Anda di halaman 1dari 26

Luka bakar

Samuel Palawa Saman* *Mahasiswa Fakultas Kedokteran UKRIDA 10.2009.051 Kelompok C7 Alamat korespondensi: Jalan Terusan Arjuna No.6, Jakarta 11510 E-mail: samuel_saman@live.com
ABSTRAK Luka bakar atau combusio adalah kasus emergency yang sering ditemukan dalam dunia kedokteran. Etiologi dari luka bakar dapat terjadi karena factor thermal, kimia, listrik dan radiasi. Untuk itu luka bakar di klasifikasikan menjadi beberapa derajat sesuai dengan luas dan dalamnya luka bakar. Dalam kasus emergency seperti ini berbeda dengan penanganan kasus non emergency seperti penyakit pada umumnya. Dalam penanganan pertama pasien dengan luka bakar khusunya derajat 3-4 maka perlu dilakukannya primary survey dan secondary survey, tujuannya adalah untuk memeriksa Aiways (jalan nafas), Breathing (pernafasan), Circulation (aliran darah dan cairan yang keluar), Disability (kecacatan pada ektremitas), Exposure (keadaan dari ujung rambut sampai ujung kaki). Dalam pembagian luas luka bakar ada istilah rules of nine, tujuannya adalah menentukan seberapa derajat dan keparahan luka bakar, sehingga berbeda derajat berbeda pula penanganan. Penatalaksanaan pada luka bakar tergantung dari derajat keparahan luka bakar, semakin cepat penanganan maka akan mengecilkan risiko komplikasi dan kecacatan hingga kematian.

Kata Kunci: Combusio,emergency, airways, breathing, circulation, rules of nine


ABSTRACT Burns injury, or combusio are emergency cases that are often found in the medical world. The etiology of burns can occur due to factors thermal, chemical, electrical and radiation. For that burns are classified into several degrees according to the breadth and depth of burns. In emergency cases like this is different from handling non-emergency cases like illness in general. In the first treatment of patients with 3-4 degree burns especially the need to do primary survey and secondary survey, the purpose is to examine Airways (airway obstruction), Breathing (respiratory), Circulation (blood flow and fluid that comes out), Disability (disability in extremity), Exposure (state from head to toe). In this division there are extensive burns rules of nine terms, the goal is to determine how the degree and severity of the burn, so different degrees of different handling. Management of the burn depends on the severity of the burn, the faster management will minimize the risk complications, disability and death. Keywords : Combusio,emergency, airways, breathing, circulation, rules of nine 1

Skenario
Seorang perempuan berusia 25 tahun dibawa ke UGD RS paska ledakan kompor gas dirumahnya. Pada inspeksi tampak kedua lengan bawah, tangan, wajah, leher, kulit tampak eritem, bula-bula, diselingi daerah-daerah berwarna pucat. Pasien sangat mengeluh kesakitan. Pasien tiba di RS 3 jam setelah kejadian.

Pendahuluan
Ledakan dapat menyebabkan kerusakan multisistem serta menyebabkan cedera yang mengancam hidup terhadap satu atau beberapa korban secara bersamaan. Ledakan dapat menghasilkan pola luka klasik dari mekanisme tumpul dan penetrasi ke beberapa sistem organ, tetapi ledakan juga dapat mengakibatkan cedera pola unik untuk organ tertentu termasuk paru-paru dan sistem saraf pusat. 1, 2 Tingkat dan pola cedera yang dihasilkan oleh ledakan merupakan akibat langsung dari beberapa faktor, termasuk jumlah dan komposisi bahan peledak (misalnya, kehadiran pecahan peluru atau material lepas yang dapat mendorong, kontaminasi radiologi atau biologi), lingkungan sekitarnya (misalnya, adanya intervensi barier pelindung), jarak antara korban dan ledakan, metode pengiriman jika bom terlibat, serta bahaya lingkungan lainnya. Tidak ada dua peristiwa yang identik, serta spektrum dan tingkat cedera yang dihasilkan sangat bervariasi.2

Pembahasan A. Anamnesis
Anamnesis yang dilakukan pada pasien luka bakar adalah anamnesis singkat dikarenakan luka bakar merupakan bagian dari kegawat daruratan biasanya anamnesis dilakuakan secara auto dan alloanamnesis. Anamnesis yang sering ditanyakan adalah, berat badan pasien, umur, sudah berapa lama setelah terapar ledakan, terkena ledakan apa, seberapa besar ledakan, penanganan apa yang sudah dilakukan dan lain lain seperti keluhan utama, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit

dahulu riwayat penyakit keluarga, riwayat pekerjaan, sosial, ekonomi, dan kejiwaan, gaya hidup menyusul.1,2 B. Pemeriksaan Fisik

Primary survey
A (Airway) Jalan nafas Edema mukosa dapat terjadi pada pasien luka bakar atau trauma inhalasi, obstruksi pada saluran napas atas (pharynx / larynx) dapat berkembang dengan cepat terutama pada anak. Trauma inhalasi harus dicurigai pada siapa pun dengan luka bakar dan diasumsikan sampai terbukti sebaliknya, pada siapa pun yang terbakar dalam ruang tertutup. Inspeksi dari mulut dan pharynx harus dilakukan lebih 2

awal, dan intubasi endotracheal dilakukan jika perlu. Suara serak dan bunyi wheezing pada ekspirasi adalah tanda-tanda edema saluran napas yang serius atau trauma inhalasi. Produksi lendir berlebihan dan dahak karbon yaitu dahak bercampur flek hitam juga tanda-tanda positif trauma inhalasi. Tingkat karboksihemoglobin harus didapatkan dan peningkatan tingkat gejala atau keracunan karbon monoksida (CO) adalah berdasarkan kemungkinan trauma inhalasi. Penurunan rasio dari tekanan oksigen arteri (PaO2) dan persentase oksigen terinspirasi (FiO2), adalah salah satu indikator yang paling awal pasien telah menghirup asap. Bila pasien positif trauma inhalasi sebaiknya pasien dirujuk ke rumah sakit yang mempunyai fasilitas pusat luka bakar (burn centre) dengan dilakukan intubasi terlebih dahulu untuk memastikan jalan nafas tetap terbuka.1,2,3

B (Breathing) Kemampuan bernafas

Jika jalan napas baik dan pasien dapat bernapas, pemberian oksigen dengan sungkup atau nasal kanul mungkin dapat mencukupi. Tetapi jika pasien tidak dapat bernapas akibat obstruksi jalan napas atas atau akibat penurunan kesadaran, dapat diberikan intubasi endotrakeal. Trakeostomi emergensi harus dihindari kecuali jika hal itu benar-benar dibutuhkan. Jika curiga terdapat trauma pada vertebra servikalis, manipulasi jalan napas harus dilakukan dengan tetap meimobilisasi leher dan kepala pada axis tubuh sampai vertebra servikal terevaluasi sepenuhnya.

C (Circulation)

Sirkulasi perifer yang adekuat harus ditemukan dengan cepat setelah terjadinya luka bakar dengan meraba pulsasi di perifer. Semua pakaian pasien harus dilepaskan. Cincin, jam dan perhiasan harus dilepaskan pada anggota tubuh yang mengalami cedera, konstriksi pada bagian yang bengkak akibat jeratan perhiasan dapat mengakibatkan iskemia di bagian distal. Pada luka bakar, permeabilitas

pembuluh darah meningkat, sehingga terjadi perpindahan cairan dari pembuluh darah ke jaringan intersitial, akibatnya daat menimbulkan syok hipovolemik. Semakin luas area luka bakar, semakin berat syok hipovolemik yang terjadi. Resusitasi cairan harus diberikan secepatnya. 2,3,4

Disability/Drugs : apakah ada gangguan ekstremitas atau gerakan lain, dan aakah ada penggunaan obat-obatan Exposure : bagaimana tampak keseluruhan dari unjung rambut sampai ujung kaki

Secondary survey Kepala Wajah Rambut Mata THT : apakah ada deformitas : dakah luka bakar di wajah bagian depan dan kiri dan kanan : adakah terbakar : apakah ada bagian mata yang mengalami gangguan atau cacat : apakah ada jelaga dan ada kelainan pendengaran atau mengeluarkan darah Paru Jantung Abdomen Ekstremitas : simetris, fremitus, vesikuler , rhonki, wheezing : BJ I-II, murmur , gallop : apakah Datar, lemas , bagaimana bunyi usus : akral hangat atau dingin , apakah ada edema

Status Lokalis Status lokalis akan dibahas lebih lanjut dalam pembahasan derajat luka bakar.

C. Pemeriksaan Penunjang
Hitung darah lengkap : peningkatan Ht awal menunjukkan hemokonsentrasi sehubungan dengan perpindahan/kehilangan cairan. Elektrolit serum : kalium meningkat karena cedera jaringan /kerusakan SDM dan penurunan fungsi ginjal. Natrium awalnya menurun pada kehilangan air. Alkalin fosfat : peningkatan sehubungan dengan perpindahan cairan interstitiil/ganguan pompa natrium. Urine : adanya albumin, Hb, dan mioglobulin menunjukkan kerusakan jaringan dalam dan kehilangan protein. Foto rontgen dada : untuk memastikan cedera inhalasi Scan paru : untuk menentukan luasnya cedera inhalasi EKG untuk mengetahui adanya iskemik miokard/disritmia pada luka bakar listrik. BUN dan kreatinin untuk mengetahui fungsi ginjal. Kadar karbon monoksida serum meningkat pada cedera inhalasi. Bronkoskopi membantu memastikan cedera inhalasi asap. Albumin serum dapat menurun karena kehilangan protein pada edema cairan. Fotografi luka bakar : memberikan catatan untuk penyembuhan luka bakar selanjutnya.

D. Diagnosis
Diagnosis dari luka bakar dapat diambil dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang, selain itu diagnosis pembagian deraja juga diperlukan agar penanganannya tepat dan cepat. Kedalaman kerusakan jaringan akibat luka bakar tergantung pada derajat panas sumber, penyebab dan lamanya kontak dengan tubuh penderita. Dahulu Dupuytren membagi atas 6 tingkat, sekarang lebih praktis hanya dibagi 3 tingkat/derajat, yaitu sebagai berikut:1,3,5

Berdasarkan American Burn Association's, Luka bakar diklasifikasikan berdasarkan kedalaman, luas permukaan, dan derajat berat ringannya luka bakar.

A. Berdasarkan kedalamannya1,2,4

a.

Luka bakar derajat I (superficial burns)


Luka bakar derajat ini terbatas hanya sampai lapisan epidermis. Gejalanya berupa kemerahan pada kulit akibat vasodilatasi dari dermis, nyeri, hangat pada perabaan dan pengisian kapilernya cepat. Pada derajat ini, fungsi kulit masih utuh. Contoh dari luka bakar derajat 1 adalah bila kulit terpapar oleh sinar matahari terlalu lama atau tersiram air panas. Proses penyembuhan terjadi sekitar 5-7 hari. Luka bakar derajat ini tidak menghasilkan jaringan parut, dan pengobatannya bertujuan agar pasien merasa nyaman dengan mengoleskan soothing salves dengan atau tanpa gel lidah buaya.

Gambar 1. luka bakar derajat I

b.

Luka bakar derajat II ( partial thickness burns)


Luka bakar derajat ini merupakan luka bakar yang kedalamannya mencapai batas dermis. Bila luka bakar ini mengenai sebagian permukaan dermis (superficial partial thickness). Luka bakar derajat II superficial ini tampak eritema, nyeri, pucat jika ditekan, dan ditandai adanya bulla berisi cairan eksudat yang keluar dari pembuluh darah karena permeabilitas dindingnya meningkat. Luka ini mereepitelisasi dari struktur epidermis yang tersisa pada rete ridge, folikel rambut dan keringat dalam 7-14 hari secara spontan. Setelah penyembuhan, luka bakar ini dapat memiliki sedikit perubahan warna kulit dalam jangka waktu yang lama.

Gambar 2. Luka bakar derajat IIA Luka bakar derajat II yang mengenai bagian reticular dermis (deep partial thickness) tampak lebih pucat, tetapi masih terasa nyeri jika di tusuk dengan jarum (pin prick test). Luka bakar ini sembuh dalam 14-35 hari dengan reepitelisasi dari folikel rambut, dan keratinosit kelenjar keringat, seringkali parut berat muncul sebagai akibat dari hilangnya dermis.

Gambar 3. Luka bakar derajat IIB

c.

Luka bakar derajat III (full-thickness)


Kedalaman luka bakar ini mencapai seluruh dermis dan epidermis sampai ke lemak subkutan. Luka bakar ini ditandai dengan eskar yang keras, tidak nyeri, dan warnanya hitam, putih atau merah ceri. Tidak ada sisa epidermis ataupun dermis sehingga luka harus sembuh dengan reepitelisasi dari tepi luka. Full thickness memerlukan eksisi dengan skin grafting.

Gambar 4. Luka bakar derajat III

d.

Luka bakar derajat IV

Luka bakar derajat ini hingga mencapai organ di bawah kulit seperti otot, dan tulang.

Tabel 1. Kategori derajat luka bakar

Gambar 5. Luka bakar derajat IV

LUAS LUKA BAKAR Wallace membagi tubuh atas bagian nagian 9 % atau kelipatan dari 9 terkenal dengan nama Rule of Nine atau Rule of Wallace. Kepala dan leher Lengan Badan Depan Badan Belakang Tungkai Genitalia/perineum Total 9% 18 % 18 % 18 % 36 % 1% 100 %

Gambar 6. Rules of nine

Dalam perhitungan agar lebih mempermudah dapat dipakai luas telapak tangan penderita adalah 1 % dari luas permukaan tubuhnya. Pada anak anak dipakai modifikasi Rule of Nine menurut Lund and Brower, yaitu ditekankan pada umur 15 tahun, 5 tahun dan 1 tahun.

Gambar 7. Rules of nie sesuai umur

KRITERIA BERAT RINGANNYA (American Burn Association)

1. Luka Bakar Ringan. - Luka bakar derajat II <15 % - Luka bakar derajat II < 10 % pada anak anak - Luka bakar derajat III < 2 %

2. Luka bakar sedang - Luka bakar derajat II 15-25 % pada orang dewasa - Luka bakar II 10 20 5 pada anak anak - Luka bakar derajat III < 10 %

3. Luka bakar berat - Luka bakar derajat II 25 % atau lebih pada orang dewasa - Luka bakar derajat II 20 % atau lebih pada anak anak. - Luka bakar derajat III 10 % atau lebih - Luka bakar mengenai tangan, wajah, telinga, mata, kaki dan genitalia/perineum. - Luka bakar dengan cedera inhalasi, listrik, disertai trauma lain. -

E. Epidemiologi
Sekitar 2 juta orang menderita luka baar di Amerika Serikat tiap tahun, dengan 100.000 yang dirawat di rumah sakit dan 20.000 yang perlu dirawat dalam pusat-pusat luka bakar. Kematian dari luka bakar berkurang sejak 1920, dan dewasa ini penderita luka bakar lebih dari 50% daerah permkaan tubuh memiliki cukup kemungkinan untuk tetap bertahan bila dirawat dengan tepat. Inseden luka bakar pada orang dewasa muda terdapat pada umur 20-29 tahun, diikuti oleh anak umur 9 atau lebih muda. Luka bakar jarang terjadi pada umur 80 tahun ke atas. Sekitar 80% luka bakar terjadi dirumah. Ada anak umur dibawah 3 tahun penyebab luka bakar paling umum adalah kecelakaan jatuh pada kepala. Pada umur 3-14 tahun penyebab paling sering adalah nyala api yang membakar baju. Dari umur ini sampai 60 tahun, luka bakar aling sering disebabkan oleh kecelakaan industry. Setelah umur ini biasanya terjadi karena kebakaran dirumah akibat rokok yang membakar tempat tidur atau berhubungan dengan lupa mental. Angka mortalitas luka bakar sudah banyak berkurang seiring dengan kemajuan dan perawatan luka bakar. Walaupun pada pasien sangat muda dan tua masih mengalami peningkatan. Gambaran untuk kelompok umur 14-44 tahun menunjukan banyak perbaikan, penentuan angka kematian karena luka bakar dibuat menurut LA50 atau bahwa presentasi luas permukaan tubuh dari luka bakar derajat 2 dan 3 yang dapat menimbulkan kematian pada 50% pasien yang mengalaminya. Seri pasien luka bakar yang besar dirawat pada 1940an dan 1950an menunjukan gambaran LA 50 sekitar 45% . kelompok Curreri baru-baru ini menunjukan hasil enelitian yang dilakukan lebih dari 16 tahun, dan LA 50 pada kelompok umur 15-44 sebesar 63%. Erbaikan ini berhubungan degan perkembangan pada perawatan syok luka bakar, infeksi, trauma inhalasi, nutrisi operasi dan permukaan luka.2

F. Etiologi
Luka bakar pada kulit bisa disebabkan karena panas, dingin ataupun zatkimia. Ketika kulit terkena panas, maka kedalaman luka akan dipengaruhi olehderajat panas, durasi kontak panas pada kulit dan ketebalan kulit (Schwartset al ,1999). Luka Bakar Termal (Thermal Burns)

Luka bakar termal biasanya disebabkan oleh air panas(scald ) , jilatan api ketubuh (flash), kobaran apai di tubuh (flame) dan akibat terpapar atau kontak dengan objek-objek panas lainnya (misalnya plastik logam panas, dll) (Schwarts et al 1999). Luka Bakar Kimia (Chemical Burns)

Luka bakar kimia biasanya disebabkan oleh asam kuat atau alkali yang biasa digunakan dalam bidang industri , militer, ataupun bahan pembersih yang sering dipergunakan untuk keperluan rumah tangga (Schwartset al , 1999).

10

Luka Bakar Listrik (Electrical Burns)

Listrik menyebabkan kerusakan yang dibedakan karena arus, api dan ledakan. Aliran listrik menjalar disepanjang bagian tubuh yang memiliki resistensi paling rendah, dalam hal ini cairan. Kerusakan terutama pada pembuluh darah, khususnya tunika intima, sehingga menyebabkan gangguan sirkulasi ke distal. Seringkali kerusakan berada jauh dari lokasi kontak, baikkontak dengan sumber arus maupun ground (Moenadjat, 2001). Luka Bakar Radiasi (Radiation Exposure)

Luka bakar radiasi disebabkan karena terpapar dengan sumber radioaktif.

G. Patogenesis
Pada luka bakar terjadi perubahan lokal berupa nekrosis koagulatif pada epidermis, dermis dan jaringan di bawahnya, dengan kedalaman tergantung pada temperatur bahan dan durasi pajanan. Luka bakar diklasifikasikan berdasarkan bahan penyebab dan kedalaman luka. Bahan yang dapat menyebabkan luka bakar adalah api, sclad (cairan panas), kontak dengan bahan padat yang panas, bahan kimia, dan listrik. Sedangkan kedalaman luka dapat dibagi menjadi : Derajat 1 : luka terbatas pada epidermis (eritema)

Derajat 2 superfisial : luka pada epidermis hingga dermis superfisial atau papila dermis (bullae).

Derajat 2 dalam

: luka pada epidermis hingga dermis dalam atau reticular dermis (bullae).

Derajat 3

: luka mencapai seluruh dermis dan jaringan subkutan di bawahnya. (warna kulit putih hingga coklat kehitaman, tanpa bullae).

Tabel 2. Penilaian derajat luka bakar4

11

Gambar 8. Penampang kedalaman luka bakar4

Pada luka yang melibatkan sebagian tebal lapisan kulit (derajat 1 dan 2) bisertai rasa nyeri, sedangkan derajat 3 biasanya rasa nyeri minimal atau tidak ada.1 Berdasarkan gambaran histologis, pada luka bakar terdapat tiga zona yaitu zona koagulasi, zona stasis, dan zona hiperemia. Pada zona koagulasi terjadi nekrosis jaringan dan kerusakan yang ireversibel. Zona stasis berada di sekitar zona koagulasi, dimana terjadi penurunan perfusi jaringan dengan kerusakan dan kebocoran vaskuler. Pada zona hiperemia terjadi vasodilatasi karena inflamasi, jaringannya masih viable dan proses penyembuhan berawal dari zona ini.1,2,5

Gambar 9. Zona luka bakar Jackson dan efeknya terhadap resusitasi adekuat dan inadekuat5

Inti dari permasalahan luka bakar adalah kerusakan endotel dan epitel akibat cedera termis yang melepaskan mediator-mediator proinflamasi dan berkembang menjadi Systemic Inflammatory

Response Syndrome (SIRS), kondisi ini hampir selalu berlanjut dengan Multi-system Organ 12

Dysfunction Syndrome (MODS). MODS terjadi karena gangguan perfusi jaringan yang berkepanjangan akibat gangguan sirkulasi mikro. Berdasarkan konsep SIRS, paradigma penatalaksanaan luka bakar fase akut berubah, semula berorientasi pada gangguan sirkulasi makro menjadi berubah orientasi pada proses perbaikan perfusi (srkulasi mikro) sebagai end-point dari prosedur resusitasi.6 Pelepasan sitokin dan mediator inflamasi lainnya di tempat terjadinya luka bakar memiliki efek sistemik jika luka bakar mencapai 30% luas permukaan tubuh. Perubahan-perubahan yang terjadi sebagai efek sistemik tersebut anatara lain berupa:5 Gangguan Kardiovaskular, berupa peningkatan permeabilitas vaskular yang menyebabkan keluarnya protein dan cairan dari intravaskular ke interstitial. Terjadi vasokonstriksi di pembuluh darah sphlancnic dan perifer. Kontraktilitas miokardium menurun, kemungkinan disebabkan adanya TNF. Perubahan ini disertai dengan kehilangan cairan dari luka bakar menyebabkan hipotensi sistemik dan hipoperfusi organ Gangguan sistem respirasi, mediator inflamasi menyebabkan bronkokonstriksi, dan pada luka bakar yang berat dapat timbul respiratory distress syndrome Gangguan metabolik, terjadi peningkatan basal metabolic rate hingga 3 kali lipat. Hal ini, disertai dengan adanya hipoperfusi sphlancnic menyebabkan dibutuhkannya pemberian makanan enteral secara agresif untuk menurunkan katabolisme dan mempertahankan integritas saluran pencernaan. Gangguan imunologis, terdapat penuruanan sistem imun yang mempengaruhi sistem imun humoral dan seluler. Masalah pada luka bakar berdasarkan kronologi dibagi menjadi:6 1. Fase akut : deteriorasi airway, breathing, circulation; berlangsung selama 048 jam (72 jam) 2. Fase subakut : SIRS dan MODS, berlangsung sampai 21 hari.

3. Fase lanjut : jaringan parut (hipertrofik, keloid, kontraktur), berlangsung sampai 8-12 bulan. Masalah yang timbul pada luka bakar fase akut terutama berkaitan dengan gangguan jalan napas (cedera inhalasi), gengguan mekanisme bernapas dan gangguan sirkulasi. Ketiga hal tersebut menyebabkan gangguan perfusi jaringan yang dapat menyebabkan kematian.6 Cedera inhalasi merupakan gangguan mukosa saluran napas akibat kontak dengan sumber termis, toxic fumes, dan zat toksik lainnya. Dugaan kuat mengenai adanya cedera inhalasi bila dijumpai riwayat luka bakar yang disebabkan api, terperangkap di ruang tertutup, luka bakar pada wajah dan leher, bulu hidung terbakar, sputum dan air liur mengandung karbon.2 Kerusakan mukosa dapat pula disebabkan oleh minyak panas, air panas, bahan kimia yang mengenai muka, leher, dada 13

bagian atas. Pada cedera inhalasi terjadi edema mukosa dari orofaring dan laring hingga membran alveoli. Hal ini dapat menyebabkan obstruksi yang ditandai dengan stridor, suara serak, sulit bernapas, gelisah. Bronkospasme dapat terjadi bila reaksi inflamasi melibatkan otot polos bronkus.6

Tabel 3. Tanda dan Gejala cedera inhalasi7 Gangguan mekanisme bernapas pada luka bakar dapat terjadi pada pasien dengan eskar melingkar di dada yang menyebabkan gangguan proses ekspansi rongga toraks sehingga compliance paru berkurang.2,6 Gangguan sirkulasi pada luka bakar terjadi melalui mekanisme perubahan integritas membran mikrovaskuler, perubahan hukum Starling, gangguan perfusi (syok seluler), dan evaporative heat loss. Setelah cedera termis, terjadi pelepasan histamin diikuti pelepasan histmain dan aktivasi komplemen yang menyebabkan perlekatan leukosit PMN dengan endotel. Endotel inflamatif akan melepaskan radikal bebas yang diikuti oleh peroksidasi lipid yang mengaktivasi asam arakidonat. Hal ini menyebabkan aktivasi kaskade koagulasi dan pelepasan sitokin (IL1, IL6, TNFa). Proses inflamasi mengakibatkan perubahan morfologi endotel dan peningkatan permeabilitas kapiler. Peningkatan permeabilitas kapiler ini mengakibatkan perpindahan cairan dari intravaskuler ke ruang interstisium.6 Gangguan perfusi merupakan penyebab hipoksemia. Kerusakan organ yang terjadi sangat tergantung pada waktu karena tiap organ memiliki batas toleransi tertentu untuk kondisi hipoksia. Selsel glia memiliki waktu 4 menit, sel-sel tubulus ginjal memiliki waktu iskemik 8 jam, sel otot polos 4 jam, otot lurik 8-10 jam.6

H. Gejala dan tanda klinis


Menurut Henderson, bahwa gejala klinis yang utama pada luka bakar yaitu lepuh yang merupakan tanda khas luka bakar superfisial. Disini cairan tercurah dari jaringan cedera yang lebih dalam sehingga permukaan superfisial yang terbakar (mati) akan terangkat. Lepuh atau bullae pada luka bakar sering pecah dan meninggalkan suatu permukaan merah kasar yang mengeluarkan cairan serous dan dapat berdarah. Luka bakar yang superfisial terasa nyeri karena ujung saraf terpapar dan mengalami inflamasi.

14

Luka bakar yang dalam, gejala klinisnya pada pandangan pertama kulit mungkin terlihat hampir normal.Kemudian setelah diperhatikan, tampak kulit tersebut mengkilap pembuluh-pembuluh darahnya mudah dilihat, tetapi darah dalam pembuluh darah tersebut tidak dapat diperah keluar karena sudah mengalami koagulasi. Kulit amat kaku ketika disentuh.Bagian tersebut terasa tidak enak.Tetapi tidak nyeri, karena sebagian besar ujung saraf sudah mati. Luka sayatan pada bagian tersebut tidak akan berdarah. Kadang-kadang terjadi pengarangan dan karbonisasi (gosong). Gejala-gejala klinis lain selain diatas, yaitu adanya tanda-tanda distress pernapasan seperti serak, ngiler, ketidakmampuan menangani sekresi.Tanda-tanda cedera inhalasi seperti pernapasan cepat dan sulit, krakles, stridor, batuk pendek. Respon luka bakar 1. Respon Sistemik Perubahan patofisiologik yang disebabkan oleh luka bakar yang berat selama awal periode syok luka bakar mencakup hipoperfusi jaringan dan hipofungsi organ yang terjadisekunder akibat penurunan curah jantung dengan diikuti oleh fase hiperdinamik sertahipermetabolik. Insidensi, intensitas dan durasi perubahan patofisiologik pada luka bakar sebanding dengan luasnya luka bakar yang terlihat pada seberapa luas permukaan tubuh yangterkena. Kejadian sistemik awal sesudah luka bakar yang berat adalah ketidakstabilanhemodinamik akibat hilangnya integritas kapiler dan kemudian terjadinya perpindahan cairan, natrium, serta protein dari ruang intravascular kedalam ruang interstisial. 2. Respon Kardiovaskuler Curah jantung akan menurun sebelum perubahan yang signifikan pada volume darah terlihat dengan jelas. Karena berlanjutnya kehilangan cairan dan berkurangnya volume vascular,maka curah jantung akan terus menurun dan terjadi perubahan tekanan darah, keadaan inimerupakan awitan syok luka bakar. Sebagai respon, system saraf simpatik akan melepaskankatekolamin yang meningkatkan resistensi perifer (vasokonstriksi) dan frekuensi denyut nadi, selanjutnya vasokonstriksi pembuluh darah menyebabkan penurunan curah jantung. 3. Efek pada Cairan, Elektrolit, dan Volume Darah Volume darah yang beredar akan menurun secara dramatis pada saat terjadi syok luka bakar. Disamping itu, kehilangan cairan akibat evaporasi lewat luka bakar dapat mencapai 3-5L atau lebih selama periode 24 jam sebelum permukaan kulit yang terbakar ditutup. Selama syok luka bakar, biasanya klien mengalami hiponatrium, hiperkalemia, dan atauhipokalemia. Pada saat luka bakar, sebagian besar sel darah merah dihancurkan dan sebagian yang lainnya mengalami kerusakan sehingga terjadi anemia. Walaupun demikian, nilaihemotokrit klien dapat meninggi akibat kehilangan plasma. 15

4.

Respon Pulmoner Pada klien yang mengalami luka bakar biasanya disertai dengan kerusakan pulmoner, yang ditandai dengan cedera inhalasi, berikut adalah klasifikasinya cedera saluran napas atas,cedera inhalasi dibawah glotis, yang mencakup keracunan karbon monoksida dan defek restriktif. Cedera saluran napas atas terjadi akibat panas langsung atau edema, bentuknya obstruksi-mekanis saluran atas yang menyerang faring dan laring. Cedera inhalasi dibawah glotisterjadi akibat menghirup produk pembakaran yang tidak sempurna atau gas berbahaya, cedera inimenyebabkan hilangnya fungsi silia, hipersekresi, edema mukosa yang berat, dan kemungkinan bronkospasme. Keracunan karbon monoksida akan mengakibatkan seseorang tidak mampumemenuhi kebutuhan oksigen yang adekuat kepada jaringan, hal ini karena afinitas hemoglobin terhadap karbon monoksida 200 kali lebih besar sdaripada afinitasnya terhadap oksigen. Sedangkan defek restriktif terjadi kalau timbul edema dibawah luka bakar full thickness yang melingkar pada leher dan toraks. Abnormalitas paru tidak selalu tampak dengan segera. Lebih dari separuh korban luka bakar yang menderita gangguan paru pada mulanya tidak memperlihatkan gejala dan tanda-tanda pulmonary. Indicator kemungkinan terjadinya kerusakan paru mencakup hal berikut: Riwayat yang menunjukan bahwa luka bakar terjadi dalam daerah yang tertutup. Luka bakar pada wajah atau leher Rambut hidung yang gososng Suara yang menjadi parau, perubahan suara, batuk yang kering, stridor, sputum yang penuh jelaga. Sputum yang berdarah Pernafasan yang berat atau takipnea ( pernafasan yang cepat) dan tanda penurunan oksigen ( hipoksemia ) yang lain. Eritema dan pembentukan lepuh pada ,ukosa oral atau faring.

5.

Respon Sistemik Lainnya Fungsi renal dapat berubah sebagai akibat dari berkurangnya volume darah, destruksi sel-sel darah merah pada lokasi cedera akan menghasilkan hemoglobin bebas dalam urin. Jika terjadi kerusakan di otot (akibat luka bakar listrik), mioglobin akan dilepaskan dari sel-sel otot dan diekskresikan melalui ginjal, bila aliran darah yang melewati tubulus renal tidak cukup maka hemoglobin akan menyumbatnya sehingga timbul komplikasi nekrosis akut tubuler dan gagal ginjal. Pertahanan imunologik tubuh sangat berubah akibat luka bakar, kehilangan integritaskulit diperparah lagi dengan pelepasan faktor-faktor inflamasi yang abnormal, hal ini membuat seseorang yang menderita luka bakar berisiko tinggi mengalami sepsis. Selain itu, hilangnya kulit juga menyebabkan ketidakmampuan tubuh untuk mengatur suhu, sehingga seorang yang menderita luka bakar dapat memperlihatkan suhu tubuh yang rendah dalam beberapa jam pertama pasca-luka bakar, namun kemudian akan mengalami hipertermia sekalipun tidak disertaiinfeksi 16

karena hipermetabolisme menyetel kembali suhu tubuh inti. Ada dua komplikasi gastrointestinal yang potensial yaitu: ileus paralitik (tidak adanya peristalsis usus) dan ulkus curling, berkurangnya peristalsis dan bising usus merupakanmanifestasi ileus paralitik yang terjadi akibat luka bakar.

I. Penatalaksanaan
Prehospital
Hal pertama yang harus dilakukan jika menemuikan pasien luka bakar di tempat kejadian adalah menghentikan proses kebakaran. Maksudnya adalah membebaskan pasien dari pajanan atau sumber dengan memperhatikan keselamatan diri sendiri. Kemudian lepaskan semua bahan yang dapat menahan panas (pakaian, perhiasan, logam), hal ini untuk mencegah luka yang semakin dalam karena tubuh masih terpajan dengan sumber. Bahan yang meleleh dan menempel pada kulit tidak boleh dilepaskan.2,8 Air suhu kamar dapat disiramkan ke atas luka dalam waktu 15 menit sejak kejadian, namun air dingin tidak boleh diberikan untuk mencegah terjadinya hipotermia dan vasokonstriksi.2,9

Resusitasi jalan napas


Resusitasi jalan napas bertujuan untuk mengupayakan suplai oksigen yang adekuat. Pada luka bakar dengan kecurigaan cedera inhalasi, tindakan intubasi dikerjakan sebelum edema mukosa menimbulkan manifestasi obstruksi.3,9 Sebelum dilakukan intubasi, oksigen 100% diberikan menggunakan face mask.2 Intubasi bertujuan untuk mempertahankan patensi jalan napas, fasilitas pemeliharaan jalan napas (penghisapan sekret) dan bronchoalveolar lavage. Krikotiroidotomi masih menjadi diperdebatkan karena dianggap terlalu agresif dan morbiditasnya lebih besar dibandingkan intubasi. Krikotiroidotomi dilakukan pada kasus yang diperkirakan akan lama menggunakan endotracheal tube (ETT) yaitu lebih dari 2 minggu pada luka bakar luas yang disertai cedera inhalasi.6 Kemudian dilakukan pemberian oksigen 2-4 L/menit melalui pipa endotrakeal. Terapi inhalasi mengupayakan suasana udara yang lebih baik di saluran napas dengan cara uap air menurunkan suhu yang menigkat pada proses inflamasi dan mencairkan sekret yang kental sehingga lebih mudah dikeluarkan. Terapi inhalasi dengan Ringer Laktat hasilnya lebih baik dibandingkan NaCl 0,9%.6 Dapat juga diberikan bronkodilator bila terjadi bronkokonstriksi seperti pada cedera inhalasi yang disebabkan oleh bahan kimiawi dan listrik.10 Pada cedera inhalasi perlu dilakukan pemantauan gejala dan tanda distres pernapasan. Gejala dan tanda berupa sesak, gelisah, takipnea, pernapasan dangkal, bekerjanya otot-otot bantu pernapasan, dan stridor. Pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan adalah analisa gas darah serial dan foto toraks.10

17

Resusitasi cairan
Syok pada luka bakar umum terjadi dan merupakan faktor utama berkembangnya SIRS dan MODS.6 Tujuan resusitasi cairan pada syok luka bakar adalah: Preservasi perfusi yang adekuat dan seimbang di seluruh pembuluh vaskuler regional sehingga tidak terjadi iskemia jaringan Minimalisasi dan eliminasi pemberian cairan bebas yang tidak diperlukan Optimalisasi status volume dan komposisi intravaskuler untuk menjamin survival seluruh sel Minimalisasi respon inflamasi dan hipermetabolik dan mengupayakan stabilisasi pasien secepat mungkin kembali ke kondisi fisiologis.6

Jenis cairan
Terdapat tiga jenis cairan secara umum yaitu kristaloid (isotonik), cairan hipertonik dan koloid. Larutan kristaloid Larutan kristaloid terdiri dari cairan dan elektrolit. Contoh larutan kristaloid adalah Ringer laktat dan NaCl 0,9%. Komposisi elektrolit mendekati kadarnya dalam plasma atau memiliki osmolalitas hampir sama dengan plasma. Pada keadaan normal, cairan ini tidak banya dipertahankan di ruang intravaskuler karena cairan ini banyak keluar ke ruang interstisial. Pemberian 1L Ringer laktat akan meingkatkan volume intravaskuler 300 ml.3

Larutan hipertonik
Larutan hipertonik dapat meningkatkan volume intravaskuler 2,5 kali dan penggunaannya dapat mengurangi kebutuhan cairan kristaloid.Larutan garam hipertonik tersedia dalam beberapa konsentrasi yaitu NaCl 1,8%, 3%, 5%, 7,5% dan 10%. Osmolalitas cairan ini melebihi cairan intraseluler sehingga akan cairan akan berpindah dari intraseluler ke ekstravaskuler. Larutan garam hipertonik meningkatkan volume intravaskuler melalui mekanisme penarikan cairan dari intraseluler.6

Larutan koloid
Contoh larutan koloid adalah Hydroxy-ethyl starch (HES, Hetastarch, Hespan, Hemacell) dan Dextran. Molekul koloid cukup besar sehingga tidak dapat melintasi membran kapiler, oleh karena itu sebagian besar akan tetap dipertahankan di ruang intravaskuler. Pada luka bakar dan sepsis, terjadi peningkatan permeabilitas kapiler sehingga molekul akan berpindah ke ruang interstisium. Hal ini akan memperburuk edema interstisium yang ada. HES merupakan suatu bentuk hydroxy-substituted amilopectin sintetik, HES berbentuk larutan 6% dan 10% dalam larutan fisiologik. T1/2 dalam plasma selama 5 hari, tidak bersifat toksik, memiliki efek samping koagulopati namun umumnya tidak menyebabkan masalah klinis.6 HES dapat memperbaiki permeabilitas kapiler dengan cara menutup celah interseluler pada lapisan endotel sehingga menghentikan kebocoran cairan, elektrolit dan protein. Penelitian terakhir mengemukakan 18

bahwa HES memiliki efek antiinflamasi dengan menurunkan lipid protein complex yang dihasilkan oleh endotel, hal ini diikuti oleh perbaikan permeabilitas kapiler. Efek antiinflamasi ini diharapkan dapat mencegah terjadiinya SIRS.6

Dasar pemilihan cairan


Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam pemilihan cairan adalah efek hemodinamik, distribusi cairan dihubungkan dengan permeabilitas kapiler, oxygen carrier, pH buffering, efek hemostasis, modulasi respon inflamasi, faktor keamanan, eliminasi, praktis dan efisiensi. 6,8 Jenis cairan terbaik untuk resusitasi dalam berbagai kondisi klinis masih menjadi perdebatan terus diteliti. Sebagian orang berpendapat kristaloid adalah cairan yang paling aman digunakan untuk tujuan resusitasi awal pada kondisi klinis tertentu. Sebagian berpendapat koloid bermanfaat untuk entitas klinik lain. Hal ini dihubungkan dengan karakteristik masing-masing cairan yang memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga sulit untuk mengambil keputusan untuk diterapkan secara umum sebagai protokol.6 Pada kasus luka bakar, terjadi kehilangan cairan di kompartemen interstisial secara masif dan bermakna sehingga dalam 24 jam pertama resusitasi dilakukan dengan pemberian cairan kristaloid.6

Penentuan jumlah cairan


Untuk melakukan resusitasi dengan cairan kristaloid dibutuhkan tiga sampai empat kali jumlah defisit intravaskuler. 1L cairan kristaloid akan meningkatkan volume intravaskuler 300ml. Kristaloid hanya sedikit meningkatkan cardiac outout dan memperbaiki transpor oksigen. 6

Penatalaksanaan dalam 24 jam pertama


Resusitasi syok menggunakan Ringer laktat atau Ringer asetat, menggunakan beberapa jalur intravena. Pemberian cairan pada syok atau kasus luka bakar >25-30% atau dijumpai keterlambatan >2jam. Dalam <4 jam pertama diberikan cairan kristaloid sebanyak 3[25%(70%x BBkg)] ml. 70% adalah volume total cairan tubuh, sedangkan 25% dari jumlah minimal kehilangan cairan tubuh yang dapat menimbulkan gejala klinik sindrom syok.3 Pada resusitasi cairan tanpa adanya syok atau kasus luka bakar luas <25-30%, tanpa atau dijumpai keterlambatan <2jam. Kebutuhan dihitung berdasarkan rumus Baxter: 3-4 ml/kgBB/ % luas LB.3 Metode Parkland merupakan metode resusitasi yang paling umum digunakan pada kasus luka bakar, menggunakan cairan kristaloid. Metode ini mengacu pada waktu iskemik sel tubulus ginjal < 8 jam sehingga lebih tepat diterapkan pada kasus luka bakar yang tidak terlalu luas dan tanpa keterlambatan.2,3,4 19

Pemberian cairan menurut formula Parkland adalah sebagai berikut: Pada 24 jam pertama : separuh jumlah cairan diberikan dalam 8 jam pertama, sisanya diberikan dalam 16 jam berikutnya. Pada bayi, anak, dan orang tua, kebutuhan cairan adalah 4 ml. Bila dijumpai cedera inhalasi maka kebutuhan cairan 4ml ditambah 1% dari kebutuhan. Bila dijumpai hipertermia, kebutuhan cairan ditambah 1% dari kebutuhan. Penggunaan zat vasoaktif (Dopamin atau Dobutamin) dengan dosis 3 mg/kgBB dengan titrasi atau dilarutkan dalam 500ml Glukosa 5%, jumlah teteasan dibagi rata dalam 24 jam. Pemantauan untuk menilai sirkulasi sentral melalui tekanan vena sentral (minimal 612cmH2O) dan sirkulasi perifer (sirkulasi renal). Jumlah produksi urin melalui kateter, saat resusitasi (0,5-1ml/kgBB/jam) dan hari1-2 (1-2 ml/kgBB/jam). Jika produksi urin <0,5ml/kgBB/jam maka jumlah cairan ditingkatkan 50% dari jam sebelumnya. Jika produksi urin >1ml/kgBB/jam maka jumlah cairan dikurangi 25% dari jam sebelumnya. Pemeriksaan fungsi renal (ureum, kreatinin) dan urinalisis (berat jenis dan sedimen) Pemantauan sirkulasi splangnikus dengan menilai kualitas dan kuantitas cairan lembung melalui pipa nasogastrik. Jika <200ml tidak ada gangguan pasase lambung, 200-400ml ada gangguan ringan, >400ml gangguan berat.10

Penatalaksanaan 24 jam kedua


Pemberian cairan yang mengandung glukosa dan dibagi rata dalam 24 jam. Jenis cairan yang dapat diberikan adalah Glukosa 5% atau 10% 1500-2000ml. Batasi Ringer laktat karena dapat memperberat edema interstisial. Pemantauan sirkulasi dengan menilai tekanan vena pusat dan jumlah produksi urin (12ml.kgBB/jam). Jika jumlah cairan sudah mencukupi namun produksi urin <1-2ml/kgBB/jam, berikan vasoaktif sampai 5mg/kgBB. Pemantauan analisa gas darah, elektrolit.10

Penatalaksanaan setelah 48 jam


Cairan diberikan sesuai kebutuhan maintenance Pemantauan sirkulasi dengan menilai produksi urin (3-4ml/kgBB/jam), hemoglobin dan hematokrit.10

Perawatan luka
Perawatan luka dilakukan setelah tindakan resusitasi jalan napas, mekanisme bernapas dan resusitasi cairan dilakuakan. Tindakan meliputi debridement, nekrotomi dan pencucian luka. Tujuan 20

perawatan luka adalah mencegah degradasi luka dan mengupayakan proses epitelisasi.10 Untuk bullae ukuran kecil tindakannya konservatif sedangkan untuk ukuran besar (>5cm) dipecahkan tanpa membuang lapis epidermis di atasnya. Untuk eskar yang melingkar dan mengganggu aliran atau perfusi dilakukan eskarotomi. Pencucian luka dilakukan dengan memandikan pasien dengan air hangat mengalir dan sabun mandi bayi. Lalu luka dibalut dengan kasa lembab steril dengan atau tanpa krim pelembab. Perawatan luka tertutup dengan oclusive dressing untuk mencegah penguapan berlebihan. Penggunaan tulle berfungsi sebagai penutup luka yang memfasilitasi drainage dan epitelisasi. Sedangkan krim antibiotik diperlukan untuk mengatasi infeksi pada luka.10

Penggunaan antibiotik
Pemberian antibiotik pada kasus luka bakar bertujuan sebagai profilaksis infeksi dan mengatasi infeksi yang sudah terjadi. Penggunaan antibiotik sebagai profilaksis masih merupakan suatu kontroversi.4 Dalam 3-5 hari pertama populasi kuman yang sering dijumpai adalah bakteri Gram positif non-patogen. Sedangkan hari 5-10 adalah bakteri Gram negatif patogen. Dalam 1-3 hari pertama pasca cedera, luka masih dalam keadaan steril sehingga tidak diperlukan antibiotik. Beberapa antibiotik topikal yang dapat digunakan adalah silver sulfadiazin, povidone-iodine 10%, gentamicin sulfate, mupirocin, dan bacitracin/polymixin.2,10

Tabel 4. Agen penybab infeksi pada luka bakar.7

Tatalaksana nutrisi
Pemberian nutrisi enteral dini melalui pipa nasogastrik dalam 24 jam pertama pascacedera bertujuan untuk mencegah terjadinya atrofi mukos usus. Pemberian nutrisi enteral dilakukan dengan aman bila Gastric residual volume (GRV) <150ml/jam, yang menandakan pasase saluran cerna baik.6 Penentuan kebutuhan energi basal (Harris-Benedict): 21

Laki-laki Perempuan

: 66,5 + 13,7 BB + 5TB 6,8 U : 65,5 + 9,6 BB + 1,8 TB 4,7 U

Kebutuhan energi total = KEB x AF x FS Keterangan: AF: aktivitas fisik (peningkatan persentase terhadap keluaran energi, tirah baring/duduk 20%, aktivitas ringan 30%, sedang 40-50%, berat 75%) FS: faktor stress besarnya sesuai dengan luas luka bakar Penentuan kebutuhan nutrien: Protein : 1,5-2,15 g/kgBB/hari Lemak : 6-8 g/kgBB/hari Karbohidrat: 7-8 g/kgBB/hari.10 Tabel 5. Penghitungan kalori dengan rumus Harris Benedict10

Namun ada metode penghitungan kebutuhan kalori yang lebih mudah dengan menggunakan quick methode yaitu 25-30 kkal / kgBB/ hari. Metode ini lebih mudah dan praktis serta menghindari jumlah kalori yang berlebihan jika menggunakan rumus Harris -Benedict. Metode lainnya dalah modifikasi rumus Harris-Benedict yang dilakukan oleh Long:a
Men BMR = (66.47 13.75 weight 5.0 height = 6.76 age) x (activity factor) x (injury factor) Women BMR = (655.10 9.56 weight + 1.85 height = 4.68 age) x (activity factor) x (injury factor) Activity factor Confined to bed: 1.2 Out of bed: 1.3 Injury factor Minor operation: 1.20 Skeletal trauma: 1.35 Major sepsis: 1.60 Severe thermal burn: 1.5

Tabel 6. Modifikasi Long terhadap Harris-Benedict3

22

Eksisi dan grafting


Luka bakar derajat dua dalam dan tiga tidak dapat mengalami penyembuhan spontan tanpa autografting. Jika dibiarkan, jaringan yang sudah mati ini akan menjadi fokus inflamasi dan infeksi. Eksisi dini dan grafting saat ini dilakukan oleh sebagian besar ahli bedah karena memiliki lebih banyak keuntungan dibandingkan debridement serial.2 Setelah dilakukan eksisi, luka harus ditutup, idealnya luka ditutup dengan kulit pasien sendiri. Pada luka bakar seluas 20-30%, biasanya dapat dilakukan dalam satu kali operasi dengan penutupan oleh autograft split-thickness yang diambil dari bagian tubuh pasien. Sebagian besar ahili bedah melakukan eksisi pada minggu pertama, biasanya dalam satu kali operasi dapat dilakukan eksisi seluas 20%. Eksisi tidak boleh melebihi kemampuan untuk menutup luka baik dengan autograft, biologic dressing atau allograft.2

J. Komplikasi
Komplikasi pada luka bakar dibagi menjadi dua, yaitu komplikasi saat perawatan kritis atau akut dan komplikasi yang berhubungan dengan eksisi dan grafting.1 Komplikasi yang dapat terjadi pada masa akut adalah SIRS, sepsis dan MODS. Selain itu komplikasi pada gastrointestinal juga dapat terjadi, yaitu atrofi mukosa, ulserasi dan perdarahan mukosa , motilitas usus menurun dan ileus. Pada ginjal dapat terjadi acute tubular necrosis karena perfusi ke renal yang menurun. Skin graft loss merupakan komplikasi yang sering terjadi, hal ini disebabkan oleh hematoma, infeksi dan robeknya graft. Pada fase lanjut suatu luka bakar, dapat terjadi jaringan parut berupa jaringan parut hipertrofik, keloid dan kontraktur.1,2

K. Pencegahan
1. Waspada Rokok Tidak membuang puntung rokok sembarangan. Pastikan rokok telah mati total sebelum dibuang ke tempat sampah. Rokok 99% memberikan masalah daripada manfaat, sehingga sebaiknya jangan merokok agar tidak rugi. 2. Waspada Pada Penerang Api Ketika mati lampu dan menggunakan penerangan api seperti lilin dan lampu tempel semprong / petromak maka jangan pernah lalai untuk mengawasi lampu tersebut dan tidak menaruh di tempat sembarang yang bisa jatuh atau berpindah tempat sehingga bisa membakar benda mudah terbakar yang ada di sekitarnya. Awasi pula penggunaan anti nyamuk bakar.

23

3. Jauhkan Sumber Api dari Anak-Anak Jauhkan benda-benda yang berapi atau yang dapat mengeluarkan api. Paling tidak ada orang dewasa yang mengawasi seperti bermain korek api, korek gas, kembang api, petasan, obat nyamuk bakar serta benda-benda yang mengeluarkan api dan panas seperti kompor gas, kompor minyak, setrikaan, dispenser air, pemasak nasi, dan lain-lain. Anak-anak sangat berpotensi bertindak ceroboh yang bersifat fatal. 4. Rawat Perangkat Listrik dan Perangkat Api Rawat dengan baik dan rutin kompor gas, setrikaan, penanak nasi, solder, kabel-kabel listrik dan perangkat listrik dan api lainnya. Jaringan listrik di rumah, kantor. Jika sudah usang sebaiknya dilakukan penggantian total dengan mengganti seluruh perangkat jaringan listrik diganti dengan yang berkualitas bagus dan baru demi keamanan dari korsleting listrik (hubungan arus pendek). Hindari mencuri listrik pln agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan seperti misal kesetrum dan konslet listrik. 5. Siapkan Perangkat Pemadam Kebakaran Ringan Jika bangunan cukup besar gunakan sistem pemadam detektor asap, pemancar air, perangkat penunjang hidup saat kebakaran, hidran, selang penyemprot air, tabung pemadam semprot, dan lain sebagainya. Jangan lupa berikan penyuluhan bagi penghuni bangunan dalam menghadapi bencana kebakaran. Untuk bangunan kecil minimal ada karung yang dapat dibasahi untuk meredam kebakaran ringan / kecil. Siapkan selang panjang atau ember untuk memudahkan menyiram kebakaran dengan air. 6. Melakukan Pembinaan dan Sosialisasi Kebakaran Berikan penyuluhan kepada seluruh anggota keluarga, pegawai/karyawan kantor, siswa guru sekolah, buruh pabrik, dan sebagainya mengenai penanganan bencana kebakaran yang bisa saja terjadi kapan saja dan di mana saja agar ketika terjadi kebakaran mereka mengerti apa yang harus mereka lakukan. Beritahu nomor telepon polisi dan pemadam kebakaran lokal dan sentral. 7. Waspada Lingkungan Sekitar Kebakaran juga bisa akibat dari bangunan sebelah yang terbakar sehingga bangunan kita ikut menjadi korban karena api bisa membesar dan merembet ke mana-mana. Tingkatkan kesadaran bencana kebakaran di lingkungan masyarakat sekitar untuk meminimalisir terjadinya kebakaran di lingkungan sekitar. Waspada juga dengan melakukan tindakan-tindakan yang dapat memperkecil resiko kebakaran merembet dari bangunan sekitar ke bangunan kita.12 24

L. Prognosis
Prognosis pada luka bakar tergantung dari derajat luka bakar, luas permukaan badan yang terkena luka bakar, adanya komplikasi seperti infeksi, dan kecepatan pengobatan medikamentosa. Luka bakar minor dapat sembuh 5-10 hari tanpa adanya jaringan parut. Luka bakar moderat dapat sembuh dalam 10-14 hari dan mungkin menimbulkan luka parut. Luka bakar mayor membutuhkan lebih dari 14 hari untuk sembuh dan akan membentuk jaringan parut. Jaringan parut akan membatasi gerakan dan fungsi. Dalam beberapa kasus, pembedahan diperlukan untuk membuang jaringan parut.

Penutup
Luka bakar atau combusio adalah luka yang disebabkan oleh kontak dengan suhu tinggi seperti api, air panas, listrik, bahan kimia, dan radiasi. Luka bakar ini dapat mengakibatkan kematian, atau akibat lain yang berkaitan dengan problem fungsi maupun estetik. Respons Patofisiologi setelah cedera luka bakar adalah bifase. Pada fase pasca cedera, terjadi Hipofungsi organ secara umum sebagai akibat dari penurunan curah jantung. Pada prinsipnya penangangan luka bakar adalah penggantian cairan, penutupan lesi sesegera mungkin, pencegahan infeksi, mengurangi rasa sakit, pencegahan trauma mekanik. Pada kulit yang vital dan elemen didalamnya, dan pembatasan pembentukan jaringan. Semakin cepat penanganan maka semakin

25

Daftar Pustaka
1. Burns J, Phillips L. Burns. In: McCarthy J, Galiano R, Boutros S,editors. Current Therapy in Plastic Surgery. Philadelphia: Saunders Elsevier. 2006. p. 71-6. 2. Sabiston D. Buku saku ilmu bedah sabiston. EGC. 2005; Jakarta. Hlm : 276-90. 3. Wolf S, Herndon D. Burns. In: Townsend CM, Beauchamp RD, Evers BM, Mattox KL,editors. Sabiston Textbook of Surgery. Philadelphia: Saunders; 2004. p. 569-92. 4. Heimbach DM. Burns. In: Brunicardi FC, Andersen DK, Billiar TL, Dunn DL, Hunter JG, Pollock RE. Schwartzs principles of surgery, 8th ed. McGraw-Hill; 2007. 5. Hettiaratchy S, Papini R. ABC of burns; initial management of major burn: IIassesment and resuscitation. BMJ 2004;329:101-3. 6. Hettiaratchy S, Dziewulski P. Pathophysiology and types of burns. BMJ 2004;328:14279. 7. Moenadjat Y. Resusitasi: dasar-dasar manajemen luka bakar fase akut. Jakarta: Komite medik asosiasi luka bakar Indonesia; 2005. hal.5-20, 54-60. 8. Ansermino M, Hemsley C. ABC of burns; intensive care management and control of infection. BMJ 2004;329:2203. 9. Managing the ABCs in the burn patient. Diunduh dari www.burnsurgery.org diakses pada tanggal 17 Mei 2010. 10. Hettiaratchy S, Papini R. ABC of burns; initial management of major burn: Ioverview. BMJ 2004;328:15557. 11. Moenadjat Y. Petunjuk praktis penatalaksanaan luka bakar. Jakarta: Komite medik asosiasi luka bakar Indonesia; 2005. hal.4-20; 30-41. 12. Tips mencegah kebakaran. Diunduh dari ; http://www.tribunnews.com. November 2012

26