Anda di halaman 1dari 3

1

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Aluminium merupakan jenis logam yang reaktif yang apabila dibiarkan dalam kondisi udara bebas akan sangat mudah untuk bereaksi dengan oksigen dan membentuk suatu lapisan oksida pada permukaannya. Pembentukan lapisan oksida akan membuat aluminium dan paduannya mempunyai ketahanan alami dari korosi atmosfir, sehingga dapat meningkatkan kekerasan, ketahan abrasi, penyerapan warna yang baik, dan juga merupakan isolator listrik thermal yang baik (Wicaksono, 2007:1). Perkembangan industri logam di dunia khususnya aluminium dari tahun ke tahun semakin meningkat. Pada tahun 2011 total produksi aluminium di dunia mencapai 25.625 ton, meningkat dari tahun 2010 yaitu sebanyak 24.290 ton (Anonymous 1, 2012). Hal ini menunjukkan bahwa aluminium merupakan salah satu jenis logam yang banyak digunakan di kehidupan sehari-hari dan dunia industri telah mengaplikasikan serta menemukan bermacam-macam proses pembentukan dan perlakuan terhadap logam aluminium dengan tujuan mendapatkan sifat-sifat yang dibutuhkan. Proses yang dilakukan meliputi proses perlakuan panas hingga proses pelapisan. Salah satu proses yang banyak digunakan untuk aluminium dan paduannya adalah anodizing. Anodizing merupakan suatu proses elektrokimia yang digunakan untuk

memperkeras permukaan logam dengan lapisan oksida yang stabil (Gazzapo, 1994:5). Proses ini bertujuan untuk menigkatkan kekerasan permukaan, ketahanan aus ataupun sifat mekanis pada logam. Beberapa logam yang dapat diberikan proses anodizing diantaranya adalah aluminium, titanium, niobium, zinc, magnesium, ataupun pada logam yang bisa membentuk lapisan oksida secara alami. Proses anodizing juga mampu meningkatkan kekasaran permukaan dengan membentuk porous, yang memungkinkan proses pewarnaan untuk fungsi dekoratif dan meningkatkan penampilan dari suatu produk. Pada penelitiannya, Sukmawan (2009) mendapatkan hasil bahwa waktu proses anodizing dan tegangan yang diberikan mempengaruhi tingkat keausan pada permukan alumunium. Sementara pengaruh waktu perendaman digunakan pada proses anodizing terhadap ketebalan dilakukan oleh Wicaksono (2007).

Pada tahun 1995, peneliti-peneliti di Jepang menemukan bahwa porous pada lapisan oksida aluminium dapat terbentuk dengan sendirinya secara sempurna saat proses anodizing jika parameter-parameternya tepat. Parameter-parameter yang mempengaruhi proses anodizing antara lain, tegangan (Volt), rapat arus (Ampere), waktu proses (menit), temperatur (oC), dan jarak elektroda (mm) (Sukmawan, 2009:2). Pada penelitian kali ini akan diamati pengaruh waktu proses (menit) dan tegangan listrik (volt) terhadap kekasaran permukaan aluminium hasil hard anodizing. Dengan menggunakan dua parameter tersebut akan didapatkan pengaruh variasi waktu perendaman dan tegangan listrik terhadap kekasaran permukaan aluminium 6061.

1.2 Rumusan Masalah Bagaimana pengaruh waktu perendaman dan tegangan listrik terhadap kekasaran permukaan aluminium 6061 hasil hard anodizing?

1.3 Batasan Masalah Agar pembahasan dari penelitian tidak meluas dan terfokus, maka ditetapkan batasan masalah sebagai berikut: 1. Pembahasan difokuskan hanya meneliti kekasaran permukaan. 2. Material yang digunakan adalah Aluminium 6061. 3. Larutan elektrolit yang digunakan adalah asam phospat (H3PO4) dengan volume 30% dengan penambahan asam oksalat dengan volume 1%. 4. Variasi waktu yang digunakan adalah 60, 90, dan 120 menit. 5. Variasi tegangan listrik yang digunakan adalah 15, 20, dan 25 volt.

1.4 Tujuan Penelitian Adapun tujuan yang ingin dicapai adalah untuk mengetahui nilai kekasaran permukaan yang terbentuk pada aluminium 6061 hasil hard anodizing dengan menggunakan variasi waktu perendaman dan tegangan listrik.

1.5 Manfaat Penelitian 1. Menambah wawasan baru bagi penulis khususnya maupun bagi pembaca umumnya. 2. Memberikan referensi tambahan bagi penelitian lebih lanjut tentang anodizing paduan aluminium 6061. 3. Memberikan masukan yang bermanfaat bagi industri pelapisan logam khususnya proses anodizing.