Anda di halaman 1dari 5

1 TUNGAU Tungau merupakan ektoparasit berukuran kecil bervariasi dari 0,5 mm-2 mm termasuk kelompok parasit obligat.

Badan tidak beruas, mempunyai thorak, abdomen, 4 pasang anggota gerak. Ukuran tungau jantan lebih kecil dari betina dan tungan betina mampu bertelur 20-100 butir dan telur berbentuk oval. Tungau diklasifikasikan ke dalam; Filum : Arthropoda Sub Filum : Chelicerata Kelas : Arachnida Subkelas : Acarina Ordo : Acari Subordo : Trombidiforme Famili : Demodicidae Genus : Demodex canis Subordo : Sarcoptiformes Famili : Sarcoptidae Genus : Sarcoptes scabiei, Notoedres dan Knemidocoptes Famili : Psoroptidae Genus : Psoroptes, Chorioptes Inang dan lokasi penyerangan Tungau adalah ektoparasit pada manusia, sapi, kambing, domba, kuda, anjing, kucing, babi, unggas dan kelinci. Pada permukaan kulit membuat terowongan/ liang, mengisap darah dan cairan jaringan sehingga menyebabkan peradangan pada kulit inangnya. Penyakit yang disebabkan oleh ektoparasit ini dinamakan dengan scabiosis. Berdasarkan lokasi penyerangan pada kulit inangnya ada dua spesies tungau ini yang dikenal tipe tungau yang membuat terowongan dalam dan yang tidak. Tipe tungau membuat terowongan meliputi Sarcoptes, Notoedres, Demodex dan Knemidokoptes dan yang tidak membuat terowongan kulit adalah, Psoroptes dan Chorioptes. Tipe tungau pembuat terowongan pada kulit (Sarcoptes, Knemidocoptes, Demodex dan Notoedres) Sarcoptes scabiei. Morfologi Bentuk tubuh Sarcoptes scabiei, bulat dengan diameter tubuh 0,4 mm, memiliki kakikaki yang pendek dan penjuluran bristle yang jarang di bagian tepi tubuh. Pada bagian dorsal tubuh terdapat sisik-sisik triangular. Inang: Menyerang manusia dan semua hewan mamalia peliharaan. Siklus hidup Siklus hidup dimulai dari telur, larva. nimfa dan dewasa. Betina membuat liang berkelokkelok pada lapisan epidermis, makan cairan dari jaringan yang telah rusak. Telur diletakkan dalam terowongan tersebut dan menetas dalam 3-4 hari menjadi larva berkaki enam dilengkapi cakar. Larva membuat terowongan pada bagian superfisial kulit dan diikuti proses molting berubah menjadi nimfa serta diikuti molting berikutnya untuk menjadi dewasa. Seluruh siklus dari telur sampai dewasa membutuhkan 17-21 hari.

Predileksi dan gejala klinis Pada anjing predileksi Sarcoptes scabiei adalah pada daerah telinga, hidung, muka, dan siku, tetapi kasus infestasi berat dapat menyebar ke seluruh tubuh. Gejala yang tampak diawali dengan erythema, bentuk-bentuk papula dan diikuti dengan terbentuknya sisik dan keropeng serta alopecia. Pada infestasi awal anjing sering menggaruk-garuk dan terlihat lesi-lesi pada bekas garukan. Pada kucing daerah bagian tubuh yang diserang adalah pada bagian telinga, muka, leher dan abdomen. Ternak ruminansia seperti sap sering menyerang pada daerah leher dan ekor, tetapi pada kasus berat dapat menyerang bagian tubuh yang lain. Pada infestasi ringan kulit yang terserang terbentuk sisik, penebalan kulit dan bulu rontok, diikuiti dengan terbentuknya keropeng. Pada

2 domba bagian tubuh yang diserang pada bagian tubuh yang tidak berbulu seperti, telinga, muka, lipatan bagian dalam kaki/ paha. Pada kasus berat dapat menyerang ke seluruh tubuh. Pada daerah yang terserang terlihat erythema dan kudisan. Sedangkan pada kambing daerah yang diserangyaitu pada daerah mata, muka dan telinga. Gejala yang tampak adalah, terbentuk sisik, keropeng/penebalan pembentukan nodul pada kulit yang terserang. Aktifitas menggosok-gosok pada bagian yang gatal mengakibatkan iritasi kulit sehingga terbentuk lesi-lesi (kudis). Notoedres sp Spesies: N. cati dan N. muris. Inang dan lokasi penyerangan. Tungau ini umunya menyerang kucing, kelinci dan tikus terutama pada daerah telinga, punggung dan leher. Pada kasus berat dapat menyebar pada bagian muka, kaki, pangkal cakar dan seluruh tubuh. Morfologi Tubuh globular dengan garis-garis putus, bersisik, mempunyai spina dan dua seta pada dorsal tubuh. Kaki pendek, pedicle tidak bersegmen dan mempunyai alat pengisap serta bristle pada kaki-kakinya seperti pada tungau Sarcoptes. Siklus hidup gambarannya sama seperti genus Sarcoptes. Patogenessis dan gejala klinis Tungau membuat terowongan di bawah kulit sehingga menyebabkan lesi-lesi yang ditandai dengan lapisan kulit menjadi kekuningan. Lesi-lesi terlihat pada daerah telinga dan leher dan akhirnya lapisan kulit menebal serta terbentuk keropeng. Knemidocoptes sp Spesies: K. gallinae, K. pilae dan K. mutans Inang dan lokasi penyerangan Tungau ini menyerang bangsa unggas seperti ayam dan jenis burung pada darah bulu dan kaki. Morfologi Tubuh globular atau sirkuler, pendek dengan kaki-kaki dan pedicle gemuk, pendek (tumpul). Bagian tubuh bergaris-garis membentuk sisik dan tidak mempunyai spina. Alat pengisap tarsal terdapat pada seluruh pasangan kaki-kaki tungau jantan, pada tungau betina tidak ditemukan. Siklus hidup dengan gambaran yang sama seperti Sarcoptes. Patogenesis dan gejala klinis Pada unggas tungau K. mutan membuat terowongan bawah sisik kulit kaki sehingga sisik kaki terbuka dan terlepas. Gambaran yang sama juga ditemukan pada tungkai dan jari-jari kaki. Kaki dan cakar yang terserang terlihat pincang dan distorsi. Tungau K. gallinae umumnya menyerang dan membuat terowongan pada pangkal bulu sehingga terjadi peradangan dan unggas sering mematuk-matuk bulunya. Demodex sp Tungau ini termasuk tipe pembuat terowongan dalam kulit inangnya. Hewan yang diserang semua mamalia termasuk manusia dan distribusi telah menyebar ke seluruh negara. Penyakit yang disebabkan oleh infestasi tungau ini dinamaka demodecosis. Lokasi penyerangan adalah pada folikel bulu atau rambut dan kelenjar sebasea. Spesies tungau dari Demodex antara lain D. canis (pada anjing), D. bovis (pada sapi), D. equi (pada kuda), D. phylloides (pada babi) dan D. folliculorum pada manusia. Morfologi Demodex sp berukuran 0,2 mm dengan 4 pasang kaki yang terletak pada bagian anterior. Bentuk tubuh memanjang seperti serutu. Mempunyai kepala, toraks dilengkapi oleh 4 pasang

3 kaki yang tumpul. Abdomen memanjang dan bergaris transversal mulai dari dorsal sampai ke ventral tubuh. Bagian mulut terdiri atas sepasang palpi, kelisera dan hipostoma tunggal. Penis menonjol pada sisi dorsal toraks jantan dan vulva tungau betina terletak di bagian ventral tubuh. Telur berbentuk spindel. Siklus hidup Siklus hidup dimulai dari telur, larva, protonimfa, deutronimfa dan dewasa dan berlangsung selama 18-24 hari. Tungau jantan biasanya berada pada permukaan kulit sehingga memudahkan membuahi telur yang dikeluarkan oleh betina. Tungau betina mampu bertelur 2024 butir dan diletakkan pada folikel rambut inangnya. Larva dan nimfa bergerak ke dalam folikel rambut dan berkembang menjadi dewasa Patogenesis dan gejala klinis Infeksi ditularkan secara kontak langsung dengan hewan penderita. Pada anjing infeksi awal terlihat bulu rontok disekitar muka dan kaki depan, diikuti penebalan kulit dan terbuntuk kudis. Lesi-lesi dapat menyebar ke seluruh tubuh. Ada 2 tipe demodecosis pada anjing: 1. Tipe demodecosis squamosa. Ditandai dengan adanya erythema, desquamasi dan penebalan kulit serta alopecia. Penularan kepada hewan lain melalui kontak kulit. Pada tipe ini daerah yang sering diserang adalah bagian muka dan kaki. 2. Tipe pustula atau demodecosis follicular. Kulit terlihat bersisik dan mengalami penebalan; terbentuk pustula yang berisi serum, pus dan darah. Lesi-lesi kulit mengeluarkan bau busuk. Tipe tungau tidak membuat terowongan pada kulit (Psoroptes dan Chorioptes) Spesies: Psoroptes ovis, P. canis, P. equi dan P. cuniculi Inang dan lokasi penyerangan: Menginfestasi domba, sapi, kuda dan kelinci dan sering menyerang daerah axilla, lipatan paha, fossa infraorbitalis dan telinga. Morfologi Tubuh oval, berukuran di atas 0,75 mm, mulut berbentuk kerucut, pada jantan terbentuk tuberkel pada bagian abdomen, pedicel terdiri atas 3 sendi dan dilengkapi dengan corong-corong pengisap seperti mangkuk pada pasangan kaki pertama, kedua dan ketiga. Tungau jantan memiliki alat pengisap copulatory pada sisiventran tubuh dan dilengkapi bulu-bulu bristle. Tungau betina mempunyai alat pengisap yang berhubungan dengan pedicle pasangan kaki pertama, kedua dan keempat. Bagian dorsal tubuh bersisik dan dilengkapi dengan spina-spina serta garis-garis tubuh. Siklus hidup Telur diletakkan pada kulit di sisi lesi-lesi dan menetas 1-3 hari. Larva mulai makan setelah 2-3 hari setelah ditetaskan. Diikuti dengan molting menjadi stadiun nimfa setelah 12 jam kemudian. Stadium nimfa akhir terjadi pada hari ketiga dan keempat kemudian berkembang menjadi dewasa. Total siklus hidup dari telur sampai menghasilkan telur selanjutnya adalah 12 hari. Patogenesis dan gejala klinis Tungau menghancurkan epidermis dan mengisap cairan limfe serta merangsang terbentuknya peradangan lokal disertai infiltrasi cairan serum. Bekas daerah infeksi mengalami eksudasi, koagulasi dan akhirnya terbentuk keropeng-keropeng. Pada kulit yang terserang hewan sering menggosok-gosokkan daerah yang gatal, sehingga terbentuk lesi-lesi, papula atau kudisan. Lesi-lesi kulit disebabkan oleh gigitan tungau dan Hewan kurang istirahat, napsu makan dan berat badan menurun. Psoroptes sangat aktif pada lapisan keratin kulit dan menyebabkan kerusakan langsung pada kulit. Infeksi awal terbentuk peradangan dengan vesikula-vesikula kecil dan exudate serousa serta lesi-lesi cepat menyebar. Bentukan keropeng sering berwarna kuning. Domba yang terserang ditandai dengan bulu kusam dan mudah rontok, menggosok-gosok badannya pada

4 dinding kandang sehingga kualitas wool menjadi rendah. Hewan kurang istirahat dan mengganggu aktifitas makan sehinggga berat badan menurun. Choriptes sp Spesies: C. bovis, C. equi, C. ovis, C. cuniculi dan C. caprae Inang dan lokasi penyerangan: Menyerang sapi, kambing, domba, kelinci dan kuda serta predileksi pada daerah kepala, leher, ambing, skrotum dan kaki. Hidup dan mengalami perbanyakan pada kulit yang ditutupi oleh bulu atau rambut inangnya. Morfologi: Bentuk tubuh mirip dengan Psoroptes, kecuali alat pengisap tarsal (kaki) tidak mempunyai sendi-sendi pedicle. Pada tungau jantan alat pengisap tarsal terdapat pada semua pasangan kaki. Pada tungau betina alat pengiasap tarsal hanya pada pasangan kaki pertama, kedua dan keempat. Bagian abdomen tungau jantan mempunyai lobus abdominal yang dilengkapi oleh bulu-bulu bristle. Alat pengisap adanal terletak pada dasar lobus abdominal dan tubercle copulatory berada pada bagian dorsal posterior. Patogenesis dan gejala klinis Umumnya tungau Choriptes sp menyerang pada daerah kepala, leher, ambing, skrotum dan kaki. Infestasi pada kuda biasanya daerah tubuh yang banyak ditumbuhi rambut/ bulu. Kuda yang terserang sering menggosok-gosokkan tubuhnya, menghentak-hentakan kaki/ menendang serta mengggigit pada daerah yang terserang. Daerah kulit yang terinfeksi terlihat adanya papulapapula dan akhirnya menjadi kudis. Pada hewan ruminansia sering menyerang daerah pangkal ekor, menyebar ke sakrum dan bagian tubuh lainnya. Pada domba terutama daerah skrotum dan kulit yang terserang bersisik. Otodectes cyotis Inang dan lokasi penyerangan Bagian tubuh yang terserang adalah telinga golongan carnivora seperti anjing, serigala, racoon dan kucing. Dinamakan juga dengan tungau telinga. Morfologi Tungau ini mirip dengan Chorioptes. Mempunyai alat pengisap tarsal pada pasangan kaki pertama dan kedua pada tungau betina dan pada seluruh pasangan kaki pada tungau jantan serta tidak berhubungan dengan pedicle. Alat pengisap copulatory jantan kurang jelas demikian juga lobus abdominalnya. Siklus hidup Siklus hidup hampir sama seperti genus Psoroptes. Tungau menghabiskan selama hidupnya pada permukaan tubuh inang terutama bagian telinga. Tungau memakan jaringan epidermis dengan cara mengunyah. Cara lain adalah dengan menusuk kulit dan mengisap cairan tubuh inang. Patogenesis dan gejala klinis Hewan yang terinfeksi oleh spesies tungau ini sering menggoyang-goyangkan kepala serta menggosok-gosoknya. Pada kasus infeksi paling parah telinga menjadi paralisis dan terbentuk radang purulenta dan hematoma. Pada kasus radang purulenta, bagian luar telinga seringkali menyebabkan radan tympani telinga.

5 Diagnosis dan teknik pengamatan Diagnosis dengan inspeksi gejala klinis dan membuat preparat kerokan kulit (Superficial Shave Biopsy). Kerokan kulit dibuat dari arah kulit yang sehat ke arah kulit yang terinfeksi. Hasil kerokan diletakkan pada obyek gelas dan ditambah larutan KOH/ NaOH 10%, diperiksa di bawah mikroskop untuk melihat jenis tungau. Cara lain adalah melakukan pemeriksaan dengan uji tinta (Burrow Ink Test) khususnya tipe tungau pembuat terowongan dibawah kulit. Diagnosis skabies dengan tinta telah lama diaplikasikan di Rumah Sakit Saint-Louis, Prancis sejak abad ke17. Pengendalian dan pengobatan Tungau dapat menular dengan cepat dari satu ke hewan lain melalui kontak langsung. Oleh karena itu penanganan cara tepat terutama dalam pengobatan sangat penting. Pengamatan hewan yang diduga terinfeksi sebelum disatukan dengan hewan lain sangat dianjurkan termasuk mengkarantinakan hewan yang telah sakit. Beberapa senyawa yang digunakan untuk pemberantasan penyakit ini adalah HCH (Lindane) yang diaplikasikan dengan berendam (dipping) dan penyemprotan (spraying). Konsentrasi larutan 0,25%, pengobatan diulang 2-3 hari dengan interval waktu 10-14 hari. Coumaphos 50% WP dengan pengenceran 1% efektif membunuh berbagai jenis telur dan tungau pada hewan. Golongan organophophate digunakan dengan konsentrasi 10% Tetraethylthiuram monosulfide 5% dalam bentuk dipping dan spraying. Campuran Benzyl benzoate dalam emulsi juga digunakan dalam penyembuhan penyakit skabies. Injeksi subkutan dengan Ivermectin/ Avermectin 1% sangat efektif mengobati penyakit ini dan juga endoparasit.