fase kontinyu sehingga emulsi menjadi stabil. Karaginan dapat berfungsi dalam industri makanan sebagai bahan pengental, pengemulsi dan stabilisator suhu. Karaginan digunakan dalam industri makanan,

kosmetik dan tekstil (Kadi, 1990). Karaginan adalah polisakarida sulfat galaktopyranose yang banyak digunakan dalam kedua produk non-makanan, makanan, dan sebagai pengental dan

stabilisator. Termasuk ke dalam keluarga polisakarida galaktan yang juga termasuk agar, dan diproduksi oleh alga merah (Rhodophyta). Karaginan adalah galaktan sulfat linier dengan beta 3-terkait- D-galactopyranosyl residu dan 4-linked 3,6-anhydroalphaD galactopyranosyl residu. Ada sekitar 15 jenis Karaginan yang berbeda dalam hal jumlah dan posisi kelompok sulfat dan adanya jembatan 3,6-anhydro substruktur. Karaginan telah heterogen strukturnya, yang dapat bervariasi sesuai dengan jenis alga, tahap dalam siklus hidup, dan prosedur pengolahan (Henares, 2010). Manfaat yang terkandung dalam keraginan digunakan sebagai bahan tambahan makanan, stabilisator dan viscosifie, ebagai bahan matriks dalam berbagai spesies rumput laut merah, (Rhodophyta) (Mustapha,2011) Ekstraksi karaginan dari rumput laut Eucheuma pada prinsipnya merebus rumput laut dalam larutan alkali kemudian disaring, dijendalkan, dipres dan dikeringkan kembali. Ekstraksi dipengaruhi beberapa faktor antara lain lama dan suhu ekstraksi. Proses ekstraksi dengan alkali mempunyai fungsi untuk membantu ekstraksi polisakarida menjadi lebih sempurna sehingga dapat meningkatkan kekuatan gel. Waktu ekstraksi mempengaruhi kekentalan larutan karaginan (Suryaningrum, 2000). klasifikasi menurut Alexopoulus (1996), adalah : Divisi : Rhodophyta

Class Ordo Family Genus Spesies

: Rhodophyceae : Eucheumales : Eucheumaceae : Eucheuma : Eucheuma cottonii Eucheuma merupakan salah satu jenis rumput laut dari kelas Rhodophyceae

(alga merah). Eucheuma memiliki thalli (kerangka tubuh tahanan) bulat silindris atau gepeng, berwarna merah, merah-coklat, hijau-kuning, memiliki percabangan berselang tidak beratur (dikhotomus atau trikhotomous) memiliki benjolan-benjolan (glant nodule) dan duri-duri atau spines. Eucheuma memiliki thalli yang gelatinus dan atau kartilagenous (lunak seperti tulang rawan) (Aslan, 1991).Mutu karaginan ditentukan oleh jenis rumput laut, daerah budidaya, cara ekstraksi (suhu ekstraksi, pH ekstraksi, lama ekstraksi) dan metode pemisahan karaginan (Setyowati et al., 1998). Bahan rumput laut yang digunakan dalam praktikum ini yaitu Eucheuma cottonii. Ciri-ciri Eucheuma cottonii adalah thallus dan cabang-cabangnya berbentuk silindris atau pipih, percabangannya tidak teratur dan kasar (sehingga merupakan lingkaran) karena ditumbuhi oleh nodulla atau spine untuk melindungi gametan. Ujungnya runcing atau tumpul berwarna coklat ungu atau hijau kuning. Spina Eucheuma cottonii tidak teratur menutupi thallus dan cabang-cabangnya. Permukaan licin, cartilaginous, warna hijau, hijau kuning, abau-abu atau merah. Penampakan thallus bervariasi dari bentuk sederhana sampai kompleks (Kadi, 1990). Eucheuma sp. Memiliki komposisi zat organik kadar air 27,5%, protein 5,40%, abu 22,25%, lemak 8,62% dan serat kasar 3,01% (Soegiarto et al., 1978). Eucheuma cotonii dapat menghasilkan karaginan melalui ekstraksi. Karaginan dapat berfungsi industri makanan sebagai bahan pengental, pengemulsi, dan stabilisator pada suhu, coklat, es krim, keju, jelly, dan makanan ternak, pada industri kosmetik dan pada bidang farmasi (Setyowati et al., 1998). Standar mutu karaginan dalam bentuk tepung adalah 99% lolos saringan 60 mess dan memiliki tepung densitas adalah 0,7 dengan kadar air 15%. Suhu gelasi dari karaginan berbanding lurus dengan konsentrasi kation yang terdapat dalam sistem. Standar karaginan yang kini banyak dikenal adalah EEC Stabilizer Directive dan FAO atau WHO Specification (setyowati et al, 1998).

Standar mutu karaginan mengacu pada Committee on Food Chemicals Codex (1996) karena di Indonesia belum mempunyai standar mutu karaginan. Spesifikasi karaginan menurut CFCC :

Spesifikasi Zat volakl Asam sulfat Abu Viskositas (1,5% lart, 75C) Logam berat Pb (ppm)

CFCC maksimal 12% 18-40 % 15-40% min. 5cps maks.10

Menurut Suwandi (1992), proses ekstraksi karaginan pada dasarnya terdiri atas proses penyiapan bahan baku, ekstraksi karaginan dengan menggunakan bahan pengekstrak, pemurnian, pengeringan dan penepungan. Penyiapan bahan baku meliputi proses pencucian Eucheuma cottonii untuk menghilangkan pasir, garam mineral, dan benda asing yang masih melekat pada Eucheuma cottonii. Ekstraksi Eucheuma cottonii dilakukan dengan cara direbus selama 15 menit dengan perbandingan Eucheuma sp.: air adalah 1:15 selama 15 menit dan blender. Kemudian rebus kembali dengan perbandingan 1:30 selama 2 jam. Ekstraksi biasanya mendekati suhu didih yaitu sekitar 9095 oC selama satu sampai beberapa jam. Volume air yang digunakan dalam ekstraksi sebanyak 3040 kali dari berat rumput laut. Kemudian menambahkan larutan basa misalnya larutan KOH sehingga pH larutan mencapai 8-10 agar diperoleh suasana netral. Pemisahan karaginan dari bahan pengekstrak dilakukan dengan cara penyaringan dan pengendapan. Karaginan disaring dan berikan NaCl 0,05% sebanyak 50 ml selama 15 menit. Penyaringan ekstrak karaginan umumnya masih menggunakan penyaringan konvensional yaitu kain saring dan filter press, dalam keadaan panas yang dimaksudkan untuk menghindari pembentukan gel. Pengendapan karaginan dapat dilakukan antara lain dengan metode gel press, KCl freezing, KCl press, atau pengendapan dengan alkohol. Kemudian lakukan pengendapan dengan menggunakan alkohol 95 % dengan perbandingan filtrat : alkohol 96 % adalah 1 : 2 selama 30 menit sambil diaduk dan disaring kembali. Lakukan pengendapan menggunakan alkohol 96 % dengan perbandingan dan waktu yang sama sampai karaginan berbentuk lebih kaku dan keringkan. Pengeringan karaginan basah dapat dilakukan dengan oven atau penjemuran. Pengeringan menggunakan oven dilakukan pada suhu 60 oC. Karaginan

kering tersebut kemudian ditepungkan, diayak, distandardisasi dan dicampur, kemudian dikemas dalam wadah yang bertutup rapat. Produk karaginan umumnya dikemas dalam double-decked plastic bag, dengan ukuran kemasan 25 kg. Afrianto dan Liviawati (1993), menjelaskan bahwa sebelum diekstraksi, rumput laut yang telah dikeringkan dapat direndam dalam larutan kaporit 0,25% atau kapur tohor 0,5% kemudian diaduk selama tiga hari hingga rumput laut menjadi pucat (proses pemucatan). Penggunaan KOH mempunyai dua fungsi, yaitu membantu ekstraksi polisakarida menjadi lebih sempurna dan mempercepat eliminasi 6-sulfat dari unit monomer menjadi 3,6-anhidro-D-galaktosa sehingga dapat meningkatkan kekuatan gel dan reaktivitas produk terhadap protein. Penelitian yang dilakukan Suwandi (1992), menunjukkan bahwa ekstraksi karaginan menggunakan (KOH) berpengaruh terhadap kenaikan rendemen dan mutu karaginan yang dihasilkan. Sementara larutan NaCl berfungsi untuk menetralkan pH, apabila pH terlalu basa akibat diberi KOH terlalu banyak. Dan alkohol 96 % berfungsi untuk mengendapkan karaginan menjadi lebih kaku. Prosedur isolasi karaginan dari berbagai rumput laut telah banyak dikembangkan. Umumnya prosedur ini terdiri atas tiga tahapan kerja yaitu ekstraksi, penyaringan, dan pengendapan. Tahapan ekstraksi, kecepatan dan daya larut karaginan dalam air dipengaruhi oleh temperatur dan waktu proses bergabungnya seluruh fraksi karaginan dari rumput laut dengan fraksi air yang digunakan sebagai media pelarut. Di samping itu, stabilitas karaginan sangat ditentukan oleh pH larutan (Bawa et al., 2007). Rendemen karaginan juga dipengaruhi lama dan suhu ekstraksi. Semakin lama proses ekstraksi dan semakin tinggi suhu ekstraksi akan meningkatkan rendemen karaginan. Hal ini disebabkan karena semakin lama rumput laut kontak dengan panas maupun dengan larutan pengekstrak, maka semakin banyak karaginan yang terlepas dari dinding sel dan menyebabkan rendemen karaginan semakin tinggi. Rendemen dipengaruhi oleh jenis, iklim, metode ekstraksi, waktu pemanenan dan lokasi budidaya. Selain itu rendemen juga dipengaruhi oleh skala produksi, dimana skala produksi yang besar akan menghasilkan rendemen yang besar pula (Suryaningrum, 2000). Menurut Atmadja et al,. (1998), karaginan dengan kualitas yang baik mempunyai sifat-sifat sebagai berikut : 1. Pemerian Karaginan tidak berbau, berbentuk serbuk kasar, berwarna krem sampai coklat terang. 2. Berat molekul

Berat molekul rata-rata karaginan bentuk kappa adalah 2 x 107, iota adalah 1,5 x 106, sedangkan lambda tidak diketahui. 3. Kelarutan Semua karaginan larut dalam air panas (lebih dari 75C). Kappa dan iota tidak larut dalam air suling yang bersuhu 20 C sedangkan lambda larut. Winarno (1985), menambahkan bahwa tingkat kelarutan karaginan akan semakin besar pada suhu yang lebih tinggi dan waktu proses yang lama. 4. Pembentukan gel Larutan panas (lebih dari 75C) kappa dan iota karaginan akan membentuk gel pada waktu pendinginan. Lambda tidak dapat membentuk gel baik dalam larutan panas maupun dingin. Gel dari kappa dan iota dapat mencair kembali pada saat larutan dipanaskan. 5. Kekentalan Dalam keadaan dingin, karaginan akan mengalami kenaikan kekentalan yang nyata jika dicapai suhu gelnya. Setyowati et al., (1998), menambahkan bahwa karaginan dapat terlepas dari dinding sel dan larut jika kontak dengan panas. Suasana basa akan memprcepat ekstraksi ataupun bisa menyebabkan degradasi yaitu berubahnya atau putusnya susunan rantai molekul dan menurunnya jumlah ester sulfat. Perubahan ini akan menghasilkan karaginan dengan viskositas rendah. Karaginan secara luas digunakan dalam makanan untuk tujuan gelasi, pengentalan, stabiliser dan emulsi, suspensi dan buih dan untuk mengendalikan pertumbuhan kristal. Hal ini karena sifat karaginan yang dapat berfungsi sebagai gelling agent, thickhe agent, stabilizer dan emulsifrer (Winarno, 1985). Lebih lanjut Suwandi (1992), menambahkan fungsi karaginan pada berbagai industri seperti farmasi dan kosmetika adalah sebagai bodying agent dan pensuspensi dalam industri cat, pertanian dan keramik. Prosedur ekstraksi karaginan menurut Hutagalung et al. (1997) dalam Jamal (2009), kandungan karaginan dihitung menggunakan rumus Karaginan = Keterangan: A = berat sampel setelah ekstraksi (g) B = berat thallus kering (g)

Hasil praktikum yang telah dilakukan diperoleh berat senyawa karaginan sebanyak 12 gram, sedangkan rendemen karaginan sebesar 17,14%. Menurut Winarno (1985), standar mutu karaginan yang mengacu pada standar FAO dalam bentuk tepung adalah 99% lolos saringan 60 mess dan memiliki tepung densitas adalah 0,7 dengan kadar air 15%. Suhu gelasi dari karaginan berbanding lurus dengan konsentrasi kation yang terdapat dalam sistem. Standar karaginan yang kini banyak dikenal adalah EEC Stabilizer Directive dan FAO atau WHO Specification.

IV. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil dan pembahasan, dapat diambil beberapa kesimpulan antara lain sebagai berikut: 1. Proses pembuatan karaginan meliputi, persiapan, perebusan, ekstraksi, penyaringan, pemucatan, pengendapan, perendaman, pengeringan, dan analisis hasil. 2. Kandungan rendeman karaginan dari rumput laut jenis Eucheuma cottonii sebesar 17,14%.

DAFTAR REFERENSI

Afrianto, E. dan Evi Liviawati. 1993. Budidaya Rumput Laut dan Cara Pengolahannya. Bathara. Jakarta. Atmadja, W. S., Kadi, A., Sulistijo dan Rachmaniar. 1996. Pengendalian Jenis-Jenis Rumput Laut Indonesia. Pusat Penelitian dan Pengembangan Oseanologi LIPI. Jakarta. Aslan, L.M. 1991. Budidaya Rumput Laut. Kanisius, Yogyakarta. Bawa I G. A. G., A. A. Bawa Putra, dan Ida Ratu Laila. 2007. Penentuan pH Optimum Isolasi Karaginan dari Rumput Laut Jenis Eucheuma cottonii. Jurnal Kimia. 1(1). 15-20. Fikly, I. 2008. Kajian Terap Teknologi Pengolahan Rumput Laut Skala Rumah Tangga Di Kabupaten Selayar. Diakses Minggu, 18 Mei 2008 03:57. Food Chemical Codex. 1974. Seaweeds and their uses in Japan, Tokai University Press, Tokyo. CHAPMAN, V.J. 1970, Seaweeds and their uses, Methuen & Co. LTD, London. DAVIDSON, R.L., 1980 Handbook of Water-Soluble Gums and Resins, Mc. Graw-Hill, Inc, New York. Henares. B. M. Erwin P.E. Fabian M. D. and Nina R. L. Rojas. 2010. Iota-Carrageenan Hydrolysis by Pseudoalteromonas Carrageenovora IFO12985. Department of Chemistry, School of Science and Engineering, Ateneo de Manila University, Loyola Heights, Quezon City, Philippines Philippine Journal of Science 139 (2): 131-138, December 2010 ISSN 0031 - 7683 Insan, A. L. dan D. S. Widyartini. 2001. Makroalgae. Fakultas Biologi. Universitas jenderal Soedirman, Purwokerto. Kadi, A. 1990. Inventarisasi Rumput Laut di Teluk Tering dalam Perairan Pulau Bangka, (ed) Anonimous. LIPI. Jakarta. hal : 45 50. Mustapha. S, H Chandar, Z Z Abidin, R Saghravani and M Y Harun. 2010. Production of semi- refined carrageenan from Eucheuma cotonii 865-870. Department of Chemical and Environmental Engineering, Faculty of Engineering, Universiti Putra Malaysia Serdang, Selangor, Malaysia Poncomulyo, T.H. Maryani dan L. Kristiana. 2006. Budidaya dan Pengolahan Rumput Laut. Agro Media Pustaka, Jakarta Setyowati, B., B. Sasmita dan H. Nursyam. 1998. Pengaruh Jenis Rumput Laut dan Lama ekstraksi terhadap Peningkatan Kualitas karaginan. UNIBRAW. Malang. Soegiarto, A. H. Mubarak, S. dan W. S. Atmaja. 1978. Rumput Laut (Algae), Manfaat dan Budidaya. LON. LIPI, Jakarta.

Suryaningrum., D., Murdinah., Arifin M. 2000. Penggunaan kappa-karaginan sebagai bahan penstabil pada pembuatan fish meat loaf dari ikan tongkol (Euthyinnus pelamys. L). Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia. Vol: 8/6. Whistler, R.L., dan BE Miller, J.N., 1973, Industrial Gums, Academic Press, New York. Winarno, F.G. 1985. Kimia Pangan dan Gizi. PT. Gramedia Anggota IKAPI, Jakarta.